Daftar Bab

  1. 1 Muqaddimah dan Tiga Pembagian Pokok Hadits (Shahih, Hasan, Dha'if)

    Latar penulisan At-Tadzkirah oleh Ibnul Mulaqqin dan istilah-istilah dasar hadits, dilengkapi pembagian tiga kategori pokok berdasarkan diterima-tidaknya: shahih, hasan, dan dha'if (masing-masing dibahas lebih detail di pillar Apa Itu Hadits Shahih, Apa Itu Hadits Hasan, dan Mengenal Jenis-Jenis Hadits Dha'if).

  2. 2 Hadits Musnad

    Definisi hadits musnad: hadits yang sanadnya bersambung sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

  3. 3 Hadits Muttasil

    Definisi hadits muttasil: hadits yang sanadnya bersambung, baik marfu' (sampai ke Nabi) maupun mauquf (sampai ke sahabat).

  4. 4 Hadits Marfu'

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits marfu' sebagai bab tersendiri.

  5. 5 Hadits Mauquf

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mauquf sebagai bab tersendiri.

  6. 6 Hadits Maqthu'

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits maqthu' sebagai bab tersendiri.

  7. 7 Hadits Munqathi'

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits munqathi' sebagai bab tersendiri.

  8. 8 Hadits Mursal dan Mursal Khafi

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mursal (dibahas lengkap di pillar ini) sekaligus variasinya yang tersembunyi, mursal khafi (dibahas di pillar Apa Itu Tadlis dalam Ilmu Hadits, karena efeknya pada sanad sama seperti tadlis).

  9. 9 Hadits Mu'dhal

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mu'dhal sebagai bab tersendiri.

  10. 10 Hadits Mu'allaq

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mu'allaq sebagai bab tersendiri.

  11. 11 Hadits Mu'an'an

    Definisi hadits mu'an'an: riwayat yang memakai lafal 'an (dari), dan syarat status muttasil-nya.

  12. 12 Tadlis dalam Periwayatan Hadits

    Pembahasan Ibnul Mulaqqin tentang tadlis sebagai bentuk penyamaran sanad, ditempatkan berdekatan dengan bab mursal dan mu'dhal dalam struktur asli At-Tadzkirah.

  13. 13 Hadits Syadz

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits syadz sebagai bab tersendiri.

  14. 14 Hadits Munkar

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits munkar sebagai bab tersendiri.

  15. 15 Hadits Fard

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits fard sebagai bab tersendiri, terpisah dari mutaba'ah dan syahid yang dibahas di bab-bab berikutnya.

  16. 16 Hadits Gharib, 'Aziz, dan Masyhur

    Ibnul Mulaqqin membahas gharib, 'aziz, dan masyhur sekaligus dalam satu bab, tanpa memisahkannya seperti kitab lain di jenjang ini.

  17. 17 Hadits Mutawatir

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mutawatir sebagai bab tersendiri, terpisah dari pembahasan tiga kategori pokok shahih/hasan/dha'if di bab pembuka.

  18. 18 Hadits Mustafidh

    Definisi hadits mustafidh - istilah yang menurut pensyarah At-Tadzkirah sendiri sama persis dengan masyhur.

  19. 19 Hadits Mu'allal

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mu'allal sebagai bab tersendiri.

  20. 20 Hadits Mudhtharib

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mudhtharib sebagai bab tersendiri.

  21. 21 Hadits Mudraj

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mudraj sebagai bab tersendiri.

  22. 22 Hadits Maudhu' dan Istilah Semaknanya

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits maudhu' beserta istilah-istilah semaknanya.

  23. 23 Hadits Maqlub

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits maqlub sebagai bab tersendiri.

  24. 24 Sanad 'Ali dan Nazil

    Definisi sanad 'ali (tinggi, sedikit perantara) dan nazil (rendah, kebalikannya), serta kapan sanad nazil justru lebih diutamakan.

  25. 25 Hadits Mukhtalif

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mukhtalif sebagai bab tersendiri.

  26. 26 Hadits Mushahhaf

    Ibnul Mulaqqin membahas hadits mushahhaf sebagai bab tersendiri.

  27. 27 Hadits Musalsal

    Definisi hadits musalsal: riwayat yang seluruh perawinya, secara berurutan, berbagi sifat atau kondisi yang sama.

  28. 28 Al-I'tibar dalam Meneliti Sanad

    Ibnul Mulaqqin membahas i'tibar sebagai metode meneliti sanad, bab tersendiri terpisah dari mutaba'ah dan syahid.

  29. 29 Al-Mutaba'ah (Hadits Penguat Sejalur)

    Ibnul Mulaqqin membahas mutaba'ah (hadits penguat sejalur, dari sahabat yang sama) sebagai bab tersendiri.

  30. 30 Asy-Syahid (Hadits Penguat Semakna)

    Ibnul Mulaqqin membahas syahid (hadits penguat semakna, dari sahabat berbeda) sebagai bab tersendiri.

  31. 31 Ziyadatuts Tsiqat

    Ziyadatuts tsiqat: tambahan informasi dari perawi tsiqah dalam sebuah riwayat, dan pendapat mayoritas ulama soal penerimaannya.

  32. 32 Al-Mazid fi Muttashil al-Asanid

    Definisi al-mazid fi muttashil al-asanid: penambahan keliru seorang perawi ke dalam sanad yang sebenarnya sudah bersambung.

  33. 33 Shifat ar-Rawi dan Al-Jarh wat-Ta'dil

    Ibnul Mulaqqin menggabungkan sifat-sifat rawi maqbul dengan ilmu al-jarh wa at-ta'dil dalam satu bab.

  34. 34 Kitabatul Hadits (Menulis Hadits)

    Kebolehan ijma' menulis hadits, dan pentingnya menjaga ketelitian (dhabt) dalam penulisannya.

  35. 35 Thuruq at-Tahammul (Delapan Metode Penerimaan Hadits)

    Ibnul Mulaqqin merangkum delapan metode penerimaan hadits secara langsung dalam satu bab, tanpa memisahkannya jadi beberapa bab seperti kitab lain di jenjang ini.

  36. 36 Shifat ar-Riwayah wa Ada'iha

    Sifat dalam meriwayatkan dan menyampaikan hadits, termasuk riwayat bil-ma'na dan meringkas hadits.

  37. 37 Adabul Muhaddits wa Thalibil Hadits

    Adab (etika) yang harus dijaga seorang ahli hadits dan seorang penuntut ilmu hadits.

  38. 38 Gharibul Hadits dan Istinbathul Ahkam

    Ilmu memahami kata-kata asing dalam matan hadits, menafsirkan maknanya, dan menyimpulkan hukum darinya.

  39. 39 'Azwul Hadits ilash-Shahabah wat-Tabi'in

    Menisbatkan riwayat (al-'azw) kepada sahabat, tabi'in, dan atba' at-tabi'in.

  40. 40 Al-Ahkam al-Khamsah dan Khash-'Amm-Muthlaq-Muqayyad

    Lima hukum taklifi (wajib, sunnah, haram, makruh, mubah) dan enam istilah ushul fiqih untuk memahami cakupan lafal hadits.

  41. 41 At-Tarjih Bainar-Ruwah (Tarjih Antar Riwayat)

    Ibnul Mulaqqin membahas tarjih antar riwayat sebagai bab tersendiri, terpisah dari pembahasan mukhtalif dan nasikh-mansukh.

  42. 42 An-Nasikh wal-Mansukh dalam Hadits

    Ibnul Mulaqqin membahas nasikh dan mansukh dalam hadits sebagai bab tersendiri.

  43. 43 Ma'rifatush-Shahabah

    Mengetahui seluk-beluk para sahabat Nabi - siapa yang tergolong sahabat dan bagaimana status keadilan mereka.

  44. 44 Ma'rifatut-Tabi'in wa Atba'ihim

    Ibnul Mulaqqin membahas ma'rifat tabi'in dan generasi setelahnya.

  45. 45 Riwayatul Akabir 'anil Ashaghir

    Fenomena perawi senior meriwayatkan dari perawi junior - termasuk Nabi sendiri yang pernah meriwayatkan dari sahabat yang lebih muda.

  46. 46 Riwayatun-Nazhir 'anin-Nazhir

    Fenomena dua perawi sejawat (setingkat) yang sama-sama meriwayatkan dari satu guru yang sama.

  47. 47 Riwayatul Aba' 'anil Abna' wa 'Aksuhu

    Fenomena orang tua meriwayatkan dari anaknya sendiri, dan sebaliknya, termasuk riwayat ibu dari anaknya.

  48. 48 Al-Mudabbaj

    Ibnul Mulaqqin membahas al-mudabbaj sebagai bab tersendiri.

  49. 49 Riwayatul Ikhwah wal Akhawat

    Mengetahui riwayat antar saudara kandung, laki-laki maupun perempuan, seperti Umar dan Zaid bin Al-Khaththab.

  50. 50 As-Sabiq wal-Lahiq (Dua Murid dengan Jarak Wafat Jauh dari Satu Guru)

    Fenomena satu guru yang diriwayatkan dari dua murid dengan jarak wafat sangat jauh, seperti kasus As-Sarraj yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Al-Khaffaf.

  51. 51 Perawi yang Hanya Diriwayatkan oleh Satu Orang

    Kasus perawi yang riwayatnya hanya diteruskan oleh satu murid saja, seperti Muhammad bin Shafwan yang hanya diriwayatkan Asy-Sya'bi.

  52. 52 Perawi dengan Banyak Nama atau Gelar

    Kasus perawi yang dikenal dengan lebih dari satu nama atau sebutan, seperti Muhammad bin As-Sa'ib Al-Kalbi.

  53. 53 Ma'rifatul Asma' wal Kuna wal Alqab

    Mengetahui nama, kunyah, dan gelar para perawi - fondasi ilmu asma' ar-rijal.

  54. 54 Perawi yang Masyhur dengan Nama Saja atau Kunyah Saja

    Bentuk tunggal dari asma'/kuna/alqab, dan perawi yang lebih dikenal dengan nama tanpa kunyahnya, atau sebaliknya.

  55. 55 Perawi yang Namanya Sama dengan Nama Ayahnya

    Kasus perawi yang nama depannya sama persis dengan nama ayahnya sendiri.

  56. 56 Al-Mu'talif wal-Mukhtalif

    Definisi al-mu'talif wal-mukhtalif: nama-nama yang tulisannya sama persis, tapi cara membacanya berbeda.

  57. 57 Al-Muttafiq wal-Muftariq

    Definisi al-muttafiq wal-muftariq: nama perawi dan nama ayahnya yang sama persis, padahal keduanya orang yang berbeda.

  58. 58 Gabungan Al-Mu'talif-Mukhtalif dan Al-Muttafiq-Muftariq

    Kasus ketika dua fenomena sebelumnya - mu'talif-mukhtalif dan muttafiq-muftariq - terjadi sekaligus pada satu nama.

  59. 59 Al-Mutasyabih

    Definisi al-mutasyabih: nama perawi yang sama persis, sementara nama ayah mereka mirip di satu sisi (tulisan/ucapan) tapi berbeda di sisi lain.

  60. 60 Al-Mansub ila Ghairi Abihi

    Perawi yang dinisbatkan bukan kepada ayahnya, seperti Bilal bin Hamamah (Hamamah adalah nama ibunya).

  61. 61 Nisbah yang Menyesatkan Pemahaman

    Nisbah yang sekilas dipahami menunjukkan satu hal, padahal maksudnya berbeda - seperti Abu Mas'ud Al-Badri.

  62. 62 Al-Mubhamat

    Ibnul Mulaqqin membahas al-mubhamat sebagai bab tersendiri.

  63. 63 At-Tawarikh wal-Wafayat

    Mengetahui tanggal-tanggal penting dan tanggal wafat para perawi, penting untuk memastikan ketersambungan sanad.

  64. 64 Ma'rifatuts-Tsiqat wadh-Dhu'afa

    Mengetahui perawi yang tsiqah dan yang dha'if, dan rujukan Al-Mizan untuk perawi yang statusnya diperselisihkan.

  65. 65 Al-Ikhtilath fi Akhiril 'Umur

    Perawi tsiqah yang mengalami kekacauan hafalan di akhir usianya - riwayat yang diambil sebelum masa itu tetap diterima.

  66. 66 Perawi yang Kitabnya Terbakar atau Hilang

    Perawi yang catatan tertulisnya rusak, sehingga terpaksa mengandalkan hafalan semata, dan risikonya terhadap kualitas riwayat.

  67. 67 Perawi yang Lupa lalu Meriwayatkan dari Muridnya Sendiri

    Kasus perawi yang lupa suatu riwayat, lalu justru meriwayatkannya kembali dari muridnya yang pernah mendengarnya.

  68. 68 Ma'rifatu Thabaqatir-Ruwah

    Mengetahui thabaqat (tingkatan/generasi) para perawi dan ulama.

  69. 69 Al-Mawali dalam Periwayatan Hadits

    Mengenal al-mawali (mantan budak yang dimerdekakan) dan bedanya penisbatan lewat wala' dengan nasab asli.

  70. 70 Nisbah Suku, Negeri, Profesi, dan Perhiasan

    Bab penutup rangkaian istilah: mengenal perawi yang dinisbatkan kepada suku, kota asal, profesi, atau jenis perhiasan tertentu.

  71. 71 Penutup: Kedudukan At-Tadzkirah dalam Perjalanan Belajar Musthalah Hadits

    Bab penutup rangkaian At-Tadzkirah: kolofon penulis, dan posisi kitab ini sebagai pintu masuk menuju kajian musthalah hadits yang lebih luas.

Belajar langsung bersama pengajar bersanad di jalur Musthalah Hadits →

Peta sanad kitab ini belum tercatat. Tambahkan jalur sanad lewat halaman admin.