At-Tadzkirah Bab 1: Tiga Pembagian Pokok Hadits (Shahih, Hasan, Dha'if)

At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits adalah matan (teks pokok) ringkas tentang musthalah hadits (istilah-istilah ilmu hadits) yang ditulis oleh Ibnul Mulaqqin - namanya lengkapnya Siraj ad-Din Abu Hafsh Umar bin Ali bin Ahmad Al-Anshari Asy-Syafi'i, wafat 804 H. Kitab ini adalah bab pembuka dari rangkaian bab yang akan membahas kitab ini istilah demi istilah, sebagai bagian dari jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang Ngaji Sanad.

Siapa Ibnul Mulaqqin dan Kenapa Menulis At-Tadzkirah

Ibnul Mulaqqin sendiri menjelaskan latar penulisan kitab ini di baris pembukanya:

فَهَذِهِ تَذْكِرَةٌ فِي عُلُومِ الْحَدِيثِ، يَتَنَبَّهُ بِهَا الْمُبْتَدِي، وَيَتَبَصَّرُ بِهَا الْمُنْتَهِي، اقْتَضَبْتُهَا مِنْ "الْمُقْنِعِ" تَأْلِيفِي
1
"Maka ini adalah sebuah tadzkirah (pengingat) dalam ilmu-ilmu hadits, yang dengannya orang yang baru belajar akan tersadarkan (mendapat pengantar), dan orang yang sudah mendalam akan mendapat tambahan wawasan. Aku meringkasnya dari karyaku sendiri, 'Al-Muqni''."

Dua hal penting ada di kalimat pembuka ini. Pertama, At-Tadzkirah bukan karya orisinal yang berdiri sendiri - ia adalah ikhtisar (ringkasan) dari karya Ibnul Mulaqqin sendiri yang lebih luas, Al-Muqni' fi 'Ulum al-Hadits (dua jilid), yang mana Al-Muqni' itu sendiri adalah ikhtisar dari kitab induk musthalah hadits paling berpengaruh sepanjang sejarah, Muqaddimah Ibn Shalah karya Ibn Shalah Asy-Syahruzuri. Jadi At-Tadzkirah adalah ringkasan dari ringkasan - versi paling padat dari garis keturunan Muqaddimah Ibn Shalah yang juga melahirkan Ikhtishar 'Ulumil Hadits karya Ibnu Katsir di jenjang Menengah program ini.

Kedua, penulisnya sendiri menyebut kitab ini ditujukan untuk dua kalangan sekaligus - "al-mubtadi" (pemula) yang baru mengenal istilahnya, dan "al-muntahi" (yang sudah mendalam) yang memakainya sebagai pengingat cepat. Itu sebabnya, meski cakupan istilahnya sangat luas (73 istilah, dari pembagian pokok shahih-hasan-dha'if sampai cabang ilmu mengenal nama dan generasi para perawi), gaya bahasanya sangat ringkas - lebih mirip daftar definisi padat ketimbang uraian panjang. Kitab ini beliau selesaikan dalam waktu sekitar dua jam saja, pada pagi hari Jumat, 27 Jumadal Ula tahun 763 H2 - empat puluh tahun sebelum beliau wafat.

Kenapa Hadits Perlu Diklasifikasikan Berdasarkan Kualitasnya

Sebelum masuk ke tiga pembagian pokok itu sendiri, penting dipahami dulu kenapa ilmu ini ada. Islam menyandarkan hukum dan ajarannya pada dua sumber utama: Al-Qur'an dan hadits (sunnah) Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Tapi berbeda dengan Al-Qur'an yang terjaga tulisannya sejak awal, hadits diriwayatkan dari mulut ke mulut, guru ke murid, selama beberapa generasi sebelum dibukukan. Di situlah letak pentingnya sanad (rantai periwayatan)3 dan ilmu musthalah hadits: memastikan riwayat yang sampai ke kita benar-benar berasal dari Nabi, bukan salah dengar, salah ingat, atau bahkan kedustaan yang disengaja.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri memperingatkan keras soal berdusta atas nama beliau:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229 dan no. 106, Muslim no. 1 dalam Muqaddimah, dari Al-Mughirah bin Syu'bah dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma - juga diriwayatkan dari puluhan sahabat lain hingga berstatus mutawatir4)

Ancaman ini sekaligus menjelaskan kenapa para ulama hadits membangun ilmu yang begitu rinci untuk memeriksa setiap riwayat - bukan formalitas akademis, tapi konsekuensi langsung dari peringatan Nabi di atas. Imam Muhammad bin Sirin, tabi'in yang masyhur kehati-hatiannya dalam periwayatan, menyimpulkannya dengan kalimat yang sering dikutip:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim5)

Dari kebutuhan itulah lahir klasifikasi hadits berdasarkan kualitas sanad dan matannya. Ibnul Mulaqqin membuka At-Tadzkirah dengan pembagian paling mendasar dalam seluruh ilmu ini:

أَقْسَامُ الْحَدِيثِ ثَلَاثَةٌ: صَحِيحٌ، وَحَسَنٌ، وَضَعِيفٌ
"Pembagian hadits ada tiga: shahih, hasan, dan dha'if."

Hadits Shahih

Definisi hadits shahih menurut Ibnul Mulaqqin:

فَالصَّحِيحُ: مَا سَلِمَ مِنَ الطَّعْنِ فِي إِسْنَادِهِ وَمَتْنِهِ. وَمِنْهُ الْمُتَّفَقُ عَلَيْهِ، وَهُوَ مَا أَوْدَعَهُ الشَّيْخَانِ فِي "صَحِيحَيْهِمَا"
"Hadits shahih adalah hadits yang selamat dari cacat pada sanad dan matannya. Termasuk di dalamnya al-Muttafaq 'alaih (yang disepakati), yaitu hadits yang dimuat oleh Asy-Syaikhan (Imam Bukhari dan Imam Muslim) dalam kedua kitab Shahih mereka."

Definisi ini sangat ringkas dibanding definisi hadits shahih yang lebih rinci di kitab-kitab musthalah yang lebih panjang (biasanya merinci lima syarat: sanad bersambung, seluruh perawi adil, seluruh perawi dhabit/kuat hafalannya, tidak syadz, dan tidak ber-'illat) - konsisten dengan sifat At-Tadzkirah sebagai matan paling padat di seluruh jenjang program ini. Kelak di jenjang Menengah dan Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang, kelima syarat itu akan dibahas satu per satu secara terpisah.

Hadits Hasan

Setelah shahih, Ibnul Mulaqqin mendefinisikan hasan sebagai berikut:

وَالْحَسَنُ: مَا كَانَ إِسْنَادُهُ دُونَ الْأَوَّلِ فِي الْحِفْظِ وَالْإِتْقَانِ. وَيَعُمُّهُ وَالَّذِي قَبْلَهُ اسْمُ الْخَبَرِ الْقَوِيِّ
"Hadits hasan adalah hadits yang sanadnya berada di bawah [tingkatan] yang pertama [shahih] dari segi kekuatan hafalan dan ketelitian perawinya. Hadits hasan dan shahih bersama-sama tercakup dalam sebutan 'khabar yang kuat' (al-khabar al-qawiy)."

Poin penting di sini: hadits hasan bukan hadits yang "kurang bisa dipercaya" - ia tetap termasuk al-khabar al-qawiy (khabar yang kuat), hanya saja tingkat kekuatan hafalan perawinya sedikit di bawah standar hadits shahih. Imam Ibnul Jauzi merumuskan batas antara hasan dan dha'if dengan kalimat yang dikutip para pensyarah At-Tadzkirah:

الْحَدِيثُ الَّذِي فِيهِ ضَعْفٌ قَرِيبٌ مُحْتَمَلٌ هُوَ الْحَدِيثُ الْحَسَنُ
6
"Hadits yang di dalamnya ada kelemahan ringan yang masih bisa ditoleransi, itulah hadits hasan."

Hadits Dha'if

Pembagian ketiga didefinisikan Ibnul Mulaqqin secara negatif, sebagai lawan dari dua kategori sebelumnya:

وَالضَّعِيفُ: مَا لَيْسَ وَاحِدًا مِنْهُمَا
"Hadits dha'if adalah hadits yang tidak termasuk salah satu dari keduanya (shahih maupun hasan)."

Definisi sesingkat ini sengaja ditinggalkan terbuka oleh Ibnul Mulaqqin, karena sebab-sebab kedhaifan hadits sendiri sangat beragam - mulai dari sanad yang terputus, perawi yang tidak dikenal kejujurannya, sampai matan yang bertentangan dengan riwayat yang lebih kuat. At-Tadzkirah akan membahas banyak dari sebab-sebab itu satu per satu di bab-bab selanjutnya - mulai dari hadits yang terputus sanadnya (munqathi', mursal, mu'dhal), sampai hadits yang dicurigai sengaja dipalsukan (maudhu').

Lanjut ke Bab Berikutnya

Bab ini baru pembuka. At-Tadzkirah sendiri menyebutkan bahwa cabang-cabang ilmu hadits "melebihi delapan puluh" jenis - meski penomoran yang dipakai dalam edisi yang dipakai untuk rangkaian bab ini mencapai 73 istilah, dari cara sanad tersambung ke Nabi (musnad, muttasil, marfu') sampai ilmu mengenal riwayat hidup para perawi. Untuk gambaran menyeluruh soal apa itu sanad, matan, dan rawi sebelum melanjutkan ke bab berikutnya, lihat juga Sanad, Matan, Rawi: Apa Bedanya? dan Musthalah Hadits: Pengertian Ilmu Hadits. Daftar lengkap bab At-Tadzkirah yang sudah tersedia bisa dilihat di halaman kitab At-Tadzkirah, bagian dari jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.

Catatan & Referensi

  1. Teks matan At-Tadzkirah dalam bab ini dan seluruh rangkaian bab At-Tadzkirah dikutip dari As-Sakhawi, At-Tawdih al-Abhar li Tadzkirati Ibnul Mulaqqin fi 'Ilmil Atsar (sharh/penjelasan atas matan At-Tadzkirah, mengutip matan aslinya secara utuh sebelum menjelaskannya) - naskah digital diverifikasi terhadap Maktabah Syamilah (shamela.ws, kitab #23640).

  2. Kolofon penulis sendiri di akhir At-Tadzkirah: "فرغتُ من تحرير هذه 'التذكرة' في نحو ساعتين، من صبيحة يوم الجمعة، سابع عشرين جماد الأولى، عام ثلاث وستين وسبع مائة" (Aku selesai menyusun At-Tadzkirah ini dalam waktu sekitar dua jam, pada pagi hari Jumat, 27 Jumadal Ula, tahun 763 H).

  3. Lihat Mengenal Isnad: Cara Kerja Rantai Periwayatan Hadits untuk pembahasan lebih lengkap soal sanad.

  4. HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah) dan no. 106 (dari Abu Hurairah), Muslim no. 1 dalam Muqaddimah. Diriwayatkan pula dari Anas bin Malik, Ali bin Abi Thalib, Salamah bin Al-Akwa', Az-Zubair bin Al-Awwam, dan puluhan sahabat lain sehingga berstatus mutawatir.

  5. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, dengan sanad dari Muhammad bin Abdullah bin Quhzadz, dari Abdan bin Utsman, dari Abdullah bin al-Mubarak, dari Muhammad bin Sirin.

  6. Ibnul Jauzi, Al-Mawdhu'at, 1/35 - dikutip dalam catatan kaki edisi At-Tadzkirah yang dipakai sebagai rujukan bab ini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email