Kata "iman" begitu sering diucapkan sampai kadang maknanya terasa mengambang, dianggap cukup sebagai perasaan yakin di hati, titik. Padahal dalam hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, iman dijelaskan jauh lebih konkret: ia punya cabang-cabang yang bisa dihitung, punya rasa manis yang bisa dikenali, punya ciri yang disebutkan Al-Qur'an, dan yang paling penting, punya bukti nyata dalam perilaku sehari-hari. Artikel ini mengumpulkan beberapa dalil tentang iman yang paling sering dijadikan rujukan para ulama untuk menjelaskan keempat sisi itu, lengkap dengan teks Arab dan terjemahannya.
Pertama: Iman Punya Banyak Cabang (Syu'abul Iman)
Salah satu hadits paling dikenal tentang hakikat iman menyebutkan bahwa iman bukan satu perkara tunggal, melainkan terdiri dari banyak cabang (syu'batul iman atau syu'abul iman). Imam Muslim meriwayatkannya dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
"Iman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah perkataan la ilaha illallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu (al-haya') adalah salah satu cabang dari iman." (HR. Muslim no. 153, Kitab Iman, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)1
Perhatikan kata "atau" di tengah hadits ini. Riwayat ini sendiri menyebut jumlah cabang iman dengan bilangan yang tidak pasti, "tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian" (bidh'un wa sab'una au bidh'un wa sittun). Kata Arab bidh'un memang secara bahasa berarti bilangan antara tiga sampai sembilan yang mengikuti puluhan sebelumnya, bukan angka pasti. Itulah kenapa riwayat lain di Shahih Bukhari hanya menyebut "enam puluh sekian cabang" tanpa pilihan "tujuh puluh sekian", sementara riwayat Muslim yang lain menyebut "tujuh puluh sekian" saja.2 Perbedaan angka semacam ini adalah variasi riwayat yang wajar dalam ilmu hadits, bukan pertentangan yang harus dipaksa cocok. Belakangan, sejumlah ulama, yang paling dikenal Imam Al-Baihaqi lewat kitabnya Syu'abul Iman, menyusun daftar rinci yang mencoba menghitung dan menjabarkan cabang-cabang itu satu per satu. Penyusunan detail semacam itu tetap ijtihad ulama dalam merinci makna hadits, bukan redaksi yang secara literal tertulis dalam hadits itu sendiri.
Yang lebih penting dari sekadar angka adalah struktur yang digambarkan hadits ini: iman punya tingkatan, dari yang paling utama (kalimat tauhid, fondasi segala amal) sampai yang tampak sederhana (menyingkirkan batu atau duri dari jalan yang dilalui orang). Rasa malu (al-haya') disebut secara khusus sebagai satu cabang. Ini menunjukkan bahwa akhlak dan kepekaan moral bukan tambahan di luar iman, melainkan bagian darinya. Ia konsisten dengan definisi iman yang dipegang mayoritas ulama Ahlus Sunnah: iman adalah ucapan hati, ucapan lisan, dan perbuatan anggota badan sekaligus, bukan hanya pembenaran (tashdiq) di dalam hati saja.
Kedua: Manisnya Iman (Halawatul Iman)
Kalau hadits pertama menjelaskan struktur iman, hadits kedua ini menjelaskan bagaimana rasanya ketika iman itu benar-benar meresap. Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dalam bab yang secara eksplisit berjudul "Manisnya Iman":
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
"Tiga perkara, siapa yang memilikinya akan mendapati manisnya iman (halawatul iman): (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, (2) jika ia mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan (3) ia benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Bukhari no. 16, Kitab Iman, bab "Manisnya Iman", dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)3
Tiga tanda ini punya urutan yang logis. Yang pertama soal mahabbah (kecintaan): menempatkan Allah dan Rasul-Nya di atas segala kecintaan lain, termasuk kecintaan pada harta, jabatan, atau bahkan diri sendiri. Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) pada dasarnya adalah proses membenahi urutan kecintaan ini, agar Allah selalu berada di puncaknya. Yang kedua soal ukuran mencintai sesama: bukan karena kepentingan, kekerabatan, atau keuntungan duniawi, tapi murni karena Allah (al-hubbu fillah). Yang ketiga soal keengganan kembali pada kekafiran setelah merasakan nikmatnya hidayah. Ini digambarkan seperti keengganan seseorang dilempar ke dalam api, sebuah perumpamaan yang menegaskan betapa besar nilai iman itu di mata orang yang benar-benar merasakannya.
Hadits ini tidak mengatakan bahwa manisnya iman datang begitu saja tanpa usaha. Ketiga tandanya justru menunjukkan hasil dari perjuangan batin: melawan kecintaan yang salah arah, menata ulang motif mencintai, dan menjaga hati agar tidak tergoda kembali pada jalan yang telah ditinggalkan. Inilah kenapa hadits ini sering dijadikan rujukan untuk menjelaskan bahwa iman bukan status statis yang sekali diraih lalu selesai, melainkan sesuatu yang dirasakan, dijaga, dan bisa naik-turun sesuai kualitas amal dan kedekatan seseorang kepada Allah.
Ketiga: Ciri Orang yang Benar-Benar Beriman Menurut Al-Qur'an
Selain hadits, Al-Qur'an juga menggambarkan secara langsung siapa yang layak disebut mukmin sejati. Surat Al-Anfal ayat 2 sampai 4 menyebutkan empat ciri sekaligus:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya, dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya, dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Bagi mereka derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia." (QS. Al-Anfal: 2-4)4
Ayat ini menyebut satu hal yang tidak muncul di hadits-hadits sebelumnya: iman itu bertambah (yazidu) ketika seseorang mendengar ayat-ayat Allah dibacakan. Ini adalah dasar utama pandangan mayoritas ulama Ahlus Sunnah bahwa iman bukan besaran yang tetap. Ia bisa bertambah dengan ilmu, amal shalih, dan dzikir, dan bisa berkurang dengan kelalaian dan dosa. Empat ciri yang disebutkan ayat ini, yaitu hati yang gemetar saat mengingat Allah, iman yang bertambah saat mendengar ayat-Nya, tawakal yang murni kepada-Nya, serta konsistensi dalam shalat dan sedekah, semuanya adalah perkara yang bisa diukur dan diperjuangkan, bukan sekadar klaim di lisan.
Keempat: Iman yang Dibuktikan Lewat Akhlak
Bagian paling praktis dari pembahasan iman ada di hadits ini. Iman tidak berhenti sebagai pengakuan di hati, tapi harus terlihat dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dalam Kitab Adab:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari no. 6018, Kitab Adab, bab "Orang yang Beriman kepada Allah dan Hari Akhir Tidak Boleh Menyakiti Tetangganya", dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)5
Tiga klausa dalam hadits ini punya pola yang sama, yaitu "barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka...", seolah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan bahwa keimanan seseorang bisa diuji lewat tiga hal konkret: bagaimana ia bersikap kepada tetangga, bagaimana ia menyambut tamu, dan bagaimana ia mengatur lisannya. Ketiganya dipilih bukan tanpa alasan. Ketiganya adalah area yang paling mudah membuat seseorang lengah, karena tidak ada hukuman duniawi langsung ketika seseorang mengganggu tetangga, pelit pada tamu, atau bicara sembarangan. Justru di titik-titik "tanpa pengawasan" seperti inilah kualitas iman seseorang benar-benar terlihat.
Hadits ini juga menjadi jembatan yang baik untuk memahami hubungan antara iman, Islam, dan ihsan, tiga istilah yang sering dianggap sama tapi punya penekanan berbeda, sebagaimana dijelaskan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri dalam hadits Jibril yang masyhur. Pembahasan lengkap trilogi itu ada di Jibril, Iman, Islam, dan Ihsan (Syarah Arbain Nawawi). Artikel ini sengaja tidak mengulang hadits tersebut, karena empat dalil di atas dipilih untuk menyorot sisi lain dari iman: cabang-cabangnya, rasanya, ciri Qur'aninya, dan buktinya dalam akhlak sehari-hari.
Penutup
Empat dalil di atas menggambarkan iman dari sisi yang saling melengkapi: sebagai sesuatu yang punya banyak cabang dari yang paling utama sampai yang paling sederhana, sebagai rasa manis yang dirasakan hati yang benar-benar meyakini, sebagai keadaan yang bertambah lewat dzikir dan ayat-ayat Allah, dan sebagai sesuatu yang harus terbukti dalam cara seseorang memperlakukan tetangga, tamu, dan kata-katanya sendiri. Iman, dengan begitu, bukan sekadar pengakuan sesaat di lisan, melainkan keyakinan yang mengubah cara seseorang berpikir, merasa, dan bertindak setiap hari.
Bagi yang ingin memahami pokok-pokok akidah, termasuk rukun iman, nama dan sifat Allah, serta bantahan atas penyimpangan akidah, secara berjenjang dan bersanad kepada pengajar, jalur kelas Aqidah di Ngajisanad adalah tempat yang tepat untuk melanjutkan.
Catatan & Referensi
HR. Muslim no. 153, Kitab Iman, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngajisanad sendiri (hadith-api/books/muslim.json), dikonfirmasi silang lewat getChapterFor('muslim', 153) yang menempatkannya di Kitab Iman, bab "Penjelasan jumlah cabang iman, yang paling utama dan yang paling rendah, serta keutamaan malu dan kedudukannya sebagai bagian dari iman". Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩Riwayat pembanding yang disebut dalam paragraf ini: HR. Bukhari no. 9 (Kitab Iman, bab "Perkara-perkara/cabang-cabang iman") menyebut "enam puluh sekian cabang" (bidh'un wa sittun) saja tanpa alternatif "tujuh puluh sekian", sementara HR. Muslim no. 152 menyebut "tujuh puluh sekian cabang" (bidh'un wa sab'un) saja. Ketiga redaksi dicek langsung dari hadith-api/books/bukhari.json dan hadith-api/books/muslim.json - bukan disalin dari rujukan sekunder. Angka "77 cabang" yang populer dikutip sebagai rincian Imam Al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman berasal dari penelusuran umum, bukan verifikasi langsung ke naskah kitab tersebut dalam penulisan artikel ini - kitab itu sendiri memang dikenal luas menyusun daftar rinci cabang iman satu per satu, tapi bilangan pastinya tidak dicek langsung ke naskah aslinya di sini. Lihat juga HR. Bukhari no. 9.
↩HR. Bukhari no. 16, Kitab Iman, bab "Manisnya Iman" (Bab Halawatil Iman), dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngajisanad sendiri, dikonfirmasi lewat getChapterFor('bukhari', 16). Riwayat serupa dengan redaksi sedikit berbeda juga terdapat di HR. Bukhari no. 21. Sanad hadits ini shahih, tanpa perselisihan derajat yang berarti. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩QS. Al-Anfal: 2-4 - teks Arab dan terjemahan dicek ke basis data Al-Qur'an digital, konsisten dengan mushaf standar Kementerian Agama RI.
↩HR. Bukhari no. 6018, Kitab Adab, bab "Orang yang Beriman kepada Allah dan Hari Akhir Tidak Boleh Menyakiti Tetangganya", dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu - teks Arab dari data hadits primer Ngajisanad sendiri. Terjemahan Indonesia di atas mengoreksi satu kata pada field terjemahan sumber sendiri ("berimana" menjadi "beriman", sekadar koreksi ketik, tidak mengubah makna). Riwayat serupa dengan tambahan/variasi klausa juga terdapat di HR. Bukhari no. 6019, 6135, 6136, dan 6138. Sanad hadits ini shahih. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩