Hadits Tentang Isra Mi'raj: Perjalanan Malam dan Asal-Usul Perintah Shalat

Setiap muslim yang shalat lima waktu setiap hari sebenarnya sedang menjalankan sisa dari sebuah perjalanan luar biasa yang terjadi lebih dari 1400 tahun lalu. Perjalanan itu dikenal sebagai isra dan mi'raj, dua peristiwa yang terjadi dalam satu malam yang sama. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam diperjalankan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsha di Yerusalem (isra), lalu dinaikkan dari sana menembus tujuh lapis langit hingga Sidratul Muntaha (mi'raj). Di ujung perjalanan itulah perintah shalat lima waktu ditetapkan. Perintah ini tidak turun begitu saja lewat wahyu di bumi seperti kebanyakan syariat lain, melainkan diserahkan langsung kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di hadapan Allah. Artikel ini mengumpulkan dalil-dalil pokok tentang peristiwa ini dari Al-Qur'an dan hadits shahih, beserta penjelasan ringkas tiap bagiannya.

Pertama: Penegasan Al-Qur'an tentang Perjalanan Ini

Al-Qur'an menyebut peristiwa isra secara eksplisit di ayat pembuka Surat Al-Isra. Nama surat itu sendiri bahkan diambil dari peristiwa ini:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra: 1)1

Ayat ini dibuka dengan kata subhana, ungkapan penyucian yang mengagungkan Allah atas sebuah peristiwa yang sangat besar. Kata asra (dari akar kata yang sama dengan "isra") secara bahasa berarti "memperjalankan pada malam hari", dan memang seluruh perjalanan ini, dari Makkah ke Yerusalem lalu naik ke langit, terjadi dalam satu malam saja. Frasa "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami" di akhir ayat menjadi jembatan menuju bagian mi'raj, karena tanda-tanda kebesaran Allah yang dimaksud sebagian besar justru disaksikan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah tiba di Masjidil Aqsha, saat beliau dinaikkan ke langit.

Kedua: Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha Bersama Buraq

Detail perjalanan isra direkam dengan cukup lengkap dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ditempatkan dalam Kitab Iman pada bab yang secara eksplisit berjudul "Perjalanan Malam (Isra) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Menuju Langit dan Diwajibkannya Shalat":

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ - وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ - ... فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ
"Aku telah didatangi Buraq, yaitu seekor binatang berwarna putih, lebih besar dari keledai tetapi lebih kecil dari bighal. [...] Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis." (HR. Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)2

Buraq, menurut hadits ini, adalah tunggangan yang didatangkan Jibril 'alaihissalam khusus untuk perjalanan ini: lebih besar dari keledai, lebih kecil dari bighal (baghal, hasil silang kuda dan keledai). Setibanya di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha), hadits yang sama melanjutkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menambatkan Buraq, masuk ke masjid, dan shalat dua rakaat di sana, sebelum kemudian didatangi Jibril membawa dua wadah, khamr dan susu. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memilih susu, dan Jibril berkata bahwa itu adalah pilihan yang sesuai fitrah. Baru setelah itu Jibril membawa beliau naik ke langit. Di sinilah awal dari mi'raj.

Ketiga: Menembus Tujuh Langit, Bertemu Para Nabi

Hadits Muslim yang sama menceritakan bahwa perjalanan naik ke langit ini berlangsung berjenjang, langit demi langit, dan di setiap pintu langit Jibril harus meminta izin lebih dulu sebelum dibukakan. Di langit pertama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertemu Nabi Adam 'alaihissalam, di langit kedua dengan Nabi Isa dan Nabi Yahya, di langit ketiga dengan Nabi Yusuf, di langit keempat dengan Nabi Idris, di langit kelima dengan Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa 'alaihissalam, dan di langit ketujuh dengan Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang digambarkan sedang bersandar di Baitul Ma'mur. Tiap nabi menyambut dan mendoakan kebaikan untuk beliau. Pola pertemuan yang berulang ini bukan sekadar detail hiasan cerita. Pola ini menegaskan posisi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai penutup dan pewaris seluruh risalah kenabian sebelumnya, disambut oleh semua pendahulunya dalam satu malam yang sama.

Pertemuan paling berkesan justru terjadi dengan Nabi Musa 'alaihissalam, bukan hanya karena pertemuan singkat di langit keenam, tapi karena perannya yang jauh lebih besar sebentar lagi, saat perintah shalat diturunkan.

Keempat: Sidratul Muntaha - Melihat Jibril dalam Wujud Aslinya

Titik tertinggi perjalanan mi'raj adalah Sidratul Muntaha, sebuah pohon bidara di batas akhir alam makhluk yang digambarkan hadits di atas memiliki daun sebesar telinga gajah dan buah sebesar tempayan. Al-Qur'an sendiri menyinggung momen ini di Surat An-Najm, pada bagian yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat Jibril 'alaihissalam dalam wujud aslinya (bukan dalam rupa manusia seperti biasa beliau menyampaikan wahyu) untuk kedua kalinya:

وَلَقَدْ رَاٰهُ نَزْلَةً اُخْرٰىۙ عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهٰى عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوٰىۗ اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى
"Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratulmuntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Nabi Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratulmuntaha dilingkupi oleh sesuatu yang melingkupinya. Penglihatan (Nabi Muhammad) tidak menyimpang dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya). Sungguh, dia benar-benar telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang sangat besar." (QS. An-Najm: 13-18)3

Mayoritas mufassir, termasuk Ibnu Katsir dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa "penglihatan kedua" (nazlatan ukhra) yang disebut ayat ini merujuk pada peristiwa mi'raj. Ini berbeda dari penglihatan pertama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam terhadap Jibril dalam wujud aslinya yang disebut di ayat-ayat sebelumnya dalam surat yang sama (An-Najm: 5-10), yang terjadi lebih awal dalam masa kenabian beliau. Ayat "penglihatan tidak menyimpang dan tidak melampaui" menegaskan bahwa apa yang disaksikan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah kesaksian yang akurat, bukan ilusi atau berlebihan dalam penuturan. Ini adalah penegasan Al-Qur'an sendiri atas keabsahan pengalaman luar biasa ini.

Kelima: Perintah Shalat Lima Waktu - Dari Lima Puluh Menjadi Lima

Bagian paling penting dari peristiwa mi'raj, dalam hal dampaknya pada kehidupan sehari-hari umat Islam, adalah penetapan kewajiban shalat. Hadits Muslim yang sama melanjutkan ceritanya persis dari titik Sidratul Muntaha:

فَأَوْحَى اللَّهُ إِلَىَّ مَا أَوْحَى فَفَرَضَ عَلَىَّ خَمْسِينَ صَلاَةً فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ ... حَتَّى قَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّهُنَّ خَمْسُ صَلَوَاتٍ كُلَّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ صَلاَةٍ عَشْرٌ فَذَلِكَ خَمْسُونَ صَلاَةً
"Lalu Allah memberikan wahyu kepada beliau dengan mewajibkan shalat lima puluh waktu sehari semalam. [...] sehingga Allah berfirman: 'Wahai Muhammad! Sesungguhnya Aku fardukan lima waktu sehari semalam. Setiap shalat fardu dilipatgandakan dengan sepuluh kali lipat. Maka itulah lima puluh shalat fardu.'" (HR. Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)4

Bagian yang dipangkas dengan tanda [...] di atas adalah proses tawar-menawar yang terjadi berulang kali antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan Allah, dengan Nabi Musa 'alaihissalam sebagai penasihat di setiap putarannya. Ketika perintah pertama turun, yaitu lima puluh shalat setiap hari, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam turun dan bertemu Musa. Musa lantas menyarankan agar beliau kembali meminta keringanan, karena ia sendiri sudah punya pengalaman panjang mendakwahi Bani Israil dan tahu betapa beratnya kewajiban seberat itu dijalankan secara konsisten. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun kembali, dan Allah menguranginya lima shalat. Proses ini berulang beberapa kali. Setiap kali turun lima shalat, Musa tetap menyarankan untuk meminta keringanan lagi, hingga akhirnya angka itu tinggal lima shalat sehari semalam. Namun di titik inilah letak keistimewaannya: meski secara fisik yang wajib dikerjakan hanya lima kali, pahalanya tetap dihitung sepuluh kali lipat untuk setiap shalat, sehingga secara pahala tetap setara dengan lima puluh shalat seperti perintah awal. Keringanan dalam beban tanpa mengurangi keutamaan.

Peristiwa yang sama, dengan sanad berbeda, diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu lewat jalur Malik bin Sha'sha'ah (bukan lewat jalur Tsabit al-Bunani seperti hadits Muslim di atas). Riwayat ini juga direkam Imam Bukhari dalam Kitab Keutamaan Kaum Anshar, pada bab yang secara khusus diberi judul "Mi'raj", dan menutup kisah tawar-menawar itu dengan kalimat yang berbeda namun maknanya senada:

فَلَمَّا جَاوَزْتُ نَادَى مُنَادٍ أَمْضَيْتُ فَرِيضَتِي وَخَفَّفْتُ عَنْ عِبَادِي
"Ketika aku telah selesai (kembali), terdengar suara orang yang berseru: 'Sungguh, Aku telah memberikan keputusan kewajiban-Ku dan Aku telah ringankan untuk hamba-hamba-Ku.'" (HR. Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, riwayat Malik bin Sha'sha'ah)5

Dua riwayat dari sahabat yang sama, lewat dua jalur sanad yang berbeda, dicatat oleh dua kitab hadits paling ketat penyaringannya (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Keduanya saling menguatkan detail inti peristiwa ini: perintah shalat lima puluh waktu, proses keringanan lewat saran Musa 'alaihissalam, hingga angka final lima waktu dengan pahala tetap setara lima puluh. Latar belakang kewajiban shalat lima waktu ini, termasuk dalil-dalil dan kedudukannya secara lebih luas dalam syariat, dibahas lebih jauh di Hadits Tentang Sholat: Kedudukan dan Dalil Shalat Lima Waktu.

Keenam: Kenapa Peristiwa Ini Penting Diingat

Isra dan mi'raj bukan sekadar kisah keajaiban yang menakjubkan untuk didengar. Ia punya beberapa pelajaran yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari. Pertama, shalat lima waktu yang dikerjakan umat Islam hari ini punya asal-usul yang unik dibanding kewajiban syariat lain: ia tidak diturunkan lewat wahyu biasa di bumi, melainkan ditetapkan langsung dalam pertemuan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan Allah pada malam itu. Ini menunjukkan betapa istimewanya kedudukan shalat dibanding ibadah-ibadah lain. Kedua, kisah tawar-menawar lewat perantaraan Musa 'alaihissalam mengajarkan bahwa Allah memperhatikan kemampuan hamba-Nya: kewajiban yang berat diringankan, tapi keutamaannya tetap dijaga penuh lewat pelipatgandaan pahala.

Ketiga, banyak riwayat sirah (meski di luar cakupan hadits yang dibahas di artikel ini) menempatkan peristiwa isra mi'raj pada masa-masa yang oleh sebagian ulama sirah disebut sebagai 'Amul Huzn (tahun kesedihan), tak lama setelah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kehilangan dua pendukung utama dakwahnya di Makkah: istrinya Khadijah radhiyallahu 'anha dan pamannya Abu Thalib. Dalam konteks itu, perjalanan mi'raj sering dimaknai sebagai penghiburan langsung dari Allah di tengah masa-masa tersulit dakwah beliau. Perlu dicatat, tanggal pasti peristiwa ini, termasuk klaim populer 27 Rajab yang banyak beredar di masyarakat, diperselisihkan di kalangan ulama sirah dan bukan konsensus tunggal yang disepakati semua ahli sejarah Islam. Artikel ini sengaja tidak menegaskan tanggal tertentu karena itu bukan bagian dari hadits-hadits pokok yang dibahas di atas.

Penutup

Isra dan mi'raj menghubungkan tiga elemen sekaligus: perjalanan fisik yang luar biasa dari Makkah ke Yerusalem, perjalanan spiritual menembus tujuh langit hingga Sidratul Muntaha, dan penetapan kewajiban shalat lima waktu yang sampai hari ini dijalankan setiap muslim. Dalil-dalil di atas, yakni satu ayat Al-Qur'an yang menegaskan peristiwa isra, satu ayat lain yang menegaskan penglihatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas Jibril di Sidratul Muntaha, dan dua riwayat hadits shahih dari dua jalur berbeda yang menceritakan detail perjalanan serta proses penetapan shalat, semuanya diverifikasi langsung dari data hadits primer yang dipakai Ngajisanad, bukan disalin mentah dari sumber lain. Untuk mendalami sirah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara lebih sistematis dan bersanad, lihat jalur kelas Sirah di Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. QS. Al-Isra: 1. Teks Arab dan terjemahan dicek terhadap mushaf standar Kementerian Agama RI.

  2. HR. Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Nomor urut data sendiri 411, berada dalam Kitab Iman bab "Perjalanan Malam (Isra) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Menuju Langit dan Diwajibkannya Shalat" (mencakup hadits 411-424). Teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngajisanad sendiri (hadith-api/books/muslim.json). Hadits ini sangat panjang (mencakup pertemuan dengan tujuh nabi di tujuh lapis langit). Kutipan di badan artikel dipangkas pada bagian-bagian intinya saja, ditandai [...]. Sanad shahih (diriwayatkan dalam Shahih Muslim). Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

  3. QS. An-Najm: 13-18. Teks Arab dan terjemahan dicek terhadap mushaf standar Kementerian Agama RI. Penafsiran "penglihatan kedua" sebagai peristiwa mi'raj mengikuti pandangan mayoritas mufassir klasik (termasuk Ibnu Katsir), bukan klaim tunggal tanpa dasar tafsir.

  4. HR. Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Kelanjutan hadits nomor 411 yang sama dengan catatan 2 di atas, bagian penetapan shalat lima puluh waktu hingga menjadi lima waktu. Teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngajisanad sendiri. Kutipan dipangkas pada bagian proses tawar-menawar berulang (ditandai [...]), dijelaskan secara naratif di badan artikel alih-alih dikutip verbatim seluruhnya, karena panjangnya pengulangan dialog di teks asli. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

  5. HR. Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu riwayat Malik bin Sha'sha'ah. Nomor urut data sendiri 3887, Kitab Keutamaan Kaum Anshar bab 42 "Mi'raj" (dikonfirmasi lewat getChapterFor('bukhari', 3887) pada data hadits primer Ngajisanad). Teks Arab dan terjemahan dari hadith-api/books/bukhari.json. Sanad shahih (diriwayatkan dalam Shahih Bukhari). Jalur sanad riwayat ini berbeda dari hadits Muslim nomor 411 di atas meski sama-sama dari Anas bin Malik. Keduanya melengkapi satu sama lain sebagai riwayat independen atas peristiwa yang sama. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email