"Dan (dibahas pula) at-tarajih (pengunggulan) antar riwayat para perawi - dari sisi banyaknya jumlah jalur ketika kekuatan hafalan mereka setara, atau dari sisi jumlah itu juga ketika kekuatan hafalannya berbeda-beda. Serta faktor-faktor lain [yang bisa dipakai]."
Bab ini melengkapi bab 25 (Mukhtalif) yang sudah menyebut tarjih sebagai salah satu jalan menyelesaikan dua hadits yang tampak bertentangan. Di sini Ibnul Mulaqqin merinci dua faktor dasar tarjih: pertama, ketika kekuatan hafalan para perawi di kedua riwayat SETARA, maka riwayat dengan jumlah jalur lebih banyak yang diunggulkan; kedua, ketika kekuatan hafalannya justru BERBEDA, jumlah jalur tetap menjadi pertimbangan tapi harus ditimbang bersama kualitas hafalan itu sendiri - riwayat dari satu perawi yang sangat kuat hafalannya kadang tetap diunggulkan atas riwayat dari banyak perawi yang hafalannya biasa saja.
Bab ini bagian dari rangkaian At-Tadzkirah fi 'Ulum al-Hadits, jenjang Pemula program Ulumul Hadits Berjenjang.
Catatan & Referensi
Contoh yang disebut pensyarah: hadits Al-Jassasah yang panjang dalam Shahih Muslim no. 2943 - dalam At-Tawdih al-Abhar disebutkan maksudnya adalah kisah tentang adzan dalam hadits itu.
↩