Daftar Bab

  1. 1 Muqaddimah Nazham

    Siapa Al-’Iraqi, kenapa Ibnu Shalah diringkas jadi 1002 bait, dan cara baca istilah rujukan "qala"/"asy-syaikh" di sepanjang nazham.

  2. 2 Naw' 1: Ash-Shahih

    Definisi Ash-Shahih, ashahhul asanid, kenapa Shahih al-Bukhari didahulukan atas Shahih Muslim, maratib Shahih, hukum ta’liq, dan syarat menukil dari kitab mu’tamad.

  3. 3 Naw' 2: Al-Hasan

    Definisi Al-Hasan yang diperdebatkan ulama, kritik Al-’Iraqi atas definisi At-Tirmidzi, pembagian dua bagian Hasan, dan kapan hadits Dha’if bisa terangkat jadi Hasan Li Ghairihi.

  4. 4 Naw' 3: Adh-Dha'if

    Adh-Dha’if didefinisikan negatif -yang tak mencapai derajat Hasan- dan Ibnu Hibban menghitung sebab kedhaifan sampai 49 jenis.

  5. 5 Naw' 4: Al-Musnad

    Tiga pendapat ulama soal definisi Al-Musnad, termasuk syarat ketat Al-Hakim: Rafa’ sekaligus Washl.

  6. 6 Naw' 5: Al-Muttasil

    Al-Muttasil/Al-Mausul murni soal sanad bersambung, berlaku untuk Marfu’ maupun Mauquf, tapi tidak untuk Maqthu’.

  7. 7 Naw' 6: Al-Marfu'

    Al-Marfu’ adalah soal ISI riwayat (disandarkan ke Nabi), bukan soal bentuk sanad -beda dari Muttasil dan Mursal.

  8. 8 Naw' 7: Al-Mauquf

    Al-Mauquf dibatasi sampai Sahabat, disebut juga Al-Atsar oleh sebagian ahli fiqih.

  9. 9 Naw' 8: Al-Maqthu'

    Al-Maqthu’ (perkataan Tabi’in) sering tertukar dengan Al-Munqathi’ (sanad terputus) -bahkan oleh Imam Asy-Syafi’i.

  10. 10 Naw' 9: Al-Mursal

    Al-Mursal diperdebatkan: Imam Malik dan Abu Hanifah menerimanya, mayoritas ahli hadits menolaknya karena identitas rawi yang hilang tidak diketahui.

  11. 11 Naw' 10: Al-Munqathi'

    Al-Munqathi’ -satu rawi hilang di titik mana pun dalam sanad, berbeda dari Al-Mursal yang spesifik letaknya dekat Sahabat.

  12. 12 Naw' 11: Al-Mu'dhal

    Al-Mu’dhal -dua rawi atau lebih hilang berurutan, kelemahan sanad yang lebih parah dari Al-Munqathi’.

  13. 13 Naw' 12: At-Tadlis

    Tiga jenis tadlis -Tadlis al-Isnad, Tadlis asy-Syuyukh, At-Taswiyah- dan kenapa Al-A’masy tetap dipakai di Shahihain meski dikenal mudallis.

  14. 14 Naw' 13: Asy-Syadz

    Tiga definisi Syadz -Asy-Syafi’i, Al-Hakim, Al-Khalili- dan jalan tengah Al-’Iraqi: tafarrud dari rawi dhabith tanpa penyelisih tetap Hasan.

  15. 15 Naw' 14: Al-Munkar

    Al-Munkar disamakan Al-’Iraqi dengan Asy-Syadz -bukan sekadar riwayat tunggal seperti definisi Al-Bardiji.

  16. 16 Naw' 15: Al-I'tibar, Al-Mutaba'at, wasy-Syawahid

    Metode I’tibar mencari penguat riwayat -Mutaba’ah (jalur sama) dan Syahid (matan lain semakna), lewat contoh klasik hadits penyamakan kulit.

  17. 17 Naw' 16: Ziyadatuts Tsiqat

    Tambahan rawi tsiqah diterima selama tidak bertentangan dengan riwayat tsiqah lain, per pembagian Ibnu Shalah.

  18. 18 Naw' 17: Al-Afrad

    Al-Fard Muthlaq (benar-benar tunggal) vs Al-Fard bin-Nisbah (tunggal dalam batasan kota/rawi tertentu) -yang kedua tidak otomatis melemahkan.

  19. 19 Naw' 18: Al-Mu'allal

    Al-Mu’allal -cacat tersembunyi di balik sanad yang tampak sempurna, hanya terdeteksi lewat perbandingan jalur oleh pakar.

  20. 20 Naw' 19: Al-Mudhtarib

    Al-Mudhtarib hanya berlaku kalau semua versi riwayat SAMA kuatnya -kalau ada yang lebih unggul, itu bukan Mudhtarib.

  21. 21 Naw' 20: Al-Mudraj

    Beberapa bentuk Al-Mudraj -tambahan rawi menempel di awal/akhir matan, sampai tercampurnya dua matan atau gabungan sanad berbeda jadi satu.

  22. 22 Naw' 21: Al-Maudhu'

    Kisah Abu ’Ishmah yang mengaku memalsukan hadits keutamaan surah Qur’an -dan kenapa niat baik tidak jadi alasan sah untuk berdusta atas nama Nabi.

  23. 23 Naw' 22: Al-Maqlub

    Kisah ujian 100 hadits yang sanad-matannya dibalik untuk menguji hafalan Imam Al-Bukhari di Baghdad.

  24. 24 Naw' 23: Syarat Diterima dan Ditolaknya Riwayat Seorang Rawi

    Dua pilar syarat diterimanya riwayat: Dhabt (kuat hafalan/catatan) dan ’Adalah (Islam, berakal, baligh, bersih dari fasik) -naw’ terpanjang di Alfiyah al-’Iraqi.

  25. 25 Naw' 24: Tata Cara Sama' dan Tahammul Hadits

    Tahammul sah dilakukan sebelum masuk Islam/baligh; usia ideal belajar hadits berbeda per wilayah; 3 dari 8 cara tahammul (Sama’, Al-Qira’ah, Al-Ijazah) dibahas dengan bait asli.

  26. 26 Naw' 25: Penulisan Hadits dan Dhabth Kitab

    Konvensi skriptorium ulama klasik -Muqabalah (cocok-tanding naskah), Takhrij As-Saqith (menandai bagian hilang), simbol Shahha/Tamridh untuk kata yang diragukan.

  27. 27 Naw' 26: Tata Cara Meriwayatkan dan Syarat Ada'-nya

    Riwayat bil-ma’na dibolehkan mayoritas ulama, tapi hanya bagi rawi yang benar-benar paham bahasa Arab mendalam -dan wajib diberi tanda transparansi.

  28. 28 Naw' 27: Adab Al-Muhaddits

    Niat ikhlas, persiapan fisik sebelum mengajar, larangan menyembunyikan ilmu, dan kewajiban guru berhenti mengajar saat hafalannya sudah tak bisa diandalkan.

  29. 29 Naw' 28: Adab Thalib al-Hadits (Penuntut Hadits)

    Mulai dari guru terdekat sebelum rihlah jauh, amalkan yang dipelajari, selektif mencatat, dan pelajari ilmu hadits itu sendiri, bukan cuma kumpulkan matan.

  30. 30 Naw' 29: Sanad 'Ali dan Nazil

    Lima jenis sanad ’Ali (tinggi/pendek) -kedekatan ke Nabi, dan empat variasi relatif terhadap Kutubus Sittah (Muwafaqah, Badal, Musawah, Mushafahah).

  31. 31 Naw' 30: Al-Masyhur

    Gharib/’Aziz/Masyhur diukur dari jumlah jalur, bukan kualitas -Masyhur tetap bisa Dha’if, Gharib tetap bisa Shahih.

  32. 32 Naw' 31: Al-Gharib dan Al-'Aziz

    Al-Gharib dan Al-’Aziz -ujung bawah skala yang sama dengan Al-Masyhur, ditentukan di titik paling sedikit jalurnya sepanjang sanad.

  33. 33 Naw' 32: Gharibul Hadits

    Ilmu memahami kosakata langka dalam matan hadits -bukan tebak-tebakan, harus rujuk ahli bahasa atau konteks riwayat itu sendiri.

  34. 34 Naw' 33: Al-Musalsal

    Hadits Musalsal -semua rawi berbagi kebiasaan/lafal yang sama, tapi jarang selamat dari kelemahan sanad.

  35. 35 Naw' 34: Nasikh dan Mansukh Hadits

    Tiga cara sah membuktikan naskh -nash tegas, pengetahuan sejarah urutan turun, atau ijmak ulama -bukan klaim sembarangan.

  36. 36 Naw' 35: At-Tashif

    At-Tashif -kesalahan baca huruf mirip, salah dengar bunyi mirip, atau salah paham makna kata (contoh: kasus ’anazah).

  37. 37 Naw' 36: Mukhtaliful Hadits

    Contoh klasik ’la ’adwa’ vs ’larilah dari penyakit menular’ -4 tahap penyelesaian: Al-Jam’, Naskh, Tarjih, lalu yang paling sesuai prinsip umum.

  38. 38 Naw' 37: Al-Mazid fi Muttashilil Asanid

    Ketika versi sanad lebih panjang punya satu rawi tambahan -diterima kecuali terbukti wahm (kekeliruan), tergantung lafal periwayatan yang dipakai.

  39. 39 Naw' 38: Mursal yang Samar Ke-mursal-annya (Khafiyyul Irsal)

    Mursal tersembunyi -dua rawi sezaman tapi tak pernah benar-benar bertemu, butuh riset biografis mendalam untuk dideteksi.

  40. 40 Naw' 39: Ma'rifat Ash-Shahabah

    Definisi Sahabat, cara pembuktian status shuhbah, semua Sahabat dianggap ’adl, dan enam Sahabat perawi hadits terbanyak.

  41. 41 Naw' 40: Ma'rifat At-Tabi'in

    15 tingkatan Tabi’in, tertinggi diisi perawi dari sepuluh Sahabat yang dijamin surga sekaligus.

  42. 42 Naw' 41: Rawi Akabir yang Meriwayatkan dari Ashaghir

    Rawi senior meriwayatkan dari rawi junior -bahkan Sahabat pernah mengambil riwayat dari Tabi’in (Ka’b Al-Ahbar).

  43. 43 Naw' 42: Al-Mudabbaj dan Riwayat Al-Aqran

    Al-Aqran (rawi sejawat) dan Al-Mudabbaj -kasus khusus ketika dua rawi sejawat SALING meriwayatkan satu sama lain.

  44. 44 Naw' 43: Al-Ikhwah wal-Akhawat (Saudara Kandung Sesama Rawi)

    Keluarga-keluarga dengan banyak saudara kandung sekaligus jadi perawi -sampai tujuh bersaudara (Bani Muqarrin).

  45. 45 Naw' 44: Riwayat Ayah dari Anak

    Ayah meriwayatkan dari anaknya sendiri -plus koreksi penting: "Abu Bakr" dalam satu sanad tertentu bukan Abu Bakr Ash-Shiddiq.

  46. 46 Naw' 45: Riwayat Anak dari Ayah

    Anak meriwayatkan dari ayah -pola paling umum, sampai jadi genre kitab pendataan silsilah keluarga perawi tersendiri.

  47. 47 Naw' 46: Rawi yang Diriwayatkan Dua Orang Sekaligus

    Dua rawi berbagi guru sama tapi wafatnya terpisah jauh -info penting supaya tidak dikira kejanggalan.

  48. 48 Naw' 47: Rawi yang Hanya Diriwayatkan Satu Orang

    Rawi dengan hanya satu murid periwayat tetap bisa masuk Shahihain -Al-’Iraqi mengoreksi klaim keliru Al-Hakim soal ini.

  49. 49 Naw' 48: Rawi Bernama/Bergelar Lebih dari Satu

    Contoh nyata Tadlis asy-Syuyukh -Muhammad bin As-Sa’ib Al-Kalbi disebut 3 nama berbeda oleh murid-muridnya.

  50. 50 Naw' 49: Al-Mufradat (Nama-Nama Tunggal)

    Nama/gelar/kunyah yang cuma dipakai satu orang di seluruh corpus hadits -penanda identifikasi unik, butuh ketelitian ekstra harakat.

  51. 51 Naw' 50: Nama dan Kunyah

    Sembilan-sepuluh pola hubungan nama-kunyah menurut Ibnu Shalah -dari yang identik sampai kunyah tanpa nama asli diketahui.

  52. 52 Naw' 51: Rawi yang Dikenal dengan Kunyah, Bukan Nama

    Rawi yang nama aslinya tak pernah tercatat, hanya dikenal lewat kunyahnya -mempersulit verifikasi biografis.

  53. 53 Naw' 52: Alqab (Gelar) Para Muhaddits

    Gelar/julukan rawi (seperti "Ghundar") boleh dipakai untuk identifikasi ilmiah meski sang rawi sendiri mungkin tak menyukainya.

  54. 54 Naw' 53: Al-Mu'talif wal-Mukhtalif

    Nama rawi yang tertulis identik tapi dibaca beda -butuh talaqqi langsung dari guru, mirip sanad qira’ah Qur’an.

  55. 55 Naw' 54: Al-Muttafiq wal-Muftariq

    Nama identik tulisan dan bacaan tapi merujuk banyak orang berbeda -contoh "Ibnu Ahmad Al-Khalil" dipakai 6 rawi berbeda.

  56. 56 Naw' 55: Gabungan Al-Mu'talif-Mukhtalif dan Al-Muttafiq-Muftariq

    Gabungan Mu’talif-Mukhtalif dan Muttafiq-Muftariq -nama identik bunyi tapi nasab ayah berbeda, plus Al-Musytabih Al-Maqlub (mirip tapi terbalik).

  57. 57 Naw' 56: Rawi yang Mirip Nama dan Nasabnya

    Jembatan konseptual naw’ 53-55 -ketika nama DAN nasab sama-sama mirip, verifikasi harus kembali ke konteks sanad penuh.

  58. 58 Naw' 57: Rawi yang Dinisbatkan Bukan kepada Ayahnya

    Rawi dinisbatkan bukan ke ayah -ke ibu, nenek, kakek, atau (kasus Al-Miqdad) ayah angkat sebelum larangan tabanni turun.

  59. 59 Naw' 58: Nasab yang Zahirnya Berbeda dari Batinnya

    Nisbat yang menyesatkan -"Al-Hadzdza’" bukan profesi Khalid sendiri, tapi karena sering duduk di majelis tukang sepatu.

  60. 60 Naw' 59: Al-Mubhamat

    Rawi disebut hanya lewat relasi kekerabatan tanpa nama ("pamannya", "istrinya") -perlu ditelusuri lewat riwayat paralel.

  61. 61 Naw' 60: Tarikh (Tahun Wafat/Lahir) Para Rawi

    Ilmu Tarikh lahir untuk membongkar pendusta hadits lewat perhitungan kronologis -contoh: 4 Khalifah sama-sama wafat usia 63 tahun.

  62. 62 Naw' 61: Rawi yang Tsiqah dan yang Dha'if

    Al-Jarh wat-Ta’dil -perkataan terkenal Yahya bin Ma’in soal kenapa mengkritik rawi tetap wajib meski berisiko dimusuhi.

  63. 63 Naw' 62: Rawi yang Ikhtilath di Akhir Usianya

    Ikhtilath tidak membatalkan status tsiqah -hanya riwayat SETELAH masa ikhtilath yang gugur, bukan seluruh riwayatnya.

  64. 64 Naw' 63: Thabaqat Rawi dan Ulama

    Thabaqat rawi diukur dari usia dan masa mengambil ilmu -penilaian jujur Al-’Iraqi atas jasa dan kekeliruan Ibnu Sa’d.

  65. 65 Naw' 64: Al-Mawali dari Kalangan Rawi dan Ulama

    Tiga jenis nisbat "maula" -pembebasan budak, perjanjian persekutuan (At-Taimi), atau kesamaan agama (Al-Ju’fi/Al-Bukhari).

  66. 66 Naw' 65: Tempat Tinggal dan Negeri Asal Para Rawi

    Naw’ penutup: nisbat geografis berlapis (desa-kota-wilayah), dan aturan urutan kalau rawi tinggal di lebih dari satu negeri.

Belajar langsung bersama pengajar bersanad di jalur Musthalah Hadits →

Peta sanad kitab ini belum tercatat. Tambahkan jalur sanad lewat halaman admin.