Naw' kedua belas membahas At-Tadlis -salah satu istilah paling penting dalam ilmu Musthalah Hadits, karena menyangkut soal kejujuran seorang rawi dalam menyampaikan riwayatnya, bukan sekadar soal kekuatan hafalannya. Tema inilah yang jadi salah satu pilar utama kenapa ilmu sanad secara keseluruhan begitu ketat menjaga kejelasan siapa-belajar-dari-siapa -dan kenapa transparansi jalur periwayatan begitu ditekankan dalam tradisi ilmu hadits.
Tadlis al-Isnad: Menggugurkan Guru, Mengesankan Bersambung
«تَدْلِيسُ الْإِسْنَادِ»: كَمَنْ يُسْقِطُ مَنْ * حَدَّثَهُ وَيَرْتَقِي بِـ«عَنْ» وَ«أَنَّ»
وَ«قَالَ»؛ يُوهِمُ اتِّصَالاً
"Tadlis al-Isnad adalah: seperti seorang (rawi) yang menggugurkan (dari penyebutan sanadnya) orang yang benar-benar meriwayatkan hadits kepadanya, lalu ia 'naik' langsung ke gurunya yang di atas dengan memakai lafal 'an (dari), 'anna (bahwa), atau 'qala' (dia berkata) -yang mengesankan seolah-olah sanadnya bersambung langsung." Ini bentuk tadlis paling klasik: seorang rawi pernah mendengar sebagian hadits dari gurunya lewat perantara orang lain (bukan langsung), tapi ketika meriwayatkan, ia sengaja memilih redaksi yang membuat pendengarnya mengira ia mendengar LANGSUNG dari sang guru -padahal tidak.
Diperselisihkan: Ditolak Mutlak, atau Diterima Sebagiannya?
Al-'Iraqi mencatat perselisihan ulama soal bagaimana menyikapi riwayat seorang mudallis (pelaku tadlis).
وَاخْتُلِفْ فِي أَهْلِهِ: فَالرَّدُّ مُطْلَقاً حَفِظ
وَالْأَكْثَرُونَ قَبِلُوا مَا صَرَّحَا * بِوَصْلِهِمْ فِيهَا تُقَاتِهِ وَصَحَّحَا
"Diperselisihkan tentang (riwayat) pelakunya: (sebagian ulama berpendapat riwayatnya) ditolak secara mutlak. Sedangkan mayoritas menerima apa yang secara jelas dinyatakan bersambung olehnya, pada riwayat-riwayat lain yang jelas ketsiqahannya dan (kebersambungannya) sahih." Jadi pendapat mayoritas bukan menolak SEMUA riwayat seorang mudallis secara membabi buta, tapi memilah: riwayat yang ia sampaikan dengan lafal SAMA' yang tegas (seperti "aku mendengar" atau "telah menceritakan kepadaku") tetap diterima, sedangkan riwayat yang ia sampaikan dengan lafal 'an/'anna yang ambigu -dari seorang yang DIKETAHUI biasa melakukan tadlis- perlu diperlakukan lebih hati-hati.
Kenapa Al-A'masy dan Mudallis Lain Tetap Ada di Shahihain
وَفِي الصَّحِيحِ عِدَّةٌ كَالْأَعْمَشِ
"Dan di dalam Shahih (al-Bukhari/Muslim) ada beberapa (rawi yang dikenal melakukan tadlis), seperti Al-A'masy." Ini menjelaskan sebuah pertanyaan yang sering muncul: kalau tadlis itu masalah serius, kenapa nama-nama seperti Al-A'masy (salah satu rawi besar) tetap dipakai di Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim? Jawabannya sejalan dengan poin sebelumnya -Bukhari dan Muslim hanya memakai riwayat Al-A'masy yang lafal periwayatannya jelas (sama' yang tegas), atau riwayat yang sudah dikonfirmasi bersambung lewat jalur lain, bukan sembarang riwayat 'an'anah-nya.
Jenis Kedua: Tadlis asy-Syuyukh
Al-'Iraqi lalu menjelaskan jenis tadlis kedua yang berbeda mekanismenya -bukan soal menggugurkan rawi, tapi soal MENYAMARKAN identitas guru yang sebenarnya.
دُونَهُ «التَّدْلِيسُ لِلشُّيُوخِ» * أَنْ يَصِفَ الشَّيْخَ بِمَا لَا يُعْرَفُ بِهِ
"Di bawahnya (tingkat keburukannya) ada 'Tadlis asy-Syuyukh' -yaitu menyifati sang guru dengan sebutan yang tidak dikenal dengannya." Misalnya, seorang rawi meriwayatkan dari gurunya, tapi menyebut nama gurunya dengan gelar/nama alias yang tidak umum dipakai untuk mengidentifikasi orang itu -sehingga pembaca kesulitan melacak siapa sebenarnya guru yang dimaksud. Al-'Iraqi menjelaskan tujuan pelakunya bisa berbeda-beda: ada yang melakukannya untuk menyembunyikan kelemahan sang guru (sengaja bikin susah dilacak karena gurunya dha'if), dan ada yang melakukannya justru untuk mengesankan banyaknya guru yang ia miliki (supaya terlihat lebih berilmu/luas sanadnya).
Jenis Ketiga: At-Taswiyah -Menurut Al-'Iraqi, Paling Buruk
قُلْتُ: وَشَرُّهَا أَخُو «التَّسْوِيَةِ»
"Aku (Al-'Iraqi) berkata: dan yang paling buruk (dari jenis-jenis tadlis) adalah saudaranya, yaitu 'At-Taswiyah'." At-Taswiyah adalah bentuk tadlis paling berbahaya -menggugurkan seorang rawi DHA'IF yang berada DI TENGAH sanad (bukan cuma di dekat dirinya sendiri), sehingga seluruh sanad tampak terdiri dari rawi-rawi tsiqah semua, padahal aslinya ada mata rantai lemah yang sengaja disembunyikan. Karena dampaknya membuat sebuah sanad yang sebenarnya cacat justru tampak sempurna, jenis inilah yang paling ditakuti para kritikus hadits.
Catatan & Referensi
Bait naw' 12 (bait ke-153 s/d ke-160) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "At-Tadlis". Celaan Imam Syu'bah bin Al-Hajjaj terhadap tadlis ("at-tadlisu akhul-kadzib" - tadlis adalah saudaranya dusta) yang jadi rujukan populer di banyak artikel ilmu hadits juga relevan disandingkan dengan naw' ini, meski redaksi lengkapnya tidak dikutip ulang secara verbatim di bab ini.
↩