Naw' keempat puluh membahas Ma'rifat At-Tabi'in -generasi setelah para Sahabat, yang jadi mata rantai kedua dalam kebanyakan sanad hadits.
Definisi: Bertemu dengan Sahabat
وَ«التَّابِعُ»: اللَّاقِي لِمَنْ قَدْ صَحِبَا
"Dan At-Tabi'i adalah: orang yang bertemu dengan orang yang pernah bersahabat (dengan Nabi)." Definisi ini paralel dengan definisi Sahabat di naw' sebelumnya -kalau Sahabat didefinisikan lewat pertemuan dengan Nabi, Tabi'in didefinisikan lewat pertemuan dengan seorang Sahabat (tanpa pernah bertemu Nabi sendiri).
Tingkatan Tertinggi: Perawi dari Sepuluh Sahabat yang Dijamin Surga
أَوَّلُهُمْ: رُوَاةُ كُلِّ الْعَشَرَةْ
"Yang pertama (tingkatan tertinggi) di antara mereka: para perawi dari SELURUH sepuluh (Sahabat)." Ini merujuk Al-'Asyarah Al-Mubasysyarah bil-Jannah -sepuluh Sahabat yang secara eksplisit dikabarkan Nabi akan masuk surga (Abu Bakr, 'Umar, 'Utsman, 'Ali, Thalhah, Az-Zubair, Sa'd bin Abi Waqqash, Sa'id bin Zaid, 'Abdurrahman bin 'Auf, dan Abu 'Ubaidah bin Al-Jarrah). Tabi'in yang berhasil meriwayatkan hadits dari SEMUA sepuluh nama besar itu sekaligus menempati tingkatan (thabaqah) tertinggi dalam klasifikasi Tabi'in -sebuah pencapaian langka yang menunjukkan luasnya jaringan periwayatan seorang Tabi'in tersebut.
Lima Belas Tingkatan Tabi'in
وَهُمْ طِبَاقٌ؛ قِيلَ: خَمْسَ عَشِرَةْ
"Dan mereka (Tabi'in) punya thabaqat (tingkatan-tingkatan); dikatakan: ada lima belas (tingkatan)." Ulama hadits memetakan generasi Tabi'in ke dalam sistem thabaqat (lapisan/generasi) yang sangat rinci -bukan sekadar "generasi kedua" secara umum, tapi dipecah sampai 15 tingkatan berbeda, berdasarkan kriteria seperti: seberapa banyak dan seberapa senior Sahabat yang mereka temui, kapan mereka lahir relatif terhadap wafatnya Nabi, dan seberapa lama masa tumpang tindih (overlap) mereka dengan generasi Sahabat.
Sistem thabaqat yang sangat granular ini -baik untuk Sahabat maupun Tabi'in- akan dibahas lebih dalam sebagai konsep umum di naw' 63 (Thabaqat Rawi dan Ulama). Ketelitian memetakan generasi demi generasi inilah yang jadi fondasi kenapa ilmu sanad bisa memverifikasi apakah dua rawi yang namanya muncul berurutan dalam sebuah sanad benar-benar SEZAMAN dan MUNGKIN bertemu -bukan sekadar asumsi berdasarkan nama.
Catatan & Referensi
Bait naw' 40 (bait ke-817 s/d ke-818) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Ma'rifat At-Tabi'in". Bait-bait lanjutan naw' ini merinci nama-nama tokoh representatif tiap tingkatan (termasuk perdebatan status beberapa tokoh perbatasan Sahabat/Tabi'in seperti Khalaf dan Qais), yang belum ditranskripsi lengkap pada pembaruan bab ini.
↩