Naw' kedua puluh delapan membahas Adab Thalib al-Hadits -etika seorang penuntut ilmu hadits, melengkapi naw' sebelumnya yang membahas etika dari sisi guru.
Ikhlaskan Niat, Bersungguh-Sungguh
وَأَخْلِصِ النِّيَّةَ فِي طَلَبِكَا * وَجِدَّ
"Dan ikhlaskanlah niat dalam menuntutmu (ilmu), dan bersungguh-sungguhlah." Sama seperti naw' sebelumnya menekankan niat bagi guru, di sini pun niat jadi hal pertama yang ditekankan bagi murid -menuntut ilmu hadits bukan untuk gengsi atau validasi sosial, tapi murni karena Allah.
Mulai dari Guru Terdekat, Baru Rihlah Jauh
وَابْدَأْ بِعَوَالِي مِصْرِكَا * وَمَا يُهِمُّ ثُمَّ شُدَّ الرَّحْلَا
"Dan mulailah dari (guru-guru dengan) sanad-sanad 'ali (tinggi/pendek jalurnya) di kotamu sendiri, dan apa yang (paling) penting -kemudian (barulah) kencangkan pelana (bersiap melakukan rihlah, perjalanan jauh)." Urutan ini penting secara praktis: seorang penuntut ilmu disarankan menuntaskan dulu apa yang bisa dipelajari dari guru-guru terdekat di kotanya sendiri, sebelum memutuskan melakukan rihlah (perjalanan jauh mencari sanad/guru lain) -bukan melompat jauh dulu sementara sumber ilmu di dekatnya sendiri belum dimanfaatkan maksimal.
Mengamalkan, Bukan Sekadar Mengumpulkan
وَاعْمَلْ بِمَا تَسْمَعُ فِي الْفَضَائِلِ
"Dan amalkanlah apa yang kau dengar tentang keutamaan-keutamaan (ilmu/amal)." Prinsip ini menegaskan bahwa tujuan akhir menuntut ilmu hadits bukan cuma pengumpulan pengetahuan, tapi pengamalan nyata -sejalan dengan semangat yang sama yang mendasari kehati-hatian ekstra terhadap Al-Maudhu' (hadits palsu, naw' 21): karena isi hadits akan diamalkan, bukan cuma dihafal, keakuratannya jadi jauh lebih krusial.
Selektif dalam Mencatat, Bukan Asal Kumpul
Bagian menarik lain dari naw' ini adalah perdebatan soal pendekatan mencatat hadits -apakah sebaiknya mengumpulkan sebanyak mungkin tanpa seleksi, atau memilih dengan cermat.
وَمَنْ يَقُلْ: «إِذَا كَتَبْتَ قَمَّشِ» * سَمَاعَهُ لَا تَنْتَخِبْهُ تَنْدَمِ
لِعَارِفٍ أَجَادَ فِي انْتِخَابِهِ * أَوْ قَصُرَ اسْتَعَانَ ذَا حِفْظٍ
"Dan orang yang berkata: 'kalau kamu menulis, kumpulkan saja (semuanya)' -pendengarannya, kalau tidak kamu seleksi, kamu akan menyesal. (Anjuran mengumpulkan tanpa seleksi itu hanya cocok) bagi yang ahli dan pandai dalam menyeleksinya (sendiri secara mental, meski tidak semua ditulis), atau bagi yang (hafalannya) kurang (sehingga) memerlukan bantuan (catatan tertulis yang lebih lengkap)." Al-'Iraqi menunjukkan nuansa penting di sini: nasihat "catat semuanya" bukan berlaku sama untuk semua orang -seorang penuntut ilmu yang sudah mahir menyeleksi secara mental TIDAK perlu menulis segalanya secara fisik, sedangkan yang hafalannya masih lemah justru dianjurkan mencatat lebih banyak sebagai jaring pengaman, karena mengandalkan ingatan semata berisiko.
Membaca Kitab Ilmu Hadits, Bukan Cuma Mengumpulkan Matan
وَاقْرَأْ كِتَاباً فِي عُلُومِ الْأَثَرِ
"Dan bacalah sebuah kitab dalam ilmu-ilmu hadits ('Ulum al-Atsar)." Al-'Iraqi mendorong penuntut ilmu hadits untuk tidak berhenti pada pengumpulan matan (teks-teks hadits) semata, tapi juga mempelajari ILMU tentang hadits itu sendiri -Musthalah Hadits, sebagaimana yang sedang dibahas kitab ini sendiri- supaya bisa menilai sendiri kualitas sebuah riwayat, bukan sekadar menghafal tanpa memahami metodologi di baliknya. Ini kenapa Alfiyah al-'Iraqi sendiri, sebagai matan Musthalah Hadits, jadi salah satu bacaan yang dianjurkan Al-'Iraqi bagi siapa pun yang serius menuntut ilmu ini.
Catatan & Referensi
Bait naw' 28 (bait ke-713 s/d ke-725, dari total naw' yang lebih panjang) ditranskripsi dari edisi tahqiq At-Tabshirah wat-Tadzkirah (Alfiyah al-'Iraqi), seri Mutun Thalib al-'Ilm, bagian "Adab Thalib al-Hadits".
↩