-
1 Muqaddimah
Mukadimah lengkap Ibnu Shalah: keprihatinannya atas kemunduran ilmu hadits di zamannya, tujuan penulisan kitab, dan fahrasah lengkap 65 anwa' yang jadi kerangka seluruh kitab.
-
2 Hadits Shahih
Anwa' 1: definisi hadits shahih menurut Ibnu Shalah - sanad bersambung, diriwayatkan perawi adil dan dhabit, tidak syadz, tidak ber-'illat - dan mengapa rumusan ini menjadi baku bagi seluruh ulama musthalah sesudahnya. Kutipan aslinya dipakai langsung di pillar.
-
3 Hadits Hasan
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits hasan - salah satu rumusan paling awal yang membedakannya dari shahih semata soal tingkat dhabt rawi.
-
4 Hadits Dha'if
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits dha'if - definisi dasar dan sebab-sebab penolakannya yang jadi kerangka rujukan bagi hampir semua rincian jenis dha'if di anwa' sesudahnya.
-
5 Hadits Musnad
Anwa' 4: hadits musnad - sanadnya tersambung sampai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam - dan bedanya dengan istilah 'kitab Musnad' yang jadi nama genre kitab hadits.
-
6 Hadits Muttashil
Anwa' 5: hadits muttashil - sanad bersambung tanpa terputus - baik berhenti pada Nabi (marfu') maupun pada sahabat (mauquf).
-
7 Hadits Marfu'
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits marfu' - salah satu rumusan paling awal yang memisahkan riwayat dari Nabi dengan riwayat dari sahabat atau tabi'in.
-
8 Hadits Mauquf
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits mauquf, termasuk kapan pendapat sahabat bisa dianggap punya hukum marfu'.
-
9 Hadits Maqthu'
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits maqthu', ditutup catatan bedanya dari istilah munqathi' yang mirip pengucapan tapi beda makna sama sekali.
-
10 Hadits Mursal
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits mursal - rumusan yang membatasi istilah ini khusus bagi tabi'in yang menyandarkan langsung ke Nabi.
-
11 Hadits Munqathi'
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits munqathi'.
-
12 Hadits Mu'dhal
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits mu'dhal - keterputusan dua rawi atau lebih secara berturut-turut.
-
13 Tadlis dan Hukum Mudallis
Anwa' Ibnu Shalah tentang tadlis dan hukum periwayatan dari perawi mudallis - rumusan asal yang jadi rujukan hampir semua kitab musthalah sesudahnya, termasuk definisi tadlis isnad yang dipakai Ibnu Hajar sendiri dalam Nuzhatun Nazhar.
-
14 Hadits Syadz
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits syadz - rumusan yang membedakannya dari sekadar riwayat tunggal (gharib) berdasarkan ada-tidaknya penyelisihan.
-
15 Hadits Munkar
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits munkar.
-
16 I'tibar, Mutaba'ah, dan Syawahid
Anwa' Ibnu Shalah tentang i'tibar, mutaba'ah, dan syawahid.
-
17 Ziyadatuts Tsiqat
Anwa' 16: kapan tambahan lafal atau sanad dari seorang perawi tsiqah diterima, dan kapan ditolak karena menyelisihi riwayat mayoritas.
-
18 Al-Afrad
Anwa' Ibnu Shalah tentang al-afrad - riwayat yang berdiri sendiri tanpa penguat dari jalur mana pun.
-
19 Hadits Mu'allal
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits mu'allal - salah satu anwa' yang beliau akui sendiri paling sulit dan cuma dikuasai segelintir ahli hadits di masanya.
-
20 Hadits Mudhtarib
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits mudhtarib - beberapa versi periwayatan yang sama-sama kuat tapi saling bertentangan tanpa bisa didamaikan.
-
21 Hadits Mudraj
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits mudraj - sisipan yang tidak dipisahkan dari redaksi asli.
-
22 Hadits Maudhu'
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits maudhu' - salah satu rumusan paling awal soal tanda-tanda pemalsuan hadits.
-
23 Hadits Maqlub
Anwa' Ibnu Shalah tentang hadits maqlub - pembalikan unsur sanad atau matan.
-
24 Syuruth Qabul ar-Riwayah
Anwa' 23: dua syarat inti agar riwayat seorang rawi diterima - 'adalah (integritas moral) dan dhabt (akurasi hafalan/catatan) - beserta cara ulama menetapkannya (jarh wa ta'dil).
-
25 At-Tahammul
Anwa' Ibnu Shalah tentang cara-cara tahammul (penerimaan riwayat) - rumusan pertama yang menyusun kedelapan metode klasik secara sistematis dan jadi rujukan seluruh kitab musthalah sesudahnya.
-
26 Kitabatul Hadits
Anwa' 25: adab dan teknik kitabatul hadits (penulisan hadits) - ketelitian titik, harakat, dan pembetulan naskah - agar riwayat tersalin persis seperti aslinya.
-
27 Ada'ul Hadits
Anwa' 26: syarat dan tata cara ada' (menyampaikan) riwayat kepada orang lain, termasuk lafal-lafal periwayatan (haddatsana, akhbarana, 'an, dst.) dan tingkat kekuatannya.
-
28 Adabul Muhaddits
Anwa' Ibnu Shalah tentang adabul muhaddits.
-
29 Adabu Thalibil Hadits
Anwa' Ibnu Shalah tentang adab penuntut ilmu hadits.
-
30 Al-Isnad Al-'Ali wan-Nazil
Anwa' 29: isnad 'ali (jumlah perawi lebih sedikit sampai Nabi) dan isnad nazil (lebih banyak) - kenapa isnad 'ali lebih diutamakan para muhaddits.
-
31 Al-Masyhur
Anwa' 30: hadits masyhur - diriwayatkan tiga jalur atau lebih di setiap thabaqah sanad, tapi belum tentu mencapai derajat mutawatir.
-
32 Al-Gharib wal-'Aziz
Anwa' Ibnu Shalah tentang gharib dan 'aziz - dua dari tiga tingkatan khabar ahad berdasarkan jumlah jalur periwayatan di tiap generasi.
-
33 Gharib al-Hadits
Anwa' 32: bukan klasifikasi sanad, tapi ilmu gharib al-hadits - memahami lafazh (kata) asing/jarang dipakai dalam matan hadits.
-
34 Al-Musalsal
Anwa' 33: hadits musalsal - setiap perawi dalam sanad sepakat pada satu sifat atau cara periwayatan yang sama, lengkap dengan contoh-contoh klasiknya.
-
35 An-Nasikh wal-Mansukh
Anwa' Ibnu Shalah tentang nasikh dan mansukh dalam hadits.
-
36 At-Tashif wat-Tahrif
Anwa' Ibnu Shalah tentang tashif dan tahrif - kesalahan baca akibat titik huruf atau harakat yang keliru.
-
37 Mukhtalaf al-Hadits
Anwa' Ibnu Shalah tentang mukhtalaf al-hadits - cara menyelesaikan dua hadits shahih yang tampak bertentangan.
-
38 Al-Mazid fi Muttashil al-Asanid
Anwa' 37: satu jalur meriwayatkan sanad yang lebih pendek sementara jalur lain menyisipkan satu perawi tambahan pada sanad yang sama.
-
39 Al-Marasil Al-Khafiyyah
Anwa' 38: perawi meriwayatkan dengan lafal yang menyiratkan pertemuan langsung padahal sezaman tapi tidak pernah bertemu/mendengar langsung - ini persis definisi mursal khafi, dibahas lengkap di pillar Tadlis (bukan di pillar Sanad Terputus, karena keterputusannya tersembunyi/khafi, bukan zhahir).
-
40 Ash-Shahabah
Anwa' 39: definisi shahabi menurut ahli hadits, dan cara-cara menetapkan status kesahabatan seseorang.
-
41 At-Tabi'in
Anwa' Ibnu Shalah tentang cara mengenali tabi'in.
-
42 Riwayat al-Akabir 'anil-Ashaghir
Anwa' 41: kasus-kasus seorang guru/senior (akabir) justru meriwayatkan hadits dari muridnya sendiri yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya (ashaghir).
-
43 Al-Mudabbaj
Anwa' Ibnu Shalah tentang al-mudabbaj.
-
44 Al-Ikhwah wal-Akhawat
Anwa' 43: pasangan-pasangan perawi hadits yang berstatus ikhwah (bersaudara), yang penting diketahui agar tidak tertukar identitasnya.
-
45 Riwayat al-Aba' 'anil-Abna'
Anwa' 44: kasus-kasus seorang ayah (ab) meriwayatkan hadits dari anaknya sendiri (ibn) - kebalikan dari pola periwayatan yang lebih umum.
-
46 Riwayat al-Abna' 'anil-Aba'
Anwa' 45: pola periwayatan ibn (anak) dari ab-nya (ayahnya), termasuk rantai keluarga beberapa generasi yang seluruhnya periwayat hadits.
-
47 Man Rawa 'anhu Itsnan
Anwa' 46: seorang guru hadits yang hanya dua muridnya saja diketahui pernah meriwayatkan darinya.
-
48 Man Lam Yarwi 'anhu Illa Wahid
Anwa' 47: seorang guru hadits yang hanya satu murid saja diketahui pernah meriwayatkan darinya - lebih sempit lagi dari anwa' sebelumnya.
-
49 Man Dzukira bi-Asma' Mukhtalifah
Anwa' 48: satu orang perawi yang dikenal dengan lebih dari satu nama, nasab, atau sebutan - potensi kekeliruan menganggapnya dua orang berbeda.
-
50 Al-Mufradat
Anwa' 49: nama-nama yang hanya dimiliki oleh satu orang perawi saja di seluruh jajaran rawi hadits, sehingga tidak mungkin tertukar.
-
51 Al-Asma' wal-Kuna
Anwa' 50: perawi yang dikenal dengan ism (nama) sekaligus kunyah ("Abu/Ummu ...") yang berbeda dari namanya sendiri.
-
52 Kuna Man 'Urifa bil-Ism
Anwa' 51: perawi yang lebih dikenal lewat ism (namanya), namun ternyata juga memiliki kunyah yang jarang dipakai.
-
53 Alqabul Muhadditsin
Anwa' 52: laqab (julukan) yang melekat pada sejumlah ahli hadits, dan pentingnya mengenali laqab agar tidak salah mengidentifikasi orangnya.
-
54 Al-Mu'talif wal-Mukhtalif
Anwa' Ibnu Shalah tentang al-mu'talif wal-mukhtalif.
-
55 Al-Muttafiq wal-Muftariq
Anwa' 54: nama dan nasab yang persis sama tulisan maupun bacaannya, tapi merujuk pada orang yang benar-benar berbeda.
-
56 Gabungan Mu'talif-Mukhtalif dan Muttafiq-Muftariq
Anwa' 55: kasus yang menggabungkan dua kerumitan sekaligus - nama mirip tulisan beda ucapan, sekaligus merujuk pada beberapa orang berbeda. Ibnu Shalah sendiri tidak memberi nama tersendiri untuk anwa' ini - hanya menyebutnya "gabungan dari dua anwa' sebelumnya".
-
57 Al-Mutasyabih
Anwa' 56: perawi yang namanya serupa tapi berbeda urutan penyebutan nasabnya - potensi tertukar jika tidak cermat.
-
58 Al-Mansub ila Ghairi Abihi
Anwa' 57: perawi yang nasabnya justru disandarkan kepada ibu, kakek, atau pihak lain, bukan kepada ayah kandungnya.
-
59 An-Nasab Alladzi Yukhalifu Zhahiruhu Ma'nahu
Anwa' 58: laqab/nasab yang terkesan bermakna tertentu secara zahir, padahal alasan sebenarnya berbeda sama sekali.
-
60 Al-Mubhamat
Anwa' Ibnu Shalah tentang perawi mubham dan cara ulama menelusuri identitasnya lewat jalur riwayat lain.
-
61 Tawarikh ar-Ruwah
Anwa' 60: pentingnya mencatat tarikh wiladah/wafat (tahun lahir/wafat) perawi untuk memastikan dua perawi benar-benar sezaman dan mungkin bertemu.
-
62 Ats-Tsiqat wadh-Dhu'afa'
Anwa' 61: ilmu jarh wa ta'dil - kitab-kitab dan metode ulama menilai kredibilitas (tsiqah) atau kelemahan (dha'if) seorang perawi.
-
63 Al-Ikhtilath
Anwa' 62: perawi tsiqah yang hafalannya ikhtilath (kacau) di masa tuanya - dampaknya pada status riwayat yang ia sampaikan sebelum dan sesudah ikhtilath.
-
64 Thabaqatur Ruwah
Anwa' 63: thabaqat (tingkatan/generasi) perawi dan ulama, dikelompokkan berdasarkan angkatan sezaman - alat bantu penting untuk mendeteksi sanad yang terputus atau tertukar.
-
65 Al-Mawali
Anwa' 64: kontribusi besar para ulama hadits dari kalangan mawali (bekas budak/non-Arab) dalam pelestarian ilmu hadits.
-
66 Authanur Ruwah
Anwa' 65 (penutup): pentingnya mengetahui authan (kampung halaman/negeri asal) seorang perawi untuk membantu identifikasi dan penelusuran biografinya.