Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 16: I'tibar, Mutaba'ah, dan Syawahid
16 Agustus 2026 · 6 menit baca
هَذِهِ أُمُورٌ يَتَدَاوَلُونَهَا فِي نَظَرِهِمْ فِي حَالِ الْحَدِيثِ، هَلْ تَفَرَّدَ بِهِ رَاوِيهِ أَوْ لَا؟ وَهَلْ هُوَ مَعْرُوفٌ أَوْ لَا؟
"Ini adalah istilah-istilah yang biasa dipakai para ulama hadits dalam meneliti keadaan sebuah hadits: apakah perawinya menyendiri dalam meriwayatkannya atau tidak, dan apakah hadits itu ma'ruf (dikenal) atau tidak."
ذَكَرَ أَبُو حَاتِمٍ مُحَمَّدُ بْنُ حِبَّانَ التَّمِيمِيُّ الْحَافِظُ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّ طَرِيقَ الِاعْتِبَارِ فِي الْأَخْبَارِ مِثَالُهُ: أَنْ يَرْوِيَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدِيثًا لَمْ يُتَابَعْ عَلَيْهِ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنِ ابْنِ سِيرِينَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
"Abu Hatim Muhammad bin Hibban at-Tamimi al-Hafizh rahimahullah menyebutkan bahwa contoh cara i'tibar dalam meneliti kabar-kabar hadits adalah: apabila Hammad bin Salamah meriwayatkan sebuah hadits yang tidak ada mutaba'ahnya (tidak diikuti perawi lain), dari Ayyub, dari Ibnu Sirin, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
فَيُنْظَرُ: هَلْ رَوَى ذَلِكَ ثِقَةٌ غَيْرُ أَيُّوبَ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ؟ فَإِنْ وُجِدَ عُلِمَ أَنَّ لِلْخَبَرِ أَصْلًا يُرْجَعُ إِلَيْهِ، وَإِنْ لَمْ يُوجَدْ ذَلِكَ فَثِقَةٌ غَيْرُ ابْنِ سِيرِينَ رَوَاهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَإِلَّا فَصَحَابِيٌّ غَيْرُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَوَاهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَيُّ ذَلِكَ وُجِدَ يُعْلَمُ بِهِ أَنَّ لِلْحَدِيثِ أَصْلًا يُرْجَعُ إِلَيْهِ، وَإِلَّا فَلَا.
"Maka diteliti: apakah ada perawi tsiqah selain Ayyub yang meriwayatkannya dari Ibnu Sirin? Jika ditemukan, diketahuilah bahwa kabar itu memiliki asal yang bisa dirujuk. Jika tidak ditemukan, dicari apakah ada perawi tsiqah selain Ibnu Sirin yang meriwayatkannya dari Abu Hurairah. Jika tidak ada juga, dicari apakah ada sahabat selain Abu Hurairah yang meriwayatkannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Jika salah satu dari itu ditemukan, diketahuilah bahwa hadits tersebut memiliki asal yang bisa dirujuk; jika tidak, maka tidak."
قُلْتُ: فَمِثَالُ الْمُتَابَعَةِ أَنْ يَرْوِيَ ذَلِكَ الْحَدِيثَ بِعَيْنِهِ عَنْ أَيُّوبَ غَيْرُ حَمَّادٍ، فَهَذِهِ الْمُتَابَعَةُ التَّامَّةُ، فَإِنْ لَمْ يَرْوِهِ أَحَدٌ غَيْرُهُ عَنْ أَيُّوبَ لَكِنْ رَوَاهُ بَعْضُهُمْ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ أَوْ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَوْ رَوَاهُ غَيْرُ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَلِكَ قَدْ يُطْلَقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْمُتَابَعَةِ أَيْضًا، لَكِنْ تَقْصُرُ عَنِ الْمُتَابَعَةِ الْأُولَى بِحَسَبِ بُعْدِهَا مِنْهَا، وَيَجُوزُ أَنْ يُسَمَّى ذَلِكَ بِالشَّاهِدِ أَيْضًا.
"Aku (Ibnu Shalah) katakan: contoh mutaba'ah adalah apabila hadits yang sama persis itu diriwayatkan dari Ayyub oleh perawi selain Hammad - inilah mutaba'ah tammah (dukungan penuh). Jika tidak ada seorang pun selain Hammad yang meriwayatkannya dari Ayyub, namun sebagian perawi meriwayatkannya dari Ibnu Sirin atau dari Abu Hurairah, atau ada sahabat selain Abu Hurairah yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka hal itu terkadang juga disebut mutaba'ah, hanya saja tingkatnya di bawah mutaba'ah yang pertama sesuai jauhnya titik pertemuan tersebut. Dan boleh pula disebut dengan istilah syahid."
فَإِنْ لَمْ يُرْوَ ذَلِكَ الْحَدِيثُ أَصْلًا مِنْ وَجْهٍ مِنَ الْوُجُوهِ الْمَذْكُورَةِ، لَكِنْ رُوِيَ حَدِيثٌ آخَرُ بِمَعْنَاهُ فَذَلِكَ الشَّاهِدُ مِنْ غَيْرِ مُتَابَعَةٍ.
"Jika hadits tersebut sama sekali tidak diriwayatkan melalui jalur-jalur yang disebutkan di atas, namun diriwayatkan hadits lain yang semakna dengannya, maka itulah syahid tanpa mutaba'ah."
فَإِنْ لَمْ يُرْوَ أَيْضًا بِمَعْنَاهُ حَدِيثٌ آخَرُ فَقَدْ تَحَقَّقَ فِيهِ التَّفَرُّدُ الْمُطْلَقُ حِينَئِذٍ، وَيَنْقَسِمُ عِنْدَ ذَلِكَ إِلَى مَرْدُودٍ مُنْكَرٍ وَغَيْرِ مَرْدُودٍ، كَمَا سَبَقَ.
"Jika juga tidak diriwayatkan hadits lain yang semakna dengannya, maka telah terealisasi padanya kesendirian mutlak (tafarrud muthlaq), dan ketika itu ia terbagi menjadi tertolak (munkar) dan tidak tertolak, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya."
وَإِذَا قَالُوا فِي مِثْلِ هَذَا: " تَفَرَّدَ بِهِ أَبُو هُرَيْرَةَ، وَتَفَرَّدَ بِهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ابْنُ سِيرِينَ، وَتَفَرَّدَ بِهِ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ أَيُّوبُ، وَتَفَرَّدَ بِهِ عَنْ أَيُّوبَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ "، كَانَ فِي ذَلِكَ إِشْعَارٌ بِانْتِفَاءِ وُجُوهِ الْمُتَابَعَاتِ فِيهِ.
"Apabila para ulama mengatakan tentang kasus semacam ini: 'Abu Hurairah menyendiri dalam meriwayatkannya, Ibnu Sirin menyendiri dalam meriwayatkannya dari Abu Hurairah, Ayyub menyendiri dalam meriwayatkannya dari Ibnu Sirin, dan Hammad bin Salamah menyendiri dalam meriwayatkannya dari Ayyub' - maka pernyataan itu mengisyaratkan tidak adanya seluruh bentuk mutaba'ah pada hadits tersebut."
ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ يَدْخُلُ فِي بَابِ الْمُتَابَعَةِ وَالِاسْتِشْهَادِ رِوَايَةُ مَنْ لَا يُحْتَجُّ بِحَدِيثِهِ وَحْدَهُ، بَلْ يَكُونُ مَعْدُودًا فِي الضُّعَفَاءِ، وَفِي كِتَابَيِ الْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ جَمَاعَةٌ مِنَ الضُّعَفَاءِ ذِكْرَاهُمْ فِي الْمُتَابَعَاتِ وَالشَّوَاهِدِ، وَلَيْسَ كُلُّ ضَعِيفٍ يَصْلُحُ لِذَلِكَ، وَلِهَذَا يَقُولُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَغَيْرُهُ فِي الضُّعَفَاءِ: " فُلَانٌ يُعْتَبَرُ بِهِ وَفُلَانٌ لَا يُعْتَبَرُ بِهِ " وَقَدْ تَقَدَّمَ التَّنْبِيهُ عَلَى نَحْوِ ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kemudian ketahuilah bahwa riwayat dari perawi yang haditsnya sendirian tidak bisa dijadikan hujjah - bahkan termasuk golongan perawi dha'if - terkadang bisa masuk dalam bab mutaba'ah dan istisyhad (mencari syawahid). Dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat sejumlah perawi dha'if yang disebutkan dalam konteks mutaba'ah dan syawahid, namun tidak semua perawi dha'if layak untuk itu. Karena itulah ad-Daruquthni dan ulama lainnya berkata tentang para perawi dha'if: 'Fulan bisa dijadikan i'tibar, sedangkan fulan tidak bisa dijadikan i'tibar.' Peringatan serupa telah disebutkan sebelumnya. Wallahu a'lam."
مِثَالٌ لِلْمُتَابِعِ وَالشَّاهِدِ: رُوِّينَا مِنْ حَدِيثِ سُفْيَانَ بْنِ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَوْ أَخَذُوا إِهَابَهَا فَدَبَغُوهُ فَانْتَفَعُوا بِهِ " وَرَوَاهُ ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ عَطَاءٍ، وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ الدِّبَاغَ.
"Contoh mutabi' (pendukung sanad) dan syahid: kami meriwayatkan dari hadits Sufyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, dari Atha' bin Abi Rabah, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Mengapa mereka tidak mengambil kulit bangkai itu, lalu menyamaknya, sehingga mereka bisa memanfaatkannya?' Ibnu Juraij juga meriwayatkannya dari Amr, dari Atha', namun tidak menyebutkan kata 'menyamak' di dalamnya." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma)
فَذَكَرَ الْحَافِظُ أَحْمَدُ الْبَيْهَقِيُّ لِحَدِيثِ ابْنِ عُيَيْنَةَ مُتَابِعًا وَشَاهِدًا: أَمَّا الْمُتَابِعُ: فَإِنَّ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ تَابَعَهُ عَنْ عَطَاءٍ، وَرَوَى بِإِسْنَادِهِ عَنْ أُسَامَةَ، عَنْ عَطَاءٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " أَلَا نَزَعْتُمْ جِلْدَهَا فَدَبَغْتُمُوهُ، فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ ".
"Al-Hafizh Ahmad al-Baihaqi menyebutkan bagi hadits Ibnu Uyainah ini sebuah mutabi' dan syahid. Adapun mutabi'-nya: Usamah bin Zaid memutaba'ahnya dari Atha', dan al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari Usamah, dari Atha', dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Mengapa kalian tidak mencabut kulitnya lalu menyamaknya, sehingga kalian bisa memanfaatkannya?'"
وَأَمَّا الشَّاهِدُ: فَحَدِيثُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَعْلَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ فَقَدْ طَهُرَ ". وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun syahid-nya: hadits Abdurrahman bin Wa'lah, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Kulit bangkai apa pun yang telah disamak, maka ia menjadi suci.' Wallahu a'lam." (HR. Muslim, dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma)