Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 8: Hadits Mauquf

النَّوْعُ السَّابِعُ: مَعْرِفَةُ الْمَوْقُوفِ
"Anwa' ketujuh: mengenal al-mauquf (hadits yang dihentikan sandarannya pada Sahabat)."1

وَهُوَ مَا يُرْوَى عَنِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مِنْ أَقْوَالِهِمْ أَوْ أَفْعَالِهِمْ وَنَحْوِهَا، فَيُوقَفُ عَلَيْهِمْ، وَلَا يُتَجَاوَزُ بِهِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
"Al-Mauquf adalah apa yang diriwayatkan dari para Sahabat radhiyallahu 'anhum, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun semisalnya, lalu dihentikan (diwaqafkan) sandarannya pada mereka, dan tidak dilampaui sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
ثُمَّ إِنَّ مِنْهُ مَا يَتَّصِلُ الْإِسْنَادُ فِيهِ إِلَى الصَّحَابِيِّ، فَيَكُونُ مِنَ الْمَوْقُوفِ الْمَوْصُولِ. وَمِنْهُ مَا لَا يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ، فَيَكُونُ مِنَ الْمَوْقُوفِ غَيْرِ الْمَوْصُولِ، عَلَى حَسَبِ مَا عُرِفَ مِثْلُهُ فِي الْمَرْفُوعِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kemudian, di antara riwayat mauquf ada yang sanadnya bersambung sampai ke Sahabat, sehingga disebut mauquf mausul (bersambung). Ada pula yang sanadnya tidak bersambung, sehingga disebut mauquf ghairu mausul (tidak bersambung) — sebagaimana yang dikenal pula pada hadits yang marfu' sampai ke Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Wallahu a'lam."
وَمَا ذَكَرْنَاهُ مِنْ تَخْصِيصِهِ بِالصَّحَابِيِّ فَذَلِكَ إِذَا ذُكِرَ الْمَوْقُوفُ مُطْلَقًا، وَقَدْ يُسْتَعْمَلُ مُقَيَّدًا فِي غَيْرِ الصَّحَابِيِّ، فَيُقَالُ: " حَدِيثُ كَذَا وَكَذَا، وَقَفَهُ فُلَانٌ عَلَى عَطَاءٍ، أَوْ عَلَى طَاوُسٍ، أَوْ نَحْوَ هَذَا " وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun pengkhususan istilah mauquf pada Sahabat yang disebutkan tadi berlaku ketika kata 'mauquf' disebutkan secara mutlak. Terkadang istilah ini juga dipakai secara terikat (muqayyad) untuk selain Sahabat, misalnya dikatakan: 'hadits ini dan itu, si fulan me-mauqufkannya pada 'Atha', atau pada Thawus,' atau semacam itu. Wallahu a'lam."
وَمَوْجُودٌ فِي اصْطِلَاحِ الْفُقَهَاءِ الْخُرَاسَانِيِّينَ تَعْرِيفُ الْمَوْقُوفِ بِاسْمِ الْأَثَرِ. قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الْفُورَانِيُّ مِنْهُمْ فِيمَا بَلَغَنَا عَنْهُ: الْفُقَهَاءُ يَقُولُونَ: " الْخَبَرُ مَا يُرْوَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْأَثَرُ مَا يُرْوَى عَنِ الصَّحَابَةِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ".
"Dijumpai pula dalam istilah para fuqaha Khurasan, penyebutan mauquf dengan nama al-atsar. Abu al-Qasim al-Furani, salah seorang dari mereka, berkata sebagaimana sampai kepada kami: para fuqaha biasa mengatakan: 'al-khabar adalah apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sedangkan al-atsar adalah apa yang diriwayatkan dari para Sahabat radhiyallahu 'anhum.'"2

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 46.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 46.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email