Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 28: Adabul Muhaddits

النَّوْعُ السَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ: مَعْرِفَةُ آدَابِ الْمُحَدِّثِ
"Anwa' kedua puluh tujuh: mengenal adab seorang muhaddits (guru penyampai hadits)."1

وَقَدْ مَضَى طَرَفٌ مِنْهَا اقْتَضَتْهُ الْأَنْوَاعُ الَّتِي قَبْلَهُ.
"Telah lewat sebagian pembahasannya sebagaimana dituntut oleh anwa'-anwa' sebelum ini."
عِلْمُ الْحَدِيثِ عِلْمٌ شَرِيفٌ، يُنَاسِبُ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ وَمَحَاسِنَ الشِّيَمِ، وَيُنَافِرُ مَسَاوِيَ الْأَخْلَاقِ، وَمَشَايِنَ الشِّيَمِ، وَهُوَ مِنْ عُلُومِ الْآخِرَةِ لَا مِنْ عُلُومِ الدُّنْيَا. فَمَنْ أَرَادَ التَّصَدِّيَ لِإِسْمَاعِ الْحَدِيثِ، أَوْ لِإِفَادَةِ شَيْءٍ مِنْ عُلُومِهِ، فَلْيُقَدِّمْ تَصْحِيحَ النِّيَّةِ وَإِخْلَاصَهَا، وَلْيُطَهِّرْ قَلْبَهُ مِنَ الْأَغْرَاضِ الدُّنْيَوِيَّةِ وَأَدْنَاسِهَا، وَلْيَحْذَرْ بَلِيَّةَ حُبِّ الرِّيَاسَةِ، وَرُعُونَاتِهَا.
"Ilmu hadits adalah ilmu yang mulia, sejalan dengan akhlak-akhlak terpuji dan sifat-sifat yang baik, serta berlawanan dengan akhlak-akhlak buruk dan sifat-sifat yang tercela. Ia termasuk ilmu-ilmu akhirat, bukan ilmu-ilmu dunia. Maka siapa yang hendak mengemban tugas menyampaikan hadits atau memberi faidah dari ilmu-ilmunya, hendaklah ia mendahulukan perbaikan dan keikhlasan niatnya, membersihkan hatinya dari tujuan-tujuan duniawi dan kekotorannya, serta berhati-hati dari bencana cinta kedudukan dan kegegabahannya."
وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي السِّنِّ الَّذِي إِذَا بَلَغَهُ اسْتُحِبَّ لَهُ التَّصَدِّي لِإِسْمَاعِ الْحَدِيثِ، وَالِانْتِصَابُ لِرِوَايَتِهِ، وَالَّذِي نَقُولُهُ: إِنَّهُ مَتَى احْتِيجَ إِلَى مَا عِنْدَهُ اسْتُحِبَّ لَهُ التَّصَدِّي لِرِوَايَتِهِ، وَنَشْرِهِ، فِي أَيِّ سِنٍّ كَانَ، وَرُوِّينَا عَنِ الْقَاضِي الْفَاضِلِ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ خَلَّادٍ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنَّهُ قَالَ: "الَّذِي يَصِحُّ عِنْدِي مِنْ طَرِيقِ الْأَثَرِ وَالنَّظَرِ، فِي الْحَدِّ الَّذِي إِذَا بَلَغَهُ النَّاقِلُ حَسُنَ بِهِ أَنْ يُحَدِّثَ هو: أَنْ يَسْتَوْفِيَ الْخَمْسِينَ؛ لِأَنَّهَا انْتِهَاءُ الْكُهُولَةِ وَفِيهَا مُجْتَمَعُ الْأَشُدِّ، قَالَ سُحَيْمُ بْنُ وَثِيلٍ:
"Para ulama berselisih pendapat tentang batas usia yang apabila telah dicapai, dianjurkan bagi seseorang untuk mengemban tugas menyampaikan hadits dan berdiri meriwayatkannya. Yang kami katakan adalah: kapan pun ilmu yang ia miliki dibutuhkan orang, dianjurkan baginya mengemban tugas meriwayatkan dan menyebarkannya, pada usia berapa pun ia berada. Kami meriwayatkan dari Al-Qadhi al-Fadhil Abu Muhammad Ibnu Khallad rahimahullah, ia berkata: 'yang menurutku benar, baik dari jalur atsar maupun penalaran, tentang batas yang apabila dicapai seorang penukil baik baginya untuk mulai meriwayatkan hadits, adalah: genap berusia lima puluh tahun, karena itulah akhir masa kuhulah (usia matang) dan puncak kekuatan.' Suhaim bin Watsil bersyair:"
أَخُو خَمْسِينَ مُجْتَمِعٌ أَشُدِّي ... وَنجَّذَنِي مُدَاوَرَةُ الشُّئُونِ.
"'Aku pemilik usia lima puluh, terhimpun puncak kekuatanku... dan pergantian berbagai urusan telah mematangkanku.'"
قَالَ: "وَلَيْسَ بِمُنْكَرٍ أَنْ يُحَدِّثَ عِنْدَ اسْتِيفَاءِ الْأَرْبَعِينَ؛ لِأَنَّهَا حَدُّ الِاسْتِوَاءِ وَمُنْتَهَى الْكَمَالِ، نُبِّئَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعِينَ، وَفِي الْأَرْبَعِينَ تَتَنَاهَى عَزِيمَةُ الْإِنْسَانِ وَقُوَّتُهُ، وَيَتَوَفَّرُ عَقْلُهُ، وَيَجُودُ رَأْيُهُ".
"Ibnu Khallad melanjutkan: 'tidak pula tercela jika seseorang meriwayatkan hadits pada saat genap berusia empat puluh tahun, karena itulah batas kematangan dan puncak kesempurnaan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam diutus sebagai nabi pada usia empat puluh tahun. Pada usia empat puluh, tekad dan kekuatan seseorang mencapai puncaknya, akalnya menjadi utuh, dan pendapatnya menjadi matang.'"
وَأَنْكَرَ الْقَاضِي عِيَاضٌ ذَلِكَ عَلَى ابْنِ خَلَّادٍ، وَقَالَ: كَمْ مِنَ السَّلَفِ الْمُتَقَدِّمِينَ وَمَنْ بَعْدَهُمْ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ مَنْ لَمْ يَنْتَهِ إِلَى هَذَا السَّنِّ، وَمَاتَ قَبْلَهُ، وَقَدْ نَشَرَ مِنَ الْحَدِيثِ، وَالْعِلْمِ مَا لَا يُحْصَى هَذَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ تُوُفِّيَ وَلَمْ يُكْمِلِ الْأَرْبَعِينَ.
"Al-Qadhi Iyadh mengingkari pendapat Ibnu Khallad ini, ia berkata: 'betapa banyak dari kalangan salaf terdahulu dan muhaddits sesudahnya yang belum mencapai usia ini, meninggal sebelumnya, namun telah menyebarkan hadits dan ilmu yang tak terhitung banyaknya. Lihatlah Umar bin Abdil Aziz, ia wafat sebelum genap berusia empat puluh tahun.'"
وَسَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ لَمْ يَبْلُغِ الْخَمْسِينَ. وَكَذَلِكَ إِبْرَاهِيمُ النَّخَعِيُّ. وَهَذَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ جَلَسَ لِلنَّاسِ ابْنَ نَيِّفٍ وَعِشْرِينَ، وَقِيلَ: ابْنَ سَبْعَ عَشْرَةَ، وَالنَّاسُ مُتَوَافِرُونَ، وَشُيُوخُهُ أَحْيَاءٌ، وَكَذَلِكَ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ الشَّافِعِيُّ: قَدْ أُخِذَ عَنْهُ الْعِلْمُ فِي سِنِّ الْحَدَاثَةِ، وَانْتَصَبَ لِذَلِكَ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sa'id bin Jubair tidak mencapai usia lima puluh. Begitu pula Ibrahim an-Nakha'i. Malik bin Anas sendiri sudah duduk mengajar orang-orang pada usia dua puluh sekian tahun -ada yang mengatakan tujuh belas tahun- padahal orang-orang saat itu masih ramai dan guru-gurunya masih hidup. Begitu pula Muhammad bin Idris asy-Syafi'i: ilmu telah diambil darinya pada usia mudanya, dan ia mengemban tugas itu.' Wallahu a'lam."
قُلْتُ: مَا ذَكَرَهُ ابْنُ خَلَّادٍ غَيْرُ مُسْتَنْكَرٍ، وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى أَنَّهُ قَالَهُ: فِيمَنْ يَتَصَدَّى لِلتَّحْدِيثِ ابْتِدَاءً مِنْ نَفْسِهِ مِنْ غَيْرِ بَرَاعَةٍ فِي الْعِلْمِ تَعَجَّلَتْ لَهُ قَبْلَ السِّنِّ الَّذِي ذَكَرَهُ، فَهَذَا إِنَّمَا يَنْبَغِي لَهُ ذَلِكَ بَعْدَ اسْتِيفَاءِ السِّنِّ الْمَذْكُورِ، فَإِنَّهُ مَظِنَّةُ الِاحْتِيَاجِ إِلَى مَا عِنْدَهُ، وَأَمَّا الَّذِينَ ذَكَرَهُمْ عِيَاضٌ مِمَّنْ حَدَّثَ قَبْلَ ذَلِكَ فَالظَّاهِرُ أَنَّ ذَلِكَ لِبَرَاعَةٍ مِنْهُمْ فِي الْعِلْمِ تَقَدَّمَتْ، ظَهَرَ لَهُمْ مَعَهَا الِاحْتِيَاجُ إِلَيْهِمْ، فَحَدَّثُوا قَبْلَ ذَلِكَ، أَوْ لِأَنَّهُمْ سُئِلُوا ذَلِكَ إِمَّا بِصَرِيحِ السُّؤَالِ، وَإِمَّا بِقَرِينَةِ الْحَالِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: apa yang disebutkan Ibnu Khallad tidak dianggap aneh, dan dibawa kepada makna bahwa itu berlaku bagi orang yang mengemban tugas periwayatan sejak awal atas inisiatifnya sendiri, tanpa kepiawaian dalam ilmu yang mendahuluinya sebelum usia yang disebutkan itu. Bagi orang semacam ini, sepatutnya ia baru melakukannya setelah genap usia yang disebutkan, karena itulah masa yang lazim dibutuhkannya apa yang ia miliki. Adapun orang-orang yang disebutkan Iyadh, yang telah meriwayatkan sebelum usia itu, tampaknya karena kepiawaian mereka dalam ilmu yang telah tampak lebih dulu, sehingga kebutuhan orang lain akan mereka pun tampak bersamanya, maka mereka pun meriwayatkan sebelum usia itu - atau karena mereka diminta melakukannya, baik dengan permintaan yang jelas maupun dengan indikasi keadaan."
وَأَمَّا السِّنُّ الَّذِي إِذَا بَلَغَهُ الْمُحَدِّثُ انْبَغَى لَهُ الْإِمْسَاكُ عَنِ التَّحْدِيثِ فَهُوَ السِّنُّ الَّذِي يُخْشَى عَلَيْهِ فِيهِ مِنَ الْهَرَمِ وَالْخَرَفِ، وَيُخَافُ عَلَيْهِ فِيهِ أَنْ يَخْلِطَ، وَيَرْوِيَ مَا لَيْسَ مِنْ حَدِيثِهِ، وَالنَّاسُ فِي بُلُوغِ هَذِهِ السِّنِّ يَتَفَاوَتُونَ بِحَسَبِ اخْتِلَافِ أَحْوَالِهِمْ، وَهَكَذَا إِذَا عَمِيَ، وَخَافَ أَنْ يُدْخَلَ عَلَيْهِ مَا لَيْسَ مِنْ حَدِيثِهِ، فَلْيُمْسِكْ عَنِ الرِّوَايَةِ.
"Adapun usia yang apabila dicapai seorang muhaddits sepatutnya ia menahan diri dari meriwayatkan hadits, adalah usia yang dikhawatirkan padanya kepikunan dan kelemahan akal, dan dikhawatirkan padanya kekeliruan serta meriwayatkan apa yang bukan haditsnya. Orang-orang berbeda-beda dalam mencapai usia ini sesuai perbedaan keadaan masing-masing. Begitu pula apabila ia menjadi buta dan khawatir dimasukkan padanya apa yang bukan haditsnya, hendaklah ia menahan diri dari periwayatan."
وَقَالَ ابْنُ خَلَّادٍ: أَعْجَبُ إِلَيَّ أَنْ يُمْسِكَ فِي الثَمَانِينَ، لِأَنَّهُ حَدُّ الْهَرَمِ، فَإِنْ كَانَ عَقْلُهُ ثَابِتًا، وَرَأْيُهُ مُجْتَمِعًا، يَعْرِفُ حَدِيثَهُ، وَيَقُومُ بِهِ، وَتَحَرَّى أَنْ يُحَدِّثَ احْتِسَابًا رَجَوْتُ لَهُ خَيْرًا.
"Ibnu Khallad berkata: 'lebih aku sukai jika ia menahan diri pada usia delapan puluh, karena itulah batas kepikunan. Namun jika akalnya masih kokoh, pendapatnya masih terhimpun, ia mengenal haditsnya dan mampu membawakannya, serta berusaha meriwayatkan semata mengharap pahala, aku berharap kebaikan baginya.'"
وَوَجْهُ مَا قَالَهُ أَنَّ مَنْ بَلَغَ الثَمَانِينَ ضَعُفَ حَالُهُ فِي الْغَالِبِ، وَخِيفَ عَلَيْهِ الِاخْتِلَالُ، وَالْإِخْلَالُ، أَوْ أَنْ لَا يُفْطَنَ لَهُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ يُخَلِّطَ، كَمَا اتَّفَقَ لِغَيْرِ وَاحِدٍ مِنَ الثِّقَاتِ، مِنْهُمْ عَبْدُ الرَّزَّاقِ، وَسَعِيدُ بْنُ أَبِي عَرُوبَةَ.
"Alasan dari apa yang ia katakan adalah: siapa yang mencapai usia delapan puluh pada umumnya melemah keadaannya, dan dikhawatirkan padanya kegoncangan dan kekurangan, atau kegoncangan itu baru disadari setelah ia benar-benar mulai keliru - sebagaimana terjadi pada tidak sedikit perawi tsiqah, di antaranya Abdurrazzaq dan Sa'id bin Abi Arubah."
وَقَدْ حَدَّثَ خَلْقٌ بَعْدَ مُجَاوَزَةِ هَذَا السِّنِّ، فَسَاعَدَهُمُ التَّوْفِيقُ، وَصَحِبَتْهُمُ السَّلَامَةُ، مِنْهُمْ: أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، وَسَهْلُ بْنُ سَعْدٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى مِنَ الصَّحَابَةِ، وَمَالِكٌ، وَاللَّيْثُ، وَابْنُ عُيَيْنَةَ، وَعَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ، فِي عَدَدٍ جَمٍّ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ، وَالْمُتَأَخِّرِينَ. وَفِيهِمْ غَيْرُ وَاحِدٍ حَدَّثُوا بَعْدَ اسْتِيفَاءِ مِائَةِ سَنَةٍ، مِنْهُمُ: الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، وَأَبُو الْقَاسِمِ الْبَغَوِيُّ، وَأَبُو إِسْحَاقَ الْهُجَيْمِيُّ، وَالْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ الطَّبَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Banyak orang telah meriwayatkan hadits setelah melewati usia ini, dan mereka mendapat pertolongan serta keselamatan - di antaranya Anas bin Malik, Sahl bin Sa'd, dan Abdullah bin Abi Aufa dari kalangan sahabat; Malik, al-Laits, Ibnu Uyainah, dan Ali bin al-Ja'd dari sejumlah besar ulama terdahulu maupun belakangan. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang meriwayatkan setelah genap seratus tahun, di antaranya al-Hasan bin Arafah, Abul Qasim al-Baghawi, Abu Ishaq al-Hujaimi, dan Al-Qadhi Abu Thayyib ath-Thabari radhiyallahu 'anhum ajma'in. Wallahu a'lam."
ثُمَّ إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي لِلْمُحَدِّثِ أَنْ يُحَدِّثَ بِحَضْرَةِ مَنْ هُوَ أَوْلَى مِنْهُ بِذَلِكَ. [وَ] كَانَ إِبْرَاهِيمُ، وَالشَّعْبِيُّ إِذَا اجْتَمَعَا لَمْ يَتَكَلَّمْ إِبْرَاهِيمُ بِشَيْءٍ، وَزَادَ بَعْضُهُمْ فَكِرَهَ الرِّوَايَةَ بِبَلَدٍ فِيهِ مِنَ الْمُحَدِّثِينَ مَنْ هُوَ أَوْلَى مِنْهُ، لِسِنِّهِ، أَوْ لِغَيْرِ ذَلِكَ.
"Tidak sepatutnya seorang muhaddits meriwayatkan hadits di hadapan orang yang lebih layak darinya untuk itu. Ibrahim (an-Nakha'i) dan asy-Sya'bi, apabila keduanya berkumpul, Ibrahim tidak berbicara apa pun. Sebagian ulama menambahkan, bahwa mereka membenci periwayatan di sebuah negeri yang di dalamnya ada muhaddits lain yang lebih layak darinya, baik karena usianya maupun sebab lain."
رُوِّينَا ... عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ، قَالَ: "إِذَا حَدَّثْتُ فِي بَلَدٍ فِيهِ مِثْلُ أَبِي مُسْهِرٍ فَيَجِبُ لِلِحْيَتِي أَنْ تُحْلَقَ" .... وَعَنْهُ أَيْضًا: "إِنَّ الَّذِي يُحَدِّثُ بِالْبَلْدَةِ - وَفِيهَا مَنْ هُوَ أَوْلَى بِالتَّحْدِيثِ مِنْهُ - فَهُوَ أَحْمَقُ".
"Kami meriwayatkan dari Yahya bin Ma'in, ia berkata: 'apabila aku meriwayatkan hadits di sebuah negeri yang di dalamnya ada orang seperti Abu Mushir, wajib janggutku dicukur (sebagai hukuman atas kelancanganku)'... Dari beliau juga: 'orang yang meriwayatkan hadits di suatu negeri, padahal di dalamnya ada orang yang lebih layak meriwayatkan darinya, ia adalah orang bodoh.'"
وَيَنْبَغِي لِلْمُحَدِّثِ - إِذَا الْتُمِسَ مِنْهُ مَا يَعْلَمُهُ عِنْدَ غَيْرِهِ، فِي بَلَدِهِ، أَوْ غَيْرِهِ، بِإِسْنَادٍ أَعْلَى مِنْ إِسْنَادِهِ، أَوْ أَرْجَحَ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ - أَنْ يُعْلِمَ الطَّالِبَ بِهِ، وَيُرْشِدَهُ إِلَيْهِ، فَإِنَّ الدِّينَ النَّصِيحَةُ.
"Sepatutnya seorang muhaddits, apabila diminta darinya sesuatu yang ia tahu ada pada orang lain, baik di negerinya maupun di tempat lain, dengan sanad yang lebih tinggi dari sanadnya atau lebih unggul dari sisi lain, memberitahu si penuntut ilmu dan menunjukkannya ke sana - karena agama itu adalah nasihat."
وَلَا يَمْتَنِعُ مِنْ تَحْدِيثِ أَحَدٍ لِكَوْنِهِ غَيْرَ صَحِيحِ النِّيَّةِ فِيهِ، فَإِنَّهُ يُرْجَى لَهُ حُصُولُ النِّيَّةِ مِنْ بَعْدُ. رُوِّينَا عَنْ مَعْمَرٍ، قَالَ: كَانَ يُقَالُ: "إِنَّ الرَّجُلَ لَيَطْلُبُ الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ، فَيَأْبَى عَلَيْهِ الْعِلْمُ حَتَّى يَكُونَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ".
"Ia tidak boleh menolak meriwayatkan hadits kepada seseorang hanya karena niatnya belum benar dalam hal itu, karena diharapkan niat yang benar itu tercapai kelak kemudian. Kami meriwayatkan dari Ma'mar, ia berkata: 'dahulu dikatakan: sesungguhnya seseorang menuntut ilmu bukan karena Allah, namun ilmu itu sendiri menolaknya sampai ia benar-benar menuntutnya karena Allah 'Azza wa Jalla.'"
وَلْيَكُنْ حَرِيصًا عَلَى نَشْرِهِ مُبْتَغِيًا جَزِيلَ أَجْرِهِ، وَقَدْ كَانَ فِي السَّلَفِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَنْ يَتَأَلَّفُ النَّاسُ عَلَى حَدِيثِهِ، مِنْهُمْ عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Hendaklah ia bersemangat menyebarkannya sembari mengharapkan pahala yang besar. Di kalangan salaf radhiyallahu 'anhum, ada yang mengumpulkan orang-orang untuk mendengar haditsnya, di antaranya Urwah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhuma. Wallahu a'lam."
وَلْيَقْتَدِ بِمَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِيمَا أَخْبَرَنَاهُ أَبُو الْقَاسِمِ الْفُرَاوِيُّ بِنَيْسَابُورَ، قَالَ: أَنَا أَبُو الْمَعَالِي الْفَارِسِيُّ، أَنَا أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ الْحَافِظُ، قَالَ: أَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، قَالَ: أَخْبَرَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَضْلِ بْنِ مُحَمَّدٍ الشَّعْرَانِيُّ، حَدَّثَنَا جَدِّي، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ، قَالَ: "... كَانَ مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحَدِّثَ تَوَضَّأَ، وَجَلَسَ عَلَى صَدْرِ فِرَاشِهِ، وَسَرَّحَ لِحْيَتَهُ، وَتَمَكَّنَ فِي جُلُوسِهِ بِوَقَارٍ وَهَيْبَةٍ، وَحَدَّثَ". فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ، فَقَالَ: "أُحِبُّ أَنْ أُعَظِّمَ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَلَا أُحَدِّثَ إِلَّا عَلَى طَهَارَةٍ مُتَمَكِّنًا" ....
"Hendaklah seseorang mencontoh Malik radhiyallahu 'anhu, dalam apa yang dikabarkan kepada kami oleh Abul Qasim al-Farawi di Naisabur, dari Abul Ma'ali al-Farisi, dari Abu Bakr al-Baihaqi al-Hafizh, dari Abu Abdillah al-Hafizh, dari Isma'il bin Muhammad bin al-Fadhl bin Muhammad asy-Sya'rani, dari kakeknya, dari Isma'il bin Abi Uwais, ia berkata: '...Malik bin Anas apabila hendak meriwayatkan hadits, ia berwudhu terlebih dahulu, duduk di tengah pembaringannya, menyisir janggutnya, duduk dengan penuh wibawa dan kehormatan, lalu barulah meriwayatkan hadits.' Ia ditanya tentang hal itu, ia menjawab: 'aku ingin mengagungkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan aku tidak mau meriwayatkan hadits kecuali dalam keadaan suci dan mantap.'..."
وَكَانَ يَكْرَهُ أَنْ يُحَدِّثَ فِي الطَّرِيقِ، أَوْ هُوَ قَائِمٌ، أَوْ يَسْتَعْجِلُ، وَقَالَ: "... أُحِبُّ أَنْ أَتَفَهَّمَ مَا أُحَدِّثُ بِهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ...-".
"Ia membenci meriwayatkan hadits di jalan, atau dalam keadaan berdiri, atau tergesa-gesa. Ia berkata: '...aku ingin benar-benar memahami apa yang aku riwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam...'"
وَرُوِيَ أَيْضًا عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَغْتَسِلُ لِذَلِكَ، وَيَتَبَخَّرُ وَيَتَطَيَّبُ، فَإِنْ رَفَعَ أَحَدٌ صَوْتَهُ فِي مَجْلِسِهِ زَبَرَهُ وَقَالَ: قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ) فَمَنْ رَفَعَ صَوْتَهُ عِنْدَ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَكَأَنَّمَا رَفَعَ صَوْتَهُ فَوْقَ صَوْتِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -.
"Diriwayatkan pula darinya, bahwa ia mandi untuk itu, membakar dupa, dan memakai wewangian. Apabila ada yang mengeraskan suaranya di majelisnya, ia menegurnya keras seraya berkata: 'Allah Ta'ala berfirman: (Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi) - maka siapa yang mengeraskan suaranya saat (mendengar) hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, seolah-olah ia telah mengeraskan suaranya melebihi suara Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.'"
وَرُوِّينَا - أَوْ بَلَغَنَا - عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْفَقِيهِ أَنَّهُ قَالَ: "الْقَارِئُ لِحَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِذَا قَامَ لِأَحَدٍ فَإِنَّهُ يُكْتَبُ عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ".
"Kami meriwayatkan -atau sampai kepada kami- dari Muhammad bin Ahmad bin Abdillah al-Faqih, bahwa ia berkata: 'orang yang sedang membaca hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, apabila ia berdiri untuk (menghormati) seseorang, akan dicatat baginya suatu dosa.'"
وَيُسْتَحَبُّ لَهُ مَعَ أَهْلِ مَجْلِسِهِ مَا وَرَدَ ... عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ أَنَّهُ قَالَ: "إِنَّ مِنَ السُّنَّةِ إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الْقَوْمَ أَنْ يُقْبِلَ عَلَيْهِمْ جَمِيعًا" ..، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Dianjurkan baginya bersama para hadirin di majelisnya apa yang diriwayatkan dari Habib bin Abi Tsabit, ia berkata: 'termasuk sunnah, apabila seseorang meriwayatkan hadits kepada suatu kaum, hendaklah ia menghadapkan wajahnya kepada mereka semua.'... Wallahu a'lam."
وَلَا يَسْرُدُ الْحَدِيثَ سَرْدًا يَمْنَعُ السَّامِعَ مِنْ إِدْرَاكِ بَعْضِهِ، وَلْيَفْتَتِحْ مَجْلِسَهُ، وَلْيَخْتَتِمْهُ بِذِكْرٍ، وَدُعَاءٍ يَلِيقُ بِالْحَالِ، وَمِنْ أَبْلَغِ مَا يَفْتَتِحُهُ بِهِ أَنْ يَقُولَ: "الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَكْمَلَ الْحَمْدِ عَلَى كُلِّ حَالٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ، عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ، وَكُلَّمَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَسَائِرِ النَّبِيِّينَ، وَآلِ كُلٍّ، وَسَائِرِ الصَّالِحِينَ، نِهَايَةَ مَا يَنْبَغِي أَنْ يَسْأَلَهُ السَّائِلُونَ".
"Ia tidak boleh membacakan hadits secara terburu-buru sehingga pendengar tidak mampu menangkap sebagiannya. Hendaklah ia membuka dan menutup majelisnya dengan zikir dan doa yang layak dengan keadaan. Di antara pembuka yang paling baik adalah mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, pujian yang sesempurna-sempurnanya dalam segala keadaan, dan shalawat serta salam yang sesempurna-sempurnanya, atas penghulu para rasul, setiap kali orang-orang yang ingat mengingatnya dan setiap kali orang-orang yang lalai melalaikannya. Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepadanya, kepada keluarganya dan seluruh para nabi beserta keluarga masing-masing, serta seluruh orang-orang shalih, sepuas-puasnya permintaan yang layak dipanjatkan oleh orang-orang yang meminta.'"
وَيُسْتَحَبُّ لِلْمُحَدِّثِ الْعَارِفِ عَقْدُ مَجْلِسٍ لِإِمْلَاءِ الْحَدِيثِ، فَإِنَّهُ مِنْ أَعْلَى مَرَاتِبِ الرَّاوِينَ، وَالسَّمَاعُ فِيهِ مِنْ أَحْسَنِ وُجُوهِ التَّحَمُّلِ، وَأَقْوَاهَا، وَلْيَتَّخِذْ مُسْتَمْلِيًا يُبَلِّغُ عَنْهُ إِذَا كَثُرَ الْجَمْعُ، فَذَلِكَ دَأْبُ أَكَابِرِ الْمُحَدِّثِينَ الْمُتَصَدِّينَ لِمِثْلِ ذَلِكَ.
"Dianjurkan bagi muhaddits yang menguasai ilmunya untuk membuka majelis imla' (dikte hadits), karena itu termasuk martabat periwayatan paling tinggi, dan sama' di dalamnya termasuk bentuk tahammul paling baik dan paling kuat. Hendaklah ia mengangkat seorang mustamli yang menyampaikan (suara) darinya apabila jumlah hadirin banyak - itulah kebiasaan para tokoh besar muhaddits yang mengemban tugas semacam ini."
وَمِمَّنْ رُوِيَ عَنْهُ ذَلِكَ: مَالِكٌ، وَشُعْبَةُ، وَوَكِيعٌ، وَأَبُو عَاصِمٍ، وَيَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، فِي عَدَدٍ كَثِيرٍ مِنَ الْأَعْلَامِ السَّالِفِينَ.
"Di antara yang diriwayatkan melakukan hal itu adalah Malik, Syu'bah, Waki', Abu Ashim, dan Yazid bin Harun, bersama sejumlah besar tokoh terdahulu lainnya."
وَلْيَكُنْ مُسْتَمْلِيهِ مُحَصِّلًا مُتَيَقِّظًا، كَيْلَا يَقَعَ فِي مِثْلِ مَا رُوِّينَا أَنَّ يَزِيدَ بْنَ هَارُونَ سُئِلَ عَنْ حَدِيثٍ، فَقَالَ: "حَدَّثَنَا بِهِ عِدَّةٌ"، فَصَاحَ بِهِ مُسْتَمْلِيهِ: "يَا أَبَا خَالِدٍ، عِدَّةُ ابْنُ مَنْ؟"، فَقَالَ لَهُ: "عِدَّةُ ابْنُ فَقَدْتُكَ".
"Hendaklah mustamli-nya adalah orang yang cerdas dan waspada, agar tidak terjerumus pada kasus seperti yang kami riwayatkan, bahwa Yazid bin Harun ditanya tentang sebuah hadits, ia menjawab: 'iddatun (sejumlah orang) telah menceritakan kepada kami hadits ini.' Mustamli-nya pun berteriak: 'wahai Abu Khalid, Iddah itu anak siapa?' (mengira 'iddah' sebagai nama orang). Yazid pun menjawabnya: 'Iddah bin Faqadtuka (anak dari 'semoga aku kehilanganmu' - sindiran kesal atas kebodohannya).'"
وَلْيَسْتَمْلِ عَلَى مَوْضِعٍ مُرْتَفِعٍ مِنْ كُرْسِيٍّ، أَوْ نَحْوِهِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدِ اسْتَمْلَى قَائِمًا، وَعَلَيْهِ أَنْ يَتَّبِعَ لَفْظَ الْمُحَدِّثِ، فَيُؤَدِّيَهُ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ غَيْرِ خِلَافٍ، وَالْفَائِدَةُ فِي اسْتِمْلَاءِ الْمُسْتَمْلِي تَوَصُّلُ مَنْ يَسْمَعُ لَفْظَ الْمُمْلِي عَلَى بُعْدٍ مِنْهُ إِلَى تَفَهُّمِهِ، وَتَحَقُّقِهِ بِإِبْلَاغِ الْمُسْتَمْلِي.
"Hendaklah sang mustamli menyampaikan dari tempat yang tinggi, seperti kursi atau semisalnya. Jika tidak mendapatinya, ia menyampaikan sambil berdiri. Ia wajib mengikuti lafal sang muhaddits, menyampaikannya persis sesuai bentuknya tanpa penyimpangan. Faidah dari penyampaian sang mustamli adalah agar orang yang mendengar lafal sang pendikte dari jauh dapat memahaminya dan memastikannya lewat sampaian mustamli."
وَأَمَّا مَنْ لَمْ يَسْمَعْ إِلَّا لَفْظَ الْمُسْتَمْلِي، فَلَيْسَ يَسْتَفِيدُ بِذَلِكَ جَوَازَ رِوَايَتِهِ لِذَلِكَ عَنِ الْمُمْلِي مُطْلَقًا، مِنْ غَيْرِ بَيَانِ الْحَالِ فِيهِ، وَفِي هَذَا كَلَامٌ قَدْ تَقَدَّمَ فِي النَّوْعِ الرَّابِعِ وَالْعِشْرِينَ.
"Adapun orang yang tidak mendengar kecuali lafal sang mustamli saja, ia tidak boleh meriwayatkannya secara mutlak dari sang pendikte tanpa menjelaskan keadaan tersebut - pembahasan tentang ini telah lewat dalam anwa' kedua puluh empat."
وَيُسْتَحَبُّ افْتِتَاحُ الْمَجْلِسِ بِقِرَاءَةِ قَارِئٍ لِشَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، فَإِذَا فَرَغَ اسْتَنْصَتَ الْمُسْتَمْلِي أَهْلَ الْمَجْلِسِ إِنْ كَانَ فِيهِ لَغَطٌ، ثُمَّ يُبَسْمِلُ، وَيَحْمَدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَيُصَلِّي عَلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَيَتَحَرَّى الْأَبْلَغَ فِي ذَلِكَ، ثُمَّ يُقْبِلُ عَلَى الْمُحَدِّثِ، وَيَقُولُ: مَنْ ذَكَرْتَ أَوْ مَا ذَكَرْتَ رَحِمَكَ اللَّهُ، أَوْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ، أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Dianjurkan membuka majelis dengan bacaan seorang qari' atas sebagian Al-Qur'an yang agung. Setelah selesai, sang mustamli meminta hadirin diam jika ada keributan, kemudian ia membaca basmalah, memuji Allah Tabaraka wa Ta'ala, bershalawat atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan berupaya sebaik mungkin dalam hal itu. Kemudian ia menghadap ke sang muhaddits dan berkata: 'siapa yang telah engkau sebutkan?' atau 'apa yang telah engkau sebutkan, semoga Allah merahmatimu', atau 'semoga Allah mengampunimu', atau semisalnya. Wallahu a'lam."
وَكُلَّمَا انْتَهَى إِلَى ذِكْرِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - صَلَّى عَلَيْهِ، وَذَكَرَ الْخَطِيبُ أَنَّهُ يَرْفَعُ صَوْتَهُ بِذَلِكَ، وَإِذَا انْتَهَى إِلَى ذِكْرِ الصَّحَابِيِّ قَالَ: "رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ".
"Setiap kali sampai kepada penyebutan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia bershalawat atasnya - al-Khathib menyebutkan bahwa ia mengeraskan suaranya dalam hal itu. Apabila sampai kepada penyebutan seorang sahabat, ia berkata: 'radhiyallahu 'anhu'."
وَيَحْسُنُ بِالْمُحَدِّثِ الثَّنَاءُ عَلَى شَيْخِهِ فِي حَالَةِ الرِّوَايَةِ عَنْهُ بِمَا هُوَ أَهْلٌ لَهُ، فَقَدْ فَعَلَ ذَلِكَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ السَّلَفِ، وَالْعُلَمَاءِ، كَمَا رُوِيَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ أَنَّهُ كَانَ إِذَا حَدَّثَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: "حَدَّثَنِي الْبَحْرُ"، وَعَنْ وَكِيعٍ أَنَّهُ قَالَ: "حَدَّثَنَا سُفْيَانُ أَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ فِي الْحَدِيثِ".
"Baik bagi seorang muhaddits memuji gurunya saat meriwayatkan darinya, dengan pujian yang memang layak baginya. Tidak sedikit dari kalangan salaf dan ulama melakukan hal itu, sebagaimana diriwayatkan dari Atha' bin Abi Rabah, bahwa apabila ia meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: 'al-bahru (sang lautan ilmu) telah menceritakan kepadaku.' Dari Waki' pula, ia berkata: 'Sufyan, amirul mukminin dalam bidang hadits, menceritakan kepada kami.'"
وَأَهَمُّ مِنْ ذَلِكَ الدُّعَاءُ لَهُ عِنْدَ ذِكْرِهِ، فَلَا يَغْفُلَنَّ عَنْهُ.
"Yang lebih penting dari itu adalah mendoakan gurunya saat menyebutkannya, maka janganlah ia melalaikannya."
وَلَا بَأْسَ بِذِكْرِ مَنْ يَرْوِي عَنْهُ بِمَا يُعْرَفُ بِهِ مِنْ لَقَبٍ، كَغُنْدَرٍ لَقَبِ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ صَاحِبِ شُعْبَةَ، وَلُوَيْنٍ لَقَبِ مُحَمَّدِ بْنِ سُلَيْمَانَ الْمِصِّيصِيِّ، أَوْ نِسْبَةٍ إِلَى أُمٍّ عُرِفَ بِهَا، كَيَعْلَى ابْنِ مُنْيَةَ الصَّحَابِيِّ وَهُوَ ابْنُ أُمَيَّةَ، وَمُنْيَةُ أُمُّهُ، وَقِيلَ: جَدَّتُهُ أُمُّ أَبِيهِ، أَوْ وَصْفٍ بِصِفَةِ نَقْصٍ فِي جَسَدِهِ عُرِفَ بِهَا، كَسُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ، وَعَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، إِلَّا مَا يَكْرَهُهُ مِنْ ذَلِكَ، كَمَا فِي إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْمَعْرُوفِ بِابْنِ عُلَيَّةَ، وَهِيَ أُمُّهُ، وَقِيلَ: أُمُّ أُمِّهِ، رُوِّينَا عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: "حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ"، فَنَهَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَقَالَ: "قُلْ: إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، فَإِنَّهُ بَلَغَنِي أَنَّهُ كَانَ يَكْرَهُ أَنْ يُنْسَبَ إِلَى أُمِّهِ"، فَقَالَ: "قَدْ قَبِلْنَا مِنْكَ يَا مُعَلِّمَ الْخَيْرِ".
"Tidak mengapa menyebut orang yang diriwayatkan darinya dengan gelar yang dikenalnya, seperti Ghundar, gelar Muhammad bin Ja'far, murid Syu'bah; atau Luwain, gelar Muhammad bin Sulaiman al-Mishishi; atau nisbah kepada seorang ibu yang dikenal dengannya, seperti Ya'la Ibnu Munyah, sahabat yang sebenarnya bernama Ibnu Umayyah, dan Munyah adalah ibunya -ada yang mengatakan neneknya, ibu dari ayahnya; atau sifat kekurangan pada tubuhnya yang dikenal dengannya, seperti Sulaiman al-A'masy (yang rabun) dan Ashim al-Ahwal (yang juling) - kecuali apa yang tidak disukainya dari hal itu, seperti pada Isma'il bin Ibrahim yang dikenal dengan Ibnu Ulayyah, padahal Ulayyah adalah ibunya -ada yang mengatakan ibu dari ibunya. Kami meriwayatkan dari Yahya bin Ma'in, bahwa ia biasa berkata: 'Isma'il Ibnu Ulayyah menceritakan kepada kami', lalu Ahmad bin Hanbal melarangnya dan berkata: 'katakanlah: Isma'il bin Ibrahim, karena sampai kepadaku bahwa ia tidak suka dinisbatkan kepada ibunya.' Yahya pun berkata: 'kami telah menerima nasihatmu, wahai pengajar kebaikan.'"
وَقَدِ اسْتُحِبَّ لِلْمُمْلِي أَنْ يَجْمَعَ فِي إِمْلَائِهِ بَيْنَ الرِّوَايَةِ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْ شُيُوخِهِ، مُقَدِّمًا لِلْأَعْلَى إِسْنَادًا، أَوِ الْأَوْلَى مِنْ وَجْهٍ آخَرَ، وَيُمْلِيَ عَنْ كُلِّ شَيْخٍ مِنْهُمْ حَدِيثًا وَاحِدًا وَيَخْتَارُ مَا عَلَا سَنَدُهُ وَقَصُرَ مَتْنُهُ، فَإِنَّهُ أَحْسَنُ، وَأَلْيَقُ، وَيَنْتَقِيَ مَا يُمْلِيهِ وَيَتَحَرَّى الْمُسْتَفَادَ مِنْهُ، وَيُنَبِّهَ عَلَى مَا فِيهِ مِنْ فَائِدَةٍ، وَعُلُوٍّ، وَفَضِيلَةٍ، وَيَتَجَنَّبُ مَا لَا تَحْتَمِلُهُ عُقُولُ الْحَاضِرِينَ، وَمَا يُخْشَى فِيهِ مِنْ دُخُولِ الْوَهْمِ عَلَيْهِمْ فِي فَهْمِهِ.
"Dianjurkan bagi sang pendikte untuk menggabungkan dalam imla'-nya periwayatan dari sejumlah gurunya, mendahulukan yang lebih tinggi sanadnya atau yang lebih utama dari sisi lain. Ia mendiktekan satu hadits dari setiap gurunya, memilih yang paling tinggi sanadnya namun paling ringkas matannya, karena itu lebih baik dan lebih pantas. Ia memilih dengan cermat apa yang ia diktekan, mengutamakan yang paling banyak faidahnya, memberi peringatan atas faidah, ketinggian, dan keutamaan yang terkandung di dalamnya, serta menghindari apa yang tidak sanggup dipahami akal para hadirin, dan apa yang dikhawatirkan dapat menyesatkan pemahaman mereka."
وَكَانَ مِنْ عَادَةِ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنَ الْمَذْكُورِينَ خَتْمُ الْإِمْلَاءِ بِشَيْءٍ مِنَ الْحِكَايَاتِ، وَالنَّوَادِرِ، وَالْإِنْشَادَاتِ بِأَسَانِيدِهَا، وَذَلِكَ حَسَنٌ، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Kebiasaan tidak sedikit ulama yang disebutkan tadi adalah menutup imla'-nya dengan sedikit kisah, cerita langka, dan syair-syair beserta sanad-sanadnya - dan itu baik. Wallahu a'lam."
وَإِذَا قَصَّرَ الْمُحَدِّثُ عَنْ تَخْرِيجِ مَا يُمْلِيهِ، فَاسْتَعَانَ بِبَعْضِ حُفَّاظِ وَقْتِهِ، فخَرَّجَ لَهُ فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ. قَالَ الْخَطِيبُ: "كَانَ جَمَاعَةٌ مِنْ شُيُوخِنَا يَفْعَلُونَ ذَلِكَ".
"Apabila sang muhaddits tidak mampu men-takhrij sendiri apa yang ia diktekan, lalu ia meminta bantuan sebagian hafizh sezamannya, dan orang itu men-takhrij-kannya untuknya, tidak mengapa. Al-Khathib berkata: 'sejumlah guru kami melakukan hal itu.'"
وَإِذَا نَجِزَ الْإِمْلَاءُ فَلَا غِنَى عَنْ مُقَابَلَتِهِ، وَإِتْقَانِهِ وَإِصْلَاحِ مَا فَسَدَ مِنْهُ بِزَيْغِ الْقَلَمِ، وَطُغْيَانِهِ.
"Apabila imla' telah selesai, tidak bisa dihindarkan lagi keharusan mencocokkan dan menelitinya, serta memperbaiki apa yang rusak darinya akibat kekeliruan dan ketergelinciran pena."2

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 236.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 236-244.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email