النَّوْعُ التَّاسِعُ وَالثَّلَاثُونَ: مَعْرِفَةُ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ
"Anwa' ketiga puluh sembilan: mengenal para sahabat radhiyallahu 'anhum ajma'in."1
هَذَا عِلْمٌ كَبِيرٌ قَدْ أَلَّفَ النَّاسُ فِيهِ كُتُبًا كَثِيرَةً، وَمِنْ أَحْلَاهَا وَأَكْثَرِهَا فَوَائِدَ كِتَابُ "الِاسْتِيعَابِ" لِابْنِ عَبْدِ الْبَرِّ، لَوْلَا مَا شَانَهُ بِهِ مِنْ إِيرَادِهِ كَثِيرًا مِمَّا شَجَرَ بَيْنَ الصَّحَابَةِ، وَحِكَايَاتِهِ عَنِ الْأَخْبَارِيِّينَ لَا الْمُحَدِّثِينَ، وَغَالِبٌ عَلَى الْأَخْبَارِيِّينَ الْإِكْثَارُ وَالتَّخْلِيطُ فِيمَا يَرْوُونَهُ.
"Ini adalah ilmu yang besar, yang manusia telah menyusun banyak kitab di dalamnya. Di antara yang paling manis dan paling banyak faidahnya adalah kitab 'al-Isti'ab' karya Ibnu Abdil Barr, seandainya tidak dicederai olehnya karena banyak memuat perselisihan yang terjadi di antara para sahabat, dan kisah-kisahnya yang diambil dari para akhbariyyin (ahli sejarah/cerita), bukan dari para muhaddits - dan umumnya para akhbariyyin memperbanyak riwayat dan mencampuradukkannya tanpa seleksi ketat."
وَأَنَا أُورِدُ نُكَتًا نَافِعَةً - إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى - قَدْ كَانَ يَنْبَغِي لِمُصَنِّفِي كُتُبِ الصَّحَابَةِ أَنْ يُتَوِّجُوهَا بِهَا، مُقَدِّمِينَ لَهَا فِي فَوَاتِحِهَا:
"Aku akan menyajikan poin-poin penting yang bermanfaat - insya Allah Ta'ala - yang sepatutnya dijadikan mahkota oleh para penyusun kitab-kitab tentang sahabat, didahulukan pada bagian pembukanya:"
Masalah Pertama: Siapakah Sahabat Itu?
إِحْدَاهَا: اخْتَلَفَ أَهْلُ الْعِلْمِ فِي أَنَّ الصَّحَابِيَّ مَنْ؟ فَالْمَعْرُوفُ مِنْ طَرِيقَةِ أَهْلِ الْحَدِيثِ أَنَّ كُلَّ مُسْلِمٍ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَهُوَ مِنَ الصَّحَابَةِ.
"Pertama: para ulama berbeda pendapat tentang siapakah sahabat itu? Yang dikenal dari metode ahli hadits adalah: setiap muslim yang melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka ia termasuk sahabat."
قَالَ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ: "مَنْ صَحِبَ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَوْ رَآهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ.
"Al-Bukhari berkata dalam Shahih-nya: 'siapa saja dari kalangan muslimin yang menyertai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atau melihatnya, maka ia termasuk sahabatnya.'"
وَبَلَغَنَا عَنْ أَبِي الْمُظَفَّرِ السِّمْعَانِيِّ الْمَرْوَزِيِّ أَنَّهُ قَالَ: "أَصْحَابُ الْحَدِيثِ يُطْلِقُونَ اسْمَ الصَّحَابَةِ عَلَى كُلِّ مَنْ رَوَى عَنْهُ حَدِيثًا أَوْ كَلِمَةً، وَيَتَوَسَّعُونَ حَتَّى يَعُدُّونَ مَنْ رَآهُ رُؤْيَةً مِنَ الصَّحَابَةِ، وَهَذَا لِشَرَفِ مَنْزِلَةِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَعْطَوْا كُلَّ مَنْ رَآهُ حُكْمَ الصُّحْبَةِ".
"Sampai kepada kami dari Abul Muzhaffar as-Sam'ani al-Marwazi, bahwa ia berkata: 'ahli hadits menggunakan nama sahabat untuk setiap orang yang meriwayatkan darinya satu hadits atau satu kalimat saja, dan mereka melapangkan cakupannya hingga menghitung orang yang sekadar pernah melihatnya sekali sebagai sahabat - ini karena kemuliaan kedudukan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mereka memberikan hukum shuhbah (persahabatan) kepada setiap orang yang pernah melihatnya.'"
وَذُكِرَ أَنَّ اسْمَ الصَّحَابِيِّ - مِنْ حَيْثُ اللُّغَةُ، وَالظَّاهِرُ - يَقَعُ عَلَى مَنْ طَالَتْ صُحْبَتُهُ لِلنَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَكَثُرَتْ مُجَالَسَتُهُ لَهُ عَلَى طَرِيقِ التَّبَعِ لَهُ وَالْأَخْذِ عَنْهُ، قَالَ: "وَهَذَا طَرِيقُ الْأُصُولِيِّينَ".
"Disebutkan pula bahwa nama 'sahabat' - dari segi bahasa dan makna zahirnya - berlaku bagi orang yang lama menyertai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan banyak duduk bermajelis dengannya dengan cara mengikutinya dan mengambil ilmu darinya. Ia berkata: 'inilah metode para ushuliyyin (ahli ushul fiqih).'"
قُلْتُ: وَقَدْ رُوِّينَا عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّهُ كَانَ لَا يَعُدُّ الصَّحَابِيَّ إِلَّا مَنْ أَقَامَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - سَنَةً أَوْ سَنَتَيْنِ، وَغَزَا مَعَهُ غَزْوَةً أَوْ غَزْوَتَيْنِ، وَكَأَنَّ الْمُرَادَ بِهَذَا - إِنْ صَحَّ عَنْهُ - رَاجِعٌ إِلَى الْمَحْكِيِّ عَنِ الْأُصُولِيِّينَ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: kami meriwayatkan dari Sa'id bin al-Musayyab bahwa ia tidak menganggap seseorang sebagai sahabat kecuali yang tinggal bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam setahun atau dua tahun, dan ikut berperang bersamanya sekali atau dua kali. Sepertinya maksud dari ucapan ini - jika memang benar dari beliau - kembali pada apa yang dinukil dari para ushuliyyin."
وَلَكِنْ فِي عِبَارَتِهِ ضِيقٌ يُوجِبُ أَلَّا يُعَدَّ مِنَ الصَّحَابَةِ جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيُّ وَمَنْ شَارَكَهُ فِي فَقْدِ ظَاهِرِ مَا اشْتَرَطَهُ فِيهِمْ، مِمَّنْ لَا نَعْرِفُ خِلَافًا فِي عَدِّهِ مِنَ الصَّحَابَةِ.
"Namun dalam ungkapannya terdapat kesempitan yang mengharuskan tidak dihitungnya Jarir bin Abdillah al-Bajali dan orang-orang yang sama dengannya dalam ketiadaan syarat zahir yang ia tetapkan itu, padahal mereka termasuk orang-orang yang kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam menghitung mereka sebagai sahabat."
وَرُوِّينَا عَنْ شُعْبَةَ عَنْ مُوسَى السَّبَلَانِيِّ - وَأُثْنِي عَلَيْهِ خَيْرًا - قَالَ: ... أَتَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ فَقُلْتُ: هَلْ بَقِيَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَحَدٌ غَيْرَكَ؟ قَالَ: "بَقِيَ نَاسٌ مِنَ الْأَعْرَابِ قَدْ رَأَوْهُ، فَأَمَّا مَنْ صَحِبَهُ فَلَا" ... . إِسْنَادُهُ جَيِّدٌ، حَدَّثَ بِهِ مُسْلِمٌ بِحَضْرَةِ أَبِي زُرْعَةَ.
"Kami meriwayatkan dari Syu'bah, dari Musa as-Sabalani - dan aku memujinya dengan pujian yang baik -, ia berkata: ... aku mendatangi Anas bin Malik lalu bertanya: apakah masih ada di antara sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selain dirimu? Ia menjawab: 'masih ada orang-orang dari kalangan Arab Badui yang pernah melihatnya, adapun yang benar-benar menyertainya, maka tidak ada lagi.' Isnad riwayat ini bagus, diceritakan oleh Muslim di hadapan Abu Zur'ah."
ثُمَّ إِنَّ كَوْنَ الْوَاحِدِ مِنْهُمْ صَحَابِيًّا تَارَةً يُعْرَفُ بِالتَّوَاتُرِ، وَتَارَةً بِالِاسْتِفَاضَةِ الْقَاصِرَةِ عَنِ التَّوَاتُرِ، وَتَارَةً بِأَنْ يُرْوَى عَنْ آحَادِ الصَّحَابَةِ أَنَّهُ صَحَابِيٌّ، وَتَارَةً بِقَوْلِهِ وَإِخْبَارِهِ عَنْ نَفْسِهِ - بَعْدَ ثُبُوتِ عَدَالَتِهِ - بِأَنَّهُ صَحَابِيٌّ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kemudian, status sahabat pada seseorang terkadang diketahui melalui tawatur (periwayatan yang mutawatir), terkadang melalui istifadhah (ketermasyhuran) yang belum mencapai derajat mutawatir, terkadang melalui riwayat dari seorang sahabat lain bahwa ia adalah sahabat, dan terkadang melalui pengakuan dan pemberitahuan dirinya sendiri - setelah tetapnya keadilan (kejujuran)-nya - bahwa ia adalah sahabat. Wallahu a'lam."
Masalah Kedua: Semua Sahabat Dinilai Adil
الثَّانِيَةُ: لِلصَّحَابَةِ بِأَسْرِهِمْ خَصِيصَةٌ، وَهِيَ أَنَّهُ لَا يُسْأَلُ عَنْ عَدَالَةِ أَحَدٍ مِنْهُمْ، بَلْ ذَلِكَ أَمْرٌ مَفْرُوغٌ مِنْهُ، لِكَوْنِهِمْ عَلَى الْإِطْلَاقِ مُعَدَّلِينَ بِنُصُوصِ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ مَنْ يُعْتَدُّ بِهِ فِي الْإِجْمَاعِ مِنَ الْأُمَّةِ.
"Kedua: seluruh sahabat memiliki kekhususan, yaitu tidak dipertanyakan lagi keadilan (kejujuran) salah seorang dari mereka - bahkan itu adalah perkara yang sudah selesai, karena mereka secara mutlak telah dinilai adil oleh nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah serta ijma' orang-orang yang diperhitungkan dalam ijma' dari kalangan umat ini."
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: (كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ) الْآيَةَ، قِيلَ: اتَّفَقَ الْمُفَسِّرُونَ عَلَى أَنَّهُ وَارِدٌ فِي أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -
"Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: '(kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia)' - dikatakan: para mufassir sepakat bahwa ayat ini turun tentang para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
وَقَالَ تَعَالَى: (وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ). وَهَذَا خِطَابٌ مَعَ الْمَوْجُودِينَ حِينَئِذٍ.
"Allah Ta'ala juga berfirman: '(dan demikianlah Kami jadikan kalian umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas manusia)' - ini adalah seruan kepada orang-orang yang ada pada masa itu (para sahabat)."
وَقَالَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: (مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ) الْآيَةَ.
"Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: '(Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir)'."
وَفِي نُصُوصِ السُّنَّةِ الشَّاهِدَةِ بِذَلِكَ كَثْرَةٌ، مِنْهَا حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْمُتَّفَقُ عَلَى صِحَّتِهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ: "لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ".
"Nash-nash sunnah yang menjadi saksi atas hal ini banyak jumlahnya, di antaranya hadits Abu Sa'id yang disepakati keshahihannya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mudd sedekah salah seorang dari mereka, bahkan tidak pula setengahnya.'"
ثُمَّ إِنَّ الْأُمَّةَ مُجْمِعَةٌ عَلَى تَعْدِيلِ جَمِيعِ الصَّحَابَةِ، وَمَنْ لَابَسَ الْفِتَنَ مِنْهُمُ فَكَذَلِكَ بِإِجْمَاعِ الْعُلَمَاءِ الَّذِينَ يُعْتَدُّ بِهِمْ فِي الْإِجْمَاعِ، إِحْسَانًا لِلظَّنِّ بِهِمْ، وَنَظَرًا إِلَى مَا تَمَهَّدَ لَهُمْ مِنَ الْمَآثِرِ، وَكَأَنَّ اللَّهَ - سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى - أَتَاحَ الْإِجْمَاعَ عَلَى ذَلِكَ لِكَوْنِهِمْ نَقَلَةَ الشَّرِيعَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Umat ini sepakat atas penilaian adil bagi seluruh sahabat, termasuk yang terlibat dalam fitnah-fitnah (perselisihan politik) di antara mereka - demikian pula dengan ijma' para ulama yang diperhitungkan dalam ijma', sebagai bentuk husnuzhan (berbaik sangka) kepada mereka, dan memandang jasa-jasa besar yang telah mereka persembahkan. Sepertinya Allah Subhanahu wa Ta'ala memudahkan terjadinya ijma' atas hal ini karena mereka adalah para penyampai syariat. Wallahu a'lam."
Masalah Ketiga: Sahabat yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadits
الثَّالِثَةُ: أَكْثَرُ الصَّحَابَةِ حَدِيثًا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَبُو هُرَيْرَةَ رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَذَلِكَ مِنَ الظَّاهِرِ الَّذِي لَا يَخْفَى عَلَى حَدِيثِيٍّ، وَهُوَ أَوَّلُ صَاحِبِ حَدِيثٍ.
"Ketiga: sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah Abu Hurairah - diriwayatkan hal ini dari Sa'id bin Abil Hasan dan Ahmad bin Hanbal, dan itu termasuk perkara yang jelas, tidak tersembunyi bagi seorang ahli hadits. Ia adalah 'ahli hadits' pertama."
بَلَغَنَا عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ قَالَ: "رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ فِي النَّوْمِ، وَأَنَا بِسِجِسْتَانَ أُصَنِّفُ حَدِيثَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ: إِنِّي لَأُحِبُّكَ، فَقَالَ: "أَنَا أَوَّلُ صَاحِبِ حَدِيثٍ كَانَ فِي الدُّنْيَا".
"Sampai kepada kami dari Abu Bakr bin Abi Dawud as-Sijistani, ia berkata: 'aku bermimpi bertemu Abu Hurairah, sedangkan aku ketika itu di Sijistan sedang menyusun kitab hadits-hadits Abu Hurairah, maka aku berkata: sungguh aku mencintaimu. Ia pun berkata: akulah ahli hadits pertama yang ada di dunia ini.'"
وَعَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ أَيْضًا - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ: "سِتَّةٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَكْثَرُوا الرِّوَايَةَ عَنْهُ وَعُمِّرُوا: أَبُو هُرَيْرَةَ وَابْنُ عُمَرَ وَعَائِشَةُ وَجَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ وَابْنُ عَبَّاسٍ وَأَنَسٌ، وَأَبُو هُرَيْرَةَ أَكْثَرُهُمْ حَدِيثًا، وَحَمَلَ عَنْهُ الثِّقَاتُ".
"Dari Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu juga, ia berkata: 'enam orang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang paling banyak meriwayatkan darinya dan berumur panjang: Abu Hurairah, Ibnu Umar, Aisyah, Jabir bin Abdillah, Ibnu Abbas, dan Anas - dan Abu Hurairah adalah yang paling banyak haditsnya di antara mereka, dan para perawi tsiqah meriwayatkan darinya.'"
ثُمَّ إِنَّ أَكْثَرَ الصَّحَابَةِ فُتْيَا تُرْوَى ابْنُ عَبَّاسٍ، بَلَغَنَا ... عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ قَالَ: "لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يُرْوَى عَنْهُ فِي الْفَتْوَى أَكْثَرَ مِنَ ابْنِ عَبَّاسٍ" ... .
"Sahabat yang paling banyak diriwayatkan darinya fatwa-fatwanya adalah Ibnu Abbas - sampai kepada kami dari Ahmad bin Hanbal, ia berkata: 'tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan darinya fatwa lebih banyak daripada Ibnu Abbas' ..."
وَرُوِّينَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ أَيْضًا أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: "مَنِ الْعَبَادِلَةُ؟" فَقَالَ: "عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو". قِيلَ لَهُ: "فَابْنُ مَسْعُودٍ؟" قَالَ: "لَا، لَيْسَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ مِنَ الْعَبَادِلَةِ".
"Kami meriwayatkan dari Ahmad bin Hanbal juga, bahwa ia ditanya: 'siapakah al-'Abadilah (para sahabat bernama Abdullah yang jadi rujukan)?' Ia menjawab: 'Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin az-Zubair, dan Abdullah bin Amr.' Ditanyakan kepadanya: 'lalu Ibnu Mas'ud?' Ia menjawab: 'tidak, Abdullah bin Mas'ud bukan termasuk al-'Abadilah.'"
قَالَ الْحَافِظُ أَحْمَدُ الْبَيْهَقِيُّ فِيمَا رُوِّينَاهُ عَنْهُ وَقَرَأْتُهُ بِخَطِّهِ: "وَهَذَا لِأَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ تَقَدَّمَ مَوْتُهُ، وَهَؤُلَاءِ عَاشُوا حَتَّى احْتِيجَ إِلَى عِلْمِهِمْ، فَإِذَا اجْتَمَعُوا عَلَى شَيْءٍ قِيلَ: هَذَا قَوْلُ الْعَبَادِلَةِ، أَوْ هَذَا فِعْلُهُمْ".
"Al-Hafizh Ahmad al-Baihaqi berkata, dalam apa yang kami riwayatkan darinya dan aku baca dalam tulisan tangannya sendiri: 'ini karena Ibnu Mas'ud wafat lebih dahulu, sedangkan mereka (keempat Abdullah tadi) hidup lebih lama hingga ilmu mereka dibutuhkan. Apabila mereka sepakat atas sesuatu, dikatakan: ini adalah pendapat al-'Abadilah, atau ini adalah perbuatan mereka.'"
قُلْتُ: وَيَلْتَحِقُ بِابْنِ مَسْعُودٍ فِي ذَلِكَ سَائِرُ الْعَبَادِلَةِ الْمُسَمِّينَ بِعَبْدِ اللَّهِ مِنَ الصَّحَابَةِ، وَهُمْ نَحْوُ مِائَتَيْنِ وَعِشْرِينَ نَفْسًا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: bergabung dengan Ibnu Mas'ud dalam hal itu (tidak termasuk al-'Abadilah yang khusus ini) adalah seluruh sahabat lain yang bernama Abdullah, yang jumlahnya sekitar dua ratus dua puluh orang. Wallahu a'lam."
وَرُوِّينَا عَنْ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَدِينِيِّ قَالَ: "لَمْ يَكُنْ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَحَدٌ لَهُ أَصْحَابٌ يَقُومُونَ بِقَوْلِهِ فِي الْفِقْهِ إِلَّا ثَلَاثَةٌ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، كَانَ لِكُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ أَصْحَابٌ يَقُومُونَ بِقَوْلِهِ وَيُفْتُونَ النَّاسَ".
"Kami meriwayatkan dari Ali bin Abdillah al-Madini, ia berkata: 'tidak ada seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang memiliki murid-murid yang menegakkan pendapatnya dalam fiqih, kecuali tiga orang: Abdullah bin Mas'ud, Zaid bin Tsabit, dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhum - masing-masing dari mereka memiliki murid-murid yang menegakkan pendapatnya dan memberi fatwa kepada manusia.'"
وَرُوِّينَا عَنْ مَسْرُوقٍ قَالَ: "وَجَدْتُ عِلْمَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - انْتَهَى إِلَى سِتَّةٍ: عُمَرُ، وَعَلِيٌّ، وَأُبَيٌّ، وَزَيْدٌ، وَأَبُو الدَّرْدَاءِ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ، ثُمَّ انْتَهَى عِلْمُ هَؤُلَاءِ السِّتَّةِ إِلَى اثْنَيْنِ: عَلِيٌّ، وَعَبْدُ اللَّهِ".
"Kami meriwayatkan dari Masruq, ia berkata: 'aku dapati ilmu para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berujung pada enam orang: Umar, Ali, Ubay, Zaid, Abud Darda', dan Abdullah bin Mas'ud - kemudian ilmu keenam orang ini sendiri berujung pada dua orang: Ali dan Abdullah (bin Mas'ud).'"
وَرُوِّينَا نَحْوَهُ عَنْ مُطَرِّفٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ مَسْرُوقٍ، لَكِنْ ذَكَرَ أَبَا مُوسَى بَدَلَ أَبِي الدَّرْدَاءِ.
"Kami meriwayatkan hadits serupa dari Muthorrif, dari asy-Sya'bi, dari Masruq, hanya saja ia menyebut Abu Musa sebagai ganti Abud Darda'."
وَرُوِّينَا عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ: "كَانَ الْعِلْمُ يُؤْخَذُ عَنْ سِتَّةٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَكَانَ عُمَرُ، وَعَبْدُ اللَّهِ، وَزَيْدٌ، يُشْبِهُ عِلْمُ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، وَكَانَ يَقْتَبِسُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ، وَكَانَ عَلِيٌّ، وَالْأَشْعَرِيُّ، وَأُبَيٌّ، يُشْبِهُ عِلْمُ بَعْضِهِمْ بَعْضًا، وَكَانَ يَقْتَبِسُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ".
"Kami meriwayatkan dari asy-Sya'bi, ia berkata: 'dahulu ilmu diambil dari enam orang sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Umar, Abdullah (bin Mas'ud), dan Zaid, ilmu mereka saling mirip satu sama lain, dan mereka saling mengambil dari satu sama lain. Sedangkan Ali, al-Asy'ari (Abu Musa), dan Ubay, ilmu mereka juga saling mirip dan mereka saling mengambil dari satu sama lain.'"
وَرُوِّينَا عَنِ الْحَافِظِ أَحْمَدَ الْبَيْهَقِيِّ أَنَّ الشَّافِعِيَّ ذَكَرَ الصَّحَابَةَ فِي رِسَالَتِهِ الْقَدِيمَةِ، وَأَثْنَى عَلَيْهِمْ بِمَا هُمْ أَهْلُهُ، ثُمَّ قَالَ: "وَهُمْ فَوْقَنَا فِي كُلِّ عِلْمٍ، وَاجْتِهَادٍ، وَوَرَعٍ، وَعَقْلٍ، وَأَمْرٍ اسْتُدْرِكَ بِهِ عِلْمٌ وَاسْتُنْبِطَ بِهِ، وَآرَاؤُهُمْ لَنَا أَحْمَدُ وَأَوْلَى بِنَا مِنْ آرَائِنَا عِنْدَنَا لِأَنْفُسِنَا"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kami meriwayatkan dari al-Hafizh Ahmad al-Baihaqi, bahwa asy-Syafi'i menyebutkan para sahabat dalam ar-Risalah versi lamanya, dan memuji mereka dengan pujian yang layak bagi mereka, kemudian berkata: 'mereka berada di atas kami dalam segala ilmu, ijtihad, wara', akal, dan setiap perkara yang dengannya diperoleh dan disimpulkan ilmu. Pendapat mereka bagi kami lebih terpuji dan lebih layak kami ikuti daripada pendapat kami sendiri bagi diri kami.' Wallahu a'lam."
Masalah Keempat: Jumlah Para Sahabat
الرَّابِعَةُ: رُوِّينَا عَنْ أَبِي زُرْعَةَ الرَّازِيِّ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ عِدَّةِ مَنْ رَوَى عَنِ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَقَالَ: وَمَنْ يَضْبِطُ هَذَا؟ شَهِدَ مَعَ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - حِجَّةَ الْوَدَاعِ أَرْبَعُونَ أَلْفًا، وَشَهِدَ مَعَهُ تَبُوكَ سَبْعُونَ أَلْفًا.
"Keempat: kami meriwayatkan dari Abu Zur'ah ar-Razi, bahwa ia ditanya tentang jumlah orang yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia menjawab: 'siapa yang bisa memastikan jumlah ini? Yang menyaksikan Haji Wada' bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saja berjumlah empat puluh ribu, dan yang menyaksikan perang Tabuk bersamanya tujuh puluh ribu.'"
وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي زُرْعَةَ - أَيْضًا - أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: "أَلَيْسَ يُقَالُ: حَدِيثُ النَّبِيِّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - أَرْبَعَةُ آلَافِ حَدِيثٍ؟" قَالَ: "وَمَنْ قَالَ ذَا؟ قَلْقَلَ اللَّهُ أَنْيَابَهُ! هَذَا قَوْلُ الزَّنَادِقَةِ، وَمَنْ يُحْصِي حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَنْ مِائَةِ أَلْفٍ وَأَرْبَعَةَ عَشَرَ أَلْفًا مِنَ الصَّحَابَةِ، مِمَّنْ رَوَى عَنْهُ وَسَمِعَ مِنْهُ، وَفِي رِوَايَةٍ: مِمَّنْ رَآهُ وَسَمِعَ مِنْهُ"، فَقِيلَ لَهُ: يَا أَبَا زُرْعَةَ، هَؤُلَاءِ أَيْنَ كَانُوا وَأَيْنَ سَمِعُوا مِنْهُ؟ قَالَ: "أَهْلُ الْمَدِينَةِ، وَأَهْلُ مَكَّةَ، وَمَنْ بَيْنَهُمَا، وَالْأَعْرَابُ، وَمَنْ شَهِدَ مَعَهُ حِجَّةَ الْوَدَاعِ، كُلٌّ رَآهُ وَسَمِعَ مِنْهُ بِعَرَفَةَ".
"Kami meriwayatkan dari Abu Zur'ah pula, bahwa ia ditanya: 'bukankah dikatakan bahwa hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berjumlah empat ribu hadits saja?' Ia menjawab: 'siapa yang mengatakan itu? Semoga Allah mengguncang gigi-gigi taringnya! Ini adalah ucapan orang-orang zindiq. Siapa yang mampu menghitung hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam wafat meninggalkan seratus empat belas ribu orang sahabat, dari kalangan yang meriwayatkan darinya dan mendengar langsung darinya - dan dalam satu riwayat: dari kalangan yang melihatnya dan mendengar darinya.' Ditanyakan kepadanya: 'wahai Abu Zur'ah, mereka ini di manakah dan di mana mereka mendengar darinya?' Ia menjawab: 'penduduk Madinah, penduduk Makkah, dan yang di antara keduanya, orang-orang Arab Badui, dan yang menyaksikan Haji Wada' bersamanya - masing-masing melihatnya dan mendengar darinya di Arafah.'"
قُلْتُ: ثُمَّ إِنَّهُ اخْتُلِفَ فِي عَدَدِ طَبَقَاتِهِمْ وَأَصْنَافِهِمْ، وَالنَّظَرِ فِي ذَلِكَ إِلَى السَّبْقِ بِالْإِسْلَامِ، وَالْهِجْرَةِ، وَشُهُودِ الْمَشَاهِدِ الْفَاضِلَةِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَأَنْفُسِنَا هُوَ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: kemudian para ulama berbeda pendapat tentang jumlah tingkatan (thabaqat) dan golongan mereka, dengan memandang kepada kedahuluan masuk Islam, hijrah, dan kesaksian peristiwa-peristiwa mulia bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam - dengan (mengorbankan) ayah, ibu, dan diri kami sendiri untuk beliau shallallahu 'alaihi wasallam."
وَجَعَلَهُمْ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: اثْنَتَيْ عَشْرَةَ طَبَقَةً، وَمِنْهُمْ مَنْ زَادَ عَلَى ذَلِكَ، وَلَسْنَا نُطَوِّلُ بِتَفْصِيلِ ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Hakim Abu Abdillah membagi mereka menjadi dua belas thabaqat, dan sebagian ulama menambahkan lebih dari itu. Kami tidak memperpanjang perinciannya di sini. Wallahu a'lam."
Masalah Kelima: Keutamaan dan Urutan Sahabat
الْخَامِسَةُ: أَفْضَلُهُمْ عَلَى الْإِطْلَاقِ أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ عُمَرُ، ثُمَّ إِنَّ جُمْهُورَ السَّلَفِ عَلَى تَقْدِيمِ عُثْمَانَ عَلَى عَلِيٍّ، وَقَدَّمَ أَهْلُ الْكُوفَةِ مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ، وَبِهِ قَالَ مِنْهُمْ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ أَوَّلًا، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى تَقْدِيمِ عُثْمَانَ، رَوَى ذَلِكَ عَنْهُ وَعَنْهُمُ الْخَطَّابِيُّ.
"Kelima: yang paling utama di antara mereka secara mutlak adalah Abu Bakr, kemudian Umar. Kemudian mayoritas ulama salaf mendahulukan Utsman atas Ali, sedangkan ahli Kufah dari kalangan Ahlus Sunnah mendahulukan Ali atas Utsman - di antara mereka Sufyan ats-Tsauri berpendapat demikian pada mulanya, kemudian ia kembali kepada pendapat mendahulukan Utsman. Hal ini diriwayatkan darinya dan dari mereka oleh al-Khaththabi."
وَمِمَّنْ نُقِلَ عَنْهُ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ تَقْدِيمُ عَلِيٍّ عَلَى عُثْمَانَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنُ خُزَيْمَةَ، وَتَقْدِيمُ عُثْمَانَ هُوَ الَّذِي اسْتَقَرَّتْ عَلَيْهِ مَذَاهِبُ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ وَأَهْلِ السُّنَّةِ.
"Di antara ahli hadits yang dinukil darinya pendapat mendahulukan Ali atas Utsman adalah Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah. Namun, pendapat mendahulukan Utsman-lah yang akhirnya menjadi pegangan tetap mazhab ahli hadits dan Ahlus Sunnah."
وَأَمَّا أَفْضَلُ أَصْنَافِهِمْ صِنْفًا: فَقَدْ قَالَ أَبُو مَنْصُورٍ الْبَغْدَادِيُّ التَّمِيمِيُّ: أَصْحَابُنَا مُجْمِعُونَ عَلَى أَنَّ أَفْضَلَهُمُ الْخُلَفَاءُ الْأَرْبَعَةُ، ثُمَّ السِّتَّةُ الْبَاقُونَ إِلَى تَمَامِ الْعَشَرَةِ، ثُمَّ الْبَدْرِيُّونَ، ثُمَّ أَصْحَابُ أُحُدٍ، ثُمَّ أَهْلُ بَيْعَةِ الرِّضْوَانِ بِالْحُدَيْبِيَةِ.
"Adapun golongan yang paling utama di antara mereka: Abu Manshur al-Baghdadi at-Tamimi berkata: 'sahabat-sahabat kami (ulama Ahlus Sunnah) sepakat bahwa yang paling utama adalah keempat khalifah, kemudian enam orang sisanya hingga genap sepuluh (al-'Asyarah al-Mubasysyarah), kemudian para pejuang Badr, kemudian sahabat-sahabat Uhud, kemudian orang-orang yang ikut Bai'atur Ridhwan di Hudaibiyah.'"
قُلْتُ: وَفِي نَصِّ الْقُرْآنِ تَفْضِيلُ السَّابِقِينَ الْأَوَّلِينَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ، وَهُمُ الَّذِينَ صَلَّوْا إِلَى الْقِبْلَتَيْنِ فِي قَوْلِ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَطَائِفَةٍ، وَفِي قَوْلِ الشَّعْبِيِّ: هُمُ الَّذِينَ شَهِدُوا بَيْعَةَ الرِّضْوَانِ، وَعَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ وَعَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّهُمَا قَالَا: هُمْ أَهْلُ بَدْرٍ، رَوَى ذَلِكَ عَنْهُمَا ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ فِيمَا وَجَدْنَاهُ عَنْهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: dalam nash Al-Qur'an terdapat keutamaan bagi as-Sabiqun al-Awwalun (yang lebih dahulu masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar - mereka adalah yang shalat menghadap dua kiblat, menurut pendapat Sa'id bin al-Musayyab dan sekelompok ulama. Menurut asy-Sya'bi: mereka adalah yang menyaksikan Bai'atur Ridhwan. Dari Muhammad bin Ka'b al-Qurazhi dan Atha' bin Yasar, keduanya berkata: mereka adalah ahli Badr - hal ini diriwayatkan dari keduanya oleh Ibnu Abdil Barr, sejauh yang kami temukan darinya. Wallahu a'lam."
Masalah Keenam: Siapakah yang Pertama Masuk Islam?
السَّادِسَةُ: اخْتَلَفَ السَّلَفُ فِي أَوَّلِهِمْ إِسْلَامًا، فَقِيلَ: أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُّ، رُوِيَ ذَلِكَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، وَحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ، وَإِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ، وَغَيْرِهِمْ.
"Keenam: para ulama salaf berbeda pendapat tentang siapa yang pertama kali masuk Islam. Ada yang berpendapat: Abu Bakr ash-Shiddiq - diriwayatkan pendapat ini dari Ibnu Abbas, Hassan bin Tsabit, Ibrahim an-Nakha'i, dan lainnya."
وَقِيلَ: عَلِيٌّ أَوَّلُ مَنْ أَسْلَمَ، رُوِيَ ذَلِكَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، وَأَبِي ذَرٍّ، وَالْمِقْدَادِ، وَغَيْرِهِمْ.
"Ada pula yang berpendapat: Ali-lah yang pertama masuk Islam - diriwayatkan pendapat ini dari Zaid bin Arqam, Abu Dzarr, al-Miqdad, dan lainnya."
وَقَالَ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: "لَا أَعْلَمُ خِلَافًا بَيْنَ أَصْحَابِ التَّوَارِيخِ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ أَوَّلُهُمْ إِسْلَامًا"، وَاسْتُنْكِرَ هَذَا مِنَ الْحَاكِمِ.
"Al-Hakim Abu Abdillah berkata: 'aku tidak mengetahui adanya perselisihan di antara para ahli sejarah bahwa Ali bin Abi Thalib-lah yang pertama masuk Islam' - ucapan al-Hakim ini dianggap ganjil (diingkari)."
وَقِيلَ: أَوَّلُ مَنْ أَسْلَمَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ، وَذَكَرَ مَعْمَرٌ نَحْوَ ذَلِكَ عَنِ الزُّهْرِيِّ.
"Ada pula yang berpendapat: yang pertama masuk Islam adalah Zaid bin Haritsah - Ma'mar menyebutkan hal serupa dari az-Zuhri."
وَقِيلَ: أَوَّلُ مَنْ أَسْلَمَ خَدِيجَةُ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ، رُوِيَ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ، وَهُوَ قَوْلُ قَتَادَةَ، وَمُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ يَسَارٍ، وَجَمَاعَةٍ، وَرُوِيَ أَيْضًا عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.
"Ada pula yang berpendapat: yang pertama masuk Islam adalah Khadijah, Ummul Mukminin - diriwayatkan hal ini dari berbagai jalur dari az-Zuhri, dan ini adalah pendapat Qatadah, Muhammad bin Ishaq bin Yasar, dan sekelompok ulama, serta diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas."
وَادَّعَى الثَّعْلَبِيُّ الْمُفَسِّرُ فِيمَا رُوِّينَاهُ أَوْ بَلَغَنَا عَنْهُ اتِّفَاقُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ خَدِيجَةُ، وَأَنَّ اخْتِلَافَهُمْ إِنَّمَا هُوَ فِي أَوَّلِ مَنْ أَسْلَمَ بْعَدَهَا.
"Ats-Tsa'labi, sang mufassir, mengklaim - dalam apa yang kami riwayatkan atau yang sampai kepada kami darinya - bahwa para ulama sepakat bahwa Khadijah-lah yang pertama masuk Islam, dan bahwa perselisihan mereka sesungguhnya hanya pada siapa yang pertama masuk Islam setelahnya."
وَالْأَوْرَعُ أَنْ يُقَالَ: أَوَّلُ مَنْ أَسْلَمَ مِنَ الرِّجَالِ الْأَحْرَارِ أَبُو بَكْرٍ، وَمِنَ الصِّبْيَانِ أَوِ الْأَحْدَاثِ عَلِيٌّ، وَمِنَ النِّسَاءِ خَدِيجَةُ، وَمِنَ الْمَوَالِي زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ، وَمِنَ الْعَبِيدِ بِلَالٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Yang paling berhati-hati (wara') untuk dikatakan adalah: yang pertama masuk Islam dari kalangan laki-laki merdeka adalah Abu Bakr, dari kalangan anak-anak atau remaja adalah Ali, dari kalangan wanita adalah Khadijah, dari kalangan budak yang dimerdekakan (mawali) adalah Zaid bin Haritsah, dan dari kalangan budak adalah Bilal. Wallahu a'lam."
Masalah Ketujuh: Sahabat yang Terakhir Wafat
السَّابِعَةُ: آخِرُهُمْ عَلَى الْإِطْلَاقِ مَوْتًا أَبُو الطُّفَيْلِ عَامِرُ بْنُ وَاثِلَةَ، مَاتَ سَنَةَ مِائَةٍ مِنَ الْهِجْرَةِ.
"Ketujuh: sahabat yang paling akhir wafat secara mutlak adalah Abuth Thufail Amir bin Watsilah - ia wafat pada tahun seratus Hijriyah."
وَأَمَّا بِالْإِضَافَةِ إِلَى النَّوَاحِي، فَآخِرُ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ بِالْمَدِينَةِ: جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، رَوَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ قَتَادَةَ، وَقِيلَ: سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ، وَقِيلَ: السَّائِبُ بْنُ يَزِيدَ.
"Adapun jika dilihat menurut wilayah: yang terakhir wafat di Madinah adalah Jabir bin Abdillah - diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dari Qatadah; ada pula yang berpendapat: Sahl bin Sa'd; dan ada pula yang berpendapat: as-Sa'ib bin Yazid."
وَآخِرُ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ بِمَكَّةَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ، وَقِيلَ: جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ. وَذَكَرَ عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ أَنَّ أَبَا الطُّفَيْلِ بِمَكَّةَ مَاتَ، فَهُوَ إِذًا الْآخِرُ بِهَا.
"Yang terakhir wafat di Makkah adalah Abdullah bin Umar - ada pula yang berpendapat: Jabir bin Abdillah. Ali bin al-Madini menyebutkan bahwa Abuth Thufail wafat di Makkah, sehingga dialah yang terakhir di sana."
وَآخِرُ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ بِالْبَصْرَةِ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، قَالَ أَبُو عُمَرَ بْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: "مَا أَعْلَمُ أَحَدًا مَاتَ بَعْدَهُ مِمَّنْ رَأَى رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِلَّا أَبَا الطُّفَيْلِ".
"Yang terakhir wafat di Bashrah adalah Anas bin Malik. Abu Umar bin Abdil Barr berkata: 'aku tidak mengetahui ada orang yang wafat setelahnya dari kalangan yang pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kecuali Abuth Thufail.'"
وَآخِرُ مَنْ مَاتَ مِنْهُمْ بِالْكُوفَةِ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى.
"Yang terakhir wafat di Kufah: Abdullah bin Abi Aufa."
وَبِالشَّامِ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُسْرٍ، وَقِيلَ: بَلْ أَبُو أُمَامَةَ.
"Dan di Syam: Abdullah bin Busr, ada pula yang berpendapat: justru Abu Umamah."
وَتَبَسَّطَ بَعْضُهُمْ فَقَالَ: "آخِرُ مَنْ مَاتَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِمِصْرَ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ بْنِ جَزْءٍ الزُّبَيْدِيُّ، وَبِفَلَسْطِينَ: أَبُو أُبَيٍّ ابْنُ أُمِّ حَرَامٍ، وَبِدِمَشْقَ: وَاثِلَةُ بْنُ الْأَسْقَعِ، وَبِحِمْصَ: عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُسْرٍ، وَبِالْيَمَامَةِ: الْهِرْمَاسُ بْنُ زِيَادٍ، وَبِالْجَزِيرَةِ: الْعُرْسُ بْنُ عَمِيرَةَ، وَبِأِفْرِيقِيَّةَ: رُوَيْفِعُ بْنُ ثَابِتٍ، وَبِالْبَادِيَةِ فِي الْأَعْرَابِ: سَلَمَةُ بْنُ الْأَكْوَعِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ".
"Sebagian ulama memperluas rincian ini, mereka berkata: 'yang terakhir wafat di antara sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di Mesir: Abdullah bin al-Harits bin Jaz' az-Zubaidi; di Palestina: Abu Ubay Ibnu Ummi Haram; di Damaskus: Watsilah bin al-Asqa'; di Himsh: Abdullah bin Busr; di Yamamah: al-Hirmas bin Ziyad; di al-Jazirah: al-'Urs bin Umairah; di Afrika: Ruwaifi' bin Tsabit; dan di pedalaman di kalangan Arab Badui: Salamah bin al-Akwa', radhiyallahu 'anhum ajma'in.'"
وَفِي بَعْضِ مَا ذَكَرْنَاهُ خِلَافٌ لَمْ نَذْكُرْهُ.
"Dalam sebagian yang telah kami sebutkan terdapat perselisihan pendapat lain yang tidak kami sebutkan di sini."
وَقَوْلُهُ فِي رُوَيْفِعٍ: "بِأِفْرِيقِيَّةَ" لَا يَصِحُّ، إِنَّمَا مَاتَ فِي حَاضِرَةِ بَرْقَةَ وَقَبْرُهُ بِهَا، وَنَزَلَ سَلَمَةُ إِلَى الْمَدِينَةِ قَبْلَ مَوْتِهِ بِلَيَالٍ فَمَاتَ بِهَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ucapan yang menyebutkan Ruwaifi' 'di Afrika' tidak tepat - ia sesungguhnya wafat di kota Barqah dan kuburannya berada di sana. Adapun Salamah (bin al-Akwa'), ia pindah ke Madinah beberapa malam sebelum wafatnya, lalu wafat di sana. Wallahu a'lam."2