Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 22: Hadits Maudhu'

النَّوْعُ الْحَادِي وَالْعِشْرُونَ: مَعْرِفَةُ الْمَوْضُوعِ
"Anwa' Kedua Puluh Satu: Mengetahui Hadits Maudhu' (Palsu)"1
وَهُوَ الْمُخْتَلَقُ الْمَصْنُوعُ
"Yaitu hadits yang direka-reka dan dibuat-buat."
اعْلَمْ أَنَّ الْحَدِيثَ الْمَوْضُوعَ شَرُّ الْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ، وَلَا تَحِلُّ رِوَايَتُهُ لِأَحَدٍ عَلِمَ حَالَهُ فِي أَيِّ مَعْنًى كَانَ إِلَّا مَقْرُونًا بِبَيَانِ وَضْعِهِ، بِخِلَافِ غَيْرِهِ مِنَ الْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ الَّتِي يُحْتَمَلُ صِدْقُهَا فِي الْبَاطِنِ، حَيْثُ جَازَ رِوَايَتُهَا فِي التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ، عَلَى مَا نُبَيِّنُهُ قَرِيبًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
"Ketahuilah bahwa hadits maudhu' adalah yang paling buruk di antara hadits-hadits dha'if. Tidak halal bagi siapa pun yang mengetahui keadaannya untuk meriwayatkannya dalam pengertian apa pun, kecuali disertai penjelasan tentang kepalsuannya. Ini berbeda dari hadits-hadits dha'if lainnya yang masih mungkin benar pada hakikatnya, sehingga boleh diriwayatkan dalam bab targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman), sebagaimana akan kami jelaskan sebentar lagi insya Allah Ta'ala."
وَإِنَّمَا يُعْرَفُ كَوْنُ الْحَدِيثِ مَوْضُوعًا بِإِقْرَارِ وَاضِعِهِ، أَوْ مَا يَتَنَزَّلُ مَنْزِلَةَ إِقْرَارِهِ، وَقَدْ يَفْهَمُونَ الْوَضْعَ مِنْ قَرِينَةِ حَالِ الرَّاوِي أَوِ الْمَرْوِيِّ، فَقَدْ وُضِعَتْ أَحَادِيثُ طَوِيلَةٌ يَشْهَدُ بِوَضْعِهَا رَكَاكَةُ أَلْفَاظِهَا وَمَعَانِيهَا.
"Status kepalsuan suatu hadits hanya dapat diketahui melalui pengakuan orang yang memalsukannya, atau melalui sesuatu yang kedudukannya setara dengan pengakuan tersebut. Terkadang status wadh' (pemalsuan) juga dipahami dari qarinah (indikasi) pada keadaan perawi atau yang diriwayatkan. Sungguh, telah dibuat hadits-hadits panjang yang kerancuan lafal dan maknanya sendiri menjadi saksi atas kepalsuannya."
وَلَقَدْ أَكْثَرَ الَّذِي جَمَعَ فِي هَذَا الْعَصْرِ (الْمَوْضُوعَاتِ) فِي نَحْوِ مُجَلَّدَيْنِ، فَأَوْدَعَ فِيهَا كَثِيرًا مِمَّا لَا دَلِيلَ عَلَى وَضْعِهِ، إِنَّمَا حَقُّهُ أَنْ يُذْكَرَ فِي مُطْلَقِ الْأَحَادِيثِ الضَّعِيفَةِ.
"Sungguh, orang yang menghimpun kitab Al-Maudhu'at pada masa ini (Ibnul Jauzi) dalam kurang lebih dua jilid telah berlebihan, karena ia memasukkan ke dalamnya banyak hadits yang sebenarnya tidak ada dalil atas kepalsuannya - hadits-hadits itu semestinya hanya disebutkan dalam kategori umum hadits dha'if."
وَالْوَاضِعُونَ لِلْحَدِيثِ أَصْنَافٌ، وَأَعْظَمُهُمْ ضَرَرًا قَوْمٌ مِنَ الْمَنْسُوبِينَ إِلَى الزُّهْدِ، وَضَعُوا الْحَدِيثَ احْتِسَابًا فِيمَا زَعَمُوا، فَتَقَبَّلَ النَّاسُ مَوْضُوعَاتِهُمْ ثِقَةً مِنْهُمْ بِهِمْ وَرُكُونًا إِلَيْهِمْ، ثُمَّ نَهَضَتْ جَهَابِذَةُ الْحَدِيثِ بِكَشْفِ عُوَارِهَا وَمَحْوِ عَارِهَا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ.
"Para pemalsu hadits terdiri dari beberapa golongan. Yang paling besar bahayanya adalah kelompok yang menisbatkan diri kepada zuhud, yang memalsukan hadits dengan dalih mengharap pahala menurut anggapan mereka sendiri. Orang-orang pun menerima hadits-hadits palsu mereka karena percaya dan bersandar kepada mereka. Kemudian bangkitlah para pakar (jahabidzah) hadits untuk menyingkap cacatnya dan menghapus aibnya, walhamdulillah."
وَفِيمَا رُوِّينَا عَنِ الْإِمَامِ أَبِي بَكْرٍ السَّمْعَانِيِّ: أَنَّ بَعْضَ الْكَرَّامِيَّةِ ذَهَبَ إِلَى جَوَازِ وَضْعِ الْحَدِيثِ فِي بَابِ التَّرْغِيبِ وَالتَّرْهِيبِ.
"Di antara yang kami riwayatkan dari Imam Abu Bakr as-Sam'ani: bahwa sebagian kelompok Karramiyyah berpendapat bolehnya memalsukan hadits dalam bab targhib dan tarhib."
ثُمَّ إِنَّ الْوَاضِعَ رُبَّمَا صَنَعَ كَلَامًا مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ فَرَوَاهُ، وَرُبَّمَا أَخَذَ كَلَامًا لِبَعْضِ الْحُكَمَاءِ أَوْ غَيْرِهِمْ، فَوَضَعَهُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
"Kemudian, seorang pemalsu terkadang membuat sendiri suatu perkataan lalu meriwayatkannya sebagai hadits, dan terkadang pula ia mengambil perkataan sebagian ahli hikmah atau selain mereka, lalu menyandarkannya secara dusta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."
وَرُبَّمَا غَلِطَ غَالِطٌ، فَوَقَعَ فِي شُبَهِ الْوَضْعِ مِنْ غَيْرِ تَعَمُّدٍ، كَمَا وَقَعَ لِثَابِتِ بْنِ مُوسَى الزَّاهِدِ فِي حَدِيثِ: "مَنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ بِاللَّيْلِ حَسُنَ وَجْهُهُ بِالنَّهَارِ".
"Terkadang pula seseorang keliru sehingga terjatuh pada sesuatu yang menyerupai pemalsuan tanpa kesengajaan, sebagaimana yang terjadi pada Tsabit bin Musa az-Zahid dalam riwayat: 'Barangsiapa memperbanyak shalat malam, wajahnya akan menjadi tampan di siang hari.'"
مِثَالٌ: رُوِّينَا ... عَنْ أَبِي عِصْمَةَ - وَهُوَ نُوحُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ - أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: "مِنْ أَيْنَ لَكَ عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ فِي فَضَائِلِ الْقُرْآنِ سُورَةً سُورَةً؟"، فَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ النَّاسَ قَدْ أَعْرَضُوا عَنِ الْقُرْآنِ، وَاشْتَغَلُوا بِفِقْهِ أَبِي حَنِيفَةَ وَمَغَازِي مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ، فَوَضَعْتُ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ حِسْبَةً.
"Contoh: kami riwayatkan ... dari Abu 'Ishmah - yaitu Nuh bin Abi Maryam - bahwa ia pernah ditanya: 'Dari mana engkau memperoleh riwayat dari 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas, tentang keutamaan setiap surah Al-Qur'an satu per satu?' Ia menjawab: 'Sesungguhnya aku melihat orang-orang telah berpaling dari Al-Qur'an dan disibukkan dengan fikih Abu Hanifah serta sirah peperangan (maghazi) Muhammad bin Ishaq, maka aku pun membuat hadits-hadits ini demi mengharap pahala.'"
وَهَكَذَا حَالُ الْحَدِيثِ الطَّوِيلِ الَّذِي يُرْوَى عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي فَضْلِ الْقُرْآنِ سُورَةً فَسُورَةً. بَحَثَ بَاحِثٌ عَنْ مُخْرَجِهِ حَتَّى انْتَهَى إِلَى مَنِ اعْتَرَفَ بِأَنَّهُ وَجَمَاعَةً وَضَعُوهُ، وَإِنَّ أَثَرَ الْوَضْعِ لَبَيِّنٌ عَلَيْهِ، وَلَقَدْ أَخْطَأَ الْوَاحِدِيُّ الْمُفَسِّرُ، وَمَنْ ذَكَرَهُ مِنَ الْمُفَسِّرِينَ فِي إِيدَاعِهِ تَفَاسِيرَهُمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Demikian pula keadaan hadits panjang yang diriwayatkan dari Ubay bin Ka'ab, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tentang keutamaan Al-Qur'an surah demi surah. Seorang peneliti telah menelusuri asal-usulnya hingga sampai kepada orang yang mengaku bahwa dirinya bersama sekelompok orang telah memalsukannya, dan sesungguhnya tanda-tanda pemalsuan itu memang jelas terlihat padanya. Sungguh, al-Wahidi sang ahli tafsir, dan para mufasir lain yang menyebutkannya, telah keliru karena memasukkannya ke dalam kitab-kitab tafsir mereka. Wallahu a'lam."

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 95-98.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email