Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 66: Wathan (Tanah Air) Para Perawi

Siluet menara masjid saat senja, ilustrasi untuk artikel "Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 66: Wathan (Tanah Air) Para Perawi"

النَّوْعُ الْخَامِسُ وَالسِّتُّونَ: مَعْرِفَةُ أَوْطَانِ الرُّوَاةِ وَبُلْدَانِهِمْ
"Anwa' keenam puluh lima: mengenal wathan (tanah air) dan negeri asal para perawi."1

وَذَلِكَ مِمَّا يَفْتَقِرُ حُفَّاظُ الْحَدِيثِ إِلَى مَعْرِفَتِهِ فِي كَثِيرٍ مِنْ تَصَرُّفَاتِهِمْ، وَمِنْ مَظَانِّ ذِكْرِهِ " الطَّبَقَاتُ " لِابْنِ سَعْدٍ.
"Ini termasuk perkara yang sangat dibutuhkan pengetahuannya oleh para huffazh hadits dalam banyak tindakan (ilmiah) mereka, dan di antara rujukan yang memuatnya adalah kitab Ath-Thabaqat karya Ibnu Sa'd."

Peralihan dari Nisbah Kabilah kepada Nisbah Negeri

وَقَدْ كَانَتِ الْعَرَبُ إِنَّمَا تَنْتَسِبُ إِلَى قَبَائِلِهَا فَلَمَّا جَاءَ الْإِسْلَامُ، وَغَلَبَ عَلَيْهِمْ سُكْنَى الْقُرَى وَالْمَدَائِنِ، حَدَثَ فِيمَا بَيْنَهُمْ الِانْتِسَابُ إِلَى الْأَوْطَانِ كَمَا كَانَتِ الْعَجَمُ تَنْتَسِبُ، وَأَضَاعَ كَثِيرٌ مِنْهُمْ أَنْسَابَهُمْ، فَلَمْ يَبْقَ لَهُمْ غَيْرُ الِانْتِسَابِ إِلَى أَوْطَانِهِمْ.
"Dahulu orang-orang Arab hanya bernisbah kepada kabilah-kabilah mereka. Ketika Islam datang, dan mereka lebih banyak bermukim di desa-desa dan kota-kota, muncullah di antara mereka kebiasaan bernisbah kepada tanah air (negeri), sebagaimana kebiasaan bangsa 'Ajam (non-Arab) bernisbah. Banyak di antara mereka yang kehilangan (jejak) nasab mereka, sehingga tidak tersisa bagi mereka kecuali bernisbah kepada tanah air mereka."
وَمَنْ كَانَ مِنَ النَّاقِلَةِ مِنْ بَلَدٍ إِلَى بَلَدٍ، وَأَرَادَ الْجَمْعَ بَيْنَهُمَا فِي الِانْتِسَابِ، فَلْيَبْدَأْ بِالْأَوَّلِ، ثُمَّ بِالثَّانِي الْمُنْتَقِلِ إِلَيْهِ، وَحَسَنٌ أَنْ يُدْخِلَ عَلَى الثَّانِي كَلِمَةَ " ثُمَّ "، فَيُقَالُ فِي النَّاقِلَةِ مِنْ مِصْرَ إِلَى دِمَشْقَ مَثَلًا: " فُلَانٌ الْمِصْرِيُّ ثُمَّ الدِّمَشْقِيُّ ".
"Siapa yang berpindah dari satu negeri ke negeri lain, dan hendak menggabungkan keduanya dalam nisbahnya, maka hendaklah ia memulai dengan negeri pertama, kemudian negeri kedua yang ia pindah ke sana. Baik pula jika ia menyisipkan kata 'tsumma' (kemudian) sebelum negeri kedua. Maka dikatakan bagi orang yang berpindah dari Mesir ke Damaskus misalnya: 'Fulan al-Mishri tsumma ad-Dimasyqi'."
وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ قَرْيَةٍ مِنْ قُرَى بَلْدَةٍ فَجَائِزٌ أَنْ يَنْتَسِبَ إِلَى الْقَرْيَةِ، وَإِلَى الْبَلْدَةِ أَيْضًا، وَإِلَى النَّاحِيَةِ الَّتِي مِنْهَا تِلْكَ الْبَلْدَةُ أَيْضًا.
"Siapa yang berasal dari sebuah desa yang termasuk desa-desa dari suatu kota, maka boleh baginya bernisbah kepada desa itu, boleh pula kepada kota itu, dan boleh pula kepada wilayah yang menaungi kota tersebut."

Metode Ibnu Shalah: Mengikuti Al-Hakim

وَلْنَقْتَدِ بِالْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظِ، فَنَرْوِي أَحَادِيثَ بِأَسَانِيدِهَا، مُنَبِّهِينَ عَلَى بِلَادِ رُوَاتِهَا، وَمُسْتَحْسَنٌ مِنَ الْحَافِظِ أَنْ يُورِدَ الْحَدِيثَ بِإِسْنَادِهِ، ثُمَّ يَذْكُرَ أَوْطَانَ رِجَالِهِ وَاحِدًا فَوَاحِدًا، وَهَكَذَا غَيْرُ ذَلِكَ مِنْ أَحْوَالِهِمْ.
"Hendaklah kita mengikuti (teladan) Al-Hakim Abu 'Abdillah al-Hafizh. Maka kami akan meriwayatkan beberapa hadits berikut sanadnya, seraya menjelaskan negeri asal para perawinya. Termasuk hal yang baik bagi seorang hafizh adalah membawakan hadits berikut sanadnya, kemudian menyebutkan tanah air para perawinya satu demi satu, dan demikian pula keadaan-keadaan lain dari mereka."

Contoh Pertama: Larangan Saling Mendiamkan Lebih dari Tiga Hari

أَخْبَرَنِي الشَّيْخُ الْمُسْنِدُ الْمُعَمَّرُ أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُعَمَّرِ - رَحِمَهُ اللَّهُ - بِقِرَاءَتِي عَلَيْهِ بِبَغْدَادَ، قَالَ: أَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْبَاقِي بْنِ مُحَمَّدٍ الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: أَنَا أَبُو إِسْحَاقَ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَحْمَدَ الْبَرْمَكِيُّ، قَالَ: أَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَيُّوبَ بْنِ مَاسِي، قَالَ: ثَنَا أَبُو مُسْلِمٍ إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْكَجِّيُّ، قَالَ: ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: ثَنَا سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ عَنْ أَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"Asy-Syaikh al-Musnid al-Mu'ammar Abu Hafsh 'Umar bin Muhammad bin al-Mu'ammar - semoga Allah merahmatinya - mengabarkan kepadaku dengan bacaanku di hadapannya di Baghdad, ia berkata: Abu Bakr Muhammad bin 'Abdil Baqi bin Muhammad al-Anshari mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Ishaq bin 'Umar bin Ahmad al-Barmaki mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muhammad 'Abdullah bin Ibrahim bin Ayyub bin Masi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muslim Ibrahim bin 'Abdillah al-Kajji menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin 'Abdillah al-Anshari menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman at-Taimi menceritakan kepada kami, dari Anas, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"

" لَا هِجْرَةَ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ، أَوْ " قَالَ: " ثَلَاثِ لَيَالٍ ".
"Tidak boleh (seorang Muslim) saling mendiamkan sesama Muslim lebih dari tiga hari," atau beliau bersabda, "tiga malam."

Contoh Kedua: Menolong Saudara, Baik yang Berbuat Zalim Maupun yang Dizalimi

أَخْبَرَنِي الشَّيْخُ الْمُسْنِدُ أَبُو الْحَسَنِ الْمُؤَيَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ الْمُقْرِئُ رَحِمَهُ اللَّهُ بِقِرَاءَتِي عَلَيْهِ بِنَيْسَابُورَ عَوْدًا عَلَى بَدْءٍ، مِنْ ذَلِكَ مَرَّةً عَلَى رَأْسِ قَبْرِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجَّاجِ قَالَ: أَنَا فَقِيهُ الْحَرَمِ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ الْفَرَاوِيُّ عِنْدَ قَبْرِ مُسْلِمٍ أَيْضًا (ح) وَأَخْبَرَتْنِي أُمُّ الْمُؤَيَّدِ زَيْنَبُ بِنْتُ أَبِي الْقَاسِمِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَسَنِ الشَّعْرِيِّ بِقِرَاءَتِي عَلَيْهَا بِنَيْسَابُورَ مَرَّةً، وَبِقِرَاءَةِ غَيْرِي مَرَّةً أُخْرَى - رَحِمَهَا اللَّهُ - قُلْتُ: أَخْبَرَكِ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي الْقَاسِمِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الْقَارِئُ قِرَاءَةً عَلَيْهِ، قَالَا: أَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مَسْرُورٍ، قَالَ: أَنَا أَبُو عَمْرٍو إِسْمَاعِيلُ بْنُ نُجَيْدٍ السُّلَمِيُّ، قَالَ: أَنَا أَبُو مُسْلِمٍ إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْكَجِّيُّ، قَالَ: ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ قَالَ: حَدَّثَنِي حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"Asy-Syaikh al-Musnid Abu al-Hasan al-Mu'ayyad bin Muhammad bin 'Ali al-Muqri' - semoga Allah merahmatinya - mengabarkan kepadaku dengan bacaanku di hadapannya di Naysabur, berulang kali, di antaranya suatu kali di sisi makam Muslim bin al-Hajjaj, ia berkata: Faqihul Haram Abu 'Abdillah Muhammad bin al-Fadhl al-Farawi mengabarkan kepada kami, juga di sisi makam Muslim. (H) Dan Ummul Mu'ayyad Zainab binti Abi al-Qasim 'Abdurrahman bin al-Hasan asy-Sya'ri mengabarkan kepadaku - semoga Allah merahmatinya - dengan bacaanku di hadapannya di Naysabur sekali, dan dengan bacaan selainku sekali lagi. Aku berkata: Isma'il bin Abi al-Qasim bin Abi Bakr al-Qari' mengabarkan kepadamu dengan bacaan atasnya. Keduanya (Al-Farawi dan jalur Zainab) berkata: Abu Hafsh 'Umar bin Ahmad bin Masrur mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu 'Amr Isma'il bin Nujaid as-Sulami mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Muslim Ibrahim bin 'Abdillah al-Kajji mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin 'Abdillah al-Anshari menceritakan kepada kami, ia berkata: Humaid ath-Thawil menceritakan kepadaku, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:"

" انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا "، قُلْتُ: " يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ مَظْلُومًا، فَكَيْفَ أَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ " قَالَ: " تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ، فَذَلِكَ نَصْرُكَ إِيَّاهُ ".
"Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zalim maupun yang dizalimi." Aku (perawi) berkata, "Wahai Rasulullah, aku menolongnya jika ia dizalimi, tetapi bagaimana aku menolongnya jika ia berbuat zalim?" Beliau bersabda, "Engkau mencegahnya dari berbuat zalim, itulah bentuk pertolonganmu kepadanya."

Keterangan Ibnu Shalah tentang Kedua Isnad di Atas

الْحَدِيثَانِ عَالِيَانِ فِي السَّمَاعِ مَعَ نَظَافَةِ السَّنَدِ وَصِحَّةِ الْمَتْنِ، وَأَنَسٌ فِي الْأَوَّلِ، فَمَنْ دُونَهُ إِلَى أَبِي مُسْلِمٍ بَصْرِيُّونَ، وَمَنْ بَعْدَ أَبِي مُسْلِمٍ إِلَى شَيْخِنَا فِيهِ بَغْدَاذِيُّونَ، وَفِي الْحَدِيثِ الثَّانِي أَنَسٌ فَمَنْ دُونَهُ إِلَى أَبِي مُسْلِمٍ كَمَا ذَكَرْنَاهُ بَصْرِيُّونَ، وَمَنْ بَعْدَهُ مِنِ ابْنِ نُجَيْدٍ إِلَى شَيْخِنَا نَيْسَابُورِيُّونَ.
"Kedua hadits ini 'ali (tinggi/pendek sanadnya) dalam hal pendengaran, disertai kebersihan sanad dan kesahihan matan. Pada hadits pertama, (perawi Sahabatnya adalah) Anas, maka perawi di bawahnya sampai kepada Abu Muslim adalah orang-orang Bashrah, dan perawi setelah Abu Muslim sampai kepada guru kami adalah orang-orang Baghdad. Pada hadits kedua, (perawi Sahabatnya juga) Anas, maka perawi di bawahnya sampai kepada Abu Muslim, sebagaimana telah kami sebutkan, adalah orang-orang Bashrah, dan perawi setelahnya, mulai dari Ibnu Nujaid sampai kepada guru kami, adalah orang-orang Naysabur."

Contoh Ketiga: Dzikir Sesudah Salam

أَخْبَرَنِي الشَّيْخُ الزَّكِيُّ أَبُو الْفَتْحِ مَنْصُورُ بْنُ عَبْدِ الْمُنْعِمِ بْنِ أَبِي الْبَرَكَاتِ ابْنِ الْإِمَامِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَضْلِ الْفَرَاوِيُّ بِقِرَاءَتِي عَلَيْهِ بِنَيْسَابُورَ رَحِمَهُ اللَّهُ، قَالَ: أَنَا جَدِّي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو عُثْمَانَ سَعِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبَحِيرِيُّ - رَحِمَهُ اللَّهُ -، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو سَعِيدٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَمْدُونٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَبُو حَاتِمٍ مَكِّيُّ بْنُ عَبْدَانَ، قَالَ: أَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرٍ، قَالَ: أَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ: أَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَبْدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابَةَ أَنَّ وَرَّادًا مَوْلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَخْبَرَهُ أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ كَتَبَ إِلَى مُعَاوِيَةَ، كَتَبَ ذَلِكَ الْكِتَابَ لَهُ وَرَّادٌ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حِينَ يُسَلِّمُ:
"Asy-Syaikh az-Zaki Abu al-Fath Manshur bin 'Abdil Mun'im bin Abi al-Barakat, cucu Imam Abu 'Abdillah Muhammad bin al-Fadhl al-Farawi, mengabarkan kepadaku dengan bacaanku di hadapannya di Naysabur - semoga Allah merahmatinya - ia berkata: kakekku, Abu 'Abdillah Muhammad bin al-Fadhl, mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu 'Utsman Sa'id bin Muhammad al-Bahiri - semoga Allah merahmatinya - mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Sa'id Muhammad bin 'Abdillah bin Hamdun mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu Hatim Makki bin 'Abdan mengabarkan kepada kami, ia berkata: 'Abdurrahman bin Bisyr mengabarkan kepada kami, ia berkata: 'Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Juraij mengabarkan kepada kami, ia berkata: 'Abdah bin Abi Lubabah mengabarkan kepadaku, bahwa Warrad, maula al-Mughirah bin Syu'bah, mengabarkan kepadanya, bahwa al-Mughirah bin Syu'bah menulis surat kepada Mu'awiyah - surat itu ditulis oleh Warrad atas namanya - (yang isinya): 'Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda ketika salam (selesai shalat):'"

" لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجِدِّ مِنْكَ الْجَدُّ ".
"Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, satu-satunya, tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji. Ya Allah, tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau cegah, dan tidak berguna kekayaan/kedudukan seseorang di hadapan-Mu selain (ketaatan kepada-Mu)."

Keterangan Ibnu Shalah tentang Isnad Ketiga

الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ، وَوَرَّادٌ، وَعَبْدَةُ كُوفِيُّونَ، وَابْنُ جُرَيْجٍ مَكِّيٌّ، وَعَبْدُ الرَّزَّاقِ صَنْعَانِيٌّ يَمَانٍ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ بِشْرٍ فَشَيْخُنَا وَمَنْ بَيْنَهُمَا أَجْمَعُونَ نَيْسَابُورِيُّونَ.
"Al-Mughirah bin Syu'bah, Warrad, dan 'Abdah adalah orang-orang Kufah. Ibnu Juraij adalah orang Makkah. 'Abdurrazzaq adalah orang Shan'a, Yaman. Sedangkan 'Abdurrahman bin Bisyr, lalu guru kami, dan seluruh perawi di antara keduanya, semuanya adalah orang-orang Naysabur."2

Penutup Kitab

وَلِلَّهِ سُبْحَانَهُ الْحَمْدُ الْأَتَمُّ عَلَى مَا أَسْبَغَ مِنْ إِفْضَالِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَفْضَلَانِ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّينَ وَآلِ كُلٍّ، نِهَايَةَ مَا يَسْأَلُ السَّائِلُونَ، وَغَايَةَ مَا يَأْمُلُ الْآمِلُونَ.
"Dan bagi Allah subhanahu wa ta'ala segala puji yang paling sempurna atas karunia yang telah Dia limpahkan, serta shalawat dan salam yang paling utama atas junjungan kami Muhammad dan keluarganya, dan atas seluruh para nabi beserta keluarga masing-masing - itulah akhir dari apa yang diminta oleh para peminta, dan puncak dari apa yang diharapkan oleh para pengharap."
آمِينَ، آمِينَ، آمِينَ.
"Amin, amin, amin."3

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 404.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 404-407.

  3. Kalimat penutup asli Muqaddimah Ibnu Shalah, akhir kitab. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 408.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email