Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 33: Gharib al-Hadits

النَّوْعُ الثَّانِي وَالثَّلَاثُونَ: مَعْرِفَةُ غَرِيبِ الْحَدِيثِ
"Anwa' ketiga puluh dua: mengenal gharib al-hadits (lafal-lafal asing dalam matan hadits)."1

وَهُوَ عِبَارَةٌ عَمَّا وَقَعَ فِي مُتُونِ الْأَحَادِيثِ مِنَ الْأَلْفَاظِ الْغَامِضَةِ الْبَعِيدَةِ مِنَ الْفَهْمِ، لِقِلَّةِ اسْتِعْمَالِهَا.
"Ini adalah ungkapan untuk lafal-lafal yang samar dan sulit dipahami yang terdapat dalam matan-matan hadits, karena jarangnya penggunaan lafal tersebut."
هَذَا فَنٌّ مُهِمٌّ، يَقْبُحُ جَهْلُهُ بِأَهْلِ الْحَدِيثِ خَاصَّةً، ثُمَّ بِأَهْلِ الْعِلْمِ عَامَّةً، وَالْخَوْضُ فِيهِ لَيْسَ بِالْهَيِّنِ، وَالْخَائِضُ فِيهِ حَقِيقٌ بِالتَّحَرِّي جَدِيرٌ بِالتَّوَقِّي.
"Ini adalah disiplin ilmu yang penting, yang ketidaktahuan terhadapnya sangat tercela bagi ahli hadits khususnya, kemudian bagi ahli ilmu pada umumnya. Menekuninya bukanlah perkara mudah, dan orang yang menekuninya sepatutnya berhati-hati serta wajib bersikap waspada."
رُوِّينَا عَنِ الْمَيْمُونِيِّ قَالَ: ... سُئِلَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ حَرْفٍ مِنْ غَرِيبِ الْحَدِيثِ، فَقَالَ: "سَلُوا أَصْحَابَ الْغَرِيبِ، فَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ أَتَكَلَّمَ فِي قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِالظَّنِّ فَسَأُخْطِئُ" ... .
"Kami meriwayatkan dari al-Maimuni, ia berkata: ... Ahmad bin Hanbal ditanya tentang satu kata dari gharib al-hadits, maka ia berkata: 'tanyakanlah kepada para ahli gharib, karena aku enggan berbicara tentang sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya berdasarkan dugaan, sehingga aku akan keliru' ..."
وَبَلَغَنَا عَنِ التَّارِيخِيِّ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ: ... حَدَّثَنِي أَبُو قِلَابَةَ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: قُلْتُ لِلْأَصْمَعِيِّ: يَا أَبَا سَعِيدٍ، مَا مَعْنَى قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: "الْجَارُ أَحَقُّ بِسَقَبِهِ"؟ فَقَالَ: أَنَا لَا أُفَسِّرُ حَدِيثَ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَلَكِنَّ الْعَرَبَ تَزْعُمُ أَنَّ السَّقَبَ اللَّزِيقُ ... .
"Sampai kepada kami dari at-Tarikhi Muhammad bin Abdil Malik, ia berkata: ... Abu Qilabah Abdul Malik bin Muhammad menceritakan kepadaku, ia berkata: aku bertanya kepada al-Ashma'i: 'wahai Abu Sa'id, apa makna sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "tetangga lebih berhak atas saqab-nya"?' Ia menjawab: 'aku tidak menafsirkan hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi orang Arab menyatakan bahwa saqab artinya yang berdempetan (tetangga terdekat)' ..."

Kitab-Kitab Induk Gharib al-Hadits

ثُمَّ إِنَّ غَيْرَ وَاحِدٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ صَنَّفُوا فِي ذَلِكَ فَأَحْسَنُوا، وَرُوِّينَا عَنِ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظِ قَالَ: "أَوَّلُ مَنْ صَنَّفَ الْغَرِيبَ فِي الْإِسْلَامِ النَّضْرُ بْنُ شُمَيْلٍ"، وَمِنْهُمْ مَنْ خَالَفَهُ فَقَالَ: "أَوَّلُ مَنْ صَنَّفَ فِيهِ أَبُو عُبَيْدَةَ مَعْمَرُ بْنُ الْمُثَنَّى"، وَكِتَابَاهُمَا صَغِيرَانِ.
"Beberapa ulama menyusun karya tulis dalam bidang ini dengan sangat baik. Kami meriwayatkan dari al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh, ia berkata: 'orang pertama yang menyusun kitab gharib dalam Islam adalah an-Nadhr bin Syumail', sementara sebagian ulama berbeda pendapat dan mengatakan: 'orang pertama yang menyusun kitab dalam bidang ini adalah Abu Ubaidah Ma'mar bin al-Mutsanna', dan kedua kitab mereka berukuran kecil (ringkas)."
وَصَنَّفَ بَعْدَ ذَلِكَ أَبُو عُبَيْدٍ الْقَاسِمُ بْنُ سَلَّامٍ كِتَابَهُ الْمَشْهُورَ، فَجَمَعَ وَأَجَادَ وَاسْتَقْصَى، فَوَقَعَ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ بِمَوْقِعٍ جَلِيلٍ، وَصَارَ قُدْوَةً فِي هَذَا الشَّأْنِ.
"Setelah itu, Abu Ubaid al-Qasim bin Sallam menyusun kitabnya yang masyhur - ia menghimpun dengan baik dan menyeluruh, sehingga mendapat kedudukan yang agung di mata ahli ilmu, dan menjadi rujukan utama dalam bidang ini."
ثُمَّ تَتَبَّعَ الْقُتَيْبِيُّ مَا فَاتَ أَبَا عُبَيْدٍ، فَوَضَعَ فِيهِ كِتَابَهُ الْمَشْهُورَ.
"Kemudian al-Qutaibi menelusuri apa yang terlewat oleh Abu Ubaid, lalu menyusun kitabnya sendiri yang masyhur."
ثُمَّ تَتَبَّعَ أَبُو سُلَيْمَانَ الْخَطَّابِيُّ مَا فَاتَهُمَا، فَوَضَعَ فِي ذَلِكَ كِتَابَهُ الْمَشْهُورَ.
"Kemudian Abu Sulaiman al-Khaththabi menelusuri apa yang terlewat oleh keduanya, lalu menyusun kitabnya sendiri yang masyhur pula dalam bidang ini."
فَهَذِهِ الْكُتُبُ الثَّلَاثَةُ أُمَّهَاتُ الْكُتُبِ الْمُؤَلَّفَةِ فِي ذَلِكَ، وَوَرَاءَهَا مَجَامِعُ تَشْتَمِلُ مِنْ ذَلِكَ عَلَى زَوَائِدَ وَفَوَائِدَ كَثِيرَةٍ، وَلَا يَنْبَغِي أَنْ يُقَلَّدَ مِنْهَا إِلَّا مَا كَانَ مُصَنِّفُوهَا أَئِمَّةً جِلَّةً.
"Ketiga kitab inilah yang menjadi induk dari kitab-kitab yang disusun dalam bidang ini. Setelahnya ada pula kumpulan-kumpulan lain yang memuat tambahan dan faidah yang banyak, namun tidak sepatutnya bertaklid kecuali kepada kitab-kitab yang penyusunnya benar-benar imam yang mumpuni."

Contoh Penafsiran Gharib: Kisah Ibnu Shayyad

وَأَقْوَى مَا يُعْتَمَدُ عَلَيْهِ فِي تَفْسِيرِ غَرِيبِ الْحَدِيثِ: أَنْ يُظْفَرَ بِهِ مُفَسَّرًا فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ الْحَدِيثِ، نَحْوُ مَا رُوِيَ فِي حَدِيثِ ابْنِ صَيَّادٍ أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ لَهُ: "قَدْ خَبَّأْتُ لَكَ خَبِيئًا، فَمَا هُوَ؟. قَالَ: الدُّخُّ".
"Pegangan terkuat dalam menafsirkan gharib al-hadits adalah menemukannya sudah ditafsirkan sendiri dalam sebagian riwayat hadits itu, seperti apa yang diriwayatkan dalam hadits Ibnu Shayyad, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya: 'aku telah menyembunyikan sesuatu untukmu, apakah itu?' Ia menjawab: 'ad-Dukhkh.'"
فَهَذَا خَفِيَ مَعْنَاهُ وَأَعْضَلَ، وَفَسَّرَهُ قَوْمٌ بِمَا لَا يَصِحُّ. وَفِي مَعْرِفَةِ عُلُومِ الْحَدِيثِ لِلْحَاكِمِ أَنَّهُ الدَّخُّ بِمَعْنَى الزَّخِّ الَّذِي هُوَ الْجِمَاعُ، وَهَذَا تَخْلِيطٌ فَاحِشٌ يَغِيظُ الْعَالِمَ وَالْمُؤْمِنَ.
"Makna kata ini samar dan sulit dipahami, dan sebagian orang menafsirkannya dengan penafsiran yang tidak benar. Dalam kitab Ma'rifah 'Ulum al-Hadits karya al-Hakim disebutkan bahwa ad-Dukhkh bermakna az-Zakhkh, yaitu persetubuhan - ini adalah kekeliruan yang keji, yang membuat murka orang berilmu maupun orang beriman."
وَإِنَّمَا مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّ النَّبِيَّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ لَهُ: قَدْ أَضْمَرْتُ لَكَ ضَمِيرًا، فَمَا هُوَ؟ فَقَالَ: الدُّخُّ، بِضَمِّ الدَّالِ، يَعْنِي الدُّخَانَ، وَالدُّخُّ هُوَ الدُّخَانُ فِي لُغَةٍ، إِذْ فِي بَعْضِ رِوَايَاتِ الْحَدِيثِ مَا نَصُّهُ: ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: "إِنِّي قَدْ خَبَّأْتُ لَكَ خَبِيئًا" وَخَبَّأَ لَهُ: يَوْمَ تَأْتِي السَّمَاءُ بِدُخَانٍ مُبِينٍ.
"Sesungguhnya makna hadits itu adalah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya: 'aku telah menyembunyikan suatu rahasia untukmu, apakah itu?' Ia menjawab: 'ad-Dukhkh' - dengan dhammah pada huruf dal - maksudnya adalah asap (ad-dukhan), dan ad-Dukhkh menurut satu dialek Arab bermakna asap. Sebab dalam sebagian riwayat hadits ini disebutkan teksnya: kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkata: 'sesungguhnya aku telah menyembunyikan sesuatu untukmu', dan yang beliau sembunyikan itu adalah (ayat): 'pada hari langit membawa asap yang nyata.'"
فَقَالَ ابْنُ صَيَّادٍ: هُوَ الدُّخُّ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: "اخْسَأْ، فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ"، وَهَذَا ثَابِتٌ صَحِيحٌ، خَرَّجَهُ التِّرْمِذِيُّ وَغَيْرُهُ. فَأَدْرَكَ ابْنُ صَيَّادٍ مِنْ ذَلِكَ هَذِهِ الْكَلِمَةَ فَحَسْبُ، عَلَى عَادَةِ الْكُهَّانِ فِي اخْتِطَافِ بَعْضِ الشَّيْءِ مِنَ الشَّيَاطِينِ، مِنْ غَيْرِ وُقُوفٍ عَلَى تَمَامِ الْبَيَانِ. وَلِهَذَا قَالَ لَهُ: "اخْسَأْ، فَلَنْ تَعْدُوَ قَدْرَكَ" أَيْ فَلَا مَزِيدَ لَكَ عَلَى قَدْرِ إِدْرَاكِ الْكُهَّانِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ibnu Shayyad pun berkata: 'itulah ad-Dukhkh.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'hinalah engkau, engkau tidak akan pernah melampaui kadarmu.' Riwayat ini tsabit dan shahih, ditakhrij oleh at-Tirmidzi dan selainnya. Ibnu Shayyad hanya menangkap kata itu saja dari ayat tersebut, sebagaimana kebiasaan para dukun yang mencuri sepotong informasi dari setan-setan, tanpa memahami penjelasan yang utuh. Karena itulah Nabi berkata kepadanya: 'hinalah engkau, engkau tidak akan pernah melampaui kadarmu', maksudnya: tidak ada tambahan bagimu melebihi kadar pemahaman para dukun. Wallahu a'lam."2

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 272.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 272-275.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email