Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 20: Hadits Mudhtarib

An-Nau' At-Tasi' 'Asyar: Ma'rifatul Mudhtharib minal Hadits

الْمُضْطَرِبُ مِنَ الْحَدِيثِ: هُوَ الَّذِي تَخْتَلِفُ الرِّوَايَةُ فِيهِ فَيَرْوِيهِ بَعْضُهُمْ عَلَى وَجْهٍ وَبَعْضُهُمْ عَلَى وَجْهٍ آخَرَ مُخَالِفٍ لَهُ، وَإِنَّمَا نُسَمِّيهِ مُضْطَرِبًا إِذَا تَسَاوَتِ الرِّوَايَتَانِ. أَمَّا إِذَا تَرَجَّحَتْ إِحْدَاهُمَا بِحَيْثُ لَا تُقَاوِمُهَا الْأُخْرَى بِأَنْ يَكُونَ رَاوِيهَا أَحْفَظَ، أَوْ أَكْثَرَ صُحْبَةً لِلْمَرْوِيِّ عَنْهُ، أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهِ التَّرْجِيحَاتِ الْمُعْتَمَدَةِ، فَالْحُكْمُ لِلرَّاجِحَةِ، وَلَا يُطْلَقُ عَلَيْهِ حِينَئِذٍ وَصْفُ الْمُضْطَرِبِ وَلَا لَهُ حُكْمُهُ.
"Hadits mudhtarib adalah hadits yang riwayatnya berbeda-beda, di mana sebagian perawi meriwayatkannya dengan satu bentuk (wajah), sementara sebagian yang lain meriwayatkannya dengan bentuk lain yang menyelisihi bentuk pertama. Kita menyebutnya mudhtarib hanya apabila kedua riwayat tersebut sama kuat (setara). Adapun jika salah satu riwayat lebih unggul sehingga riwayat yang lain tidak sebanding dengannya — misalnya perawinya lebih kuat hafalannya, atau lebih lama bersama gurunya (orang yang ia riwayatkan darinya), atau sebab-sebab tarjih lain yang mu'tamad (dapat dijadikan pegangan) — maka hukumnya mengikuti riwayat yang lebih unggul (rajih), dan pada saat itu hadits tersebut tidak lagi disebut mudhtarib, dan tidak pula berlaku hukum idhthirab padanya."
ثُمَّ قَدْ يَقَعُ الِاضْطِرَابُ فِي مَتْنِ الْحَدِيثِ، وَقَدْ يَقَعُ فِي الْإِسْنَادِ، وَقَدْ يَقَعُ ذَلِكَ مِنْ رَاوٍ وَاحِدٍ: وَقَدْ يَقَعُ بَيْنَ رُوَاةٍ لَهُ جَمَاعَةٍ.
"Idhthirab (kegoncangan riwayat) ini terkadang terjadi pada matan hadits, dan terkadang terjadi pada sanadnya. Ia bisa terjadi dari seorang perawi tunggal yang meriwayatkannya secara berbeda-beda pada kesempatan berbeda, dan bisa pula terjadi di antara sekelompok perawi yang berbeda."
وَالِاضْطِرَابُ مُوجِبٌ ضَعْفَ الْحَدِيثِ؛ لِإِشْعَارِهِ بِأَنَّهُ لَمْ يُضْبَطْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Idhthirab mengharuskan kedha'ifan sebuah hadits, karena ia menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak terjaga (tidak dhabith) dengan baik dalam periwayatannya. Wallahu a'lam."
وَمِنْ أَمْثِلَتِهِ: مَا رُوِّينَاهُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ جَدِّهِ حُرَيْثٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمُصَلِّي: “إِذَا لَمْ يَجِدْ عَصًا يَنْصِبُهَا بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَخُطَّ خَطًّا”.
"Di antara contohnya: riwayat yang kami terima dari Isma'il bin Umayyah, dari Abu 'Amr bin Muhammad bin Huraits, dari kakeknya, Huraits, dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang orang yang shalat: ‘Apabila ia tidak mendapati tongkat untuk ditancapkan di hadapannya (sebagai sutrah), maka hendaklah ia membuat garis (khath).’"
فَرَوَاهُ بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ وَرَوْحُ بْنُ الْقَاسِمِ عَنْ إِسْمَاعِيلَ هَكَذَا. وَرَوَاهُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْهُ عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. وَرَوَاهُ حُمَيْدُ بْنُ الْأَسْوَدِ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ حُرَيْثِ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ. وَرَوَاهُ وُهَيْبٌ، وَعَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ أَبِي عَمْرِو بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ جَدِّهِ حُرَيْثٍ. وَقَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ سَمِعَ إِسْمَاعِيلُ عَنْ حُرَيْثِ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَفِيهِ مِنَ الِاضْطِرَابِ أَكْثَرُ كَمَا ذَكَرْنَاهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Bisyr bin al-Mufadhdhal dan Rauh bin al-Qasim meriwayatkannya dari Isma'il persis seperti itu. Sufyan ats-Tsauri meriwayatkannya darinya, dari Abu 'Amr bin Huraits, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Humaid bin al-Aswad meriwayatkannya dari Isma'il, dari Abu 'Amr bin Muhammad bin Huraits bin Sulaim, dari ayahnya, dari Abu Hurairah. Wuhaib dan 'Abdul Warits meriwayatkannya dari Isma'il, dari Abu 'Amr bin Huraits, dari kakeknya, Huraits. Sementara 'Abdurrazzaq berkata, dari Ibnu Juraij: Isma'il mendengarnya dari Huraits bin 'Ammar, dari Abu Hurairah — dan pada riwayat yang terakhir ini idhthirab-nya bahkan lebih banyak lagi sebagaimana telah kami sebutkan. Wallahu a'lam."1

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, an-Nau' at-Tasi' 'Asyar: Ma'rifatul Mudhtharib minal Hadits, hlm. 93–95.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email