Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 2: Hadits Shahih

النَّوْعُ الْأَوَّلُ مِنْ أَنْوَاعِ عُلُومِ الْحَدِيثِ: مَعْرِفَةُ الصَّحِيحِ مِنَ الْحَدِيثِ
"Anwa' pertama dari anwa' ilmu hadits: mengenal hadits yang shahih."1

اعْلَمْ - عَلَّمَكَ اللَّهُ وَإِيَّانَا - أَنَّ الْحَدِيثَ عِنْدَ أَهْلِهِ يَنْقَسِمُ إِلَى: صَحِيحٍ، وَحَسَنٍ، وَضَعِيفٍ. أَمَّا الْحَدِيثُ الصَّحِيحُ: فَهُوَ الْحَدِيثُ الْمُسْنَدُ الَّذِي يَتَّصِلُ إِسْنَادُهُ بِنَقْلِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ عَنِ الْعَدْلِ الضَّابِطِ إِلَى مُنْتَهَاهُ، وَلَا يَكُونُ شَاذًّا، وَلَا مُعَلَّلًا.
"Ketahuilah -semoga Allah mengajariku dan engkau- bahwa hadits menurut ahlinya terbagi menjadi: shahih, hasan, dan dha'if. Adapun hadits shahih: yaitu hadits musnad yang sanadnya bersambung melalui periwayatan orang yang adil lagi dhabit (kuat hafalan/catatannya), dari orang yang adil lagi dhabit pula, sampai ke ujung sanadnya, serta tidak syadz dan tidak mu'allal (tidak mengandung 'illat/cacat tersembunyi)."
وَفِي هَذِهِ الْأَوْصَافِ احْتِرَازٌ عَنِ الْمُرْسَلِ، وَالْمُنْقَطِعِ، وَالْمُعْضَلِ، وَالشَّاذِّ، وَمَا فِيهِ عِلَّةٌ قَادِحَةٌ، وَمَا فِي رَاوِيهِ نَوْعُ جَرْحٍ. وَهَذِهِ أَنْوَاعٌ يَأْتِي ذِكْرُهَا إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
"Sifat-sifat ini mengandung pengecualian (ihtiraz) terhadap hadits mursal, munqathi', mu'dhal, syadz, hadits yang mengandung 'illat yang mencacatkan, dan hadits yang perawinya memiliki sejenis jarh (celaan). Semua ini adalah anwa' yang akan disebutkan nanti, insya Allah Tabaraka wa Ta'ala."
فَهَذَا هُوَ الْحَدِيثُ الَّذِي يُحْكَمُ لَهُ بِالصِّحَّةِ بِلَا خِلَافٍ بَيْنَ أَهْلِ الْحَدِيثِ. وَقَدْ يَخْتَلِفُونَ فِي صِحَّةِ بَعْضِ الْأَحَادِيثِ لِاخْتِلَافِهِمْ فِي وُجُودِ هَذِهِ الْأَوْصَافِ فِيهِ، أَوْ لِاخْتِلَافِهِمْ فِي اشْتِرَاطِ بَعْضِ هَذِهِ الْأَوْصَافِ، كَمَا فِي الْمُرْسَلِ.
"Inilah hadits yang dihukumi shahih tanpa ada perselisihan di antara ahli hadits. Mereka memang bisa berselisih tentang keshahihan sebagian hadits, karena perselisihan mereka dalam menilai ada-tidaknya sifat-sifat ini pada hadits tersebut, atau karena perselisihan mereka dalam mensyaratkan sebagian sifat ini, sebagaimana pada hadits mursal."
وَمَتَى قَالُوا: "هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ" فَمَعْنَاهُ: أَنَّهُ اتَّصَلَ سَنَدُهُ مَعَ سَائِرِ الْأَوْصَافِ الْمَذْكُورَةِ، وَلَيْسَ مِنْ شَرْطِهِ أَنْ يَكُونَ مَقْطُوعًا بِهِ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، إِذْ مِنْهُ مَا يَنْفَرِدُ بِرِوَايَتِهِ عَدْلٌ وَاحِدٌ، وَلَيْسَ مِنَ الْأَخْبَارِ الَّتِي أَجْمَعَتِ الْأُمَّةُ عَلَى تَلَقِّيهَا بِالْقَبُولِ.
"Apabila mereka (ahli hadits) berkata: 'ini hadits shahih', maknanya adalah: sanadnya bersambung disertai seluruh sifat yang telah disebutkan. Bukan termasuk syaratnya bahwa hadits itu pasti benar (maqthu' bihi) pada hakikatnya, karena di antaranya ada yang periwayatannya hanya disendirikan oleh satu orang yang adil, dan bukan termasuk kabar-kabar yang telah disepakati umat untuk diterima."
وَكَذَلِكَ إِذَا قَالُوا فِي حَدِيثٍ: "إِنَّهُ غَيْرُ صَحِيحٍ" فَلَيْسَ ذَلِكَ قَطْعًا بِأَنَّهُ كَذِبٌ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، إِذْ قَدْ يَكُونُ صِدْقًا فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، وَإِنَّمَا الْمُرَادُ بِهِ أَنَّهُ لَمْ يَصِحَّ إِسْنَادُهُ عَلَى الشَّرْطِ الْمَذْكُورِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Begitu pula apabila mereka berkata tentang suatu hadits: 'ini tidak shahih', itu bukan berarti pasti hadits itu dusta pada hakikatnya, karena bisa jadi ia tetap benar pada hakikatnya. Yang dimaksud hanyalah bahwa sanadnya tidak shahih menurut syarat yang telah disebutkan. Wallahu a'lam."2

Faidah-Faidah Penting

Faidah pertama:
الصَّحِيحُ يَتَنَوَّعُ إِلَى مُتَّفَقٍ عَلَيْهِ، وَمُخْتَلَفٍ فِيهِ، كَمَا سَبَقَ ذِكْرُهُ. وَيَتَنَوَّعُ إِلَى مَشْهُورٍ، وَغَرِيبٍ، وَبَيْنَ ذَلِكَ. ثُمَّ إِنَّ دَرَجَاتِ الصَّحِيحِ تَتَفَاوَتُ فِي الْقُوَّةِ بِحَسَبِ تَمَكُّنِ الْحَدِيثِ مِنَ الصِّفَاتِ الْمَذْكُورَةِ الَّتِي تَنْبَنِي الصِّحَّةُ عَلَيْهَا، وَتَنْقَسِمُ بِاعْتِبَارِ ذَلِكَ إِلَى أَقْسَامٍ يَسْتَعْصِي إِحْصَاؤُهَا عَلَى الْعَادِّ الْحَاصِرِ. وَلِهَذَا نَرَى الْإِمْسَاكَ عَنِ الْحُكْمِ لِإِسْنَادٍ أَوْ حَدِيثٍ بِأَنَّهُ الْأَصَحُّ عَلَى الْإِطْلَاقِ. عَلَى أَنَّ جَمَاعَةً مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ خَاضُوا غَمْرَةَ ذَلِكَ، فَاضْطَرَبَتْ أَقْوَالُهُمْ.
"Hadits shahih terbagi menjadi muttafaq 'alaih (disepakati) dan mukhtalaf fih (diperselisihkan), sebagaimana telah disebutkan. Ia juga terbagi menjadi masyhur, gharib, dan yang di antara keduanya. Kemudian, derajat-derajat hadits shahih itu berbeda-beda kekuatannya sesuai kadar terpenuhinya sifat-sifat yang telah disebutkan, yang menjadi dasar keshahihan itu sendiri, dan dari sisi ini ia terbagi menjadi bagian-bagian yang sulit dihitung oleh siapa pun yang hendak membatasinya. Oleh karena itu, kami memilih untuk menahan diri dari menetapkan satu sanad atau hadits tertentu sebagai yang paling shahih secara mutlak. Meski demikian, sejumlah imam hadits telah menyelami permasalahan ini, sehingga pendapat mereka pun berbeda-beda."

فَرُوِّينَا عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ رَاهَوَيْهِ أَنَّهُ قَالَ: "أَصَحُّ الْأَسَانِيدِ كُلِّهَا: الزُّهْرِيُّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ". وَرُوِّينَا نَحْوَهُ عَنْ (أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ).
"Kami meriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih, ia berkata: 'sanad yang paling shahih dari semuanya adalah: az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya.' Kami juga meriwayatkan yang semisal itu dari Ahmad bin Hanbal."
وَرُوِّينَا عَنْ عَمْرِو بْنِ عَلِيٍّ الْفَلَّاسِ أَنَّهُ قَالَ: "أَصَحُّ الْأَسَانِيدِ: مُحَمَّدُ بْنُ سِيرِينَ عَنْ عُبَيْدَةَ عَنْ عَلِيٍّ". وَرُوِّينَا نَحْوَهُ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ، وَرُوِيَ ذَلِكَ عَنْ غَيْرِهِمَا.
"Kami meriwayatkan dari Amr bin Ali al-Fallas, ia berkata: 'sanad yang paling shahih adalah: Muhammad bin Sirin, dari Ubaidah, dari Ali.' Kami juga meriwayatkan yang semisal itu dari Ali bin al-Madini, dan diriwayatkan pula dari selain keduanya."
ثُمَّ مِنْهُمْ مَنْ عَيَّنَ الرَّاوِيَ عَنْ مُحَمَّدٍ، وَجَعَلَهُ أَيُّوبَ السِّخْتِيَانِيَّ. وَمِنْهُمْ مَنْ جَعَلَهُ ابْنَ عَوْنٍ. وَفِيمَا نَرْوِيهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ قَالَ: "أَجْوَدُهَا الْأَعْمَشُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ".
"Kemudian sebagian mereka menentukan siapa perawi dari Muhammad (bin Sirin) tersebut, dan menjadikannya Ayyub as-Sikhtiyani. Sebagian lain menjadikannya Ibnu Aun. Dan di antara yang kami riwayatkan dari Yahya bin Ma'in, ia berkata: 'yang paling baik adalah: al-A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah.'"
وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: "أَصَحُّ الْأَسَانِيدِ كُلِّهَا الزُّهْرِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيٍّ". وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْبُخَارِيِّ - صَاحِبِ الصَّحِيحِ - أَنَّهُ قَالَ: "أَصَحُّ الْأَسَانِيدِ كُلِّهَا: مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ". وَبَنَى الْإِمَامُ أَبُو مَنْصُورٍ عَبْدُ الْقَاهِرِ بْنُ طَاهِرٍ التَّمِيمِيُّ عَلَى ذَلِكَ: أَنَّ أَجَلَّ الْأَسَانِيدِ: "الشَّافِعِيُّ عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ" وَاحْتَجَّ بِإِجْمَاعِ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ عَلَى أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ فِي الرُّوَاةِ عَنْ مَالِكٍ أَجَلُّ مِنَ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kami meriwayatkan dari Abu Bakr bin Abi Syaibah, ia berkata: 'sanad yang paling shahih dari semuanya adalah az-Zuhri, dari Ali bin al-Husain, dari ayahnya, dari Ali.' Kami juga meriwayatkan dari Abu Abdillah al-Bukhari -penulis kitab Shahih- bahwa ia berkata: 'sanad yang paling shahih dari semuanya adalah: Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar.' Imam Abu Manshur Abdul Qahir bin Thahir at-Tamimi membangun kesimpulan dari pernyataan itu, bahwa sanad paling agung adalah: 'asy-Syafi'i, dari Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar', dengan berhujjah pada ijma' ahli hadits bahwa tidak ada perawi dari Malik yang lebih agung daripada asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhum ajma'in. Wallahu a'lam."3

Faidah kedua:
إِذَا وَجَدْنَا فِيمَا يُرْوَى مِنْ أَجْزَاءِ الْحَدِيثِ وَغَيْرِهَا حَدِيثًا صَحِيحَ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ نَجِدْهُ فِي أَحَدِ الصَّحِيحَيْنِ، وَلَا مَنْصُوصًا عَلَى صِحَّتِهِ فِي شَيْءٍ مِنْ مُصَنَّفَاتِ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ الْمُعْتَمَدَةِ الْمَشْهُورَةِ، فَإِنَّا لَا نَتَجَاسَرُ عَلَى جَزْمِ الْحُكْمِ بِصِحَّتِهِ، فَقَدْ تَعَذَّرَ فِي هَذِهِ الْأَعْصَارِ الِاسْتِقْلَالُ بِإِدْرَاكِ الصَّحِيحِ بِمُجَرَّدِ اعْتِبَارِ الْأَسَانِيدِ؛ لِأَنَّهُ مَا مِنْ إِسْنَادٍ مِنْ ذَلِكَ إِلَّا وَنَجِدُ فِي رِجَالِهِ مَنِ اعْتَمَدَ فِي رِوَايَتِهِ عَلَى مَا فِي كِتَابِهِ، عَرِيًّا عَمَّا يُشْتَرَطُ فِي الصَّحِيحِ مِنَ الْحِفْظِ وَالضَّبْطِ وَالْإِتْقَانِ. فَآلَ الْأَمْرُ إِذًا - فِي مَعْرِفَةِ الصَّحِيحِ وَالْحَسَنِ - إِلَى الِاعْتِمَادِ عَلَى مَا نَصَّ عَلَيْهِ أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ فِي تَصَانِيفِهِمُ الْمُعْتَمَدَةِ الْمَشْهُورَةِ، الَّتِي يُؤْمَنُ فِيهَا - لِشُهْرَتِهَا - مِنَ التَّغْيِيرِ وَالتَّحْرِيفِ، وَصَارَ مُعْظَمُ الْمَقْصُودِ بِمَا يُتَدَاوَلُ مِنَ الْأَسَانِيدِ خَارِجًا عَنْ ذَلِكَ إِبْقَاءَ سِلْسِلَةِ الْإِسْنَادِ الَّتِي خُصَّتْ بِهَا هَذِهِ الْأُمَّةُ، زَادَهَا اللَّهُ تَعَالَى شَرَفًا، آمِينَ.
"Apabila kami mendapati, dalam apa yang diriwayatkan berupa juz-juz hadits dan lainnya, sebuah hadits yang sanadnya shahih, namun kami tidak mendapatinya di salah satu dari Shahihain (Shahih Bukhari-Muslim), dan tidak pula ada nash yang menegaskan keshahihannya dalam kitab-kitab karya para imam hadits yang mu'tamad (diakui) dan masyhur, maka kami tidak berani memastikan hukum keshahihannya. Sebab, pada zaman-zaman ini telah mustahil untuk mengenali hadits shahih semata-mata dengan menilai sanad, karena tidak ada satu pun sanad melainkan kami dapati di kalangan perawinya orang yang dalam periwayatannya hanya mengandalkan apa yang ada dalam kitabnya, tanpa memenuhi syarat hafalan, dhabt, dan itqan (ketelitian) yang disyaratkan pada hadits shahih. Maka, dalam mengenal hadits shahih dan hasan, kembalilah persoalannya kepada mengandalkan apa yang telah dinyatakan oleh para imam hadits dalam karya-karya mereka yang mu'tamad dan masyhur, yang karena kemasyhurannya itu aman dari perubahan dan penyimpangan. Sebagian besar tujuan dari sanad-sanad yang beredar saat ini, di luar itu, adalah menjaga kelestarian rangkaian isnad yang menjadi kekhususan umat ini -semoga Allah Ta'ala menambahkan kemuliaan baginya-, amin."4

Faidah ketiga:
أَوَّلُ مَنْ صَنَّفَ الصَّحِيحَ الْبُخَارِيُّ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْجُعْفِيُّ مَوْلَاهُمْ. وَتَلَاهُ أَبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ النَّيْسَابُورِيُّ الْقُشَيْرِيُّ مِنْ أَنْفُسِهِمْ. وَمُسْلِمٌ - مَعَ أَنَّهُ أَخَذَ عَنِ الْبُخَارِيِّ وَاسْتَفَادَ مِنْهُ - يُشَارِكُهُ فِي أَكْثَرِ شُيُوخِهِ.
"Orang pertama yang menyusun kitab Shahih adalah al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Isma'il al-Ju'fi -budak mereka (maula). Kemudian disusul oleh Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj an-Naisaburi al-Qusyairi, yang berasal dari kalangan (Bani Qusyair) sendiri. Muslim -meskipun ia mengambil ilmu dari al-Bukhari dan mengambil manfaat darinya- juga bersekutu dengannya dalam kebanyakan guru-gurunya."

وَكِتَابَاهُمَا أَصَحُّ الْكُتُبِ بَعْدَ كِتَابِ اللَّهِ الْعَزِيزِ. وَأَمَّا مَا رُوِّينَا عَنِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ أَنَّهُ قَالَ: "مَا أَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ كِتَابًا فِي الْعِلْمِ أَكْثَرَ صَوَابًا مِنْ كِتَابِ مَالِكٍ"، وَمِنْهُمْ مَنْ رَوَاهُ بِغَيْرِ هَذَا اللَّفْظِ، فَإِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ قَبْلَ وُجُودِ كِتَابَيِ الْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ. ثُمَّ إِنَّ كِتَابَ الْبُخَارِيِّ أَصَحُّ الْكِتَابَيْنِ صَحِيحًا، وَأَكْثَرُهُمَا فَوَائِدَ.
"Kedua kitab mereka berdua adalah kitab paling shahih setelah Kitabullah 'Azza wa Jalla. Adapun apa yang kami riwayatkan dari asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata: 'aku tidak mengetahui di muka bumi ada kitab ilmu yang lebih banyak kebenarannya daripada kitab (Muwaththa') Malik', dan sebagian meriwayatkannya dengan redaksi yang berbeda, maka sesungguhnya beliau mengatakan itu sebelum keberadaan kitab al-Bukhari dan Muslim. Kemudian, kitab al-Bukhari lebih shahih keshahihannya dibanding kedua kitab itu, dan lebih banyak faidahnya."
وَأَمَّا مَا رُوِّينَاهُ عَنْ أَبِي عَلِيٍّ الْحَافِظِ النَّيْسَابُورِيِّ أُسْتَاذِ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظِ مِنْ أَنَّهُ قَالَ: "مَا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ كِتَابٌ أَصَحُّ مِنْ كِتَابِ مُسْلِمِ بْنِ الْحَجَّاجِ"، فَهَذَا وَقَوْلُ مَنْ فَضَّلَ مِنْ شُيُوخِ الْمَغْرِبِ كِتَابَ مُسْلِمٍ عَلَى كِتَابِ الْبُخَارِيِّ، إِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ أَنَّ كِتَابَ مُسْلِمٍ يَتَرَجَّحُ بِأَنَّهُ لَمْ يُمَازِجْهُ غَيْرُ الصَّحِيحِ، فَإِنَّهُ لَيْسَ فِيهِ بَعْدَ خُطْبَتِهِ إِلَّا الْحَدِيثُ الصَّحِيحُ مَسْرُودًا، غَيْرَ مَمْزُوجٍ بِمِثْلِ مَا فِي كِتَابِ الْبُخَارِيِّ فِي تَرَاجِمِ أَبْوَابِهِ مِنَ الْأَشْيَاءِ الَّتِي لَمْ يُسْنِدْهَا عَلَى الْوَصْفِ الْمَشْرُوطِ فِي الصَّحِيحِ، فَهَذَا لَا بَأْسَ بِهِ. وَلَيْسَ يَلْزَمُ مِنْهُ أَنَّ كِتَابَ مُسْلِمٍ أَرْجَحُ فِيمَا يَرْجِعُ إِلَى نَفْسِ الصَّحِيحِ عَلَى كِتَابِ الْبُخَارِيِّ. وَإِنْ كَانَ الْمُرَادُ بِهِ أَنَّ كِتَابَ مُسْلِمٍ أَصَحُّ صَحِيحًا، فَهَذَا مَرْدُودٌ عَلَى مَنْ يَقُولُهُ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun apa yang kami riwayatkan dari Abu Ali al-Hafizh an-Naisaburi, guru al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh, bahwa ia berkata: 'tidak ada di kolong langit kitab yang lebih shahih daripada kitab Muslim bin al-Hajjaj', maka ucapan ini, dan ucapan sebagian guru-guru Maghrib yang mengunggulkan kitab Muslim atas kitab al-Bukhari, jika yang dimaksud adalah bahwa kitab Muslim lebih unggul karena tidak tercampur dengan selain yang shahih -sebab tidak ada di dalamnya, setelah muqadimahnya, kecuali hadits shahih yang disusun berurutan, tidak bercampur dengan hal-hal seperti yang terdapat dalam judul-judul bab kitab al-Bukhari yang tidak beliau sandarkan dengan sifat yang disyaratkan pada hadits shahih- maka ini tidak mengapa. Namun tidak mengharuskan bahwa kitab Muslim lebih unggul dalam hal keshahihan itu sendiri dibanding kitab al-Bukhari. Namun jika yang dimaksud adalah bahwa kitab Muslim lebih shahih keshahihannya (dibanding Bukhari), maka ini tertolak bagi siapa pun yang mengatakannya. Wallahu a'lam."5

Faidah keempat:
لَمْ يَسْتَوْعِبَا الصَّحِيحَ فِي صَحِيحَيْهِمَا، وَلَا الْتَزَمَا ذَلِكَ. فَقَدْ رُوِّينَا عَنِ الْبُخَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ: "مَا أَدْخَلْتُ فِي كِتَابِي (الْجَامِعِ) إِلَّا مَا صَحَّ، وَتَرَكْتُ مِنَ الصِّحَاحِ لِحَالِ الطُّولِ".
"Al-Bukhari dan Muslim tidak menghimpun seluruh hadits shahih dalam kedua kitab Shahih mereka, dan mereka berdua pun tidak mengikatkan diri untuk melakukan itu. Kami meriwayatkan dari al-Bukhari bahwa ia berkata: 'aku tidak memasukkan ke dalam kitabku (al-Jami') kecuali apa yang shahih, dan aku meninggalkan sebagian hadits shahih karena alasan panjangnya pembahasan (bila dimasukkan seluruhnya).'"

وَرُوِّينَا عَنْ مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ: "لَيْسَ كُلُّ شَيْءٍ عِنْدِي صَحِيحٌ وَضَعْتُهُ هَاهُنَا - يَعْنِي فِي كِتَابِهِ الصَّحِيحِ - إِنَّمَا وَضَعْتُ هَاهُنَا مَا أَجْمَعُوا عَلَيْهِ". قُلْتُ: أَرَادَ - وَاللَّهُ أَعْلَمُ - أَنَّهُ لَمْ يَضَعْ فِي كِتَابِهِ إِلَّا الْأَحَادِيثَ الَّتِي وَجَدَ عِنْدَهُ فِيهَا شَرَائِطَ الصَّحِيحِ الْمُجْمَعِ عَلَيْهِ، وَإِنْ لَمْ يَظْهَرِ اجْتِمَاعُهَا فِي بَعْضِهَا عِنْدَ بَعْضِهِمْ.
"Kami meriwayatkan dari Muslim bahwa ia berkata: 'bukan berarti setiap yang shahih menurutku aku masukkan ke sini -yakni ke dalam kitab Shahih-nya-, aku hanya memasukkan ke sini apa yang telah disepakati (para ulama) atasnya.' Aku (Ibnu Shalah) berkata: yang beliau maksud -wallahu a'lam- adalah bahwa ia tidak memasukkan ke dalam kitabnya kecuali hadits-hadits yang menurutnya telah memenuhi syarat-syarat keshahihan yang disepakati, sekalipun terpenuhinya syarat-syarat itu pada sebagiannya tidak tampak jelas menurut sebagian ulama lain."
ثُمَّ إِنَّ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ بْنَ الْأَخْرَمِ الْحَافِظَ قَالَ: "قَلَّ مَا يَفُوتُ الْبُخَارِيَّ وَمُسْلِمًا مِمَّا يَثْبُتُ مِنَ الْحَدِيثِ". يَعْنِي فِي كِتَابَيْهِمَا. وَلِقَائِلٍ أَنْ يَقُولَ: لَيْسَ ذَلِكَ بِالْقَلِيلِ، فَإِنَّ الْمُسْتَدْرَكَ عَلَى الصَّحِيحَيْنِ لِلْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ كِتَابٌ كَبِيرٌ، يَشْتَمِلُ مِمَّا فَاتَهُمَا عَلَى شَيْءٍ كَثِيرٍ، وَإِنْ يَكُنْ عَلَيْهِ فِي بَعْضِهِ مَقَالٌ فَإِنَّهُ يَصْفُو لَهُ مِنْهُ صَحِيحٌ كَثِيرٌ.
"Kemudian, Abu Abdillah bin al-Akhram al-Hafizh berkata: 'sedikit sekali hadits yang tsabit (kuat) yang luput dari al-Bukhari dan Muslim', yakni dari kedua kitab mereka. Namun ada yang bisa membantah: itu bukanlah sesuatu yang sedikit, sebab kitab al-Mustadrak 'alash-Shahihain karya al-Hakim Abu Abdillah adalah kitab besar, yang memuat banyak hadits yang luput dari keduanya. Dan sekalipun ada sebagian isinya yang diperbincangkan (kualitasnya), tetap saja tersaring darinya hadits-hadits shahih yang banyak."
وَقَدْ قَالَ الْبُخَارِيُّ: "أَحْفَظُ مِائَةَ أَلْفِ حَدِيثٍ صَحِيحٍ، وَمِائَتَيْ أَلْفِ حَدِيثٍ غَيْرِ صَحِيحٍ"، وَجُمْلَةُ مَا فِي كِتَابِهِ الصَّحِيحِ سَبْعَةُ آلَافٍ وَمِائَتَانِ وَخَمْسَةٌ وَسَبْعُونَ حَدِيثًا بِالْأَحَادِيثِ الْمُتَكَرِّرَةِ. وَقَدْ قِيلَ: إِنَّهَا بِإِسْقَاطِ الْمُكَرَّرَةِ أَرْبَعَةُ آلَافِ حَدِيثٍ، إِلَّا أَنَّ هَذِهِ الْعِبَارَةَ قَدْ يَنْدَرِجُ تَحْتَهَا عِنْدَهُمْ آثَارُ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَرُبَّمَا عُدَّ الْحَدِيثُ الْوَاحِدُ الْمَرْوِيُّ بِإِسْنَادَيْنِ حَدِيثَيْنِ.
"Al-Bukhari pernah berkata: 'aku hafal seratus ribu hadits shahih, dan dua ratus ribu hadits yang tidak shahih.' Jumlah keseluruhan hadits dalam kitab Shahih-nya adalah tujuh ribu dua ratus tujuh puluh lima hadits, dengan hadits-hadits yang berulang. Dikatakan pula, jika hadits yang berulang dibuang, jumlahnya menjadi empat ribu hadits, hanya saja ungkapan ini terkadang mencakup di dalamnya atsar sahabat dan tabi'in menurut mereka, dan terkadang satu hadits yang diriwayatkan dengan dua sanad dihitung sebagai dua hadits."6
ثُمَّ إِنَّ الزِّيَادَةَ فِي الصَّحِيحِ عَلَى مَا فِي الْكِتَابَيْنِ يَتَلَقَّاهَا طَالِبُهَا مِمَّا اشْتَمَلَ عَلَيْهِ أَحَدُ الْمُصَنَّفَاتِ الْمُعْتَمَدَةِ الْمَشْهُورَةِ لِأَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، كَأَبِي دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيِّ، وَأَبِي عِيسَى التِّرْمِذِيِّ، وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ النَّسَائِيِّ، وَأَبِي بَكْرِ بْنِ خُزَيْمَةَ، وَأَبِي الْحَسَنِ الدَّارَقُطْنِيِّ، وَغَيْرِهِمْ. مَنْصُوصًا عَلَى صِحَّتِهِ فِيهَا.
"Kemudian, tambahan hadits shahih di luar apa yang ada dalam kedua kitab (Bukhari-Muslim) itu, dapat diperoleh siapa saja yang mencarinya dari apa yang termuat dalam salah satu karya para imam hadits yang mu'tamad dan masyhur, seperti Abu Dawud as-Sijistani, Abu Isa at-Tirmidzi, Abu Abdirrahman an-Nasa'i, Abu Bakr bin Khuzaimah, Abu al-Hasan ad-Daraquthni, dan selain mereka -selama keshahihannya dinyatakan secara tegas (nash) dalam kitab-kitab itu."
وَلَا يَكْفِي فِي ذَلِكَ مُجَرَّدُ كَوْنِهِ مَوْجُودًا فِي كِتَابِ أَبِي دَاوُدَ، وَكِتَابِ التِّرْمِذِيِّ، وَكِتَابِ النَّسَائِيِّ، وَسَائِرِ مَنْ جَمَعَ فِي كِتَابِهِ بَيْنَ الصَّحِيحِ وَغَيْرِهِ. وَيَكْفِي مُجَرَّدُ كَوْنِهِ مَوْجُودًا فِي كُتُبِ مَنِ اشْتَرَطَ مِنْهُمُ الصَّحِيحَ فِيمَا جَمَعَهُ، كَكِتَابِ ابْنِ خُزَيْمَةَ، وَكَذَلِكَ مَا يُوجَدُ فِي الْكُتُبِ الْمُخَرَّجَةِ عَلَى كِتَابِ الْبُخَارِيِّ وَكِتَابِ مُسْلِمٍ، كَكِتَابِ أَبِي عَوَانَةَ الْإِسْفَرَائِينِيِّ، وَكِتَابِ أَبِي بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيِّ، وَكِتَابِ أَبِي بَكْرٍ الْبُرْقَانِيِّ، وَغَيْرِهَا، مِنْ تَتِمَّةٍ لِمَحْذُوفٍ، أَوْ زِيَادَةِ شَرْحٍ فِي كَثِيرٍ مِنْ أَحَادِيثِ الصَّحِيحَيْنِ. وَكَثِيرٌ مِنْ هَذَا مَوْجُودٌ فِي (الْجَمْعِ بَيْنَ الصَّحِيحَيْنِ) لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحُمَيْدِيِّ.
"Tidak cukup dalam hal ini sekadar hadits itu terdapat dalam kitab Abu Dawud, kitab at-Tirmidzi, kitab an-Nasa'i, dan kitab-kitab lain yang penulisnya menghimpun hadits shahih bercampur dengan yang lainnya. Namun cukup sekadar hadits itu terdapat dalam kitab-kitab yang penulisnya mensyaratkan hanya memuat hadits shahih dalam apa yang ia himpun, seperti kitab Ibnu Khuzaimah. Begitu pula apa yang terdapat dalam kitab-kitab yang ditakhrij mengikuti kitab al-Bukhari dan kitab Muslim, seperti kitab Abu Awanah al-Isfarayini, kitab Abu Bakr al-Isma'ili, kitab Abu Bakr al-Burqani, dan lainnya, berupa penyempurnaan bagi yang terpotong, atau tambahan keterangan pada banyak hadits dalam kedua kitab Shahih. Banyak dari hal ini terdapat dalam kitab al-Jam'u bainash-Shahihain karya Abu Abdillah al-Humaidi."
وَاعْتَنَى الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ بِالزِّيَادَةِ فِي عَدَدِ الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ عَلَى مَا فِي الصَّحِيحَيْنِ، وَجَمَعَ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ سَمَّاهُ (الْمُسْتَدْرَكَ) أَوْدَعَهُ مَا لَيْسَ فِي وَاحِدٍ مِنَ الصَّحِيحَيْنِ مِمَّا رَآهُ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، قَدْ أَخْرَجَا عَنْ رُوَاتِهِ فِي كِتَابَيْهِمَا، أَوْ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ وَحْدَهُ، أَوْ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ وَحْدَهُ، وَمَا أَدَّى اجْتِهَادُهُ إِلَى تَصْحِيحِهِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَلَى شَرْطٍ وَاحِدٍ مِنْهُمَا.
"Al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh menaruh perhatian besar pada penambahan jumlah hadits shahih di luar apa yang ada dalam kedua kitab Shahih, dan menghimpun itu dalam sebuah kitab yang ia namakan al-Mustadrak, yang di dalamnya ia masukkan hadits-hadits yang tidak terdapat pada salah satu dari kedua kitab Shahih, yang menurutnya memenuhi syarat kedua Syaikh (Bukhari-Muslim) -yang perawinya telah dikeluarkan riwayatnya oleh keduanya dalam kedua kitab mereka-, atau memenuhi syarat al-Bukhari saja, atau memenuhi syarat Muslim saja, dan juga hadits-hadits yang menurut ijtihadnya layak dishahihkan sekalipun tidak memenuhi syarat salah satu dari keduanya."
وَهُوَ وَاسِعُ الْخَطْوِ فِي شَرْطِ الصَّحِيحِ، مُتَسَاهِلٌ فِي الْقَضَاءِ بِهِ. فَالْأَوْلَى أَنْ نَتَوَسَّطَ فِي أَمْرِهِ فَنَقُولَ: مَا حَكَمَ بِصِحَّتِهِ، وَلَمْ نَجِدْ ذَلِكَ فِيهِ لِغَيْرِهِ مِنَ الْأَئِمَّةِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ مِنْ قَبِيلِ الصَّحِيحِ فَهُوَ مِنْ قَبِيلِ الْحَسَنِ، يُحْتَجُّ بِهِ وَيُعْمَلُ بِهِ، إِلَّا أَنْ تَظْهَرَ فِيهِ عِلَّةٌ تُوجِبُ ضَعْفَهُ. وَيُقَارِبُهُ فِي حُكْمِهِ صَحِيحُ أَبِي حَاتِمِ بْنِ حِبَّانَ الْبُسْتِيِّ رَحِمَهُمُ اللَّهُ أَجْمَعِينَ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Namun al-Hakim sangat longgar langkahnya dalam menerapkan syarat keshahihan, dan bermudah-mudah dalam memutuskannya. Maka yang lebih tepat adalah kita bersikap pertengahan dalam menyikapinya, dengan mengatakan: apa yang beliau hukumi shahih, dan kami tidak mendapati hukum yang sama darinya pada imam lain, jika bukan tergolong shahih, maka ia tergolong hasan, dapat dijadikan hujjah dan diamalkan, kecuali jika tampak padanya 'illat yang mengharuskan kedha'ifannya. Mendekati kedudukan yang sama adalah kitab Shahih karya Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti -rahimahumullah semuanya. Wallahu a'lam."7

Faidah kelima:
الْكُتُبُ الْمُخَرَّجَةُ عَلَى كِتَابِ الْبُخَارِيِّ أَوْ كِتَابِ مُسْلِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لَمْ يَلْتَزِمْ مُصَنِّفُوهَا فِيهَا مُوَافَقَتَهُمَا فِي أَلْفَاظِ الْأَحَادِيثِ بِعَيْنِهَا مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ وَنُقْصَانٍ، لِكَوْنِهِمْ رَوَوْا تِلْكَ الْأَحَادِيثَ مِنْ غَيْرِ جِهَةِ الْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ، طَلَبًا لِعُلُوِّ الْإِسْنَادِ، فَحَصَلَ فِيهَا بَعْضُ التَّفَاوُتِ فِي الْأَلْفَاظِ.
"Kitab-kitab yang ditakhrij mengikuti kitab al-Bukhari atau kitab Muslim radhiyallahu 'anhuma, para penyusunnya tidak mengikatkan diri untuk mencocokkan lafal-lafal hadits persis seperti keduanya tanpa tambahan atau pengurangan, karena mereka meriwayatkan hadits-hadits itu dari jalur selain al-Bukhari dan Muslim, demi mencari sanad yang lebih tinggi ('uluw al-isnad), sehingga terjadi sedikit perbedaan pada lafal-lafalnya."

وَهَكَذَا مَا أَخْرَجَهُ الْمُؤَلِّفُونَ فِي تَصَانِيفِهِمُ الْمُسْتَقِلَّةِ كَالسُّنَنِ الْكَبِيرِ لِلْبَيْهَقِيِّ، وَشَرْحِ السُّنَّةِ لِأَبِي مُحَمَّدٍ الْبَغَوِيِّ، وَغَيْرِهِمَا مِمَّا قَالُوا فِيهِ: "أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ أَوْ مُسْلِمٌ"، فَلَا يُسْتَفَادُ بِذَلِكَ أَكْثَرُ مِنْ أَنَّ الْبُخَارِيَّ أَوْ مُسْلِمًا أَخْرَجَ أَصْلَ ذَلِكَ الْحَدِيثِ مَعَ احْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ بَيْنَهُمَا تَفَاوُتٌ فِي اللَّفْظِ، وَرُبَّمَا كَانَ تَفَاوُتًا فِي بَعْضِ الْمَعْنَى، فَقَدْ وَجَدْتُ فِي ذَلِكَ مَا فِيهِ بَعْضُ التَّفَاوُتِ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى.
"Begitu pula apa yang dikeluarkan para penulis dalam karya-karya independen mereka, seperti as-Sunan al-Kabir karya al-Baihaqi, dan Syarhus Sunnah karya Abu Muhammad al-Baghawi, dan selain keduanya, dari apa yang mereka katakan padanya: 'dikeluarkan oleh al-Bukhari atau Muslim' -maka tidak dapat dipahami dari itu lebih dari sekadar bahwa al-Bukhari atau Muslim mengeluarkan asal hadits tersebut, dengan kemungkinan adanya perbedaan lafal di antara keduanya, dan terkadang perbedaan itu menyangkut sebagian makna. Aku sendiri mendapati kasus semacam itu, yang di dalamnya ada sedikit perbedaan dari sisi makna."
وَإِذَا كَانَ الْأَمْرُ فِي ذَلِكَ عَلَى هَذَا فَلَيْسَ لَكَ أَنْ تَنْقُلَ حَدِيثًا مِنْهَا وَتَقُولَ: هُوَ عَلَى هَذَا الْوَجْهِ فِي كِتَابِ الْبُخَارِيِّ أَوْ كِتَابِ مُسْلِمٍ، إِلَّا أَنْ تُقَابِلَ لَفْظَهُ، أَوْ يَكُونَ الَّذِي خَرَّجَهُ قَدْ قَالَ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ بِهَذَا اللَّفْظِ. بِخِلَافِ الْكُتُبِ الْمُخْتَصَرَةِ مِنَ الصَّحِيحَيْنِ، فَإِنَّ مُصَنِّفِيهَا نَقَلُوا فِيهَا أَلْفَاظَ الصَّحِيحَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا.
"Jika demikian keadaannya, maka engkau tidak boleh mengutip suatu hadits darinya lalu berkata: 'hadits ini demikian bunyinya dalam kitab al-Bukhari atau kitab Muslim', kecuali jika engkau telah mencocokkan lafalnya, atau orang yang mentakhrijnya telah menyatakan bahwa al-Bukhari mengeluarkannya persis dengan lafal ini. Berbeda halnya dengan kitab-kitab ringkasan dari kedua Shahih, karena para penyusunnya memang menukil lafal-lafal kedua Shahih atau salah satunya."
غَيْرَ أَنَّ "الْجَمْعَ بَيْنَ الصَّحِيحَيْنِ" لِلْحُمَيْدِيِّ الْأَنْدَلُسِيِّ مِنْهَا يَشْتَمِلُ عَلَى زِيَادَةِ تَتِمَّاتٍ لِبَعْضِ الْأَحَادِيثِ كَمَا قَدَّمْنَا ذِكْرَهُ، فَرُبَّمَا نَقَلَ مَنْ لَا يُمَيِّزُ بَعْضَ مَا يَجِدُهُ فِيهِ عَنِ الصَّحِيحَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا وَهُوَ مُخْطِئٌ، لِكَوْنِهِ مِنْ تِلْكَ الزِّيَادَاتِ الَّتِي لَا وُجُودَ لَهَا فِي وَاحِدٍ مِنَ الصَّحِيحَيْنِ.
"Hanya saja kitab al-Jam'u bainash-Shahihain karya al-Humaidi al-Andalusi termasuk yang memuat tambahan penyempurna bagi sebagian hadits, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, sehingga bisa jadi orang yang tidak bisa membedakan menukil sebagian yang ia dapati di dalamnya sebagai berasal dari kedua Shahih atau salah satunya, padahal ia keliru, karena itu termasuk tambahan-tambahan yang tidak ada wujudnya pada salah satu dari kedua Shahih."
ثُمَّ إِنَّ التَّخَارِيجَ الْمَذْكُورَةَ عَلَى الْكِتَابَيْنِ يُسْتَفَادُ مِنْهَا فَائِدَتَانِ: إِحْدَاهُمَا: عُلُوُّ الْإِسْنَادِ. وَالثَّانِيَةُ: الزِّيَادَةُ فِي قَدْرِ الصَّحِيحِ، لِمَا يَقَعُ فِيهَا مِنْ أَلْفَاظٍ زَائِدَةٍ وَتَتِمَّاتٍ فِي بَعْضِ الْأَحَادِيثِ، تَثْبُتُ صِحَّتُهَا بِهَذِهِ التَّخَارِيجِ؛ لِأَنَّهَا وَارِدَةٌ بِالْأَسَانِيدِ الثَّابِتَةِ فِي الصَّحِيحَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا، وَخَارِجَةٌ مِنْ ذَلِكَ الْمَخْرَجِ الثَّابِتِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kemudian, takhrij-takhrij yang disebutkan atas kedua kitab tersebut memberikan dua faidah: pertama, tingginya sanad ('uluw al-isnad). Kedua, tambahan kadar keshahihan, karena adanya lafal-lafal tambahan dan penyempurna pada sebagian hadits, yang keshahihannya ditetapkan melalui takhrij-takhrij ini, sebab ia datang dengan sanad-sanad yang tsabit (kuat) dalam kedua Shahih atau salah satunya, dan keluar dari jalur yang tsabit itu. Wallahu a'lam."8

Faidah keenam:
مَا أَسْنَدَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ - رَحِمَهُمَا اللَّهُ - فِي كِتَابَيْهِمَا بِالْإِسْنَادِ الْمُتَّصِلِ فَذَلِكَ الَّذِي حَكَمَا بِصِحَّتِهِ بِلَا إِشْكَالٍ. وَأَمَّا [الْمُعَلَّقُ وَهُوَ] الَّذِي حُذِفَ مِنْ مُبْتَدَأِ إِسْنَادِهِ وَاحِدٌ أَوْ أَكْثَرُ، وَأَغْلَبُ مَا وَقَعَ ذَلِكَ فِي كِتَابِ الْبُخَارِيِّ، وَهُوَ فِي كِتَابِ مُسْلِمٍ قَلِيلٌ جِدًّا، فَفِي بَعْضِهِ نَظَرٌ.
"Apa yang disandarkan oleh al-Bukhari dan Muslim -rahimahumallah- dalam kedua kitab mereka dengan sanad yang bersambung, itulah yang mereka hukumi shahih tanpa ada persoalan. Adapun hadits mu'allaq -yaitu yang dibuang satu perawi atau lebih dari permulaan sanadnya-, dan kebanyakan hal itu terjadi dalam kitab al-Bukhari, sementara dalam kitab Muslim jumlahnya sangat sedikit, maka pada sebagiannya masih perlu ditinjau (nazhar)."

وَيَنْبَغِي أَنْ نَقُولَ: مَا كَانَ مِنْ ذَلِكَ وَنَحْوِهِ بِلَفْظٍ فِيهِ جَزْمٌ، وَحُكْمٌ بِهِ عَلَى مَنْ عَلَّقَهُ عَنْهُ، فَقَدْ حُكِمَ بِصِحَّتِهِ عَنْهُ، مِثَالُهُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَذَا وَكَذَا، قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: كَذَا، قَالَ مُجَاهِدٌ: كَذَا، قَالَ عَفَّانُ: كَذَا. قَالَ الْقَعْنَبِيُّ: كَذَا، رَوَى أَبُو هُرَيْرَةَ كَذَا وَكَذَا، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِنَ الْعِبَارَاتِ.
"Yang sepatutnya kita katakan adalah: apa yang datang dengan redaksi tegas (jazm) semacam itu, yaitu redaksi kepastian hukum atas orang yang digantungkan riwayat itu kepadanya, maka telah dihukumi shahih darinya. Contohnya: 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: demikian dan demikian', 'Ibnu Abbas berkata: demikian', 'Mujahid berkata: demikian', 'Affan berkata: demikian', 'al-Qa'nabi berkata: demikian', 'Abu Hurairah meriwayatkan: demikian dan demikian', dan ungkapan-ungkapan lain yang serupa itu."
فَكُلُّ ذَلِكَ حُكْمٌ مِنْهُ عَلَى مَنْ ذَكَرَهُ عَنْهُ بِأَنَّهُ قَدْ قَالَ ذَلِكَ وَرَوَاهُ، فَلَنْ يَسْتَجِيزَ إِطْلَاقَ ذَلِكَ إِلَّا إِذَا صَحَّ عِنْدَهُ ذَلِكَ عَنْهُ، ثُمَّ إِذَا كَانَ الَّذِي عَلَّقَ الْحَدِيثَ عَنْهُ دُونَ الصَّحَابَةِ، فَالْحُكْمُ بِصِحَّتِهِ يَتَوَقَّفُ عَلَى اتِّصَالِ الْإِسْنَادِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الصَّحَابِيِّ.
"Semua itu adalah keputusan dari penulis (al-Bukhari) atas orang yang ia sebutkan darinya, bahwa orang itu benar-benar telah mengatakan dan meriwayatkan hal tersebut. Ia tidak akan membolehkan dirinya melontarkan pernyataan tegas semacam itu kecuali jika telah shahih menurutnya bahwa itu memang berasal darinya. Kemudian, jika yang digantungkan (mu'allaq) riwayat itu kepadanya berada di bawah tingkatan sahabat, maka hukum keshahihannya masih bergantung pada bersambungnya sanad antara dirinya dan sahabat tersebut."
وَأَمَّا مَا لَمْ يَكُنْ فِي لَفْظِهِ جَزْمٌ وَحُكْمٌ، مِثْلَ: رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا، أَوْ رُوِيَ عَنْ فُلَانٍ كَذَا، أَوْ فِي الْبَابِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا، فَهَذَا وَمَا أَشْبَهَهُ مِنَ الْأَلْفَاظِ لَيْسَ فِي شَيْءٍ مِنْهُ حُكْمٌ مِنْهُ بِصِحَّةِ ذَلِكَ عَمَّنْ ذَكَرَهُ عَنْهُ؛ لِأَنَّ مِثْلَ هَذِهِ الْعِبَارَاتِ تُسْتَعْمَلُ فِي الْحَدِيثِ الضَّعِيفِ أَيْضًا. وَمَعَ ذَلِكَ فَإِيرَادُهُ لَهُ فِي أَثْنَاءِ الصَّحِيحِ مُشْعِرٌ بِصِحَّةِ أَصْلِهِ إِشْعَارًا يُؤْنَسُ بِهِ وَيُرْكَنُ إِلَيْهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun apa yang tidak menggunakan redaksi tegas dan kepastian hukum, seperti: 'diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam demikian dan demikian', atau 'diriwayatkan dari fulan demikian', atau 'dalam bab ini terdapat riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam demikian dan demikian', maka redaksi semacam ini dan yang serupa dengannya, tidak satu pun mengandung keputusan tegas dari penulis tentang keshahihan riwayat itu dari orang yang disebutkan itu, karena ungkapan-ungkapan seperti ini juga digunakan pada hadits dha'if. Meski demikian, dimuatnya redaksi tersebut di tengah-tengah kitab Shahih memberi kesan (isyarat) akan keshahihan asal riwayat itu, kesan yang bisa dijadikan pegangan dan sandaran. Wallahu a'lam."9

Faidah ketujuh:
وَإِذَا انْتَهَى الْأَمْرُ فِي مَعْرِفَةِ الصَّحِيحِ إِلَى مَا خَرَّجَهُ الْأَئِمَّةُ فِي تَصَانِيفِهِمُ الْكَافِلَةِ بِبَيَانِ ذَلِكَ - كَمَا سَبَقَ ذِكْرُهُ - فَالْحَاجَةُ مَاسَّةٌ إِلَى التَّنْبِيهِ عَلَى أَقْسَامِهِ بِاعْتِبَارِ ذَلِكَ.
"Apabila persoalan mengenal hadits shahih telah kembali kepada apa yang ditakhrij oleh para imam dalam karya-karya mereka yang menjamin penjelasannya -sebagaimana telah disebutkan-, maka sangat diperlukan penjelasan mengenai bagian-bagiannya berdasarkan hal tersebut."

فَأَوَّلُهَا: صَحِيحٌ أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ جَمِيعًا. الثَّانِي: صَحِيحٌ انْفَرَدَ بِهِ الْبُخَارِيُّ، أَيْ عَنْ مُسْلِمٍ. الثَّالِثُ: صَحِيحٌ انْفَرَدَ بِهِ مُسْلِمٌ، أَيْ عَنِ الْبُخَارِيِّ. الرَّابِعُ: صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا لَمْ يُخْرِجَاهُ. الْخَامِسُ: صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ لَمْ يُخْرِجْهُ. السَّادِسُ: صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ لَمْ يُخْرِجْهُ. السَّابِعُ: صَحِيحٌ عِنْدَ غَيْرِهِمَا، وَلَيْسَ عَلَى شَرْطِ وَاحِدٍ مِنْهُمَا.
"Bagian pertama: shahih yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim bersama-sama. Kedua: shahih yang hanya dikeluarkan sendiri oleh al-Bukhari, yakni tidak oleh Muslim. Ketiga: shahih yang hanya dikeluarkan sendiri oleh Muslim, yakni tidak oleh al-Bukhari. Keempat: shahih yang memenuhi syarat keduanya, namun tidak dikeluarkan oleh keduanya. Kelima: shahih yang memenuhi syarat al-Bukhari, namun tidak dikeluarkannya. Keenam: shahih yang memenuhi syarat Muslim, namun tidak dikeluarkannya. Ketujuh: shahih menurut selain keduanya, dan tidak memenuhi syarat salah satu dari keduanya."
هَذِهِ أُمَّهَاتُ أَقْسَامِهِ، وَأَعْلَاهَا الْأَوَّلُ، وَهُوَ الَّذِي يَقُولُ فِيهِ أَهْلُ الْحَدِيثِ كَثِيرًا: "صَحِيحٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ". يُطْلِقُونَ ذَلِكَ وَيَعْنُونَ بِهِ اتِّفَاقَ الْبُخَارِيِّ وَمُسْلِمٍ، لَا اتِّفَاقَ الْأُمَّةِ عَلَيْهِ. لَكِنَّ اتِّفَاقَ الْأُمَّةِ عَلَيْهِ لَازِمٌ مِنْ ذَلِكَ وَحَاصِلٌ مَعَهُ، لِاتِّفَاقِ الْأُمَّةِ عَلَى تَلَقِّي مَا اتَّفَقَا عَلَيْهِ بِالْقَبُولِ.
"Itulah pokok-pokok bagiannya, dan yang paling tinggi adalah yang pertama, yang biasa disebut ahli hadits dengan istilah: 'shahih muttafaq 'alaih'. Mereka melontarkan istilah itu dan memaksudkan dengannya kesepakatan al-Bukhari dan Muslim, bukan kesepakatan umat atasnya. Namun kesepakatan umat atasnya tetap menjadi konsekuensi yang pasti mengikutinya, karena umat telah sepakat menerima apa yang disepakati keduanya."
وَهَذَا الْقِسْمُ جَمِيعُهُ مَقْطُوعٌ بِصِحَّتِهِ وَالْعِلْمُ الْيَقِينِيُّ النَّظَرِيُّ وَاقِعٌ بِهِ. خِلَافًا لِقَوْلِ مَنْ نَفَى ذَلِكَ، مُحْتَجًّا بِأَنَّهُ لَا يُفِيدُ فِي أَصْلِهِ إِلَّا الظَّنُّ، وَإِنَّمَا تَلَقَّتْهُ الْأُمَّةُ بِالْقَبُولِ؛ لِأَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِمُ الْعَمَلُ بِالظَّنِّ، وَالظَّنُّ قَدْ يُخْطِئُ.
"Seluruh bagian ini dipastikan keshahihannya, dan ilmu yang yakin lagi bersifat nazhari (hasil penalaran) telah terwujud dengannya. Ini berbeda dengan pendapat yang menafikan hal itu, dengan berhujjah bahwa pada asalnya ia hanya memberikan faidah zhann (dugaan kuat), dan umat menerimanya hanya karena wajib bagi mereka untuk mengamalkan zhann, padahal zhann terkadang bisa keliru."
وَقَدْ كُنْتُ أَمِيلُ إِلَى هَذَا وَأَحْسَبُهُ قَوِيًّا، ثُمَّ بَانَ لِي أَنَّ الْمَذْهَبَ الَّذِي اخْتَرْنَاهُ أَوَّلًا هُوَ الصَّحِيحُ، لِأَنَّ ظَنَّ مَنْ هُوَ مَعْصُومٌ مِنَ الْخَطَأِ لَا يُخْطِئُ. وَالْأُمَّةُ فِي إِجْمَاعِهَا مَعْصُومَةٌ مِنَ الْخَطَأِ، وَلِهَذَا كَانَ الْإِجْمَاعُ الْمُنْبَنِي عَلَى الِاجْتِهَادِ حُجَّةً مَقْطُوعًا بِهَا، وَأَكْثَرُ إِجْمَاعَاتِ الْعُلَمَاءِ كَذَلِكَ.
"Aku sendiri dahulu cenderung kepada pendapat ini dan mengiranya kuat, kemudian jelas bagiku bahwa mazhab yang kami pilih pada awalnya itulah yang benar, karena zhann orang yang ma'shum (terjaga) dari kesalahan tidak akan keliru. Dan umat ini, dalam ijma'nya, terjaga dari kesalahan. Oleh karena itu, ijma' yang dibangun di atas ijtihad merupakan hujjah yang pasti, dan mayoritas ijma' ulama memang demikian sifatnya."10

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 11.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 11-14.

  3. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 14-16.

  4. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 16-17.

  5. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 17-19.

  6. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 19-20.

  7. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 20-22.

  8. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 22-24.

  9. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 24-25.

  10. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 25-28.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email