فِيهِ: "قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا" وَمَا أَشْبَهَ هَذَا مِنَ الْأَلْفَاظِ الْجَازِمَةِ بِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ذَلِكَ، وَإِنَّمَا تَقُولُ فِيهِ: "رُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَذَا وَكَذَا، أَوْ بَلَغَنَا عَنْهُ كَذَا وَكَذَا، أَوْ وَرَدَ عَنْهُ، أَوْ جَاءَ عَنْهُ، أَوْ رَوَى بَعْضُهُمْ" وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ. وَهَكَذَا الْحُكْمُ فِيمَا تَشُكُّ فِي صِحَّتِهِ وَضَعْفِهِ، وَإِنَّمَا تَقُولُ: "قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ" فِيمَا ظَهَرَ لَكَ صِحَّتُهُ بِطَرِيقِهِ الَّذِي أَوْضَحْنَاهُ أَوَّلًا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Termasuk dalam pembahasan ini: (peringatan bahwa) tidak boleh dikatakan 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian' dan yang serupa dengannya dari lafal-lafal yang menegaskan kepastian bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam benar-benar mengatakannya, kecuali untuk hadits yang telah shahih. Untuk selain itu, hendaknya engkau berkata: 'diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam demikian dan demikian', atau 'telah sampai kepada kami darinya demikian dan demikian', atau 'datang riwayat darinya', atau 'ada yang meriwayatkan darinya', atau 'sebagian mereka meriwayatkan', dan yang semisalnya. Begitu pula hukumnya untuk hadits yang engkau ragukan keshahihan atau kedha'ifannya. Engkau hanya boleh mengatakan 'Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda' untuk hadits yang telah jelas bagimu keshahihannya melalui jalan yang telah kami terangkan sebelumnya. Wallahu a'lam."
النَّوْعُ الثَّالِثُ وَالْعِشْرُونَ: مَعْرِفَةُ صِفَةِ مَنْ تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ وَمَنْ تُرَدُّ رِوَايَتُهُ، وَمَا يَتَعَلَّقُ بِذَلِكَ مِنْ قَدْحٍ وَجَرْحٍ وَتَوْثِيقٍ وَتَعْدِيلٍ
"Anwa' kedua puluh tiga: mengenal sifat orang yang riwayatnya diterima dan yang riwayatnya ditolak, serta hal-hal yang berkaitan dengannya berupa qadh, jarh, tautsiq, dan ta'dil."
أَجْمَعَ جَمَاهِيرُ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ وَالْفِقْهِ عَلَى: أَنَّهُ يُشْتَرَطُ فِيمَنْ يُحْتَجُّ بِرِوَايَتِهِ أَنْ يَكُونَ عَدْلًا، ضَابِطًا لِمَا يَرْوِيهِ، وَتَفْصِيلُهُ أَنْ يَكُونَ مُسْلِمًا، بَالِغًا، عَاقِلًا، سَالِمًا مِنْ أَسْبَابِ الْفِسْقِ وَخَوَارِمِ الْمُرُوءَةِ، مُتَيَقِّظًا غَيْرَ مُغَفَّلٍ، حَافِظًا إِنْ حَدَّثَ مِنْ حِفْظِهِ، ضَابِطًا لِكِتَابِهِ إِنْ حَدَّثَ مِنْ كِتَابِهِ. وَإِنْ كَانَ يُحَدِّثُ بِالْمَعْنَى اشْتُرِطَ فِيهِ مَعَ ذَلِكَ أَنْ يَكُونَ عَالِمًا بِمَا يُحِيلُ الْمَعَانِيَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Mayoritas imam hadits dan fikih telah bersepakat bahwa disyaratkan bagi orang yang riwayatnya dijadikan hujjah agar ia 'adil, dhabit (kuat hafalan/catatannya) terhadap apa yang ia riwayatkan. Rinciannya: ia harus muslim, baligh, berakal, selamat dari sebab-sebab kefasikan dan hal-hal yang merusak muru'ah (harga diri), waspada tidak lalai, hafal jika ia meriwayatkan dari hafalannya, dan menjaga catatannya dengan baik jika ia meriwayatkan dari catatannya. Jika ia meriwayatkan secara makna, disyaratkan pula agar ia mengetahui hal-hal yang dapat mengubah makna. Wallahu a'lam."
Masalah-Masalah Penjelas
Masalah pertama:
عَدَالَةُ الرَّاوِي تَارَةً تَثْبُتُ بِتَنْصِيصِ مُعَدِّلَيْنِ عَلَى عَدَالَتِهِ، وَتَارَةً تَثْبُتُ بِالِاسْتِفَاضَةِ، فَمَنِ اشْتَهَرَتْ عَدَالَتُهُ بَيْنَ أَهْلِ النَّقْلِ أَوْ نَحْوِهِمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، وَشَاعَ الثَّنَاءُ عَلَيْهِ بِالثِّقَةِ وَالْأَمَانَةِ، اسْتُغْنِيَ فِيهِ بِذَلِكَ عَنْ بَيِّنَةٍ شَاهِدَةٍ بِعَدَالَتِهِ تَنْصِيصًا، وَهَذَا هُوَ الصَّحِيحُ فِي مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَعَلَيْهِ الِاعْتِمَادُ فِي فَنِّ أُصُولِ الْفِقْهِ.
"'Adalah seorang perawi terkadang ditetapkan dengan penegasan dua orang mu'addil (penetap keadilan) atasnya, dan terkadang ditetapkan dengan istifadhah (kemasyhuran luas). Siapa yang 'adalahnya sudah masyhur di kalangan ahli periwayatan atau ahli ilmu yang semisal mereka, dan pujian atas kepercayaan (tsiqah) serta amanahnya telah tersebar luas, maka hal itu sudah mencukupi tanpa perlu bukti tersendiri yang menegaskan 'adalahnya. Inilah pendapat yang shahih dalam mazhab asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu, dan menjadi pegangan dalam disiplin ushul fikih."
وَمِمَّنْ ذَكَرَ ذَلِكَ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ، وَمَثَّلَ ذَلِكَ بِمَالِكٍ، وَشُعْبَةَ، وَالسُّفْيَانَيْنِ، وَالْأَوْزَاعِيِّ، وَاللَّيْثِ، وَابْنِ الْمُبَارَكِ، وَوَكِيعٍ، وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَيَحْيَى بْنِ مَعِينٍ، وَعَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ، وَمَنْ جَرَى مَجْرَاهُمْ فِي نَبَاهَةِ الذِّكْرِ وَاسْتِقَامَةِ الْأَمْرِ، فَلَا يُسْأَلُ عَنْ عَدَالَةِ هَؤُلَاءِ وَأَمْثَالِهِمْ، وَإِنَّمَا يُسْأَلُ عَنْ عَدَالَةِ مَنْ خَفِيَ أَمْرُهُ عَلَى الطَّالِبِينَ.
"Di antara ahli hadits yang menyebutkan hal ini adalah Abu Bakr al-Khathib al-Hafizh, yang mencontohkannya dengan Malik, Syu'bah, dua Sufyan (ats-Tsauri dan bin Uyainah), al-Auza'i, al-Laits, Ibnul Mubarak, Waki', Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, Ali bin al-Madini, dan siapa saja yang setingkat dengan mereka dalam ketermasyhuran nama dan lurusnya urusan. Maka tidak perlu ditanyakan lagi tentang 'adalah orang-orang ini dan yang semisal mereka; yang perlu ditanyakan hanyalah 'adalah orang yang keadaannya tersembunyi bagi para pencari ilmu."
وَتَوَسَّعَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ الْحَافِظُ فِي هَذَا فَقَالَ: "كُلُّ حَامِلِ عِلْمٍ مَعْرُوفُ الْعِنَايَةِ بِهِ فَهُوَ عَدْلٌ، مَحْمُولٌ فِي أَمْرِهِ أَبَدًا عَلَى الْعَدَالَةِ حَتَّى يَتَبَيَّنَ جَرْحُهُ؛ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ"، وَفِيمَا قَالَهُ اتِّسَاعٌ غَيْرُ مَرْضِيٍّ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ibnu Abdil Barr al-Hafizh melapangkan pendapat ini, ia berkata: 'setiap pengemban ilmu yang dikenal sungguh-sungguh mengurusinya adalah adil, dibawa selamanya kepada 'adalah dalam urusannya sampai tampak jarh (cacat) padanya, berdasarkan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: ilmu ini akan dibawa oleh orang-orang adil dari setiap generasi (khalaf)nya.' Namun dalam pendapatnya ini ada kelonggaran yang tidak diridhai. Wallahu a'lam."
Masalah kedua:
يُعْرَفُ كَوْنُ الرَّاوِي ضَابِطًا بِأَنْ نَعْتَبِرَ رِوَايَاتِهِ بِرِوَايَاتِ الثِّقَاةِ الْمَعْرُوفِينَ بِالضَّبْطِ وَالْإِتْقَانِ، فَإِنْ وَجَدْنَا رِوَايَاتِهِ مُوَافِقَةً - وَلَوْ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى - لِرِوَايَاتِهِمْ، أَوْ مُوَافِقَةً لَهَا فِي الْأَغْلَبِ وَالْمُخَالَفَةُ نَادِرَةُ، عَرَفْنَا حِينَئِذٍ كَوْنَهُ ضَابِطًا ثَبْتًا، وَإِنْ وَجَدْنَاهُ كَثِيرَ الْمُخَالَفَةِ لَهُمْ، عَرَفْنَا اخْتِلَالَ ضَبْطِهِ، وَلَمْ نَحْتَجَّ بِحَدِيثِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ke-dhabit-an seorang perawi diketahui dengan cara membandingkan riwayat-riwayatnya dengan riwayat-riwayat para perawi tsiqah yang dikenal dengan kekuatan hafalan dan ketelitiannya. Jika kami dapati riwayat-riwayatnya sesuai -sekalipun hanya dari sisi makna- dengan riwayat-riwayat mereka, atau sesuai pada umumnya dengan penyimpangan yang jarang, maka kami mengetahui saat itu bahwa ia dhabit lagi tsabt (kuat). Namun jika kami dapati ia banyak menyelisihi mereka, kami mengetahui adanya kegoyahan dalam ke-dhabit-annya, dan kami tidak berhujjah dengan haditsnya. Wallahu a'lam."
Masalah ketiga:
التَّعْدِيلُ مَقْبُولٌ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ سَبَبِهِ عَلَى الْمَذْهَبِ الصَّحِيحِ الْمَشْهُورِ؛ لِأَنَّ أَسْبَابَهُ كَثِيرَةٌ يَصْعُبُ ذِكْرُهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ يُحْوِجُ الْمُعَدِّلَ إِلَى أَنْ يَقُولَ: "لَمْ يَفْعَلْ كَذَا، لَمْ يَرْتَكِبْ كَذَا، فَعَلَ كَذَا وَكَذَا" فَيُعَدِّدُ جَمِيعَ مَا يُفَسَّقُ بِفِعْلِهِ أَوْ بِتَرْكِهِ، وَذَلِكَ شَاقٌّ جِدًّا.
"Ta'dil (penetapan keadilan) diterima tanpa perlu disebutkan sebabnya, menurut mazhab yang shahih lagi masyhur, karena sebab-sebabnya banyak dan sulit disebutkan seluruhnya. Sebab, jika disyaratkan demikian, mu'addil akan terpaksa berkata: 'ia tidak melakukan ini, tidak melanggar itu, telah melakukan demikian dan demikian', sehingga ia harus merinci seluruh perkara yang membuat seseorang fasik jika dilakukan atau ditinggalkan - dan itu sangatlah berat."
وَأَمَّا الْجَرْحُ فَإِنَّهُ لَا يُقْبَلُ إِلَّا مُفَسَّرًا مُبَيَّنَ السَّبَبِ؛ لِأَنَّ النَّاسَ يَخْتَلِفُونَ فِيمَا يَجْرَحُ وَمَا لَا يَجْرَحُ، فَيُطْلِقُ أَحَدُهُمُ الْجَرْحَ بِنَاءً عَلَى أَمْرٍ اعْتَقَدَهُ جَرْحًا وَلَيْسَ بِجَرْحٍ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ، فَلَا بُدَّ مِنْ بَيَانِ سَبَبِهِ، لِيُنْظَرَ فِيهِ أَهُوَ جَرْحٌ أَمْ لَا، وَهَذَا ظَاهِرٌ مُقَرَّرٌ فِي الْفِقْهِ وَأُصُولِهِ.
"Adapun jarh, ia tidak diterima kecuali dijelaskan dan diterangkan sebabnya, karena orang-orang berbeda pendapat tentang apa yang men-jarh dan apa yang tidak. Bisa jadi seseorang melontarkan jarh berdasarkan sesuatu yang ia yakini sebagai cacat, padahal pada hakikatnya bukan cacat. Maka wajib dijelaskan sebabnya, agar dapat ditinjau apakah itu benar-benar cacat atau bukan. Ini adalah kaidah yang jelas dan mapan dalam fikih dan ushulnya."
وَذَكَرَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ أَنَّهُ مَذْهَبُ الْأَئِمَّةِ مِنْ حُفَّاظِ الْحَدِيثِ وَنُقَّادِهِ مِثْلِ الْبُخَارِيِّ، وَمُسْلِمٍ، وَغَيْرِهِمَا. وَلِذَلِكَ احْتَجَّ الْبُخَارِيُّ بِجَمَاعَةٍ سَبَقَ مِنْ غَيْرِهِ الْجَرْحُ لَهُمْ، كَعِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، وَكَإِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي أُوَيْسٍ، وَعَاصِمِ بْنِ عَلِيٍّ، وَعَمْرِو بْنِ مَرْزُوقٍ، وَغَيْرِهِمْ. وَاحْتَجَّ مُسْلِمٌ بِسُوَيْدِ بْنِ سَعِيدٍ، وَجَمَاعَةٍ اشْتَهَرَ الطَّعْنُ فِيهِمْ، وَهَكَذَا فَعَلَ أَبُو دَاوُدَ السِّجِسْتَانِيُّ، وَذَلِكَ دَالٌّ عَلَى أَنَّهُمْ ذَهَبُوا إِلَى أَنَّ الْجَرْحَ لَا يَثْبُتُ إِلَّا إِذَا فُسِّرَ سَبَبُهُ، وَمَذَاهِبُ النُّقَّادِ لِلرِّجَالِ غَامِضَةٌ مُخْتَلِفَةٌ.
"Al-Khathib al-Hafizh menyebutkan bahwa ini adalah mazhab para imam huffazh hadits dan kritikusnya, seperti al-Bukhari, Muslim, dan selain keduanya. Karena itulah al-Bukhari berhujjah dengan sejumlah perawi yang telah lebih dulu di-jarh oleh orang lain, seperti Ikrimah maula Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Isma'il bin Abi Uwais, Ashim bin Ali, Amr bin Marzuq, dan selain mereka. Muslim pun berhujjah dengan Suwaid bin Sa'id, dan sejumlah orang yang celaan terhadap mereka telah masyhur - begitu pula yang dilakukan Abu Dawud as-Sijistani. Hal ini menunjukkan bahwa mereka berpandangan bahwa jarh tidak tetap kecuali sebabnya dijelaskan, sedangkan mazhab-mazhab para kritikus perawi (nuqqad ar-rijal) sendiri samar lagi beragam."
وَعَقَدَ الْخَطِيبُ بَابًا فِي بَعْضِ أَخْبَارِ مَنِ اسْتُفْسِرَ فِي جَرْحِهِ، فَذَكَرَ مَا لَا يَصْلُحُ جَارِحًا، مِنْهَا عَنْ شُعْبَةَ أَنَّهُ قِيلَ لَهُ: "لِمَ تَرَكْتَ حَدِيثَ فُلَانٍ؟" فَقَالَ: "رَأَيْتُهُ يَرْكُضُ عَلَى بِرْذَوْنٍ، فَتَرَكْتُ حَدِيثَهُ". وَمِنْهَا: عَنْ مُسْلِمِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ حَدِيثٍ لِصَالِحٍ الْمُرِّيِّ، فَقَالَ: مَا تَصْنَعُ بِصَالِحٍ؟ ذَكَرُوهُ يَوْمًا عِنْدَ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ فَامْتَخَطَ حَمَّادٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Khathib membuat satu bab khusus berisi sebagian riwayat tentang orang-orang yang dimintai penjelasan atas jarh mereka, lalu menyebutkan hal-hal yang sebenarnya tidak layak dijadikan jarh. Di antaranya: dari Syu'bah, bahwa ia ditanya: 'mengapa engkau meninggalkan hadits fulan?' Ia menjawab: 'aku melihatnya menunggang kuda dengan berlari kencang, maka aku pun meninggalkan haditsnya.' Di antaranya lagi: dari Muslim bin Ibrahim, bahwa ia ditanya tentang hadits Shalih al-Murri, lalu ia menjawab: 'apa urusanmu dengan Shalih? Suatu hari namanya disebut di hadapan Hammad bin Salamah, lalu Hammad pun membuang ingus (sebagai tanda meremehkan).' Wallahu a'lam."
قُلْتُ: وَلِقَائِلٍ أَنْ يَقُولَ: إِنَّمَا يَعْتَمِدُ النَّاسُ فِي جَرْحِ الرُّوَاةِ وَرَدِّ حَدِيثِهِمْ عَلَى الْكُتُبِ الَّتِي صَنَّفَهَا أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ فِي الْجَرْحِ أَوْ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ، وَقَلَّ مَا يَتَعَرَّضُونَ فِيهَا لِبَيَانِ السَّبَبِ، بَلْ يَقْتَصِرُونَ عَلَى مُجَرَّدِ قَوْلِهِمْ: "فُلَانٌ ضَعِيفٌ، وَفُلَانٌ لَيْسَ بِشَيْءٍ" وَنَحْوَ ذَلِكَ، أَوْ "هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفٌ، وَهَذَا حَدِيثٌ غَيْرُ ثَابِتٍ" وَنَحْوَ ذَلِكَ، فَاشْتِرَاطُ بَيَانِ السَّبَبِ يُفْضِي إِلَى تَعْطِيلِ ذَلِكَ وَسَدِّ بَابِ الْجَرْحِ فِي الْأَغْلَبِ الْأَكْثَرِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ada yang bisa membantah: sesungguhnya orang-orang mengandalkan, dalam men-jarh para perawi dan menolak hadits mereka, pada kitab-kitab yang disusun para imam hadits dalam bidang jarh, atau jarh wa ta'dil, dan mereka jarang sekali menjelaskan sebabnya di dalamnya. Mereka hanya membatasi diri pada ucapan seperti: 'fulan dha'if', 'fulan tidak ada apa-apanya (laisa bisyai')', dan yang semisalnya, atau 'ini hadits dha'if', 'ini hadits tidak tsabit', dan yang semisalnya. Maka mensyaratkan penjelasan sebab akan membawa kepada pembatalan hal itu dan menutup pintu jarh pada mayoritas kasus."
وَجَوَابُهُ: أَنَّ ذَلِكَ وَإِنْ لَمْ نَعْتَمِدْهُ فِي إِثْبَاتِ الْجَرْحِ وَالْحُكْمِ بِهِ، فَقَدِ اعْتَمَدْنَاهُ فِي أَنْ تَوَقَّفْنَا عَنْ قَبُولِ حَدِيثِ مَنْ قَالُوا فِيهِ مِثْلَ ذَلِكَ، بِنَاءً عَلَى أَنَّ ذَلِكَ أَوْقَعُ عِنْدَنَا فِيهِمْ رِيبَةً قَوِيَّةً يُوجِبُ مِثْلُهَا التَّوَقُّفَ. ثُمَّ مَنِ انْزَاحَتْ عَنْهُ الرِّيبَةُ مِنْهُمْ بِبَحْثٍ عَنْ حَالِهِ أَوْجَبَ الثِّقَةَ بِعَدَالَتِهِ قَبِلْنَا حَدِيثَهُ وَلَمْ نَتَوَقَّفْ، كَالَّذِينَ احْتَجَّ بِهِمْ صَاحِبَا الصَّحِيحَيْنِ وَغَيْرُهُمَا مِمَّنْ مَسَّهُمْ مِثْلُ هَذَا الْجَرْحِ مِنْ غَيْرِهِمْ، فَافْهَمْ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ مَخْلَصٌ حَسَنٌ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Jawabannya: bahwa hal itu, meskipun tidak kami andalkan dalam menetapkan jarh dan menghukuminya, tetap kami andalkan untuk menahan diri (tawaqquf) dari menerima hadits orang yang dikatakan tentangnya seperti itu, berdasarkan bahwa hal itu menimbulkan kecurigaan kuat di sisi kami terhadap mereka, yang keraguan semisalnya mengharuskan sikap tawaqquf. Kemudian, siapa saja dari mereka yang kecurigaannya hilang melalui penelitian atas keadaannya, sehingga menetapkan kepercayaan atas 'adalahnya, kami menerima haditsnya dan tidak menahan diri lagi - seperti orang-orang yang dijadikan hujjah oleh penulis kedua kitab Shahih dan selain keduanya, dari kalangan yang pernah tersentuh jarh semacam ini dari orang lain. Pahamilah hal ini, karena ia adalah jalan keluar yang baik. Wallahu a'lam."
Masalah keempat:
اخْتَلَفُوا فِي أَنَّهُ هَلْ يَثْبُتُ الْجَرْحُ وَالتَّعْدِيلُ بِقَوْلِ وَاحِدٍ، أَوْ لَا بُدَّ مِنَ اثْنَيْنِ؟ فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: لَا يَثْبُتُ ذَلِكَ إِلَّا بِاثْنَيْنِ، كَمَا فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ فِي الشَّهَادَاتِ. وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ - وَهُوَ الصَّحِيحُ الَّذِي اخْتَارَهُ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ وَغَيْرُهُ - أَنَّهُ يَثْبُتُ بِوَاحِدٍ، لِأَنَّ الْعَدَدَ لَمْ يُشْتَرَطْ فِي قَبُولِ الْخَبَرِ، فَلَمْ يُشْتَرَطْ فِي جَرْحِ رَاوِيهِ وَتَعْدِيلِهِ، بِخِلَافِ الشَّهَادَاتِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Para ulama berselisih pendapat: apakah jarh dan ta'dil ditetapkan dengan ucapan satu orang, ataukah harus dua orang? Sebagian berpendapat: tidak ditetapkan kecuali dengan dua orang, seperti halnya jarh dan ta'dil dalam persaksian (syahadah). Sebagian lain berpendapat -dan inilah pendapat yang shahih, yang dipilih oleh al-Hafizh Abu Bakr al-Khathib dan selainnya- bahwa cukup ditetapkan dengan satu orang, karena bilangan (jumlah orang) tidak disyaratkan dalam penerimaan khabar, maka tidak pula disyaratkan dalam jarh dan ta'dil perawinya - berbeda dengan persaksian. Wallahu a'lam."
Masalah kelima:
إِذَا اجْتَمَعَ فِي شَخْصٍ جَرْحٌ وَتَعْدِيلٌ، فَالْجَرْحُ مُقَدَّمٌ؛ لِأَنَّ الْمُعَدِّلَ يُخْبِرُ عَمَّا ظَهَرَ مِنْ حَالِهِ، وَالْجَارِحَ يُخْبِرُ عَنْ بَاطِنٍ خَفِيَ عَلَى الْمُعَدِّلِ، فَإِنْ كَانَ عَدَدُ الْمُعَدِّلِينَ أَكْثَرَ فَقَدْ قِيلَ التَّعْدِيلُ أَوْلَى. وَالصَّحِيحُ - وَالَّذِي عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ - أَنَّ الْجَرْحَ أَوْلَى لِمَا ذَكَرْنَاهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Apabila pada satu orang berkumpul jarh dan ta'dil sekaligus, maka jarh yang didahulukan, karena mu'addil hanya mengabarkan tentang apa yang tampak dari keadaannya, sedangkan yang men-jarh mengabarkan tentang batin yang tersembunyi bagi mu'addil. Jika jumlah mu'addil lebih banyak, ada yang berpendapat ta'dil lebih utama. Namun pendapat yang shahih -dan yang dipegang mayoritas- adalah bahwa jarh tetap lebih utama, sebagaimana yang telah kami sebutkan. Wallahu a'lam."
Masalah keenam:
لَا يُجْزِئُ التَّعْدِيلُ عَلَى الْإِبْهَامِ مِنْ غَيْرِ تَسْمِيَةِ الْمُعَدَّلِ، فَإِذَا قَالَ: "حَدَّثَنِي الثِّقَةُ" أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ مُقْتَصِرًا عَلَيْهِ لَمْ يُكْتَفَ بِهِ، فِيمَا ذَكَرَهُ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ وَالصَّيْرَفِيُّ الْفَقِيهُ وَغَيْرُهُمَا، خِلَافًا لِمَنِ اكْتَفَى بِذَلِكَ، وَذَلِكَ لِأَنَّهُ قَدْ يَكُونُ ثِقَةً عِنْدَهِ، وَغَيْرُهُ قَدِ اطَّلَعَ عَلَى جَرْحِهِ بِمَا هُوَ جَارِحٌ عِنْدَهُ أَوْ بِالْإِجْمَاعِ، فَيُحْتَاجُ إِلَى أَنْ يُسَمِّيَهُ حَتَّى يُعْرَفَ، بَلْ إِضْرَابُهُ عَنْ تَسْمِيَتِهِ مُرِيبٌ يُوقِعُ فِي الْقُلُوبِ فِيهِ تَرَدُّدًا، فَإِنْ كَانَ الْقَائِلُ لِذَلِكَ عَالِمًا أَجْزَأَ ذَلِكَ فِي حَقِّ مَنْ يُوَافِقُهُ فِي مَذْهَبِهِ، عَلَى مَا اخْتَارَهُ بَعْضُ الْمُحَقِّقِينَ.
"Ta'dil secara samar (ibham), tanpa menyebut nama orang yang di-ta'dil-kan, tidaklah mencukupi. Apabila seseorang berkata: 'telah menceritakan kepadaku seorang yang tsiqah', atau semisalnya, hanya membatasi diri pada itu, maka tidak cukup dengan itu saja - demikian yang disebutkan al-Khathib al-Hafizh, ash-Shairafi al-Faqih, dan selain keduanya, berbeda dengan yang mencukupkan diri dengan itu. Sebabnya, bisa jadi orang itu tsiqah menurut penilaiannya, sementara orang lain telah mengetahui jarh padanya berdasarkan sesuatu yang menurutnya adalah cacat, atau berdasarkan ijma'. Maka diperlukan penyebutan namanya agar dikenali - bahkan keengganannya menyebut nama itu sendiri mencurigakan, menimbulkan keraguan di hati. Namun jika yang mengatakannya adalah seorang alim, hal itu cukup bagi orang yang sepaham dengannya dalam mazhabnya, menurut pendapat yang dipilih sebagian ulama peneliti."
وَذَكَرَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ أَنَّ الْعَالِمَ إِذَا قَالَ: "كُلُّ مَنْ رَوَيْتُ عَنْهُ فَهُوَ ثِقَةٌ وَإِنْ لَمْ أُسَمِّهِ، ثُمَّ رَوَى عَمَّنْ لَمْ يُسَمِّهِ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُزَكِّيًا لَهُ، غَيْرَ أَنَّا لَا نَعْمَلُ بِتَزْكِيَتِهِ هَذِهِ" وَهَذَا عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Khathib al-Hafizh menyebutkan bahwa apabila seorang alim berkata: 'setiap orang yang aku riwayatkan darinya adalah tsiqah, sekalipun aku tidak menyebut namanya', lalu ia meriwayatkan dari orang yang tidak ia sebutkan namanya, maka ia telah men-tazkiyah (menyucikan/menyatakan bersih) orang itu - hanya saja kami tidak mengamalkan tazkiyah semacam ini. Ini sejalan dengan apa yang telah kami sebutkan sebelumnya. Wallahu a'lam."
Masalah ketujuh:
إِذَا رَوَى الْعَدْلُ عَنْ رَجُلٍ وَسَمَّاهُ لَمْ تُجْعَلْ رِوَايَتُهُ عَنْهُ تَعْدِيلًا مِنْهُ لَهُ، عِنْدَ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَغَيْرِهِمْ. وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَبَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ: "يُجْعَلُ ذَلِكَ تَعْدِيلًا مِنْهُ لَهُ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ يَتَضَمَّنُ التَّعْدِيلَ"، وَالصَّحِيحُ هُوَ الْأَوَّلُ؛ لِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَرْوِيَ عَنْ غَيْرِ عَدْلٍ فَلَمْ تَتَضَمَّنْ رِوَايَتُهُ عَنْهُ تَعْدِيلَهُ.
"Apabila seorang yang adil meriwayatkan dari seorang laki-laki dan menyebut namanya, riwayatnya itu tidak dianggap sebagai ta'dil darinya untuk orang tersebut, menurut mayoritas ulama ahli hadits dan selain mereka. Sebagian ahli hadits dan sebagian pengikut asy-Syafi'i berkata: 'itu dianggap sebagai ta'dil darinya, karena periwayatan itu mengandung ta'dil di dalamnya.' Pendapat yang shahih adalah yang pertama, karena boleh saja seseorang meriwayatkan dari orang yang tidak adil, sehingga periwayatannya darinya tidak mengandung ta'dil terhadapnya."
وَهَكَذَا نَقُولُ: إِنَّ عَمَلَ الْعَالِمِ أَوْ فُتْيَاهُ عَلَى وَفْقِ حَدِيثٍ لَيْسَ حُكْمًا مِنْهُ بِصِحَّةِ ذَلِكَ الْحَدِيثِ، وَكَذَلِكَ مُخَالَفَتُهُ لِلْحَدِيثِ لَيْسَتْ قَدْحًا مِنْهُ فِي صِحَّتِهِ وَلَا فِي رَاوِيهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Begitu pula kami katakan: amal seorang alim atau fatwanya yang sesuai dengan suatu hadits bukanlah keputusan darinya atas keshahihan hadits itu, dan begitu pula penyelisihannya terhadap suatu hadits bukanlah celaan darinya atas keshahihannya ataupun atas perawinya. Wallahu a'lam."
Masalah kedelapan:
فِي رِوَايَةِ الْمَجْهُولِ، وَهُوَ فِي غَرَضِنَا هَاهُنَا أَقْسَامٌ: (أَحَدُهَا): الْمَجْهُولُ الْعَدَالَةِ مِنْ حَيْثُ الظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ جَمِيعًا، وَرِوَايَتُهُ غَيْرُ مَقْبُولَةٍ عِنْدَ الْجَمَاهِيرِ عَلَى مَا نَبَّهْنَا عَلَيْهِ أَوَّلًا.
"Tentang riwayat orang yang majhul (tidak dikenal), dalam pembahasan kami di sini ia terbagi menjadi beberapa bagian: (pertama) majhul 'adalahnya baik secara zahir maupun batin sekaligus - riwayatnya tidak diterima menurut mayoritas ulama, sebagaimana telah kami singgung sebelumnya."
(الثَّانِي): الْمَجْهُولُ الَّذِي جُهِلَتْ عَدَالَتُهُ الْبَاطِنَةُ، وَهُوَ عَدْلٌ فِي الظَّاهِرِ، وَهُوَ الْمَسْتُورُ، فَقَدْ قَالَ بَعْضُ أَئِمَّتِنَا: "الْمَسْتُورُ مَنْ يَكُونُ عَدْلًا فِي الظَّاهِرِ، وَلَا تُعْرَفَ عَدَالَةُ بَاطِنِهِ". فَهَذَا الْمَجْهُولُ يَحْتَجُّ بِرِوَايَتِهِ بَعْضُ مَنْ رَدَّ رِوَايَةَ الْأَوَّلِ، وَهُوَ قَوْلُ بَعْضِ الشَّافِعِيِّينَ وَبِهِ قَطَعَ مِنْهُمُ الْإِمَامُ سُلَيْمُ بْنُ أَيُّوبَ الرَّازِيُّ، قَالَ: "لِأَنَّ أَمْرَ الْأَخْبَارِ مَبْنِيٌّ عَلَى حُسْنِ الظَّنِّ بِالرَّاوِي؛ وَلِأَنَّ رِوَايَةَ الْأَخْبَارِ تَكُونُ عِنْدَ مَنْ يَتَعَذَّرُ عَلَيْهِ مَعْرِفَةُ الْعَدَالَةِ فِي الْبَاطِنِ، فَاقْتُصِرَ فِيهَا عَلَى مَعْرِفَةِ ذَلِكَ فِي الظَّاهِرِ، وَتُفَارِقُ الشَّهَادَةَ فَإِنَّهَا تَكُونُ عِنْدَ الْحُكَّامِ، وَلَا يَتَعَذَّرُ عَلَيْهِمْ ذَلِكَ، فَاعْتُبِرَ فِيهَا الْعَدَالَةُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ".
"(Kedua) al-majhul yang batin-'adalahnya tidak diketahui, namun zahirnya adil - inilah al-mastur (yang tertutup keadaannya). Sebagian imam kami berkata: 'al-mastur adalah orang yang adil secara zahir, namun tidak diketahui 'adalah batinnya.' Riwayat majhul jenis ini dijadikan hujjah oleh sebagian ulama yang menolak riwayat jenis pertama - ini adalah pendapat sebagian ulama Syafi'iyyah, dan yang menegaskannya di antara mereka adalah Imam Sulaim bin Ayyub ar-Razi. Ia berkata: 'karena urusan khabar dibangun di atas husnuzhan (baik sangka) terhadap perawi; dan karena periwayatan khabar biasanya dilakukan oleh orang yang sulit baginya mengetahui 'adalah batin, sehingga cukup diketahui 'adalah zahirnya saja. Ini berbeda dengan persaksian, karena persaksian dilakukan di hadapan para hakim, dan bagi mereka tidaklah sulit (untuk menyelidiki lebih dalam), sehingga disyaratkan padanya 'adalah zahir dan batin sekaligus.'"
قُلْتُ: وَيُشْبِهُ أَنْ يَكُونَ الْعَمَلُ عَلَى هَذَا الرَّأْيِ فِي كَثِيرٍ مِنْ كُتُبِ الْحَدِيثِ الْمَشْهُورَةِ فِي غَيْرِ وَاحِدٍ مِنَ الرُّوَاةِ الَّذِينَ تَقَادَمَ الْعَهْدُ بِهِمْ، وَتَعَذَّرَتِ الْخِبْرَةُ الْبَاطِنَةُ بِهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: tampaknya praktik dalam banyak kitab hadits yang masyhur memang mengikuti pendapat ini, pada tidak sedikit perawi yang zamannya telah lama berlalu dan pengetahuan batin tentang mereka sudah sulit diperoleh. Wallahu a'lam."
(الثَّالِثُ): الْمَجْهُولُ الْعَيْنِ، وَقَدْ يَقْبَلُ رِوَايَةَ الْمَجْهُولِ الْعَدَالَةِ مَنْ لَا يَقْبَلُ رِوَايَةَ الْمَجْهُولِ الْعَيْنِ، وَمَنْ رَوَى عَنْهُ عَدْلَانِ وَعَيَّنَاهُ فَقَدِ ارْتَفَعَتْ عَنْهُ هَذِهِ الْجَهَالَةُ.
"(Ketiga) al-majhul al-'ain (yang tidak dikenal identitasnya). Terkadang orang yang tidak menerima riwayat majhul 'ain justru menerima riwayat majhul 'adalah. Siapa yang diriwayatkan darinya oleh dua orang perawi adil yang menyebutkan identitasnya dengan jelas, maka status kemajhulan ini telah terangkat darinya."
ذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ الْبَغْدَادِيُّ فِي أَجْوِبَةِ مَسَائِلَ سُئِلَ عَنْهَا أَنَّ الْمَجْهُولَ عِنْدَ أَصْحَابِ الْحَدِيثِ هُوَ كُلُّ مَنْ لَمْ تَعْرِفْهُ الْعُلَمَاءُ، وَمَنْ لَمْ يُعْرَفُ حَدِيثُهُ إِلَّا مِنْ جِهَةِ رَاوٍ وَاحِدٍ مِثْلَ عَمْرٍو ذِي مُرٍّ، وَجَبَّارٍ الطَّائِيِّ، وَسَعِيدِ بْنِ ذِي حُدَّانَ، لَمْ يَرْوِ عَنْهُمْ غَيْرُ أَبِي إِسْحَاقَ السَّبِيعِيِّ، وَمِثْلَ الْهَزْهَازِ بْنِ مَيْزَنٍ، لَا رَاوِيَ عَنْهُ غَيْرُ الشَّعْبِيِّ، وَمِثْلَ جُرَيِّ بْنِ كُلَيْبٍ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ إِلَّا قَتَادَةُ.
"Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi menyebutkan dalam jawaban atas sejumlah pertanyaan yang diajukan kepadanya, bahwa al-majhul menurut ahli hadits adalah setiap orang yang tidak dikenal oleh para ulama, dan orang yang haditsnya tidak dikenal kecuali dari jalur satu orang perawi saja - seperti Amr Dzi Murr, Jabbar ath-Tha'i, dan Sa'id bin Dzi Huddan, yang tidak ada yang meriwayatkan dari mereka selain Abu Ishaq as-Sabi'i; dan seperti al-Hazhaz bin Maizan, tidak ada yang meriwayatkan darinya selain asy-Sya'bi; dan seperti Jurayy bin Kulaib, tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Qatadah."
قُلْتُ: قَدْ رَوَى عَنِ الْهَزْهَازِ الثَّوْرِيُّ أَيْضًا. قَالَ الْخَطِيبُ: "وَأَقَلُّ مَا تَرْتَفِعُ بِهِ الْجَهَالَةُ أَنْ يَرْوِيَ عَنِ الرَّجُلِ اثْنَانِ مِنَ الْمَشْهُورِينَ بِالْعِلْمِ، إِلَّا أَنَّهُ لَا يَثْبُتُ لَهُ حُكْمُ الْعَدَالَةِ بِرِوَايَتِهِمَا عَنْهُ". وَهَذَا مِمَّا قَدَّمْنَا بَيَانَهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ats-Tsauri juga telah meriwayatkan dari al-Hazhaz. Al-Khathib berkata: 'batas minimal terangkatnya kemajhulan adalah adanya dua orang yang masyhur berilmu yang meriwayatkan dari orang tersebut, hanya saja status hukum 'adalah tidak lantas tetap baginya semata-mata karena periwayatan keduanya darinya.' Ini termasuk apa yang telah kami jelaskan sebelumnya. Wallahu a'lam."
قُلْتُ: قَدْ خَرَّجَ الْبُخَارِيُّ فِي صَحِيحِهِ حَدِيثَ جَمَاعَةٍ لَيْسَ لَهُمْ غَيْرُ رَاوٍ وَاحِدٍ، مِنْهُمْ مِرْدَاسٌ الْأَسْلَمِيُّ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ غَيْرُ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ، وَكَذَلِكَ خَرَّجَ مُسْلِمٌ حَدِيثَ قَوْمٍ لَا رَاوِيَ لَهُمْ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْهُمْ رَبِيعَةُ بْنُ كَعْبٍ الْأَسْلَمِيُّ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ غَيْرُ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَذَلِكَ مِنْهُمَا مُصَيِّرٌ إِلَى أَنَّ الرَّاوِيَ قَدْ يَخْرُجُ عَنْ كَوْنِهِ مَجْهُولًا مَرْدُودًا بِرِوَايَةِ وَاحِدٍ عَنْهُ. وَالْخِلَافُ فِي ذَلِكَ مُتَّجِهٌ نَحْوَ اتِّجَاهِ الْخِلَافِ الْمَعْرُوفِ فِي الِاكْتِفَاءِ بِوَاحِدٍ فِي التَّعْدِيلِ عَلَى مَا قَدَّمْنَاهُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: al-Bukhari telah mentakhrij dalam Shahih-nya hadits sejumlah orang yang tidak memiliki perawi lain selain satu orang saja - di antaranya Mirdas al-Aslami, yang tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Qais bin Abi Hazim. Begitu pula Muslim mentakhrij hadits sejumlah orang yang tidak memiliki perawi selain satu orang saja - di antaranya Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami, yang tidak ada yang meriwayatkan darinya selain Abu Salamah bin Abdurrahman. Sikap keduanya ini mengarah pada pandangan bahwa seorang perawi bisa keluar dari status majhul-mardud (ditolak) semata-mata dengan periwayatan satu orang darinya. Perselisihan dalam hal ini sejalan dengan arah perselisihan yang telah dikenal tentang kecukupan satu orang dalam ta'dil, sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya. Wallahu a'lam."
Masalah kesembilan:
اخْتَلَفُوا فِي قَبُولِ رِوَايَةِ الْمُبْتَدِعِ الَّذِي لَا يُكَفَّرُ فِي بِدْعَتِهِ. فَمِنْهُمْ مَنْ رَدَّ رِوَايَتَهُ مُطْلَقًا؛ لِأَنَّهُ فَاسِقٌ بِبِدْعَتِهِ، وَكَمَا اسْتَوَى فِي الْكُفْرِ الْمُتَأَوِّلُ وَغَيْرُ الْمُتَأَوِّلِ يَسْتَوِي فِي الْفِسْقِ الْمُتَأَوِّلُ وَغَيْرُ الْمُتَأَوِّلِ.
"Para ulama berselisih pendapat mengenai penerimaan riwayat seorang mubtadi' (pelaku bid'ah) yang tidak dikafirkan karena bid'ahnya. Sebagian menolak riwayatnya secara mutlak, karena ia fasik dengan bid'ahnya, dan sebagaimana dalam kekufuran, orang yang mentakwil dan yang tidak mentakwil sama-sama dihukumi kufur, maka dalam kefasikan pun demikian, yang mentakwil dan yang tidak mentakwil sama-sama dihukumi fasik."
وَمِنْهُمْ مَنْ قَبِلَ رِوَايَةَ الْمُبْتَدِعِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مِمَّنْ يَسْتَحِلُّ الْكَذِبَ فِي نُصْرَةِ مَذْهَبِهِ أَوْ لِأَهْلِ مَذْهَبِهِ، سَوَاءٌ كَانَ دَاعِيَةً إِلَى بِدْعَتِهِ أَوْ لَمْ يَكُنْ، وَعَزَا بَعْضُهُمْ هَذَا إِلَى الشَّافِعِيِّ، لِقَوْلِهِ: "أَقْبَلُ شَهَادَةَ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ إِلَّا الْخَطَّابِيَّةَ مِنَ الرَّافِضَةِ؛ لِأَنَّهُمْ يَرَوْنَ الشَّهَادَةَ بِالزُّورِ لِمُوَافَقِيهِمْ". وَقَالَ قَوْمٌ: "تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ دَاعِيَةً، وَلَا تُقْبَلُ إِذَا كَانَ دَاعِيَةً"، وَهَذَا مَذْهَبُ الْكَثِيرِ أَوِ الْأَكْثَرِ مِنَ الْعُلَمَاءِ.
"Sebagian lain menerima riwayat mubtadi' selama ia bukan termasuk orang yang menghalalkan dusta demi membela mazhabnya atau pengikut mazhabnya, baik ia seorang da'i (penyeru) bagi bid'ahnya maupun bukan. Sebagian menisbatkan pendapat ini kepada asy-Syafi'i, berdasarkan ucapannya: 'aku menerima persaksian ahli hawa nafsu (pelaku bid'ah) kecuali al-Khaththabiyyah dari kalangan Rafidhah, karena mereka membolehkan persaksian palsu demi orang-orang yang sepaham dengan mereka.' Sebagian ulama lain berkata: 'riwayatnya diterima jika ia bukan da'i, dan tidak diterima jika ia seorang da'i' - ini adalah mazhab yang dipegang banyak, atau bahkan mayoritas, ulama."
وَحَكَى بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ خِلَافًا بَيْنَ أَصْحَابِهِ فِي قَبُولِ رِوَايَةِ الْمُبْتَدِعِ إِذَا لَمْ يَدْعُ إِلَى بِدْعَتِهِ، وَقَالَ: أَمَّا إِذَا كَانَ دَاعِيَةً فَلَا خِلَافَ بَيْنَهِمْ فِي عَدَمِ قَبُولِ رِوَايَتِهِ. وَقَالَ أَبُو حَاتِمِ بْنُ حِبَّانَ الْبُسْتِيُّ أَحَدُ الْمُصَنِّفِينَ مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ: "الدَّاعِيَةُ إِلَى الْبِدَعِ لَا يَجُوزُ الِاحْتِجَاجُ بِهِ عِنْدَ أَئِمَّتِنَا قَاطِبَةً، لَا أَعْلَمُ بَيْنَهُمْ فِيهِ خِلَافًا".
"Sebagian pengikut asy-Syafi'i radhiyallahu 'anhu menceritakan adanya perselisihan di antara sesama pengikutnya tentang penerimaan riwayat mubtadi' yang tidak menyerukan bid'ahnya, dan berkata: 'adapun jika ia seorang da'i, tidak ada perselisihan di antara mereka bahwa riwayatnya tidak diterima.' Abu Hatim Ibnu Hibban al-Busti, salah seorang penulis dari kalangan imam hadits, berkata: 'da'i kepada bid'ah tidak boleh dijadikan hujjah menurut seluruh imam kami, aku tidak mengetahui adanya perselisihan di antara mereka dalam hal ini.'"
وَهَذَا الْمَذْهَبُ الثَّالِثُ أَعْدَلُهَا وَأَوْلَاهَا، وَالْأَوَّلُ بَعِيدٌ مُبَاعِدٌ لِلشَّائِعِ عَنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، فَإِنَّ كُتُبَهُمْ طَافِحَةٌ بِالرِّوَايَةِ عَنِ الْمُبْتَدِعَةِ غَيْرِ الدُّعَاةِ. وَفِي الصَّحِيحَيْنِ كَثِيرٌ مِنْ أَحَادِيثِهِمْ فِي الشَّوَاهِدِ وَالْأُصُولِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Mazhab ketiga inilah yang paling adil dan paling utama, sementara mazhab pertama sangat jauh menyimpang dari apa yang telah masyhur di kalangan para imam hadits, karena kitab-kitab mereka penuh dengan riwayat dari kalangan mubtadi' yang bukan da'i. Dalam kedua kitab Shahih pun banyak terdapat hadits-hadits mereka, baik dalam syawahid (penguat) maupun dalam ushul (hadits pokok). Wallahu a'lam."
Masalah kesepuluh:
التَّائِبُ مِنَ الْكَذِبِ فِي حَدِيثِ النَّاسِ وَغَيْرِهِ مِنْ أَسْبَابِ الْفِسْقِ تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ، إِلَّا التَّائِبَ مِنَ الْكَذِبِ مُتَعَمِّدًا فِي حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِنَّهُ لَا تُقْبَلُ رِوَايَتُهُ أَبَدًا، وَإِنْ حَسُنَتْ تَوْبَتُهُ، عَلَى مَا ذُكِرَ عَنْ غَيْرِ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ، مِنْهُمْ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَأَبُو بَكْرٍ الْحُمَيْدِيُّ شَيْخُ الْبُخَارِيِّ.
"Orang yang bertaubat dari dusta dalam perkataan sehari-hari, atau dari sebab-sebab kefasikan lainnya, riwayatnya diterima. Kecuali orang yang bertaubat dari dusta yang disengaja dalam hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka riwayatnya tidak akan pernah diterima selamanya, sekalipun taubatnya baik - demikian yang disebutkan oleh tidak sedikit ahli ilmu, di antaranya Ahmad bin Hanbal dan Abu Bakr al-Humaidi, guru al-Bukhari."
وَأَطْلَقَ الْإِمَامُ أَبُو بَكْرٍ الصَّيْرَفِيُّ الشَّافِعِيُّ فِيمَا وَجَدْتُ لَهُ فِي شَرْحِهِ لِرِسَالَةِ الشَّافِعِيِّ، فَقَالَ: "كُلُّ مَنْ أَسْقَطْنَا خَبَرَهُ مِنْ أَهْلِ النَّقْلِ بِكَذِبٍ وَجَدْنَاهُ عَلَيْهِ لَمْ نَعُدْ لِقَبُولِهِ بِتَوْبَةٍ تَظْهَرُ، وَمَنْ ضَعَّفْنَا نَقْلَهُ لَمْ نَجْعَلْهُ قَوِيًّا بَعْدَ ذَلِكَ". وَذَكَرَ أَنَّ ذَلِكَ مِمَّا افْتَرَقَتْ فِيهِ الرِّوَايَةُ وَالشَّهَادَةُ، وَذَكَرَ الْإِمَامُ أَبُو الْمُظَفَّرِ السَّمْعَانِيُّ الْمَرْوَزِيُّ أَنَّ مَنْ كَذَبَ فِي خَبَرٍ وَاحِدٍ وَجَبَ إِسْقَاطُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ حَدِيثِهِ، وَهَذَا يُضَاهِي مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى مَا ذَكَرَهُ الصَّيْرَفِيُّ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Imam Abu Bakr ash-Shairafi asy-Syafi'i menetapkan secara mutlak, sebagaimana aku dapati dalam syarahnya atas Risalah asy-Syafi'i, ia berkata: 'setiap orang dari kalangan ahli naql yang kami gugurkan khabarnya karena kedustaan yang kami temukan padanya, kami tidak akan kembali menerimanya sekalipun tampak taubatnya. Dan siapa yang kami lemahkan periwayatannya, kami tidak akan menjadikannya kuat lagi setelahnya.' Ia menyebutkan bahwa hal ini termasuk perkara yang membedakan antara riwayat dan syahadah (persaksian). Imam Abul Muzhaffar as-Sam'ani al-Marwazi juga menyebutkan bahwa siapa yang berdusta dalam satu khabar saja, wajib digugurkan seluruh hadits sebelumnya darinya - ini semakna dengan apa yang disebutkan ash-Shairafi. Wallahu a'lam."
Masalah kesebelas:
إِذَا رَوَى ثِقَةٌ عَنْ ثِقَةٍ حَدِيثًا وَرُوجِعَ الْمَرْوِيُّ عَنْهُ فَنَفَاهُ فَالْمُخْتَارُ أَنَّهُ إِنْ كَانَ جَازِمًا بِنَفْيِهِ بِأَنْ قَالَ: "مَا رَوَيْتُهُ، أَوْ كَذَبَ عَلَيَّ" أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، فَقَدْ تَعَارَضَ الْجَزْمَانِ، وَالْجَاحِدُ هُوَ الْأَصْلُ، فَوَجَبَ رَدُّ حَدِيثٍ فَرْعُهُ ذَلِكَ، ثُمَّ لَا يَكُونُ ذَلِكَ جَرْحًا لَهُ يُوجِبُ رَدَّ بَاقِي حَدِيثِهِ؛ لِأَنَّهُ مُكَذِّبٌ لِشَيْخِهِ أَيْضًا فِي ذَلِكَ، وَلَيْسَ قَبُولُ جَرْحِ شَيْخِهِ لَهُ بِأَوْلَى مِنْ قَبُولِ جَرْحِهِ لِشَيْخِهِ، فَتَسَاقَطَا.
"Apabila seorang yang tsiqah meriwayatkan sebuah hadits dari seorang yang tsiqah, lalu orang yang diriwayatkan darinya itu ditanyai (untuk konfirmasi) dan ia menafikannya, maka pendapat yang dipilih: jika ia menafikannya dengan tegas, seperti berkata 'aku tidak pernah meriwayatkannya' atau 'ia telah berdusta atas namaku' atau semisalnya, maka telah terjadi pertentangan dua ketegasan, dan pihak yang mengingkari (al-jahid) adalah sumber asal periwayatan itu, sehingga wajib menolak hadits yang menjadi cabangnya tersebut. Namun hal itu bukanlah jarh baginya yang mengharuskan penolakan atas seluruh haditsnya yang lain, karena ia (orang yang meriwayatkan) juga telah mendustakan gurunya dalam hal ini, dan diterimanya jarh sang guru terhadapnya tidak lebih utama daripada diterimanya jarh dirinya terhadap sang guru, sehingga keduanya saling menggugurkan."
أَمَّا إِذَا قَالَ الْمَرْوِيُّ عَنْهُ: "لَا أَعْرِفُهُ، أَوْ لَا أَذْكُرُهُ" أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ، فَذَلِكَ لَا يُوجِبُ رَدَّ رِوَايَةِ الرَّاوِي عَنْهُ. وَمَنْ رَوَى حَدِيثًا ثُمَّ نَسِيَهُ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ مُسْقِطًا لِلْعَمَلِ بِهِ عِنْدَ جُمْهُورِ أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ، وَالْمُتَكَلِّمِينَ، خِلَافًا لِقَوْمٍ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ صَارُوا إِلَى إِسْقَاطِهِ بِذَلِكَ، وَبَنَوْا عَلَيْهِ رَدَّهُمْ حَدِيثَ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا نُكِحْتِ الْمَرْأَةُ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيِّهَا، فَنِكَاحُهَا بَاطِلٌ..." الْحَدِيثَ، مِنْ أَجْلِ أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ قَالَ: "لَقِيتُ الزُّهْرِيَّ فَسَأَلْتُهُ عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ فَلَمْ يَعْرِفْهُ".
"Adapun jika orang yang diriwayatkan darinya itu berkata: 'aku tidak mengenalnya' atau 'aku tidak mengingatnya' atau semisalnya, hal itu tidak mengharuskan penolakan atas riwayat perawi yang meriwayatkan darinya. Dan siapa yang meriwayatkan sebuah hadits lalu kemudian melupakannya, hal itu tidak menggugurkan pengamalan hadits itu menurut mayoritas ahli hadits, mayoritas fuqaha, dan ahli kalam - berbeda dengan sebagian pengikut Abu Hanifah yang menggugurkannya karena hal itu, dan atas dasar itu mereka menolak hadits Sulaiman bin Musa, dari az-Zuhri, dari Urwah, dari Aisyah, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: 'apabila seorang wanita menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal...' -hadits ini seterusnya- karena Ibnu Juraij berkata: 'aku bertemu az-Zuhri dan bertanya kepadanya tentang hadits ini, namun ia tidak mengenalinya.'"
وَكَذَا حَدِيثُ رَبِيعَةَ الرَّأْيِ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: "أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى بِشَاهِدٍ وَيَمِينٍ" فَإِنَّ عَبْدَ الْعَزِيزِ بْنَ مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيَّ قَالَ: "لَقِيتُ سُهَيْلًا فَسَأَلْتُهُ عَنْهُ، فَلَمْ يَعْرِفْهُ".
"Begitu pula hadits Rabi'ah ar-Ra'yi, dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah: 'bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memutuskan perkara dengan satu saksi dan sumpah', karena Abdul Aziz bin Muhammad ad-Darawardi berkata: 'aku bertemu Suhail dan bertanya kepadanya tentang hadits ini, namun ia tidak mengenalinya.'"
وَالصَّحِيحُ مَا عَلَيْهِ الْجُمْهُورُ؛ لِأَنَّ الْمَرْوِيَّ عَنْهُ بِصَدَدِ السَّهْوِ وَالنِّسْيَانِ، وَالرَّاوِي عَنْهُ ثِقَةٌ جَازِمٌ، فَلَا يُرَدُّ بِالِاحْتِمَالِ رِوَايَتُهُ، وَلِهَذَا كَانَ سُهَيْلٌ بَعْدَ ذَلِكَ يَقُولُ: حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ عَنِّي، عَنْ أَبِي وَيَسُوقُ الْحَدِيثَ.
"Yang shahih adalah pendapat mayoritas, karena orang yang diriwayatkan darinya itu tetap berpotensi lupa dan lalai, sedangkan perawi darinya adalah tsiqah dan tegas, sehingga riwayatnya tidak ditolak hanya karena kemungkinan (lupa). Oleh sebab itu, Suhail sendiri setelah itu berkata: 'Rabi'ah telah menceritakan kepadaku dariku sendiri, dari ayahku', lalu ia membawakan hadits itu."
وَقَدْ رَوَى كَثِيرٌ مِنَ الْأَكَابِرِ أَحَادِيثَ نَسُوهَا بَعْدَ مَا حَدَّثُوا بِهَا عَمَّنْ سَمِعَهَا مِنْهُمْ، فَكَانَ أَحَدُهُمْ يَقُولُ: "حَدَّثَنِي فُلَانٌ عَنِّي، عَنْ فُلَانٍ، بِكَذَا وَكَذَا. وَجَمَعَ الْحَافِظُ الْخَطِيبُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ (أَخْبَارِ مَنْ حَدَّثَ وَنَسِيَ). وَلِأَجْلِ أَنَّ الْإِنْسَانَ مُعَرَّضٌ لِلنِّسْيَانِ كَرِهَ مَنْ كَرِهَ مِنَ الْعُلَمَاءِ الرِّوَايَةَ عَنِ الْأَحْيَاءِ، مِنْهُمُ الشَّافِعِيُّ قَالَ لِابْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ: "إِيَّاكَ وَالرِّوَايَةَ عَنِ الْأَحْيَاءِ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Banyak dari kalangan tokoh besar (akabir) yang meriwayatkan hadits-hadits yang mereka lupakan sendiri setelah mereka sampaikan kepada orang yang mendengarnya dari mereka. Salah seorang dari mereka biasa berkata: 'fulan telah menceritakan kepadaku dariku sendiri, dari fulan, demikian dan demikian.' Al-Hafizh al-Khathib menghimpun kasus-kasus ini dalam kitab 'Akhbar Man Haddatsa wa Nasiya' (Kisah Orang yang Meriwayatkan lalu Lupa). Karena manusia rentan lupa, sebagian ulama membenci periwayatan dari orang yang masih hidup, di antaranya asy-Syafi'i, yang berkata kepada Ibnu Abdil Hakam: 'jauhilah periwayatan dari orang yang masih hidup.' Wallahu a'lam."
Masalah kedua belas:
مَنْ أَخَذَ عَلَى التَّحْدِيثِ أَجْرًا مَنَعَ ذَلِكَ مِنْ قَبُولِ رِوَايَتِهِ عِنْدَ قَوْمٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، رُوِّينَا عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الْمُحَدِّثِ يُحَدِّثُ بِالْأَجْرِ، فَقَالَ: "لَا يُكْتَبُ عَنْهُ"، وَعَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَأَبِي حَاتِمٍ الرَّازِيِّ نَحْوُ ذَلِكَ.
"Siapa yang mengambil upah atas periwayatan hadits, hal itu menghalangi diterimanya riwayatnya menurut sebagian imam hadits. Kami meriwayatkan dari Ishaq bin Ibrahim, bahwa ia ditanya tentang muhaddits yang meriwayatkan hadits demi upah, lalu ia menjawab: 'tidak dicatat riwayat darinya.' Dari Ahmad bin Hanbal dan Abu Hatim ar-Razi terdapat pendapat yang serupa."
وَتَرَخَّصَ أَبُو نُعَيْمٍ الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ، وَعَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ الْمَكِّيُّ وَآخَرُونَ فِي أَخْذِ الْعِوَضِ (عَلَى التَّحْدِيثِ)، وَذَلِكَ شَبِيهٌ بِأَخْذِ الْأُجْرَةِ عَلَى تَعْلِيمِ الْقُرْآنِ وَنَحْوِهِ، غَيْرَ أَنَّ فِي هَذَا مِنْ حَيْثُ الْعُرْفُ خَرْمًا لِلْمُرُوءَةِ، وَالظَّنُّ يُسَاءُ بِفَاعِلِهِ إِلَّا أَنْ يَقْتَرِنَ ذَلِكَ بِعُذْرٍ يَنْفِي ذَلِكَ عَنْهُ، كَمِثْلِ مَا حَدَّثَنِيهِ الشَّيْخُ أَبُو الْمُظَفَّرِ، عَنْ أَبِيهِ الْحَافِظِ أَبِي سَعْدٍ السَّمْعَانِيِّ أَنَّ أَبَا الْفَضْلِ مُحَمَّدَ بْنَ نَاصِرٍ السَّلَّامِيَّ ذَكَرَ أَنَّ أَبَا الْحُسَيْنِ بْنَ النَّقُورِ فَعَلَ ذَلِكَ، لِأَنَّ الشَّيْخَ أَبَا إِسْحَاقَ الشِّيرَازِيَّ أَفْتَاهُ بِجَوَازِ أَخْذِ الْأُجْرَةِ عَلَى التَّحْدِيثِ؛ لِأَنَّ أَصْحَابَ الْحَدِيثِ كَانُوا يَمْنَعُونَهُ عَنِ الْكَسْبِ لِعِيَالِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Abu Nu'aim al-Fadhl bin Dukain, Ali bin Abdil Aziz al-Makki, dan lainnya, memberi keringanan dalam menerima imbalan atas periwayatan hadits, karena itu serupa dengan mengambil upah atas mengajarkan Al-Qur'an dan semisalnya. Hanya saja secara adat kebiasaan ('urf), hal ini merusak muru'ah, dan sangkaan buruk mudah timbul terhadap pelakunya, kecuali disertai alasan yang menepis hal itu darinya - seperti apa yang diceritakan kepadaku oleh Syaikh Abul Muzhaffar, dari ayahnya al-Hafizh Abu Sa'd as-Sam'ani, bahwa Abul Fadhl Muhammad bin Nashir as-Sallami menyebutkan bahwa Abul Husain bin an-Naqur melakukan hal itu, karena Syaikh Abu Ishaq asy-Syirazi telah memberinya fatwa bolehnya mengambil upah atas periwayatan hadits, sebab para ahli hadits (waktu itu) menghalanginya dari mencari nafkah untuk keluarganya. Wallahu a'lam."
Masalah ketiga belas:
لَا تُقْبَلُ رِوَايَةُ مَنْ عُرِفَ بِالتَّسَاهُلِ فِي سَمَاعِ الْحَدِيثِ أَوْ إِسْمَاعِهِ، كَمَنْ لَا يُبَالِي بِالنَّوْمِ فِي مَجْلِسِ السَّمَاعِ، وَكَمَنْ يُحَدِّثُ لَا مِنْ أَصْلٍ مُقَابَلٍ صَحِيحٍ، وَمِنْ هَذَا الْقَبِيلِ مَنْ عُرِفَ بِقَبُولِ التَّلْقِينِ فِي الْحَدِيثِ. وَلَا تُقْبَلُ رِوَايَةُ مَنْ كَثُرَتِ الشَّوَاذُّ وَالْمَنَاكِيرُ فِي حَدِيثِهِ. جَاءَ عَنْ شُعْبَةَ أَنَّهُ قَالَ: "لَا يَجِيئُكَ الْحَدِيثُ الشَّاذُّ إِلَّا مِنَ الرَّجُلِ الشَّاذِّ". وَلَا تُقْبَلُ رِوَايَةُ مَنْ عُرِفَ بِكَثْرَةِ السَّهْوِ فِي رِوَايَاتِهِ إِذَا لَمْ يُحَدِّثْ مِنْ أَصْلٍ صَحِيحٍ. وَكُلُّ هَذَا يَخْرِمُ الثِّقَةَ بِالرَّاوِي وَبِضَبْطِهِ.
"Tidak diterima riwayat orang yang dikenal bermudah-mudahan dalam mendengar atau menyampaikan hadits, seperti orang yang tidak peduli tertidur di majelis sama' (pendengaran hadits), atau orang yang meriwayatkan hadits bukan dari naskah asli yang telah dicocokkan dengan benar. Termasuk kategori ini juga orang yang dikenal mudah menerima talqin (bisikan/sugesti) dalam periwayatan hadits. Tidak diterima pula riwayat orang yang haditsnya banyak mengandung syadz dan munkar. Diriwayatkan dari Syu'bah, ia berkata: 'tidak akan datang kepadamu hadits yang syadz kecuali dari orang yang syadz (menyimpang) pula.' Tidak diterima pula riwayat orang yang dikenal sering lalai dalam riwayat-riwayatnya, apabila ia tidak meriwayatkan dari naskah asli yang shahih. Semua ini merusak kepercayaan terhadap perawi dan ke-dhabit-annya."
وَوَرَدَ عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ وَأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَالْحُمَيْدِيِّ وَغَيْرِهِمْ أَنَّ مَنْ غَلِطَ فِي حَدِيثٍ وَبُيِّنَ لَهُ غَلَطُهُ، وَلَمْ يَرْجِعْ عَنْهُ وَأَصَرَّ عَلَى رِوَايَةِ ذَلِكَ الْحَدِيثِ سَقَطَتْ رِوَايَتُهُ وَلَمْ يُكْتَبْ عَنْهُ. وَفِي هَذَا نَظَرٌ، وَهُوَ غَيْرُ مُسْتَنْكَرٍ إِذَا ظَهَرَ أَنَّ ذَلِكَ مِنْهُ عَلَى جِهَةِ الْعِنَادِ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Diriwayatkan dari Ibnul Mubarak, Ahmad bin Hanbal, al-Humaidi, dan selain mereka, bahwa siapa yang keliru dalam sebuah hadits, lalu dijelaskan kepadanya letak kekeliruannya, namun ia tidak mau ruju' (kembali) darinya dan tetap bersikeras meriwayatkan hadits itu, maka gugurlah riwayatnya dan tidak dicatat lagi darinya. Dalam hal ini masih perlu ditinjau (nazhar), namun hal itu tidak mengherankan apabila tampak bahwa sikapnya itu didasari kedegilan atau semisalnya. Wallahu a'lam."
Masalah keempat belas:
أَعْرَضَ النَّاسُ فِي هَذِهِ الْأَعْصَارِ الْمُتَأَخِّرَةِ عَنِ اعْتِبَارِ مَجْمُوعِ مَا بَيَّنَّا مِنَ الشُّرُوطِ فِي رُوَاةِ الْحَدِيثِ وَمَشَايِخِهِ، فَلَمْ يَتَقَيَّدُوا بِهَا فِي رِوَايَاتِهِمْ، لِتَعَذُّرِ الْوَفَاءِ بِذَلِكَ عَلَى نَحْوِ مَا تَقَدَّمَ، وَكَانَ عَلَيْهِ مَنْ تَقَدَّمَ.
"Orang-orang pada zaman-zaman belakangan ini telah berpaling dari memperhatikan keseluruhan syarat yang telah kami jelaskan pada para perawi hadits dan syaikh-syaikh mereka, sehingga mereka tidak lagi terikat dengannya dalam periwayatan mereka, karena sulitnya memenuhi hal itu sebagaimana yang dilakukan oleh generasi terdahulu."
وَوَجْهُ ذَلِكَ مَا قَدَّمْنَا فِي أَوَّلِ كِتَابِنَا هَذَا مِنْ كَوْنِ الْمَقْصُودِ آلَ آخِرًا إِلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَى خِصِّيصَةِ هَذِهِ الْأُمَّةِ فِي الْأَسَانِيدِ، وَالْمُحَاذَرَةِ مِنَ انْقِطَاعِ سِلْسِلَتِهَا، فَلْيُعْتَبَرْ مِنَ الشُّرُوطِ الْمَذْكُورَةِ مَا يَلِيقُ بِهَذَا الْغَرَضِ عَلَى تَجَرُّدِهِ، وَلْيُكْتَفَ فِي أَهْلِيَّةِ الشَّيْخِ بِكَوْنِهِ مُسْلِمًا، بَالِغًا، عَاقِلًا، غَيْرَ مُتَظَاهِرٍ بِالْفِسْقِ وَالسُّخْفِ، وَفِي ضَبْطِهِ بِوُجُودِ سَمَاعِهِ مُثْبَتًا بِخَطٍّ غَيْرِ مُتَّهَمٍ، وَبِرِوَايَتِهِ مِنْ أَصْلٍ مُوَافِقٍ لِأَصْلِ شَيْخِهِ.
"Sebab hal itu adalah sebagaimana telah kami sebutkan di awal kitab ini, bahwa tujuan pada akhirnya bermuara pada penjagaan atas kekhususan umat ini dalam hal isnad, dan kewaspadaan dari terputusnya rangkaiannya. Maka hendaknya diperhatikan dari syarat-syarat yang telah disebutkan itu, apa yang sesuai dengan tujuan ini semata, dan cukuplah dalam kelayakan seorang syaikh bahwa ia muslim, baligh, berakal, tidak terang-terangan menampakkan kefasikan dan kedunguan; dan dalam ke-dhabit-annya cukup dengan adanya bukti sama'-nya yang ditetapkan melalui tulisan tangan yang tidak diragukan, serta periwayatannya berasal dari naskah asli yang sesuai dengan naskah asli gurunya."
وَقَدْ سَبَقَ إِلَى نَحْوِ مَا ذَكَرْنَاهُ الْحَافِظُ الْفَقِيهُ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ، فَإِنَّهُ ذَكَرَ فِيمَا رُوِّينَا عَنْهُ تَوَسُّعَ مَنْ تَوَسَّعَ فِي السَّمَاعِ مِنْ بَعْضِ مُحَدِّثِي زَمَانِهِ الَّذِينَ لَا يَحْفَظُونَ حَدِيثَهُمْ وَلَا يُحْسِنُونَ قِرَاءَتَهُ مَنْ كُتُبِهِمْ، وَلَا يَعْرِفُونَ مَا يُقْرَأُ عَلَيْهِمْ بَعْدَ أَنْ يَكُونَ الْقِرَاءَةُ عَلَيْهِمْ مِنْ أَصْلِ سَمَاعِهِمْ. وَوَجْهُ ذَلِكَ بِأَنَّ الْأَحَادِيثَ الَّتِي قَدْ صَحَّتْ، أَوْ وَقَفَتْ بَيْنَ الصِّحَّةِ وَالسُّقْمِ قَدْ دُوِّنَتْ وَكُتِبَتْ فِي الْجَوَامِعِ الَّتِي جَمَعَهَا أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَذْهَبَ شَيْءٌ مِنْهَا عَلَى جَمِيعِهِمْ، وَإِنْ جَازَ أَنْ يَذْهَبَ عَلَى بَعْضِهِمْ، لِضَمَانِ صَاحِبِ الشَّرِيعَةِ حِفْظَهَا.
"Al-Hafizh al-Faqih Abu Bakr al-Baihaqi rahimahullah telah lebih dulu mengarah pada apa yang kami sebutkan ini. Sebagaimana kami riwayatkan darinya, ia menyebutkan kelapangan sebagian ulama dalam menerima sama' dari sebagian muhaddits sezamannya yang tidak menghafal hadits mereka sendiri, tidak pandai membacanya dari kitab-kitab mereka, dan tidak mengetahui apa yang dibacakan kepada mereka, setelah bacaan itu berasal dari naskah asli sama' mereka sendiri. Sebabnya adalah bahwa hadits-hadits yang telah shahih, atau yang berada di antara shahih dan sakit (cacat), telah dibukukan dan ditulis dalam kitab-kitab jami' yang dihimpun para imam hadits, dan tidak mungkin ada satu pun darinya yang hilang dari seluruh mereka sekaligus, sekalipun mungkin hilang dari sebagian mereka saja - karena Pemilik Syariat (Allah) telah menjamin penjagaannya."
قَالَ: "فَمَنْ جَاءَ الْيَوْمَ بِحَدِيثٍ لَا يُوجَدُ عِنْدَ جَمِيعِهِمْ لَمْ يُقْبَلْ مِنْهُ، وَمَنْ جَاءَ بِحَدِيثٍ مَعْرُوفٍ عِنْدَهُمْ فَالَّذِي يَرْوِيهِ لَا يَنْفَرِدُ بِرِوَايَتِهِ، وَالْحُجَّةُ قَائِمَةٌ بِحَدِيثِهِ بِرِوَايَةِ غَيْرِهِ، وَالْقَصْدُ مِنْ رِوَايَتِهِ وَالسَّمَاعِ مِنْهُ أَنْ يَصِيرَ الْحَدِيثُ مُسَلْسَلًا بِحَدَّثَنَا وَأَخْبَرَنَا، وَتَبْقَى هَذِهِ الْكَرَامَةُ الَّتِي خُصَّتْ بِهَا هَذِهِ الْأُمَّةُ شَرَفًا لِنَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Baihaqi berkata: 'siapa yang hari ini datang membawa suatu hadits yang tidak terdapat pada seluruh mereka, tidak diterima darinya. Siapa yang membawa hadits yang telah dikenal di sisi mereka, maka orang yang meriwayatkannya (dari sanad baru) tidak lagi sendirian dalam periwayatannya, dan hujjah sudah tegak dengan haditsnya melalui riwayat orang lain. Maksud dari periwayatan dan mendengarkannya ini hanyalah agar hadits itu tetap bersambung (musalsal) dengan haddatsana dan akhbarana, dan agar kemuliaan yang menjadi kekhususan umat ini tetap terjaga sebagai kehormatan bagi Nabi kita al-Musthafa shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wasallam.' Wallahu a'lam."
Masalah kelima belas:(penjelasan lafal-lafal jarh dan ta'dil)
فِي بَيَانِ الْأَلْفَاظِ الْمُسْتَعْمَلَةِ بَيْنَ أَهْلِ هَذَا الشَّأْنِ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ، وَقَدْ رَتَّبَهَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي حَاتِمٍ الرَّازِيُّ فِي كِتَابِهِ فِي الْجَرْحِ وَالتَّعْدِيلِ فَأَجَادَ وَأَحْسَنَ، وَنَحْنُ نُرَتِّبُهَا كَذَلِكَ، وَنُورِدُ مَا ذَكَرَهُ، وَنُضِيفُ إِلَيْهِ مَا بَلَغَنَا فِي ذَلِكَ عَنْ غَيْرِهِ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
"Berikut penjelasan lafal-lafal yang digunakan di kalangan ahli disiplin ini dalam hal jarh dan ta'dil. Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim ar-Razi telah menyusunnya dalam kitabnya tentang Al-Jarh wat-Ta'dil, dan ia telah menyusunnya dengan sangat baik. Kami pun akan menyusunnya seperti itu, membawakan apa yang beliau sebutkan, dan menambahkan apa yang sampai kepada kami dalam hal ini dari selain beliau, insya Allah Ta'ala."
Martabat Lafal Ta'dil
(الْأُولَى): قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: "إِذَا قِيلَ لِلْوَاحِدِ إِنَّهُ ثِقَةٌ أَوْ مُتْقِنٌ" فَهُوَ مِمَّنْ يُحْتَجُّ بِحَدِيثِهِ".
"(Martabat pertama) Ibnu Abi Hatim berkata: 'apabila dikatakan tentang seseorang bahwa ia tsiqah atau mutqin, maka ia termasuk yang haditsnya dijadikan hujjah.'"
قُلْتُ: وَكَذَا إِذَا قِيلَ "ثَبْتٌ أَوْ حُجَّةٌ"، وَكَذَا إِذَا قِيلَ فِي الْعَدْلِ إِنَّهُ "حَافِظٌ أَوْ ضَابِطٌ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: begitu pula jika dikatakan 'tsabt atau hujjah', dan begitu pula jika dikatakan tentang orang yang adil bahwa ia 'hafizh atau dhabit'. Wallahu a'lam."
(الثَّانِيَةُ): قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: "إِذَا قِيلَ إِنَّهُ صَدُوقٌ أَوْ مَحَلُّهُ الصِّدْقُ، أَوْ لَا بَأْسَ بِهِ" فَهُوَ مِمَّنْ يُكْتَبُ حَدِيثُهُ وَيُنْظَرُ فِيهِ، وَهِيَ الْمَنْزِلَةُ الثَّانِيَةُ.
"(Martabat kedua) Ibnu Abi Hatim berkata: 'apabila dikatakan bahwa ia shaduq, atau mahalluhush shidq (tempatnya kejujuran), atau la ba'sa bih (tidak apa-apa dengannya), maka ia termasuk yang haditsnya dicatat dan ditinjau (untuk dijadikan penguat) - inilah martabat kedua.'"
قُلْتُ: هَذَا كَمَا قَالَ؛ لِأَنَّ هَذِهِ الْعِبَارَاتِ لَا تُشْعِرُ بِشَرِيطَةِ الضَّبْطِ، فَيُنْظَرُ فِي حَدِيثِهِ وَيُخْتَبَرُ حَتَّى يُعْرَفَ ضَبْطُهُ، وَقَدْ تَقَدَّمَ بَيَانُ طَرِيقِهِ فِي أَوَّلِ هَذَا النَّوْعِ. وَإِنْ لَمْ نَسْتَوْفِ النَّظَرَ الْمُعَرِّفَ لِكَوْنِ ذَلِكَ الْمُحَدِّثِ فِي نَفْسِهِ ضَابِطًا مُطْلَقًا، وَاحْتَجْنَا إِلَى حَدِيثٍ مِنْ حَدِيثِهِ اعْتَبَرْنَا ذَلِكَ الْحَدِيثَ، وَنَظَرْنَا هَلْ لَهُ أَصْلٌ مِنْ رِوَايَةِ غَيْرِهِ؟ كَمَا تَقَدَّمَ بَيَانُ طَرِيقِ الِاعْتِبَارِ فِي النَّوْعِ الْخَامِسَ عَشَرَ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ini sebagaimana yang beliau katakan, karena ungkapan-ungkapan ini tidak mengisyaratkan terpenuhinya syarat dhabt, sehingga haditsnya perlu ditinjau dan diuji hingga diketahui ke-dhabit-annya - metodenya telah dijelaskan di awal anwa' ini. Jika kami belum sempat menyelesaikan peninjauan yang menetapkan apakah muhaddits itu dhabit secara mutlak, sementara kami membutuhkan salah satu haditsnya, kami cukup meninjau hadits itu saja, dan melihat apakah ia memiliki dasar dari riwayat perawi lain - sebagaimana telah dijelaskan metode i'tibar pada anwa' kelima belas."
وَمَشْهُورٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِيٍّ الْقُدْوَةِ فِي هَذَا الشَّأْنِ أَنَّهُ حَدَّثَ، فَقَالَ: "حَدَّثَنَا أَبُو خَلْدَةَ"، فَقِيلَ لَهُ: "أَكَانَ ثِقَةً؟" فَقَالَ: "كَانَ صَدُوقًا، وَكَانَ مَأْمُونًا، وَكَانَ خَيِّرًا - وَفِي رِوَايَةٍ: وَكَانَ خِيَارًا - الثِّقَةُ شُعْبَةُ وَسُفْيَانُ".
"Masyhur dari Abdurrahman bin Mahdi -teladan dalam disiplin ini- bahwa suatu ketika ia meriwayatkan hadits, ia berkata: 'Abu Khaldah telah menceritakan kepada kami.' Ada yang bertanya kepadanya: 'apakah ia tsiqah?' Ia menjawab: 'ia shaduq, ia terpercaya (ma'mun), ia orang baik -dalam riwayat lain: ia orang pilihan- adapun yang tsiqah itu adalah Syu'bah dan Sufyan.'"
ثُمَّ إِنَّ ذَلِكَ مُخَالِفٌ لِمَا وَرَدَ عَنِ ابْنِ أَبِي خَيْثَمَةَ، قَالَ: قَلْتُ لِيَحْيَى بْنِ مَعِينٍ: إِنَّكَ تَقُولُ: فُلَانٌ "لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ"، وَفُلَانٌ "ضَعِيفٌ"؟ قَالَ: إِذَا قُلْتُ لَكَ: "لَيْسَ بِهِ بَأْسٌ" فَهُوَ ثِقَةٌ، وَإِذَا قَلْتُ لَكَ: "هُوَ ضَعِيفٌ" فَلَيْسَ هُوَ بِثِقَةٍ، لَا تَكْتُبْ حَدِيثَهُ.
"Ini berbeda dengan apa yang datang dari Ibnu Abi Khaitsamah. Ia berkata: aku bertanya kepada Yahya bin Ma'in: 'engkau mengatakan tentang fulan: laisa bihi ba's (tidak apa-apa dengannya), dan tentang fulan lain: dha'if?' Ia menjawab: 'apabila aku mengatakan kepadamu: laisa bihi ba's, maka ia tsiqah. Dan apabila aku mengatakan kepadamu: ia dha'if, maka ia tidak tsiqah - jangan engkau catat haditsnya.'"
قُلْتُ: لَيْسَ فِي هَذَا حِكَايَةُ ذَلِكَ عَنْ غَيْرِهِ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ، فَإِنَّهُ نَسَبَهُ إِلَى نَفْسِهِ خَاصَّةً، بِخِلَافِ مَا ذَكَرَهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: dalam riwayat ini Ibnu Ma'in tidak menceritakannya sebagai kesepakatan dari ahli hadits lainnya, karena ia menisbatkan istilah itu khusus kepada dirinya sendiri, berbeda dengan apa yang disebutkan Ibnu Abi Hatim (sebagai konvensi umum). Wallahu a'lam."
(الثَّالِثَةُ): قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: "إِذَا قِيلَ: شَيْخٌ" فَهُوَ بِالْمَنْزِلَةِ الثَّالِثَةِ، يُكْتَبُ حَدِيثُهُ وَيُنْظَرُ فِيهِ، إِلَّا أَنَّهُ دُونَ الثَّانِيَةِ".
"(Martabat ketiga) Ibnu Abi Hatim berkata: 'apabila dikatakan syaikh (saja), maka ia berada pada martabat ketiga, haditsnya dicatat dan ditinjau, hanya saja ia di bawah martabat kedua.'"
(الرَّابِعَةُ): قَالَ: إِذَا قِيلَ "صَالِحُ الْحَدِيثِ" فَإِنَّهُ يُكْتَبُ حَدِيثُهُ لِلِاعْتِبَارِ.
"(Martabat keempat) Ibnu Abi Hatim berkata: 'apabila dikatakan shalihul hadits (baik haditsnya), maka haditsnya dicatat untuk keperluan i'tibar (penguat).'"
قُلْتُ: وَجَاءَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ أَحْمَدَ بْنِ سِنَانٍ قَالَ: كَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ رُبَّمَا جَرَى ذِكْرُ حَدِيثِ الرَّجُلِ فِيهِ ضَعْفٌ، وَهُوَ رَجُلٌ صَدُوقٌ، فَيَقُولُ: رَجُلٌ صَالِحُ الْحَدِيثِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: datang riwayat dari Abu Ja'far Ahmad bin Sinan, ia berkata: 'Abdurrahman bin Mahdi terkadang, ketika disebutkan hadits seseorang yang di dalamnya ada kedha'ifan, padahal orangnya shaduq, ia berkata: dia orang yang shalihul hadits.' Wallahu a'lam."
Martabat Lafal Jarh
(أُولَاهَا): قَوْلُهُمْ: "لَيِّنُ الْحَدِيثِ". قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: إِذَا أَجَابُوا فِي الرَّجُلِ "بِلَيِّنِ الْحَدِيثِ"، فَهُوَ مِمَّنْ يُكْتَبُ حَدِيثُهُ، وَيُنْظَرُ فِيهِ اعْتِبَارًا.
"(Martabat pertama) ucapan mereka: 'layyinul hadits' (lunak/lemah haditsnya). Ibnu Abi Hatim berkata: 'apabila mereka menjawab tentang seseorang dengan layyinul hadits, maka ia termasuk yang haditsnya dicatat dan ditinjau untuk keperluan i'tibar.'"
قُلْتُ: وَسَأَلَ حَمْزَةُ بْنُ يُوسُفَ السَّهْمِيُّ أَبَا الْحَسَنِ الدَّارَقُطْنِيَّ الْإِمَامَ، فَقَالَ لَهُ: إِذَا قُلْتَ: "فُلَانٌ لَيِّنٌ" أَيْشِ تُرِيدُ بِهِ؟ قَالَ: لَا يَكُونُ سَاقِطًا مَتْرُوكَ الْحَدِيثِ، وَلَكِنْ مَجْرُوحًا بِشَيْءٍ لَا يُسْقِطُ عَنِ الْعَدَالَةِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: Hamzah bin Yusuf as-Sahmi bertanya kepada Imam Abul Hasan ad-Daraquthni: 'apabila engkau berkata: fulan layyin, apa yang engkau maksudkan dengannya?' Ad-Daraquthni menjawab: 'ia tidak sampai sakit gugur, tidak matruk (ditinggalkan) haditsnya, namun ia di-jarh dengan sesuatu yang tidak sampai menggugurkan 'adalahnya.'"
(الثَّانِيَةُ): قَالَ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ: إِذَا قَالُوا: "لَيْسَ بِقَوِيٍّ" فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْأَوَّلِ فِي كَتْبِ حَدِيثِهِ، إِلَّا أَنَّهُ دُونَهُ.
"(Martabat kedua) Ibnu Abi Hatim berkata: 'apabila mereka berkata: laisa biqawiy (tidak kuat), maka kedudukannya sama dengan martabat pertama dalam hal pencatatan haditsnya, hanya saja ia di bawahnya.'"
(الثَّالِثَةُ): قَالَ: إِذَا قَالُوا: "ضَعِيفُ الْحَدِيثِ" فَهُوَ دُونَ الثَّانِي، لَا يُطْرَحُ حَدِيثُهُ، بَلْ يُعْتَبَرُ بِهِ.
"(Martabat ketiga) Ibnu Abi Hatim berkata: 'apabila mereka berkata: dha'iful hadits, maka ia di bawah martabat kedua, haditsnya tidak dibuang, namun dijadikan i'tibar (penguat).'"
(الرَّابِعَةُ): قَالَ: إِذَا قَالُوا "مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ"، أَوْ ذَاهِبُ الْحَدِيثِ، أَوْ كَذَّابٌ" فَهُوَ سَاقِطُ الْحَدِيثِ، لَا يُكْتَبُ حَدِيثُهُ، وَهِيَ الْمَنْزِلَةُ الرَّابِعَةُ.
"(Martabat keempat) Ibnu Abi Hatim berkata: 'apabila mereka berkata: matrukul hadits, atau dzahibul hadits (haditsnya hilang/tak berharga), atau kadzdzab (pendusta), maka ia sakit gugur haditsnya, tidak dicatat haditsnya - inilah martabat keempat.'"
قَالَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ: أَرْفَعُ الْعِبَارَاتِ فِي أَحْوَالِ الرُّوَاةِ أَنْ يُقَالَ: "حُجَّةٌ أَوْ ثِقَةٌ"، وَأَدْوَنُهَا أَنْ يُقَالَ: "كَذَّابٌ، سَاقِطٌ".
"Al-Khathib Abu Bakr berkata: 'ungkapan yang paling tinggi tentang keadaan para perawi adalah dikatakan: hujjah atau tsiqah, dan yang paling rendah adalah dikatakan: kadzdzab (pendusta), saqith (gugur).'"
أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ الْمُنْعِمِ الصَّاعِدِيُّ الْفَرَاوِيُّ قِرَاءَةً عَلَيْهِ بِنَيْسَابُورَ أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْفَارِسِيُّ، أَنَا أَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْبَيْهَقِيُّ الْحَافِظُ، أَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْفَضْلِ، أَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ، ثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ صَالِحٍ قَالَ: لَا يُتْرَكُ حَدِيثُ رَجُلٍ حَتَّى يَجْتَمِعَ الْجَمِيعُ عَلَى تَرْكِ حَدِيثِهِ. قَدْ يُقَالُ: "فُلَانٌ ضَعِيفٌ"، فَأَمَّا أَنْ يُقَالَ: "فُلَانٌ مَتْرُوكٌ" فَلَا، إِلَّا أَنْ يُجْمِعَ الْجَمِيعُ عَلَى تَرْكِ حَدِيثِهِ.
"Telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr bin Abdul Mun'im ash-Sha'idi al-Farawi, dengan dibacakan kepadanya di Naisabur, dari Muhammad bin Isma'il al-Farisi, dari Abu Bakr Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi al-Hafizh, dari al-Husain bin al-Fadhl, dari Abdullah bin Ja'far, dari Ya'qub bin Syaibah, ia berkata: aku mendengar Ahmad bin Shalih berkata: 'hadits seseorang tidak ditinggalkan sampai seluruh ulama sepakat meninggalkan haditsnya. Bisa saja dikatakan: fulan dha'if, namun untuk dikatakan: fulan matruk, tidak boleh, kecuali jika seluruh ulama telah sepakat meninggalkan haditsnya.'"
وَمِمَّا لَمْ يَشْرَحْهُ ابْنُ أَبِي حَاتِمٍ وَغَيْرُهُ مِنَ الْأَلْفَاظِ الْمُسْتَعْمَلَةِ فِي هَذَا الْبَابِ قَوْلُهُمْ: "فُلَانٌ قَدْ رَوَى النَّاسُ عَنْهُ، فُلَانٌ وَسَطٌ، فُلَانٌ مُقَارَبُ الْحَدِيثِ، فُلَانٌ مُضْطَرِبُ الْحَدِيثِ، فُلَانٌ لَا يُحْتَجُّ بِهِ، فُلَانٌ مَجْهُولٌ، فُلَانٌ لَا شَيْءَ، فُلَانٌ لَيْسَ بِذَاكَ" وَرُبَّمَا قِيلَ "لَيْسَ بِذَاكَ الْقَوِيِّ"، "فُلَانٌ فِيهِ أَوْ فِي حَدِيثِهِ ضَعْفٌ"، وَهُوَ فِي الْجَرْحِ أَقَلُّ مِنْ قَوْلِهِمْ: "فُلَانٌ ضَعِيفُ الْحَدِيثِ"، "فُلَانٌ مَا أَعْلَمُ بِهِ بَأْسًا"، وَهُوَ فِي التَّعْبِيرِ دُونَ قَوْلِهِمْ: "لَا بَأْسَ بِهِ" وَمَا مِنْ لَفْظَةٍ مِنْهَا وَمِنْ أَشْبَاهِهَا إِلَّا وَلَهَا نَظِيرٌ شَرَحْنَاهُ، أَوْ أَصْلٌ أَصَّلْنَاهُ، يَتَنَبَّهُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى بِهِ عَلَيْهَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Di antara lafal yang tidak dijelaskan oleh Ibnu Abi Hatim dan selainnya, namun digunakan dalam bab ini, adalah ucapan mereka: 'fulan telah diriwayatkan hadits darinya oleh orang-orang (ruwiya an-nasu 'anhu)', 'fulan wasath (pertengahan)', 'fulan muqaribul hadits (mendekati kebenaran haditsnya)', 'fulan mudhtharibul hadits (goncang haditsnya)', 'fulan la yuhtajju bih (tidak dijadikan hujjah)', 'fulan majhul', 'fulan la syai' (tidak ada apa-apanya)', 'fulan laisa bidzaka (bukan seperti itu/biasa saja)' -terkadang dikatakan 'laisa bidzakal qawiy (bukan yang sekuat itu)'-, 'fulan fihi', atau 'fi haditsihi dha'f (padanya/pada haditsnya ada kelemahan)' -ini lebih ringan tingkat jarh-nya dibanding ucapan mereka 'fulan dha'iful hadits'-, 'fulan ma a'lamu bihi ba'san (aku tidak tahu ada masalah dengannya)' -ungkapan ini di bawah ucapan mereka 'la ba'sa bih'. Tidak ada satu pun lafal ini dan yang serupa dengannya, kecuali memiliki padanan yang telah kami jelaskan, atau kaidah dasar yang telah kami tetapkan, yang dengannya -insya Allah Ta'ala- dapat dipahami. Wallahu a'lam."