النَّوْعُ الْمُوَفِّي ثَلَاثِينَ: مَعْرِفَةُ الْمَشْهُورِ مِنَ الْحَدِيثِ
"Anwa' ketiga puluh: mengenal hadits masyhur."1
وَمَعْنَى الشُّهْرَةِ مَفْهُومٌ، وَهُوَ مُنْقَسِمٌ إِلَى: صَحِيحٍ، كَقَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: "إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ". وَأَمْثَالِهِ.
"Makna syuhrah (kemasyhuran) sudah dipahami. Ia terbagi menjadi: masyhur yang shahih, seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: 'sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya', dan yang semisalnya."
وَإِلَى غَيْرِ صَحِيحٍ: كَحَدِيثِ: "طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلٍّ مُسْلِمٍ".
"Dan masyhur yang tidak shahih, seperti hadits: 'menuntut ilmu adalah fardhu atas setiap muslim.'"
وَكَمَا بَلَغَنَا عَنْ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "أَرْبَعَةُ أَحَادِيثَ تَدُورُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي الْأَسْوَاقِ لَيْسَ لَهَا أَصْلٌ:" "مَنْ بَشَّرَنِي بِخُرُوجِ آذَارَ بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّةِ"، وَ"مَنْ آذَى ذِمِّيًّا فَأَنَا خَصْمُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ"، وَ"يَوْمُ نَحْرِكُمْ يَوْمُ صَوْمِكُمْ"، وَ"لِلسَّائِلِ حَقٌّ وَإِنْ جَاءَ عَلَى فَرَسٍ".
"Sebagaimana sampai kepada kami dari Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'ada empat hadits yang beredar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di pasar-pasar (di tengah masyarakat) yang tidak memiliki asal (tidak ada dasarnya sama sekali):' 'siapa yang membawa kabar gembira kepadaku tentang keluarnya bulan Adzar (Maret), akan kukabarkan surga kepadanya', 'siapa yang menyakiti seorang dzimmi, maka akulah lawannya di hari kiamat', 'hari penyembelihan kalian (kurban) adalah hari puasa kalian', dan 'orang yang meminta memiliki hak, sekalipun ia datang dengan menunggang kuda.' (Empat kalimat ini disebutkan Imam Ahmad sebagai contoh ucapan yang beredar luas di masyarakat namun sama sekali tidak memiliki asal/dasar sebagai sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.)"
وَيَنْقَسِمُ مِنْ وَجْهٍ آخَرَ إِلَى: مَا هُوَ مَشْهُورٌ بَيْنَ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَغَيْرِهِمْ، كَقَوْلِهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: "الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ". وَأَشْبَاهِهِ.
"Masyhur juga terbagi dari sisi lain menjadi: yang masyhur di kalangan ahli hadits maupun selain mereka, seperti sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: 'seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya', dan yang semisalnya."
وَإِلَى مَا هُوَ مَشْهُورٌ بَيْنَ أَهْلِ الْحَدِيثِ خَاصَّةً دُونَ غَيْرِهِمْ، كَالَّذِي رُوِّينَاهُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ، عَنْ أَنَسٍ: "أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَنَتَ شَهْرًا بَعْدَ الرُّكُوعِ، يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ، وَذَكْوَانَ".
"Dan yang masyhur khusus di kalangan ahli hadits, bukan selain mereka, seperti apa yang kami riwayatkan dari Muhammad bin Abdillah al-Anshari, dari Sulaiman at-Taimi, dari Abu Mijlaz, dari Anas: 'bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukan qunut selama sebulan setelah ruku, mendoakan keburukan atas (kabilah) Ri'l dan Dzakwan.'"
فَهَذَا مَشْهُورٌ بَيْنَ أَهْلِ الْحَدِيثِ، مُخَرَّجٌ فِي الصَّحِيحِ، وَلَهُ رُوَاةٌ عَنْ أَنَسٍ غَيْرُ أَبِي مِجْلَزٍ، وَرَوَاهُ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ غَيْرُ التَّيْمِيِّ، وَرَوَاهُ عَنِ التَّيْمِيِّ غَيْرُ الْأَنْصَارِيِّ، وَلَا يَعْلَمُ ذَلِكَ إِلَّا أَهْلُ الصَّنْعَةِ. وَأَمَّا غَيْرُهُمْ فَقَدْ يَسْتَغْرِبُونَهُ مِنْ حَيْثُ: إِنَّ التَّيْمِيَّ يَرْوِي عَنْ أَنَسٍ، وَهُوَ هَاهُنَا يَرْوِي عَنْ وَاحِدٍ، عَنْ أَنَسٍ.
"Hadits ini masyhur di kalangan ahli hadits, ditakhrij dalam kitab Shahih, memiliki perawi-perawi lain dari Anas selain Abu Mijlaz, diriwayatkan dari Abu Mijlaz oleh selain at-Taimi, dan diriwayatkan dari at-Taimi oleh selain al-Anshari - dan hal ini hanya diketahui oleh ahli disiplin ilmu ini. Adapun selain mereka, bisa jadi menganggapnya gharib (asing), karena at-Taimi (biasanya) meriwayatkan langsung dari Anas, sedangkan di sini ia meriwayatkan melalui satu perantara dari Anas."
Al-Mutawatir
وَمِنَ الْمَشْهُورِ: الْمُتَوَاتِرُ الَّذِي يَذْكُرُهُ أَهْلُ الْفِقْهِ وَأُصُولِهِ، وَأَهْلُ الْحَدِيثِ لَا يَذْكُرُونَهُ بِاسْمِهِ الْخَاصِّ الْمُشْعِرِ بِمَعْنَاهُ الْخَاصِّ، وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ الْخَطِيبُ قَدْ ذَكَرَهُ، فَفِي كَلَامِهِ مَا يُشْعِرُ بِأَنَّهُ اتَّبَعَ فِيهِ غَيْرَ أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَلَعَلَّ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ لَا تَشْمَلُهُ صِنَاعَتُهُمْ، وَلَا يَكَادُ يُوجَدُ فِي رِوَايَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ عِبَارَةٌ عَنِ الْخَبَرِ الَّذِي يَنْقُلُهُ مَنْ يَحْصُلُ الْعِلْمُ بِصِدْقِهِ ضَرُورَةً، وَلَا بُدَّ فِي إِسْنَادِهِ مِنِ اسْتِمْرَارِ هَذَا الشَّرْطِ فِي رُوَاتِهِ مِنْ أَوَّلِهِ إِلَى مُنْتَهَاهُ.
"Termasuk dalam kategori masyhur adalah al-mutawatir, yang dibahas oleh ahli fiqih dan ushul fiqih, sementara ahli hadits sendiri tidak menyebutnya dengan nama khususnya yang menunjukkan makna khususnya itu. Sekalipun al-Hafizh al-Khathib telah menyebutkannya, dalam ucapannya terdapat isyarat bahwa ia mengikuti selain ahli hadits dalam hal ini - barangkali karena istilah ini tidak tercakup dalam disiplin ilmu mereka dan nyaris tidak ditemukan dalam riwayat-riwayat mereka. Al-mutawatir adalah ungkapan untuk kabar yang diriwayatkan oleh (sejumlah orang) sehingga menghasilkan pengetahuan yang pasti (dharuri) tentang kebenarannya, dan syarat ini harus terus berlanjut pada seluruh perawi dalam isnadnya, dari awal hingga akhir."
وَمَنْ سُئِلَ عَنْ إِبْرَازِ مِثَالٍ لِذَلِكَ فِيمَا يُرْوَى مِنَ الْحَدِيثِ أَعْيَاهُ تَطَلُّبُهُ.
"Siapa yang diminta untuk menunjukkan contoh nyata bagi hal itu di antara hadits-hadits yang diriwayatkan, akan kepayahan mencarinya."
وَحَدِيثُ: "إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ" لَيْسَ مِنْ ذَلِكَ بِسَبِيلٍ، وَإِنْ نَقَلَهُ عَدَدُ التَّوَاتُرِ، وَزِيَادَةٌ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ طَرَأَ عَلَيْهِ فِي وَسَطِ إِسْنَادِهِ، وَلَمْ يُوجَدْ فِي أَوَائِلِهِ عَلَى مَا سَبَقَ ذِكْرُهُ.
"Hadits 'sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya' bukanlah contoh untuk itu, sekalipun jumlah perawinya mencapai bilangan mutawatir bahkan lebih, karena hal itu baru terjadi di pertengahan isnadnya, bukan pada bagian-bagian awalnya, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya."
نَعَمْ حَدِيثُ "مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ" نَرَاهُ مِثَالًا لِذَلِكَ، فَإِنَّهُ نَقَلَهُ مِنَ الصَّحَابَةِ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ - الْعَدَدُ الْجَمُّ، وَهُوَ فِي الصَّحِيحَيْنِ مَرْوِيٌّ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُمْ.
"Namun, hadits 'siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaklah ia bersiap menempati tempat duduknya di neraka' kami pandang sebagai contoh yang tepat, karena diriwayatkan oleh sejumlah besar sahabat radhiyallahu 'anhum, dan tercantum dalam kedua kitab Shahih dari sekelompok mereka."
وَذَكَرَ أَبُو بَكْرٍ الْبَزَّارُ الْحَافِظُ الْجَلِيلُ فِي مُسْنَدِهِ أَنَّهُ رَوَاهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - نَحْوٌ مِنْ أَرْبَعِينَ رَجُلًا مِنَ الصَّحَابَةِ.
"Abu Bakr al-Bazzar, al-Hafizh yang agung, menyebutkan dalam Musnad-nya bahwa hadits ini diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam oleh sekitar empat puluh orang sahabat."
وَذَكَرَ بَعْضُ الْحُفَّاظِ "أَنَّهُ رَوَاهُ عَنْهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - اثْنَانِ وَسِتُّونَ نَفْسًا مِنَ الصَّحَابَةِ، وَفِيهِمُ الْعَشَرَةُ الْمَشْهُودُ لَهُمْ بِالْجَنَّةِ".
"Sebagian huffazh menyebutkan: 'bahwa hadits ini diriwayatkan dari beliau shallallahu 'alaihi wasallam oleh enam puluh dua orang sahabat, di antaranya sepuluh orang yang dipersaksikan masuk surga (al-'asyarah al-mubasysyarah).'"
قَالَ: وَلَيْسَ فِي الدُّنْيَا حَدِيثٌ اجْتَمَعَ عَلَى رِوَايَتِهِ الْعَشَرَةُ غَيْرُهُ، وَلَا يُعْرَفُ حَدِيثٌ يُرْوَى عَنْ أَكْثَرَ مِنْ سِتِّينَ نَفْسًا مِنَ الصَّحَابَةِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - إِلَّا هَذَا الْحَدِيثُ الْوَاحِدُ.
"Ia (huffazh tersebut) berkata: 'tidak ada di dunia ini hadits lain yang diriwayatkan bersama-sama oleh sepuluh sahabat yang dipersaksikan masuk surga selain hadits ini, dan tidak diketahui ada hadits yang diriwayatkan dari lebih dari enam puluh orang sahabat kecuali hadits yang satu ini.'"
قُلْتُ: وَبَلَغَ بِهِمْ بَعْضُ أَهْلِ الْحَدِيثِ أَكْثَرَ مِنْ هَذَا الْعَدَدِ، وَفِي بَعْضِ ذَلِكَ عَدَدُ التَّوَاتُرِ، ثُمَّ لَمْ يَزَلْ عَدَدُ رُوَاتِهِ فِي ازْدِيَادٍ، وَهَلُمَّ جَرًّا عَلَى التَّوَالِي وَالِاسْتِمْرَارِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: sebagian ahli hadits menyampaikan jumlahnya lebih dari bilangan ini, dan sebagian dari itu telah mencapai bilangan mutawatir. Kemudian jumlah perawinya terus bertambah, dan begitu seterusnya secara berkelanjutan. Wallahu a'lam."2