Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 30: Al-Isnad Al-'Ali wan-Nazil

النَّوْعُ التَّاسِعُ وَالْعِشْرُونَ: مَعْرِفَةُ الْإِسْنَادِ الْعَالِي وَالنَّازِلِ
"Anwa' kedua puluh sembilan: mengenal isnad 'ali (tinggi) dan nazil (rendah)."1

أَصْلُ الْإِسْنَادِ أَوَّلًا: خَصِيصَةٌ فَاضِلَةٌ مِنْ خَصَائِصِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَسُنَّةٌ بَالِغَةٌ مِنَ السُّنَنِ الْمُؤَكَّدَةِ. رُوِّينَا مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ ... عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، لَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ" ....
"Pertama-tama, isnad itu sendiri adalah kekhususan yang mulia dari kekhususan-kekhususan umat ini, dan sunnah yang benar-benar ditekankan di antara sunnah-sunnah muakkadah. Kami meriwayatkan dari berbagai jalur, dari Abdullah bin al-Mubarak radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'isnad itu bagian dari agama. Seandainya tidak ada isnad, niscaya siapa saja bisa mengatakan apa saja yang ia kehendaki.'"
وَطَلَبُ الْعُلُوِّ فِيهِ سُنَّةٌ أَيْضًا، وَلِذَلِكَ اسْتُحِبَّتِ الرِّحْلَةُ فِيهِ عَلَى مَا سَبَقَ ذِكْرُهُ. قَالَ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: "طَلَبُ الْإِسْنَادِ الْعَالِي سُنَّةٌ عَمَّنْ سَلَفَ" ....
"Mencari isnad yang tinggi (al-'uluw) itu sendiri termasuk sunnah, dan karena itulah rihlah dianjurkan sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu berkata: 'mencari isnad yang tinggi adalah sunnah dari orang-orang terdahulu.'"
وَقَدْ رُوِّينَا: ... أَنَّ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قِيلَ لَهُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ: "مَا تَشْتَهِي؟ قَالَ: "بَيْتٌ خَالِي، وَإِسْنَادٌ عَالِي" ....
"Kami meriwayatkan bahwa Yahya bin Ma'in radhiyallahu 'anhu, saat sakit yang menyebabkan wafatnya, ditanya: 'apa yang engkau inginkan?' Ia menjawab: 'rumah yang sunyi, dan isnad yang tinggi.'"
قُلْتُ: الْعُلُوُّ يُبْعِدُ الْإِسْنَادَ مِنَ الْخَلَلِ، لِأَنَّ كُلَّ رَجُلٍ مِنْ رِجَالِهِ يُحْتَمَلُ أَنْ يَقَعَ الْخَلَلُ مِنْ جِهَتِهِ سَهْوًا، أَوْ عَمْدًا، فَفِي قِلَّتِهِمْ قِلَّةُ جِهَاتِ الْخَلَلِ، وَفِي كَثْرَتِهِمْ كَثْرَةُ جِهَاتِ الْخَلَلِ، وَهَذَا جَلِيٌّ وَاضِحٌ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: 'uluw (ketinggian sanad) menjauhkan isnad dari kerusakan, karena setiap perawi di dalamnya berpotensi menjadi sumber kekeliruan, baik disengaja maupun tidak. Semakin sedikit jumlah mereka, semakin sedikit pula sumber kekeliruan; semakin banyak jumlah mereka, semakin banyak pula sumber kekeliruan - ini sudah jelas dan gamblang."

Lima Pembagian 'Uluw (Ketinggian Sanad)

ثُمَّ إِنَّ الْعُلُوَّ الْمَطْلُوبَ فِي رِوَايَةِ الْحَدِيثِ عَلَى أَقْسَامٍ خَمْسَةٍ.
"'Uluw yang dituju dalam periwayatan hadits terbagi menjadi lima bagian."

Bagian pertama:
الْقُرْبُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِإِسْنَادٍ نَظِيفٍ غَيْرِ ضَعِيفٍ، وَذَلِكَ مِنْ أَجَلِّ أَنْوَاعِ الْعُلُوِّ، وَقَدْ رُوِّينَا ... عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَسْلَمَ الطُّوسِيِّ الزَّاهِدِ الْعَالِمِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "قُرْبُ الْإِسْنَادِ قُرْبٌ أَوْ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ" .... وَهَذَا كَمَا قَالَ؛ لِأَنَّ قُرْبَ الْإِسْنَادِ قُرْبٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَالْقُرْبُ إِلَيْهِ قُرْبٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
"Yaitu dekatnya sanad dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melalui isnad yang bersih lagi tidak lemah - ini termasuk jenis 'uluw yang paling agung. Kami meriwayatkan dari Muhammad bin Aslam ath-Thusi, sang zahid lagi alim, radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 'dekatnya sanad adalah kedekatan atau sarana mendekat kepada Allah 'Azza wa Jalla.' Ini benar sebagaimana ia katakan, karena dekatnya sanad berarti dekat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan dekat kepada beliau berarti dekat kepada Allah 'Azza wa Jalla."

Bagian kedua:
وَهُوَ الَّذِي ذَكَرَهُ الْحَاكِمُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، الْقُرْبُ مِنْ إِمَامٍ مِنْ أَئِمَّةِ الْحَدِيثِ، وَإِنْ كَثُرَ الْعَدَدُ مِنْ ذَلِكَ الْإِمَامِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، فَإِذَا وُجِدَ ذَلِكَ فِي إِسْنَادٍ وُصِفَ بِالْعُلُوِّ، نَظَرًا إِلَى قُرْبِهِ مِنْ ذَلِكَ الْإِمَامِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ عَالِيًا بِالنِّسْبَةِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -.
"Ini yang disebutkan al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh: yaitu dekatnya sanad dengan seorang imam dari imam-imam hadits, sekalipun jumlah perawi dari imam itu hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri masih banyak. Apabila hal itu didapati dalam suatu isnad, ia disifati dengan 'ali (tinggi), dilihat dari kedekatannya dengan imam tersebut, sekalipun tidak tinggi jika dilihat relatif terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam."

وَكَلَامُ الْحَاكِمِ يُوهِمُ أَنَّ الْقُرْبَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - لَا يُعَدُّ مِنَ الْعُلُوِّ الْمَطْلُوبِ أَصْلًا. وَهَذَا غَلَطٌ مِنْ قَائِلِهِ؛ لِأَنَّ الْقُرْبَ مِنْهُ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِإِسْنَادٍ نَظِيفٍ غَيْرِ ضَعِيفٍ أَوْلَى بِذَلِكَ.
"Ucapan al-Hakim ini memberi kesan bahwa dekatnya sanad dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sama sekali tidak dianggap termasuk 'uluw yang dituju. Ini adalah kekeliruan dari pengucapnya, karena dekat dengan beliau shallallahu 'alaihi wasallam melalui isnad yang bersih dan tidak lemah justru lebih layak disebut demikian."
وَلَا يُنَازِعُ فِي هَذَا مَنْ لَهُ مُسْكَةٌ مِنْ مَعْرِفَةٍ، وَكَأَنَّ الْحَاكِمَ أَرَادَ بِكَلَامِهِ ذَلِكَ إِثْبَاتَ الْعُلُوِّ لِلْإِسْنَادِ بِقُرْبِهِ مِنْ إِمَامٍ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَرِيبًا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -، وَالْإِنْكَارَ عَلَى مَنْ يُرَاعِي فِي ذَلِكَ مُجَرَّدَ قُرْبِ الْإِسْنَادِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَإِنْ كَانَ إِسْنَادًا ضَعِيفًا، وَلِهَذَا مَثَّلَ ذَلِكَ بِحَدِيثِ أَبِي هُدْبَةَ، وَدِينَارٍ، وَالْأَشَجِّ، وَأَشْبَاهِهِمْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Tidak ada yang menyanggah hal ini di antara orang yang memiliki sedikit pengetahuan. Sepertinya yang dimaksud al-Hakim dengan ucapannya itu adalah menetapkan 'uluw bagi suatu isnad karena dekatnya dengan seorang imam, sekalipun tidak dekat dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sekaligus mengkritik orang yang hanya memperhatikan sekadar dekatnya isnad dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam saja, sekalipun isnad itu lemah - karena itulah ia mencontohkannya dengan hadits Abu Hudbah, Dinar, al-Asyajj, dan yang semisal mereka (perawi-perawi lemah yang mengaku memiliki sanad amat pendek/tinggi ke Nabi). Wallahu a'lam."

Bagian ketiga:
الْعُلُوُّ بِالنِّسْبَةِ إِلَى رِوَايَةِ الصَّحِيحَيْنِ، أَوْ أَحَدِهِمَا، أَوْ غَيْرِهِمَا مِنَ الْكُتُبِ الْمَعْرُوفَةِ الْمُعْتَمَدَةِ، وَذَلِكَ مَا اشْتُهِرَ آخِرًا مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَالْأَبْدَالِ، وَالْمُسَاوَاةِ، وَالْمُصَافَحَةِ، وَقَدْ كَثُرَ اعْتِنَاءُ الْمُحَدِّثِينَ الْمُتَأَخِّرِينَ بِهَذَا النَّوْعِ، وَمِمَّنْ وَجَدْتُ هَذَا النَّوْعَ فِي كَلَامِهِ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ وَبَعْضُ شُيُوخِهِ، وَأَبُو نَصْرِ بْنُ مَاكُولَا، وَأَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحُمَيْدِيُّ، وَغَيْرُهُمْ مِنْ طَبَقَتِهِمْ، وَمِمَّنْ جَاءَ بَعْدَهُمْ، (وَاللَّهُ أَعْلَمُ).
"Yaitu 'uluw yang relatif terhadap riwayat kedua kitab Shahih, atau salah satunya, atau kitab-kitab lain yang mu'tamad dan masyhur - inilah yang belakangan masyhur dengan istilah muwafaqat, abdal, musawah, dan mushafahah. Perhatian ulama muhaddits mutaakhirin terhadap jenis ini semakin banyak. Di antara yang aku dapati menyebutkan jenis ini dalam ucapannya adalah Abu Bakr al-Khathib al-Hafizh dan sebagian gurunya, Abu Nashr Ibnu Makula, Abu Abdillah al-Humaidi, dan selain mereka dari generasi yang sama, serta yang datang setelah mereka. Wallahu a'lam."

أَمَّا الْمُوَافَقَةُ: فَهِيَ أَنْ يَقَعَ لَكَ الْحَدِيثُ عَنْ شَيْخِ مُسْلِمٍ فِيهِ - مَثَلًا - عَالِيًا، بِعَدَدٍ أَقَلَّ مِنَ الْعَدَدِ الَّذِي يَقَعُ لَكَ بِهِ ذَلِكَ الْحَدِيثُ عَنْ ذَلِكَ الشَّيْخِ إِذَا رَوَيْتَهُ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْهُ.
"Adapun muwafaqah: yaitu engkau mendapatkan sebuah hadits dari guru Muslim (misalnya) secara langsung, dengan jumlah perawi yang lebih sedikit dibanding jumlah perawi yang engkau perlukan jika meriwayatkannya dari Muslim, dari guru itu."
وَأَمَّا الْبَدَلُ: فَمِثْلُ أَنْ يَقَعَ لَكَ هَذَا الْعُلُوُّ عَنْ شَيْخٍ غَيْرِ شَيْخِ مُسْلِمٍ، هُوَ مِثْلُ شَيْخِ مُسْلِمٍ فِي ذَلِكَ الْحَدِيثِ.
"Adapun al-badal: seperti engkau mendapatkan 'uluw semacam ini dari guru lain yang bukan guru Muslim, namun setara kedudukannya dengan guru Muslim dalam hadits itu."
وَقَدْ يُرَدُّ الْبَدَلُ إِلَى الْمُوَافَقَةِ، فَيُقَالُ فِيمَا ذَكَرْنَاهُ إِنَّهُ مُوَافَقَةٌ عَالِيَةٌ فِي شَيْخِ شَيْخِ مُسْلِمٍ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ عَالِيًا فَهُوَ أَيْضًا مُوَافَقَةٌ، وَبَدَلٌ، لَكِنْ لَا يُطْلَقُ عَلَيْهِ اسْمُ الْمُوَافَقَةِ، وَالْبَدَلِ لِعَدَمِ الِالْتِفَاتِ إِلَيْهِ.
"Terkadang al-badal dikembalikan kepada muwafaqah, sehingga dikatakan dalam kasus yang telah kami sebutkan bahwa itu adalah muwafaqah 'aliyah pada guru dari gurunya Muslim. Sekalipun itu tidak tinggi, tetap saja disebut muwafaqah dan badal, hanya saja tidak digunakan istilah muwafaqah dan badal untuknya karena tidak diperhatikan lagi."
وَأَمَّا الْمُسَاوَاةُ: فَهِيَ - فِي أَعْصَارِنَا - أَنْ يَقِلَّ الْعَدَدُ فِي إِسْنَادِكَ لَا إِلَى شَيْخِ مُسْلِمٍ، وَأَمْثَالِهِ، وَلَا إِلَى شَيْخِ شَيْخِهِ، بَلْ إِلَى مَنْ هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ كَالصَّحَابِيِّ، أَوْ مَنْ قَارَبَهُ، وَرُبَّمَا كَانَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - بِحَيْثُ يَقَعُ بَيْنَكَ وَبَيْنَ الصَّحَابِيِّ - مَثَلًا - مِنَ الْعَدَدِ مِثْلُ مَا وَقَعَ مِنَ الْعَدَدِ بَيْنَ مُسْلِمٍ، وَبَيْنَ ذَلِكَ الصَّحَابِيِّ، فَتَكُونُ بِذَلِكَ مُسَاوِيًا لِمُسْلِمٍ مَثَلًا فِي قُرْبِ الْإِسْنَادِ وَعَدَدِ رِجَالِهِ.
"Adapun al-musawah: yaitu, pada zaman kami, jumlah perawi dalam sanadmu lebih sedikit, bukan hingga guru Muslim atau semisalnya, atau guru dari gurunya, melainkan hingga orang yang lebih jauh dari itu, seperti seorang sahabat atau yang mendekatinya, bahkan bisa hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sendiri - sehingga jumlah perawi antara dirimu dan sahabat itu (misalnya) sama dengan jumlah perawi antara Muslim dan sahabat itu. Dengan demikian engkau setara dengan Muslim, misalnya, dalam hal kedekatan sanad dan jumlah perawinya."
وَأَمَّا الْمُصَافَحَةُ: فَهِيَ أَنْ تَقَعَ هَذِهِ الْمُسَاوَاةُ الَّتِي وَصَفْنَاهَا لِشَيْخِكَ لَا لَكَ، فَيَقَعُ ذَلِكَ لَكَ مُصَافَحَةً، إِذْ تَكُونُ كَأَنَّكَ لَقِيتَ مُسْلِمًا فِي ذَلِكَ الْحَدِيثِ وَصَافَحْتَهُ بِهِ لِكَوْنِكَ قَدْ لَقِيتَ شَيْخَكَ الْمُسَاوِيَ لِمُسْلِمٍ.
"Adapun al-mushafahah: yaitu al-musawah yang telah kami sifatkan itu terjadi pada gurumu, bukan pada dirimu sendiri, sehingga bagimu itu menjadi mushafahah - seakan-akan engkau berjumpa dan bersalaman dengan Muslim sendiri dalam hadits itu, karena engkau telah berjumpa dengan gurumu yang setara dengan Muslim."
فَإِنْ كَانَتِ الْمُسَاوَاةُ لِشَيْخِ شَيْخِكَ كَانْتِ الْمُصَافَحَةُ لِشَيْخِكَ، فَتَقُولُ: كَأَنَّ شَيْخِي سَمِعَ مُسْلِمًا وَصَافَحَهُ. وَإِنْ كَانَتِ الْمُسَاوَاةُ لِشَيْخِ شَيْخِ شَيْخِكَ، فَالْمُصَافَحَةُ لِشَيْخِ شَيْخِكَ، فَتَقُولُ فِيهَا: كَأَنَّ شَيْخَ شَيْخِي سَمِعَ مُسْلِمًا، وَصَافَحَهُ. وَلَكَ أَنْ لَا تَذْكُرَ لَكَ فِي ذَلِكَ نِسْبَةً، بَلْ تَقُولُ: كَأَنَّ فُلَانًا سَمِعَهُ مِنْ مُسْلِمٍ، مِنْ غَيْرِ أَنْ تَقُولَ فِيهِ (شَيْخِي)، أَوْ (شَيْخَ شَيْخِي).
"Jika al-musawah terjadi pada guru dari gurumu, maka al-mushafahah terjadi bagi gurumu sendiri, sehingga engkau berkata: 'seakan-akan guruku mendengar dari Muslim dan bersalaman dengannya.' Jika al-musawah terjadi pada guru dari guru dari gurumu, maka al-mushafahah terjadi bagi guru dari gurumu, sehingga engkau berkata: 'seakan-akan guru dari guruku mendengar dari Muslim dan bersalaman dengannya.' Boleh pula engkau tidak menyebutkan nisbah bagi dirimu dalam hal itu, cukup mengatakan: 'seakan-akan fulan mendengarnya dari Muslim', tanpa mengatakan '(guruku)' atau '(guru dari guruku)'."
ثُمَّ لَا يَخْفَى عَلَى الْمُتَأَمِّلِ: أَنَّ فِي الْمُسَاوَاةِ، وَالْمُصَافَحَةِ الْوَاقِعَتَيْنِ لَكَ لَا يَلْتَقِي إِسْنَادُكَ، وَإِسْنَادُ مُسْلِمٍ - أَوْ نَحْوُهُ - إِلَّا بَعِيدًا عَنْ شَيْخِ مُسْلِمٍ، فَيَلْتَقِيَانِ فِي الصَّحَابِيِّ، أَوْ قَرِيبًا مِنْهُ، فَإِنْ كَانَتِ الْمُصَافَحَةُ الَّتِي تَذْكُرُهَا لَيْسَتْ لَكَ، بَلْ لِمَنْ فَوْقَكَ مِنْ رِجَالِ إِسْنَادِكَ، أَمْكَنَ الْتِقَاءُ الْإِسْنَادَيْنِ فِيهَا فِي شَيْخِ مُسْلِمٍ، أَوْ أَشْبَاهِهِ، وَدَاخَلَتِ الْمُصَافَحَةُ حِينَئِذٍ الْمُوَافَقَةَ، فَإِنَّ مَعْنَى الْمُوَافَقَةِ رَاجِعٌ إِلَى مُسَاوَاةٍ وَمُصَافَحَةٍ مَخْصُوصَةٍ، إِذْ حَاصِلُهَا: أَنَّ بَعْضَ مَنْ تَقَدَّمَ مِنْ رُوَاةِ إِسْنَادِكَ الْعَالِي سَاوَى أَوْ صَافَحَ مُسْلِمًا، أَوِ الْبُخَارِيَّ، لِكَوْنِهِ سَمِعَ مِمَّنْ سَمِعَ مِنْ شَيْخِهِمَا، مَعَ تَأَخُّرِ طَبَقَتِهِ عَنْ طَبَقَتِهِمَا.
"Tidak tersembunyi bagi orang yang cermat, bahwa dalam al-musawah dan al-mushafahah yang terjadi padamu, isnadmu dan isnad Muslim (atau semisalnya) tidak bertemu kecuali jauh dari guru Muslim, sehingga keduanya bertemu pada sahabat atau yang mendekatinya. Namun jika al-mushafahah yang engkau sebutkan bukan bagi dirimu, melainkan bagi perawi di atasmu dalam isnadmu, mungkin saja kedua isnad itu bertemu pada guru Muslim atau yang semisalnya, dan al-mushafahah pun masuk ke dalam al-muwafaqah pada saat itu - karena makna al-muwafaqah sendiri kembali pada al-musawah dan al-mushafahah yang khusus. Kesimpulannya: sebagian perawi terdahulu dalam isnadmu yang tinggi itu setara atau bersalaman dengan Muslim atau al-Bukhari, karena ia mendengar dari orang yang mendengar dari guru keduanya, meski thabaqatnya lebih belakangan dari thabaqat keduanya."
وَيُوجَدُ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْعَوَالِي الْمُخَرَّجَةِ لِمَنْ تَكَلَّمَ أَوَّلًا فِي هَذَا النَّوْعِ، وَطَبَقَتُهُمُ الْمُصَافَحَاتُ مَعَ الْمُوَافَقَاتِ، وَالْأَبْدَالِ لِمَا ذَكَرْنَاهُ.
"Ditemukan dalam banyak kumpulan sanad tinggi yang di-takhrij oleh orang-orang yang pertama kali membahas jenis ini beserta generasi mereka, adanya al-mushafahat bersama al-muwafaqat dan al-abdal, karena alasan yang telah kami sebutkan."
ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ هَذَا النَّوْعَ مِنَ الْعُلُوِّ عُلُوٌّ تَابِعٌ لِنُزُولٍ، إِذْ لَوْلَا نُزُولُ ذَلِكَ الْإِمَامِ فِي إِسْنَادِهِ لَمْ تَعْلُ أَنْتَ فِي إِسْنَادِكَ.
"Ketahuilah bahwa jenis 'uluw ini sesungguhnya adalah 'uluw yang mengikuti nuzul (kerendahan sanad orang lain), karena seandainya sanad sang imam itu sendiri tidak rendah, engkau pun tidak akan menjadi tinggi dalam sanadmu."
وَكُنْتُ قَدْ قَرَأْتُ بِمَرْوَ عَلَى شَيْخِنَا الْمُكْثِرِ أَبِي الْمُظَفَّرِ عَبْدِ الرَّحِيمِ بْنِ الْحَافِظِ الْمُصَنِّفِ أَبِي سَعْدٍ السَّمْعَانِيِّ رَحِمَهُمَا اللَّهُ، فِي أَرْبَعِي أَبِي الْبَرَكَاتِ الْفُرَاوِيِّ حَدِيثًا ادَّعَى فِيهِ أَنَّهُ كَأَنَّهُ سَمِعَهُ هُوَ أَوْ شَيْخُهُ مِنَ الْبُخَارِيِّ، فَقَالَ الشَّيْخُ أَبُو الْمُظَفَّرِ: "لَيْسَ لَكَ بِعَالٍ، وَلَكِنَّهُ لِلْبُخَارِيِّ نَازِلٌ". وَهَذَا حَسَنٌ لَطِيفٌ، يَخْدِشُ وَجْهَ هَذَا النَّوْعِ مِنَ الْعُلُوِّ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku pernah membaca di Marw di hadapan guru kami yang banyak periwayatannya, Abul Muzhaffar Abdurrahim bin al-Hafizh al-Mushannif Abu Sa'd as-Sam'ani rahimahumallah, dalam kitab Arba'in Abul Barakat al-Farawi, sebuah hadits yang di dalamnya diklaim seakan-akan ia atau gurunya mendengar dari al-Bukhari sendiri. Syaikh Abul Muzhaffar berkata: 'ini bukan 'uluw bagimu, melainkan nuzul bagi al-Bukhari.' Ini adalah komentar yang baik dan halus, yang menggores wajah jenis 'uluw semacam ini. Wallahu a'lam."

Bagian keempat dari jenis 'uluw:
الْعُلُوُّ الْمُسْتَفَادُ مِنْ تَقَدُّمِ وَفَاةِ الرَّاوِي: مِثَالُهُ ما أَرْوِيهِ عَنْ شَيْخٍ، أَخْبَرَنِي بِهِ عَنْ وَاحِدٍ، عَنِ الْبَيْهَقِيِّ الْحَافِظِ، عَنِ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظِ أَعْلَى مِنْ رِوَايَتِي لِذَلِكَ عَنْ شَيْخٍ، أَخْبَرَنِي بِهِ عَنْ وَاحِدٍ، عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ خَلَفٍ، عَنِ الْحَاكِمِ، وَإِنْ تَسَاوَى الْإِسْنَادَانِ فِي الْعَدَدِ، لِتَقَدُّمِ وَفَاةِ الْبَيْهَقِيِّ عَلَى وَفَاةِ ابْنِ خَلَفٍ؛ لِأَنَّ الْبَيْهَقِيَّ مَاتَ سَنَةَ ثَمَانٍ وَخَمْسِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ، وَمَاتَ ابْنُ خَلَفٍ سَنَةَ سَبْعٍ وَثَمَانِينَ وَأَرْبَعِمِائَةٍ.
"Yaitu 'uluw yang diperoleh dari lebih awalnya wafat seorang perawi. Contohnya: apa yang aku riwayatkan dari seorang guru, yang mengabarkannya kepadaku dari seorang perawi, dari al-Baihaqi al-Hafizh, dari al-Hakim Abu Abdillah al-Hafizh, ini lebih tinggi dibanding riwayatku untuk hadits yang sama dari seorang guru, yang mengabarkannya kepadaku dari seorang perawi, dari Abu Bakr bin Khalaf, dari al-Hakim - sekalipun kedua isnad itu sama jumlah perawinya - karena wafatnya al-Baihaqi lebih dahulu daripada wafatnya Ibnu Khalaf. Al-Baihaqi wafat tahun 458 H, sedangkan Ibnu Khalaf wafat tahun 487 H."

رُوِّينَا عَنْ أَبِي يَعْلَى الْخَلِيلِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْخَلِيلِيِّ الْحَافِظِ رَحِمَهُ اللَّهُ، قَالَ: "قَدْ يَكُونُ الْإِسْنَادُ يَعْلُو عَلَى غَيْرِهِ بِتَقَدُّمِ مَوْتِ رَاوِيهِ، وَإِنْ كَانَا مُتَسَاوِيَيْنِ فِي الْعَدَدِ". وَمَثَّلَ ذَلِكَ مِنْ حَدِيثِ نَفْسِهِ بِمِثْلِ مَا ذَكَرْنَاهُ.
"Kami meriwayatkan dari Abu Ya'la al-Khalil bin Abdillah al-Khalili al-Hafizh rahimahullah, ia berkata: 'terkadang suatu isnad lebih tinggi dari isnad lain karena lebih dahulunya wafat perawinya, sekalipun keduanya sama jumlah perawinya.' Ia mencontohkannya dari haditsnya sendiri dengan contoh serupa yang telah kami sebutkan."
ثُمَّ إِنَّ هَذَا كَلَامٌ فِي الْعُلُوِّ الْمُنْبَنِي عَلَى تَقَدُّمِ الْوَفَاةِ، الْمُسْتَفَادِ مِنْ نِسْبَةِ شَيْخٍ إِلَى شَيْخٍ، وَقِيَاسِ رَاوٍ بِرَاوٍ.
"Ini adalah pembahasan tentang 'uluw yang dibangun berdasarkan lebih dahulunya wafat, yang diperoleh dari perbandingan seorang guru dengan guru lain, serta perbandingan seorang perawi dengan perawi lain."
أَمَّا الْعُلُوُّ الْمُسْتَفَادُ مِنْ مُجَرَّدِ تَقَدُّمِ وَفَاةِ شَيْخِكَ مِنْ غَيْرِ نَظَرٍ إِلَى قِيَاسِهِ بِرَاوٍ آخَرَ، فَقَدْ حَدَّهُ بَعْضُ أَهْلِ هَذَا الشَّأْنِ بِخَمْسِينَ سَنَةً.
"Adapun 'uluw yang diperoleh semata dari lebih dahulunya wafat gurumu sendiri, tanpa memandang perbandingannya dengan perawi lain, sebagian ahli disiplin ini membatasinya dengan lima puluh tahun."
وَذَلِكَ مَا رُوِّينَاهُ عَنْ أَبِي عَلِيٍّ الْحَافِظِ النَّيْسَابُورِيِّ قَالَ: سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ عُمَيْرٍ الدِّمَشْقِيَّ - وَكَانَ مِنْ أَرْكَانِ الْحَدِيثِ - يَقُولُ: إِسْنَادُ خَمْسِينَ سَنَةً مِنْ مَوْتِ الشَّيْخِ إِسْنَادُ عُلُوٍّ، وَفِيمَا نَرْوِي ... عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْدَهْ الْحَافِظِ، قَالَ: "إِذَا مَرَّ عَلَى الْإِسْنَادِ ثَلَاثُونَ سَنَةً فَهُوَ عَالٍ" .... وَهَذَا أَوْسَعُ مِنَ الْأَوَّلِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Itulah yang kami riwayatkan dari Abu Ali al-Hafizh an-Naisaburi, ia berkata: aku mendengar Ahmad bin Umair ad-Dimasyqi -salah satu pilar ilmu hadits- berkata: 'isnad lima puluh tahun sejak wafat sang guru adalah isnad 'ali.' Di antara yang kami riwayatkan dari Abu Abdillah bin Mandah al-Hafizh, ia berkata: 'apabila telah berlalu tiga puluh tahun atas suatu isnad, ia sudah dianggap 'ali.' Ini lebih longgar dari pendapat pertama. Wallahu a'lam."

Bagian kelima:
الْعُلُوُّ الْمُسْتَفَادُ مِنْ تَقَدُّمِ السَّمَاعِ. أُنْبِئْنَا عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ نَاصِرٍ الْحَافِظِ، ... عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ طَاهِرٍ الْحَافِظِ، قَالَ: "مِنَ الْعُلُوِّ تَقَدُّمُ السَّمَاعِ" ....
"Yaitu 'uluw yang diperoleh dari lebih dahulunya sama'. Kami diberitahu dari Muhammad bin Nashir al-Hafizh, dari Muhammad bin Thahir al-Hafizh, ia berkata: 'di antara bentuk 'uluw adalah lebih dahulunya sama'.'"

قُلْتُ: وَكَثِيرٌ مِنْ هَذَا يَدْخُلُ فِي النَّوْعِ الْمَذْكُورِ قَبْلَهُ، وَفِيهِ مَا لَا يَدْخُلُ فِي ذَلِكَ، بَلْ يَمْتَازُ عَنْهُ. مِثْلُ أَنْ يَسْمَعَ شَخْصَانِ مِنْ شَيْخٍ وَاحِدٍ، وَسَمَاعُ أَحَدِهِمَا مِنْ سِتِّينَ سَنَةً مَثَلًا، وَسَمَاعُ الْآخَرِ مِنْ أَرْبَعِينَ سَنَةً. فَإِذَا تَسَاوَى السَّنَدُ إِلَيْهِمَا فِي الْعَدَدِ، فَالْإِسْنَادُ إِلَى الْأَوَّلِ الَّذِي تَقَدَّمَ سَمَاعُهُ أَعْلَى.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: banyak dari bentuk ini masuk ke dalam jenis yang disebutkan sebelumnya, namun ada pula yang tidak termasuk di dalamnya, melainkan berbeda darinya - seperti apabila dua orang mendengar dari seorang guru yang sama, sama'-nya yang satu enam puluh tahun yang lalu (misalnya), dan sama'-nya yang lain empat puluh tahun yang lalu. Apabila sanad menuju keduanya sama jumlahnya, maka isnad menuju orang pertama, yang sama'-nya lebih dahulu, lebih tinggi."
فَهَذِهِ أَنْوَاعُ الْعُلُوِّ عَلَى الِاسْتِقْصَاءِ وَالْإِيضَاحِ الشَّافِي، وَلِلَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى الْحَمْدُ كُلُّهُ.
"Itulah jenis-jenis 'uluw secara tuntas dan penjelasan yang memuaskan. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala semata."
وَأَمَّا مَا رُوِّينَاهُ عَنِ الْحَافِظِ أَبِي الطَّاهِرِ السِّلَفِيِّ - رَحِمَهُ اللَّهُ - مِنْ قَوْلِهِ فِي أَبْيَاتٍ لَهُ:
"Adapun apa yang kami riwayatkan dari al-Hafizh Abu Thahir as-Silafi rahimahullah, dalam sebagian syairnya:"
بَلْ عُلُوُّ الْحَدِيثِ بَيْنَ أُولِي الْحِفْـ ... ـظِ وَالْإِتْقَانِ صِحَّةُ الْإِسْنَادِ
"'Sesungguhnya ketinggian hadits, di antara ahli hafalan dan ketelitian, adalah keshahihan sanadnya (bukan sekadar pendeknya).'"
وَمَا رُوِّينَاهُ عَنِ الْوَزِيرِ نِظَامِ الْمُلْكِ مِنْ قَوْلِهِ: "عِنْدِي أَنَّ الْحَدِيثَ الْعَالِيَ مَا صَحَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - وَإِنْ بَلَغَتْ رُوَاتُهُ مِائَةً"، فَهَذَا وَنَحْوُهُ لَيْسَ مِنْ قَبِيلِ الْعُلُوِّ الْمُتَعَارَفِ إِطْلَاقُهُ بَيْنَ أَهْلِ الْحَدِيثِ، وَإِنَّمَا هُوَ عُلُوٌّ مِنْ حَيْثُ الْمَعْنَى فَحَسْبُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Dan apa yang kami riwayatkan dari Wazir Nizhamul Mulk, ucapannya: 'menurutku, hadits yang 'ali adalah yang shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sekalipun perawinya mencapai seratus orang.' Ini dan yang semisalnya bukan termasuk 'uluw yang lazim digunakan istilahnya di kalangan ahli hadits, melainkan hanya 'uluw dari sisi makna saja. Wallahu a'lam."

Fasal: An-Nuzul

وَأَمَّا النُّزُولُ فَهُوَ ضِدُّ الْعُلُوِّ، وَمَا مِنْ قِسْمٍ مِنْ أَقْسَامِ الْعُلُوِّ الْخَمْسَةِ إِلَّا وَضِدُّهُ قِسْمٌ مِنْ أَقْسَامِ النُّزُولِ، فَهُوَ إِذًا خَمْسَةُ أَقْسَامٍ، وَتَفْصِيلُهَا يُدْرَكُ مِنْ تَفْصِيلِ أَقْسَامِ الْعُلُوِّ عَلَى نَحْوِ مَا تَقَدَّمَ شَرْحُهُ.
"Adapun nuzul, ia adalah lawan dari 'uluw. Tidak ada satu pun dari lima bagian 'uluw kecuali lawannya adalah salah satu bagian dari nuzul, sehingga nuzul pun terbagi lima bagian pula, dan perinciannya dapat dipahami dari perincian bagian-bagian 'uluw sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya."
وَأَمَّا قَوْلُ الْحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ: "لَعَلَّ قَائِلًا يَقُولُ: النُّزُولُ ضِدُّ الْعُلُوِّ، فَمَنْ عَرَفَ الْعُلُوَّ فَقَدْ عَرَفَ ضِدَّهُ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ، فَإِنَّ لِلنُّزُولِ مَرَاتِبَ لَا يَعْرِفُهَا إِلَّا أَهْلُ الصَّنْعَةِ.... إِلَى آخِرِ كَلَامِهِ"، فَهَذَا لَيْسَ نَفْيًا لِكَوْنِ النُّزُولِ ضِدًّا لِلْعُلُوِّ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي ذَكَرْتُهُ، بَلْ نَفْيًا لِكَوْنِهِ يُعْرَفُ بِمَعْرِفَةِ الْعُلُوِّ، وَذَلِكَ يَلِيقُ بِمَا ذَكَرَهُ هُوَ فِي مَعْرِفَةِ الْعُلُوِّ، فَإِنَّهُ قَصَّرَ فِي بَيَانِهِ وَتَفْصِيلِهِ، وَلَيْسَ كَذَلِكَ مَا ذَكَرْنَاهُ نَحْنُ فِي مَعْرِفَةِ الْعُلُوِّ، فَإِنَّهُ مُفَصَّلٌ تَفْصِيلًا مُفْهِمًا لِمَرَاتِبِ النُّزُولِ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
"Adapun ucapan al-Hakim Abu Abdillah: 'boleh jadi ada yang berkata: nuzul adalah lawan dari 'uluw, maka siapa yang mengenal 'uluw pasti mengenal lawannya. Namun tidaklah demikian, karena nuzul memiliki martabat-martabat yang hanya dikenal oleh ahli disiplin ini...' hingga akhir ucapannya - ini bukanlah penafian bahwa nuzul adalah lawan dari 'uluw sebagaimana yang telah aku sebutkan, melainkan penafian bahwa ia dapat diketahui hanya dengan mengenal 'uluw semata. Itu sesuai dengan apa yang ia sendiri sebutkan dalam pembahasan mengenal 'uluw, karena ia memang kurang lengkap dalam penjelasan dan perinciannya. Berbeda dengan apa yang telah kami sebutkan dalam pembahasan mengenal 'uluw, karena kami telah merincinya dengan perincian yang memahamkan martabat-martabat nuzul. Wallahu a'lam Tabaraka wa Ta'ala."
ثُمَّ إِنَّ النُّزُولَ مَفْضُولٌ مَرْغُوبٌ عَنْهُ، وَالْفَضِيلَةُ لِلْعُلُوِّ عَلَى مَا تَقَدَّمَ بَيَانُهُ وَدَلِيلُهُ.
"Nuzul adalah sesuatu yang kurang utama dan tidak disukai, sedangkan keutamaan ada pada 'uluw, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya beserta dalilnya."
وَحَكَى ابْنُ خَلَّادٍ، عَنْ بَعْضِ أَهْلِ النَّظَرِ أَنَّهُ قَالَ: "التَّنَزُّلُ فِي الْإِسْنَادِ أَفْضَلُ"، وَاحْتَجَّ لَهُ بِمَا مَعْنَاهُ أَنَّهُ يَجِبُ الِاجْتِهَادُ، وَالنَّظَرُ فِي تَعْدِيلِ كُلِّ رَاوٍ وَتَجْرِيحِهِ، فَكُلَّمَا زَادُوا كَانَ الِاجْتِهَادُ أَكْثَرَ.
"Ibnu Khallad menceritakan dari sebagian ahli nazhar (penalaran), bahwa ia berkata: 'lebih rendah (nuzul) sanadnya justru lebih utama.' Ia berhujjah untuk pendapat ini dengan alasan yang maknanya: bahwa wajib ada ijtihad dan penelitian dalam menetapkan ta'dil dan jarh setiap perawi, sehingga semakin banyak jumlah mereka, semakin banyak pula ijtihad yang dilakukan."
وَهَذَا مَذْهَبٌ ضَعِيفٌ ضَعِيفُ الْحُجَّةِ، وَقَدْ رُوِّينَا عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ، وَأَبِي عَمْرٍو الْمُسْتَمْلِيِّ النَّيْسَابُورِيِّ أَنَّهُمَا قَالَا: "النُّزُولُ شُؤْمٌ".
"Ini adalah pendapat yang lemah lagi lemah hujjahnya. Kami meriwayatkan dari Ali bin al-Madini dan Abu Amr al-Mustamli an-Naisaburi, keduanya berkata: 'nuzul itu adalah kesialan.'"
وَهَذَا وَنَحْوُهُ مِمَّا جَاءَ فِي ذَمِّ النُّزُولِ مَخْصُوصٌ بِبَعْضِ النُّزُولِ، فَإِنَّ النُّزُولَ إِذَا تَعَيَّنَ - دُونَ الْعُلُوِّ - طَرِيقًا إِلَى فَائِدَةٍ رَاجِحَةٍ عَلَى فَائِدَةِ الْعُلُوِّ فَهُوَ مُخْتَارٌ غَيْرُ مَرْذُولٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Ucapan ini dan yang semisalnya, dari apa yang datang dalam mencela nuzul, dikhususkan hanya pada sebagian bentuk nuzul. Sebab, apabila nuzul justru menjadi satu-satunya jalan -bukan 'uluw- menuju suatu faidah yang lebih unggul dibanding faidah 'uluw, maka ia yang dipilih, bukan yang dicela. Wallahu a'lam."2

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 255.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 255-264.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email