Muqaddimah Ibnu Shalah Bab 26: Kitabatul Hadits

النَّوْعُ الْخَامِسُ وَالْعِشْرُونَ: فِي كِتَابَةِ الْحَدِيثِ، وَكَيْفِيَّةِ ضَبْطِ الْكِتَابِ، وَتَقْيِيدِهِ
"Anwa' kedua puluh lima: tentang penulisan hadits, cara men-dhabt (menertibkan) kitab, dan mencatatnya."1

اخْتَلَفَ الصَّدْرُ الْأَوَّلُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فِي كِتَابَةِ الْحَدِيثِ، فَمِنْهُمْ مَنْ كَرِهَ كِتَابَةَ الْحَدِيثِ، وَالْعِلْمِ، وَأَمَرُوا بِحِفْظِهِ، وَمِنْهُمْ مَنْ أَجَازَ ذَلِكَ. وَمِمَّنْ رُوِّينَا عَنْهُ كَرَاهَةَ ذَلِكَ: عُمَرُ، وَابْنُ مَسْعُودٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَأَبُو مُوسَى، وَأَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ، فِي جَمَاعَةٍ آخَرِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ.
"Generasi awal (ash-shadr al-awwal) radhiyallahu 'anhum berselisih pendapat tentang penulisan hadits. Sebagian membenci penulisan hadits dan ilmu, dan memerintahkan untuk menghafalnya saja. Sebagian lain membolehkannya. Di antara yang kami riwayatkan membenci hal itu: Umar, Ibnu Mas'ud, Zaid bin Tsabit, Abu Musa, dan Abu Sa'id al-Khudri, bersama sejumlah sahabat dan tabi'in lainnya."
وَرُوِّينَا عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا إِلَّا الْقُرْآنَ، وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ". أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ.
"Kami meriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri: bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'jangan kalian tulis dariku sesuatu pun selain Al-Qur'an. Siapa yang menulis dariku sesuatu selain Al-Qur'an, hendaklah ia menghapusnya.' Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shahih-nya."
وَمِمَّنْ رُوِّينَا عَنْهُ إِبَاحَةَ ذَلِكَ، أَوْ فَعَلَهُ عَلِيٌّ، وَابْنُهُ الْحَسَنُ، وَأَنَسٌ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، فِي جَمْعٍ آخَرِينَ مِنَ الصَّحَابَةِ، وَالتَّابِعِينَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَجْمَعِينَ.
"Di antara yang kami riwayatkan membolehkan atau melakukan hal itu adalah Ali, putranya al-Hasan, Anas, dan Abdullah bin Amr bin al-Ash, bersama sejumlah sahabat dan tabi'in lainnya, radhiyallahu 'anhum ajma'in."
وَمِنْ صَحِيحِ حَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّالِّ عَلَى جَوَازِ ذَلِكَ: حَدِيثُ أَبِي شَاهٍ الْيَمَنِيِّ فِي الْتِمَاسِهِ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَكْتُبَ لَهُ شَيْئًا سَمِعَهُ مِنْ خُطْبَتِهِ عَامَ فَتْحِ مَكَّةَ، وَقَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "اكْتُبُوا لِأَبِي شَاهٍ".
"Di antara hadits shahih Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang menunjukkan bolehnya hal itu: hadits Abu Syah al-Yamani, tentang permintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam agar dituliskan untuknya sesuatu yang ia dengar dari khutbah beliau pada tahun penaklukan Makkah, dan sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam: 'tuliskanlah untuk Abu Syah'."
وَلَعَلَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذِنَ فِي الْكِتَابَةِ عَنْهُ لِمَنْ خَشِيَ عَلَيْهِ النِّسْيَانَ، وَنَهَى عَنِ الْكِتَابَةِ عَنْهُ مَنْ وَثِقَ بِحِفْظِهِ، مَخَافَةَ الِاتِّكَالِ عَلَى الْكِتَابِ، أَوْ نَهَى عَنْ كِتَابَةِ ذَلِكَ حِينَ خَافَ عَلَيْهِمُ اخْتِلَاطَ ذَلِكَ بِصُحُفِ الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَأَذِنَ فِي كِتَابَتِهِ حِينَ أَمِنَ مِنْ ذَلِكَ.
"Boleh jadi beliau shallallahu 'alaihi wasallam mengizinkan penulisan darinya bagi orang yang dikhawatirkan lupa, dan melarang penulisan bagi orang yang dipercaya kuat hafalannya, karena khawatir ia menggantungkan diri pada tulisan. Atau beliau melarang penulisan itu saat khawatir akan tercampurnya dengan lembaran-lembaran Al-Qur'an yang agung, dan mengizinkan penulisannya saat rasa khawatir itu telah aman."
وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْفَتْحِ بْنُ عَبْدِ الْمُنْعِمِ الْفُرَاوِيُّ - قِرَاءَةً عَلَيْهِ بِنَيْسَابُورَ جَبَرَهَا اللَّهُ - أَخْبَرَنَا أَبُو الْمَعَالِي الْفَارِسِيُّ، أَخْبَرَنَا الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْبَيْهَقِيُّ، أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ، أَخْبَرَنَا أَبُو عَمْرِو بْنُ السَّمَّاكِ، ثَنَا حَنْبَلُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثَنَا الْوَلِيدُ هُوَ ابْنُ مُسْلِمٍ قَالَ: كَانَ الْأَوْزَاعِيُّ يَقُولُ: "كَانَ هَذَا الْعِلْمُ كَرِيمًا يَتَلَقَّاهُ الرِّجَالُ بَيْنَهُمْ، فَلَمَّا دَخَلَ فِي الْكُتُبِ دَخَلَ فِيهِ غَيْرُ أَهْلِهِ.
"Al-Farawi mengabarkan kepada kami dengan qira'ah di Naisabur, dari Abul Ma'ali al-Farisi, dari al-Hafizh Abu Bakr al-Baihaqi, dari Abul Husain bin Bisyran, dari Abu Amr bin as-Sammak, dari Hanbal bin Ishaq, dari Sulaiman bin Ahmad, dari al-Walid bin Muslim, ia berkata: al-Auza'i biasa berkata: 'dahulu ilmu ini mulia, diterima antara satu orang dengan yang lain secara langsung. Ketika ilmu itu masuk ke dalam kitab-kitab tertulis, masuklah pula ke dalamnya orang-orang yang bukan ahlinya.'"
ثُمَّ إِنَّهُ زَالَ ذَلِكَ الْخِلَافُ وَأَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى تَسْوِيغِ ذَلِكَ وَإِبَاحَتِهِ، وَلَوْلَا تَدْوِينُهُ فِي الْكُتُبِ لَدُرِسَ فِي الْأَعْصُرِ الْآخِرَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Kemudian perselisihan itu hilang, dan kaum muslimin berijma' membolehkan dan menghalalkan penulisan hadits. Seandainya tidak dibukukan dalam kitab-kitab, niscaya ilmu ini akan lenyap pada zaman-zaman belakangan. Wallahu a'lam."
ثُمَّ إِنَّ عَلَى كَتَبَةِ الْحَدِيثِ، وَطَلَبَتِهِ صَرْفَ الْهِمَّةِ إِلَى ضَبْطِ مَا يَكْتُبُونَهُ، أَوْ يُحَصِّلُونَهُ بِخَطِّ الْغَيْرِ مِنْ مَرْوِيَّاتِهِمْ عَلَى الْوَجْهِ الَّذِي رَوَوْهُ شَكْلًا، وَنَقْطًا يُؤْمَنُ مَعَهُمَا الِالْتِبَاسُ، وَكَثِيرًا مَا يَتَهَاوَنُ بِذَلِكَ الْوَاثِقُ بِذِهْنِهِ، وَتَيَقُّظِهِ، وَذَلِكَ وَخِيمُ الْعَاقِبَةِ، فَإِنَّ الْإِنْسَانَ مُعَرَّضٌ لِلنِّسْيَانِ، وَأَوَّلُ نَاسٍ أَوَّلُ النَّاسِ، وَإِعْجَامُ الْمَكْتُوبِ يَمْنَعُ مِنِ اسْتِعْجَامِهِ، وَشَكْلُهُ يَمْنَعُ مِنْ إِشْكَالِهِ.
"Para penulis hadits dan penuntutnya wajib mencurahkan perhatian untuk men-dhabt apa yang mereka tulis, atau yang mereka peroleh dari tulisan orang lain, dari riwayat-riwayat mereka, sesuai dengan cara mereka meriwayatkannya, dengan syakl (harakat) dan naqth (titik) yang menjamin bebas dari kekeliruan. Sering kali orang yang mengandalkan kekuatan ingatan dan kewaspadaannya sendiri bermudah-mudahan dalam hal ini - padahal akibatnya buruk, karena manusia rentan lupa, dan orang pertama yang lupa (Adam) adalah manusia pertama pula. Meng-i'jam (memberi titik pembeda) tulisan mencegahnya dari kesamaran, dan mem-berikan syakl mencegahnya dari kerumitan."
ثُمَّ لَا يَنْبَغِي أَنْ يَتَعَنَّى بِتَقْيِيدِ الْوَاضِحِ الَّذِي لَا يَكَادُ يَلْتَبِسُ، وَقَدْ أَحْسَنَ مِنْ قَالَ: إِنَّمَا يُشْكَلُ مَا يُشْكِلُ.
"Namun tidak perlu bersusah-payah mencatat harakat pada kata yang sudah jelas dan hampir tidak mungkin rancu. Sungguh baik ucapan yang mengatakan: yang perlu diberi syakl hanyalah yang benar-benar rumit."
وَقَرَأْتُ بِخَطِّ صَاحِبِ كِتَابِ (سِمَاتُ الْخَطِّ وَرُقُومُهُ) عَلِيِّ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْبَغْدَادِيِّ فِيهِ أَنَّ أَهْلَ الْعِلْمِ يَكْرَهُونَ الْإِعْجَامَ وَالْإِعْرَابَ إِلَّا فِي الْمُلْتَبِسِ، وَحَكَى غَيْرُهُ عَنْ قَوْمٍ أَنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يُشْكَلَ مَا يُشْكِلُ، وَمَا لَا يُشْكِلُ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الْمُبْتَدِئَ، وَغَيْرَ الْمُتَبَحِّرِ فِي الْعِلْمِ لَا يُمَيِّزُ مَا يُشْكِلُ مِمَّا لَا يُشْكِلُ، وَلَا صَوَابَ الْإِعْرَابِ مِنْ خَطَئِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku membaca tulisan tangan Ali bin Ibrahim al-Baghdadi, penulis kitab Simatul Khath wa Ruqumuhu, bahwa ahli ilmu membenci pemberian i'jam dan i'rab kecuali pada yang rancu. Ulama lain menceritakan dari sebagian ulama, bahwa sepatutnya diberi syakl baik yang rumit maupun yang tidak, karena pemula dan orang yang belum mendalam ilmunya tidak dapat membedakan mana yang rumit dan mana yang tidak, atau membedakan i'rab yang benar dari yang keliru. Wallahu a'lam."

Perkara-Perkara Penting seputar Penulisan Hadits

Perkara pertama:
يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ اعْتِنَاؤُهُ - مِنْ بَيْنِ مَا يَلْتَبِسُ - بِضَبْطِ الْمُلْتَبِسِ مِنْ أَسْمَاءِ النَّاسِ أَكْثَرَ، فَإِنَّهَا لَا تُسْتَدْرَكُ بِالْمَعْنَى، وَلَا يُسْتَدَلُّ عَلَيْهَا بِمَا قَبْلُ، وَمَا بَعْدُ.
"Sepatutnya perhatian yang paling besar di antara segala hal yang rancu diberikan kepada penertiban (dhabt) nama-nama orang yang rancu, karena kekeliruan padanya tidak bisa diperbaiki dengan mengandalkan makna, dan tidak dapat pula ditebak dari konteks kalimat sebelum atau sesudahnya."

Perkara kedua:
يُسْتَحَبُّ فِي الْأَلْفَاظِ الْمُشْكِلَةِ أَنْ يُكَرِّرَ ضَبْطَهَا، بِأَنْ يَضْبِطَهَا فِي مَتْنِ الْكِتَابِ، ثُمَّ يَكْتُبَهَا قُبَالَةَ ذَلِكَ فِي الْحَاشِيَةِ مُفْرَدَةً مَضْبُوطَةً، فَإِنَّ ذَلِكَ أَبْلَغُ فِي إِبَانَتِهَا، وَأَبْعَدُ مِنَ الْتِبَاسِهَا، وَمَا ضَبَطَهُ فِي أَثْنَاءِ الْأَسْطُرِ رُبَّمَا دَاخَلَهُ نَقْطُ غَيْرِهِ وَشَكْلُهُ، مِمَّا فَوْقَهُ، وَتَحْتَهُ، لَا سِيَّمَا عِنْدَ دِقَّةِ الْخَطِّ، وَضِيقِ الْأَسْطُرِ، وَبِهَذَا جَرَى رَسْمُ جَمَاعَةٍ مِنْ أَهْلِ الضَّبْطِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Dianjurkan pada kata-kata yang rumit agar mengulangi pen-dhabt-annya: men-dhabt-nya dalam badan teks, kemudian menuliskannya lagi di seberangnya pada catatan pinggir (hamisy) secara terpisah dan telah di-dhabt. Ini lebih jelas dalam menerangkannya, dan lebih jauh dari kerancuan - karena tanda yang diletakkan di tengah baris bisa saja tercampur dengan titik dan harakat kata lain di atas atau di bawahnya, terutama saat tulisan rapat dan barisnya sempit. Inilah kebiasaan tetap yang dijalankan sejumlah ahli dhabt. Wallahu a'lam."

Perkara ketiga:
يُكْرَهُ الْخَطُّ الدَّقِيقُ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ يَقْتَضِيهِ. رُوِّينَا عَنْ حَنْبَلِ بْنِ إِسْحَاقَ قَالَ: رَآنِي أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَأَنَا أَكْتُبُ خَطًّا دَقِيقًا، فَقَالَ: "لَا تَفْعَلْ، أَحْوَجُ مَا تَكُونُ إِلَيْهِ يَخُونُكَ". وَبَلَغَنَا عَنْ بَعْضِ الْمَشَايِخِ أَنَّهُ كَانَ إِذَا رَأَى خَطًّا دَقِيقًا قَالَ: "هَذَا خَطُّ مَنْ لَا يُوقِنُ بِالْخُلْفِ مِنَ اللَّهِ". وَالْعُذْرُ فِي ذَلِكَ هُوَ مِثْلُ أَنْ لَا يَجِدَ فِي الْوَرَقِ سَعَةً، أَوْ يَكُونَ رَحَّالًا يَحْتَاجُ إِلَى تَدْقِيقِ الْخَطِّ، لِيَخِفَّ عَلَيْهِ مَحْمَلُ كِتَابِهِ، وَنَحْوُ هَذَا، [وَاللَّهُ أَعْلَمُ].
"Dibenci tulisan yang terlalu halus/kecil tanpa alasan yang mengharuskannya. Kami meriwayatkan dari Hanbal bin Ishaq, ia berkata: 'Ahmad bin Hanbal melihatku menulis dengan tulisan yang sangat halus, lalu ia berkata: jangan lakukan itu - justru pada saat engkau paling membutuhkannya, ia akan mengkhianatimu (sulit terbaca).' Sampai kepada kami dari sebagian syaikh, bahwa apabila ia melihat tulisan yang sangat halus, ia berkata: 'ini tulisan orang yang tidak yakin akan gantian rezeki dari Allah (pelit kertas).' Alasan yang membenarkannya adalah seperti tidak mendapati kertas yang cukup luas, atau ia seorang musafir yang membutuhkan tulisan halus agar bawaan kitabnya ringan, dan semisalnya. Wallahu a'lam."

Perkara keempat:
يَخْتَارُ لَهُ فِي خَطِّهِ التَّحْقِيقَ، دُونَ الْمَشْقِ وَالتَّعْلِيقِ. بَلَغَنَا عَنِ ابْنِ قُتَيْبَةَ قَالَ: ... قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: "شَرُّ الْكِتَابَةِ الْمَشْقُ، وَشَرُّ الْقِرَاءَةِ الْهَذْرَمَةُ، وَأَجْوَدُ الْخَطِّ أَبْيَنُهُ" ..، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sepatutnya seseorang memilih gaya tulisan yang jelas dan rapi (tahqiq), bukan yang tersambung cepat (masyq) atau bergantung sambung (ta'liq). Sampai kepada kami dari Ibnu Qutaibah, ia berkata: Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berkata: 'seburuk-buruk tulisan adalah yang ditulis serampangan (masyq), dan seburuk-buruk bacaan adalah yang dibaca terburu-buru tak jelas (hadzramah). Sebaik-baik tulisan adalah yang paling jelas terbaca.' Wallahu a'lam."

Perkara kelima:
كَمَا تُضْبَطُ الْحُرُوفُ الْمُعْجَمَةُ بِالنُّقَطِ كَذَلِكَ يَنْبَغِي أَنْ تُضْبَطَ الْمُهْمَلَاتُ غَيْرُ الْمُعْجَمَةِ بِعَلَامَةِ الْإِهْمَالِ، لِتَدُلَّ عَلَى عَدَمِ إِعْجَامِهَا. وَسَبِيلُ النَّاسِ فِي ضَبْطِهَا مُخْتَلِفٌ: فَمِنْهُمْ مَنْ يَقْلِبُ النَّقْطَ، فَيَجْعَلُ النَّقْطَ الَّذِي فَوْقَ الْمُعْجَمَاتِ تَحْتَ مَا يُشَاكِلُهَا مِنَ الْمُهْمَلَاتِ، فَيَنْقُطُ تَحْتَ الرَّاءِ، وَالصَّادِ، وَالطَّاءِ، وَالْعَيْنِ، وَنَحْوِهَا مِنَ الْمُهْمَلَاتِ.
"Sebagaimana huruf-huruf mu'jamah (bertitik, seperti kha, tsa, syin) di-dhabt dengan titik, demikian pula sepatutnya huruf-huruf muhmalah (tak bertitik, seperti ha, sin, shad) di-dhabt dengan tanda ihmal (penunjuk 'tanpa titik'), untuk menunjukkan bahwa ia bukan huruf bertitik. Cara orang-orang men-dhabt-nya berbeda-beda: sebagian membalik titik, meletakkan titik yang biasanya di atas huruf mu'jamah justru di bawah huruf muhmalah yang menyerupainya - menitik di bawah huruf ra, shad, tha, 'ain, dan sejenisnya dari huruf muhmalah."

وَذَكَرَ بَعْضُ هَؤُلَاءِ أَنَّ النُّقَطَ الَّتِي تَحْتَ السِّينِ الْمُهْمَلَةِ تَكُونُ مَبْسُوطَةً صَفًّا، وَالَّتِي فَوْقَ الشِّينِ الْمُعْجَمَةِ تَكُونُ كَالْأَثَافِيِّ. وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَجْعَلُ عَلَامَةَ الْإِهْمَالِ فَوْقَ الْحُرُوفِ الْمُهْمَلَةِ كَقُلَامَةِ الظُّفْرِ، مُضْجَعَةً عَلَى قَفَاهَا. وَمِنْهُمْ مَنْ يَجْعَلُ تَحْتَ الْحَاءِ الْمُهْمَلَةِ حَاءً مُفْرَدَةً صَغِيرَةً، وَكَذَا تَحْتَ الدَّالِ، وَالطَّاءِ، وَالصَّادِ، وَالسِّينِ، وَالْعَيْنِ، وَسَائِرُ الْحُرُوفِ الْمُهْمَلَةِ الْمُلْتَبِسَةِ مِثْلُ ذَلِكَ.
"Sebagian ulama menyebutkan bahwa titik-titik di bawah huruf sin muhmalah dibentangkan sejajar dalam satu baris, sedangkan titik di atas huruf syin mu'jamah dibentuk seperti tiga kaki tungku (segitiga). Sebagian orang meletakkan tanda ihmal di atas huruf muhmalah berbentuk seperti potongan kuku, dibaringkan pada punggungnya. Sebagian lain meletakkan di bawah huruf ha muhmalah sebuah huruf ha kecil tersendiri, begitu pula di bawah dal, tha, shad, sin, 'ain, dan seluruh huruf muhmalah lain yang rancu, dengan cara serupa."
فَهَذِهِ وُجُوهٌ مِنْ عَلَامَاتِ الْإِهْمَالِ شَائِعَةٌ مَعْرُوفَةٌ. وَهُنَاكَ مِنَ الْعَلَامَاتِ مَا هُوَ مَوْجُودٌ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْكُتُبِ الْقَدِيمَةِ، وَلَا يَفْطِنُ لَهُ كَثِيرُونَ، كَعَلَامَةِ مَنْ يَجْعَلُ فَوْقَ الْحَرْفِ الْمُهْمَلِ خَطًّا صَغِيرًا، وَكَعَلَامَةِ مَنْ يَجْعَلُ تَحْتَ الْحَرْفِ الْمُهْمَلِ مِثْلَ الْهَمْزَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Itulah beberapa bentuk tanda ihmal yang sudah masyhur dan dikenal. Ada pula tanda-tanda lain yang terdapat dalam banyak kitab lama, yang tidak disadari kebanyakan orang, seperti tanda orang yang meletakkan garis kecil di atas huruf muhmalah, atau tanda orang yang meletakkan di bawah huruf muhmalah sesuatu yang menyerupai hamzah. Wallahu a'lam."

Perkara keenam:
لَا يَنْبَغِي أَنْ يَصْطَلِحَ مَعَ نَفْسِهِ فِي كِتَابِهِ بِمَا لَا يَفْهَمُهُ غَيْرُهُ، فَيُوقِعُ غَيْرَهُ فِي حَيْرَةٍ، كَفِعْلِ مَنْ يَجْمَعُ فِي كِتَابِهِ بَيْنَ رِوَايَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ، وَيَرْمُزُ إِلَى رِوَايَةِ كُلِّ رَاوٍ بِحَرْفٍ وَاحِدٍ مِنِ اسْمِهِ، أَوْ حَرْفَيْنِ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، فَإِنْ بَيَّنَ - فِي أَوَّلِ كِتَابِهِ، أَوْ آخِرِهِ - مُرَادَهُ بِتِلْكَ الْعَلَامَاتِ وَالرُّمُوزِ، فَلَا بَأْسَ. وَمَعَ ذَلِكَ فَالْأَوْلَى أَنْ يَتَجَنَّبَ الرَّمْزَ، وَيَكْتُبَ عِنْدَ كُلِّ رِوَايَةٍ اسْمَ رَاوِيهَا بِكَمَالِهِ مُخْتَصَرًا، وَلَا يَقْتَصِرَ عَلَى الْعَلَامَةِ بِبَعْضِهِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Tidak sepatutnya seseorang membuat konvensi pribadi dalam kitabnya yang tidak dipahami orang lain, sehingga membuat orang lain kebingungan - seperti perbuatan orang yang menghimpun dalam kitabnya beberapa riwayat berbeda, lalu meringkas riwayat setiap perawi dengan satu atau dua huruf dari namanya, dan semisalnya. Jika ia menjelaskan -di awal atau akhir kitabnya- maksud dari tanda dan singkatan itu, tidak mengapa. Meski demikian, yang lebih utama adalah menghindari singkatan, dan menuliskan pada setiap riwayat nama perawinya secara utuh sekalipun ringkas, tidak hanya membatasi diri pada tanda sebagian namanya saja. Wallahu a'lam."

Perkara ketujuh:
يَنْبَغِي أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَ كُلِّ حَدِيثَيْنِ دَارَةً تَفْصِلُ بَيْنَهُمَا، وَتُمَيِّزُ. وَمِمَّنْ بَلَغَنَا عَنْهُ ذَلِكَ مِنَ الْأَئِمَّةِ أَبُو الزِّنَادِ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ، وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ.
"Sepatutnya seseorang meletakkan di antara setiap dua hadits sebuah lingkaran (darah) yang memisahkan dan membedakan keduanya. Di antara imam yang sampai kepada kami melakukan hal itu adalah Abuz Zinad, Ahmad bin Hanbal, Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, dan Muhammad bin Jarir ath-Thabari radhiyallahu 'anhum."

وَاسْتَحَبَّ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ أَنْ تَكُونَ الدَّارَاتُ غُفْلًا، فَإِذَا عَارَضَ فَكُلُّ حَدِيثٍ يَفْرُغُ مِنْ عَرْضِهِ يَنْقُطُ فِي الدَّارَةِ الَّتِي تَلِيهِ نُقْطَةً، أَوْ يَخُطُّ فِي وَسَطِهَا خَطًّا. قَالَ: "وَقَدْ كَانَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يُعْتَدُّ مِنْ سَمَاعِهِ إِلَّا بِمَا كَانَ كَذَلِكَ، أَوْ فِي مَعْنَاهُ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Khathib al-Hafizh menganjurkan agar lingkaran-lingkaran itu dibiarkan kosong (belum ditandai), sehingga ketika ia mencocokkan (mu'aradhah) naskahnya, setiap kali selesai satu hadits, ia memberi titik pada lingkaran berikutnya, atau menggores garis kecil di tengahnya. Al-Khathib berkata: 'sebagian ahli ilmu tidak memperhitungkan sama'-nya kecuali yang telah ditandai demikian, atau yang semaknanya.' Wallahu a'lam."

Perkara kedelapan:
يُكْرَهُ لَهُ فِي مِثْلِ (عَبْدِ اللَّهِ بْنِ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ) أَنْ يَكْتُبَ (عَبْدَ) فِي آخِرِ سَطْرٍ، وَالْبَاقِيَ فِي أَوَّلِ السَّطْرِ الْآخَرِ. وَكَذَلِكَ يُكْرَهُ فِي (عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ فُلَانٍ)، وَفِي سَائِرِ الْأَسْمَاءِ الْمُشْتَمِلَةِ عَلَى التَّعْبِيدِ لِلَّهِ تَعَالَى أَنْ يَكْتُبَ (عَبْدَ) فِي آخِرِ سَطْرٍ، وَاسْمَ اللَّهِ مَعَ سَائِرِ النَّسَبِ فِي أَوَّلِ السَّطْرِ الْآخَرِ. وَهَكَذَا يُكْرَهُ أَنْ يَكْتُبَ (قَالَ رَسُولُ) فِي آخِرِ سَطْرٍ، وَيَكْتُبَ فِي أَوَّلِ السَّطْرِ الَّذِي يَلِيهِ (اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ)، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Dibenci baginya, dalam menulis nama seperti (Abdullah bin fulan bin fulan), menuliskan kata (Abda) di akhir baris, sementara sisanya di awal baris berikutnya. Begitu pula dibenci dalam (Abdurrahman bin fulan), dan seluruh nama yang mengandung unsur penghambaan kepada Allah Ta'ala, menuliskan kata (Abda) di akhir baris sementara nama Allah beserta sisa nasabnya di awal baris berikutnya. Demikian pula dibenci menulis (Qala Rasulu) di akhir baris, lalu menulis di awal baris berikutnya (Allahi shallallahu Ta'ala 'alaihi wasallam), dan yang semisal itu. Wallahu a'lam."

Perkara kesembilan:
يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُحَافِظَ عَلَى كِتْبَةِ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذِكْرِهِ، وَلَا يَسْأَمَ مِنْ تَكْرِيرِ ذَلِكَ عِنْدَ تَكَرُّرِهِ، فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أَكْبَرِ الْفَوَائِدِ الَّتِي يَتَعَجَّلُهَا طَلَبَةُ الْحَدِيثِ، وَكَتَبَتُهُ، وَمَنْ أَغْفَلَ ذَلِكَ حُرِمَ حَظًّا عَظِيمًا، وَقَدْ رُوِّينَا لِأَهْلِ ذَلِكَ مَنَامَاتٍ صَالِحَةً.
"Sepatutnya seseorang senantiasa menuliskan shalawat dan salam atas Rasulullah shallallahu Ta'ala 'alaihi wasallam setiap kali menyebut namanya, dan tidak jemu mengulanginya setiap kali disebut berulang, karena itu termasuk faidah terbesar yang segera diperoleh para penuntut hadits dan para penulisnya. Siapa yang melalaikan hal itu, ia terhalang dari keberuntungan yang besar - dan kami telah meriwayatkan mimpi-mimpi baik bagi orang-orang yang melakukan hal itu."

وَمَا يَكْتُبُهُ مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ دُعَاءٌ يُثْبِتُهُ لَا كَلَامٌ يَرْوِيهِ، فَلِذَلِكَ لَا يَتَقَيَّدُ فِيهِ بِالرِّوَايَةِ، وَلَا يَقْتَصِرُ فِيهِ عَلَى مَا فِي الْأَصْلِ. وَهَكَذَا الْأَمْرُ فِي الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ سُبْحَانَهُ عِنْدَ ذِكْرِ اسْمِهِ، نَحْوُ (عَزَّ وَجَلَّ)، وَ (تَبَارَكَ وَتَعَالَى) وَمَا ضَاهَى ذَلِكَ. وَإِذَا وُجِدَ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ قَدْ جَاءَتْ بِهِ الرِّوَايَةُ كَانَتِ الْعِنَايَةُ بِإِثْبَاتِهِ، وَضَبْطِهِ أَكْثَرَ، وَمَا وُجِدَ فِي خَطِّ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ إِغْفَالِ ذَلِكَ عِنْدَ ذِكْرِ اسْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَعَلَّ سَبَبَهُ أَنَّهُ كَانَ يَرَى التَّقَيُّدَ فِي ذَلِكَ بِالرِّوَايَةِ، وَعَزَّ عَلَيْهِ اتِّصَالُهَا فِي ذَلِكَ فِي جَمِيعِ مَنْ فَوْقَهُ مِنَ الرُّوَاةِ.
"Apa yang ditulis darinya (shalawat) itu adalah doa yang ditetapkan, bukan perkataan yang diriwayatkan. Karena itu, ia tidak terikat pada periwayatan, dan tidak dibatasi pada apa yang ada di naskah asli saja. Demikian pula halnya dengan pujian kepada Allah Subhanahu ketika menyebut nama-Nya, seperti ('Azza wa Jalla), (Tabaraka wa Ta'ala), dan yang menyerupainya. Jika didapati sesuatu dari itu memang datang dalam riwayat, maka perhatian untuk menetapkan dan men-dhabt-nya lebih besar lagi. Adapun kelalaian yang ditemukan pada tulisan tangan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal radhiyallahu 'anhu, dalam menyebut nama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam (tanpa shalawat tertulis), boleh jadi sebabnya adalah karena ia berpandangan hal itu harus terikat pada periwayatan, dan sulit baginya memastikan kebersambungan periwayatan itu pada seluruh perawi di atasnya."
قَالَ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ: "وَبَلَغَنِي أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُطْقًا لَا خَطًّا"، قَالَ: "وَقَدْ خَالَفَهُ غَيْرُهُ مِنَ الْأَئِمَّةِ الْمُتَقَدِّمِينَ فِي ذَلِكَ".
"Al-Khathib Abu Bakr berkata: 'sampai kepadaku bahwa Ahmad bin Hanbal biasa bershalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara lisan, bukan tertulis.' Ia melanjutkan: 'imam-imam mutaqaddimin lainnya menyelisihinya dalam hal ini.'"
وَرُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ، وَعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْعَظِيمِ الْعَنْبَرِيِّ، قَالَا: "مَا تَرَكْنَا الصَّلَاةَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي كُلِّ حَدِيثٍ سَمِعْنَاهُ، وَرُبَّمَا عَجَّلْنَا فَنُبَيِّضُ الْكِتَابَ فِي كُلِّ حَدِيثٍ حَتَّى نَرْجِعَ إِلَيْهِ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Diriwayatkan dari Ali bin al-Madini dan Abbas bin Abdil Azhim al-Anbari, keduanya berkata: 'kami tidak pernah meninggalkan shalawat atas Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam setiap hadits yang kami dengar, dan terkadang saat tergesa, kami sengaja meninggalkan ruang kosong pada setiap hadits sampai kami kembali menuliskannya (shalawat itu) kelak.' Wallahu a'lam."
ثُمَّ لِيَتَجَنَّبْ فِي إِثْبَاتِهَا نَقْصَيْنِ: أَحَدُهُمَا: أَنْ يَكْتُبَهَا مَنْقُوصَةَ صُورَةٍ، رَامِزًا إِلَيْهَا بِحَرْفَيْنِ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ. وَالثَّانِي: أَنْ يَكْتُبَهَا مَنْقُوصَةَ مَعْنًى، بِأَنْ لَا يَكْتُبَ (وَسَلَّمَ)، وَإِنْ وُجِدَ ذَلِكَ فِي خَطِّ بَعْضِ الْمُتَقَدِّمِينَ.
"Hendaklah seseorang menghindari dua kekurangan dalam menuliskannya: pertama, menuliskannya dengan bentuk yang kurang, disingkat dengan dua huruf saja atau semisalnya. Kedua, menuliskannya dengan makna yang kurang, yaitu tidak menuliskan kata (wasallam), sekalipun hal itu didapati dalam tulisan tangan sebagian ulama terdahulu."
سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ مَنْصُورَ بْنَ عَبْدِ الْمُنْعِمِ، وَأُمَّ الْمُؤَيَّدِ بِنْتَ أَبِي الْقَاسِمِ بِقِرَائَتِي عَلَيْهِمَا قَالَا: سَمِعْنَا أَبَا الْبَرَكَاتِ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُحَمَّدٍ الْفُرَاوِيَّ لَفْظًا، قَالَ: سَمِعْتُ الْمُقْرِئَ ظَرِيفَ بْنَ مُحَمَّدٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ الْحَافِظَ قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: ... سَمِعْتُ حَمْزَةَ الْكِنَانِيَّ يَقُولُ: كُنْتُ أَكْتُبُ الْحَدِيثَ، وَكُنْتُ أَكْتُبُ عِنْدَ ذِكْرِ النَّبِيِّ "صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ" وَلَا أَكْتُبُ "وَسَلَّمَ"، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَنَامِ، فَقَالَ لِي: مَا لَكَ لَا تُتِمُّ الصَّلَاةَ عَلَيَّ؟ قَالَ: فَمَا كَتَبْتُ بَعْدَ ذَلِكَ "صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ" إِلَّا كَتَبْتُ "وَسَلَّمَ" ....
"Aku mendengar Abul Qasim Manshur bin Abdil Mun'im, dan Ummul Mu'ayyad binti Abil Qasim, keduanya dengan bacaanku kepada mereka, berkata: kami mendengar Abul Barakat Abdullah bin Muhammad al-Farawi secara lisan, ia berkata: aku mendengar al-Muqri' Zharif bin Muhammad berkata: aku mendengar Abdullah bin Muhammad bin Ishaq al-Hafizh berkata: aku mendengar ayahku berkata: ... aku mendengar Hamzah al-Kinani berkata: 'aku biasa menulis hadits, dan aku biasa menulis ketika menyebut Nabi hanya 'shallallahu 'alaihi' tanpa menulis 'wasallam'. Lalu aku bermimpi melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi wasallam, beliau berkata kepadaku: mengapa engkau tidak menyempurnakan shalawat atasku? Sejak itu, tidaklah aku menulis 'shallallahu 'alaihi' melainkan aku juga menulis 'wasallam'.'"
قُلْتُ: وَيُكْرَهُ أَيْضًا الِاقْتِصَارُ عَلَى قَوْلِهِ "عَلَيْهِ السَّلَامُ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: dibenci pula membatasi diri hanya pada ucapan 'alaihis salam' saja (tanpa shalawat). Wallahu a'lam bishshawab."2

Perkara kesepuluh:
عَلَى الطَّالِبِ مُقَابَلَةُ كِتَابِهِ بِأَصْلِ سَمَاعِهِ، وَكِتَابِ شَيْخِهِ الَّذِي يَرْوِيهِ عَنْهُ، وَإِنْ كَانَ إِجَازَةً. رُوِّينَا عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ قَالَ لِابْنِهِ هِشَامٍ: "كَتَبْتَ؟" قَالَ: "نَعَمْ"، قَالَ: "عَرَضْتَ كِتَابَكَ؟" قَالَ: "لَا"، قَالَ: "لَمْ تَكْتُبْ".
"Wajib bagi penuntut ilmu men-mu'aradhah-kan (mencocokkan) kitabnya dengan naskah asli sama'-nya, dan kitab gurunya yang ia riwayatkan darinya, sekalipun berupa ijazah. Kami meriwayatkan dari Urwah bin az-Zubair radhiyallahu 'anhuma, bahwa ia berkata kepada anaknya, Hisyam: 'sudahkah engkau menulisnya?' Hisyam menjawab: 'sudah.' Urwah bertanya lagi: 'sudahkah engkau mencocokkannya (dengan naskah asli)?' Hisyam menjawab: 'belum.' Urwah berkata: 'kalau begitu, engkau belum menulisnya.'"

وَرُوِّينَا عَنِ الشَّافِعِيِّ الْإِمَامِ، وَعَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ قَالَا: "مَنْ كَتَبَ وَلَمْ يُعَارِضْ كَمَنْ دَخَلَ الْخَلَاءَ وَلَمْ يَسْتَنْجِ". وَعَنِ الْأَخْفَشِ قَالَ: "إِذَا نُسِخَ الْكِتَابُ وَلَمْ يُعَارَضْ، ثُمَّ نُسِخَ وَلَمْ يُعَارَضْ خَرَجَ أَعْجَمِيًّا".
"Kami meriwayatkan dari Imam asy-Syafi'i dan dari Yahya bin Abi Katsir, keduanya berkata: 'siapa yang menulis namun tidak mencocokkan, ia seperti orang yang masuk ke jamban namun tidak beristinja'.' Dari al-Akhfasy, ia berkata: 'apabila sebuah kitab disalin tanpa dicocokkan, lalu disalin lagi tanpa dicocokkan, jadilah ia berbahasa asing (rusak, tidak lagi berbahasa Arab yang benar).'"
ثُمَّ إِنَّ أَفْضَلَ الْمُعَارَضَةِ: أَنْ يُعَارِضَ الطَّالِبُ بِنَفْسِهِ كِتَابَهُ بِكِتَابِ الشَّيْخِ مَعَ الشَّيْخِ، فِي حَالِ تَحْدِيثِهِ إِيَّاهُ مِنْ كِتَابِهِ، لِمَا يَجْمَعُ ذَلِكَ مِنْ وُجُوهِ الِاحْتِيَاطِ، وَالْإِتْقَانِ مِنَ الْجَانِبَيْنِ، وَمَا لَمْ تَجْتَمِعْ فِيهِ هَذِهِ الْأَوْصَافُ نَقَصَ مِنْ مَرْتَبَتِهِ بِقَدْرِ مَا فَاتَهُ مِنْهَا. وَمَا ذَكَرْنَاهُ أَوْلَى مِنْ إِطْلَاقِ أَبِي الْفَضْلِ الْجَارُودِيِّ الْحَافِظِ الْهَرَوِيِّ قَوْلَهُ: "أَصْدِقِ الْمُعَارَضَةَ مَعَ نَفْسِكَ".
"Mu'aradhah yang paling utama adalah si penuntut ilmu sendiri mencocokkan kitabnya dengan kitab sang guru, disaksikan langsung oleh sang guru, saat ia menyampaikan hadits dari kitabnya - karena hal itu menghimpun segala bentuk kehati-hatian dan ketelitian dari kedua belah pihak. Apabila sifat-sifat ini tidak terkumpul, martabatnya berkurang sesuai kadar yang terlewat. Apa yang kami sebutkan ini lebih utama daripada pernyataan mutlak Abul Fadhl al-Jarudi al-Hafizh al-Harawi: 'cocokkanlah sejujur-jujurnya dengan dirimu sendiri (tanpa perlu guru)'."
وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَنْظُرَ مَعَهُ فِي نُسْخَتِهِ مَنْ حَضَرَ مِنَ السَّامِعِينَ، مِمَّنْ لَيْسَ مَعَهُ نُسْخَةٌ، لَا سِيَّمَا إِذَا أَرَادَ النَّقْلَ مِنْهَا، وَقَدْ رُوِيَ عَنْ يَحْيَى بْنِ مَعِينٍ أَنَّهُ سُئِلَ عَمَّنْ لَمْ يَنْظُرْ فِي الْكِتَابِ، وَالْمُحَدِّثُ يَقْرَأُ، هَلْ يَجُوزُ أَنْ يُحَدِّثَ بِذَلِكَ عَنْهُ؟ فَقَالَ: "أَمَّا عِنْدِي فَلَا يَجُوزُ، وَلَكِنَّ عَامَّةَ الشُّيُوخِ هَكَذَا سَمَاعُهُمْ".
"Dianjurkan bagi orang yang hadir mendengarkan namun tidak memiliki naskah sendiri untuk melihat bersama dalam naskah orang lain, terutama jika ia hendak menukil darinya. Diriwayatkan dari Yahya bin Ma'in, bahwa ia ditanya tentang orang yang tidak melihat langsung ke kitab saat sang muhaddits membaca, apakah boleh baginya menceritakan hadits itu darinya? Ia menjawab: 'menurutku tidak boleh, namun kebanyakan guru memang seperti itu sama'-nya.'"
قُلْتُ: وَهَذَا مِنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ التَّشْدِيدِ فِي الرِّوَايَةِ، وَسَيَأْتِي ذِكْرُ مَذْهَبِهِمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى. وَالصَّحِيحُ أَنَّ ذَلِكَ لَا يُشْتَرَطُ، وَأَنَّهُ يَصِحُّ السَّمَاعُ، وَإِنْ لَمْ يَنْظُرْ أَصْلًا فِي الْكِتَابِ حَالَةَ الْقِرَاءَةِ، وَأَنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ أَنْ يُقَابِلَهُ بِنَفْسِهِ، بَلْ يَكْفِيهِ مُقَابَلَةُ نُسْخَتِهِ بِأَصْلِ الرَّاوِي، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ حَالَةَ الْقِرَاءَةِ، وَإِنْ كَانَتِ الْمُقَابَلَةُ عَلَى يَدَيْ غَيْرِهِ إِذَا كَانَ ثِقَةً مَوْثُوقًا بِضَبْطِهِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: ini termasuk mazhab ahli tasydid (yang memperketat) dalam periwayatan, dan mazhab mereka akan disebutkan insya Allah Ta'ala. Yang shahih adalah bahwa hal itu tidak disyaratkan, dan sama' tetap sah sekalipun sama sekali tidak melihat ke kitab saat qira'ah berlangsung, dan tidak disyaratkan pula ia sendiri yang mencocokkan - cukup baginya mencocokkan naskahnya dengan naskah asli sang perawi, sekalipun tidak dilakukan pada saat qira'ah, dan sekalipun pencocokan itu dilakukan oleh orang lain, selama orang itu tsiqah dan terpercaya ke-dhabit-annya."
قُلْتُ: وَجَائِزٌ أَنْ تَكُونَ مُقَابَلَتَهُ بِفَرْعٍ قَدْ قُوبِلَ الْمُقَابَلَةَ الْمَشْرُوطَةَ بِأَصْلِ شَيْخِهِ أَصْلِ السَّمَاعِ، وَكَذَلِكَ إِذَا قَابَلَ بِأَصْلِ أَصْلِ الشَّيْخِ الْمُقَابَلِ بِهِ أَصْلُ الشَّيْخِ؛ لِأَنَّ الْغَرَضَ الْمَطْلُوبَ أَنْ يَكُونَ كِتَابُ الطَّالِبِ مُطَابِقًا لِأَصْلِ سَمَاعِهِ، وَكِتَابِ شَيْخِهِ، فَسَوَاءٌ حَصَلَ ذَلِكَ بِوَاسِطَةٍ أَوْ بِغَيْرِ وَاسِطَةٍ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: boleh pula pencocokannya dilakukan dengan sebuah salinan yang sudah dicocokkan secara sah dengan naskah asli sang guru, naskah asli sama'-nya. Begitu pula jika ia mencocokkan dengan naskah asli dari naskah asli sang guru yang naskah asli sang guru itu sendiri sudah dicocokkan dengannya - karena tujuan yang dikehendaki hanyalah agar kitab si penuntut ilmu sesuai dengan naskah asli sama'-nya dan kitab gurunya, sama saja apakah hal itu tercapai lewat perantara atau tanpa perantara."
وَلَا يُجْزِئُ ذَلِكَ عِنْدَ مَنْ قَالَ: "لَا تَصِحُّ مُقَابَلَتُهُ مَعَ أَحَدٍ غَيْرِ نَفْسِهِ، وَلَا يُقَلِّدُ غَيْرَهُ، وَلَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ كِتَابِ الشَّيْخِ وَاسِطَةٌ، وَلْيُقَابِلْ نُسْخَتَهُ بِالْأَصْلِ بِنَفْسِهِ حَرْفًا حَرْفًا حَتَّى يَكُونَ عَلَى ثِقَةٍ وَيَقِينٍ مِنْ مُطَابَقَتِهَا لَهُ". وَهَذَا مَذْهَبٌ مَتْرُوكٌ، وَهُوَ مِنْ مَذَاهِبِ أَهْلِ التَّشْدِيدِ الْمَرْفُوضَةِ فِي أَعْصَارِنَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Namun ini tidak mencukupi menurut orang yang berkata: 'tidak sah pencocokannya dengan bantuan siapa pun selain dirinya sendiri, ia tidak boleh menaklidi orang lain, dan tidak boleh ada perantara antara dirinya dan kitab sang guru - hendaklah ia mencocokkan naskahnya dengan naskah asli sendiri, huruf demi huruf, hingga ia benar-benar yakin dan percaya akan kesesuaiannya.' Ini adalah mazhab yang telah ditinggalkan, termasuk mazhab ahli tasydid yang ditolak pada zaman kami. Wallahu a'lam."
أَمَّا إِذَا لَمْ يُعَارِضْ كِتَابَهُ بِالْأَصْلِ أَصْلًا: فَقَدْ سُئِلَ الْأُسْتَاذُ أَبُو إِسْحَاقَ الْإِسْفَرَائِينِيُّ عَنْ جَوَازِ رِوَايَتِهِ مِنْهُ، فَأَجَازَ ذَلِكَ. وَأَجَازَهُ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ الْخَطِيبُ أَيْضًا، وَبَيَّنَ شَرْطَهُ، فَذَكَرَ أَنَّهُ يُشْتَرَطُ أَنْ تَكُونَ نُسْخَتُهُ نُقِلَتْ مِنَ الْأَصْلِ، وَأَنْ يُبَيِّنَ عِنْدَ الرِّوَايَةِ أَنَّهُ لَمْ يُعَارِضْ، وَحَكَى عَنْ شَيْخِهِ أَبِي بَكْرٍ الْبَرْقَانِيِّ أَنَّهُ سَأَلَ أَبَا بَكْرٍ الْإِسْمَاعِيلِيَّ: "هَلْ لِلرَّجُلِ أَنْ يُحَدِّثَ بِمَا كَتَبَ عَنِ الشَّيْخِ، وَلَمْ يُعَارِضْ بِأَصْلِهِ؟" فَقَالَ: "نَعَمْ، وَلَكِنْ لَا بُدَّ أَنْ يُبَيِّنَ أَنَّهُ لَمْ يُعَارِضْ"، قَالَ: وَهَذَا هُوَ مَذْهَبُ أَبِي بَكْرٍ الْبَرْقَانِيِّ، فَإِنَّهُ رَوَى لَنَا أَحَادِيثَ كَثِيرَةً قَالَ فِيهَا: "أَخْبَرَنَا فُلَانٌ، وَلَمْ أُعَارِضْ بِالْأَصْلِ".
"Adapun apabila seseorang sama sekali tidak mencocokkan kitabnya dengan naskah asli, Ustadz Abu Ishaq al-Isfarayini ditanya tentang bolehnya ia meriwayatkan darinya, dan ia membolehkannya. Al-Hafizh Abu Bakr al-Khathib juga membolehkannya, dengan menjelaskan syaratnya: bahwa naskahnya itu disyaratkan telah dinukil dari naskah asli, dan bahwa ia harus menjelaskan saat periwayatan bahwa ia belum mencocokkannya. Al-Khathib menceritakan dari gurunya, Abu Bakr al-Barqani, bahwa ia bertanya kepada Abu Bakr al-Isma'ili: 'apakah seseorang boleh meriwayatkan hadits apa yang ia tulis dari sang guru, tanpa mencocokkan dengan naskah aslinya?' Ia menjawab: 'boleh, namun ia wajib menjelaskan bahwa ia belum mencocokkannya.' Al-Khathib berkata: 'inilah mazhab Abu Bakr al-Barqani sendiri, karena ia meriwayatkan kepada kami banyak hadits dengan mengatakan: fulan mengabarkan kepada kami, dan aku belum mencocokkannya dengan naskah asli.'"
قُلْتُ: وَلَا بُدَّ مِنْ شَرْطٍ ثَالِثٍ، وهو: أَنْ يَكُونَ نَاقِلُ النُّسْخَةِ مِنَ الْأَصْلِ غَيْرَ سَقِيمِ النَّقْلِ، بَلْ صَحِيحَ النَّقْلِ قَلِيلَ السَّقْطِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ. ثُمَّ إِنَّهُ يَنْبَغِي أَنْ يُرَاعِيَ فِي كِتَابِ شَيْخِهِ بِالنِّسْبَةِ إِلَي مَنْ فَوْقَهُ مِثْلَ مَا ذَكَرْنَا، أَنَّهُ يُرَاعِيهِ مِنْ كِتَابِهِ، وَلَا يَكُونَنَّ كَطَائِفَةٍ مِنَ الطَّلَبَةِ إِذَا رَأَوْا سَمَاعَ شَيْخٍ لِكِتَابٍ قَرَءُوهُ عَلَيْهِ مِنْ أَيِّ نُسْخَةٍ اتَّفَقَتْ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: wajib pula ditambahkan syarat ketiga, yaitu: hendaklah penyalin naskah dari yang asli itu bukan penyalin yang buruk, melainkan penyalin yang teliti, sedikit kesalahan penukilannya. Wallahu a'lam. Sepatutnya pula seseorang memperhatikan hal serupa terhadap kitab gurunya dalam kaitannya dengan orang di atasnya, sebagaimana ia memperhatikan kitabnya sendiri. Janganlah ia seperti sekelompok penuntut ilmu, yang apabila mereka melihat seorang guru pernah mendengar suatu kitab, mereka lantas membaca kitab itu di hadapannya dari naskah mana saja yang kebetulan mereka dapatkan. Wallahu a'lam."

Perkara kesebelas:
الْمُخْتَارُ فِي كَيْفِيَّةِ تَخْرِيجِ السَّاقِطِ فِي الْحَوَاشِي - وَيُسَمَّى اللَّحَقَ بِفَتْحِ الْحَاءِ - وَهُوَ أَنْ يَخُطَّ مِنْ مَوْضِعِ سُقُوطِهِ مِنَ السَّطْرِ خَطًّا صَاعِدًا إِلَى فَوْقِهِ، ثُمَّ يَعْطِفُهُ بَيْنَ السَّطْرَيْنِ عَطْفَةً يَسِيرَةً إِلَى جِهَةِ الْحَاشِيَةِ، الَّتِي يَكْتُبُ فِيهَا اللَّحَقَ، وَيَبْدَأُ فِي الْحَاشِيَةِ بِكِتْبَةِ اللَّحَقِ مُقَابِلًا لِلْخَطِّ الْمُنْعَطِفِ، وَلْيَكُنْ ذَلِكَ فِي حَاشِيَةِ ذَاتِ الْيَمِينِ، وَإِنْ كَانَتْ تَلِي وَسَطَ الْوَرَقَةِ إِنِ اتَّسَعَتْ لَهُ، وَلْيَكْتُبْهُ صَاعِدًا إِلَى أَعْلَى الْوَرَقَةِ لَا نَازِلًا بِهِ إِلَى أَسْفَلُ.
"Cara yang dipilih untuk mengeluarkan (takhrij) kata yang terlewat (as-saqith) ke catatan pinggir - yang disebut al-lahaq (dengan fathah pada huruf ha) - adalah: menggoreskan dari tempat kata yang terlewat itu dalam baris sebuah garis naik ke atas, lalu membeloknya di antara dua baris dengan belokan kecil ke arah catatan pinggir tempat al-lahaq akan ditulis. Ia mulai menuliskan al-lahaq di catatan pinggir itu sejajar dengan garis yang membelok tadi. Hendaklah itu berada di catatan pinggir sebelah kanan, sekalipun berdekatan dengan tengah kertas, jika ruangnya cukup luas untuk itu - dan hendaklah ditulis naik ke arah atas kertas, bukan turun ke bawah."

قُلْتُ: فَإِذَا كَانَ اللَّحَقُ سَطْرَيْنِ، أَوْ سُطُورًا فَلَا يَبْتَدِئُ بِسُطُورِهِ مِنْ أَسْفَلَ إِلَى أَعْلَى، بَلْ يَبْتَدِئُ بِهَا مِنْ أَعْلَى إِلَى أَسْفَلَ، بِحَيْثُ يَكُونُ مُنْتَهَاهَا إِلَى جِهَةِ بَاطِنِ الْوَرَقَةِ إِذَا كَانَ التَّخْرِيجُ فِي جِهَةِ الْيَمِينِ، وَإِذَا كَانَ فِي جِهَةِ الشِّمَالِ وَقَعَ مُنْتَهَاهَا إِلَى جِهَةِ طَرَفِ الْوَرَقَةِ، ثُمَّ يَكْتُبُ عِنْدَ انْتِهَاءِ اللَّحَقِ (صَحَّ).
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: apabila al-lahaq itu terdiri dari dua baris atau lebih, ia tidak memulai barisnya dari bawah ke atas, melainkan dari atas ke bawah, sehingga ujungnya berakhir ke arah dalam kertas jika takhrij-nya berada di sisi kanan, dan berakhir ke arah tepi kertas jika berada di sisi kiri. Kemudian ia menulis di ujung al-lahaq itu kata (shah - benar)."
وَمِنْهُمْ مَنْ يَكْتُبُ مَعَ (صَحَّ) (رَجَعَ)، وَمِنْهُمْ مَنْ يَكْتُبُ فِي آخِرِ اللَّحَقِ الْكَلِمَةَ الْمُتَّصِلَةَ بِهِ دَاخِلَ الْكِتَابِ فِي مَوْضِعِ التَّخْرِيجِ، لِيُؤْذِنَ بِاتِّصَالِ الْكَلَامِ، وَهَذَا اخْتِيَارُ بَعْضِ أَهْلِ الصَّنْعَةِ مِنْ أَهْلِ الْمَغْرِبِ، وَاخْتِيَارُ الْقَاضِي أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ خَلَّادٍ صَاحِبِ كِتَابِ "الْفَاصِلُ بَيْنَ الرَّاوِي وَالْوَاعِي" مِنْ أَهْلِ الْمَشْرِقِ مَعَ طَائِفَةٍ. وَلَيْسَ ذَلِكَ بِمَرْضِيٍّ، إِذْ رُبَّ كَلِمَةٍ تَجِيءُ فِي الْكَلَامِ مُكَرَّرَةً حَقِيقَةً، فَهَذَا التَّكْرِيرُ يُوقِعُ بَعْضَ النَّاسِ فِي تَوَهُّمِ مِثْلِ ذَلِكَ فِي بَعْضِهِ.
"Sebagian ulama menulis di samping (shah) juga kata (raja'a - kembali). Sebagian lain menulis di akhir al-lahaq kata yang menyambung dengannya di dalam badan teks pada tempat takhrij itu, untuk menandai kesambungan kalimat - ini adalah pilihan sebagian ahli disiplin ini dari kalangan Maghrib, dan pilihan Al-Qadhi Abu Muhammad Ibnu Khallad, penulis kitab al-Fashil bainar-Rawi wal-Wa'i, dari kalangan Masyriq bersama sekelompok ulama. Ini tidak diridhai, karena terkadang ada kata yang benar-benar berulang secara nyata dalam kalimat, sehingga pengulangan penanda ini bisa membuat sebagian orang menyangka pengulangan yang tidak sebenarnya."
وَاخْتَارَ الْقَاضِي ابْنُ خَلَّادٍ أَيْضًا فِي كِتَابِهِ أَنْ يَمُدَّ عَطْفَةَ خَطِّ التَّخْرِيجِ مِنْ مَوْضِعِهِ حَتَّى يُلْحِقَهُ بِأَوَّلِ اللَّحَقِ فِي الْحَاشِيةِ، وَهَذَا أَيْضًا غَيْرُ مَرْضِيٍّ، فَإِنَّهُ وَإِنْ كَانَ فِيهِ زِيَادَةُ بَيَانٍ فَهُوَ تَسْخِيمٌ لِلْكِتَابِ، وَتَسْوِيدٌ لَهُ، لَا سِيَّمَا عِنْدَ كَثْرَةِ الْإِلْحَاقَاتِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Al-Qadhi Ibnu Khallad juga memilih dalam kitabnya untuk memanjangkan belokan garis takhrij dari tempatnya hingga menyambungkannya dengan awal al-lahaq di catatan pinggir. Ini juga tidak diridhai, karena sekalipun menambah kejelasan, hal itu justru mengotori dan menghitamkan kitab, terutama saat banyak tambahan semacam ini. Wallahu a'lam."
وَإِنَّمَا اخْتَرْنَا كِتْبَةَ اللَّحَقِ صَاعِدًا إِلَى أَعْلَى الْوَرَقَةِ، لِئَلَّا يَخْرُجَ بَعْدَهُ نَقْصٌ آخَرُ فَلَا يَجِدُ مَا يُقَابِلُهُ مِنَ الْحَاشِيَةِ فَارِغًا لَهُ، لَوْ كَانَ كَتَبَ الْأَوَّلَ نَازِلًا إِلَى أَسْفَلَ، وَإِذَا كَتَبَ الْأَوَّلَ صَاعِدًا فَمَا يَجِدُ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْ نَقْصٍ يَجِدُ مَا يُقَابِلُهُ مِنَ الْحَاشِيَةِ فَارِغًا لَهُ.
"Kami memilih menuliskan al-lahaq naik ke arah atas kertas, agar jika muncul kekurangan lain setelahnya, ia masih mendapati ruang kosong di catatan pinggir yang sejajar dengannya - berbeda jika ia menulis yang pertama turun ke bawah. Jika ia menulis yang pertama naik ke atas, maka kekurangan berikutnya yang ia temui masih memiliki ruang kosong sejajar di catatan pinggir."
وَقُلْنَا أَيْضًا يُخْرِجُهُ فِي جِهَةِ الْيَمِينِ؛ لِأَنَّهُ لَوْ خَرَّجَهُ إِلَى جِهَةِ الشِّمَالِ، فَرُبَّمَا ظَهَرَ مِنْ بَعْدِهِ فِي السَّطْرِ نَفْسِهِ نَقْصٌ آخَرُ، فَإِنْ خَرَّجَهُ قُدَّامَهُ إِلَى جِهَةِ الشِّمَالِ أَيْضًا وَقَعَ بَيْنَ التَّخْرِيجَيْنِ إِشْكَالٌ، وَإِنْ خَرَجَ الثَّانِي إِلَى جِهَةِ الْيَمِينِ الْتَقَتْ عَطْفَةُ تَخْرِيجٍ جِهَةَ الشِّمَالِ، وَعَطْفَةُ تَخْرِيجٍ جِهَةَ الْيَمِينِ أَوْ تَقَابَلَتَا، فَأَشْبَهَ ذَلِكَ الضَّرْبَ عَلَى مَا بَيْنَهُمَا، بِخِلَافِ مَا إِذَا خَرَجَ الْأَوَّلُ إِلَى جِهَةِ الْيَمِينِ فَإِنَّهُ حِينَئِذٍ يَخْرُجُ الثَّانِي إِلَى جِهَةِ الشِّمَالِ، فَلَا يَلْتَقِيَانِ وَلَا يَلْزَمُ إِشْكَالٌ، اللَّهُمَّ إِلَّا أَنْ يَتَأَخَّرَ النَّقْصُ إِلَى آخِرِ السَّطْرِ، فَلَا وَجْهَ حِينَئِذٍ إِلَّا تَخْرِيجُهُ إِلَى جِهَةِ الشِّمَالِ لِقُرْبِهِ مِنْهَا، وَلِانْتِفَاءِ الْعِلَّةِ الْمَذْكُورَةِ مِنْ حَيْثُ إِنَّا لَا نَخْشَى ظُهُورَ نَقْصٍ بَعْدَهُ.
"Kami katakan pula, hendaklah ia mengeluarkannya ke sisi kanan, karena jika ia mengeluarkannya ke sisi kiri, bisa jadi setelahnya muncul lagi kekurangan lain pada baris yang sama. Jika kekurangan kedua ini juga dikeluarkan ke sisi kiri, akan terjadi kerancuan di antara kedua takhrij itu; dan jika yang kedua dikeluarkan ke sisi kanan, belokan garis takhrij yang ke arah kiri dan yang ke arah kanan akan bertemu atau saling berhadapan, sehingga terlihat seperti coretan pembatalan di antara keduanya. Berbeda jika yang pertama dikeluarkan ke sisi kanan - maka yang kedua otomatis dikeluarkan ke sisi kiri, sehingga keduanya tidak bertemu dan tidak menimbulkan kerancuan. Kecuali jika kekurangan itu terjadi di akhir baris, maka tidak ada cara lain selain mengeluarkannya ke sisi kiri karena kedekatannya dengan sisi itu, dan karena alasan tadi tidak berlaku lagi (tidak dikhawatirkan muncul kekurangan lain setelahnya)."
وَإِذَا كَانَ النَّقْصُ فِي أَوَّلِ السَّطْرِ تَأَكَّدَ تَخْرِيجُهُ إِلَى جِهَةِ الْيَمِينِ، لِمَا ذَكَرْنَاهُ مِنَ الْقُرْبِ مَعَ مَا سَبَقَ.
"Apabila kekurangan itu terjadi di awal baris, semakin ditekankan agar dikeluarkan ke sisi kanan, karena alasan kedekatan yang telah kami sebutkan, ditambah alasan sebelumnya."
وَأَمَّا مَا يَخْرُجُ فِي الْحَوَاشِي - مِنْ شَرْحٍ، أَوْ تَنْبِيهٍ عَلَى غَلَطٍ، أَوِ اخْتِلَافِ رِوَايَةٍ، أَوْ نُسْخَةٍ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ، مِمَّا لَيْسَ مِنَ الْأَصْلِ - فَقَدْ ذَهَبَ الْقَاضِي الْحَافِظُ عِيَاضٌ رَحِمَهُ اللَّهُ إِلَى أَنَّهُ لَا يَخْرُجُ لِذَلِكَ خَطُّ تَخْرِيجٍ، لِئَلَّا يَدْخُلَ اللَّبْسُ، وَيُحْسَبَ مِنَ الْأَصْلِ، وَأَنَّهُ لَا يُخَرَّجُ إِلَّا لِمَا هُوَ مِنْ نَفْسِ الْأَصْلِ، لَكِنْ رُبَّمَا جَعَلَ عَلَى الْحَرْفِ الْمَقْصُودِ بِذَلِكَ التَّخْرِيجِ عَلَامَةً كَالضَّبَّةِ، أَوِ التَّصْحِيحِ إِيذَانًا بِهِ.
"Adapun apa yang dituliskan di catatan pinggir - berupa penjelasan, peringatan atas kesalahan, perbedaan riwayat, perbedaan naskah, dan semisalnya, yang bukan bagian dari teks asli - Al-Qadhi al-Hafizh Iyadh rahimahullah berpandangan bahwa untuk hal itu tidak perlu diberi garis takhrij, agar tidak menimbulkan kerancuan dan dianggap bagian dari teks asli, karena takhrij hanya berlaku untuk apa yang memang bagian dari teks asli itu sendiri. Namun terkadang ia meletakkan pada huruf yang dimaksud itu sebuah tanda seperti dhabbah (kunci kecil) atau tashih (tanda benar) sebagai penanda."
قُلْتُ: التَّخْرِيجُ أَوْلَى وَأَدَلُّ، وَفِي نَفْسِ هَذَا الْمُخْرَجِ مَا يَمْنَعُ الْإِلْبَاسَ، ثُمَّ هَذَا التَّخْرِيجُ يُخَالِفُ التَّخْرِيجَ لِمَا هُوَ مِنْ نَفْسِ الْأَصْلِ فِي أَنَّ خَطَّ ذَلِكَ التَّخْرِيجِ يَقَعُ بَيْنَ الْكَلِمَتَيْنِ اللَّتَيْنِ بَيْنَهُمَا سَقَطَ السَّاقِطُ، وَخَطُّ هَذَا التَّخْرِيجِ يَقَعُ عَلَى نَفْسِ الْكَلِمَةِ الَّتِي مِنْ أَجْلِهَا خُرِّجَ الْمَخْرَجَ فِي الْحَاشِيَةِ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: menggunakan garis takhrij lebih utama dan lebih jelas, dan pada garis takhrij itu sendiri sudah terdapat pencegah kerancuan. Takhrij jenis ini berbeda dari takhrij untuk teks asli, dalam hal garis takhrij yang pertama itu diletakkan di antara dua kata yang di antaranya terletak kata yang terlewat, sementara garis takhrij yang ini diletakkan pada kata itu sendiri yang menjadi sebab tambahan di catatan pinggir dikeluarkan. Wallahu a'lam."

Perkara kedua belas:
مِنْ شَأْنِ الْحُذَّاقِ الْمُتْقِنِينَ الْعِنَايَةُ بِالتَّصْحِيحِ، وَالتَّضْبِيبِ، وَالتَّمْرِيضِ.
"Termasuk kebiasaan para ahli yang cakap dan teliti adalah memperhatikan tashih (penandaan benar), tadbib, dan tamridh."

أَمَّا التَّصْحِيحُ: فَهُوَ كِتَابَةُ (صَحَّ) عَلَى الْكَلَامِ، أَوْ عِنْدَهُ، وَلَا يُفْعَلُ ذَلِكَ إِلَّا فِيمَا صَحَّ رِوَايَةً وَمَعْنًى، غَيْرَ أَنَّهُ عُرْضَةٌ لِلشَّكِّ، أَوِ الْخِلَافِ، فَيَكْتُبُ عَلَيْهِ (صَحَّ) لِيُعْرَفَ أَنَّهُ لَمْ يُغْفَلْ عَنْهُ، وَأَنَّهُ قَدْ ضُبِطَ وَصَحَّ عَلَى ذَلِكَ الْوَجْهِ.
"Adapun tashih: yaitu menuliskan kata (shah - benar) di atas atau di samping suatu kalimat. Ini hanya dilakukan pada apa yang telah shahih baik dari sisi riwayat maupun makna, hanya saja rentan menimbulkan keraguan atau perselisihan, sehingga ditulis di atasnya (shah) agar diketahui bahwa hal itu tidak dilalaikan, dan bahwa ia telah di-dhabt dan dinyatakan benar sesuai bentuk tersebut."
وَأَمَّا التَّضْبِيبُ، وَيُسَمَّى أَيْضًا التَّمْرِيضَ، فَيُجْعَلُ عَلَى مَا صَحَّ وُرُودُهُ كَذَلِكَ مِنْ جِهَةِ النَّقْلِ، غَيْرَ أَنَّهُ فَاسِدٌ لَفْظًا، أَوْ مَعْنًى، أَوْ ضَعِيفٌ، أَوْ نَاقِصٌ، مِثْلُ: أَنْ يَكُونَ غَيْرَ جَائِزٍ مِنْ حَيْثُ الْعَرَبِيَّةُ، أَوْ يَكُونَ شَاذًّا عِنْدَ أَهْلِهَا يَأْبَاهُ أَكْثَرُهُمْ، أَوْ مُصَحَّفًا، أَوَيَنْقُصَ مِنْ جُمْلَةِ الْكَلَامِ كَلِمَةً، أَوْ أَكْثَرَ، وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ، فَيُمَدُّ عَلَى مَا هَذَا سَبِيلُهُ خَطٌّ، أَوَّلُهُ مِثْلُ الصَّادِ، وَلَا يُلْزَقُ بِالْكَلِمَةِ الْمُعَلَّمِ عَلَيْهَا، كَيْلَا يُظَنَّ ضَرْبًا، وَكَأَنَّهُ صَادُ التَّصْحِيحِ بِمَدَّتِهَا دُونَ حَائِهَا، كُتِبَتْ كَذَلِكَ لِيُفَرِّقَ بَيْنَ مَا صَحَّ مُطْلَقًا مِنْ جِهَةِ الرِّوَايَةِ وَغَيْرِهَا، وَبَيْنَ مَا صَحَّ مِنْ جِهَةِ الرِّوَايَةِ دُونَ غَيْرِهَا، فَلَمْ يُكْمَلْ عَلَيْهِ التَّصْحِيحُ، وَكُتِبَ حَرْفٌ نَاقِصٌ عَلَى حَرْفٍ نَاقِصٍ إِشْعَارًا بِنَقْصِهِ وَمَرَضِهِ مَعَ صِحَّةِ نَقْلِهِ، وَرِوَايَتِهِ، وَتَنْبِيهًا بِذَلِكَ لِمَنْ يَنْظُرُ فِي كِتَابِهِ عَلَى أَنَّهُ قَدْ وَقَفَ عَلَيْهِ وَنَقَلَهُ عَلَى مَا هُوَ عَلَيْهِ، وَلَعَلَّ غَيْرَهُ قَدْ يُخَرِّجُ لَهُ وَجْهًا صَحِيحًا، أَوْ يَظْهَرُ لَهُ بَعْدَ ذَلِكَ فِي صِحَّتِهِ مَا لَمْ يَظْهَرْ لَهُ الْآنَ. وَلَوْ غَيَّرَ ذَلِكَ وَأَصْلَحَهُ عَلَى مَا عِنْدَهُ لَكَانَ مُتَعَرِّضًا لِمَا وَقَعَ فِيهِ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنَ الْمُتَجَاسِرِينَ، الَّذِينَ غَيَّرُوا وَظَهَرَ الصَّوَابُ فِيمَا أَنْكَرُوهُ، وَالْفَسَادُ فِيمَا أَصْلَحُوهُ.
"Adapun tadbib, yang juga disebut tamridh: dibuat pada apa yang secara nukilan memang benar-benar demikian yang tersampaikan, hanya saja rusak lafal atau maknanya, atau lemah, atau kurang - misalnya: tidak sesuai kaidah bahasa Arab, atau syadz (menyimpang) menurut ahli bahasa hingga ditolak mayoritas mereka, atau mengalami tashif (perubahan bentuk tulisan), atau kurang satu kata atau lebih dari kalimatnya, dan yang semisal itu. Maka pada bagian yang demikian keadaannya, digoreskan sebuah garis yang awalnya berbentuk seperti huruf shad, dan tidak ditempelkan pada kata yang ditandai, agar tidak dikira sebagai coretan pembatalan (darb) - seakan-akan itu adalah huruf shad dari tashih namun hanya bagian lengkungnya saja tanpa 'ekor'nya. Ditulis demikian untuk membedakan antara apa yang benar secara mutlak baik dari sisi riwayat maupun lainnya, dengan apa yang benar hanya dari sisi riwayat namun tidak dari sisi lainnya - sehingga tashih tidak disempurnakan padanya, dan ditulislah huruf yang kurang di atas kata yang kurang, sebagai isyarat akan kekurangan dan 'sakit'nya, meski tetap shahih penukilan dan periwayatannya. Ini juga menjadi peringatan bagi siapa saja yang melihat kitabnya, bahwa ia telah menemukan dan menukilnya sesuai apa adanya - barangkali orang lain kelak dapat menemukan bentuk yang benar untuknya, atau ia sendiri kelak menemukan kebenarannya yang belum tampak baginya sekarang. Seandainya ia mengubah dan memperbaikinya sendiri sesuai pendapatnya, ia akan terjerumus pada apa yang dialami tidak sedikit orang yang gegabah, yang mengubah teks lalu ternyata kebenaran justru ada pada apa yang mereka ingkari, dan kerusakan justru ada pada apa yang mereka 'perbaiki'."
وَأَمَّا تَسْمِيَةُ ذَلِكَ ضَبَّةً: فَقَدْ بَلَغَنَا عَنْ أَبِي الْقَاسِمِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ اللُّغَوِيِّ الْمَعْرُوفِ بِابْنِ الْإِفْلِيلِيِّ: أَنَّ ذَلِكَ لِكَوْنِ الْحَرْفِ مُقْفَلًا بِهَا، لَا يَتَّجِهُ لِقِرَاءَةٍ كَمَا أَنَّ الضَّبَّةَ مُقْفَلٌ بِهَا، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun mengapa disebut dhabbah (kunci kecil): sampai kepada kami dari Abul Qasim Ibrahim bin Muhammad al-Lughawi, yang dikenal dengan Ibnul Iflili, bahwa itu karena huruf itu 'terkunci' dengannya, tidak dapat dibaca (secara jelas), sebagaimana dhabbah (kunci pintu kecil) memang berfungsi mengunci. Wallahu a'lam."
قُلْتُ: وَلِأَنَّهَا لَمَّا كَانَتْ عَلَى كَلَامٍ فِيهِ خَلَلٌ أَشْبَهَتِ الضَّبَّةَ الَّتِي تُجْعَلُ عَلَى كَسْرٍ، أَوْ خَلَلٍ، فَاسْتُعِيرَ لَهَا اسْمُهَا، وَمِثْلُ ذَلِكَ غَيْرُ مُسْتَنْكَرٍ فِي بَابِ الِاسْتِعَارَاتِ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: dan karena tanda ini diletakkan pada kalimat yang mengandung cacat, ia menyerupai dhabbah yang dipasang pada barang yang retak atau cacat, sehingga namanya dipinjam untuknya - dan hal semacam ini tidak dianggap aneh dalam bab peminjaman istilah (isti'arah)."
وَمِنْ مَوَاضِعِ التَّضْبِيبِ: أَنْ يَقَعَ فِي الْإِسْنَادِ إِرْسَالٌ، أَوِ انْقِطَاعٌ، فَمِنْ عَادَتِهِمْ تَضْبِيبُ مَوْضِعِ الْإِرْسَالِ، وَالِانْقِطَاعِ، وَذَلِكَ مِنْ قَبِيلِ مَا سَبَقَ ذِكْرُهُ مِنَ التَّضْبِيبِ عَلَى الْكَلَامِ النَّاقِصِ.
"Di antara tempat-tempat pemakaian tadbib: apabila terjadi irsal atau inqitha' dalam sanad, maka kebiasaan mereka adalah men-tadbib tempat irsal atau inqitha' itu - ini termasuk golongan tadbib pada kalimat yang kurang, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya."
وَيُوجَدُ فِي بَعْضِ أُصُولِ الْحَدِيثِ الْقَدِيمَةِ فِي الْإِسْنَادِ الَّذِي يَجْتَمِعُ فِيهِ جَمَاعَةٌ مَعْطُوفَةٌ أَسْمَاؤُهُمْ بَعْضُهَا عَلَى بَعْضٍ عَلَامَةٌ تُشْبِهُ الضَّبَّةَ فِيمَا بَيْنَ أَسْمَائِهِمْ، فَيَتَوَهَّمُ مَنْ لَا خِبْرَةَ لَهُ أَنَّهَا ضَبَّةٌ وَلَيْسَتْ بِضَبَّةٍ، وَكَأَنَّهَا عَلَامَةُ وَصْلٍ فِيمَا بَيْنَهَا، أُثْبِتَتْ تَأْكِيدًا لِلْعَطْفِ، خَوْفًا مِنْ أَنْ تُجْعَلَ "عَنْ" مَكَانَ الْوَاوِ، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.
"Ditemukan pula dalam sebagian naskah asli hadits kuno, pada sanad yang di dalamnya berkumpul sejumlah nama yang digandengkan satu sama lain, sebuah tanda yang menyerupai dhabbah di antara nama-nama mereka - orang yang tidak berpengalaman menyangkanya sebagai dhabbah, padahal bukan. Sebenarnya itu adalah tanda penyambung di antara nama-nama itu, ditetapkan untuk menegaskan hubungan penggandengan (athf), karena khawatir kata 'an (dari) diletakkan menggantikan huruf wau (dan). Wallahu a'lam."
ثُمَّ إِنَّ بَعْضَهُمْ رُبَّمَا اخْتَصَرَ عَلَامَةَ التَّصْحِيحِ فَجَاءَتْ صُورَتُهَا تُشْبِهُ صُورَةَ التَّضْبِيبِ، وَالْفِطْنَةُ مِنْ خَيْرِ مَا أُوتِيَهُ الْإِنْسَانُ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sebagian ulama terkadang meringkas tanda tashih sehingga bentuknya menyerupai bentuk tanda tadbib - kecerdasan dan kejelian adalah sebaik-baik yang dianugerahkan kepada manusia. Wallahu a'lam."

Perkara ketiga belas:
إِذَا وَقَعَ فِي الْكِتَابِ مَا لَيْسَ مِنْهُ فَإِنَّهُ يُنْفَى عَنْهُ بِالضَّرْبِ، أَوِ الْحَكِّ، أَوِ الْمَحْوِ، أَوْ غَيْرِ ذَلِكَ. وَالضَّرْبُ خَيْرٌ مِنَ الْحَكِّ وَالْمَحْوِ. رُوِّينَا عَنِ الْقَاضِي أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ خَلَّادٍ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ: قَالَ أَصْحَابُنَا "الْحَكُّ تُهْمَةٌ".
"Apabila terdapat dalam kitab sesuatu yang bukan bagian darinya, maka itu dihilangkan dengan darb (mencoret dengan garis), hakk (mengikis), mahw (menghapus), atau cara lain. Darb lebih baik daripada hakk dan mahw. Kami meriwayatkan dari Al-Qadhi Abu Muhammad Ibnu Khallad rahimahullah, ia berkata: sahabat-sahabat kami berkata: 'mengikis (al-hakk) menimbulkan kecurigaan.'"

وَأَخْبَرَنِي مَنْ أَخْبَرَ عَنِ الْقَاضِي عِيَاضٍ قَالَ: سَمِعْتُ شَيْخَنَا أَبَا بَحْرٍ سُفْيَانَ بْنَ الْعَاصِ الْأَسَدِيَّ يَحْكِي عَنْ بَعْضِ شُيُوخِهِ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: "كَانَ الشُّيُوخُ يَكْرَهُونَ حُضُورَ السِّكِّينِ مَجْلِسَ السَّمَاعِ حَتَّى لَا يُبْشَرَ شَيْءٌ؛ لِأَنَّ مَا يُبْشَرُ مِنْهُ رُبَّمَا يَصِحُّ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى، وَقَدْ يَسْمَعُ الْكِتَابَ مَرَّةً أُخْرَى عَلَى شَيْخٍ آخَرَ يَكُونُ مَا بُشِرَ وَحُكَّ مِنْ رِوَايَةِ هَذَا صَحِيحًا فِي رِوَايَةِ الْآخَرِ، فَيَحْتَاجُ إِلَى إِلْحَاقِهِ بَعْدَ أَنْ بُشِرَ، وَهُوَ إِذَا خُطَّ عَلَيْهِ مِنْ رِوَايَةِ الْأَوَّلِ وَصَحَّ عِنْدَ الْآخَرِ اكْتُفِيَ بِعَلَامَةِ الْآخَرِ عَلَيْهِ بِصِحَّتِهِ".
"Aku diberitahu oleh orang yang mengabarkan dari Al-Qadhi Iyadh, ia berkata: aku mendengar guru kami, Abu Bahr Sufyan bin al-Ash al-Asadi, mengisahkan dari sebagian gurunya bahwa ia biasa berkata: 'para syaikh dahulu membenci kehadiran pisau di majelis sama', agar tidak ada apa pun yang dikerok. Karena apa yang dikerok itu terkadang tetap shahih dalam riwayat lain - kadang sebuah kitab didengar sekali lagi pada guru lain, dan apa yang telah dikerok dan dihilangkan dari riwayat yang pertama itu ternyata shahih pada riwayat yang kedua, sehingga perlu disambungkan lagi setelah terlanjur dikerok. Jika bagian itu hanya digaris (di-darb) dari riwayat yang pertama, dan ternyata shahih menurut guru yang kedua, cukup diberi tanda dari guru yang kedua atas keshahihannya.'"
ثُمَّ إِنَّهُمُ اخْتَلَفُوا فِي كَيْفِيَّةِ الضَّرْبِ: فَرُوِّينَا عَنْ أَبِي مُحَمَّدِ بْنِ خَلَّادٍ قَالَ: "أَجْوَدُ الضَّرْبِ أَنْ لَا يَطْمِسَ الْمَضْرُوبَ عَلَيْهِ، بَلْ يَخُطَّ مِنْ فَوْقِهِ خَطًّا جَيِّدًا بَيِّنًا يَدُلُّ عَلَى إِبْطَالِهِ، وَيَقْرَأَ مِنْ تَحْتِهِ مَا خُطَّ عَلَيْهِ".
"Para ulama berselisih pendapat mengenai cara melakukan darb. Kami meriwayatkan dari Abu Muhammad Ibnu Khallad, ia berkata: 'sebaik-baik darb adalah tidak sampai melenyapkan bagian yang dicoret, melainkan digoreskan di atasnya garis yang baik dan jelas yang menunjukkan pembatalannya, namun apa yang tergores itu tetap dapat dibaca di bawahnya.'"
وَرُوِّينَا عَنِ الْقَاضِي عِيَاضٍ مَا مَعْنَاهُ: أَنَّ اخْتِيَارَاتِ الضَّابِطِينَ اخْتَلَفَتْ فِي الضَّرْبِ، فَأَكْثَرُهُمْ عَلَى مَدِّ الْخَطِّ عَلَى الْمَضْرُوبِ عَلَيْهِ مُخْتَلِطًا بِالْكَلِمَاتِ الْمَضْرُوبِ عَلَيْهَا، وَيُسَمَّى ذَلِكَ (الشَّقَّ) أَيْضًا.
"Kami meriwayatkan dari Al-Qadhi Iyadh, maknanya: pilihan-pilihan para ahli dhabt berbeda-beda dalam cara darb. Mayoritas mereka memanjangkan garis di atas bagian yang dicoret hingga bercampur dengan huruf-huruf kata yang dicoret - ini juga disebut asy-syaqq (belahan)."
وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يَخْلِطُهُ، وَيُثْبِتُهُ فَوْقَهُ، لَكِنَّهُ يَعْطِفُ طَرَفَيِ الْخَطِّ عَلَى أَوَّلِ الْمَضْرُوبِ عَلَيْهِ وَآخِرِهِ. وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَقْبِحُ هَذَا، وَيَرَاهُ تَسْوِيدًا، وَتَطْلِيسًا، بَلْ يُحَوِّقُ عَلَى أَوَّلِ الْكَلَامِ الْمَضْرُوبِ عَلَيْهِ بِنِصْفِ دَائِرَةٍ، وَكَذَلِكَ فِي آخِرِهِ، وَإِذَا كَثُرَ الْكَلَامُ الْمَضْرُوبُ عَلَيْهِ فَقَدْ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَوَّلِ كُلِّ سَطْرٍ مِنْهُ وَآخِرِهِ، وَقَدْ يَكْتَفِي بِالتَّحْوِيقِ عَلَى أَوَّلِ الْكَلَامِ وَآخِرِهِ أَجْمَعَ.
"Sebagian lain tidak mencampurnya, hanya menetapkannya di atas huruf, namun membelokkan kedua ujung garis itu ke awal dan akhir bagian yang dicoret. Sebagian lain memandang cara ini buruk, dianggap mengotori dan menyamarkan tulisan, sehingga mereka melingkari awal kalimat yang dicoret dengan setengah lingkaran, begitu pula di akhirnya. Apabila kalimat yang dicoret cukup panjang, terkadang mereka melakukannya di awal dan akhir setiap barisnya, atau terkadang cukup dengan melingkari awal dan akhir keseluruhan kalimat saja."
وَمِنَ الْأَشْيَاخِ مَنْ يَسْتَقْبِحُ الضَّرْبَ، وَالتَّحْوِيقَ، وَيَكْتَفِي بِدَائِرَةٍ صَغِيرَةٍ أَوَّلَ الزِّيَادَةِ وَآخِرَهَا، وَيُسَمِّيهَا صِفْرًا كَمَا يُسَمِّيهَا أَهْلُ الْحِسَابِ. وَرُبَّمَا كَتَبَ بَعْضُهُمْ عَلَيْهِ (لَا) فِي أَوَّلِهِ، وَ (إِلَى) فِي آخِرِهِ، وَمِثْلُ هَذَا يَحْسُنُ فِيمَا صَحَّ فِي رِوَايَةٍ، وَسَقَطَ فِي رِوَايَةٍ أُخْرَى، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Sebagian syaikh memandang buruk baik darb maupun taḥwiq (melingkari), dan cukup dengan lingkaran kecil di awal dan akhir tambahan itu, menyebutnya sifr (nol) sebagaimana ahli hisab menyebutnya. Terkadang sebagian ulama menuliskan (la - tidak) di awalnya, dan (ila - hingga) di akhirnya - cara ini baik digunakan untuk bagian yang shahih dalam satu riwayat namun terlewat dalam riwayat lain. Wallahu a'lam."
وَأَمَّا الضَّرْبُ عَلَى الْحَرْفِ الْمُكَرَّرِ: فَقَدْ تَقَدَّمَ بِالْكَلَامِ فِيهِ الْقَاضِي أَبُو مُحَمَّدِ بْنِ خَلَّادٍ الرَّامَهُرْمُزِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ عَلَى تَقَدُّمِهِ، فَرُوِّينَا عَنْهُ قَالَ: قَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا: "أَوْلَاهُمَا بِأَنْ يُبْطَلَ الثَّانِي، لِأَنَّ الْأَوَّلَ كُتِبَ عَلَى صَوَابٍ، وَالثَّانِي كُتِبَ عَلَى الْخَطَأِ، فَالْخَطَأُ أَوْلَى بِالْإِبْطَالِ"، وَقَالَ آخَرُونَ: "إِنَّمَا الْكِتَابُ عَلَامَةٌ لِمَا يُقْرَأُ، فَأَوْلَى الْحَرْفَيْنِ بِالْإِبْقَاءِ أَدَلُّهُمَا عَلَيْهِ، وَأَجْوَدُهُمَا صُورَةً".
"Adapun darb pada huruf yang berulang, Al-Qadhi Abu Muhammad Ibnu Khallad ar-Ramahurmuzi rahimahullah, sekalipun ia sendiri termasuk ulama terdahulu, sudah membahasnya lebih dulu. Kami meriwayatkan darinya, ia berkata: sebagian sahabat kami berkata: 'yang lebih layak dibatalkan adalah yang kedua, karena yang pertama ditulis dengan benar, sedangkan yang kedua ditulis karena kesalahan, maka kesalahan lebih layak dibatalkan.' Ulama lain berkata: 'sesungguhnya tulisan hanyalah tanda bagi apa yang dibaca, maka yang lebih layak dipertahankan dari kedua huruf itu adalah yang lebih jelas menunjukkan bacaannya dan lebih baik bentuknya.'"
وَجَاءَ الْقَاضِي عِيَاضٌ آخِرًا فَفَصَّلَ تَفْصِيلًا حَسَنًا، فَرَأَى أَنَّ تَكَرُّرَ الْحَرْفِ إِنْ كَانَ فِي أَوَّلِ سَطْرٍ فَلْيَضْرِبْ عَلَى الثَّانِي؛ صِيَانَةً لِأَوَّلِ السَّطْرِ عَنِ التَّسْوِيدِ، وَالتَّشْوِيهِ، وَإِنْ كَانَ فِي آخِرِ سَطْرٍ فَلْيَضْرِبْ عَلَى أَوَّلِهِمَا صِيَانَةً لِآخِرِ السَّطْرِ، فَإِنَّ سَلَامَةَ أَوَائِلِ السُّطُورِ، وَأَوَاخِرِهَا عَنْ ذَلِكَ أَوْلَى، فَإِنِ اتَّفَقَ أَحَدُهُمَا فِي آخِرِ سَطْرٍ، وَالْآخَرُ فِي أَوَّلِ سَطْرٍ آخَرَ فَلْيَضْرِبْ عَلَى الَّذِي فِي آخِرِ السَّطْرِ، فَإِنَّ أَوَّلَ السَّطْرِ أَوْلَى بِالْمُرَاعَاةِ، فَإِنْ كَانَ التَّكَرُّرُ فِي الْمُضَافِ، أَوِ الْمُضَافِ إِلَيْهِ، أَوْ فِي الصِّفَةِ، أَوْ فِي الْمَوْصُوفِ، أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ لَمْ نُرَاعِ حِينَئِذٍ أَوَّلَ السَّطْرِ، وَآخِرَهُ، بَلْ نُرَاعِي الِاتِّصَالَ بَيْنَ الْمُضَافِ، وَالْمُضَافِ إِلَيْهِ، وَنَحْوَهُمَا فِي الْخَطِّ، فَلَا نَفْصِلُ بِالضَّرْبِ بَيْنَهُمَا، وَنَضْرِبُ عَلَى الْحَرْفِ الْمُتَطَرِّفِ مِنَ الْمُتَكَرِّرِ دُونَ الْمَتَوَسِّطِ.
"Al-Qadhi Iyadh belakangan membuat perincian yang baik: ia berpandangan bahwa jika pengulangan huruf terjadi di awal baris, hendaklah dicoret yang kedua, demi menjaga awal baris dari kekotoran dan kerusakan tampilan. Jika terjadi di akhir baris, hendaklah dicoret yang pertama, demi menjaga akhir baris - karena kebersihan awal dan akhir baris dari coretan itu lebih diutamakan. Jika kebetulan yang satu berada di akhir baris dan yang lain di awal baris berikutnya, hendaklah dicoret yang berada di akhir baris, karena awal baris lebih diutamakan untuk dijaga. Namun jika pengulangan itu terjadi pada kata yang di-idhafahkan (mudhaf) dan yang menjadi sandarannya (mudhaf ilaih), atau pada sifat dan yang disifati, atau semisalnya, kami tidak lagi memperhatikan awal-akhir baris, melainkan memperhatikan kesambungan antara mudhaf dan mudhaf ilaih serta semisalnya dalam tulisan - kami tidak memisahkan keduanya dengan coretan, dan kami coret huruf yang paling ujung dari yang berulang, bukan yang di tengah."
وَأَمَّا الْمَحْوُ: فَيُقَابِلُ الْكَشْطَ فِي حُكْمِهِ الَّذِي تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ، وَتَتَنَوَّعُ طُرُقُهُ، وَمِنْ أَغْرَبِهَا - مَعَ أَنَّهُ أَسْلَمَهَا - مَا رُوِيَ عَنْ سَحْنُونِ بْنِ سَعِيدٍ التَّنُوخِيِّ الْإِمَامِ الْمَالِكِيِّ: أَنَّهُ كَانَ رُبَّمَا كَتَبَ الشَّيْءَ ثُمَّ لَعِقَهُ، وَإِلَى هَذَا يُومِي مَا رُوِّينَا عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: "مِنَ الْمُرُوءَةِ أَنْ يُرَى فِي ثَوْبِ الرَّجُلِ وَشَفَتَيْهِ مِدَادٌ"، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Adapun mahw (menghapus): hukumnya setara dengan kasyth (mengikis) yang telah disebutkan sebelumnya. Cara-caranya beragam, dan yang paling unik -meskipun paling aman- adalah yang diriwayatkan dari Sahnun bin Sa'id at-Tanukhi, Imam Malikiyyah, bahwa ia terkadang menuliskan sesuatu lalu menjilatnya untuk menghapusnya. Ke arah inilah mengisyaratkan riwayat yang kami sampaikan dari Ibrahim an-Nakha'i radhiyallahu 'anhu, bahwa ia biasa berkata: 'termasuk muru'ah (harga diri) adalah terlihat tinta di baju dan bibir seseorang.' Wallahu a'lam."

Perkara keempat belas:
لِيَكُنْ فِيمَا تَخْتَلِفُ فِيهِ الرِّوَايَاتُ قَائِمًا بِضَبْطِ مَا تَخْتَلِفُ فِيهِ فِي كِتَابِهِ، جَيِّدَ التَّمْيِيزِ بَيْنَهَا، كَيْلَا تَخْتَلِطَ وَتَشْتَبِهَ فَيَفْسُدَ عَلَيْهِ أَمْرُهَا، وَسَبِيلُهُ: أَنْ يَجْعَلَ أَوَّلًا مَتْنَ كِتَابِهِ عَلَى رِوَايَةٍ خَاصَّةٍ، ثُمَّ مَا كَانَتْ مِنْ زِيَادَةٍ لِرِوَايَةٍ أُخْرَى أَلْحَقَهَا، أَوْ مِنْ نَقْصٍ أَعْلَمَ عَلَيْهِ، أَوْ مِنْ خِلَافٍ كَتَبَهُ إِمَّا فِي الْحَاشِيَةِ، وَإِمَّا فِي غَيْرِهَا، مُعَيِّنًا فِي كُلِّ ذَلِكَ مَنْ رَوَاهُ، ذَاكِرًا اسْمَهُ بِتَمَامِهِ، فَإِنْ رَمَزَ إِلَيْهِ بِحَرْفٍ، أَوْ أَكْثَرَ فَعَلَيْهِ مَا قَدَّمْنَا ذِكْرُهُ مِنْ أَنَّهُ يُبَيِّنُ الْمُرَادَ بِذَلِكَ فِي أَوَّلِ كِتَابِهِ أَوْ آخِرِهِ، كَيْلَا يَطُولَ عَهْدُهُ بِهِ فَيَنْسَى، أَوْ يَقَعَ كِتَابُهُ إِلَى غَيْرِهِ فَيَقَعُ مِنْ رُمُوزِهِ فِي حَيْرَةٍ وَعَمًى.
"Pada bagian yang diperselisihkan riwayat-riwayatnya, hendaklah seseorang tekun men-dhabt perbedaan itu dalam kitabnya, dengan pembedaan yang baik di antara riwayat-riwayat itu, agar tidak tercampur dan rancu sehingga rusak urusannya. Caranya: pertama-tama ia menjadikan badan teks kitabnya mengikuti satu riwayat tertentu, lalu tambahan dari riwayat lain ia sambungkan (lahaq), atau kekurangan ia beri tanda, atau perbedaan ia tuliskan baik di catatan pinggir maupun di tempat lain - dengan menentukan pada setiap itu siapa yang meriwayatkannya, menyebutkan namanya secara lengkap. Jika ia menyingkatnya dengan satu huruf atau lebih, wajib baginya, sebagaimana telah kami sebutkan, menjelaskan maksud singkatan itu di awal atau akhir kitabnya, agar tidak terlupakan seiring berlalunya waktu, atau agar jika kitabnya berpindah ke tangan orang lain, orang itu tidak kebingungan dan buta terhadap singkatan-singkatannya."

وَقَدْ يُدْفَعُ إِلَى الِاقْتِصَارِ عَلَى الرُّمُوزِ عِنْدَ كَثْرَةِ الرِّوَايَاتِ الْمُخْتَلِفَةِ. وَاكْتَفَى بَعْضُهُمْ فِي التَّمْيِيزِ بِأَنْ خَصَّ الرِّوَايَةَ الْمُلْحَقَةَ بِالْحُمْرَةِ، فَعَلَ ذَلِكَ أَبُو ذَرٍّ الْهَرَوِيُّ مِنَ الْمَشَارِقَةِ، وَأَبُو الْحَسَنِ الْقَابِسِيُّ مِنَ الْمَغَارِبَةِ، مَعَ كَثِيرٍ مِنَ الْمَشَايِخِ، وَأَهْلِ التَّقْيِيدِ.
"Terkadang seseorang terpaksa membatasi diri pada penggunaan singkatan-singkatan saja karena banyaknya riwayat yang berbeda. Sebagian ulama cukup membedakannya dengan mengkhususkan riwayat tambahan itu dengan tinta merah - hal ini dilakukan oleh Abu Dzarr al-Harawi dari kalangan Masyriq, dan Abul Hasan al-Qabisi dari kalangan Maghrib, bersama banyak syaikh dan ahli pencatatan lainnya."
فَإِذَا كَانَ فِي الرِّوَايَةِ الْمُلْحَقَةِ زِيَادَةٌ عَلَى الَّتِي فِي مَتْنِ الْكِتَابِ كَتَبَهَا بِالْحُمْرَةِ، وَإِنْ كَانَ فِيهَا نَقْصٌ وَالزِّيَادَةُ فِي الرِّوَايَةِ الَّتِي فِي مَتْنِ الْكِتَابِ حَوَّقَ عَلَيْهَا بِالْحُمْرَةِ، ثُمَّ عَلَى فَاعِلِ ذَلِكَ تَبْيِينُ مَنْ لَهُ الرِّوَايَةُ الْمُعْلَمَةُ بِالْحُمْرَةِ فِي أَوَّلِ الْكِتَابِ، أَوْ آخِرِهِ عَلَى مَا سَبَقَ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Apabila riwayat tambahan itu berisi tambahan atas apa yang ada di badan teks, ia menuliskannya dengan tinta merah. Jika sebaliknya, riwayat di badan teks itulah yang berisi tambahan sementara riwayat tambahan itu kekurangan, ia melingkari bagian tambahan itu di badan teks dengan tinta merah. Wajib pula bagi pelaku hal ini menjelaskan siapa yang memiliki riwayat yang ditandai dengan tinta merah itu, di awal atau akhir kitab, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Wallahu a'lam."

Perkara kelima belas:
غَلَبَ عَلَى كَتَبَةِ الْحَدِيثِ الِاقْتِصَارُ عَلَى الرَّمْزِ فِي قَوْلِهِمْ (حَدَّثَنَا)، وَ (أَخْبَرَنَا) غَيْرَ أَنَّهُ شَاعَ ذَلِكَ وَظَهَرَ حَتَّى لَا يَكَادُ يَلْتَبِسُ. أَمَّا (حَدَّثَنَا) فَيُكْتَبُ مِنْهَا شَطْرُهَا الْأَخِيرُ، وَهُوَ الثَّاءُ وَالنُّونُ وَالْأَلِفُ. وَرُبَّمَا اقْتُصِرَ عَلَى الضَّمِيرِ مِنْهَا وَهُوَ النُّونُ وَالْأَلِفُ. وَأَمَّا (أَخْبَرَنَا) فَيُكْتَبُ مِنْهَا الضَّمِيرُ الْمَذْكُورُ مَعَ الْأَلِفِ أَوَّلًا.
"Kebanyakan penulis hadits menyingkat ucapan (haddatsana) dan (akhbarana), namun singkatan itu sudah begitu masyhur dan dikenal luas sehingga hampir tidak menimbulkan kerancuan. Untuk (haddatsana), yang ditulis adalah bagian akhirnya, yaitu huruf tsa, nun, dan alif. Terkadang cukup ditulis kata gantinya (dhamir) saja, yaitu nun dan alif. Untuk (akhbarana), yang ditulis adalah kata ganti tersebut dengan tambahan alif di depannya."

وَلَيْسَ بِحَسَنٍ مَا يَفْعَلُهُ طَائِفَةٌ مِنْ كِتَابَةِ (أَخْبَرَنَا) بِأَلِفٍ مَعَ عَلَامَةِ حَدَّثَنَا الْمَذْكُورَةِ أَوَّلًا، وَإِنْ كَانَ الْحَافِظُ الْبَيْهَقِيُّ مِمَّنْ فَعَلَهُ. وَقَدْ يُكْتَبُ فِي عَلَامَةِ (أَخْبَرَنَا) رَاءٌ بَعْدَ الْأَلِفِ، وَفِي عَلَامَةِ (حَدَّثَنَا) دَالٌ فِي أَوَّلِهَا. وَمِمَّنْ رَأَيْتُ فِي خَطِّهِ الدَّالَ فِي عَلَامَةِ (حَدَّثَنَا) الْحَافِظُ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَاكِمُ، وَأَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ، وَالْحَافِظُ أَحْمَدُ الْبَيْهَقِيُّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ. وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Tidak baik apa yang dilakukan sebagian orang, yaitu menulis (akhbarana) dengan alif ditambah tanda haddatsana yang telah disebutkan tadi - sekalipun al-Hafizh al-Baihaqi termasuk yang melakukannya. Terkadang pada tanda (akhbarana) ditulis huruf ra setelah alif, dan pada tanda (haddatsana) ditulis huruf dal di awalnya. Di antara ulama yang aku lihat dalam tulisan tangannya menggunakan huruf dal pada tanda (haddatsana) adalah al-Hafizh Abu Abdillah al-Hakim, Abu Abdirrahman as-Sulami, dan al-Hafizh Ahmad al-Baihaqi radhiyallahu 'anhum. Wallahu a'lam."
وَإِذَا كَانَ لِلْحَدِيثِ إِسْنَادَانِ أَوْ أَكْثَرُ فَإِنَّهُمْ يَكْتُبُونَ عِنْدَ الِانْتِقَالِ مِنْ إِسْنَادٍ إِلَى إِسْنَادٍ مَا صُورَتُهُ (ح)، وَهِيَ حَاءٌ مُفْرَدَةٌ مُهْمَلَةٌ.
"Apabila sebuah hadits memiliki dua sanad atau lebih, mereka menuliskan pada saat berpindah dari satu sanad ke sanad lain sebuah tanda berbentuk (ha), yaitu huruf ha tunggal tak bertitik."
وَلَمْ يَأْتِنَا عَنْ أَحَدٍ مِمَّنْ يُعْتَمَدُ بَيَانٌ لِأَمْرِهَا، غَيْرَ أَنِّي وَجَدْتُ بِخَطِّ الْأُسْتَاذِ الْحَافِظِ أَبِي عُثْمَانَ الصَّابُونِيِّ، وَالْحَافِظِ أَبِي مُسْلِمٍ عُمَرَ بْنِ عَلِيٍّ اللَّيْثِيِّ الْبُخَارِيِّ، وَالْفَقِيهِ الْمُحَدِّثِ أَبِي سَعِيدٍ الْخَلِيلِيِّ - رَحِمَهُمُ اللَّهُ تَعَالَى - فِي مَكَانِهَا بَدَلًا عَنْهَا (صَحَّ) صَرِيحَةً. وَهَذَا يُشْعِرُ بِكَوْنِهَا رَمْزًا إِلَى (صَحَّ). وَحَسُنَ إِثْبَاتُ (صَحَّ) هَاهُنَا، لِئَلَّا يُتَوَهَّمَ أَنَّ حَدِيثَ هَذَا الْإِسْنَادِ سَقَطَ، وَلِئَلَّا يُرَكَّبَ الْإِسْنَادُ الثَّانِي عَلَى الْإِسْنَادِ الْأَوَّلِ، فَيُجْعَلَا إِسْنَادًا وَاحِدًا.
"Tidak sampai kepada kami dari seorang pun yang dapat dijadikan sandaran, penjelasan tentang makna tanda ini. Hanya saja aku menemukan dalam tulisan tangan Ustadz al-Hafizh Abu Utsman ash-Shabuni, al-Hafizh Abu Muslim Umar bin Ali al-Laitsi al-Bukhari, dan al-Faqih al-Muhaddits Abu Sa'id al-Khalili -rahimahumullah Ta'ala- di tempat tanda itu justru ditulis (shah) secara jelas. Ini mengesankan bahwa tanda (ha) itu adalah singkatan dari (shah). Baik pula menuliskan (shah) di sini secara jelas, agar tidak disangka bahwa hadits sanad ini terlewat, dan agar sanad kedua tidak dianggap tersambung dengan sanad pertama sehingga keduanya dikira satu sanad saja."
وَحَكَى لِي بَعْضُ مَنْ جَمَعَتْنِي، وَإِيَّاهُ الرِّحْلَةُ بِخُرَاسَانَ، عَمَّنْ وَصَفَهُ بِالْفَضْلِ مِنَ الْإِصْبَهَانِيِّينَ أَنَّهَا حَاءٌ مُهْمَلَةٌ مِنَ التَّحْوِيلِ، أَيْ مِنْ إِسْنَادٍ إِلَى إِسْنَادٍ آخَرَ. وَذَاكَرْتُ فِيهَا بَعْضَ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَهْلِ الْمَغْرِبِ، وَحَكَيْتُ لَهُ عَنْ بَعْضِ مَنْ لَقِيتُ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ أَنَّهَا حَاءٌ مُهْمَلَةٌ إِشَارَةً إِلَى قَوْلِنَا (الْحَدِيثَ)، فَقَالَ لِي: أَهْلُ الْمَغْرِبِ - وَمَا عَرَفْتُ بَيْنَهُمُ اخْتِلَافًا - يَجْعَلُونَهَا حَاءً مُهْمَلَةً، وَيَقُولُ أَحَدُهُمْ إِذَا وَصَلَ إِلَيْهَا (الْحَدِيثَ).
"Sebagian orang yang menemaniku dalam rihlah ke Khurasan menceritakan kepadaku, dari seseorang yang ia sifati sebagai orang yang berilmu dari kalangan Ashbahan, bahwa tanda itu adalah huruf ha muhmalah dari kata at-tahwil, yakni perpindahan dari satu sanad ke sanad lain. Aku pernah membahas hal ini dengan sebagian ahli ilmu dari kalangan Maghrib, dan aku ceritakan kepadanya apa yang aku dengar dari sebagian ahli hadits yang kutemui, bahwa tanda itu adalah huruf ha muhmalah, isyarat kepada ucapan kita (al-hadits). Ia menjawabku: 'ahli Maghrib -aku tidak pernah mendapati perbedaan pendapat di antara mereka- menjadikannya huruf ha muhmalah, dan salah seorang dari mereka mengucapkan (al-hadits) ketika sampai ke tanda itu.'"
وَذَكَرَ لِي: أَنَّهُ سَمِعَ بَعْضَ الْبَغْدَادِيِّينَ يَذْكُرُ أَيْضًا أَنَّهَا حَاءٌ مُهْمَلَةٌ، وَأَنَّ مِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ إِذَا انْتَهَى إِلَيْهَا فِي الْقِرَاءَةِ (حا) وَيَمُرُّ.
"Ia juga menyebutkan kepadaku, bahwa ia mendengar sebagian ulama Baghdad juga menyebutkan bahwa itu adalah huruf ha muhmalah, dan sebagian mereka mengucapkan (ha) lalu terus melanjutkan bacaan, ketika sampai kepadanya."
وَسَأَلْتُ أَنَا الْحَافِظَ الرَّحَّالَ أَبَا مُحَمَّدٍ عَبْدَ الْقَادِرِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الرُّهَاوِيَّ - رَحِمَهُ اللَّهُ - عَنْهَا، فَذَكَرَ أَنَّهَا حَاءٌ مِنْ حَائِلٍ أَيْ تَحَوُّلٍ بَيْنَ الْإِسْنَادَيْنِ، قَالَ: وَلَا يُلْفَظُ بِشَيْءٍ عِنْدَ الِانْتِهَاءِ فِي الْقِرَاءَةِ، وَأَنْكَرَ كَوْنَهَا مِنْ (الْحَدِيثِ) وَغَيْرَ ذَلِكَ، وَلَمْ يَعْرِفْ غَيْرَ هَذَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ مَشَايِخِهِ، وَفِيهِمْ عَدَدٌ كَانُوا حُفَّاظَ الْحَدِيثِ فِي وَقْتِهِ.
"Aku sendiri bertanya kepada al-Hafizh ar-Rahhal Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abdillah ar-Ruhawi rahimahullah tentang tanda ini, ia menyebutkan bahwa itu adalah ha dari kata ha'il, yakni penghalang/perpindahan di antara dua sanad. Ia berkata: 'tidak diucapkan apa pun ketika sampai kepadanya dalam qira'ah.' Ia mengingkari bahwa tanda itu berasal dari kata (al-hadits) atau selainnya, dan ia tidak mengetahui pendapat lain dari seorang pun gurunya, padahal di antara mereka ada sejumlah huffazh hadits pada zamannya."
قَالَ الْمُؤَلِّفُ: وَأَخْتَارُ أَنَا - وَاللَّهُ الْمُوَفِّقُ - أَنْ يَقُولَ الْقَارِئُ عِنْدَ الِانْتِهَاءِ إِلَيْهَا: (حا) وَيَمُرُّ، فَإِنَّهُ أَحْوَطُ الْوُجُوهِ، وَأَعْدَلُهَا، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى.
"Sang penulis (Ibnu Shalah) berkata: aku sendiri memilih -dan Allah-lah pemberi taufik- agar si pembaca mengucapkan (ha) lalu terus melanjutkan bacaan, ketika sampai kepadanya. Ini adalah bentuk yang paling hati-hati dan paling pertengahan. Wallahu a'lam Ta'ala."3

Perkara keenam belas:
ذَكَرَ الْخَطِيبُ الْحَافِظُ أَنَّهُ يَنْبَغِي لِلطَّالِبِ أَنْ يَكْتُبَ بَعْدَ الْبَسْمَلَةِ اسْمَ الشَّيْخِ الَّذِي سَمِعَ الْكِتَابَ مِنْهُ، وَكُنْيَتَهُ وَنَسَبَهُ، ثُمَّ يَسُوقُ مَا سَمِعَهُ مِنْهُ عَلَى لَفْظِهِ، قَالَ: وَإِذَا كَتَبَ الْكِتَابَ الْمَسْمُوعَ فَيَنْبَغِي أَنْ يَكْتُبَ فَوْقَ سَطْرِ التَّسْمِيَةِ أَسْمَاءَ مَنْ سَمِعَ مَعَهُ، وَتَارِيخَ وَقْتِ السَّمَاعِ، وَإِنْ أَحَبَّ كَتَبَ ذَلِكَ فِي حَاشِيَةِ أَوَّلِ وَرَقَةٍ مِنَ الْكِتَابِ، فَكُلًّا قَدْ فَعَلَهُ شُيُوخُنَا.
"Al-Khathib al-Hafizh menyebutkan bahwa sepatutnya penuntut ilmu menulis setelah basmalah, nama sang guru yang darinya ia mendengar kitab itu, kunyah, dan nasabnya, kemudian membawakan apa yang ia dengar darinya sesuai lafalnya. Ia melanjutkan: apabila ia menulis kitab yang telah didengar, sepatutnya ia menulis di atas baris basmalah nama-nama orang yang mendengar bersamanya, serta tanggal waktu sama' itu - atau jika ia mau, ia menuliskannya di catatan pinggir halaman pertama kitab. Kedua cara ini sama-sama telah dilakukan guru-guru kami."

قُلْتُ: كِتْبَةُ التَّسْمِيعِ حَيْثُ ذَكَرَهُ أَحْوَطُ لَهُ، وَأَحْرَى بِأَنْ لَا يَخْفَى عَلَى مَنْ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ، وَلَا بَأْسَ بِكِتْبَتِهِ آخِرَ الْكِتَابِ، وَفِي ظَهْرِهِ، وَحَيْثُ لَا يَخْفَى مَوْضِعُهُ.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: menuliskan catatan sama' (tasmi') di tempat yang telah disebutkan itu lebih hati-hati baginya, dan lebih memastikan agar tidak tersembunyi dari orang yang membutuhkannya. Tidak mengapa pula menuliskannya di akhir kitab, di sampulnya, atau di mana pun selama letaknya tidak tersembunyi."
وَيَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ التَّسْمِيعُ بِخَطِّ شَخْصٍ مَوْثُوقٍ بِهِ غَيْرِ مَجْهُولِ الْخَطِّ، وَلَا ضَيْرَ حِينَئِذٍ فِي أَنْ لَا يَكْتُبَ الشَّيْخُ الْمُسْمِعُ خَطَّهُ بِالتَّصْحِيحِ، وَهَكَذَا لَا بَأْسَ عَلَى صَاحِبِ الْكِتَابِ إِذَا كَانَ مَوْثُوقًا بِهِ أَنْ يَقْتَصِرَ عَلَى إِثْبَاتِ سَمَاعِهِ بِخَطِّ نَفْسِهِ، فَطَالَمَا فَعَلَ الثِّقَاتُ ذَلِكَ.
"Sepatutnya catatan sama' itu ditulis dengan tulisan tangan orang yang terpercaya, bukan tulisan yang tidak dikenal. Tidak mengapa saat itu jika sang guru pemberi sama' tidak turut menuliskan tanda tashih-nya sendiri. Begitu pula tidak mengapa bagi pemilik kitab, jika ia terpercaya, untuk cukup membatasi diri menetapkan sama'-nya dengan tulisan tangannya sendiri - karena para ulama tsiqah sudah lama melakukan hal itu."
وَقَدْ حَدَّثَنِي بِمَرْوَ الشَّيْخُ أَبُو الْمُظَفَّرِ بْنُ الْحَافِظِ أَبِي سَعْدٍ الْمَرْوَزِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَمَّنْ حَدَّثَهُ مِنَ الْأَصْبَهَانِيَّةِ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَنْدَهْ، قَرَأَ بِبَغْدَادَ جُزْءًا عَلَى أَبِي أَحْمَدَ الْفَرَضِيِّ، وَسَأَلَهُ خَطَّهُ لِيَكُونَ حُجَّةً لَهُ. فَقَالَ لَهُ أَبُو أَحْمَدَ: "يَا بُنَيَّ، عَلَيْكَ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّكَ إِذَا عُرِفْتَ بِهِ لَا يُكَذِّبُكَ أَحَدٌ، وَتُصَدَّقُ فِيمَا تَقُولُ، وَتَنْقُلُ، وَإِذَا كَانَ غَيْرُ ذَلِكَ، فَلَوْ قِيلَ لَكَ: مَا هَذَا خَطُّ أَبِي أَحْمَدَ الْفَرَضِيِّ، مَاذَا تَقُولُ لَهُمْ؟".
"Syaikh Abul Muzhaffar bin al-Hafizh Abi Sa'd al-Marwazi menceritakan kepadaku di Marw, dari ayahnya, dari orang yang menceritakan kepadanya dari kalangan Ashbahan, bahwa Abdurrahman bin Abi Abdillah bin Mandah membaca sebuah juz di hadapan Abu Ahmad al-Faradhi di Baghdad, lalu meminta tulisan tangannya sebagai bukti baginya. Abu Ahmad berkata kepadanya: 'wahai anakku, berpeganglah pada kejujuran, karena apabila engkau dikenal dengannya, tidak seorang pun akan mendustakanmu, dan engkau akan dipercaya dalam apa yang engkau katakan dan nukilkan. Jika bukan demikian, seandainya dikatakan kepadamu: ini bukan tulisan tangan Abu Ahmad al-Faradhi, apa yang akan engkau katakan kepada mereka?'"
ثُمَّ إِنَّ عَلَى كَاتِبِ التَّسْمِيعِ التَّحَرِّيَ وَالِاحْتِيَاطَ، وَبَيَانَ السَّامِعِ، (وَالْمَسْمُوعِ) مِنْهُ بِلَفْظٍ غَيْرِ مُحْتَمَلٍ، وَمُجَانَبَةَ التَّسَاهُلِ فِيمَنْ يُثْبِتُ اسْمَهُ، وَالْحَذَرَ مِنْ إِسْقَاطِ اسْمِ أَحَدٍ مِنْهُمْ لِغَرَضٍ فَاسِدٍ. فَإِنْ كَانَ مُثْبِتُ السَّمَاعِ غَيْرَ حَاضِرٍ فِي جَمِيعِهِ، لَكِنْ أَثْبَتَهُ مُعْتَمِدًا عَلَى إِخْبَارِ مَنْ يَثِقُ بِخَبَرِهِ مِنْ حَاضِرِيهِ، فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى.
"Wajib bagi penulis catatan sama' bersikap sungguh-sungguh dan hati-hati, menjelaskan pihak yang mendengar dan yang didengar darinya dengan lafal yang tidak mengandung kemungkinan ganda, menjauhi sikap bermudah-mudahan dalam menetapkan nama seseorang, dan berhati-hati agar tidak menggugurkan nama salah seorang dari mereka karena maksud yang tidak baik. Jika penulis catatan sama' itu sendiri tidak hadir untuk seluruh sesi, namun ia menetapkannya berdasarkan pemberitahuan orang yang ia percaya kabarnya di antara yang hadir, tidak mengapa hal itu, insya Allah Ta'ala."
ثُمَّ إِنَّ مَنْ ثَبَتَ سَمَاعُهُ فِي كِتَابِهِ فَقَبِيحٌ بِهِ كِتْمَانُهُ إِيَّاهُ، وَمَنْعُهُ مِنْ نَقْلِ سَمَاعِهِ، وَمِنْ نَسْخِ الْكِتَابِ، وَإِذَا أَعَارَهُ إِيَّاهُ فَلَا يُبْطِئُ بِهِ، رُوِّينَا ... عَنِ الزُّهْرِيِّ أَنَّهُ قَالَ: "إِيَّاكَ وَغُلُولَ الْكُتُبِ"، قِيلَ لَهُ: "وَمَا غُلُولُ الْكُتُبِ؟" قَالَ: "حَبْسُهَا عَنْ أَصْحَابِهَا ...".
"Siapa yang tercatat sama'-nya dalam sebuah kitab, buruklah baginya jika ia menyembunyikannya dan mencegah orang lain menyalin catatan sama' itu atau menyalin kitabnya. Apabila ia meminjamkannya, hendaklah ia tidak menunda-nunda pengembaliannya. Kami meriwayatkan dari az-Zuhri, ia berkata: 'jauhilah ghulul (penggelapan) kitab.' Ditanyakan kepadanya: 'apa itu ghulul kitab?' Ia menjawab: 'menahannya dari pemiliknya yang berhak...'"
وَرُوِّينَا ... عَنِ الْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: "لَيْسَ مِنْ فِعَالِ أَهْلِ الْوَرَعِ، وَلَا مِنْ أَفْعَالِ الْحُكَمَاءِ أَنْ يَأْخُذَ سَمَاعَ رَجُلٍ فَيَحْبِسَهُ عَنْهُ، وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ ...". وَفِي رِوَايَةٍ: "وَلَا مِنْ فِعَالِ الْعُلَمَاءِ أَنْ يَأْخُذَ سَمَاعَ رَجُلِ وَكِتَابَهُ فَيَحْبِسَهُ عَلَيْهِ".
"Kami meriwayatkan dari al-Fudhail bin Iyadh radhiyallahu 'anhu, bahwa ia berkata: 'bukan termasuk perbuatan ahli wara', dan bukan pula perbuatan orang bijak, mengambil catatan sama' seseorang lalu menahannya darinya. Siapa yang melakukan itu, sungguh ia telah menzalimi dirinya sendiri...' Dalam riwayat lain: 'bukan pula termasuk perbuatan para ulama, mengambil catatan sama' dan kitab seseorang lalu menahannya darinya.'"
فَإِنْ مَنَعَهُ إِيَّاهُ فَقَدَ رُوِّينَا: أَنَّ رَجُلًا ادَّعَى عَلَى رَجُلٍ بِالْكُوفَةِ سَمَاعًا مَنَعَهُ إِيَّاهُ فَتَحَاكَمَا إِلَى قَاضِيهَا حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، فَقَالَ لِصَاحِبِ الْكِتَابِ: "أَخْرِجْ إِلَيْنَا كُتُبَكَ فَمَا كَانَ مِنْ سَمَاعِ هَذَا الرَّجُلِ بِخَطِّ يَدِكَ أَلْزَمْنَاكَ، وَمَا كَانَ بِخَطِّهِ أَعْفَيْنَاكَ مِنْهُ".
"Jika seseorang menahannya, kami meriwayatkan: bahwa seorang laki-laki di Kufah menuntut orang lain karena menahan catatan sama'-nya, lalu keduanya membawa perkara itu ke hadapan qadhi kota itu, Hafsh bin Ghiyats. Sang qadhi berkata kepada pemilik kitab: 'keluarkanlah kitab-kitabmu kepada kami. Bagian mana pun dari catatan sama' orang ini yang tertulis dengan tanganmu sendiri, kami wajibkan engkau menyerahkannya. Adapun yang tertulis dengan tangannya sendiri, kami bebaskan engkau darinya.'"
قَالَ ابْنُ خَلَّادٍ: "سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيَّ عَنْ هَذَا، فَقَالَ: لَا يَجِيءُ فِي هَذَا الْبَابِ حُكْمٌ أَحْسَنُ مِنْ هَذَا؛ لِأَنَّ خَطَّ صَاحِبِ الْكِتَابِ دَالٌّ عَلَى رِضَاهُ بِاسْتِمَاعِ صَاحِبِهِ مَعَهُ". قَالَ ابْنُ خَلَّادٍ: وَقَالَ غَيْرُهُ "لَيْسَ بِشَيْءٍ".
"Ibnu Khallad berkata: 'aku bertanya kepada Abu Abdillah az-Zubairi tentang hal ini, ia menjawab: tidak ada dalam bab ini keputusan yang lebih baik dari ini, karena tulisan tangan pemilik kitab menunjukkan kerelaannya atas ikut mendengarnya temannya bersamanya.' Ibnu Khallad berkata: 'ulama lain berpendapat: itu tidak berarti apa-apa (sebagai bukti).'"
وَرَوَى الْخَطِيبُ الْحَافِظُ أَبُو بَكْرٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِسْحَاقَ الْقَاضِي: أَنَّهُ تُحُوكِمَ إِلَيْهِ فِي ذَلِكَ، فَأَطْرَقَ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِلْمُدَّعَى عَلَيْهِ: "إِنْ كَانَ سَمَاعُهُ فِي كِتَابِكَ بِخَطِّكَ فَيَلْزَمُكَ أَنْ تُعِيرَهُ، وَإِنْ كَانَ سَمَاعُهُ فِي كِتَابِكَ بِخَطِّ غَيْرِكَ فَأَنْتَ أَعْلَمُ".
"Al-Khathib al-Hafizh Abu Bakr meriwayatkan dari Isma'il bin Ishaq al-Qadhi, bahwa suatu perkara serupa dibawa ke hadapannya, lalu ia terdiam cukup lama, kemudian berkata kepada pihak yang dituntut: 'jika catatan sama'-nya di kitabmu itu tertulis dengan tanganmu sendiri, engkau wajib meminjamkannya. Namun jika catatan sama'-nya di kitabmu itu tertulis dengan tangan orang lain, engkau lebih tahu (tentang kewajibanmu).'"
قُلْتُ: حَفْصُ بْنُ غِيَاثٍ مَعْدُودٌ فِي الطَّبَقَةِ الْأُولَى مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَنِيفَةَ، وَأَبُو عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ مِنْ أَئِمَّةِ أَصْحَابِ الشَّافِعِيِّ، وَإِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ لِسَانُ أَصْحَابِ مَالِكٍ، وَإِمَامُهُمْ، وَقَدْ تَعَاضَدَتْ أَقْوَالُهُمْ فِي ذَلِكَ، وَيَرْجِعُ حَاصِلُهَا إلى أَنَّ سَمَاعَ غَيْرِهِ إِذَا ثَبَتَ فِي كِتَابِهِ بِرِضَاهُ فَيَلْزَمُهُ إِعَارَتُهُ إِيَّاهُ. وَقَدْ كَانَ لَا يَبِينُ لِي وَجْهُهُ، ثُمَّ وَجَّهْتُهُ بِأَنَّ ذَلِكَ بِمَنْزِلَةِ شَهَادَةٍ لَهُ عِنْدَهُ، فَعَلَيْهِ أَدَاؤُهَا بِمَا حَوَتْهُ، وَإِنْ كَانَ فِيهِ بَذْلُ مَالِهِ، كَمَا يَلْزَمُ مُتَحَمِّلَ الشَّهَادَةِ أَدَاؤُهَا، وَإِنْ كَانَ فِيهِ بَذْلُ نَفْسِهِ بِالسَّعْيِ إِلَى مَجْلِسِ الْحُكْمِ لِأَدَائِهَا، وَالْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى.
"Aku (Ibnu Shalah) berkata: Hafsh bin Ghiyats termasuk dalam thabaqat pertama dari pengikut Abu Hanifah; Abu Abdillah az-Zubairi termasuk imam pengikut asy-Syafi'i; dan Isma'il bin Ishaq adalah juru bicara sekaligus imam pengikut Malik. Pendapat-pendapat mereka saling menguatkan dalam masalah ini, dan intinya kembali pada bahwa apabila catatan sama' orang lain telah tercatat dalam kitabnya dengan kerelaannya, ia wajib meminjamkannya. Dahulu alasannya tidak begitu jelas bagiku, kemudian aku memahaminya bahwa hal itu berkedudukan seperti persaksian baginya, sehingga wajib baginya menunaikannya dengan apa yang terkandung di dalamnya, sekalipun itu berarti mengeluarkan hartanya - sebagaimana orang yang menanggung persaksian wajib menunaikannya, sekalipun itu berarti mengorbankan dirinya dengan bersusah payah datang ke majelis hukum untuk menunaikannya. Wallahu a'lam Tabaraka wa Ta'ala."
ثُمَّ إِذَا نَسَخَ الْكِتَابَ فَلَا يَنْقُلُ سَمَاعَهُ إِلَى نُسْخَتِهِ إِلَّا بَعْدَ الْمُقَابَلَةِ الْمَرْضِيَّةِ. وَهَكَذَا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَنْقُلَ سَمَاعًا إِلَى شَيْءٍ مِنَ النُّسَخِ، أَوْ يُثْبِتَهُ فِيهَا عِنْدَ السَّمَاعِ ابْتِدَاءً، إِلَّا بَعْدَ الْمُقَابَلَةِ الْمَرْضِيَّةِ بِالْمَسْمُوعِ، كَيْلَا يَغْتَرَّ أَحَدٌ بِتِلْكَ النُّسْخَةِ غَيْرِ الْمُقَابَلَةِ، إِلَّا أَنْ يُبَيِّنَ مَعَ النَّقْلِ، وَعِنْدَهُ كَوْنَ النُّسْخَةِ غَيْرَ مُقَابَلَةٍ، وَاللَّهُ أَعْلَمُ.
"Apabila seseorang menyalin sebuah kitab, ia tidak boleh memindahkan catatan sama'-nya ke naskah salinannya kecuali setelah mu'aradhah (pencocokan) yang memuaskan. Begitu pula tidak sepatutnya seseorang memindahkan catatan sama' ke naskah salinan mana pun, atau menetapkannya sejak awal saat sama' berlangsung, kecuali setelah mu'aradhah yang memuaskan dengan naskah yang didengar - agar tidak ada orang yang tertipu oleh naskah yang belum dicocokkan itu, kecuali jika ia menjelaskan bersamaan dengan pemindahan itu, dan diketahui olehnya, bahwa naskah itu memang belum dicocokkan. Wallahu a'lam."4

Catatan & Referensi

  1. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 181-183.

  2. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 183-190.

  3. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 191-204.

  4. Dikutip dari Muqaddimah Ibnu Shalah (Nuruddin 'Itr, tahqiq), Syamela.ws, kitab no. 22870, hlm. 205-207.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email