Riwayatush Shahabati Ba'duhum 'an Ba'd: Ketika Sesama Sahabat dan Sesama Tabi'in Saling Meriwayatkan

Pola umum dalam sanad hadits sudah dikenal luas: tabi'in meriwayatkan dari sahabat, dan atba'ut-tabi'in meriwayatkan dari tabi'in. Tapi pola umum bukan berarti satu-satunya pola. As-Suyuthi menutup rangkaian nau' tambahannya dalam Tadrib ar-Rawi dengan nau' ke-76 dan ke-77 sekaligus: riwayatush shahabati ba'duhum 'an ba'd (sesama sahabat saling meriwayatkan) dan riwayatut-tabi'in ba'duhum 'an ba'd (sesama tabi'in saling meriwayatkan) - dua pola yang menyimpang dari kebiasaan umum tadi, dan justru karena menyimpang, perlu dikenali secara khusus.1

Kenapa Penyimpangan dari Pola Umum Perlu Diperhatikan

As-Suyuthi menukil kedua nau' ini dari Al-Bulqini dalam kitabnya, Mahasinul Ishthilah. Al-Bulqini menilai keduanya penting untuk dicatat karena alasan yang sederhana: mayoritas periwayatan tabi'in memang datang dari sahabat, dan mayoritas periwayatan atba'ut-tabi'in memang datang dari tabi'in - itu pola yang biasa terjadi dan diharapkan pembaca sanad. Karena itu, setiap kali polanya menyimpang - seorang sahabat ternyata meriwayatkan dari sahabat lain, atau seorang tabi'i ternyata meriwayatkan dari tabi'i lain, bukan dari sahabat - penyimpangan itu perlu ditandai secara khusus, supaya pembaca sanad tidak keliru menyangka rawi di atasnya otomatis satu tingkat generasi lebih tua.2

Beririsan dengan Nau' Al-Mudabbaj

As-Suyuthi sendiri menambahkan catatan penting: pola riwayatush-shahabati ba'duhum 'an ba'd dan riwayatut-tabi'in ba'duhum 'an ba'd ini sebenarnya sudah pernah ia bahas sebelumnya, di nau' tentang riwayatul aqran (periwayatan antar-rekan sezaman) - yaitu nau' Al-Mudabbaj.3 Dua nau' ini memang berdekatan maknanya: riwayatul aqran membahas dua rawi sezaman yang saling meriwayatkan satu sama lain (baik keduanya sama-sama sahabat, sama-sama tabi'in, atau generasi lain), sementara riwayatush-shahabati ba'duhum 'an ba'd secara spesifik menyoroti sisi generasinya - bahwa rawi yang meriwayatkan dan rawi yang diriwayatkan sama-sama berstatus sahabat, atau sama-sama berstatus tabi'in. As-Suyuthi mengangkatnya kembali di sini sebagai nau' tersendiri karena Al-Bulqini memang mencatatnya secara terpisah, meski isinya tumpang tindih dengan pembahasan aqran yang sudah lebih dulu ada.

Contoh: Sanad yang Menghimpun Empat Sahabat Sekaligus

Untuk pola sahabat meriwayatkan dari sesama sahabat, As-Suyuthi memberi contoh sebuah hadits yang sanadnya menghimpun empat sahabat berurutan sebelum sampai ke tabi'in: Az-Zuhri meriwayatkan dari As-Sa'ib bin Yazid, dari Huwaythib bin 'Abdul 'Uzza, dari 'Abdullah bin As-Sa'di, dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhum secara marfu'.4 Perhatikan urutannya: As-Sa'ib bin Yazid (sahabat) meriwayatkan dari Huwaythib bin 'Abdul 'Uzza (sahabat), yang meriwayatkan dari 'Abdullah bin As-Sa'di (sahabat), yang meriwayatkan dari 'Umar bin Al-Khaththab (sahabat) - tiga lapis periwayatan sesama sahabat, bertumpuk dalam satu sanad yang sama, baru kemudian turun ke tabi'in (Az-Zuhri). Matan haditsnya:

مَا جَاءَكَ اللَّهُ بِهِ مِنْ هَذَا الْمَالِ عَنْ غَيْرِ إِشْرَافٍ، وَلَا سَائِلٍ فَخُذْهُ، وَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ
"Apa yang Allah datangkan kepadamu dari harta ini tanpa kamu mengharapkannya dan tanpa memintanya, maka ambillah - dan jangan kamu kejar-kejar dengan hawa nafsumu (harta yang tidak datang kepadamu)." ('Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu)5

Matan senada dengan hadits ini - soal menerima pemberian tanpa tamak dan tanpa meminta-minta - juga masyhur diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim lewat jalur-jalur sanad yang lain. Yang membuat riwayat di atas istimewa dan layak dijadikan contoh oleh As-Suyuthi bukan matannya, melainkan susunan sanadnya sendiri: tiga sahabat berurutan saling meriwayatkan sebelum turun ke tabi'in, sebuah pola yang jarang ditemukan sekaligus dalam satu isnad.

Contoh Kedua: 'Auf bin Malik tentang Wasiat Berpegang pada Kitabullah

As-Suyuthi membawakan contoh lain dengan sanad: Khalid bin Ma'dan, dari Katsir bin Murrah, dari Nu'aim bin Hammar, dari Al-Miqdad bin Ma'dikarib, dari Abu Ayyub, dari 'Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu, yang berkata:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ مَرْعُوبٌ مُتَغَيِّرُ اللَّوْنِ، فَقَالَ: أَطِيعُونِي مَا دُمْتُ فِيكُمْ، وَعَلَيْكُمْ بِكِتَابِ اللَّهِ فَأَحِلُّوا حَلَالَهُ وَحَرِّمُوا حَرَامَهُ
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami dalam keadaan tampak khawatir dan berubah warna wajahnya, lalu bersabda: 'Taatilah aku selama aku masih bersama kalian, dan berpegang teguhlah pada Kitabullah - halalkanlah apa yang dihalalkannya, dan haramkanlah apa yang diharamkannya.'" ('Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu)6

Dalam sanad ini, Abu Ayyub yang meriwayatkan dari 'Auf bin Malik sama-sama berstatus sahabat - contoh lain riwayat sesama sahabat, meski rangkaiannya lebih pendek dibanding contoh pertama.

Contoh Ketiga: Empat Wanita Sahabat dalam Satu Sanad

As-Suyuthi juga menyinggung adanya sebuah hadits yang sanadnya menghimpun empat wanita sahabat sekaligus: dua di antaranya termasuk Ummahatul Mukminin (istri-istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam), dan dua lainnya adalah anak tiri (rabibah) Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.7 As-Suyuthi menyebutkan contoh ini sebagai penegas bahwa pola riwayat sesama sahabat tidak terbatas pada sanad kalangan laki-laki saja - kasus serupa juga ditemukan pada sanad-sanad yang seluruh rawinya perempuan.

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Mengenali kapan sebuah sanad menyimpang dari pola umum generasi - sahabat meriwayatkan dari sesama sahabat, tabi'in dari sesama tabi'in - mencegah pembaca sanad salah menaksir jarak generasi antar-rawi, sekaligus menunjukkan betapa cermatnya ulama hadits mendokumentasikan setiap detail jalur periwayatan, sekecil apa pun:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar Ibnu Sirin)8

Nau' 76-77 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Pola periwayatan antar-rekan sezaman secara umum dibahas di Al-Mudabbaj (Riwayatul Aqran), sementara definisi dasar generasi sahabat dan tabi'in masing-masing dibahas di Ma'rifatush-Shahabah dan Ma'rifatut-Tabi'in.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 915.

  2. Ibid., hlm. 915-916.

  3. Ibid., hlm. 916.

  4. Ibid., hlm. 916.

  5. Ibid., hlm. 916.

  6. Ibid., hlm. 916.

  7. Ibid., hlm. 916.

  8. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email