Nau' 39 dalam Tadrib ar-Rawi membahas ma'rifatush-shahabah - ilmu mengenal para sahabat radhiyallahu 'anhum. As-Suyuthi menyebutnya ilmu besar dengan faedah luar biasa, karena lewat ilmu inilah sanad yang bersambung bisa dibedakan dari yang mursal.
Kitab-Kitab Rujukan
As-Suyuthi mencatat, banyak kitab disusun di bidang ini, dan yang terbaik serta paling kaya faedah adalah Al-Isti'ab karya Ibnu 'Abdil Barr - seandainya tidak dicederai oleh penyertaan riwayat-riwayat soal perselisihan antar-sahabat yang dinukilnya dari para ahli sejarah (akhbariyyun). Ibnul Atsir Al-Jazari juga menghimpun kitab yang baik berjudul Usudul-Ghabah, menggabungkan banyak sumber dan meneliti berbagai hal dengan baik - As-Suyuthi sendiri meringkasnya.1
Definisi Sahabat dan Kasus-Kasus Rumitnya
As-Suyuthi menjelaskan, definisi baku di kalangan ahli hadits: sahabat adalah setiap muslim yang PERNAH MELIHAT Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Definisi ini punya sejumlah kasus rumit: seorang tunanetra seperti Ibnu Ummi Maktum tetap dihitung sahabat tanpa ada perbedaan pendapat, meski secara harfiah ia tidak pernah "melihat"; seseorang yang melihat Nabi saat masih kafir lalu masuk Islam setelah beliau wafat (seperti utusan Kaisar) TIDAK dihitung sahabat; seseorang yang melihat jasad Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah wafat namun sebelum dimakamkan (seperti yang terjadi pada Abu Dzu'aib Khuwailid bin Khalid Al-Hudzali) juga TIDAK dihitung sahabat; orang yang menyertai Nabi lalu murtad (seperti Ibnu Khathal) dikeluarkan dari definisi - karena itu, rumusan yang lebih tepat: sahabat adalah yang bertemu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan muslim dan wafat dalam keislamannya. Soal orang yang sempat murtad lalu kembali masuk Islam dan wafat sebagai muslim (seperti Qurrah bin Hubairah dan Al-Asy'ats), Al-'Iraqi menilai perlu ditinjau lebih lanjut apakah tetap dihitung sahabat, mengingat Asy-Syafi'i dan Abu Hanifah menegaskan riddah (murtad) menghapus amal - dan secara zahir juga menghapus status kesahabatan sebelumnya. Status kesahabatan seseorang diketahui lewat tawatur, istifadhah (kemasyhuran), pernyataan seorang sahabat lain, atau pernyataan orang itu sendiri bila ia dikenal jujur ('adil).2
Seluruh Sahabat Adalah 'Udul
As-Suyuthi menegaskan: seluruh sahabat - baik yang terlibat dalam fitnah (perselisihan politik) maupun tidak - adalah 'udul (adil, terpercaya), berdasarkan ijma' ulama yang diperhitungkan. Dasarnya, firman Allah, "Dan demikianlah Kami jadikan kalian umat yang wasath (adil/pilihan)..." dan "Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia" - ayat kedua ini ditujukan kepada mereka yang hidup pada masa itu; juga sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sebaik-baik manusia adalah generasiku" (HR. Bukhari-Muslim). Imam Al-Haramain menjelaskan alasan kenapa 'adalah sahabat tidak perlu diselidiki lagi: mereka adalah para pembawa syariat ini - seandainya keandalan periwayatan mereka diragukan, syariat hanya akan terbatas pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri, tidak akan pernah tersambung ke masa-masa sesudahnya. As-Suyuthi mencatat perbedaan pendapat lain: ada yang tetap mewajibkan penyelidikan 'adalah mereka secara mutlak, ada yang membatasi kewajiban itu hanya setelah masa fitnah, kalangan Mu'tazilah menganggap semuanya 'udul kecuali yang memerangi 'Ali, dan ada pula pendapat lain yang lebih longgar maupun lebih ketat.3
Sahabat Paling Utama dan Tingkatan-Tingkatannya
As-Suyuthi menegaskan: sahabat paling utama secara mutlak adalah Abu Bakr, lalu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, berdasarkan ijma' Ahlus Sunnah - Abul 'Abbas Al-Qurthubi termasuk yang menegaskan ijma' ini, tanpa mempedulikan pendapat kalangan Syi'ah dan ahli bid'ah lainnya; Asy-Syafi'i sendiri menukil ijma' sahabat dan tabi'in atas urutan ini (dinukil Al-Baihaqi dalam Al-I'tiqad). Lalu 'Utsman, kemudian 'Ali - inilah pendapat mayoritas Ahlus Sunnah, meski Al-Khaththabi mencatat Ahlus Sunnah dari Kufah mendahulukan 'Ali atas 'Utsman (diikuti Abu Bakr bin Khuzaimah).
As-Suyuthi menukil kerangka tingkatan lengkap dari Abu Manshur Al-Baghdadi: paling utama adalah Khulafaur-Rasyidin yang empat, lalu sisa sepuluh sahabat yang dijamin surga, lalu Ahli Badr, lalu Ahli Uhud, lalu Ahli Bai'atur-Ridhwan; sementara yang punya keistimewaan tersendiri adalah Ahlul-'Aqabatain dari kalangan Anshar, serta as-sabiqunal-awwalun (para perintis pertama) - didefinisikan Ibnul Musayyab dan yang lain sebagai mereka yang shalat menghadap DUA kiblat (sebelum dan sesudah perpindahan kiblat), oleh Asy-Sya'bi sebagai Ahli Bai'atur-Ridhwan, dan oleh Muhammad bin Ka'b serta 'Atha' sebagai Ahli Badr. As-Suyuthi merinci dua belas tingkatan lengkap: (1-3) para khalifah dan sisa sepuluh sahabat yang dijamin surga, (4) Ashabul-'Aqabah Pertama, (5) Ashabul-'Aqabah Kedua (mayoritas Anshar), (6) para muhajirin pertama yang tiba di Quba' sebelum Nabi memasuki Madinah, (7) Ahli Badr, (8) yang berhijrah antara Badr dan Hudaibiyah, (9) Ahli Bai'atur-Ridhwan, (10) yang berhijrah antara Hudaibiyah dan Fathu Makkah (seperti Khalid bin Al-Walid dan 'Amr bin Al-'Ash), (11) Muslimatul-Fath (yang masuk Islam saat penaklukan Makkah), dan (12) anak-anak yang hanya sempat melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada hari Fathu Makkah, Haji Wada', atau kesempatan lain.4
Siapa yang Pertama Masuk Islam
As-Suyuthi merangkum perbedaan pendapat: ada yang menyebut Abu Bakr sebagai yang pertama masuk Islam (pendapat Ibnu 'Abbas, Hassan, Asy-Sya'bi, An-Nakha'i, dan lainnya - didukung riwayat Muslim tentang kisah masuk Islamnya 'Amr bin 'Abasah, yang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "siapa yang bersamamu dalam hal ini?" dan dijawab, "seorang yang merdeka dan seorang budak" - merujuk pada Abu Bakr dan Bilal yang sudah beriman kepadanya saat itu); ada yang menyebut 'Ali; ada yang menyebut Zaid (bin Haritsah); dan ada yang menyebut Khadijah - inilah yang benar menurut sejumlah ulama peneliti, bahkan Ats-Tsa'labi mengklaim ijma' atasnya, perbedaan pendapat hanya soal siapa yang kedua. As-Suyuthi menyimpulkan rumusan paling hati-hati: yang pertama dari kalangan laki-laki merdeka dewasa adalah Abu Bakr, dari kalangan anak-anak adalah 'Ali, dari kalangan perempuan adalah Khadijah, dari kalangan budak yang dimerdekakan adalah Zaid, dan dari kalangan budak adalah Bilal. Sahabat yang wafat paling akhir adalah Abuth-Thufail (wafat tahun 100H), disusul Anas bin Malik.5
Kasus Langka: Ayah-Anak-Cucu Bersama-Sama di Badr
As-Suyuthi mencatat, tidak dikenal ada pasangan ayah-anak yang sama-sama ikut Perang Badr kecuali Martsad dan ayahnya, Abu Martsad bin Al-Hushain Al-Ghanawi. Ia menambahkan penemuan yang lebih mengagumkan dari Al-Baghawi dalam Mu'jam Ash-Shahabah: Ma'n bin Yazid bin Al-Akhnas As-Sulami ikut Badr bersama AYAH dan KAKEKnya sekaligus - tiga generasi - dan tidak diketahui ada keluarga lain di mana seorang lelaki, anaknya, dan cucunya sama-sama ikut Badr sebagai muslim, kecuali keluarga Al-Akhnas ini. Ibnul Jauzi mencatat kasus langka serupa: tujuh bersaudara yang semuanya ikut Badr sebagai muslim hanya dikenal pada keluarga Bani Muqarrin.6
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Mendokumentasikan dengan tepat siapa yang benar-benar berstatus sahabat, tingkatan keutamaan mereka, sampai kasus-kasus langka seperti tiga generasi dalam satu keluarga ikut Badr - semuanya adalah bagian dari menjaga sejarah generasi pertama Islam tetap akurat, sekaligus menjadi dasar membedakan sanad yang bersambung dari yang mursal:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)7
Nau' 39 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Generasi sesudah sahabat dibahas di Ma'rifatut-Tabi'in.
Catatan & Referensi