Nau' 71-72 dalam Tadrib ar-Rawi membahas dua istilah yang oleh As-Suyuthi sendiri diperlakukan sangat singkat: mahfuzh dan ma'ruf. Berbeda dari kebanyakan nau' lain yang diuraikan panjang lebar, As-Suyuthi hanya menulis satu kalimat untuk keduanya - karena, seperti diakuinya sendiri, ia sudah menguraikan (harrartuhuma) kedua istilah ini secara tuntas ketika membahas nau' Asy-Syadz dan Al-Munkar sebelumnya.1
Kenapa As-Suyuthi Meringkasnya di Sini
Tadrib ar-Rawi disusun mengikuti kerangka Ibn ash-Shalah dan Taqrib-nya An-Nawawi, lalu As-Suyuthi menambahkan sejumlah nau' baru yang belum diberi nama tersendiri oleh keduanya. Mahfuzh dan ma'ruf termasuk tambahan semacam ini: keduanya adalah SISI YANG BERLAWANAN dari syadz dan munkar yang sudah dibahas panjang lebar sebelumnya, sehingga As-Suyuthi tidak perlu mengulang penjelasan yang sama - cukup menegaskan bahwa kedua istilah ini eksis sebagai pasangan konseptual, lalu merujuk balik ke pembahasan yang sudah ada.
Mahfuzh: Sisi yang Benar dari Riwayat yang Syadz
Pada nau' Asy-Syadz, As-Suyuthi menjelaskan bahwa riwayat syadz adalah riwayat seorang perawi yang diterima (maqbul) namun bertentangan dengan riwayat perawi lain yang lebih diutamakan darinya - baik karena hafalannya lebih kuat, jumlahnya lebih banyak, atau sebab-sebab tarjih lainnya. Pada saat itu pula, istilah mahfuzh sudah dipakai untuk menyebut riwayat yang MENANG dalam pertentangan tersebut. As-Suyuthi mencontohkannya lewat kasus Ibnu 'Uyainah yang menyambungkan sebuah sanad dan dikuatkan oleh Ibnu Juraij, berhadapan dengan riwayat Hammad bin Zaid yang menyelisihinya dengan sanad terputus - Abu Hatim menegaskan riwayat Ibnu 'Uyainah-lah yang mahfuzh, meski Hammad bin Zaid sendiri perawi yang adil dan dhabit.2 Jadi mahfuzh dan syadz selalu berpasangan pada satu kasus pertentangan yang sama: sisi yang kalah disebut syadz, sisi yang menang (lebih kuat/lebih banyak didukung) disebut mahfuzh.
Ma'ruf: Sisi yang Benar dari Riwayat yang Munkar
Pola yang sama berlaku untuk pasangan munkar-ma'ruf, hanya saja pada tingkat perawi yang berbeda. Syaikhul Islam Ibnu Hajar - sebagaimana dinukil As-Suyuthi pada nau' Al-Munkar - membedakan syadz dari munkar lewat status perawi yang menyendiri dan bertentangan itu: bila ia tsiqah atau shaduq, riwayatnya syadz; bila ia dhaif, riwayatnya munkar.3 Maka riwayat tandingan yang datang dari perawi tsiqah - yang mengalahkan riwayat munkar dari perawi dhaif tadi - itulah yang disebut ma'ruf. Perbedaannya dengan pasangan mahfuzh-syadz hanya terletak pada mutu perawi yang menyendiri: kalau ia masih tsiqah/shaduq, pertentangannya melahirkan pasangan mahfuzh-syadz; kalau ia sudah dhaif, pertentangannya melahirkan pasangan ma'ruf-munkar.
Kenapa Pemahaman Dua Sisi Ini Penting
Mengenali riwayat yang tertolak (syadz, munkar) saja tidak cukup bagi penuntut ilmu hadits - ia juga perlu tahu riwayat mana yang seharusnya dijadikan pegangan sebagai gantinya. Kehati-hatian semacam ini adalah bagian dari semangat yang sama yang mendasari seluruh ilmu sanad:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar Ibnu Sirin)4
Nau' 71-72 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Konsep dasarnya, syadz dan munkar, dibahas lebih rinci di Asy-Syadz dan Al-Munkar.