Al-Munkar: Perbedaannya dari Asy-Syadz Menurut Ibnu Hajar

Ornamen dinding bermotif Islami, ilustrasi untuk artikel "Al-Munkar: Perbedaannya dari Asy-Syadz Menurut Ibnu Hajar"

Nau' 14 dalam Tadrib ar-Rawi membahas hadits munkar - istilah yang sangat dekat dengan syadz (nau' 13 kitab ini) sampai-sampai sebagian ulama menganggap keduanya bermakna sama. As-Suyuthi menjelaskan letak persisnya perbedaan itu.

Definisi Al-Bardiji dan Koreksi Ibn ash-Shalah

As-Suyuthi menukil definisi Al-Hafizh Al-Bardiji: hadits munkar adalah hadits fard (yang hanya diriwayatkan sendirian oleh satu perawi) yang matannya tidak dikenal diriwayatkan siapa pun selain perawi itu - definisi yang juga dipakai secara umum oleh banyak ahli hadits lain. Namun Ibn ash-Shalah menegaskan, yang benar adalah memakai rincian (tafshil) yang sama seperti pada pembahasan syadz sebelumnya - karena pada dasarnya munkar semakna dengan syadz.1

Perbedaan Syadz dan Munkar Menurut Ibnu Hajar

As-Suyuthi menukil penjelasan Syaikhul Islam (Ibnu Hajar) yang mempertajam pembedaan keduanya: syadz dan munkar sama-sama mensyaratkan adanya mukhalafah (pertentangan dengan riwayat yang lebih kuat) - namun keduanya berbeda pada status perawi yang menyendiri itu. Kalau perawi yang menyendiri dan bertentangan itu berstatus tsiqah atau shaduq (jujur), riwayatnya disebut syadz. Kalau perawinya berstatus dhaif (lemah), riwayatnya disebut munkar. As-Suyuthi menegaskan, siapa pun yang menyamakan begitu saja kedua istilah ini sebenarnya lengah terhadap perbedaan penting ini.

As-Suyuthi mencontohkan hadits munkar lewat riwayat yang dikeluarkan Ibnu Abi Hatim, dari jalur Hubaib bin Habib (saudara Hamzah Az-Zayyat), dari Abu Ishaq, dari Al-'Aizar bin Huraits, dari Ibnu 'Abbas. Hubaib sendiri dinilai lemah oleh para kritikus hadits: Ibnu Ma'in menyebutnya dhaif, Ibnu Hibban menyatakan riwayatnya tidak bisa dijadikan hujjah, Al-'Uqaili menyebut riwayatnya tidak punya penguat (mutabi'), dan Ibnu 'Adi mencatat empat hadits munkar darinya.2

Kenapa Pembedaan Ini Penting

Membedakan dengan tepat apakah sebuah riwayat yang bertentangan itu datang dari perawi yang masih terpercaya (syadz) atau dari perawi yang sudah dikenal lemah (munkar) menentukan derajat keseriusan cacatnya - mencegah generalisasi yang bisa menyamaratakan dua tingkat kesalahan yang sebenarnya berbeda:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)3

Nau' 14 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Pembahasan riwayat sendirian yang bertentangan dari perawi tsiqah/shaduq ada di Asy-Syadz.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 276.

  2. Ibid., hlm. 279.

  3. HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah) - hadits mutawatir.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email