Nau' 63 dalam Tadrib ar-Rawi membahas thabaqatul-'ulama' war-ruwah (تَبَقَاتُ الْعُلَمَاءِ وَالرُّوَاةِ) - ilmu mengelompokkan ulama dan perawi hadits ke dalam angkatan-angkatan (thabaqah) yang sezaman. As-Suyuthi menyebutnya sebagai fann yang penting (fannun muhimmun), sekaligus menunjuk Ath-Thabaqat Al-Kubra karya Ibnu Sa'd sebagai salah satu rujukan besarnya.1
Apa Itu Thabaqah?
As-Suyuthi mendefinisikan thabaqah secara ringkas:
Definisi ini sengaja dibuat longgar, karena As-Suyuthi lanjut menjelaskan dalam syarahnya bahwa kesamaan yang dimaksud bersifat relatif - bergantung dari sisi mana dua orang perawi itu dibandingkan.
Satu Perawi, Bisa Beda Thabaqah Tergantung Sudut Pandang
Poin penting yang ditegaskan As-Suyuthi: dua orang perawi bisa saja dianggap satu thabaqah dari satu sisi pertimbangan, namun dianggap dua thabaqah berbeda dari sisi pertimbangan lain - karena masing-masing sisi menyoroti kemiripan yang berbeda.3
Contoh yang diberikan: Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu dan sahabat semisalnya dari kalangan ashaghirush-shahabah (sahabat yang belakangan masuk Islam/lebih muda usianya). Bersama Al-'Asyrah (sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga), mereka tetap satu thabaqah - yaitu thabaqah sahabat - karena sama-sama berstatus sebagai sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Atas dasar pertimbangan luas semacam ini, seluruh sahabat adalah satu thabaqah, tabi'in thabaqah kedua, atba'ut-tabi'in (pengikut tabi'in) thabaqah ketiga, dan seterusnya.4
Namun bila yang dipakai adalah pertimbangan as-sawabiq (urutan lebih dulu masuk Islam, hijrah, dan keutamaan-keutamaan lain), sahabat sendiri terbagi menjadi belasan (bidh'a 'asyarah) thabaqah - persis sebagaimana telah dijelaskan As-Suyuthi pada nau' Ma'rifatush-Shahabah. Dengan kata lain, jumlah dan batas sebuah thabaqah bukan angka baku - ia berubah sesuai sudut pandang klasifikasi yang dipakai.5
Ath-Thabaqat Al-Kubra Karya Ibnu Sa'd
As-Suyuthi menyebut Ath-Thabaqat karya Ibnu Sa'd sebagai kitab yang besar dan sangat kaya faedah. Ibnu Sa'd sendiri dinilai tsiqah, hanya saja ia banyak meriwayatkan dari perawi-perawi dhaif - salah satunya adalah gurunya sendiri, Muhammad bin 'Umar Al-Waqidi, yang penyebutannya oleh Ibnu Sa'd tidak disertai penjelasan lebih lanjut soal identitas kelemahannya.6 Catatan ini penting: seorang penulis thabaqat bisa saja tsiqah dan karyanya sangat bermanfaat, tapi itu tidak otomatis membuat setiap riwayat di dalamnya sekualitas keadilan dan kedhabithan penulisnya sendiri - sanad tiap riwayat tetap perlu diperiksa sendiri-sendiri.
Bekal yang Dibutuhkan Peneliti Thabaqat
As-Suyuthi menutup pembahasan nau' ini dengan menegaskan, siapa pun yang hendak meneliti bidang thabaqat wajib mengetahui tanggal kelahiran dan wafat masing-masing perawi (mawalid dan wafayat - topik yang dibahas tersendiri di nau' Tawarikhur-Ruwah), serta siapa saja guru mereka dan siapa saja murid yang meriwayatkan darinya.7 Tanpa bekal ini, penentuan thabaqah seorang perawi mudah keliru - dan kekeliruan semacam itu berimbas langsung pada penilaian apakah sebuah sanad benar-benar mungkin bersambung atau tidak.
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Memetakan thabaqah dengan cermat - siapa sezaman dengan siapa, siapa mungkin bertemu siapa - adalah bagian dari kesungguhan menjaga keakuratan sanad secara menyeluruh, sejalan dengan prinsip memastikan kejelasan sumber sebuah riwayat sebelum menerimanya:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar Ibnu Sirin)8
Pembahasan sebelumnya, mengenai perawi tsiqah yang hafalannya kacau di usia lanjut, ada di Man Khalatha fi Akhiri 'Umrihi. Nau' 63 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngaji Sanad.
Catatan & Referensi
As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 908.
↩Ibid., hlm. 908.
↩Ibid., hlm. 910.
↩Ibid., hlm. 908 & 910.
↩Ibid., hlm. 908 & 910.
↩As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 908.
↩Ibid., hlm. 908 & 910.
↩Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.
↩