Al-Mansubun ila Ghairi Aba'ihim: Perawi yang Dinisbatkan Bukan kepada Ayahnya

Nau' 57 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-mansubun ila ghairi aba'ihim - para perawi yang dalam kitab-kitab hadits lebih dikenal dinisbatkan bukan kepada ayah kandungnya, melainkan kepada pihak lain. As-Suyuthi membaginya menjadi beberapa qism (bagian), dan qism pertama yang dijelaskan panjang lebar adalah mereka yang dinisbatkan kepada ibunya.

Fa'idah Mengetahui Nisbah yang Menyimpang Ini

As-Suyuthi menjelaskan, fa'idah (manfaat) nau' ini adalah dafi' tawahhum at-ta'addud - menolak dugaan bahwa nama-nama yang berbeda nisbahnya itu adalah dua orang yang berlainan, padahal sebenarnya satu orang yang sama. Qism pertama adalah orang yang nasabnya dinisbatkan kepada ibunya.1

Contoh-Contoh Sahabat yang Dinisbatkan kepada Ibunya

As-Suyuthi membuka daftar contoh dengan Banu 'Afra': Mu'adz, Mu'awwidz, dan 'Awdz (ada yang menyebutnya 'Awf, dengan huruf fa'). Ketiganya adalah anak-anak Al-Harits bin Rafi'ah dari Bani An-Najjar, tetapi jauh lebih dikenal dinisbatkan kepada ibu mereka, 'Afra' binti 'Ubaid bin Tsa'labah, juga dari Bani An-Najjar. Ketiga bersaudara ini ikut serta dalam Perang Badr - Mu'awwidz dan 'Awf gugur syahid di sana, sementara Mu'adz tetap hidup hingga masa kekhilafahan 'Utsman. Ada juga riwayat yang menyebut ia hidup hingga masa 'Ali dan wafat di Shiffin, dan riwayat lain yang menyebut ia terluka saat Badr lalu kembali ke Madinah dan wafat di sana.2

Contoh berikutnya adalah Bilal bin Hamamah, muadzin Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang berasal dari Habasyah. Nama ayahnya sebenarnya Rabah, tetapi ia jauh lebih masyhur dinisbatkan kepada ibunya, Hamamah. Demikian pula tiga bersaudara Suhail, Sahl, dan Safwan yang dikenal sebagai Banu Baidha' - ayah mereka sesungguhnya adalah Wahb bin Rabi'ah bin 'Amr bin 'Amir, seorang Quraisy dari Bani Fihr, sementara Baidha' adalah nama panggilan ibu mereka yang nama aslinya Da'd. As-Suyuthi menukil perkataan Sufyan bin 'Uyainah bahwa di antara sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang paling tua usianya adalah Abu Bakr dan Suhail bin Baidha'.

As-Suyuthi juga menyebut beberapa contoh singkat lain dari kalangan sahabat dan tabi'in: Syurahbil bin Hasanah, yang ayah kandungnya sebenarnya bernama 'Abdullah bin Al-Muttha'; Ibnu Buhainah, yang ayahnya bernama Malik; Muhammad bin Al-Hanafiyyah, putra 'Ali bin Abi Thalib yang dinisbatkan kepada ibunya, seorang wanita dari Bani Hanifah; serta Isma'il bin 'Ulayyah, ulama hadits masyhur yang ayah kandungnya bernama Ibrahim, sementara 'Ulayyah sendiri adalah nama ibunya.3

Ketika Nisbah Itu Sendiri Diperdebatkan Ulama

Menariknya, As-Suyuthi juga mencatat kasus di mana ulama sendiri berselisih apakah sebuah nisbah itu benar-benar mengarah kepada ibu, atau justru kepada pihak lain. Contohnya adalah Ya'la bin Munyah, seorang sahabat yang cukup masyhur. Az-Zubair bin Bakkar dan Ibnu Makula berpendapat, Munyah sebenarnya adalah nenek Ya'la (ibu dari ayahnya), bukan ibunya sendiri. Namun As-Suyuthi menambahkan pendapat lain - dinisbatkan kepada mayoritas ulama (jumhur), termasuk Al-Bukhari, Ibnul Madini, Al-Qa'nabi, Ya'qub bin Syaibah, Ibnu Jarir, Ibnu Qani', Ath-Thabarani, Ibnu Hibban, Ibnu Mandah, dan yang lain, serta dirajihkan (dikuatkan) oleh Al-Mizzi dan Ibnu 'Abdil Barr - bahwa Munyah memang benar ibu kandung Ya'la. Ibnu Wadhdhah bahkan menegaskan Munyah adalah ayahnya, dan menilai pendapat-pendapat lain di atas keliru. Soal siapa sebenarnya Munyah ini pun ulama berbeda pendapat: Ibnu Makula menyebutnya sebagai binti Al-Harits bin Jabir, Ath-Thabari menyebutnya binti Jabir - bibi dari 'Utbah bin Ghazwan, sementara Ad-Daraquthni menyebutnya binti Ghazwan, saudari 'Utbah bin Ghazwan - pendapat terakhir inilah yang dirajihkan Al-Mizzi. Adapun nama ayah kandung Ya'la sendiri adalah Umayyah bin Abi 'Ubaid.4

Kasus serupa disebut As-Suyuthi pada Basyir bin Al-Khashashiyah, seorang sahabat yang juga cukup dikenal - Al-Khashashiyah sendiri bukan nama ibunya, melainkan nisbah kepada leluhur perempuan yang lebih jauh dalam garis keturunannya.

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Kasus Ya'la bin Munyah membuktikan sendiri kenapa fa'idah nau' ini disebutkan di awal: tanpa penelusuran cermat, sebuah nisbah yang tidak lazim bisa memunculkan kekeliruan berlapis - bukan hanya soal siapa sebenarnya orang yang dimaksud, tapi juga siapa sebenarnya pihak yang dinisbatkan kepadanya. Kejelasan semacam ini sejalan dengan prinsip dasar memastikan kejelasan sumber sebuah riwayat sebelum menerimanya:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)5

Nau' 57 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Nama-nama yang mirip dan berpotensi tertukar dibahas di Ar-Ruwah al-Mutasyabihun, sementara nisbah yang maknanya justru menyesatkan dibahas di An-Nasab allati Bathinuha.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 845.

  2. Ibid., hlm. 845.

  3. Ibid., hlm. 845.

  4. Ibid., hlm. 847.

  5. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email