Al-Musytabih Al-Maqlub: Ketika Nama dan Nasab Dua Perawi Saling Tertukar Posisi

Nau' 56 dalam Tadrib ar-Rawi membahas al-musytabih al-maqlub - satu lagi kasus kerancuan nama perawi, tapi dengan pola yang berbeda dari nau' sebelumnya (al-mu'talif wal-mukhtalif). Kalau pada nau' 55 kerancuan terjadi di TULISAN (dua nama tampak sama di atas kertas, tapi cara membacanya berbeda), pada nau' 56 ini kerancuan justru terjadi di BENAK - dua orang yang benar-benar berbeda, tapi nama dan nasab keduanya persis saling bertukar posisi.

Definisi: Kerancuan di Benak, Bukan di Tulisan

As-Suyuthi menjelaskan, al-musytabih al-maqlub adalah jenis kerancuan yang muncul dalam pikiran (dzihn), bukan dalam bentuk tulisan (khath). Yang dimaksud: ada dua perawi yang nama dan nasabnya serupa, namun bisa dibedakan lewat urutan penyebutan mana yang lebih dulu dan mana yang belakangan. Polanya begini - nama (ism) salah satu perawi persis sama, baik tulisan maupun pelafalannya, dengan nama AYAH perawi yang satunya; sementara nama perawi yang kedua itu sendiri persis sama dengan nama ayah perawi yang pertama. Akibatnya, sebagian ahli hadits terbalik menyebutnya - menukar mana yang nama dan mana yang nasab.1

Contoh-Contoh dari Matan

Matan Taqrib menyebutkan dua pasangan nama sebagai contoh pola ini. Pasangan pertama: Yazid bin Al-Aswad Al-Khuza'i, seorang sahabat, sekaligus Al-Jurasyi yang mukhadram dan terkenal karena kesalehannya - dialah yang lewat perantaraannya Mu'awiyah pernah beristisqa' (memohon hujan) - berbanding dengan Al-Aswad bin Yazid An-Nakha'i, seorang tabi'in yang mulia. Perhatikan polanya: "Yazid bin Al-Aswad" dan "Al-Aswad bin Yazid" - dua kata yang sama persis, hanya posisinya yang bertukar, padahal keduanya adalah dua orang yang sama sekali berbeda, beda generasi pula (satu sahabat, satu tabi'in).

Pasangan kedua: Al-Walid bin Muslim, seorang tabi'in dari Bashrah, dibandingkan dengan Al-Walid bin Muslim yang lebih masyhur dari Damaskus, murid Al-Auza'i - lalu ada pula Muslim bin Al-Walid bin Rabah Al-Madani. Sekali lagi, "Al-Walid bin Muslim" dan "Muslim bin Al-Walid" adalah dua kombinasi kata yang sama, hanya urutannya terbalik, merujuk pada orang-orang yang berlainan.2

Kekeliruan Nyata: Ketika Al-Bukhari Sendiri Terbalik

As-Suyuthi mencatat, kerancuan jenis ini bukan sekadar teori - Imam Al-Bukhari sendiri pernah terjebak di dalamnya. Dalam kitab Tarikh-nya, ketika menulis biografi Muslim bin Al-Walid Al-Madani, Al-Bukhari justru membalik namanya menjadi "Al-Walid bin Muslim" - seakan-akan yang dimaksud adalah Al-Walid bin Muslim Ad-Dimasyqi, murid Al-Auza'i yang jauh lebih terkenal. Padahal keduanya adalah dua perawi yang berbeda.

Kekeliruan Al-Bukhari ini kemudian dikoreksi oleh Ibnu Abi Hatim, dalam sebuah kitab yang ia tulis khusus membahas kekeliruan-kekeliruan Al-Bukhari dalam Tarikh-nya - riwayat koreksi ini beliau nukil dari ayahnya sendiri, Abu Hatim Ar-Razi. Kasus ini menjadi bukti nyata betapa mudahnya pola nama-terbalik semacam ini menjebak, bahkan seorang imam sekaliber Al-Bukhari sekalipun.3

Kitab Khusus Al-Khathib Al-Baghdadi

Karena besarnya potensi kekeliruan pada jenis ini, Al-Khathib Al-Baghdadi menyusun sebuah kitab tersendiri yang secara khusus mengumpulkan dan meluruskan pasangan-pasangan nama yang berpola terbalik semacam ini, berjudul Raf'ul Irtiyab fil-Maqlub minal-Asma' (Menghilangkan Keraguan seputar Nama-Nama yang Terbalik). Keberadaan kitab semacam ini menegaskan bahwa al-musytabih al-maqlub bukan perkara sepele yang cukup diwaspadai sambil lalu, melainkan butuh rujukan tersendiri yang mendata setiap pasangan nama serupa itu satu per satu, lengkap dengan penjelasan siapa masing-masing orangnya, supaya siapa pun yang menjumpainya dalam sanad tidak salah menempatkan.4

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Kasus Al-Bukhari di atas menunjukkan, sekadar mengenal nama seorang perawi saja tidak cukup - urutan penyebutan nama dan nasabnya pun harus diperiksa dengan cermat, karena satu kekeliruan urutan bisa membuat identitas seorang perawi tertukar total dengan orang lain yang sama sekali berbeda. Kecermatan sampai level ini adalah bagian dari kesungguhan menjaga akurasi setiap mata rantai sanad, sejalan dengan prinsip memastikan kejelasan sumber sebuah riwayat:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)5

Nau' 56 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 843.

  2. Ibid., hlm. 843.

  3. Ibid., hlm. 843.

  4. Ibid., hlm. 843.

  5. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email