عَنْ عُمَرَ رضي الله عنه أَيضاً قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه و سلّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُوْلُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً. قَالَ: صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ: صَدَقْتَ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ: فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ: يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ
"Dari 'Umar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Pada suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tidak seorang pun dari kami yang mengenalnya - sampai ia duduk di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mendekatkan lututnya ke lutut Nabi, lalu meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, seraya berkata: 'Wahai Muhammad, jelaskan kepadaku tentang Islam.' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Islam itu adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya; engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana.' Laki-laki itu berkata: 'Engkau benar.' Kami pun terheran-heran, ia yang bertanya tapi ia sendiri pula yang membenarkan jawabannya. Ia bertanya lagi: 'Jelaskan kepadaku tentang iman.' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.' Ia berkata: 'Engkau benar.' Ia bertanya lagi: 'Jelaskan kepadaku tentang ihsan.' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya; kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.' Ia bertanya: 'Beritahu kepadaku kapan terjadinya hari Kiamat.' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Yang ditanya tidaklah lebih tahu dari yang bertanya.' Ia bertanya: 'Jelaskan kepadaku tanda-tandanya.' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Jika seorang budak perempuan melahirkan tuannya, dan jika engkau mendapati para penggembala kambing yang tidak beralas kaki dan tidak berpakaian layak saling berlomba meninggikan bangunan.' Kemudian laki-laki itu pergi, dan aku ('Umar) terdiam sejenak. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadaku: 'Wahai 'Umar, tahukah engkau siapa orang tadi?' Aku menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.' Beliau bersabda: 'Dia adalah Jibril, yang datang untuk mengajarkan agama ini kepada kalian.'" (HR. Muslim, sebagaimana dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah, hadits kedua)1
Kalau hadits pertama Arbain Nawawi membuka pintu dengan bicara soal niat, hadits kedua ini membuka seluruh ruangannya sekaligus. Hadits ini dikenal luas sebagai hadits Jibril - satu riwayat yang memuat definisi Islam, Iman, dan Ihsan dalam satu percakapan yang sama, disampaikan langsung oleh malaikat Jibril 'alaihis salam yang menyamar sebagai seorang laki-laki asing di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya. Karena cakupannya yang begitu luas - mencakup rukun lahiriah, keyakinan batiniah, dan puncak kesempurnaan ibadah sekaligus - sebagian ulama menyebut hadits ini sebagai ummus sunnah, induk dari as-Sunnah, sebagaimana Al-Fatihah disebut ummul Qur'an, induk dari Al-Qur'an. Artikel ini membedah teks aslinya - termasuk membandingkan redaksi yang dicantumkan Imam An-Nawawi di atas dengan data hadits Muslim dan Bukhari yang sudah diverifikasi di Ngaji Sanad - lalu menelusuri syarahnya lewat karya klasik Ibnu Rajab al-Hanbali dan Ibnu Daqiq al-'Id, serta penjelasan ulama kontemporer.
Pertama: Kesesuaian Redaksi An-Nawawi dengan Data Hadits Muslim No. 93
Berbeda dengan hadits pertama Arbain Nawawi - di mana redaksi yang dicantumkan Imam An-Nawawi ternyata gabungan unsur dari riwayat Al-Bukhari dan Muslim sekaligus - untuk hadits kedua ini An-Nawawi hanya mencantumkan satu riwayat saja secara utuh: riwayat Imam Muslim dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, yang dicatatnya secara lengkap di awal Kitab Al-Iman. Dibandingkan langsung dengan data hadits Shahih Muslim nomor internal 93 yang sudah diverifikasi di Ngaji Sanad, redaksi yang dikutip di atas cocok kata demi kata - termasuk seluruh klausa tentang pertanyaan hari Kiamat dan tanda-tandanya - di luar variasi ejaan dan tanda baca kecil yang lazim antar-edisi cetak (lihat /hadits/muslim/93/).2
Riwayat ini secara khusus tafarrud (menyendiri) diriwayatkan Imam Muslim dengan redaksi selengkap ini dari jalur 'Umar - artinya, Imam Al-Bukhari tidak mencatat riwayat dengan sanad dan matan (redaksi) yang sama persis dalam Shahih-nya, sehingga hadits ini secara ketat bukan hadits muttafaqun 'alaih (disepakati Bukhari-Muslim) sebagaimana banyak disangka orang. Ini bukan berarti riwayatnya lemah - Muslim tetap menempatkannya di kedudukan tertinggi keshahihan - hanya saja jalur periwayatannya memang bersumber tunggal dari Muslim untuk versi selengkap ini. Poin tafarrud inilah juga yang menjelaskan mengapa hadits kedua ini, tidak seperti hadits pertama, tidak memerlukan penggabungan dua redaksi: hanya ada satu riwayat lengkap yang bisa dirujuk, bukan dua riwayat sebanding yang perlu diselaraskan.
Kedua: Riwayat Lain di Shahih al-Bukhari - Perawi dan Redaksi yang Berbeda
Imam Al-Bukhari sendiri mencatat kisah pertemuan dengan Jibril ini dalam Kitab Iman-nya, tapi lewat jalur perawi yang berbeda - bukan dari 'Umar bin Al-Khaththab, melainkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu - dengan redaksi yang jauh lebih ringkas dan urutan pertanyaan yang berbeda (Iman didahulukan sebelum Islam):
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الإِيمَانُ؟ قَالَ: الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ، وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ. قَالَ مَا الإِسْلاَمُ؟ قَالَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ، وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ. قَالَ مَا الإِحْسَانُ؟ قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ... هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ
"Pada suatu hari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berada di tempat terbuka bersama orang-orang, lalu datanglah Jibril seraya bertanya: 'Apakah iman itu?' Beliau menjawab: 'Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, perjumpaan dengan-Nya, rasul-rasul-Nya, dan engkau beriman kepada hari kebangkitan.' Ia bertanya: 'Apakah Islam itu?' Beliau menjawab: 'Islam adalah engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa Ramadhan.' Ia bertanya: 'Apakah ihsan itu?' Beliau menjawab: 'Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.' ... (di akhir hadits, setelah orang itu pergi dan tidak seorang pun melihatnya) 'Ini adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan agama mereka kepada manusia.'" (HR. Bukhari, Kitab Iman, bab Pertanyaan Jibril kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, hadits no. 50, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)3
Perbedaannya nyata dan bukan sekadar variasi lafazh kecil seperti hadits pertama Arbain Nawawi (bin-niyyat versus bin-niyyah) - ini dua riwayat dengan sanad dan matan yang benar-benar berbeda, dari dua sahabat yang berbeda, dalam dua peristiwa yang secara logis kemungkinan juga berbeda (Jibril datang lebih dari sekali membahas tema serupa bukanlah hal yang aneh secara sanad). Versi Bukhari tidak menyebut rukun haji dalam definisi Islam, tidak mencantumkan pertanyaan soal tanda-tanda kiamat dengan redaksi yang sama, dan diakhiri Nabi mengutip ayat Al-Qur'an surat Luqman ayat 34 soal lima perkara gaib yang hanya Allah ketahui - detail yang tidak muncul dalam redaksi Muslim dari 'Umar. Karena itulah para penyusun kitab Arbain Nawawi, termasuk mayoritas pensyarahnya, secara konsisten menyandarkan hadits kedua ini pada riwayat Muslim dari 'Umar sebagai teks utama, sembari tetap menyebut riwayat Bukhari dari Abu Hurairah sebagai penguat tema yang sama dari jalur yang berbeda.
Ketiga: Kedudukan Hadits Ini - Kenapa Disebut "Ummus Sunnah"
Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam, membuka syarahnya untuk hadits ini dengan penegasan yang tidak biasa ia lakukan untuk hadits lain:
Ia melanjutkan bahwa seluruh ilmu-ilmu syariat yang menjadi pembahasan berbagai kalangan kaum muslimin pada dasarnya terangkum dalam hadits ini dan kembali kepadanya:
Penilaian senada datang dari Ibnu Daqiq al-'Id dalam syarah Arbain-nya yang lain, yang secara khusus menyebut hadits ini layak dijuluki ummus sunnah (induk as-Sunnah) - persis seperti Al-Fatihah dijuluki ummul Qur'an (induk Al-Qur'an) - karena isinya mencakup seluruh fungsi amal lahiriah dan batiniah sekaligus, menjadikannya rujukan yang seluruh cabang ilmu agama bermuara kepadanya.6 Penilaian ini bukan berlebihan kalau ditelusuri isinya: dalam satu percakapan yang sama, hadits ini menjelaskan rukun Islam (amal lahiriah), rukun iman (keyakinan batiniah), dan ihsan (kesempurnaan/ruh dari keduanya) - tiga tingkatan din (agama) yang biasanya dibahas terpisah-pisah di kitab-kitab fiqih, akidah, dan tasawuf, tapi di sini disatukan dalam satu riwayat yang sama.
Keempat: Islam - Lima Perkara yang Tampak Lahiriah
Jawaban Nabi shallallahu 'alaihi wasallam atas pertanyaan "apa itu Islam" mencakup lima perkara: dua kalimat syahadat (bersaksi tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya), shalat, zakat, puasa Ramadhan, dan haji bagi yang mampu. Lima perkara ini persis sama dengan hadits masyhur lain yang menyebut "Islam dibangun di atas lima perkara" (buniyal-Islamu 'ala khams) - riwayat yang berbeda, dengan bab tersendiri di Shahih al-Bukhari, tapi berbicara tentang kerangka yang sama.7 Kelima perkara ini disebut Islam karena sifatnya lahiriah - bisa disaksikan dan diperiksa oleh orang lain: seseorang bisa dilihat mengucapkan syahadat, shalat, membayar zakat, berpuasa, dan berhaji. Karena itulah dalam istilah fiqih, Islam sering diposisikan sebagai zhahir (yang tampak), pintu masuk seseorang ke dalam agama ini secara hukum di dunia.
Kelima: Iman - Enam Perkara yang Tersembunyi di Hati
Berbeda dengan Islam, jawaban Nabi atas pertanyaan "apa itu iman" mencakup enam perkara yang seluruhnya berupa keyakinan batin: beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik maupun buruk. Keenam perkara ini yang kemudian dikenal luas sebagai arkanul iman atau rukun iman - kerangka akidah paling dasar yang diajarkan kepada setiap muslim sejak kecil. Karena letaknya di hati, iman tidak bisa diperiksa langsung oleh manusia lain sebagaimana Islam bisa - dua orang bisa terlihat sama-sama shalat dan berpuasa, tapi keyakinan batin yang menggerakkan keduanya hanya diketahui pasti oleh Allah.
Ulama menjelaskan bahwa Islam dan iman, ketika disebut bersamaan dalam satu konteks seperti hadits ini, dipahami sebagai dua sisi yang berbeda tapi saling melengkapi: Islam adalah istislam (penyerahan diri dan ketundukan lahiriah) kepada Allah, sementara iman adalah tashdiq (pembenaran) dan pengakuan hati.8 Namun ketika salah satu kata disebut sendirian - tanpa didampingi kata yang lain - cakupan maknanya meluas mencakup keduanya sekaligus. Inilah kaidah yang kemudian dikenal di kalangan ulama sebagai "apabila Islam dan iman disebut terpisah, masing-masing mencakup makna yang lain; tapi bila disebut bersamaan, masing-masing punya makna tersendiri" - sebuah kaidah yang menjelaskan kenapa Al-Qur'an dan hadits kadang memakai kata "muslim" dan kadang memakai kata "mukmin" untuk merujuk kelompok orang yang sama.
Keenam: Ihsan - Puncak dari Islam dan Iman
Pertanyaan ketiga Jibril - tentang ihsan - dijawab Nabi dengan kalimat yang barangkali paling sering dikutip dari seluruh hadits ini: an ta'budallaha ka'annaka tarahu, fa in lam takun tarahu fa innahu yaraka - "engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu." Definisi ini menempatkan ihsan bukan sebagai rukun ketiga yang berdiri sendiri di samping Islam dan iman, melainkan sebagai ruh atau kualitas yang menyempurnakan keduanya - bagaimana seharusnya sebuah amal Islam dan sebuah keyakinan iman dijalani, bukan sekadar apa yang harus dikerjakan atau diyakini.
Kalimat definisi ihsan ini mengandung dua tingkatan yang biasa dijelaskan para ulama secara berjenjang. Tingkatan pertama, musyahadah - beribadah dengan penghayatan seakan-akan benar-benar melihat Allah, didorong oleh kecintaan dan kerinduan. Tingkatan kedua, lebih rendah tapi tetap sah, muraqabah - beribadah dengan keyakinan penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi, didorong oleh rasa takut dan malu jika lalai. Siapa pun yang menjalankan ibadahnya dengan salah satu dari dua penghayatan ini - baik karena cinta maupun karena kesadaran diawasi - sudah disebut mencapai ihsan dalam ibadahnya. Sebaliknya, ibadah yang dikerjakan tanpa penghayatan sama sekali, sekadar gerakan lahiriah kosong, kehilangan unsur ihsan meski secara fiqih tetap bisa jadi sah.9Prinsip yang sama juga berlaku dalam menuntut ilmu - ilmu yang dipelajari dengan penghayatan dan kesungguhan membawa nilai yang jauh berbeda dari ilmu yang sekadar dihafal tanpa kesadaran untuk apa ia dipelajari.
Ketujuh: Kenapa Jibril Bertanya Padahal Ia Sendiri Tahu Jawabannya
Salah satu keunikan hadits ini - dan salah satu pelajaran yang paling sering dicatat para pensyarah - adalah cara Jibril bertanya. Ia bukan bertanya karena tidak tahu, sebab di akhir hadits sendiri Nabi menegaskan bahwa kedatangan Jibril memang bertujuan mengajarkan agama kepada para sahabat, bukan mencari jawaban untuk dirinya sendiri. Pola tanya-jawab ini - seorang yang sudah tahu jawabannya tetap bertanya demi kepentingan orang yang mendengarkan - dikenal dalam tradisi keilmuan Islam sebagai salah satu metode pengajaran yang sah dan efektif, sering disebut dengan istilah as-su'al lit-ta'lim (bertanya untuk tujuan mengajarkan). Detail lain yang tidak kalah penting: Jibril datang dalam wujud seorang laki-laki asing berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam, duduk merapat menyandarkan lutut ke lutut Nabi - postur duduk seorang murid yang sungguh-sungguh ingin belajar, bukan sekadar bertanya sambil lalu. Postur inilah yang kemudian sering dijadikan rujukan adab menuntut ilmu: duduk dekat, penuh perhatian, dan sopan di hadapan yang mengajarkan ilmu.
Para sahabat sendiri mengaku heran melihat pola tanya-jawab ini - "kami pun heran, ia bertanya sekaligus membenarkan jawabannya" - karena secara kebiasaan, orang bertanya karena tidak tahu, bukan untuk kemudian membenarkan jawaban yang sudah ia ketahui sendiri. Keheranan itu justru menjadi petunjuk bahwa penanya ini bukan orang biasa, sebelum akhirnya identitasnya sebagai Jibril diungkap Nabi di penghujung hadits.
Kedelapan: Batas Ilmu Manusia Tentang Hari Kiamat
Ketika Jibril bertanya kapan hari Kiamat terjadi, jawaban Nabi tegas: "yang ditanya tidaklah lebih tahu dari yang bertanya" - sebuah pengakuan langsung dari Nabi sendiri bahwa waktu pasti terjadinya Kiamat termasuk perkara gaib yang hanya diketahui Allah, tidak diberitahukan bahkan kepada Nabi-Nya sendiri. Ini sejalan dengan penegasan Al-Qur'an bahwa ilmu tentang hari Kiamat ada di sisi Allah semata. Sikap ini penting dicatat sebagai rambu bagi siapa pun yang mengklaim mengetahui waktu pasti Kiamat lewat hitungan atau ramalan tertentu - klaim semacam itu bertentangan langsung dengan pengakuan Nabi sendiri dalam hadits ini.
Meski tidak menjawab soal waktu pastinya, Nabi tetap memberikan dua tanda yang akan mendahului hari Kiamat: budak perempuan melahirkan tuannya, dan orang-orang miskin yang dulunya tidak beralas kaki serta tidak berpakaian layak berlomba-lomba meninggikan bangunan. Tanda pertama oleh para ulama ditafsirkan sebagai gambaran zaman ketika hubungan kekeluargaan menjadi kacau atau ketika perbudakan meluas sedemikian rupa hingga fenomena semacam itu jadi lumrah; tanda kedua digambarkan sebagai perubahan drastis kondisi ekonomi masyarakat - dari kemiskinan menuju gaya hidup bermewah-mewahan dalam bangunan, sebuah gambaran yang oleh banyak orang dianggap relevan dengan perubahan sosial di berbagai belahan dunia hari ini.
Kesembilan: Relevansi Praktis dalam Keseharian
Kerangka Islam-Iman-Ihsan dalam hadits ini bukan sekadar susunan teori akidah, melainkan peta yang bisa dipakai untuk memeriksa kualitas keberagamaan seseorang secara bertahap. Islam memeriksa apakah rukun-rukun lahiriah sudah dijalankan - shalat lima waktu, zakat, puasa, dan seterusnya. Iman memeriksa apakah keyakinan di baliknya sudah kokoh - percaya kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir, bukan sekadar ikut-ikutan tanpa dasar. Ihsan memeriksa yang paling dalam: apakah amal-amal lahiriah dan keyakinan batiniah itu dijalani dengan penghayatan sungguh-sungguh, atau sekadar rutinitas kosong.
Tiga lapis pemeriksaan ini relevan untuk hampir semua aktivitas keagamaan, termasuk aktivitas menuntut ilmu di jalur-jalur pembelajaran hadits seperti Arbain Nawawi ini sendiri. Seseorang bisa saja rajin hadir di majelis, tapi kalau hadirnya sekadar formalitas tanpa keyakinan yang benar tentang pentingnya ilmu itu, dan tanpa penghayatan bahwa ilmu tersebut sedang diawasi dan dinilai Allah, maka yang didapat hanya kulit dari sebuah proses belajar, bukan isinya. Memahami dasar-dasar ilmu hadits dan bagaimana sebuah hadits diriwayatkan lewat sanad, matan, dan rawi sekalipun, kalau tidak disertai kesadaran untuk apa ilmu itu dipelajari, kehilangan ruh yang sesungguhnya dijelaskan dalam bagian ihsan hadits ini.
Penutup
Hadits kedua Arbain Nawawi ini pendek durasinya sebagai sebuah percakapan, tapi luas sekali cakupannya sebagai sebuah pelajaran - merangkum Islam, iman, dan ihsan sekaligus dalam satu riwayat, ditutup dengan pengingat tentang batas ilmu manusia soal hari akhir. Kedudukannya sebagai ummus sunnah bukan pujian berlebihan, melainkan pengakuan jujur atas betapa banyak cabang ilmu agama yang sesungguhnya bisa ditelusuri kembali ke percakapan singkat antara Jibril dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ini. Hadits pertama Arbain Nawawi tentang niat menjelaskan syarat diterimanya sebuah amal dari sisi motifnya; hadits kedua ini melengkapi dengan memetakan seluruh bangunan agama yang amal itu berada di dalamnya. Pembahasan hadits-hadits Arbain Nawawi lainnya akan menyusul di kesempatan berikutnya.
Catatan & Referensi
Redaksi pembuka artikel ini (matan hadits Jibril yang dicantumkan Imam An-Nawawi dalam Al-Arbain An-Nawawiyah) dikutip dari sumber sekunder berbahasa Indonesia, situs yang seluruhnya didedikasikan untuk koleksi ini, dan dicek silang terhadap kutipan matan yang sama pada Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam (dibaca via ar.wikisource.org, lihat catatan 3) - keduanya mencakup klausa yang sama secara lengkap, termasuk pertanyaan tentang hari Kiamat dan tanda-tandanya, hanya berbeda pada variasi ejaan/tanda baca kecil yang lazim antar-edisi cetak. Berbeda dengan hadits pertama Arbain Nawawi - di mana redaksi An-Nawawi ternyata gabungan unsur dari riwayat Bukhari dan Muslim sekaligus - untuk hadits kedua ini An-Nawawi hanya mencantumkan satu riwayat secara utuh: riwayat Imam Muslim dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, karena hadits ini memang hanya diriwayatkan Muslim (lihat pembahasan tafarrud di bagian "Pertama" di atas). Redaksi ini juga dicek terhadap data hadits Shahih Muslim nomor internal 93 yang sudah diverifikasi di Ngaji Sanad - cocok kata demi kata di luar variasi ejaan kecil yang sama; lihat /hadits/muslim/93/. Perlu dicatat: situs-situs referensi Indonesia umumnya mengutip hadits ini sebagai "Shahih Muslim no. 8" - nomor tersebut mengikuti skema penomoran rujukan gaya sunnah.com yang berbeda dari nomor urut internal data Ngaji Sanad (yang mengikuti urutan riwayat penuh dalam kitab, dimulai dari Muqaddimah Shahih Muslim, sehingga bergeser +85 dari skema umum di titik ini) - keduanya merujuk hadits yang sama, hanya sistem penomoran sumbernya berbeda. Baris data mentah nomor 93 ini juga memuat sanad pengantar riwayat tentang perdebatan takdir di Bashrah (kisah Yahya bin Ya'mar dan Ibnu Umar) sebelum masuk ke matan hadits Jibril itu sendiri - bagian pengantar itu tidak dikutip di badan artikel karena bukan bagian dari matan hadits Jibril yang dimaksud, hanya konteks periwayatannya.
↩Teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits Shahih al-Bukhari nomor internal 50 (Kitab Iman, bab 38: "Su'alu Jibrila an-Nabiyya 'anil-Imani wal-Islami wal-Ihsani wa 'ilmis-sa'ah"), diverifikasi lewat pencocokan isi terhadap kurasi kitab/bab Ngaji Sanad. Lihat /hadits/bukhari/50/. Bagian tengah hadits (pertanyaan tentang hari Kiamat, tanda-tandanya, dan kutipan ayat QS. Luqman 34) dipadatkan dengan tanda elipsis (...) di kutipan blockquote di atas untuk menjaga fokus pada tiga definisi Islam-Iman-Ihsan; teks lengkapnya tersedia utuh di halaman hadits yang ditautkan.
↩Dinukil dari Ibnu Rajab al-Hanbali, Jami' al-'Ulum wal-Hikam, syarah hadits kedua Arbain Nawawi (termasuk pernyataan tentang keagungan kedudukan hadits ini dan penjelasan pembedaan makna Islam sebagai istislam/penyerahan diri lahiriah versus iman sebagai tashdiq/pembenaran hati), dibaca dan diverifikasi langsung dari salinan digital naskah kitab tersebut di ar.wikisource.org - termasuk memastikan bahwa matan hadits yang dikutip Ibnu Rajab sendiri di awal syarahnya ini mencakup seluruh klausa yang sama dengan riwayat Muslim (lihat catatan 1), tidak ada bagian yang terpotong. Karya syarah klasik lain yang juga sering disebut untuk hadits ini - Ibnu Daqiq al-'Id, Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah - disebutkan berulang oleh sumber-sumber sekunder sebagai rujukan penting (lihat catatan 4), namun isinya belum sempat diverifikasi langsung dari naskah aslinya dalam penulisan artikel ini (akses ke Maktabah Syamilah/shamela.ws terblokir untuk pengambilan otomatis, pola yang sudah beberapa kali ditemukan dalam proyek ini).
↩Pernyataan Ibnu Daqiq al-'Id yang menjuluki hadits ini sebagai "ummus sunnah" (induk as-Sunnah), setara dengan Al-Fatihah sebagai "ummul Qur'an", disarikan dari sumber sekunder (sumber sekunder berbahasa Indonesia, yang menukil dari terjemahan cetak Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah) - bukan hasil pembacaan langsung naskah asli kitab Ibnu Daqiq al-'Id, sehingga disajikan sebagai kutipan yang dinukil (bukan diverifikasi silang terhadap manuskrip aslinya).
↩Hadits "Islam dibangun di atas lima perkara" (buniyal-Islamu 'ala khams) adalah riwayat terpisah dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, dicatat Bukhari di kitab dan bab yang sama (Kitab Iman) tapi dengan nomor dan sanad berbeda dari hadits Jibril yang dibahas artikel ini - disebut di sini hanya sebagai pembanding kerangka lima rukun Islam, bukan bagian dari hadits kedua Arbain Nawawi itu sendiri.
↩Poin-poin umum syarah (kedudukan hadits sebagai ummus sunnah, penjelasan dua tingkatan ihsan - musyahadah dan muraqabah, kaidah penyebutan Islam-iman terpisah versus bersamaan, tafsir dua tanda kiamat) disintesis dari pembacaan ulang beberapa sumber rujukan berbahasa Indonesia, termasuk sumber sekunder berbahasa Indonesia - bukan kutipan langsung.
↩