Ikhlas dalam Menuntut Ilmu

Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan sebelum membuka kitab, mengikuti kajian, atau mendaftar kelas baru: untuk apa sebenarnya ilmu ini dicari? Banyak orang sibuk memikirkan metode belajar yang benar, guru yang tepat, atau kurikulum yang sistematis. Semua itu penting. Tapi ada satu hal yang datang lebih dulu, jauh sebelum semua itu, yaitu niat. Dalam ilmu agama, niat atau niyyah bukan pelengkap. Niat adalah fondasi yang menentukan apakah ilmu yang dikumpulkan itu benar-benar bermanfaat atau justru menjadi beban di akhirat.

Tidak sedikit orang yang sangat rajin belajar, hafal banyak dalil, aktif di berbagai kajian, tapi ada yang terasa kosong dalam dirinya. Bukan karena ilmunya kurang, tapi karena arah hatinya bergeser. Ilmu yang tadinya dicari karena Allah, pelan-pelan berubah jadi alat untuk mengejar pengakuan. Ingin dipanggil ustadz. Ingin dianggap paham. Ingin terlihat lebih alim dari yang lain. Di sinilah riya' mulai menyusup, bukan sebagai niat awal yang disadari, tapi sebagai pergeseran halus yang jarang disadari sendiri.

Pertama: Niat Adalah Fondasi, Bukan Formalitas di Awal Belajar

Dalam tradisi keilmuan Islam, hampir setiap kitab adab menuntut ilmu memulai pembahasannya dengan satu hadits yang sama — hadits yang begitu mendasar hingga Imam Al-Bukhari menempatkannya sebagai pembuka kitab Shahih-nya, dan Imam An-Nawawi menjadikannya hadits pertama dalam kumpulan Arbain-nya.1

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
"Sesungguhnya setiap amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin diraihnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya itu." (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu)

Hadits ini turun dalam konteks hijrah, tapi para ulama sepakat kaidahnya berlaku untuk seluruh jenis amal, termasuk menuntut ilmu. Dua orang bisa duduk di majelis yang sama, membuka kitab yang sama, bahkan menghafal dalil yang sama persis — tapi nilai amal keduanya di sisi Allah bisa sangat berbeda, karena yang membedakan bukan bentuk luar amal itu, melainkan apa yang tersimpan di hati saat melakukannya. Niat inilah yang menentukan arah: apakah ilmu itu jadi jalan mendekat kepada Allah, atau justru jadi kendaraan untuk mengejar dunia dengan kedok agama.

Kedua: Ilmu yang Dicari demi Dunia Tidak Akan Berbau Surga

Ada satu keterangan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang layak membuat siapa pun berhenti sejenak setiap kali membacanya. Bukan karena isinya rumit, tapi karena ancamannya begitu berat untuk sesuatu yang kelihatannya sepele, yaitu niat yang salah dalam belajar.

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ، لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk meraih keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapati wangi (aroma) surga pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud no. 3664, Ibnu Majah no. 252, dan Ahmad no. 8457, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — dinilai sahih oleh Al-Albani)

Coba perhatikan, ilmu yang dimaksud di sini bukan ilmu yang keliru atau ilmu yang batil. Ini ilmu yang benar, ilmu agama, ilmu yang "seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah". Tapi karena niatnya bergeser untuk keuntungan dunia, orangnya tetap tidak mendapat wanginya surga. Artinya, benarnya ilmu saja tidak cukup. Ikhlas dalam mencarinya adalah syarat yang berdiri sendiri, terpisah dari benar atau salahnya materi yang dipelajari.

Ini pelajaran penting bagi siapa pun yang belajar musthalah hadits, fiqih, atau bidang apa pun. Seseorang bisa saja paham istilah-istilah rumit, tahu mana riwayat yang sanadnya mursal, mana yang munqati', mana yang sampai derajat mutawatir. Tapi kalau semua itu dikejar supaya dipuji "wah, hafalannya banyak", "ilmunya dalam", maka yang terkumpul bukan pahala, melainkan beban.

Ketiga: Tiga Golongan yang Pertama Diadili, dan Salah Satunya Orang Berilmu

Ada satu riwayat yang bahkan lebih keras lagi, karena menggambarkan langsung bagaimana perhitungan itu terjadi kelak. Ini bagian dari hadits tentang tiga golongan yang pertama kali diadili di hari kiamat, dan salah satunya justru orang yang belajar ilmu dan mengajarkannya.2

...ثُمَّ رَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ، قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ لِيُقَالَ عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
"...Kemudian didatangkan seorang yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an. Ia ditanya nikmat apa yang telah diberikan padanya, dan ia mengenalinya. Allah bertanya: 'Apa yang telah kau perbuat dengannya?' Ia menjawab: 'Aku belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an karena-Mu.' Allah berfirman: 'Kau dusta! Kau belajar agar disebut alim (berilmu), dan membaca Al-Qur'an agar disebut qari' (pembaca), dan itu sudah dikatakan (di dunia).' Lalu diperintahkan agar ia diseret wajahnya hingga dilemparkan ke neraka." (HR. Muslim no. 1905, Kitab al-Imarah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — petikan dari hadits tiga golongan yang pertama diadili)

Bayangkan, orang ini bukan pembohong biasa. Di dunia dia benar-benar belajar, benar-benar mengajar, benar-benar membaca Al-Qur'an. Amalnya nyata, bukan fiktif. Tapi Allah tahu isi hatinya, bahwa semua itu dilakukan supaya "dikatakan", supaya diakui orang. Dan pengakuan itu memang sudah dia dapat di dunia. Jadi habis sudah jatahnya, tidak ada lagi yang tersisa untuk akhirat.

Ini kenapa para pengajar sering mengingatkan muridnya untuk tidak berhenti pada pertanyaan "apa yang aku pelajari hari ini" saja, tapi juga "kenapa aku mau belajar ini". Dua pertanyaan itu kelihatannya mirip, tapi jawabannya bisa sangat berbeda arahnya. Dalam tradisi talaqqi — belajar langsung dari guru ke murid yang menjadi ciri khas cara ilmu agama diturunkan sejak dulu — pertanyaan kedua ini biasanya justru yang lebih sering ditanyakan guru kepada muridnya, bukan sekadar seberapa banyak yang sudah dihafal.

Keempat: Riya', Syirik yang Tersembunyi di Balik Amal Ilmu

Pergeseran niat yang dibahas di atas punya nama dalam bahasa syariat: riya'. Secara sederhana, riya' adalah beramal dengan tujuan dilihat atau dipuji manusia, bukan murni karena Allah. Bahayanya bukan main-main. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan menyebutnya lebih layak dikhawatirkan daripada fitnah Dajjal, karena sifatnya yang tersembunyi dan sulit dikenali dari luar.

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ ... الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنَ صَلَاتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
"Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang lebih aku khawatirkan menimpa kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal? ... (yaitu) syirik yang tersembunyi, seseorang berdiri shalat lalu ia memperindah shalatnya karena tahu ada orang lain yang melihatnya." (HR. Ibnu Majah no. 4204, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu — dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Istilah yang dipakai dalam hadits ini adalah syirkul khafi — syirik yang tersembunyi.3 Disebut tersembunyi karena orang yang terjangkit riya' biasanya tidak merasa dirinya musyrik. Ia tetap shalat, tetap belajar, tetap mengaji, hanya saja ada "sekutu" kecil dalam hatinya berupa keinginan dilihat dan diakui. Dalam konteks menuntut ilmu, syirkul khafi ini bisa menyusup lewat hal-hal yang terasa wajar: ingin unggahan kajian dibagikan banyak orang, ingin dianggap paling paham di antara teman seangkatan, atau ingin gelar/predikat tertentu lebih dari ingin ilmunya benar-benar menempel dan diamalkan.

Konsekuensi riya' terhadap amal juga dijelaskan langsung dalam sebuah hadits qudsi, yaitu firman Allah yang disampaikan melalui lisan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
"Aku (Allah) adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Siapa yang mengerjakan suatu amal dengan mempersekutukan-Ku dengan yang lain, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya itu." (HR. Muslim no. 2985, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Maksudnya, kalau ilmu itu dicari separuh karena Allah dan separuh karena ingin dipuji manusia, maka Allah "menyerahkan" bagian amal itu sepenuhnya kepada manusia yang dituju, dan pahala akhiratnya hilang. Bukan berkurang separuh — hilang sama sekali. Ini sebabnya para ulama menganggap menjaga niat justru lebih berat daripada menjaga ilmunya sendiri, karena niat bisa berubah dari waktu ke waktu tanpa terasa, sementara materi ilmu yang sudah dihafal biasanya tetap.

Kelima: Kenapa Ilmu Sanad Sekalipun Tidak Kebal dari Riya'

Menariknya, riya' tidak hanya mengintai orang yang belajar sembarangan. Justru orang yang belajar dengan serius, sistematis, dan bersanad pun sama-sama rawan terjangkit — bedanya hanya pada bentuk godaannya. Bagi yang belajar riwayah maupun dirayah, godaannya bisa berupa ingin dianggap punya sanad paling tinggi, guru paling terkenal, atau ijazah paling banyak — bukan karena nilai ilmu itu sendiri, tapi karena nilai sosial yang menyertainya. Di sinilah pentingnya menempatkan sanad pada posisi yang benar: sanad adalah bukti bahwa ilmu itu sampai dengan jalur yang jujur dan bisa dipertanggungjawabkan, bukan alat untuk pamer status.

Adab dalam hubungan murid dan guru juga punya peran besar menjaga niat ini tetap lurus. Semakin seorang murid menghormati proses belajarnya, sebagaimana dibahas dalam adab murid kepada guru dalam tradisi ulama, semakin ia terlatih untuk menempatkan diri sebagai penerima ilmu, bukan pemilik ilmu yang harus terus-menerus dipertontonkan. Sikap ini pula yang membedakan antara ilmu yang benar-benar berbuah amal dan ilmu yang berhenti sebagai koleksi pengetahuan — sebuah bahaya yang dibahas lebih dalam pada pembahasan ilmu tanpa amal dan kenapa Islam mengecamnya.

Keenam: Menguji dan Menata Niat, Refleksi yang Bisa Dicoba Setiap Hari

Salah satu cara paling jujur untuk mengecek niat adalah dengan membayangkan situasi ini: andaikan tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa seseorang belajar atau paham suatu ilmu, apakah semangatnya tetap sama? Kalau jawabannya masih ya, itu tanda baik. Tapi kalau semangat itu hanya muncul waktu ada yang menyaksikan, waktu ada forum untuk dipamerkan, itu saatnya berhenti sejenak dan meluruskan niat kembali.

Ulama salaf sendiri sangat menekankan betapa berharganya niat, sampai-sampai ada yang menyebut satu amal kecil bisa jadi jauh lebih bernilai daripada amal besar, semata karena bedanya niat yang menyertai. Imam Abdullah bin Al-Mubarak, salah satu ulama besar generasi tabi'ut tabi'in yang dikenal luas keilmuan dan kezuhudannya, meninggalkan sebuah perkataan yang terus dikutip para pendidik hingga sekarang:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
"Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat." (Perkataan Imam Abdullah bin Al-Mubarak, dinukil Imam Adz-Dzahabi dalam Siyar A'lam an-Nubala 8/400)

Perkataan ini bukan sabda Nabi, melainkan atsar — nasihat seorang ulama besar yang dipetik dari pengalaman panjangnya bergaul dengan ilmu dan para ahli ilmu. Tapi bobotnya tetap besar: satu jam belajar yang sunyi, tidak dilihat siapa pun, bisa jadi lebih berat timbangannya di akhirat daripada satu jam mengajar yang disorot banyak mata tapi diselipi keinginan dipuji.

Ketujuh: Ikhlas Bukan Berarti Menutup Diri dari Pujian

Ikhlas bukan berarti seseorang tidak boleh senang ketika dipuji, atau tidak boleh berbagi ilmu di depan umum. Bukan itu. Ikhlas adalah soal siapa yang menjadi tujuan utama dari semua usaha itu. Kalau Allah tetap menjadi tujuan utama, pujian orang lain hanya menjadi bonus yang tidak mengubah arah hati. Tapi kalau pujian itu sendiri yang menjadi tujuan, di situlah letak bahayanya, walau dari luar kelihatannya sama-sama "belajar agama".

Sikap ini erat kaitannya dengan tawadhu dalam berilmu — semakin seseorang merasa ilmunya sedikit dan semata titipan dari Allah, semakin ringan baginya melepaskan keinginan untuk selalu diakui. Sebaliknya, semakin ilmu dianggap sebagai pencapaian pribadi yang harus terus dipamerkan, semakin besar pula ruang bagi riya' untuk tumbuh tanpa disadari.

Menata niat ini bukan pekerjaan sekali jadi. Perlu latihan terus-menerus, perlu muhasabah rutin, dan perlu lingkungan yang mengingatkan, bukan yang justru memupuk riya'. Kalau kamu ingin belajar bagaimana menata hati dan memperbaiki adab dalam proses menuntut ilmu, bukan sekadar teori tapi lewat praktik nyata sehari-hari, kamu bisa ikuti kelas Adab & Akhlak: Menata Hati dan Perilaku. Untuk mengenal lebih jauh sosok pengajarnya, silakan mampir ke profil pengajar kami.

Catatan & Referensi

  1. Hadits ini diriwayatkan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, tercatat sebagai hadits pertama dalam Shahih al-Bukhari (Kitab Bad'ul Wahyi) dan hadits pertama dalam Al-Arba'in an-Nawawiyah karya Imam An-Nawawi. Imam Asy-Syafi'i menyebut hadits ini masuk ke dalam kandungan sekitar 70 bab fikih, dan para ulama sepakat atas keagungan serta banyaknya faedah di dalamnya.

  2. Hadits lengkapnya (HR. Muslim no. 1905) menyebutkan tiga golongan yang pertama diadili dan dilemparkan ke neraka karena niat yang tidak lurus: mujahid yang berperang agar disebut pemberani, orang berilmu yang belajar dan mengajar agar disebut alim, serta orang kaya yang bersedekah agar disebut dermawan. Ketiganya sama-sama beramal secara nyata, tapi niatnya condong kepada pengakuan manusia, bukan kepada Allah.

  3. Istilah syirkul khafi (syirik tersembunyi) dipakai untuk membedakannya dari syirik besar (syirik akbar) yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Riya' termasuk kategori syirik kecil (syirik ashghar) — tidak membatalkan keislaman, tapi bisa membatalkan pahala amal yang disusupinya jika tidak segera diluruskan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email