Tawadhu dalam Berilmu

Ada satu pola yang berulang setiap kali menelusuri riwayat hidup para ulama besar dalam sejarah Islam: semakin dalam ilmu yang mereka miliki, semakin sederhana dan rendah hati sikap yang mereka tampilkan. Secara logika duniawi, semestinya semakin tinggi capaian seseorang, semakin wajar pula ia merasa istimewa. Namun dalam tradisi keilmuan Islam, logika itu justru dibalik: semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tawadhu' (kerendahan hati) yang seharusnya ia miliki, bukan malah semakin sombong.

Ini bukan sekadar nasihat moral yang mengambang tanpa dasar. Paradoks ini nyata terjadi pada diri para ulama sepanjang sejarah, dan justru menjadi salah satu tanda keberkahan ilmu itu sendiri — bukan kebetulan, tapi buah dari cara mereka memandang ilmu dan kedudukan mereka di hadapan Allah.

Paradoks Ilmu: Semakin Tinggi, Semakin Rendah Hati

Perhatikan pola yang mudah dijumpai di majelis-majelis ilmu. Orang yang baru belajar sedikit tentang agama biasanya justru yang paling berani berbicara, paling cepat menyalahkan orang lain, dan paling gampang merasa sudah paling benar. Sebaliknya, begitu ilmu seseorang makin dalam, ia justru makin sadar betapa luasnya apa yang belum ia ketahui. Ia jadi lebih berhati-hati dalam berbicara, lebih menghargai pendapat orang lain, dan lebih waswas jangan-jangan ilmunya disalahgunakan untuk kesombongan.

Di sinilah bahaya ujub mengintai. Ujub adalah perasaan kagum dan bangga pada diri sendiri karena merasa punya kelebihan, termasuk kelebihan dalam ilmu. Bedanya dengan sombong yang kasatmata, ujub kadang tidak kelihatan dari luar, tapi diam-diam menggerogoti hati. Orang yang terkena ujub biasanya merasa pendapatnya paling benar, merasa tidak perlu lagi belajar dari orang lain, dan pelan-pelan kehilangan kepekaan untuk introspeksi diri. Padahal ilmu itu amanah. Kalau amanah itu justru membuat hati semakin keras dan sombong, ada yang keliru dalam cara memaknai ilmu tersebut.

Karena itu para ulama salaf sangat menjaga hati mereka dari ujub. Mereka paham betul bahwa kedudukan di sisi Allah tidak ditentukan oleh seberapa banyak ilmu yang dihafal atau seberapa tinggi jabatan keagamaan yang disandang, tapi oleh seberapa ikhlas hati dalam menjalankannya, dan seberapa rendah hati sikap yang ditunjukkan.

Tawadhu' dalam Timbangan Al-Qur'an dan Hadits

Al-Qur'an sendiri menempatkan tawadhu' sebagai salah satu ciri utama hamba-hamba pilihan Allah, disebut dalam surah Al-Furqan sebagai 'ibadur rahman — hamba-hamba Ar-Rahman.

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS. Al-Furqan [25]: 63)1

Ayat ini menegaskan bahwa rendah hati bukan sifat tambahan bagi seorang hamba yang saleh, tapi ciri yang melekat pada mereka yang paling dekat dengan Allah — termasuk mereka yang paling luas ilmunya tentang-Nya. Semakin seseorang mengenal Allah lewat ilmu yang ia pelajari, semestinya semakin ia sadar akan kecilnya dirinya di hadapan keagungan-Nya.

Prinsip yang sama ditegaskan lebih jauh dalam hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Bukan sombong yang mengangkat derajat seseorang, tapi justru tawadhu':

وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
"Tidaklah seseorang bertawadhu' (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim no. 2588, bagian dari hadits yang lebih panjang tentang sedekah, pemaaf, dan tawadhu', dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)2

Perhatikan janji dalam hadits ini. Semakin seseorang merendahkan diri karena Allah, semakin Allah angkat kedudukannya, baik di mata manusia maupun di sisi-Nya. Ini rumus terbalik dari logika dunia, tapi justru rumus inilah yang berlaku dalam timbangan agama.

Sebagai lawan dari tawadhu', Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga memberi batasan yang sangat tegas tentang apa itu kesombongan atau kibr, sekaligus memperingatkan akibatnya:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan (kibr) seberat dzarrah, sekecil apa pun itu." (HR. Muslim no. 91, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu)3

Yang menarik, dalam kelanjutan hadits ini seorang sahabat bertanya, bagaimana jika seseorang hanya senang berpakaian bagus dan bersandal bagus — apakah itu termasuk kibr? Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan, lalu menjelaskan definisi kibr yang sesungguhnya: al-kibru batharul haqqi wa ghamthun-nas — kesombongan adalah menolak kebenaran (batharul haqq) dan meremehkan manusia (ghamthun-nas). Jadi kibr bukan soal penampilan lahiriah, tapi soal sikap batin: menolak nasihat dan koreksi ketika itu benar, serta memandang rendah orang lain karena merasa diri lebih berilmu. Inilah tepatnya lawan dari tawadhu' yang justru mengangkat derajat seseorang.

Imam Malik: Ulama Besar yang Tidak Merasa Besar

Salah satu contoh paling konkret dari paradoks ini adalah kisah Imam Malik bin Anas rahimahullah, pendiri madzhab Maliki yang keilmuannya diakui sepanjang zaman. Orang sekelas beliau, yang gurunya begitu banyak dan riwayatnya begitu kuat, ternyata tidak asal buka mulut untuk berfatwa. Beliau punya standar yang sangat ketat untuk diri sendiri sebelum berani mengeluarkan sebuah fatwa.

Muridnya sendiri, Abu Mus'ab Az-Zuhri, menukil perkataan Imam Malik yang sangat menohok bagi siapa saja yang merasa sudah cukup ilmu untuk berbicara atas nama agama.

مَا أَفْتَيْتُ حَتَّى شَهِدَ لِي سَبْعُونَ أَنِّي أَهْلٌ لِذَلِكَ
"Aku tidak berfatwa sampai tujuh puluh orang (ulama) bersaksi bahwa aku layak untuk itu." (Perkataan Imam Malik bin Anas rahimahullah, dinukil dari muridnya Abu Mus'ab Az-Zuhri, diriwayatkan dalam Hilyatul Auliya karya Abu Nu'aim al-Ashbahani)4

Penting digarisbawahi: perkataan ini bukan hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, melainkan atsar, yaitu perkataan seorang ulama besar tentang dirinya sendiri. Justru di situlah nilainya. Imam Malik, yang levelnya sudah lebih dari cukup untuk berfatwa menurut ukuran siapa pun, tetap menunggu pengakuan dari tujuh puluh ulama lain sebelum merasa pantas. Bukan karena beliau ragu pada ilmunya, tapi karena beliau paham besarnya risiko berbicara atas nama Allah dan Rasul-Nya tanpa kesiapan yang matang.

Sikap serupa juga terekam dalam kisah lain tentang beliau. Al-Khatib al-Baghdadi mengisahkan bahwa dalam satu kesempatan, Imam Malik ditanya empat puluh masalah, dan dari jumlah itu beliau hanya menjawab sebagian kecil — sisanya beliau jawab dengan "la adri," aku tidak tahu.5 Bahkan diriwayatkan ada seorang lelaki yang datang menempuh perjalanan selama enam bulan, diutus penduduk kampungnya untuk bertanya kepada Imam Malik, namun tidak satu pun pertanyaannya beliau jawab hingga lelaki itu bertanya apa yang harus ia sampaikan sepulangnya. Imam Malik menjawab singkat: katakan saja bahwa Malik tidak bisa menjawab. Kejujuran mengakui ketidaktahuan seperti ini, dari seorang ulama sekaliber Imam Malik, adalah bentuk tawadhu' yang jauh lebih berat timbangannya daripada sekadar merendah dengan kata-kata.

Bandingkan dengan kondisi yang sering dijumpai sekarang, di mana orang yang baru menghafal beberapa dalil saja sudah berani menyimpulkan hukum sendiri, bahkan menyalahkan pendapat ulama yang jauh lebih berilmu. Sikap Imam Malik mengajarkan bahwa semakin tinggi kapasitas seseorang, semakin ia sadar akan besarnya tanggung jawab yang menyertainya, sehingga kehati-hatian dan tawadhu' justru semakin kuat, bukan semakin longgar.

Tawadhu' dan Kesadaran akan Mata Rantai Sanad

Ini juga selaras dengan semangat sanad yang dijaga bersama di Ngajisanad. Ilmu diwariskan lewat rantai riwayah yang jelas, dari guru ke murid, generasi demi generasi, bukan sekadar klaim sepihak. Konsep ini dibahas lebih dalam pada artikel Mengapa Sanad Penting dalam Menuntut Ilmu? Seseorang yang menyadari betapa panjang dan beratnya rantai amanah ilmu yang ia pikul, biasanya justru semakin tawadhu', karena ia tahu dirinya hanyalah satu mata rantai kecil dari perjalanan ilmu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Kesadaran ini juga yang membuat sosok masyaikh — para guru dari guru, sebagaimana dijelaskan pada artikel Siapa Itu Masyaikh? Guru dari Para Guru — begitu dijaga kedudukannya dalam tradisi keilmuan Islam. Setiap pengajar, betapa pun dalam ilmunya, tetap menempatkan diri sebagai penerima dari mata rantai yang jauh lebih panjang di atasnya, bukan sebagai titik akhir atau sumber ilmu itu sendiri. Cara pandang seperti inilah yang menahan seseorang dari merasa paling tinggi hanya karena telah menempuh sejumlah kajian.

Menjadikan Pertambahan Ilmu sebagai Jalan Menuju Rendah Hati

Kalau sedang belajar ilmu agama, jadikan pertambahan ilmu sebagai pengingat untuk semakin rendah hati, bukan sebagai bahan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Setiap kali mulai merasa sedikit ujub dengan hafalan atau pemahaman yang dimiliki, ingat kembali kisah Imam Malik di atas. Kalau ulama sebesar itu saja masih begitu berhati-hati dan rendah hati, sudah sepatutnya siapa pun menahan diri dari merasa sudah cukup.

Tawadhu' dalam berilmu juga bukan sikap yang berdiri sendiri — ia berkaitan erat dengan keikhlasan niat dalam menuntut ilmu, sebagaimana dibahas pada artikel Ikhlas dalam Menuntut Ilmu, dan dengan bagaimana seorang murid semestinya bersikap kepada gurunya, seperti diuraikan dalam Adab Murid kepada Guru dalam Tradisi Ulama. Materi seperti ini termasuk yang diajarkan Ust. pengajar kami dalam kelas Adab & Akhlak: Menata Hati dan Perilaku di Ngajisanad, yang membahas penataan hati dan perilaku secara terstruktur, bukan sekadar sepotong-sepotong. Semoga ilmu yang dikejar benar-benar membawa keberkahan, bukan justru menjauhkan dari sifat tawadhu' yang seharusnya makin kuat seiring bertambahnya pemahaman.

Catatan & Referensi

  1. QS. Al-Furqan (25): 63, bagian pembuka dari rangkaian ayat yang menjelaskan sifat-sifat 'ibadur rahman (hamba-hamba Ar-Rahman) hingga ayat 77.

  2. Hadits ini adalah bagian dari riwayat yang lebih panjang dalam Shahih Muslim, Kitab al-Birr wash-Shilah wal-Adab, yang juga menyebutkan bahwa sedekah tidak mengurangi harta dan sifat pemaaf akan menambah kemuliaan seseorang, sebelum menutup dengan janji terangkatnya derajat orang yang bertawadhu' karena Allah.

  3. Hadits ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim, Kitab al-Iman, bab larangan kibr (sombong) dan penjelasannya, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

  4. Dinukil dalam Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya karya Abu Nu'aim al-Ashbahani, salah satu kitab biografi ulama salaf yang paling banyak dirujuk untuk mengenal keteladanan akhlak para imam madzhab.

  5. Kisah ini dinukil oleh Al-Khatib al-Baghdadi; riwayat lain menyebut angka yang sedikit berbeda (misalnya empat puluh delapan pertanyaan dengan tiga puluh dijawab "la adri"), namun inti kisahnya konsisten menggambarkan kehati-hatian Imam Malik dalam berfatwa.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email