Mengapa Sanad Penting dalam Menuntut Ilmu?

Coba perhatikan, setiap kali ada orang mengutip sebuah hadits, sebuah pendapat fiqh, atau penjelasan aqidah, ada satu pertanyaan yang jarang muncul tapi sebenarnya penting banget untuk ditanyakan: ilmu ini asalnya dari mana, dan siapa saja yang menyampaikannya sebelum akhirnya sampai ke kamu? Pertanyaan itulah yang dijawab oleh sanad. Dan justru karena jarang ditanyakan, banyak orang tidak sadar betapa besar perannya dalam menjaga keutuhan ilmu agama.

Pertama: Sanad Itu Apa Sebenarnya?

Kalau ditelusuri dari bahasanya, sanad berarti sandaran — tempat kamu bersandar atau berpegang. Dalam tradisi keilmuan Islam, sanad adalah rangkaian nama guru yang menyambungkan seseorang dengan sumber ilmu yang ia pelajari, sampai ke penulis kitab, perawi hadits, bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi kalau kamu dengar seorang ulama berkata "saya mempelajari kitab ini dari guru saya, yang mempelajarinya dari gurunya," itu artinya sanad sedang diucapkan.

Praktik ini paling sering kamu temui dalam ilmu hadits, di mana setiap riwayat harus punya rantai perawi yang jelas — siapa mendengar dari siapa, kapan, dan di mana. Tapi sanad tidak cuma berlaku di situ. Ijazah periwayatan juga berlaku untuk kitab-kitab fiqh, kitab aqidah, kitab bahasa Arab, bahkan qira'at Al-Qur'an. Ambil contoh orang yang mengajarkan kitab Fathul Qarib: idealnya, ia punya sanad yang menyambungkannya langsung kepada pengarang kitab itu, bukan sekadar pernah membaca terjemahannya saja.

Cara ilmu berpindah dari guru ke murid seperti ini dalam tradisi klasik disebut talaqqi — belajar langsung dari mulut ke mulut, bukan cuma membaca teks sendirian. Kalau kamu ingin memahami konsepnya lebih dalam, bisa baca Apa Itu Talaqqi? Belajar Langsung dari Mulut ke Mulut. Dan karena sanad pada dasarnya adalah "surat keterangan" bahwa seseorang benar-benar sudah menerima ilmu dari gurunya, ia juga sering disebut ijazah — istilah yang, meski mirip dengan "ijazah" di dunia pendidikan formal sekarang, sebenarnya membawa makna yang jauh berbeda; lihat Ijazah dalam Sanad vs Ijazah Sekolah: Mirip Nama, Beda Esensi untuk perbandingannya.

Kedua: Akar Sanad dalam Tradisi Ulama

Kebiasaan menyebutkan sanad bukan tradisi yang baru muncul belakangan. Para ulama generasi awal sudah sangat ketat soal ini, bahkan menjadikannya standar untuk menilai layak-tidaknya seseorang dipercaya sebagai sumber ilmu agama. Muhammad bin Sirin, salah satu ulama tabi'in yang dikenal sangat berhati-hati dalam periwayatan, meninggalkan sebuah atsar yang sangat masyhur soal ini:

إِنَّ هٰذَا الْعِلْمَ دِينٌ فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian." (Atsar Muhammad bin Sirin, dinukil oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim)1

Atsar ini bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, melainkan perkataan seorang ulama salaf — tapi bobotnya besar, karena ia merangkum sikap generasi awal umat ini terhadap ilmu: bukan sekadar soal isi, tapi juga soal dari siapa isi itu diterima. Sikap semacam ini juga yang mendorong tradisi rihlah — mengembara dari satu negeri ke negeri lain demi bertemu langsung dengan seorang guru dan mendengar satu hadits dari mulutnya sendiri, bukan sekadar membaca catatan orang lain tentangnya. Kisah lengkap tradisi ini bisa kamu baca di Rihlah fi Thalabil Hadits: Tradisi Mengembara Demi Satu Hadits.

Dari sinilah muncul disiplin ilmu yang secara khusus mempelajari cara menilai sanad — dikenal sebagai musthalah hadits atau ilmu ar-riwayah. Kalau kamu ingin masuk lebih dalam ke disiplin ini, Musthalah Hadits: Pengertian Ilmu Hadits dan Kitab Taisir Musthalah al-Hadits bisa jadi titik awal yang bagus.

Ketiga: Sanad Bukan Sekadar Formalitas

Ada yang menganggap sanad hanya tradisi seremonial, semacam sertifikat kehormatan tanpa fungsi praktis. Anggapan ini kurang tepat. Sanad justru mekanisme kontrol kualitas paling tua dan paling teruji dalam sejarah keilmuan Islam. Lewat sanad, satu generasi bisa memastikan bahwa pemahaman yang diwariskan tidak melenceng dari apa yang dipahami generasi sebelumnya.

Para ulama hadits mengenal istilah tadlis — praktik menyamarkan jalur periwayatan, entah dengan menyembunyikan guru yang sebenarnya, atau memberi kesan pernah bertemu dan belajar langsung padahal tidak. Para muhaddits menyusun kaidah yang sangat ketat untuk mendeteksi tadlis ini, karena mereka tahu betul: begitu jalur sanad kabur, ilmu yang disampaikan jadi rawan distorsi, salah kutip, atau bahkan disandarkan pada orang yang tidak pernah mengatakannya sama sekali. Bahasan lengkap soal tadlis dan kenapa isu ini jadi alasan utama Ngajisanad mewajibkan bukti sanad ada di Apa Itu Tadlis dalam Ilmu Hadits, dan Kenapa Ini Alasan Ngajisanad Mewajibkan Bukti Sanad.

Kewajiban meneliti asal sebuah berita atau ilmu ini bukan cuma tradisi ulama hadits — ini berpijak langsung pada perintah Al-Qur'an: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا — "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (tabayyun)" (QS. Al-Hujurat: 6). Banyak ulama menyebut ayat ini sebagai salah satu akar Al-Qur'an bagi lahirnya ilmu periwayatan dan penelitian sanad dalam Islam.2

Sanad bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, siapa pun bisa berkata apa saja yang ia mau.

Perkataan Ibnu al-Mubarak yang masyhur ini menegaskan satu hal: sanad bukan hiasan akademis, melainkan pertahanan struktural agama itu sendiri.3 Tanpa sanad, tidak ada cara membedakan mana ilmu yang autentik dan mana klaim yang dikarang belakangan.

Keempat: Ragam Bentuk Ijazah dan Cara Ilmu Diterima

Karena sanad menyangkut cara ilmu berpindah, para ulama Musthalah Hadits juga merinci berbagai metode penerimaan ilmu (thuruq at-tahammul) yang derajat kekuatannya berbeda-beda — mulai dari sama' (mendengar langsung bacaan guru), qira'ah (murid membacakan di hadapan guru untuk dikoreksi), sampai ijazah (izin tertulis untuk meriwayatkan sebuah kitab tanpa membacanya ulang secara penuh). Delapan cara klasik ini dibahas lengkap di 8 Cara Klasik Menerima Hadits (Bukan Cuma Sama' dan Ijazah), dan perbedaan mendasar antara dua jenis bukti yang paling umum kamu temui bisa dibaca di Ijazah Tertulis vs Sama': Dua Jenis Bukti Sanad dan Bedanya.

Praktik sama' inilah yang, misalnya, mendasari kelas Sama' Shahih al-Bukhari: Muqaddimah di Ngajisanad — pesertanya tidak sekadar membaca kitab Shahih al-Bukhari, tapi menyimak bacaannya langsung dari pengajar yang sanadnya tersambung ke penyusun kitab tersebut. Kalau kamu penasaran seperti apa rantai transmisi utuh sebuah kitab hadits terlihat, graf sanad Shahih al-Bukhari di Ngajisanad menampilkannya secara visual, node demi node, dari Imam al-Bukhari sampai ke pengajar masa kini.

Kelima: Belajar Agama di Zaman Serba Digital, Tantangannya Apa?

Sekarang ini, siapa saja bisa merekam video, menulis utas, atau membuat kanal dengan judul yang meyakinkan — tanpa perlu menjelaskan dari mana pemahamannya berasal. Satu potongan ceramah bisa viral dalam hitungan jam, dikutip ribuan kali, padahal tidak ada yang benar-benar tahu siapa pembicaranya, di mana ia belajar, atau apakah pemahamannya pernah diuji oleh guru yang lebih senior.

Keadaan seperti ini memunculkan masalah baru yang tidak dihadapi generasi sebelumnya: informasi agama melimpah, tapi rantai pertanggungjawabannya tidak seimbang. Seseorang bisa saja sangat fasih berbicara, tapi pemahamannya keliru dan tidak pernah dikoreksi siapa pun — sebab memang tidak ada guru yang jadi tempat ia bersandar dan bertanggung jawab.

Kefasihan berbicara bukan bukti kebenaran ilmu. Sanad adalah bukti bahwa ilmu itu pernah diuji, dikoreksi, dan diwariskan dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, memilih tempat belajar agama secara daring sekarang butuh kehati-hatian ekstra — bukan cuma soal materi atau tampilan platformnya, tapi soal siapa sebenarnya yang mengajar dan dari mana pemahamannya berasal. Tujuh hal yang perlu kamu cek sebelum memilih guru ngaji daring, termasuk soal sanad ini, sudah dirangkum di Cara Memilih Guru Ngaji Online untuk Dewasa: 7 Hal yang Wajib Dicek (Termasuk Sanad-nya).

Keenam: Lalu, Bagaimana Ngajisanad Menjaga Hal Ini?

Prinsip itulah yang jadi dasar cara Ngajisanad menyusun profil setiap pengajarnya. Bagi kami, sanad bukan sekadar baris keterangan di halaman profil, tapi rangkaian yang benar-benar bisa kamu telusuri: nama guru, jenis ijazah yang diterima, dan — sedapat mungkin — dokumen pembuktiannya. Setiap mata rantai yang dicantumkan dilengkapi tautan "Bukti" yang mengarah pada ijazah tertulis atau catatan sama', jadi kamu tidak perlu percaya begitu saja pada sebuah klaim.

Ambil contoh profil salah satu pengajar kami, yang menampilkan riwayah sanad hadits lengkap dengan jalur pembuktiannya, atau pengajar lain kami yang sanad aqidahnya bisa ditelusuri sampai ke gurunya, KH. 'Aly Mas'adi Al Mojokertowi — seorang masyaikh, yakni guru dari para guru yang mungkin tidak pernah mengajar langsung di platform ini tapi tetap tercatat sebagai mata rantai yang sah. Kalau istilah "masyaikh" ini masih asing, penjelasannya ada di Siapa Itu Masyaikh? Guru dari Para Guru.

Cara ini memang menuntut lebih banyak kerja dibanding sekadar menuliskan gelar atau menyebut "belajar di Timur Tengah" secara umum. Tapi justru di situlah nilainya: Ngajisanad berusaha mengembalikan standar lama ke ruang digital, agar kamu sebagai penuntut ilmu masa kini tetap bisa memverifikasi dari siapa sebenarnya kamu belajar — sama seperti yang dilakukan generasi-generasi sebelumnya, jauh sebelum ada layar dan koneksi internet.

Catatan & Referensi

  1. Atsar Muhammad bin Sirin ini dinukil oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Muqaddimah Shahih Muslim, pada bab yang menegaskan bahwa isnad (sanad) merupakan bagian dari agama dan bahwa riwayat hanya diterima dari orang-orang yang terpercaya (tsiqah).

  2. QS. Al-Hujurat ayat 6 turun terkait kisah utusan yang membawa kabar keliru tentang Bani al-Mushthaliq; para ulama Ulumul Hadits klasik menjadikan ayat ini sebagai salah satu dasar Al-Qur'an bagi kewajiban tabayyun (meneliti kebenaran suatu berita) sebelum diterima dan disebarkan, termasuk berita/ilmu keagamaan.

  3. Perkataan Abdullah bin al-Mubarak ini termasuk atsar yang paling sering dikutip dalam kitab-kitab Ulumul Hadits untuk menjelaskan kedudukan sanad, di antaranya dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim dan kitab-kitab Musthalah Hadits yang membahas kedudukan isnad dalam periwayatan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email