Rihlah fi Thalabil Hadits: Tradisi Mengembara Demi Satu Hadits

Coba bayangkan ini sebentar: ada kebiasaan dalam sejarah keilmuan Islam yang, kalau dipikir-pikir dengan cara berpikir kita hari ini, rasanya hampir tidak masuk akal. Seseorang rela menempuh perjalanan jauh, kadang sampai berbulan-bulan, hanya untuk memastikan dirinya mendengar satu hadits langsung dari mulut orang yang meriwayatkannya — bukan lewat perantara yang lebih jauh lagi. Tradisi ini dikenal dengan istilah rihlah fi thalabil hadits, mengembara demi mencari hadits. Ini bukan cerita romantis yang cuma manis dibaca di buku sejarah. Ini cerminan dari prinsip yang benar-benar serius: mendengar langsung dari sumber pertama — dalam istilah ilmu hadits disebut sama' — punya nilai yang tidak bisa digantikan oleh riwayat berlapis-lapis, yang selalu punya risiko bergeser di tengah jalan.

Praktik ini begitu penting sampai-sampai lahir satu genre kitab tersendiri yang membahasnya secara khusus, bukan sekadar anekdot yang tersebar acak di berbagai kitab sirah, melainkan disiplin yang dicatat, dibandingkan, dan diwariskan turun-temurun. Artikel ini menelusuri akar tradisi tersebut: dari mana ia bermula, kisah-kisah paling masyhur yang menyertainya, sampai bagaimana semangatnya tetap relevan bagi siapa saja yang hari ini ingin belajar hadits lewat jalur yang jelas dan bisa ditelusuri sanadnya.

Ketika Jarak Bukan Alasan untuk Berhenti Mencari

Di zaman yang belum ada rekaman suara, belum ada tulisan yang tersebar luas dan mudah diverifikasi, satu-satunya cara memastikan sebuah hadits benar-benar berasal dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah dengan mendengarnya langsung dari orang yang mendengarnya langsung pula — atau, kalau itu tidak mungkin, mendekat serapat-rapatnya ke sumber tersebut. Prinsip inilah yang membuat para sahabat dan generasi-generasi setelahnya tidak puas hanya mendengar kabar tentang sebuah hadits dari mulut ke mulut yang jauh dari sumbernya. Mereka ingin mendengar sendiri, dengan telinga mereka sendiri, dari orang yang pertama kali menyampaikannya.

Sikap ini bukan lahir dari kehati-hatian yang berlebihan. Ia lahir dari kesadaran bahwa ilmu agama itu amanah, dan amanah wajib dijaga keasliannya sebelum diteruskan ke orang lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri menegaskan besarnya keutamaan bagi siapa saja yang menempuh jalan demi mencari ilmu:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)

Hadits ini sering dipahami secara sempit, seolah cuma anjuran belajar apa saja.1 Tapi kalau dikaitkan dengan konteks rihlah fi thalabil hadits, maknanya jadi lebih tajam: jalan yang dimaksud di sini bukan sekadar jalan metaforis menuju pemahaman, tapi benar-benar jalan yang ditempuh dengan kaki, dengan biaya, dengan waktu yang dikorbankan — semata demi memastikan ilmu yang sampai ke umat ini bersih dari kekeliruan.

Kisah Jabir bin Abdillah: Sebulan Perjalanan demi Satu Hadits

Salah satu kisah rihlah yang paling masyhur disebutkan dalam riwayat adalah kisah sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma. Menurut riwayat yang masyhur, Jabir menempuh perjalanan sebulan penuh ke negeri Syam, hanya untuk mendengar langsung satu hadits tentang qisas di hari kiamat dari seorang sahabat lain, yaitu Abdullah bin Unais radhiyallahu 'anhu. Hadits itu belum pernah Jabir dengar sendiri dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, jadi ia merasa perlu memastikannya langsung dari orang yang benar-benar mendengarnya.2

Coba renungkan sejenak apa yang sebenarnya terjadi di sini. Seorang sahabat besar, yang sudah menghabiskan begitu banyak waktu bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, tidak merasa cukup hanya dengan kabar tentang sebuah hadits dari orang ketiga atau keempat. Ia memilih menempuh perjalanan sebulan — dengan segala risiko dan kesulitan perjalanan di masa itu — demi satu hadits saja. Bukan demi mengumpulkan sebanyak-banyaknya riwayat, bukan demi menambah koleksi, tapi demi satu kepastian: bahwa apa yang ia dengar benar-benar dari sumber yang tepercaya, disampaikan tanpa pergeseran makna maupun lafaz.

Kisah ini menjadi semacam fondasi bagi generasi-generasi setelahnya dalam memandang ilmu hadits. Bukan sekadar kumpulan kata-kata bijak yang bisa diterima begitu saja, melainkan riwayat yang jalur sanadnya harus bisa ditelusuri sampai ke sumber pertama — persis prinsip yang belakangan dirumuskan secara sistematis dalam ilmu musthalah hadits sebagai syarat ittishal, yaitu bersambungnya sanad tanpa ada mata rantai yang putus atau samar.

Rihlah Lain yang Tercatat dalam Sejarah

Jabir bin Abdillah bukan satu-satunya. Kisah semacam ini berulang dalam berbagai riwayat, dengan tokoh dan tujuan yang berbeda-beda, tapi motif yang sama persis: tidak puas dengan riwayat yang jauh dari sumbernya.

Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu, sahabat yang rumahnya pernah menjadi tempat tinggal pertama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika baru hijrah ke Madinah, tercatat menempuh perjalanan dari Madinah ke Mesir hanya untuk menemui Uqbah bin Amir radhiyallahu 'anhu. Alasannya sederhana: ada satu hadits tentang keutamaan menutup aib seorang mukmin yang, setahu Abu Ayyub, hanya dia dan Uqbah berdua saja yang pernah mendengarnya langsung dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena ingin memastikan riwayat itu benar dan tidak bergeser, Abu Ayyub menempuh jarak yang sangat jauh untuk ukuran perjalanan darat waktu itu, semata demi mengonfirmasi satu hadits dari mulut ke mulut yang paling dekat dengan sumbernya.3

Ada juga kisah Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang tabi'in besar dari Bashrah, yang menempuh perjalanan ke Kufah hanya untuk menanyakan satu perkara kepada Ka'b bin Ujrah radhiyallahu 'anhu: berapa besar fidyah yang harus dibayar seseorang yang sedang berihram lalu terpaksa mencukur rambutnya karena sakit. Pertanyaan ini berkaitan langsung dengan pengalaman Ka'b bin Ujrah sendiri saat Umrah Hudaibiyah, ketika kepalanya dipenuhi kutu sehingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkannya mencukur rambut dengan membayar fidyah sebagai gantinya — peristiwa yang belakangan dikaitkan dengan turunnya ayat fidyah dalam Surat Al-Baqarah. Al-Hasan al-Bashri tidak puas mendengar hukum ini dari orang lain; ia ingin mendengar langsung penjelasannya dari pelaku peristiwanya sendiri.4

Ada satu benang merah yang mudah terlewat dari kisah-kisah ini: tak satu pun dari mereka mengembara untuk mengumpulkan riwayat sebanyak-banyaknya. Yang mereka kejar justru sebaliknya — kepastian atas satu klaim tunggal, dengan menutup jarak seketat mungkin ke orang yang benar-benar mengalami atau mendengarnya. Semakin penting sebuah hadits atau sebuah hukum yang dibangun di atasnya, semakin besar pula kesungguhan untuk mendekat ke sumber aslinya. Ini bukan kebiasaan segelintir orang yang berlebihan dalam beragama, melainkan standar keilmuan yang dijunjung bersama oleh para sahabat dan tabi'in.

Mengapa Ketepatan Penyampaian Jadi Taruhan

Kesungguhan menempuh rihlah ini erat kaitannya dengan satu kesadaran yang dalam: ilmu yang disampaikan tidak akurat, meski niatnya baik, tetap berpotensi menyesatkan. Karena itu, generasi awal Islam sangat menekankan pentingnya menyampaikan hadits persis seperti yang didengar — tanpa ditambah, tanpa dikurangi, tanpa diubah susunannya sesuka hati. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan kecerahan wajah bagi orang yang menjaga amanah ini:

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ
"Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar hadits dariku lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu)

Doa ini bukan pujian kosong.5 Ia menunjukkan betapa Islam menempatkan ketelitian dalam periwayatan sebagai bagian dari keutamaan agama itu sendiri. Semakin dekat seseorang ke sumber asli sebuah hadits, semakin kecil ruang bagi makna bergeser saat sebuah kabar berpindah dari satu mulut ke mulut lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jadi rihlah fi thalabil hadits, pada intinya, adalah upaya nyata memperpendek jarak antara pendengar dan sumber — sekecil dan sesedikit mungkin perantara yang harus dilalui, atau dalam bahasa musthalah hadits: memperpendek sanad agar risiko tadlis (penyamaran cacat pada jalur riwayat) dan kekeliruan penyampaian bisa ditekan seminimal mungkin. Kalau kamu ingin mendalami lebih jauh bagaimana risiko semacam ini biasa disamarkan, ada bahasan khusus soal apa itu tadlis dalam ilmu hadits.

Ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits: Ketika Semangat Ini Dibukukan

Saking pentingnya tradisi ini, ia tidak berhenti jadi kumpulan anekdot yang tersebar di berbagai kitab sirah dan tarikh. Seorang ulama besar bernama Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit, yang lebih dikenal dengan gelar Al-Khatib al-Baghdadi (392–463 H), sampai menulis satu kitab tersendiri yang secara khusus membahas fenomena ini: Ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits, yang secara harfiah berarti "Mengembara dalam Mencari Hadits."6

Al-Khatib al-Baghdadi sendiri adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah ilmu hadits — seorang hafizh (penghafal hadits) sekaligus sejarawan, yang juga menulis kitab tarikh monumental Tarikh Baghdad. Dalam Ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits, ia mengumpulkan riwayat demi riwayat tentang bagaimana para sahabat dan generasi setelahnya menempuh perjalanan panjang, bukan untuk mengumpulkan banyak hadits sekaligus, melainkan seringnya justru demi satu hadits saja — persis seperti kisah Jabir bin Abdillah, Abu Ayyub al-Anshari, dan Al-Hasan al-Bashri di atas. Keberadaan kitab semacam ini menunjukkan sesuatu yang penting: rihlah fi thalabil hadits bukan cerita pinggiran dalam sejarah Islam, melainkan disiplin keilmuan yang dianggap layak dibukukan, dikaji, dan dijadikan teladan oleh generasi-generasi berikutnya — sama seriusnya dengan pembahasan ilmu hadits lain seperti klasifikasi hadits dhaif atau hadits mutawatir dan ahad.

Diteruskan oleh Generasi-Generasi Berikutnya

Tradisi rihlah ini tidak berhenti di zaman sahabat dan tabi'in. Ia diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya, termasuk para penyusun kitab-kitab hadits induk yang memang dikenal mengembara ke berbagai wilayah dunia Islam demi mengumpulkan riwayat langsung dari sumbernya. Imam Bukhari, misalnya, tercatat mengembara ke berbagai kota — dari Hijaz, Syam, Mesir, hingga wilayah-wilayah di Asia Tengah — dalam proses panjang menyusun Shahih al-Bukhari, kitab yang jalur riwayatnya sampai hari ini masih bisa ditelusuri lewat graf sanad Shahih al-Bukhari. Imam Ahmad bin Hanbal pun dikenal luas atas kegigihannya mengumpulkan ratusan ribu hadits lewat perjalanan panjang mencari guru-guru hadits, jauh sebelum keteguhannya sendiri diuji pada masa Mihnah. Pola yang sama juga melekat pada para penyusun Kutubus Sittah lainnya — enam kitab induk hadits yang justru lahir dari kebiasaan mengembara demi memastikan setiap riwayat benar-benar bersambung ke sumbernya.

Semangat yang sama yang menggerakkan Jabir bin Abdillah menempuh perjalanan sebulan penuh, terus hidup dalam diri para ulama hadits di sepanjang zaman: ilmu ini terlalu berharga untuk diterima sembarangan, dan terlalu penting untuk dibiarkan berpindah tangan tanpa jalur yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan.

Rihlah yang Diringkas, Bukan Ditinggalkan

Di zaman sekarang, tentu tidak semua orang mampu — atau perlu — menempuh perjalanan sebulan penuh demi satu hadits. Tapi semangat di balik rihlah fi thalabil hadits itu sebenarnya tidak pernah basi: keinginan untuk mendekat ke sumber yang jelas, untuk tahu dari siapa sebuah ilmu diterima — dalam istilah musthalah hadits disebut tahammul, proses menerima riwayat — dan untuk tidak puas dengan riwayat yang jalurnya tidak bisa ditelusuri. Kalau kamu penasaran ada berapa banyak cara tahammul yang dikenal ulama hadits, ada bahasan lengkapnya di 8 cara klasik menerima hadits.

Bandingkan dengan kebiasaan hari ini, ketika sepotong "kata mutiara" atau kalimat yang disebut "hadits" bisa menyebar ke jutaan orang hanya lewat forward pesan berantai, tanpa siapa pun repot-repot bertanya siapa yang pertama kali mengatakannya, apalagi apakah itu benar-benar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam atau sekadar kutipan yang disandarkan begitu saja. Justru di titik inilah semangat rihlah fi thalabil hadits terasa makin relevan, bukan makin usang: bukan soal berapa jauh jarak yang ditempuh, tapi soal keteguhan untuk selalu bertanya dari mana ilmu itu didapat, dan siapa yang bisa menjamin jalurnya sampai ke sumber pertama.

Itulah sebabnya menjaga dan mempublikasikan sanad — jalur transmisi keilmuan yang bisa diverifikasi lewat ijazah tertulis maupun sama' langsung — bukan sekadar formalitas administratif, tapi kelanjutan dari jiwa yang sama yang dulu mendorong Jabir bin Abdillah menempuh jarak sebulan perjalanan. Kalau kamu ingin tahu beda kedua jenis bukti sanad ini, ada bahasannya di ijazah tertulis vs sama'.

Kalau kamu ingin merasakan sedikit dari semangat sama' langsung ini, meski dalam format yang jauh lebih ringkas dan tidak perlu perjalanan berbulan-bulan, kamu bisa menelusuri kelas-kelas berjenis Riwayah yang dirancang untuk mewarisi ketersambungan itu — misalnya kelas Arbain An-Nawawi: Syarah Lengkap yang diampu salah satu pengajar kami, atau kelas Sama' Shahih al-Bukhari: Muqaddimah. Mendengar langsung dari pengajar yang sanadnya jelas dan bisa ditelusuri — sama seperti para pendahulu kita dahulu menempuh jarak demi satu hal yang sama: kepastian.

Catatan & Referensi

  1. Hadits riwayat Muslim, Kitab Adz-Dzikr wad Du'a wat Taubah wal Istighfar, no. 2699, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

  2. Kisah rihlah Jabir bin Abdillah ke negeri Syam untuk menemui Abdullah bin Unais diriwayatkan Imam Ahmad dalam Al-Musnad dan Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad (no. 970), serta disebutkan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Al-Baihaqi.

  3. Kisah rihlah Abu Ayyub al-Anshari ke Mesir menemui Uqbah bin Amir dicatat di antaranya oleh Al-Khatib al-Baghdadi dalam Ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits.

  4. Kisah rihlah Al-Hasan al-Bashri ke Kufah menemui Ka'b bin Ujrah tentang hukum fidyah juga dicatat dalam Al-Khatib al-Baghdadi, Ar-Rihlah fi Thalab al-Hadits; latar peristiwa fidyah Ka'b bin Ujrah sendiri berkaitan dengan riwayat seputar turunnya QS. Al-Baqarah: 196.

  5. Hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu; dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani dalam takhrijnya atas Kitab As-Sunnah.

  6. Al-Khatib al-Baghdadi (392–463 H), nama lengkap Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit, juga dikenal sebagai penulis kitab tarikh monumental Tarikh Baghdad.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email