Kutubus Sittah: Mengenal Enam Kitab Induk Hadits dan Para Penyusunnya

Lentera khas Ramadan, ilustrasi untuk artikel "Kutubus Sittah: Mengenal Enam Kitab Induk Hadits dan Para Penyusunnya"

Coba bayangkan begini: setiap kali kamu membuka kitab hadits, sebenarnya kamu sedang menyusuri jejak yang panjang sekali — rantai manusia yang saling menyampaikan, menghafal, memeriksa ulang, lalu menuliskan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dari ribuan kitab hadits yang pernah ditulis sepanjang sejarah Islam, ada enam kitab yang oleh mayoritas ulama disepakati sebagai rujukan paling utama. Enam kitab ini dikenal dengan sebutan Kutubus Sittah, artinya "enam kitab" — dalam ejaan Arabnya al-Kutub as-Sittah. Mengenal keenamnya bukan sekadar urusan hafal nama satu-satu, tapi juga cara kamu memahami bagaimana umat ini menjaga warisan kenabian lewat disiplin metodologi yang benar-benar ketat.

Kenapa Ketelitian Periwayatan Dijaga Sampai Sebegitu Rupa

Para penyusun kitab hadits ini tidak asal kerja. Mereka sadar betul bahwa menyampaikan ucapan Nabi bukan perkara sepele — sebab kalau salah meriwayatkan, artinya bisa salah pula memahami agama ini. Kesadaran semacam itulah yang tergambar jelas dalam hadits berikut.

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
"Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar hadits dariku lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, karena bisa jadi orang yang disampaikan lebih paham daripada yang mendengar langsung." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu)

Hadits ini kurang lebih menjadi etos kerja generasi Ahlul Hadits: sampaikan persis seperti yang diterima, tidak ditambah, tidak dikurangi, dan jangan asal tafsir sendiri. Dari etos itulah lahir disiplin ilmu hadits (musthalah hadits) dengan seperangkat kaidah yang rumit — mulai dari cara memeriksa sanad (rantai perawi), menilai matan (isi riwayat), sampai metode tahammul (cara menerima hadits dari guru). Dari disiplin itulah akhirnya lahir karya-karya besar seperti Kutubus Sittah. Kalau kamu ingin memahami lebih jauh bagaimana mekanisme rantai periwayatan ini bekerja secara teknis, ada pembahasan lengkapnya di artikel tentang isnad.

Asal Usul Istilah "Kutubus Sittah"

Istilah "enam kitab" ini tidak muncul begitu saja bersamaan dengan penyusunan keenam kitabnya. Butuh waktu, dan butuh ulama-ulama sesudahnya yang secara sadar mengelompokkan enam karya ini sebagai satu golongan tersendiri, terpisah dari ratusan kitab hadits lain yang juga ditulis pada masa yang sama.1

Salah satu jejak paling awal ada pada karya Ibnu Thahir Al-Maqdisi (wafat 507 H) yang berjudul Syuruth Al-A'immah As-Sittah (syarat-syarat yang dipegang keenam imam), sebuah risalah yang secara khusus membahas kaidah periwayatan yang dipakai oleh enam penyusun ini. Penggunaan istilah "as-sittah" (enam) di judul karya tersebut menunjukkan bahwa pada abad ke-5 Hijriah, pengelompokan enam kitab ini sebagai satu kesatuan rujukan sudah mulai mengkristal di kalangan ulama hadits.

Pengukuhan yang lebih menentukan datang dari Imam Majduddin Ibnu Al-Atsir Al-Jazari (wafat 606 H) lewat karya monumentalnya, Jami' Al-Ushul fi Ahadits Ar-Rasul. Dalam kitab ini, Ibnu Al-Atsir menghimpun ulang hadits-hadits dari enam kitab tersebut, menyusunnya secara tematik dan alfabetis agar lebih mudah dipelajari, sekaligus menegaskan posisi keenamnya sebagai kelompok rujukan utama yang berdiri sejajar.2 Sejak itulah sebutan Kutubus Sittah makin lekat dipakai, meski urutan dan bahkan anggota keenam kitab ini sempat diperdebatkan sedikit di kalangan ulama sesudahnya — sesuatu yang akan kamu temukan lagi nanti ketika membahas posisi Sunan Ibnu Majah.

Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim: Dua Kitab dengan Kehati-hatian Paling Tinggi

Di puncak Kutubus Sittah, ada Shahih al-Bukhari, disusun oleh Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari yang wafat pada 256 H, dalam usia 62 tahun. Mayoritas ulama sepakat, kitab ini adalah kitab hadits paling shahih setelah Al-Qur'an — pengakuan yang bukan main-main, kalau kamu tahu betapa ketatnya kriteria yang beliau pakai untuk menyeleksi setiap riwayat sebelum dicatat.

Gambaran soal betapa berat proses penyaringan itu bisa kamu bayangkan dari catatan sejarah tentang beliau sendiri: Imam Bukhari dikabarkan menghafal ratusan ribu hadits yang beredar pada zamannya, berguru kepada lebih dari seribu ulama sepanjang pengembaraannya mencari hadits (rihlah fi thalabil hadits), lalu menghabiskan sekitar enam belas tahun untuk menyusun kitab Shahih-nya — menyaring riwayat-riwayat itu lewat kriteria yang sangat ketat, di antaranya sanad yang bersambung tanpa putus (muttashil) dan perawi yang benar-benar teruji kejujuran serta kekuatan hafalannya.3 Kalau kamu ingin membaca lebih dalam soal perjalanan hidup dan proses penyusunan kitab ini, ada kisahnya secara utuh di artikel tentang Imam Bukhari.

Sejajar dengannya, ada Shahih Muslim, disusun oleh Imam Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi — lahir di Naisabur, Khurasan, pada 206 H dan wafat pada 261 H. Imam Muslim adalah salah satu murid dekat Imam Bukhari; ketika Al-Bukhari singgah di Naisabur, beliau termasuk yang paling rajin datang untuk berguru dan mengambil hadits langsung dari sang guru.4 Kalau Al-Bukhari dikenal lewat kedalaman analisis sanad dan penataan bab-bab fiqih yang tersirat, Imam Muslim justru dikenal lewat cara penyusunan riwayat yang sangat rapi dalam satu bab — semua jalur riwayat tentang satu hadits dikumpulkan berurutan, jadi kamu bisa langsung membandingkan lafaz dan sanadnya sekaligus. Karena keduanya menetapkan standar keshahihan paling ketat di antara kitab-kitab hadits, tak heran kalau keduanya sering disebut berdampingan sebagai "Shahihain" — dua kitab shahih.

Isnad Shahih al-Bukhari sendiri bukan sekadar cerita masa lalu di Ngajisanad — jalur riwayatnya sampai ke platform ini bisa kamu telusuri sendiri lewat graf sanad Shahih al-Bukhari, dan kalau kamu ingin mempelajarinya langsung dengan bimbingan pengajar bersanad, ada kelas Sama' Shahih al-Bukhari: Muqaddimah yang membuka jalur itu untuk pemula.

Empat Sunan: Fokusnya ke Hukum, dan Jujur Soal Derajat Hadits

Berbeda dari Shahihain yang hanya memuat riwayat yang dinilai shahih, empat kitab Sunan datang dengan pendekatan yang agak lain: mereka juga memuat hadits hasan, bahkan dhaif, tapi selalu disertai keterangan derajatnya. Ini bukan berarti standarnya lebih longgar — justru sebaliknya, ini bentuk kejujuran ilmiah. Perbedaan pendekatan semacam ini juga yang membuat genre kitab hadits jadi bermacam-macam — Shahih, Sunan, Musnad, sampai Mu'jam — sesuatu yang dibahas lebih detail di artikel tentang genre kitab hadits.

Sunan Abu Dawud disusun oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin Al-Asy'ats As-Sijistani, lahir 202 H di Sijistan, wilayah Khurasan. Sejak usia muda beliau sudah merantau mencari hadits, tiba di Baghdad pada usia 18 tahun, dan salah satu ciri khas pengembaraannya adalah kebiasaannya mendatangi langsung para pemilik riwayat untuk menguji kejujuran dan kekuatan hafalan mereka sebelum menerima haditsnya.5 Beliau wafat 275 H. Kitab ini lebih fokus ke hadits-hadits hukum atau ahkam, jadi rujukan penting buat para fuqaha yang ingin menelusuri dasar hadits dari setiap hukum fiqih — kurang lebih semangat yang sama dengan yang kamu pelajari kalau menekuni kelas Kitab Bulughul Maram: Bab Thaharah, yang juga menghimpun hadits-hadits ahkam.

Setelah itu, ada Jami' At-Tirmidzi karya Imam Muhammad bin Isa At-Tirmidzi, lahir 209 H di kota Tirmidz (kini wilayah selatan Uzbekistan) dan wafat 279 H. Beliau adalah murid langsung Imam Bukhari, sampai-sampai Imam Bukhari sendiri pernah berkata bahwa beliau lebih banyak mengambil manfaat dari At-Tirmidzi ketimbang sebaliknya — sebuah pengakuan yang menunjukkan betapa dalam ilmu muridnya ini. Di masa tuanya, At-Tirmidzi kehilangan penglihatannya, sebagian riwayat menyebut karena keseringan menangis di malam-malam panjangnya menghafal dan menelaah hadits.6 Beliau punya kebiasaan khas: mencantumkan penilaian derajat hadits — shahih, hasan, atau gharib — di hampir setiap riwayat yang beliau bawakan. Kebiasaan ini ternyata sangat membantu penuntut ilmu di generasi-generasi setelahnya.

Lalu ada Sunan An-Nasa'i, disusun oleh Imam Ahmad bin Syu'aib An-Nasa'i, lahir di desa Nasa', Khurasan, pada 215 H dan wafat pada 303 H. Beliau dikenal sangat ketat dalam memilih perawi yang bisa diterima, bahkan mendekati kualitas Bukhari-Muslim — makanya kitab ini jadi salah satu yang paling dipercaya di antara empat Sunan. Terakhir, melengkapi susunan Kutubus Sittah, ada Sunan Ibnu Majah, karya Imam Muhammad bin Yazid Ibnu Majah, wafat 273 H. Ulama sejarah mencatat bahwa sebagian ulama pernah mengusulkan mengganti posisi kitab ini dengan Muwatta' Imam Malik dalam susunan alternatif, karena beberapa hadits di dalamnya dinilai lemah oleh sebagian kalangan. Catatan ini sudah lama dikenal di kalangan ulama hadits, jadi tidak perlu diperdebatkan panjang-panjang — keduanya tetap dihormati sebagai karya besar dalam khazanah hadits.

Kesamaan yang Mengikat Keenamnya: Sanad sebagai Fondasi

Di balik perbedaan gaya, fokus tema, dan tingkat kelonggaran kriteria di atas, ada satu benang merah yang mengikat keenam kitab ini menjadi satu golongan tersendiri: semuanya disusun lewat jalur sanad yang bisa diperiksa. Bukan sekadar "menurut kabar", tapi "si A mendengar dari si B, yang mendengar dari si C", dan seterusnya sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam — sebuah metode yang dalam tradisi keilmuan Islam disebut talaqqi, belajar langsung dari mulut ke mulut, guru ke murid, bukan sekadar membaca teks tanpa jalur yang jelas.

Metode inilah yang sebenarnya membedakan tradisi periwayatan Islam dari sekadar "kutip-mengutip" biasa. Setiap perawi dalam sanad Kutubus Sittah punya biografi yang diteliti — kapan lahir, kapan wafat, siapa gurunya, seberapa kuat hafalannya, pernah bertemu langsung dengan siapa saja. Riwayat mereka lolos justru karena jejak itu bisa ditelusuri dan dipertanggungjawabkan, bukan karena klaim sepihak. Semangat yang sama inilah yang coba dijaga di setiap kelas dan setiap pengajar Ngajisanad — termasuk kelas-kelas yang diampu salah satu pengajar kami sendiri, yang sanad keilmuannya juga bisa kamu periksa langsung lewat profil pengajar kami. Perjalanan mencari sanad hadits ini juga tidak pernah singkat — sepanjang sejarahnya penuh dengan kisah pengembaraan panjang yang dikenal sebagai rihlah, yang bisa kamu baca lebih lengkap di artikel tentang tradisi rihlah.

Warisan yang Terus Diteruskan

Yang menarik untuk direnungkan bukan cuma soal siapa menyusun apa, tapi kenapa para ulama ini mau menghabiskan hidupnya untuk kerja seteliti itu. Jawabannya, barangkali, ada di hadits berikut.

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu)

Warisan yang dimaksud bukan harta, tapi ilmu — dan ilmu hanya bisa terjaga kalau jalur penyampaiannya, sanadnya, masih bisa ditelusuri dan dipertanggungjawabkan. Di sinilah kerja para penyusun Kutubus Sittah jadi begitu besar maknanya: mereka tidak sekadar mengumpulkan hadits, tapi memastikan setiap riwayat punya jejak yang bisa diperiksa sampai ke sumbernya.

Mendalami Kutubus Sittah bukan sesuatu yang bisa kamu selesaikan dalam semalam, dan memang tidak dirancang untuk itu. Kamu butuh bimbingan, tahapan yang jelas, dan kesabaran untuk menelusuri satu kitab hadits secara utuh bersama pengajar yang sanadnya juga bisa dipertanggungjawabkan. Sebagai langkah awal yang lebih ringan tapi tetap mendalam, kamu bisa mulai dari kitab hadits yang lebih ringkas namun kaya kandungan, seperti yang dipelajari secara utuh dalam kelas Arbain An-Nawawi: Syarah Lengkap — satu contoh nyata bagaimana mendalami sebuah kitab hadits, dari matan sampai kandungan hukum dan hikmahnya, dengan sanad pengajaran yang tetap bisa ditelusuri.

Catatan & Referensi

  1. Sebutan "al-Kutub as-Sittah" mengkristal secara bertahap dalam literatur ilmu hadits abad ke-5 hingga ke-7 Hijriah, bukan muncul bersamaan dengan penyusunan keenam kitabnya sendiri.

  2. Sumber-sumber biografi klasik menyebut Imam Bukhari menghafal ratusan ribu hadits yang beredar di masyarakat sebelum menyaringnya lewat kriteria ketat (sanad bersambung, kredibilitas dan kekuatan hafalan perawi) menjadi Shahih al-Bukhari, proses yang beliau tempuh selama sekitar enam belas tahun; lihat misalnya ringkasan biografi di sumber sekunder berbahasa Indonesia, "Biografi Ringkas Imam Bukhari".

  3. Imam Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi (206–261 H) tercatat sebagai salah satu murid dekat Imam Bukhari yang paling rajin mengambil hadits langsung dari beliau; lihat Wahdah Islamiyah, "Biografi Imam Muslim bin Al-Hajjaj".

  4. Imam Abu Dawud As-Sijistani (202–275 H) dikenal melakukan perjalanan mencari hadits sejak usia muda dan secara langsung menguji kredibilitas para perawi sebelum menerima riwayat mereka; lihat sunnah.com, "About — Sunan Abi Dawud".

  5. Imam At-Tirmidzi (209–279 H) adalah murid langsung Imam Bukhari dan diriwayatkan kehilangan penglihatan di usia tuanya; para ulama berbeda pendapat mengenai sebab pastinya, namun pendapat yang lebih kuat menyebut hal ini terjadi setelah beliau dewasa, bukan sejak lahir.

  6. Ibnu Al-Atsir Al-Jazari (w. 606 H), Jami' Al-Ushul fi Ahadits Ar-Rasul — menghimpun ulang riwayat dari enam kitab ini secara tematik-alfabetis; karya ini dianggap salah satu tonggak yang meneguhkan pengelompokan Kutubus Sittah sebagai satu golongan rujukan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email