Coba pikirkan sejenak: setiap kali kamu membuka kitab Shahih al-Bukhari dan membaca satu hadits di dalamnya, sebenarnya kamu sedang menatap hasil akhir dari perjalanan panjang yang luar biasa melelahkan. Satu matan hadits yang cuma beberapa baris itu, di baliknya ada proses verifikasi yang panjang dan menuntut kesungguhan yang jarang ada tandingannya. Proses itu namanya sanad — rantai transmisi ilmu dari generasi ke generasi — dan kalau bicara soal teladan dalam menjaga sanad, tidak ada tokoh yang lebih pantas disebut selain Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari.
Anak Bukhara yang hafalannya luar biasa tajam
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari lahir di kota Bukhara, salah satu pusat peradaban di Asia Tengah yang sekarang jadi bagian dari Uzbekistan, pada tahun 194 Hijriah. Ayahnya, Ismail bin Ibrahim, wafat ketika Bukhari masih kecil, sehingga ia dibesarkan oleh ibunya seorang diri.
Menurut riwayat yang dinukil dalam biografi-biografi klasik tentang beliau, semasa kanak-kanak Bukhari sempat mengalami sakit mata yang parah hingga kehilangan penglihatannya. Ibunya tak pernah putus berdoa siang dan malam, dan pada suatu malam ia bermimpi bertemu Nabi Ibrahim 'alaihissalam yang mengabarkan bahwa penglihatan putranya telah dikembalikan berkat banyaknya doa dan air matanya. Esok harinya, penglihatan Bukhari benar-benar kembali normal.1 Kejadian ini jadi titik balik: sang ibu lalu mewakafkan seluruh hidup putranya untuk menuntut ilmu agama.
Sejak usia sangat muda, Bukhari sudah dikenal punya hafalan dan ketajaman yang luar biasa dalam ilmu hadits. Bukan cuma menghafal lafal saja, ia bahkan sudah mulai mempelajari seluk-beluk riwayat sejak masa kanak-kanak. Salah satu kisah yang paling sering dikutip para ulama adalah saat usianya baru 11 tahun: ia mengoreksi kesalahan sanad dari gurunya sendiri, Muhammad bin Salam Ad-Dakhili, yang saat itu membacakan sebuah hadits dengan jalur "dari Sufyan, dari Abu Az-Zubair, dari Ibrahim." Bukhari kecil menyela bahwa perawi dalam sanad itu bukan Abu Az-Zubair, melainkan Az-Zubair bin 'Adi. Ad-Dakhili yang awalnya tidak terima akhirnya mengecek ulang ke sumber aslinya, dan ternyata benar seperti yang dikatakan si anak kecil.2 Menurut riwayat yang masyhur di kalangan ulama, ini jadi tanda awal bahwa ia akan tumbuh menjadi salah satu penjaga hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling berpengaruh sepanjang sejarah.
Kesungguhan seperti ini tidak muncul begitu saja dari sekadar ketertarikan akademis. Ia lahir dari kesadaran bahwa ilmu yang bersumber dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah amanah yang harus disampaikan dengan benar. Beliau sendiri bersabda:
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
"Sampaikanlah dariku walau satu ayat." (HR. Al-Bukhari, dari Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma)
Perintah untuk menyampaikan ini bukan sekadar anjuran berdakwah secara umum. Ini fondasi bagi seluruh disiplin ilmu hadits yang belakangan berkembang jadi begitu rumit dan teliti. Kenapa? Karena menyampaikan sesuatu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berarti kamu menanggung tanggung jawab untuk memastikan bahwa yang kamu sampaikan itu benar-benar dari beliau, bukan sekadar kabar yang terdengar sepintas lalu diteruskan begitu saja tanpa ditelusuri.
Mengembara lintas wilayah demi satu riwayat saja
Untuk memenuhi tanggung jawab itu, Imam Bukhari tidak berdiam diri di kota kelahirannya. Ia mengembara ke berbagai pusat keilmuan Islam — sebuah tradisi dalam ilmu hadits yang disebut rihlah fi thalabil hadits, mengembara demi satu hadits, yang juga dibahas lebih dalam pada artikel Rihlah fi Thalabil Hadits: Tradisi Mengembara Demi Satu Hadits — dan riwayat-riwayat biografinya menyebutkan pengembaraannya mencakup wilayah Khurasan, Irak, Hijaz, dan Mesir. Perjalanan itu bukan sekadar untuk menambah wawasan umum, tapi memang khusus untuk bertemu langsung dengan para ahli hadits di setiap wilayah lewat talaqqi, belajar langsung dari mulut ke mulut kepada gurunya (baca juga Apa Itu Talaqqi? Belajar Langsung dari Mulut ke Mulut) — mendengar riwayat langsung dari mulut mereka, lalu memastikan jalur periwayatan yang ia terima benar-benar tersambung tanpa putus.
Menurut riwayat yang masyhur, sepanjang pengembaraannya itu Bukhari menerima hadits dari lebih dari 1.000 guru.3 Bayangkan betapa besarnya kesungguhan ini di zaman ketika perjalanan antarwilayah bisa memakan waktu berbulan-bulan, tanpa kemudahan transportasi maupun komunikasi seperti sekarang. Seorang penuntut ilmu hadits pada masa itu harus rela meninggalkan kenyamanan, menempuh perjalanan panjang, hanya demi memastikan satu riwayat benar-benar berasal dari sumber yang sahih. Inilah wajah nyata dari yang kita sebut sanad. Bukan istilah abstrak di dalam kitab, tapi jejak kaki yang benar-benar pernah ditapaki.
Dari nasihat sang guru menuju sebuah mahakarya
Gagasan untuk menghimpun hadits-hadits sahih ke dalam satu kitab tersendiri tidak muncul begitu saja dari Bukhari sendiri di awal. Menurut riwayat yang dinukil Ibnu Hajar al-'Asqalani, gagasan itu justru bermula dari nasihat gurunya, Ishaq bin Rahawaih, ketika keduanya berada dalam satu majelis di Naisabur. Ishaq berkata kepadanya:
لَوْ جَمَعْتُمْ كِتَابًا مُخْتَصَرًا لِصَحِيحِ سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Alangkah baiknya jika kalian menyusun sebuah kitab ringkas yang khusus memuat hadits-hadits sahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (Perkataan Ishaq bin Rahawaih kepada Imam Bukhari, sebagaimana dinukil Ibnu Hajar al-'Asqalani)
Nasihat itu begitu membekas di hati Bukhari. Menurut riwayat yang dinukil sejumlah ahli sejarah, dorongan itu makin kuat setelah beliau mengalami mimpi berjumpa dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yang ditafsirkan sebagai isyarat bahwa beliau akan berperan besar membersihkan riwayat-riwayat palsu yang disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.4 Bukhari lalu benar-benar memulai proyek besar menyusun kitab yang belakangan dikenal sebagai Shahih al-Bukhari. Sanad, dalam makna paling praktisnya, adalah alat yang memisahkan riwayat yang benar-benar bersambung ke Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam — isnad yang sahih — dari yang tidak. Menyusun kitab semacam ini artinya menerapkan alat itu ke ratusan ribu riwayat sekaligus, satu per satu, tanpa kompromi. Kalau kamu ingin memahami lebih jauh bagaimana mekanisme isnad ini bekerja secara teknis, artikel Mengenal Isnad Secara Mendalam: Bagaimana Rantai Periwayatan Hadits Bekerja membahasnya dari sisi istilah dan strukturnya.
Standar liqa' yang tidak memberi ruang kompromi
Dari sekian banyak hadits yang beliau kumpulkan sepanjang pengembaraannya, Imam Bukhari lalu menyeleksinya dengan sangat ketat sebelum memasukkannya ke dalam kitab shahihnya. Menurut riwayat yang masyhur, jumlah keseluruhan hadits yang pernah beliau kumpulkan dan pelajari mencapai sekitar 600.000 riwayat; dari jumlah itu, menurut penghitungan Ibnu Ash-Shalah, hanya 7.275 hadits (dengan pengulangan) — atau sekitar 4.000 hadits kalau dihitung tanpa pengulangan — yang lolos seleksi dan masuk ke dalam kitabnya. Bahkan, untuk setiap hadits yang hendak beliau masukkan, riwayat menyebutkan beliau lebih dulu mandi, berwudhu, kemudian shalat sunnah dan beristikharah memohon petunjuk Allah.5
Proses seleksi seketat ini berlangsung bertahun-tahun. Metodologinya dikenal luas sangat teliti: beliau mensyaratkan seorang perawi harus benar-benar terbukti pernah bertemu dengan gurunya, atau dalam istilah ilmu hadits disebut liqa', sebelum riwayat itu bisa diterima. Ini standar yang lebih ketat dibanding sebagian ulama hadits lain pada masanya, yang kadang cukup puas dengan kemungkinan pertemuan antara dua perawi sezaman, tanpa mensyaratkan bukti pertemuan yang nyata.
Ketelitian seperti ini bukan kekakuan yang berlebihan. Ini konsekuensi logis dari betapa besarnya tanggung jawab menyampaikan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Akurasi dalam menyampaikan ilmu memang sangat ditekankan, bahkan sampai didoakan keberkahannya oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri, sebagaimana dalam hadits berikut:
نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ
"Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar hadits dariku lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, karena bisa jadi orang yang disampaikan lebih paham daripada yang mendengar langsung." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu)
Coba perhatikan, doa dalam hadits ini ditujukan kepada mereka yang menyampaikan sebagaimana ia mendengarnya, bukan sekadar menyampaikan apa saja yang pernah terdengar. Di titik inilah keteladanan Imam Bukhari terhubung langsung dengan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu sendiri: standar liqa' yang beliau tetapkan adalah wujud nyata dari upaya memastikan apa yang disampaikan benar-benar sama seperti yang didengar, bukan sekadar dugaan atau kemungkinan belaka. Menjaga sanad dengan sungguh-sungguh bukan proyek akademis untuk kepuasan intelektual semata, melainkan pelaksanaan langsung dari perintah agama.
Ujian di penghujung usia: fitnah dan pengasingan
Kesungguhan menjaga kemurnian ilmu ternyata tidak selalu berbuah penghormatan yang mulus. Di masa tuanya, saat Imam Bukhari singgah di Naisabur, muncul fitnah terkait pandangannya soal lafal (bacaan lisan) Al-Qur'an — sebuah persoalan kalam yang rumit dan gampang disalahpahami. Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhli, seorang ulama besar di kota itu, menyebarkan tuduhan bahwa Bukhari berpandangan sesat dalam masalah ini, meski penduduk Naisabur pada umumnya tetap menghormati beliau.
Fitnah itu terus mengikuti Bukhari hingga ia kembali ke Bukhara. Di sana, seorang penguasa setempat, Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhli, meminta Bukhari mengajar khusus untuk anak-anaknya secara privat. Bukhari menolak permintaan itu dengan alasan ia tidak mau membeda-bedakan antara anak pejabat dan murid-murid biasa dalam majelis ilmunya. Penolakan ini membuat sang penguasa marah dan balik memprovokasi masyarakat untuk membenci Bukhari, hingga akhirnya beliau benar-benar diusir dari kota kelahirannya sendiri. Bukhari lalu memilih menetap di sebuah daerah kecil bernama Khartank, di antara Samarkand dan Bukhara.
Di tempat pengasingan itulah Imam Bukhari menutup usia. Beliau wafat pada malam Idul Fitri, 1 Syawwal 256 Hijriah, dan dimakamkan di Khartank tak lama setelah shalat Zhuhur.6 Perjalanan panjang seorang penuntut ilmu yang menghabiskan hidupnya untuk menjaga keaslian sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam itu berakhir bukan di tengah pujian, tapi di tengah pengasingan — sebuah pengingat bahwa menjaga kejujuran ilmiah kadang memang berharga mahal, bahkan bagi seorang ulama besar sekalipun.
Warisan yang tetap hidup sampai hari ini
Meski hidupnya ditutup dengan ujian yang berat, warisan keilmuan Imam Bukhari tidak pernah pudar. Kitab Shahih al-Bukhari, hasil dari kesungguhan dan ketelitian luar biasa itu, sampai hari ini disepakati oleh mayoritas ulama sebagai kitab paling sahih setelah Al-Qur'an. Salah satu murid beliau sendiri, Imam Ibnu Khuzaimah, memberikan kesaksian yang begitu masyhur diulang para ulama setelahnya:
مَا رَأَيْتُ تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ أَعْلَمَ بِحَدِيثِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَحْفَظَ لَهُ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْمَاعِيلَ الْبُخَارِيِّ
"Aku belum pernah melihat, di bawah kolong langit ini, orang yang lebih mengerti hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan lebih kuat hafalannya dibanding Muhammad bin Ismail Al-Bukhari." (Perkataan Imam Ibnu Khuzaimah, salah satu murid beliau)
7 Bukhari juga mewariskan murid-murid yang kelak jadi ulama besar dengan karya mereka sendiri — yang paling dikenal tentu saja Imam Muslim bin Al-Hajjaj, penyusun Shahih Muslim, kitab hadits kedua yang paling dipercaya setelah karya gurunya ini.8 Boleh dibilang, jejak keteladanan Bukhari tidak berhenti di satu kitab, tapi menurun ke generasi-generasi berikutnya lewat sanad yang terus tersambung.
Kisah Imam Bukhari mengajarkan sesuatu yang sederhana tapi dalam maknanya: ilmu agama, apalagi hadits, tidak boleh diterima dan disebarkan tanpa jelas dulu dari mana asalnya. Semangat inilah yang membuat sanad, jalur transmisi keilmuan yang bisa ditelusuri dan dibuktikan, tetap jadi ukuran kepercayaan dalam ilmu hadits sampai sekarang, jauh setelah zaman Imam Bukhari berlalu.
Kalau kamu ingin melihat sendiri bagaimana jalur sanad Shahih al-Bukhari ini tersambung sampai ke generasi pengajar hari ini, graf sanad Shahih al-Bukhari di Ngajisanad menampilkannya secara terbuka dan bisa ditelusuri — termasuk jalur yang bersambung ke salah satu pengajar kami. Kalau kamu ingin merasakan langsung nuansa ketelitian yang diwariskan Imam Bukhari, sekaligus menelusuri sanad periwayatan kitab agungnya secara bersambung, kelas Sama' Shahih al-Bukhari: Muqaddimah bisa jadi titik awal yang tepat untuk memulai perjalanan itu.
Catatan & Referensi
Kisah kebutaan Imam Bukhari di masa kecil dan kesembuhannya berkat doa ibunya dinukil dalam sejumlah biografi klasik tentang beliau, termasuk yang dimuat ulang dalam "Kisah Imam Bukhari dan Doa Ibu yang Disebut Sembuhkan Kebutaannya," detik.com.
↩Kisah koreksi sanad kepada gurunya, Muhammad bin Salam Ad-Dakhili, saat usia 11 tahun, sebagaimana dinukil dalam "Kisah Imam Bukhari Mengembara Menuntut Ilmu hingga Hafal 300.000 Hadits," iNews.id.
↩Riwayat jumlah guru yang pernah beliau datangi sepanjang pengembaraannya (disebutkan berkisar 1.000 hingga 1.080 orang) dinukil dalam sejumlah biografi Imam Bukhari, salah satunya "Biografi Imam Bukhari," hadits.tazkia.ac.id.
↩Riwayat nasihat Ishaq bin Rahawaih dan latar belakang penyusunan Shahih al-Bukhari dinukil Ibnu Hajar al-'Asqalani, sebagaimana juga dikutip ulang dalam "Ishaq bin Rahawaih, Sosok di Balik Lahirnya Kitab Sahih Bukhari," islami.co.
↩Jumlah hadits yang dihimpun (sekitar 600.000), jumlah hadits sahih yang dipilih (7.275 dengan pengulangan, sekitar 4.000 tanpa pengulangan menurut penghitungan Ibnu Ash-Shalah), serta kebiasaan mandi dan shalat istikharah sebelum menuliskan setiap hadits ke dalam kitabnya, dinukil dalam "Mengenal Shahih Bukhari Dan Shahih Muslim," sumber sekunder berbahasa Indonesia.
↩Kronologi fitnah lafal Al-Qur'an di Naisabur, pengasingan dari Bukhara oleh penguasa Khalid bin Ahmad Adz-Dzuhli, dan wafatnya Imam Bukhari di Khartank pada malam Idul Fitri 1 Syawwal 256 H, dinukil dalam "Kisah Wafatnya Imam Bukhari, Akhir Perjalanan Sang Penjaga Hadits," detik.com, dan "Kisah Imam Bukhari Difitnah hingga Diusir dari Tanah Kelahirannya," iNews.id.
↩Perkataan Imam Ibnu Khuzaimah ini termasuk salah satu kesaksian paling masyhur dari kalangan murid Imam Bukhari terhadap keilmuan gurunya, dinukil berulang dalam berbagai referensi biografi ulama hadits klasik.
↩Imam Muslim bin Al-Hajjaj, penyusun Shahih Muslim, adalah salah satu murid utama Imam Bukhari — hubungan guru-murid keduanya menjadi salah satu sanad keilmuan hadits yang paling banyak dirujuk dalam sejarah Islam.
↩