Kenapa Kitab Hadits Punya Genre Berbeda (Shahih, Sunan, Musnad, Mu'jam)

Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul dari murid yang baru mulai belajar musthalah hadits adalah begini: "Kenapa hadits yang sama bisa ditemukan di Shahih al-Bukhari, tapi ada juga versinya di Musnad Ahmad? Memangnya apa bedanya?" Pertanyaan semacam ini sering diajukan kepada pengajar hadits, termasuk kepada pengajar kami di Ngajisanad — dan jawabannya justru membuka satu hal penting yang jarang disadari orang: kitab-kitab hadits klasik itu tidak semuanya disusun dengan cara yang sama. Masing-masing punya tujuan penyusunan sendiri, dan begitu kamu paham "genre" tiap kitab, kamu jadi tahu harus mencari ke mana kalau ingin menelusuri sebuah riwayat.

Ini bukan sekadar trivia perpustakaan. Kalau kamu belajar ilmu hadits secara serius — apalagi kalau kamu juga menekuni isnad dan sanad seperti yang ditekankan di Ngajisanad — memahami genre kitab adalah bagian dari kemampuan dasar menelusuri sebuah riwayat sampai ke sumbernya. Artikel ini membahas empat genre utama kitab hadits: shahih, sunan, musnad, dan mu'jam, lengkap dengan contoh nyatanya.

Kenapa Kitab-Kitab Hadits Klasik Tidak Disusun dengan Cara yang Sama

Ulama hadits klasik menyusun karya mereka berdasarkan kebutuhan zamannya. Ada yang ingin menyaring hanya riwayat yang memenuhi standar keshahihan tertentu. Ada yang ingin memudahkan orang mencari hukum fiqih. Ada yang ingin mendokumentasikan seluruh riwayat dari sahabat tertentu. Ada juga yang ingin mencatat riwayat berdasarkan urutan nama gurunya sendiri. Empat kebutuhan berbeda ini melahirkan empat cara penyusunan yang berbeda pula, yang secara umum dikenal sebagai genre-genre kitab hadits.

Berikut ringkasan singkat empat istilah kunci ini sebelum kita masuk ke penjelasan masing-masing.

الصحيح، السنن، المسند، المعجم
"Empat istilah dalam ilmu hadits yang menunjukkan cara penyusunan sebuah kitab: berdasarkan status keshahihan riwayat, berdasarkan bab-bab fiqih, berdasarkan nama sahabat periwayat, atau berdasarkan nama guru sang penulis."

Klasifikasi semacam ini juga yang membuat enam kitab induk hadits yang paling sering dirujuk — biasa disebut Kutubus Sittah — sebenarnya tidak seragam genrenya. Kalau kamu belum familiar dengan enam kitab itu, artikel Mengenal Kutubus Sittah membahasnya secara khusus.

Pertama, Genre Shahih: Disusun Berdasarkan Standar Keshahihan

Genre pertama disebut shahih. Kitab bergenre shahih disusun khusus untuk memuat hadits-hadits yang menurut standar penulisnya sendiri sudah memenuhi syarat keshahihan — sanadnya bersambung (ittishal), perawinya tsiqah (dapat dipercaya dan kuat hafalannya), tidak syadz (menyendiri dari riwayat yang lebih kuat), dan tidak mengandung 'illat yang merusak. Contoh paling terkenal tentu saja Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Ketelitian Imam al-Bukhari dalam menyusun kitabnya cukup ekstrem untuk dibayangkan: beliau dilaporkan menghimpun sekitar 600.000 riwayat, lalu menghafal sekitar 300.000 di antaranya (200.000 yang tidak shahih dan 100.000 yang shahih), sebelum akhirnya menyaring dan hanya memasukkan riwayat yang lolos syaratnya sendiri ke dalam Shahih al-Bukhari. Fuad Abdul Baqi, ulama yang menghitung ulang seluruh isi kitab ini, mencatat jumlah totalnya (termasuk pengulangan riwayat yang sama dengan sanad berbeda) mencapai 7.563 hadits.1 Kalau kamu ingin melihat langsung bagaimana sanad kitab ini bersambung sampai ke para pengajar Ngajisanad, halaman graf sanad Shahih al-Bukhari memetakannya secara visual, dan kelas Sama' Shahih al-Bukhari: Muqaddimah membuka jalur untuk menempuhnya langsung.

Yang penting kamu ingat: kata "shahih" di sini adalah nama genre kitab, bukan jaminan bahwa setiap hadits di dalamnya otomatis "paling shahih di dunia" tanpa perlu kajian lanjut — tapi memang derajat kehati-hatian Bukhari dan Muslim dalam menyusun kitab mereka membuat genre shahih ini dipandang sebagai rujukan paling ketat di antara kitab-kitab hadits yang ada. Bukhari dan Muslim juga bukan satu-satunya kitab bergenre shahih. Ulama lain menyusun karya sejenis dengan kriteria masing-masing, misalnya Shahih Ibnu Khuzaimah dan Shahih Ibnu Hibban — keduanya juga menyaring hadits berdasarkan standar keshahihan ketat, meski umumnya tidak diposisikan seketat Bukhari-Muslim oleh para ulama mustholah.2

Kedua, Genre Sunan: Disusun Berdasarkan Bab-Bab Fiqih

Genre kedua adalah sunan. Kitab bergenre sunan disusun berdasarkan bab-bab fiqih — mulai dari kitab Thaharah, Shalat, Zakat, Puasa, dan seterusnya, persis seperti struktur kitab fiqih pada umumnya. Contohnya Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa'i, dan Sunan Ibnu Majah — yang bersama Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim membentuk Kutubus Sittah yang sudah disebut di atas. Sunan Ad-Darimi juga tergolong genre yang sama, disusun per topik (kitab) meski dengan struktur bab yang lebih sederhana dibanding Sunan Arba'ah.

Kalau kamu sedang mencari dalil untuk sebuah masalah fiqih tertentu, misalnya hukum wudhu dengan air musta'mal, kitab-kitab sunan inilah yang paling mudah kamu telusuri, karena penulisnya sudah mengelompokkan riwayat sesuai topiknya. Tidak seperti genre shahih, kitab sunan biasanya juga memuat hadits dengan berbagai tingkat keshahihan — ada yang shahih, hasan, bahkan dhaif — karena tujuan penulisannya memang bukan menyaring keshahihan, melainkan mengumpulkan riwayat yang relevan dengan sebuah bab hukum. Justru karena itu, mengenali jenis-jenis hadits dhaif jadi keterampilan penting kalau kamu banyak membaca kitab-kitab sunan — supaya tidak langsung mengamalkan sebuah riwayat hanya karena ia tercantum di dalamnya, tanpa mengecek dulu status sanadnya.

Ketiga, Genre Musnad: Disusun Berdasarkan Nama Sahabat

Genre ketiga disebut musnad. Kitab bergenre musnad disusun berdasarkan nama sahabat yang meriwayatkan, bukan berdasarkan topik. Jadi semua riwayat dari, katakanlah, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dikumpulkan menjadi satu bagian, tanpa memandang apakah riwayat itu tentang shalat, puasa, atau muamalah — semuanya digabung karena sumber periwayatnya sama.

Contoh paling masyhur adalah Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, yang disusun mulai dari riwayat sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga (al-'asyarah al-mubasysyarah), lalu berlanjut ke sahabat-sahabat lain. Jumlah totalnya diperkirakan mencapai sekitar 40.000 hadits, termasuk sekitar 10.000 riwayat yang berulang dengan sanad berbeda.3 Musnad Ahmad juga bukan satu-satunya kitab bergenre ini — sebelumnya sudah ada Musnad karya Abu Dawud Ath-Thayalisi (wafat 204 H, semasa dengan Imam Asy-Syafi'i), salah satu musnad paling awal yang dikenal, lalu ada Musnad Abu Ya'la dan Musnad al-Bazzar yang memuat sekitar 10.409 hadits.4

Kalau kamu ingin meneliti seluruh riwayat yang bersumber dari satu sahabat tertentu, genre musnad inilah tempat mencarinya — bukan genre sunan yang mengelompokkan per bab fiqih. Cara kerja ini juga yang membuat genre musnad sangat dekat dengan konsep isnad itu sendiri; kalau kamu ingin memahami lebih dalam bagaimana rantai periwayatan bekerja secara teknis, artikel Mengenal Isnad Secara Mendalam membahasnya lebih jauh.

Keempat, Genre Mu'jam: Disusun Berdasarkan Urutan Alfabet Nama

Genre keempat, yang paling jarang dikenal orang awam, adalah mu'jam. Ciri khas kitab bergenre mu'jam adalah penyusunannya mengikuti urutan alfabet huruf hijaiyah — bisa berdasarkan nama sahabat, nama guru dari penulis kitab itu sendiri, atau bahkan nama negeri asal para perawi.5 Ini yang membedakannya dari musnad: musnad juga mengelompokkan riwayat per sahabat, tapi tidak harus alfabetis, sementara mu'jam secara khusus menata urutan namanya sesuai huruf hijaiyah.

Contoh paling dikenal adalah Al-Mu'jam Al-Kabir karya Imam Ath-Thabrani, yang menghimpun riwayat berdasarkan musnad para sahabat secara berurutan sesuai huruf hijaiyah — dimulai dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, lalu dilanjutkan sahabat-sahabat lain, kecuali musnad Abu Hurairah yang beliau tulis terpisah dalam kitab lain. Jumlah riwayatnya diperkirakan mencapai sekitar 60.000 hadits, menjadikannya mu'jam terbesar yang pernah disusun.6 Ath-Thabrani sendiri menulis tiga kitab mu'jam sekaligus dengan ukuran berbeda — Al-Mu'jam Al-Kabir, Al-Mu'jam Al-Ausath, dan Al-Mu'jam Ash-Shaghir — masing-masing dengan cakupan riwayat yang berbeda pula.

Genre ini sangat berguna kalau kamu sedang menelusuri jalur sanad seorang ulama tertentu, atau ingin tahu riwayat apa saja yang diterima seorang penulis kitab dari gurunya masing-masing — karena struktur alfabetisnya memang dirancang untuk kebutuhan penelusuran semacam itu, bukan untuk dibaca berurutan seperti kitab fiqih.

Kenapa Mengenali Genre Ini Membantu Penelusuran Sanad dan Riwayat

Sekarang bayangkan kamu sedang mencari sebuah riwayat. Kalau yang kamu cari adalah status keshahihan sebuah hadits menurut standar ketat, kamu akan lebih dulu membuka kitab bergenre shahih. Kalau yang kamu cari adalah dalil untuk sebuah bab hukum fiqih tertentu, kitab bergenre sunan jauh lebih efisien. Kalau kamu ingin tahu seluruh riwayat dari seorang sahabat tertentu, kitab bergenre musnad adalah tempatnya. Dan kalau kamu sedang menelusuri jalur guru seorang ulama — misalnya untuk keperluan mempelajari sanad — kitab bergenre mu'jam bisa jadi rujukan yang sangat spesifik.

Inilah kenapa sebelum buru-buru mencari hadits di internet, penting untuk mengenali dulu apa yang sedang dicari — status keshahihan, topik fiqih, sumber periwayat, atau jalur guru — baru menentukan mau membuka kitab genre yang mana. Kemampuan seperti inilah yang membedakan orang yang benar-benar belajar riwayah dan dirayah hadits secara bersanad dengan orang yang hanya menyalin-nyalin dari sumber yang tidak jelas asal-usulnya.

Kalau kamu ingin melihat contoh nyata bagaimana genre-genre ini muncul di kitab-kitab yang paling sering dirujuk, silakan baca kembali artikel Mengenal Kutubus Sittah — di sana kamu akan melihat bagaimana enam kitab induk hadits, yang sebagian besar bergenre sunan dan sebagian bergenre shahih, saling melengkapi satu sama lain. Kalau kamu penasaran dengan sanad hadits yang dipegang pengajar kami sendiri, kamu juga bisa mampir ke profilnya di Ngajisanad untuk melihat rantai riwayahnya secara terbuka.

Catatan & Referensi

  1. Imam al-Bukhari dilaporkan meneliti sekitar 600.000 riwayat sebelum menyusun Shahih al-Bukhari; penghitungan ulang oleh Fuad Abdul Baqi mencatat 7.563 hadits (termasuk pengulangan sanad). Lihat: sumber sekunder berbahasa Indonesia, "Mengenal Shahih Bukhari dan Shahih Muslim," https://sumber sekunder berbahasa Indonesia/10838-mengenal-shahih-bukhari-dan-shahih-muslim.html.

  2. Shahih Ibnu Khuzaimah (nama lengkap: Mukhtasar al-Mukhtasar min al-Musnad ash-Shahih) disusun oleh Imam Ibnu Khuzaimah, mencakup bab-bab shalat, puasa, haji, dan zakat; disebutkan sejajar dengan Shahih Ibnu Hibban dan Shahih Abu Awanah sebagai kitab-kitab shahih di luar Bukhari-Muslim. Lihat: Wikipedia Bahasa Indonesia, "Shahih Ibnu Khuzaimah," https://id.wikipedia.org/wiki/Shahih_Ibnu_Khuzaimah.

  3. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal disusun berdasarkan sahabat periwayat, dimulai dari al-'asyarah al-mubasysyarah, dengan total sekitar 40.000 hadits termasuk sekitar 10.000 riwayat yang berulang. Lihat: Wikipedia, "Musnad Ahmad ibn Hanbal," https://en.wikipedia.org/wiki/Musnad_Ahmad_ibn_Hanbal.

  4. Musnad Ath-Thayalisi disusun oleh Abu Dawud Ath-Thayalisi (w. 204 H); Musnad al-Bazzar disusun oleh Abu Bakar Ahmad al-Bazzar (w. 292 H) dan memuat sekitar 10.409 hadits. Lihat: NU Online, "Kitab Musnad dan Kritik Sanad dalam Kajian Hadits," https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/kitab-musnad-dan-kritik-sanad-dalam-kajian-hadits-uq1Ps.

  5. Definisi mu'jam sebagai kitab yang disusun berdasarkan urutan alfabet nama sahabat, guru, atau negeri perawi. Lihat: NU Online, "11 Jenis Kitab Hadits yang Harus Diketahui, Lengkap dengan Definisi dan Contohnya," https://islam.nu.or.id/ilmu-hadits/11-jenis-kitab-hadits-yang-harus-diketahui-lengkap-dengan-definisi-dan-contohnya-T3Rs6.

  6. Al-Mu'jam Al-Kabir karya Imam Ath-Thabrani (w. 360 H) disusun sebagai musnad mu'jami (per sahabat, alfabetis), memuat sekitar 60.000 hadits, dan dipandang sebagai mu'jam terbesar yang pernah disusun. Lihat: RISALAH, "Mengenal Kitab Al-Mu'jam At-Thabrani," https://risalah.id/mengenal-kitab-al-mujam-at-thabrani/.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email