Buka profil salah satu pengajar di Ngajisanad, dan kamu akan menemukan satu bagian yang jarang ada di platform belajar Islam kebanyakan: daftar nama guru dari gurunya sendiri. Bagian ini disebut Masyaikh, dan itu bukan sekadar detail biodata tambahan. Ini salah satu fondasi dari cara Ngajisanad membuktikan bahwa ilmu yang diajarkan di sini punya jalur yang jelas dan bisa ditelusuri, bukan klaim kosong yang berhenti di kalimat "saya belajar dari beberapa ulama."
Mengenal Istilah Masyaikh: Guru di Balik Guru
Secara bahasa, masyaikh adalah bentuk jamak dari kata syaikh -- sebutan klasik untuk guru senior atau ulama yang kapasitas keilmuannya sudah diakui, baik oleh murid-muridnya maupun oleh ulama sezamannya. Di Ngajisanad, istilah ini dipakai khusus untuk satu hal: guru dari seorang pengajar. Orang-orang yang menurunkan ilmu kepada pengajar itu, jauh sebelum ia berdiri mengajar di depan kamu.
Yang menarik, Masyaikh ini bisa jadi tidak pernah menyentuh platform Ngajisanad sama sekali. Mereka mengajar di majelis, di pesantren, atau di rumah mereka sendiri -- lewat proses yang dalam tradisi keilmuan disebut talaqqi, belajar langsung dari mulut ke mulut, bukan sekadar membaca buku sendirian.Sebagian murid dari majelis-majelis itu kemudian menjadi pengajar di Ngajisanad. Jadi ketika kamu belajar dari seorang pengajar di sini, kamu sebenarnya juga sedang menyambung ke ilmu yang diturunkan dari gurunya, dan gurunya lagi, jauh ke belakang.
Ini bukan konsep baru yang diciptakan Ngajisanad. Ini cara ilmu agama selalu diwariskan sejak generasi awal Islam, lewat jalur riwayah -- periwayatan berjenjang dari guru ke murid, yang polanya memang berbeda dari cara belajar dirayah yang lebih menekankan pemahaman.Ada hadits yang menjelaskan kedudukan ilmu semacam ini dengan sangat jelas.
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang banyak." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu)1
Kalau ilmu itu warisan, wajar bila kita ingin tahu siapa yang mewariskannya kepada guru kita. Warisan tidak turun begitu saja dari langit -- ada tangan yang menyerahkannya, dari generasi ke generasi. Masyaikh adalah tangan-tangan itu, berdiri tepat di belakang pengajar yang kamu kenal sekarang.
Kedudukan Masyaikh dalam Rantai Sanad
Dalam ilmu mustholah hadits -- disiplin yang mempelajari kaidah periwayatan dan keabsahan sanad -- setiap orang yang menyambungkan ilmu lewat jalur periwayatan yang tersambung (muttasil) disebut musnid.2 Istilah ini tidak selalu berarti orang itu seorang mujtahid atau pakar fikih yang mendalam; musnid bisa saja sekadar pemegang sanad yang sah, yang perannya menjaga ketersambungan mata rantai itu sendiri. Tapi hampir seluruh Masyaikh yang tercatat di direktori Ngajisanad jauh lebih dari sekadar musnid dalam pengertian minimal itu -- mereka adalah ulama yang benar-benar mengajar, memberi ijazah, dan sebagian di antaranya dikenal luas di bidangnya masing-masing.
Ada juga istilah 'uluw isnad, yang secara harfiah berarti "tingginya" sanad -- maksudnya semakin sedikit jumlah perantara antara seorang murid dengan sumber ilmunya, semakin kecil pula ruang bagi informasi itu bergeser dari generasi ke generasi. Ini salah satu alasan kenapa mencantumkan nama Masyaikh secara spesifik jauh lebih berarti dibanding klaim umum seperti "berguru kepada banyak ulama." Sebagai contoh, pada profil salah satu pengajar kami, kamu bisa melihat langsung bahwa sanad hadits beliau bersambung kepada KH. 'Aly Mas'adi Al Mojokertowi, lengkap dengan bukti ijazahnya. Sebagian Masyaikh di direktori Ngajisanad, seperti Syaikh Yasin al-Fadani dan Syaikh Dr. Yahya al-Ghautsani, bahkan punya jalur sanad yang bercabang ke beberapa bidang ilmu sekaligus -- hadits, qira'ah, sampai tajwid -- karena semasa hidupnya mereka sendiri berguru kepada banyak ulama di berbagai bidang.
Konsep inilah yang membedakan ijazah dalam ilmu sanad dari sekadar dokumen administratif.Sebuah ijazah sanad mencatat dari siapa persis ilmu itu diterima, dengan jalur apa, bukan cuma keterangan bahwa ilmu itu pernah dipelajari di suatu tempat.
Kenapa Sanad Harus Terbuka dan Bisa Ditelusuri
Di sinilah letak bedanya Ngajisanad dengan kebanyakan tempat belajar lain. Banyak lembaga hanya menulis satu baris singkat seperti "belajar kepada beberapa ulama" tanpa merinci siapa. Kedengarannya meyakinkan, tapi sebenarnya tidak bisa diverifikasi apa-apa. Kamu cuma diminta percaya.
Kebiasaan meminta bukti sanad seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah Islam. Pada masa awal, para sahabat dan tabi'in saling meriwayatkan hadits tanpa banyak bertanya siapa nama-nama perawi di baliknya, karena masyarakat waktu itu masih relatif homogen dan bisa dipercaya begitu saja. Semua berubah setelah fitnah besar yang menyertai terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, ketika mulai muncul kelompok-kelompok yang menyelewengkan riwayat demi kepentingan golongan masing-masing. Tabi'in besar, Muhammad bin Sirin rahimahullah, menggambarkan perubahan zaman ini dalam sebuah atsar yang masyhur, diriwayatkan oleh Imam Muslim di Muqaddimah Shahih Muslim.
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدْعَةِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ
"Dahulu mereka (para sahabat dan tabi'in) tidak pernah menanyakan sanad. Namun ketika fitnah terjadi, mereka mulai berkata, 'Sebutkan kepada kami nama-nama perawi kalian.' Maka diperhatikanlah, jika ia dari kalangan Ahlus Sunnah, hadisnya diterima; dan jika ia dari kalangan ahli bid'ah, hadisnya tidak diterima." (Atsar Muhammad bin Sirin rahimahullah)3
Sejak saat itulah ilmu untuk memeriksa jalur periwayatan -- termasuk meneliti kejujuran dan kekuatan hafalan tiap perawi, yang kemudian dikenal sebagai ilmu jarh wa ta'dil -- berkembang menjadi disiplin tersendiri. Ibnu Sirin sendiri menegaskan alasan di balik kehati-hatian semacam ini lewat ungkapan lain yang juga masyhur, masih dalam Muqaddimah Shahih Muslim.
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian." (Atsar Muhammad bin Sirin rahimahullah)4
Prinsip yang sama inilah yang mendasari atsar dari Abdullah bin Al-Mubarak, salah satu ulama besar dalam ilmu sanad.
الْإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ، وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
"Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya bukan karena sanad, siapa pun bisa berkata apa saja yang ia mau." (Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah)5
Bayangkan kalau sanad tidak bisa ditelusuri sama sekali. Siapa pun bisa mengaku belajar dari siapa saja, dan tidak ada cara untuk mengeceknya. Justru karena sanad bisa dilacak, sanad bisa dipertanggungjawabkan -- dan celah untuk tadlis, yakni menyamarkan identitas guru dalam periwayatan, bisa ditutup sejak awal.Itu sebabnya Masyaikh tidak boleh jadi info yang tersembunyi. Ia harus ada di depan, terbuka, dan bisa diperiksa siapa saja yang ingin memastikan.
Satu Pengajar, Bisa Punya Lebih dari Satu Masyaikh
Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu: seorang pengajar tidak selalu hanya punya satu Masyaikh. Bisa jadi ada beberapa, tergantung bidang keilmuannya. Sanad untuk hadits datang dari satu jalur guru, sementara sanad untuk qira'ah atau fiqh datang dari jalur guru yang berbeda lagi. Ini masuk akal, karena setiap bidang ilmu -- baik itu Aqidah Ahlus Sunnah, fiqh, maupun periwayatan kitab tertentu seperti Shahih al-Bukhari -- punya jalur transmisinya sendiri, dan tidak semua guru mengajarkan semua bidang sekaligus.
Jadi kalau kamu membuka profil seorang pengajar dan menemukan lebih dari satu nama Masyaikh, jangan bingung. Itu justru menunjukkan bahwa jalur keilmuannya dipetakan dengan jujur per bidang -- mengikuti cara kerja riwayah dan dirayah yang memang berbeda satu sama lain -- bukan digeneralisir jadi satu klaim besar yang kabur. Kamu bisa membandingkan sendiri lewat profil beberapa Masyaikh di direktori, misalnya Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmasi, untuk melihat bagaimana satu nama guru bisa muncul di lebih dari satu jalur sanad yang berbeda.
Menelusuri Sendiri, Bukan Sekadar Percaya
Pada akhirnya, tujuan dari semua ini sederhana. Kamu tidak diminta percaya begitu saja. Kamu diberi jalan untuk memeriksa sendiri, persis seperti proses yang dilalui Ngajisanad sendiri saat memverifikasi setiap sanad pengajarnya sebelum dipublikasikan.Sanad bukan sertifikat yang ditempel lalu selesai. Sanad adalah rantai yang hidup, yang bisa ditarik ke belakang, nama demi nama, guru demi guru.
Kalau kamu ingin melihat langsung siapa saja Masyaikh di balik para pengajar Ngajisanad, dan menelusuri sendiri jalur keilmuan mereka, kamu bisa mulai dari direktori Masyaikh ini. Buka, baca, dan lihat sendiri rantainya sampai ke belakang.
Catatan & Referensi
Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), At-Tirmidzi (no. 2682), dan Ibnu Majah (no. 223), dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu. Dinilai hasan (hasan li ghairihi) oleh sebagian ulama hadits karena diperkuat banyaknya jalur periwayatan yang saling menguatkan.
↩Istilah musnid, 'uluw isnad, dan disiplin ilmu mustholah hadits secara umum dibahas dalam kitab-kitab klasik ilmu hadits, di antaranya Muqaddimah Ibnu Ash-Shalah dan Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar al-'Asqalani.
↩Atsar Muhammad bin Sirin rahimahullah, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim. Fitnah yang dimaksud adalah gejolak politik dan sosial yang menyertai terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, titik awal munculnya kelompok-kelompok yang mendorong lahirnya ilmu jarh wa ta'dil (penelitian kredibilitas perawi).
↩Atsar Muhammad bin Sirin rahimahullah, juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, berdampingan dengan atsar pada catatan sebelumnya.
↩Atsar Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim, pada bagian yang menjelaskan kedudukan sanad sebagai bagian dari agama.
↩