Ada satu hal yang sering luput ketika orang bicara soal menuntut ilmu agama: seberapa besar perhatian yang diberikan pada adab kepada guru, bahkan sebelum membahas ilmu itu sendiri. Bagi banyak ulama salaf, urusan adab ini bukan pelengkap, bukan basa-basi sopan santun semata. Ini fondasi. Tanpa adab, ilmu yang didapat bisa jadi tidak berkah, atau malah tidak benar-benar sampai ke hati.
Pertama: Adab Dulu, Baru Ilmu
Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, salah satu ulama besar dalam sejarah ilmu hadits, pernah menyampaikan perkataan yang sampai sekarang terus dikutip dalam pembahasan tarbiyah dan pendidikan Islam:
تَعَلَّمْتُ الأَدَبَ ثَلاَثِينَ سَنَةً، وَتَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ عِشْرِينَ سَنَةً
"Aku belajar adab selama tiga puluh tahun, dan aku belajar ilmu selama dua puluh tahun." (Atsar Abdullah bin Al-Mubarak rahimahullah, dinukil dalam literatur adab dan tarbiyah ulama)
Coba perhatikan urutannya. Tiga puluh tahun untuk adab, dua puluh tahun untuk ilmu. Bukan berarti adab lebih penting daripada ilmu secara mutlak, tapi adab itu yang membuka pintu supaya ilmu bisa masuk dengan benar. Perkataan ini bukan datang dari sembarang orang. Ibnu Al-Mubarak dikenal sebagai sosok yang menggabungkan banyak keutamaan sekaligus: ahli hadits, ahli fikih, sangat zuhud, dan juga seorang mujahid.1 Kalau orang dengan capaian keilmuan sebesar itu masih menempatkan pembelajaran adab sebagai proses yang lebih panjang daripada pembelajaran ilmu, itu petunjuk kuat bahwa adab bukan sekadar hiasan di pinggir jalan menuntut ilmu.
Dalam tradisi periwayatan ilmu, ada istilah riwayah untuk proses menukil dan menyampaikan ilmu, dan ada dirayah untuk memahami serta mendalaminya. Keduanya sama-sama butuh guru. Dan setiap kali seorang murid duduk di hadapan gurunya, entah untuk sanad hadits, musthalah, atau ilmu apa pun, adab adalah pintu masuk pertama yang harus dibenahi.
Kenapa begitu ketat? Karena ilmu agama itu bukan sekadar informasi yang dipindahkan dari satu kepala ke kepala lain. Ia diwariskan lewat sanad, lewat sosok guru yang menjaga keaslian dan kemurnian riwayat. Kalau murid tidak punya rasa ta'zhim, tidak punya penghormatan yang tulus kepada gurunya, biasanya ilmu itu berhenti di kepala saja, tidak sampai membentuk akhlak dan cara pandangnya terhadap agama.
Ada juga atsar lain yang sejalan dengan pesan ini, meski redaksinya berbeda. Dari sahabat Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
"Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menghormati yang tua di antara kami, tidak menyayangi yang kecil di antara kami, dan tidak mengenali hak orang berilmu di antara kami." (Riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih al-Jami' ash-Shaghir)
Perhatikan tiga hal yang disebutkan sejajar: menghormati yang tua, menyayangi yang kecil, dan mengenali hak orang berilmu. Guru, dalam konteks ini, punya haknya sendiri yang harus dikenali dan dijaga oleh muridnya. Bukan karena guru butuh dipuja, tapi karena mengenali hak itu adalah bagian dari akhlak yang membentuk siapa dirimu sebagai penuntut ilmu.
Kedua: Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit, Ta'zhim yang Nyata
Salah satu kisah yang paling sering dibawakan dalam pembahasan adab kepada guru adalah kisah Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Beliau ini sahabat Nabi yang sangat alim, dijuluki tinta umat karena luasnya ilmu yang beliau miliki. Tapi ketika beliau berada di dekat gurunya, Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, Ibnu Abbas tetap memposisikan diri sebagai murid seutuhnya.
Zaid bin Tsabit sendiri bukan sosok sembarangan. Ia adalah penulis wahyu di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, ahli faraidh (ilmu waris), dan orang yang dipercaya Abu Bakar lalu Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhuma untuk memimpin pengumpulan mushaf Al-Qur'an.2 Meski begitu, dari sisi usia dan sanad keilmuan tertentu, Ibnu Abbas memposisikan diri sebagai murid di hadapannya.
Diceritakan, suatu ketika Ibnu Abbas memegang tali kekang tunggangan Zaid bin Tsabit sebagai bentuk penghormatan. Orang-orang di sekitarnya heran dan berkata, kenapa seorang yang begitu mulia seperti Ibnu Abbas melakukan hal seperti itu untuk orang lain. Maka Ibnu Abbas menjawab:
هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِعُلَمَائِنَا
"Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan ulama kami." (Atsar — ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ketika ia memegang tali kekang tunggangan gurunya, Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, sebagai bentuk penghormatan seorang murid kepada gurunya. Dinukil Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih)
Kisah ini bukan sekadar cerita lama yang enak didengar. Ini gambaran nyata bagaimana ilmu dan kemuliaan seseorang justru tercermin dari seberapa besar penghormatannya kepada gurunya, bukan seberapa tinggi ia merasa sudah berilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin dalam pula adabnya kepada orang yang mengajarinya.
Ketiga: Musa dan Khidir, Meminta Izin Bukan Menuntut
Contoh lain yang juga sering dibawakan dalam pembahasan adab talaqqi adalah kisah Nabi Musa 'alaihissalam saat mendatangi Khidir 'alaihissalam. Musa, seorang nabi yang mulia, tetap meminta izin dengan penuh kerendahan hati sebelum mengikuti dan belajar dari Khidir. Allah subhanahu wa ta'ala mengabadikan permintaan itu dalam Al-Qur'an:
قَالَ لَهُ مُوسَىٰ هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَىٰ أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
"Musa berkata kepadanya (Khidir): "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?"" (QS. Al-Kahf [18]: 66)
Perhatikan kata-katanya. Musa tidak memerintah, tidak menuntut, apalagi merasa berhak. Ia meminta izin. Ia menempatkan diri sebagai murid yang butuh bimbingan, bukan sebagai orang yang datang untuk menguji atau menilai gurunya. Inilah adab talaqqi yang sesungguhnya, sikap seorang penuntut ilmu yang datang dengan hati terbuka, bukan dengan sikap sok tahu.
Menariknya, pola yang sama muncul lagi di kisah Ibnu Abbas dan Zaid bin Tsabit di atas: keduanya sama-sama menunjukkan bahwa kedudukan tinggi seseorang, entah sebagai nabi atau sebagai sahabat yang alim, tidak pernah jadi alasan untuk melonggarkan adab kepada guru. Semakin dalam ilmu yang mau digali, semestinya semakin rapi pula adab yang dibawa untuk menggalinya.
Keempat: Warisan Ulama tentang Adab kepada Guru
Perhatian terhadap adab murid-guru ini bukan hanya muncul dalam atsar-atsar terpisah, tapi juga dituangkan secara sistematis oleh ulama dalam kitab-kitab khusus. Salah satu yang paling dikenal, terutama di kalangan pesantren, adalah Ta'lim al-Muta'allim karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Kitab ini secara khusus membahas etika menuntut ilmu, termasuk satu bab yang menjelaskan bagaimana seorang murid semestinya bersikap kepada gurunya.3
Az-Zarnuji menuliskan sejumlah adab praktis yang terasa detail sekali kalau dibaca sekarang: tidak berjalan mendahului guru tanpa izin, tidak duduk di tempat yang biasa ditempati guru, tidak banyak bicara atau bertanya hal yang tidak perlu di hadapannya, dan mendengarkan penjelasannya dengan penuh perhatian. Menurut beliau, keberkahan ilmu justru bisa hilang kalau murid tidak menjaga adab-adab semacam ini kepada gurunya. Inti dari semua poin itu sebenarnya satu: ilmu tidak akan meresap ke hati murid yang hatinya belum tunduk kepada gurunya.
Contoh penerapan adab semacam ini juga terekam dalam kisah yang banyak dinukil dalam literatur adab tentang Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dan gurunya, Imam Malik bin Anas rahimahullah. Dikisahkan, ketika belajar di hadapan Imam Malik, Asy-Syafi'i membuka lembaran kitab dengan sangat pelan, semata agar suara gesekan kertas itu tidak mengganggu gurunya.4 Hal sekecil bunyi kertas pun diperhatikan, karena bagi seorang penuntut ilmu sejati, penghormatan kepada guru tidak berhenti pada perkara besar saja. Ia hadir bahkan di detail-detail yang tidak akan disadari orang lain.
Kalau ditarik satu garis, atsar Ibnu Al-Mubarak, kisah Ibnu Abbas, ayat tentang Musa dan Khidir, kitab Az-Zarnuji, dan kisah Asy-Syafi'i ini semua bicara hal yang sama dari sisi yang berbeda-beda: adab kepada guru bukan tambahan yang boleh diabaikan kalau sudah merasa cukup pintar. Ia bagian dari cara ilmu itu diwariskan dengan utuh.
Kelima: Kenapa Adab Ini Menjaga Keaslian Ilmu
Ada alasan yang lebih dalam kenapa tradisi keilmuan Islam menempatkan adab setara pentingnya dengan sanad itu sendiri. Ilmu agama, khususnya hadits, diturunkan lewat rantai orang ke orang. Setiap mata rantai itu bukan cuma soal siapa menyampaikan kepada siapa, tapi juga soal bagaimana ilmu itu dijaga supaya tidak tercampur kesalahan, tidak dipalsukan, dan tidak diselewengkan maknanya. Bisa dibaca lebih jauh soal ini di artikel Mengapa Sanad Penting dalam Menuntut Ilmu?
Murid yang punya adab biasanya juga lebih hati-hati dalam menyampaikan ulang apa yang ia terima dari gurunya. Ia tidak asal comot, tidak asal potong, dan tidak menambah-nambahi klaim yang tidak diajarkan gurunya. Sikap kehati-hatian semacam ini justru yang menjaga ilmu tetap murni dari generasi ke generasi, sesuatu yang jadi perhatian besar dalam tradisi periwayatan ilmu, sampai muncul istilah-istilah khusus untuk menjaga keasliannya. Kalau kamu penasaran seperti apa proses belajar langsung dari mulut ke mulut ini bekerja, ada penjelasannya di artikel Apa Itu Talaqqi? Belajar Langsung dari Mulut ke Mulut.
Keenam: Adab di Zaman Talaqqi Daring
Nah, sekarang pertanyaannya, bagaimana kalau belajarnya lewat layar? Bagaimana kalau talaqqi kita dengan guru dilakukan secara daring, bukan duduk berhadapan langsung di majelis seperti Ibnu Abbas dengan Zaid bin Tsabit?
Esensi adab itu tidak berubah hanya karena medianya berubah. Memang benar, adab fisik seperti berjalan di belakang guru atau memegang tali kekangnya jelas tidak relevan lagi diterapkan secara harfiah. Tapi ta'zhim itu soal hati dan sikap, bukan sekadar gerakan tubuh. Murid yang datang ke kelas daring dengan persiapan, yang menyimak dengan sungguh-sungguh, yang tidak memotong penjelasan guru sembarangan, yang bertanya dengan sopan, itu semua bentuk adab yang tetap hidup meski lewat layar.
Justru di zaman sekarang, ketika begitu banyak konten agama beredar tanpa jelas siapa gurunya, siapa sanadnya, adab kepada guru menjadi makin penting untuk dijaga. Karena adab inilah yang membedakan seorang penuntut ilmu sejati dari orang yang sekadar mengonsumsi informasi.
Di Ngajisanad, kami berusaha menjaga hal ini dengan cara yang mungkin jarang dilakukan platform lain: mempublikasikan sanad setiap pengajar secara terbuka, supaya kamu bisa melihat sendiri siapa guru dari guru kami, dan bagaimana ilmu itu benar-benar tersambung. Kalau kamu penasaran bagaimana rantai ini bekerja, silakan baca artikel Siapa Itu Masyaikh? untuk mengenal lebih jauh sosok-sosok di balik sanad para pengajar. Topik adab dan akhlak seperti ini juga dibahas lebih lengkap dalam kelas Adab & Akhlak: Menata Hati dan Perilaku, yang salah satu pengajarnya, pengajar kami, menekuni bidang ini secara khusus lengkap dengan jalur keilmuannya sendiri.
Catatan & Referensi
Abdullah bin Al-Mubarak (118-181 H) adalah ulama dari Khurasan yang dikenal sebagai ahli hadits, ahli fikih, sangat zuhud, dan juga seorang mujahid, hingga digelari Syaikhul Islam oleh sebagian ulama. Beliau meninggal dalam perjalanan pulang dari jihad melawan Romawi.
↩Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu adalah sahabat Nabi yang bertugas sebagai penulis wahyu, ahli ilmu faraidh, dan dipercaya memimpin pengumpulan mushaf Al-Qur'an baik di masa Khalifah Abu Bakar maupun Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhuma.
↩Ta'lim al-Muta'allim Thariq at-Ta'allum karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji adalah salah satu kitab klasik paling banyak dipelajari di pesantren-pesantren Nusantara sebagai panduan etika menuntut ilmu, termasuk bab khusus tentang sikap murid kepada gurunya.
↩Kisah Imam Asy-Syafi'i yang membuka lembaran kitab secara pelan di hadapan gurunya, Imam Malik bin Anas rahimahumallah, banyak dinukil secara turun-temurun dalam literatur adab penuntut ilmu sebagai contoh kehati-hatian menjaga penghormatan kepada guru, meski redaksi persisnya bervariasi antar sumber.
↩