Arbain Nawawi 36: Keutamaan Meringankan Kesulitan Sesama Muslim

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
"Barangsiapa melapangkan satu kesulitan dunia dari seorang mukmin, Allah akan melapangkan satu kesulitan darinya pada hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dikelilingi para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan (para malaikat) yang ada di sisi-Nya. Dan barangsiapa lambat amalnya, nasabnya tidak akan mempercepatnya." (HR. Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)1

Hadits ketiga puluh enam Arbain Nawawi ini termasuk salah satu hadits terpanjang dalam koleksi ini, merangkai enam pelajaran sekaligus dalam satu riwayat: meringankan kesulitan, memudahkan orang yang kesusahan, menutupi aib, menolong saudara, menuntut ilmu, dan majelis membaca Al-Qur'an. Keenam bagian ini punya satu pola yang sama - balasan dari Allah mengikuti bentuk perbuatan hamba-Nya, dan ditutup dengan satu peringatan bahwa amal seseoranglah yang menentukan kedudukannya, bukan garis keturunan. Artikel ini membedah keenam bagian tersebut satu per satu.

Pertama: Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tercatat dalam Kitab Dzikir, Doa, Taubat, dan Istighfar.2 Sebagian riwayat lain dengan tema serupa - misalnya tentang keutamaan menuntut ilmu atau keutamaan majelis dzikir - juga tercatat di berbagai kitab hadits dengan redaksi yang berbeda-beda, namun redaksi lengkap yang menggabungkan keenam pelajaran ini dalam satu riwayat, sebagaimana dipilih Imam An-Nawawi, bersumber dari Shahih Muslim.

Kedua: Melapangkan Kesulitan Dunia Seorang Mukmin

Bagian pertama hadits ini menjanjikan balasan yang setimpal bentuknya: siapa yang melapangkan satu kurbah (kesulitan/kesusahan) dunia seorang mukmin, Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan pada hari Kiamat - hari yang oleh Al-Qur'an dan hadits digambarkan penuh kesulitan dan ketakutan bagi setiap orang. Kesulitan dunia yang dimaksud di sini mencakup makna yang luas - kesulitan finansial, kesulitan menghadapi masalah pribadi, kesulitan mendapatkan informasi atau bantuan, bahkan sekadar menjadi pendengar yang meringankan beban emosional seseorang. Prinsip "balasan sesuai bentuk amal" ini berulang di seluruh bagian hadits ini, dan menjadi salah satu kaidah penting dalam memahami bagaimana Allah membalas kebaikan hamba-Nya. Bentuk paling umum dari melapangkan kesulitan orang lain adalah sedekah - sebagaimana sudah dibahas lebih rinci dalam artikel Ngaji Sanad tentang keutamaan dan bentuk-bentuk sedekah - tapi cakupan "melapangkan kurbah" di hadits ini sebenarnya lebih luas dari sekadar sedekah harta, mencakup segala bentuk bantuan yang benar-benar meringankan beban orang lain.

Ketiga: Memudahkan Orang yang Kesulitan

Bagian kedua secara khusus menyebut mu'sir - orang yang sedang kesulitan, dalam konteks aslinya sering dipahami sebagai orang yang berutang dan belum mampu membayar. Memberi kelonggaran waktu, membebaskan sebagian utang, atau bahkan membebaskannya sepenuhnya termasuk bentuk "yassara 'ala mu'sirin" yang dijanjikan kemudahan dunia-akhirat sebagai balasannya. Al-Qur'an sendiri menegaskan anjuran memberi tenggang waktu kepada orang yang kesulitan membayar utang, bahkan menganjurkan membebaskannya sama sekali sebagai sedekah bila memungkinkan (QS. Al-Baqarah: 280) - sebuah anjuran yang sejalan langsung dengan janji dalam hadits ini.

Keempat: Menutupi Aib Sesama Muslim

Bagian ketiga, menutupi aib seorang muslim, perlu dipahami dengan syarat yang jelas: menutupi di sini berlaku untuk kesalahan pribadi yang tidak membahayakan orang lain dan pelakunya tidak dikenal gemar mengulang-ulang kemaksiatan secara terang-terangan. Menutupi aib bukan berarti membiarkan kejahatan yang merugikan orang lain terus berlangsung tanpa tindakan - hadits ketiga puluh empat Arbain Nawawi tentang mengubah kemungkaran tetap berlaku dalam kasus semacam itu. Menutupi aib yang dimaksud di sini adalah sikap tidak membongkar atau menyebarkan kesalahan pribadi seseorang yang sudah lewat, terutama kalau orang tersebut sudah bertobat atau sedang berusaha memperbaiki diri - bukan alat untuk melindungi kejahatan yang terus berulang.

Kelima: Allah Menolong Selama Hamba Menolong Saudaranya

Bagian keempat menyatakan sebuah hubungan sebab-akibat yang langsung: pertolongan Allah kepada seorang hamba berjalan seiring dengan kesediaan hamba itu menolong saudaranya sesama muslim. Ini bukan berarti pertolongan Allah semata-mata "dibeli" lewat amal manusia, melainkan sebuah sunnatullah (pola yang berlaku tetap) bahwa sikap ringan tangan menolong sesama menjadi sebab turunnya pertolongan Allah bagi orang tersebut - baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Prinsip ini menegaskan bahwa kepedulian sosial dalam Islam bukan sekadar anjuran moral yang lepas dari konsekuensi spiritual, melainkan terhubung langsung dengan kedekatan seorang hamba kepada pertolongan Allah.

Keenam: Menuntut Ilmu - Jalan Menuju Surga

Bagian kelima secara khusus membahas keutamaan menuntut ilmu, dengan bahasa yang sangat luas: "siapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu". Kata "jalan" (thariq) di sini dipahami mencakup makna harfiah (perjalanan fisik menuju majelis ilmu) maupun makna kiasan (usaha dan metode apa pun yang ditempuh untuk memperoleh ilmu agama). Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa semakin besar kesulitan yang ditempuh dalam mencari ilmu, semakin besar pula keutamaan yang didapat - sebuah kaidah umum yang berlaku luas dalam banyak amal ibadah, bukan hanya menuntut ilmu.3 Pembahasan lebih dalam tentang kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu dalam Islam sudah dibahas tersendiri di artikel Ngaji Sanad sebelumnya.

Ketujuh: Majelis Membaca dan Mempelajari Al-Qur'an

Bagian keenam menggambarkan empat balasan sekaligus bagi sekelompok orang yang berkumpul di masjid (salah satu "rumah Allah") untuk membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya bersama: turunnya ketenangan (sakinah), diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan disebut-sebut Allah di hadapan malaikat-malaikat yang ada di sisi-Nya. Empat balasan ini menunjukkan bahwa majelis ilmu Al-Qur'an bukan sekadar aktivitas belajar biasa, melainkan momen yang secara khusus dihadiri kehadiran spiritual yang dijanjikan langsung oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Syarat yang disebut jelas dalam hadits: dilakukan di rumah Allah (masjid), membaca Kitabullah, dan mempelajarinya bersama - bukan sekadar berkumpul membicarakan hal lain di lingkungan masjid.

Kedelapan: Penutup Hadits - Amal Lebih Menentukan daripada Nasab

Kalimat penutup hadits ini - "barangsiapa lambat amalnya, nasabnya tidak akan mempercepatnya" - menegaskan sebuah prinsip yang juga ditegaskan Al-Qur'an: kemuliaan seseorang di sisi Allah ditentukan oleh amal dan ketakwaannya, bukan garis keturunan atau status sosial (QS. Al-Hujurat: 13). Penutup ini terasa seperti pengingat keras di akhir sebuah hadits yang penuh janji kebaikan: semua keutamaan yang disebutkan sebelumnya - melapangkan kesulitan, memudahkan orang susah, menutupi aib, menolong saudara, menuntut ilmu, dan majelis Al-Qur'an - adalah AMAL yang harus benar-benar dikerjakan, bukan sekadar status keturunan dari keluarga yang saleh atau terhormat yang otomatis menjamin kedudukan seseorang di sisi Allah.

Kesembilan: Satu Benang Merah - Kebaikan yang Membalas Diri Sendiri

Meninjau ulang keenam bagian hadits ini, ada satu pola yang konsisten: bentuk balasan Allah mengikuti bentuk perbuatan hamba-Nya. Melapangkan kesulitan dibalas kelapangan, memudahkan dibalas kemudahan, menutupi aib dibalas ditutupi aibnya, menolong dibalas pertolongan, mencari ilmu dibalas jalan ke surga. Pola ini mengajarkan bahwa kebaikan sosial dalam Islam - jauh dari sekadar formalitas moral - punya konsekuensi yang nyata dan proporsional bagi pelakunya sendiri, sebuah dorongan yang jauh lebih kuat daripada sekadar anjuran "berbuat baiklah kepada sesama" tanpa penjelasan kenapa dan bagaimana balasannya.

Kesepuluh: Relevansi Praktis di Kehidupan Sehari-hari

Enam pelajaran dalam hadits ini bukan perkara yang jauh dari jangkauan orang kebanyakan. Melapangkan kesulitan bisa sesederhana meminjamkan uang tanpa bunga kepada tetangga yang kesulitan, atau meluangkan waktu mendengarkan keluh kesah teman yang sedang berat pikirannya. Memudahkan orang yang berutang bisa berupa memberi kelonggaran waktu pembayaran tanpa denda tambahan. Menutupi aib bisa sesederhana tidak menyebarkan kesalahan pribadi seseorang yang sudah lewat dan sudah ia sesali. Menuntut ilmu, termasuk lewat kelas-kelas bidang hadits yang mempelajari langsung teks dan sanad hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, kini juga bisa ditempuh lewat jalur pembelajaran daring yang tidak mengharuskan seseorang menempuh perjalanan jauh seperti generasi ulama terdahulu - meski jerih payah dan kesungguhan tetap jadi syarat mendapatkan keutamaannya, bukan sekadar mengikuti kelas secara pasif.

Majelis membaca dan mempelajari Al-Qur'an bersama pun tetap relevan dipraktikkan, baik secara langsung di masjid maupun lewat forum belajar bersama yang menjaga esensi "membaca dan saling mempelajari" - bukan sekadar mendengarkan bacaan tanpa upaya memahami maknanya. Keenam pelajaran ini, kalau ditelusuri satu per satu, menunjukkan bahwa hadits ini sebenarnya adalah peta kebaikan yang bisa dipraktikkan siapa saja, kapan saja, tanpa memerlukan kedudukan atau kekayaan khusus.

Penutup

Hadits sebelumnya tentang larangan dengki menjaga ukhuwah dengan mencegah kerusakan; hadits ini melangkah lebih jauh dengan mendorong kebaikan aktif kepada sesama - meringankan kesulitan, menolong, dan menuntut ilmu bersama. Keduanya saling melengkapi: mencegah kerusakan hubungan sekaligus membangun kebaikan yang menguatkannya. Pembahasan hadits-hadits Arbain Nawawi lainnya tersedia di halaman kitab, termasuk hadits berikutnya tentang bagaimana Allah mencatat kebaikan dan keburukan.

Catatan & Referensi

  1. Teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits Shahih Muslim nomor internal 6853 (Kitab Dzikir, Doa, Taubat, dan Istighfar), diverifikasi lewat /hadits/muslim/6853/.

  2. Penjelasan Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam tentang kaidah "semakin besar kesulitan menuntut ilmu, semakin besar keutamaannya" disarikan dari pembacaan ulang sumber sekunder berbahasa Indonesia yang menukil karya tersebut - belum diverifikasi langsung ke naskah aslinya untuk hadits ini secara spesifik dalam penulisan artikel ini.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email