Islam menempatkan ilmu - lebih khusus, ilmu agama - pada posisi yang sangat tinggi, jauh sebelum bicara soal amal. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam pun berupa perintah membaca (iqra'), bukan perintah beribadah. Kedudukan ini bukan sekadar anjuran umum untuk rajin belajar - Al-Qur'an dan hadits menempatkan orang yang menuntut ilmu pada jalur khusus menuju surga, dan menempatkan ulama pada posisi ahli waris para nabi. Artikel ini merangkum hadits-hadits sahih tentang keutamaan dan kewajiban menuntut ilmu, langsung dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri yang sudah terverifikasi lewat proses kurasi Kutubus Sittah - sekaligus meluruskan dua kalimat populer yang sering dikutip sebagai "hadits" tentang menuntut ilmu, padahal keduanya tidak sahih.
Pertama: Ilmu Meninggikan Derajat di Sisi Allah
Dasar paling mendasar soal keutamaan ilmu datang langsung dari Al-Qur'an. Imam Bukhari sendiri membuka Kitab Al-'Ilm (Kitab Ilmu) dalam Shahih-nya dengan mengutip ayat ini sebagai judul babnya:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadalah: 11)1
Ayat ini tidak menyebut ilmu apa pun secara umum sebagai penambah derajat - konteksnya adalah ilmu yang mengantarkan pada keimanan dan ketaatan, bukan sekadar informasi. Karena itu pula ulama fikih dan hadits menempatkan thalabul 'ilmi (menuntut ilmu, terutama ilmu agama yang menjadi fardhu 'ain bagi setiap muslim seperti tauhid, cara bersuci, dan shalat) sebagai bagian dari amal yang paling utama, setara atau bahkan melampaui sebagian ibadah sunnah lainnya.
Kedua: Dipahamkan dalam Agama adalah Tanda Kebaikan dari Allah
Salah satu hadits paling masyhur tentang keutamaan ilmu agama - muttafaq 'alaih, diriwayatkan baik oleh Imam Bukhari maupun Imam Muslim - datang dari khutbah Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu yang menyampaikan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي
"Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik, maka Allah akan memahamkannya dalam agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan, sedangkan Allah yang memberi." (HR. Bukhari no. 71, Muslim no. 2392, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu)2
Hadits ini menjadikan fiqh (pemahaman mendalam tentang agama, bukan sekadar hafalan dalil) sebagai tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk seseorang. Sebaliknya, orang yang tidak punya keinginan untuk memahami agamanya sendiri - bukan berarti pasti buruk di sisi Allah - tapi tidak mendapatkan salah satu tanda kebaikan yang paling jelas ini. Kalimat penutup hadits ini juga penting: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan posisinya hanya sebagai penyampai (qasim, pembagi), sedangkan yang benar-benar memberi taufik untuk memahami ilmu adalah Allah semata - jadi doa dan kesungguhan tetap harus menyertai usaha belajar, bukan usaha semata yang menjamin pemahaman.
Ketiga: Menuntut Ilmu, Jalan yang Dimudahkan Menuju Surga
Kalau hadits sebelumnya bicara soal buah dari dipahamkan agama, hadits berikut bicara soal proses menuntut ilmunya itu sendiri - lengkap dengan gambaran keutamaan orang berilmu dibanding ahli ibadah biasa, dan status ulama sebagai pewaris para nabi:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ، وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayapnya karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang berilmu dimintakan ampun oleh penduduk langit dan bumi, bahkan ikan-ikan di dasar laut. Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi - dan para nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat besar." (HR. Abu Dawud no. 3641, dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu)3
Hadits panjang ini sebenarnya memuat beberapa keutamaan sekaligus, bukan cuma satu klaim. Pertama, sekadar menempuh jalan untuk mencari ilmu - baik jalan fisik seperti berangkat ke majelis, maupun jalan metaforis seperti membaca dan menghafal - sudah dijanjikan kemudahan jalan menuju surga, terlepas dari seberapa banyak ilmu yang akhirnya didapat. Kedua, ada penghormatan dari makhluk yang tidak terlihat manusia: malaikat dan penduduk langit-bumi. Ketiga, dan yang paling sering dikutip, status ulama sebagai waratsatul anbiya' (pewaris para nabi) - bukan pewaris harta, karena nabi memang tidak meninggalkan warisan materi, melainkan pewaris ilmu itu sendiri. Riwayat yang senada juga ada pada Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan redaksi yang sedikit berbeda pada kata kerja "mencari" (yathlubu, yabtaghi, atau yaltamisu - ketiganya semakna, hanya variasi riwayat), menunjukkan hadits ini diriwayatkan lewat lebih dari satu jalur sanad yang saling menguatkan.4
Keempat: Bahkan Seorang Nabi Pun Menempuh Perjalanan untuk Mencari Ilmu
Kalau tiga hadits sebelumnya berbicara dalam bentuk anjuran dan janji pahala, hadits berikut memberi contoh konkret lewat kisah nyata - dan yang menariknya, tokoh utamanya adalah seorang nabi. Imam Bukhari mencatatnya dalam bab khusus berjudul "Bepergian dalam rangka menuntut ilmu":
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa ia pernah berdebat dengan seseorang tentang siapa sebenarnya "sahabat Musa" yang disebut dalam Al-Qur'an - sosok yang dicari Nabi Musa 'alaihissalam karena ingin belajar darinya. Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, yang kebetulan lewat, mengonfirmasi dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa sosok itu adalah Nabi Khidir 'alaihissalam. Ceritanya bermula ketika Nabi Musa ditanya, "Apakah engkau mengetahui ada orang yang lebih berilmu darimu?" Musa menjawab tidak - lalu Allah mewahyukan bahwa ada, yaitu hamba-Nya bernama Khidir. Musa lantas meminta petunjuk jalan untuk menemuinya, dan menempuh perjalanan panjang menyusuri laut, mengikuti tanda seekor ikan, sampai akhirnya benar-benar bertemu dan berguru kepadanya.5
Kisah ini - yang juga diabadikan panjang lebar dalam Surat Al-Kahfi - menunjukkan bahwa kerendahan hati untuk mengakui masih perlu belajar, bahkan bagi seorang nabi ulul azmi sekalipun, adalah bagian dari akhlak menuntut ilmu yang sejati. Musa tidak berhenti pada pengakuan itu saja - ia benar-benar menempuh perjalanan jauh dan melelahkan demi bertemu orang yang lebih berilmu darinya. Sikap yang sama juga tercermin dalam doa yang Allah perintahkan langsung kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:
وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.'" (QS. Thaha: 114)6
Ayat ini istimewa karena merupakan satu-satunya perintah dalam Al-Qur'an di mana Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan meminta tambahan secara eksplisit - bukan meminta harta, bukan meminta kedudukan, melainkan ilmu. Ini menegaskan bahwa menuntut ilmu bukan proses yang pernah benar-benar selesai; sekalipun kepada seorang nabi, Allah tetap mengajarkan untuk terus meminta tambahan pemahaman.
Kelima: Dua Kalimat Populer yang Ternyata Bukan Hadits
Karena tema menuntut ilmu begitu populer, dua kalimat berikut sangat sering beredar dan dikutip seolah-olah sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam - padahal keduanya termasuk kategori hadits maudhu' (palsu) atau setidaknya tidak memiliki sanad yang bisa dipertanggungjawabkan sebagai hadits Nabi:
Kalimat pertama, "Utlubul 'ilma minal mahdi ilal lahdi" (أُطْلُبُ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ, "Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat"), populer sebagai motivasi belajar sepanjang hayat, tapi tidak ditemukan sanadnya dalam kitab-kitab hadits yang mu'tamad. Kalimat kedua, "Utlubul 'ilma walau bish-shin" (اُطْلُبُوا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّينِ, "Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina"), sering dipakai untuk menegaskan bahwa jarak bukan alasan untuk tidak belajar - tapi para ulama hadits menilainya sebagai riwayat yang sangat lemah, bahkan maudhu', bukan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Bukan berarti pesan di baliknya salah - semangat belajar seumur hidup dan tidak membatasi diri karena jarak memang selaras dengan ajaran Islam secara umum, sebagaimana tergambar dari hadits-hadits sahih di atas. Masalahnya murni pada penyandaran kalimat itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai sabda beliau, padahal beliau tidak pernah mengucapkannya. Menyandarkan perkataan kepada Nabi tanpa dasar yang sahih adalah perkara serius dalam ilmu hadits - karena itu, gunakan hadits-hadits yang sudah dipastikan keasliannya di atas sebagai dalil, bukan dua kalimat populer ini.7
Keenam: Menuntut Ilmu adalah Kewajiban (Faridhah), Bukan Sekadar Anjuran
Selain keutamaan dan pahalanya, ada satu sisi yang sering luput dari pembahasan: menuntut ilmu agama itu sendiri berstatus wajib, bukan cuma dianjurkan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ
"Menuntut ilmu (thalabul 'ilmi) adalah kewajiban (faridhah) bagi setiap muslim. Dan orang yang meletakkan ilmu bukan pada ahlinya, seperti seorang yang mengalungkan mutiara, intan, dan emas ke leher babi." (HR. Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)8
Kata faridhah di sini setara dengan istilah fardhu dalam ilmu fiqh, kewajiban yang berdosa jika ditinggalkan. Ulama memahami "ilmu" yang dimaksud sebagai ilmu dasar agama yang wajib diketahui setiap muslim untuk sah ibadah dan muamalahnya (fardhu 'ain), bukan seluruh cabang ilmu syariat sampai ke tingkat pakar, yang statusnya fardhu kifayah dan cukup diwakili sebagian umat. Bagian kedua hadits ini memuat pesan tersendiri: ilmu yang diletakkan pada orang yang tidak berhak menerimanya diibaratkan seperti mengalungkan perhiasan mahal ke leher babi, perumpamaan yang tegas soal pentingnya menempatkan ilmu pada penerima yang semestinya.
Ketujuh: Ilmu yang Bermanfaat, Amal yang Tetap Mengalir Meski Telah Wafat
Keutamaan ilmu ternyata tidak berhenti ketika pemiliknya wafat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim no. 4223, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)9
Dari tiga amal yang disebut hadits ini, ilmu yang bermanfaat ('ilmun yuntafa'u bihi) adalah satu-satunya yang murni buah dari proses menuntut ilmu semasa hidup, berbeda dari sedekah jariyah yang berupa harta yang diwakafkan atau anak saleh yang butuh proses mendidik tersendiri. Sebuah pelajaran yang ditulis, diajarkan, atau diwariskan kepada murid tetap mengalirkan pahala bagi pemiliknya selama ilmu itu terus dipakai dan disebarkan orang lain, salah satu alasan kenapa jalur sanad keilmuan dari guru ke murid punya nilai yang jauh melampaui masa hidup satu generasi.
Penutup
Dari ketujuh hadits dan ayat di atas, benang merahnya jelas: menuntut ilmu agama bukan sekadar aktivitas intelektual biasa, melainkan jalan yang dijanjikan Allah dengan kemudahan menuju surga, dihormati oleh malaikat, dan menjadikan pelakunya pewaris para nabi. Bahkan seorang nabi seperti Musa 'alaihissalam pun rela menempuh perjalanan jauh demi belajar dari orang yang lebih berilmu. Untuk memahami sisi lain dari perjalanan menuntut ilmu - menjaga niat agar tidak tercampur riya - lihat juga Ikhlas dalam Menuntut Ilmu dan Hadits tentang Riya. Untuk memahami kenapa jalur sanad (mata rantai periwayatan) begitu penting dalam proses menuntut ilmu agama, baca Mengapa Sanad Penting dalam Menuntut Ilmu?, dan untuk mengenali lebih jauh kategori hadits lemah dan palsu seperti dua kalimat yang dibahas di atas, lihat Mengenal Jenis-Jenis Hadits Dhaif. Untuk belajar ilmu hadits dan ilmu-ilmu terkait secara berjenjang bersama pengajar bersanad, lihat jalur kelas Musthalah Hadits di Ngaji Sanad.
Catatan & Referensi
QS. Al-Mujadalah: 11 - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data kurasi kitab/bab Sahih Bukhari milik Ngaji Sanad sendiri (server/lib/hadith-chapters.js, ayat judul Kitab Al-'Ilm bab 1), yang sudah dicek langsung terhadap sunnah.com dalam proses kurasi Kitab Ilmu.
↩HR. Bukhari no. 71 (Kitab Ilmu bab 13, "Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan memberinya pemahaman dalam agama") dan Muslim no. 2392 (nomor urut data sendiri) - teks Arab dan terjemahan dari hadith-api/books/bukhari.json dan muslim.json, dicek langsung: sanad kedua riwayat identik (Humaid bin Abdurrahman bin Auf, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan saat berkhutbah) dan matannya sama persis, mengonfirmasi status muttafaq 'alaih. Hadits yang sama juga diriwayatkan Imam Tirmidzi no. 2645 (Kitab Ilmu bab 1) dari jalur Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dinilai "hasan shahih" oleh Imam Tirmidzi sendiri, yang juga menyebutkan riwayat serupa dari Umar, Abu Hurairah, dan Mu'awiyah. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini dan versi Muslim.
↩HR. Abu Dawud no. 3641 (Kitab Ilmu bab 1, "Anjuran untuk menuntut ilmu"), dari Abu Darda radhiyallahu 'anhu - dinilai shahih (dishahihkan Syaikh Al-Albani) menurut sumber sekunder berbahasa Indonesia, sumber sekunder berbahasa Indonesia, dan dorar.net. Teks Arab dan terjemahan dari hadith-api/books/abu-daud.json, dicek langsung mencakup seluruh klaim yang dikutip di atas (jalan ke surga, sayap malaikat, keutamaan atas ahli ibadah, ulama pewaris nabi) dalam satu hadits yang sama. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩Riwayat paralel: Tirmidzi no. 2682 (Kitab Ilmu bab 19, "Keutamaan fikih di atas ibadah", redaksi yabtaghi) dan Ibnu Majah no. 223 (redaksi yaltamisu, berada dalam rentang Muqaddimah Ibnu Majah yang belum dikurasi bab-nya di data Ngaji Sanad) - keduanya dicek langsung dari tirmidzi.json dan ibnu-majah.json, matannya sama dengan Abu Dawud no. 3641 hanya berbeda pilihan kata kerja "mencari". Imam Tirmidzi sendiri mencatat bahwa jalur riwayat Mahmud bin Khidasy yang sampai kepadanya tidak tersambung sempurna (ghair muttasil) - namun status hadits secara keseluruhan tetap dinilai shahih oleh ulama karena didukung jalur Abu Dawud dan Ibnu Majah yang lebih tersambung. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini dan versi Ibnu Majah.
↩HR. Bukhari no. 78 (Kitab Ilmu bab 19, "Bepergian dalam rangka menuntut ilmu"), dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, dengan konfirmasi dari Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dari hadith-api/books/bukhari.json, diringkas di atas untuk keperluan artikel (hadits aslinya memuat dialog lengkap perdebatan Ibnu Abbas dan Al-Hurr bin Qais). Kisah yang sama, dengan detail lebih panjang, juga diriwayatkan Imam Muslim dalam Kitab Al-Fadhail. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩QS. Thaha: 114 - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data kurasi kitab/bab Sahih Bukhari milik Ngaji Sanad sendiri (server/lib/hadith-chapters.js, ayat judul Kitab Al-'Ilm bab 6), yang sudah dicek langsung terhadap sunnah.com dalam proses kurasi Kitab Ilmu.
↩Status kedua kalimat ini sebagai bukan hadits sahih sudah dibahas juga di Mengenal Jenis-Jenis Hadits Dhaif, mengutip penilaian yang sama dari kajian-kajian ulama hadits kontemporer (mis. sumber sekunder berbahasa Indonesia, sumber sekunder berbahasa Indonesia) yang menegaskan tidak ditemukannya sanad yang sahih untuk kedua kalimat ini dalam kitab-kitab hadits mu'tamad.
↩HR. Ibnu Majah no. 224, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngajisanad sendiri. Soal derajatnya: mayoritas ulama hadits menilai sanad riwayat ini dhaif lewat jalur Katsir bin Syinzhir, namun sejumlah ulama seperti Al-Mizzi dan As-Suyuthi menilainya hasan li ghairihi karena banyak jalur penguat (syawahid) yang meriwayatkan makna serupa - dicantumkan apa adanya, bukan diklaim shahih tanpa dasar. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Muslim no. 4223, Kitab Wasiat, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dari data hadits primer Ngajisanad sendiri, salah satu hadits paling dikenal luas tentang amal yang terus mengalir setelah wafat. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩