Riya - beramal supaya dilihat dan dipuji orang lain, bukan murni karena Allah - sering disebut ulama sebagai penyakit hati yang paling sulit dikenali, karena ia bisa menyusup ke amal-amal yang tampak besar dan mulia sekalipun. Kalau hadits tentang niat menegaskan bahwa nilai sebuah amal ditentukan oleh apa yang mendasarinya, riya adalah kebalikannya: niat yang rusak karena diarahkan kepada manusia, bukan kepada Allah. Artikel ini membahas hadits-hadits tentang riya - kenapa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lebih mengkhawatirkannya dibanding fitnah Dajjal, dan kenapa ia digolongkan sebagai syirik.
Pertama: Apa Itu Riya
Secara bahasa, riya (الرِّيَاءُ) berasal dari akar kata ru'yah (melihat) - menunjukkan sifat dasarnya sebagai amal yang "dipertontonkan" supaya dilihat. Secara istilah, riya adalah melakukan suatu ibadah atau amal shalih dengan tujuan supaya dilihat, diperhatikan, atau dipuji manusia, bukan semata mengharap ridha Allah. Riya berbeda dari ujub (bangga dan kagum pada diri sendiri atas suatu amal, meski tanpa keinginan dilihat orang lain) - keduanya sama-sama penyakit hati, tapi riya berorientasi keluar (ingin dilihat orang), sementara ujub berorientasi ke dalam (kagum pada diri sendiri).
Kedua: Riya Lebih Dikhawatirkan Nabi daripada Fitnah Dajjal
Betapa berbahayanya riya tergambar dari sebuah hadits yang direkam Imam Ibnu Majah. Ketika para sahabat sedang membicarakan bahaya Al-Masih Ad-Dajjal, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyela dengan peringatan yang mengejutkan:
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ... الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي فَيُزَيِّنُ صَلاَتَهُ لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ
"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang sesuatu yang lebih aku khawatirkan atas diri kalian daripada Al-Masih Ad-Dajjal? ... (yaitu) syirik yang tersembunyi (asy-syirkul khafiy) - seseorang berdiri shalat lalu ia memperbagus shalatnya karena tahu ada orang lain yang melihatnya." (HR. Ibnu Majah no. 4204, dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu - dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani)1
Kenapa riya lebih ditakutkan daripada Dajjal? Karena Dajjal, sebesar apa pun fitnahnya, hanya akan muncul di satu masa dan tempat tertentu menjelang hari Kiamat - siapa pun yang tidak hidup di masa itu otomatis selamat darinya. Riya sebaliknya: ia bisa menyusup kapan saja dan di mana saja, ke dalam shalat, sedekah, menuntut ilmu, bahkan dakwah - setiap kali seseorang beramal, potensi riya selalu mengintai di baliknya.
Ketiga: Tiga Golongan yang Diadili Lebih Dulu karena Riya
Kalau hadits di atas menjelaskan bentuk riya yang paling ringan (memperbagus shalat karena dilihat), Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengabarkan akibat riya dalam skala paling besar - riya pada tiga jenis amal yang biasanya dianggap paling mulia sekalipun. Imam Muslim merekamnya dalam sebuah hadits panjang dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ ... قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ
"Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili pada hari Kiamat adalah seseorang yang mati syahid ... Allah berfirman, 'Kamu dusta, sebenarnya kamu berperang supaya disebut pemberani - dan gelar itu sudah kamu dapatkan (di dunia).' Lalu diperintahkan agar ia diseret wajahnya sampai dilemparkan ke neraka." (HR. Muslim, Kitab Al-Imarah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)2
Hadits lengkapnya menyebutkan tiga golongan, dengan pola yang sama persis: seorang mujahid yang mati syahid, seorang alim yang mengajarkan ilmu dan membaca Al-Qur'an, dan seorang dermawan yang menginfakkan seluruh hartanya. Ketiganya, ketika ditanya Allah di akhirat, sama-sama diberi tahu bahwa amal besar mereka ternyata dilakukan supaya disebut pemberani, alim, dan dermawan oleh manusia - dan karena tujuan itu sudah tercapai di dunia (mereka sudah mendapat gelar dan pujian yang mereka cari), tidak ada lagi pahala yang tersisa untuk mereka di akhirat. Ketiganya diseret wajahnya dan dilemparkan ke neraka - jadi tiga orang PERTAMA yang diadili pada hari Kiamat, meski amal mereka termasuk jenis amal paling besar dan mulia yang bisa dilakukan seorang muslim.
Hadits ini adalah peringatan keras: riya tidak hanya merusak amal-amal kecil dan remeh. Justru semakin besar dan mulia sebuah amal di mata manusia - jihad, mengajar ilmu, sedekah besar - semakin besar pula godaan riya yang menyertainya, dan semakin fatal akibatnya kalau riya itu dibiarkan menguasai niat.
Keempat: Riya Digolongkan sebagai Syirik
Kenapa riya disebut "syirik" (dalam hadits di atas: asy-syirkul khafiy, syirik yang tersembunyi), bukan sekadar sifat tercela biasa? Karena riya pada hakikatnya adalah menyekutukan Allah dengan manusia dalam soal siapa yang dituju oleh sebuah ibadah - seharusnya ibadah murni ditujukan kepada Allah semata, tapi riya menyisipkan "tujuan kedua" berupa pandangan dan pujian manusia. Allah Ta'ala menegaskan syarat diterimanya amal shalih justru dengan larangan eksplisit ini, di akhir Surat Al-Kahfi:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَاۤءَ رَبِّهٖ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَّلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖٓ اَحَدًا
"Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia melakukan amal saleh dan tidak menjadikan apa dan siapa pun sebagai sekutu dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 110)3
Ayat ini menutup Surat Al-Kahfi dengan dua syarat sekaligus untuk sebuah amal shalih diterima: benar caranya ('amalan shalihan, sesuai tuntunan) dan murni tujuannya (la yusyrik bi'ibadati rabbihi ahada, tidak menyekutukan siapa pun dalam ibadahnya) - persis paralel dengan pembahasan ikhlas dan mutaba'ah yang juga muncul dalam hadits tentang niat. Karena tergolong syirik (meski ulama mengklasifikasikannya sebagai syirik ashghar/syirik kecil, bukan syirik akbar yang mengeluarkan seseorang dari Islam), riya menjadi salah satu dosa yang paling ditakutkan para sahabat dan ulama salaf menimpa diri mereka sendiri, sekalipun mereka sudah dikenal sebagai orang-orang shalih.
Kelima: Mengenali Tanda-Tanda Riya dalam Diri
Karena sifatnya yang tersembunyi, riya sulit dideteksi hanya dengan melihat amal dari luar - dua orang bisa melakukan ibadah yang identik, tapi satu ikhlas dan satu riya, tanpa ada yang bisa membedakannya kecuali Allah dan diri masing-masing. Salah satu cara mengenali gejala riya yang sering dinukil ulama, disandarkan pada sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sebagaimana dikutip Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin, adalah memperhatikan tiga pola perubahan sikap: malas beribadah ketika sendirian dan tidak ada yang melihat, tapi bersemangat ketika berada di tengah orang banyak, dan semakin rajin lagi ketika mendapat pujian atas amalnya.4 Tiga pola ini bisa jadi bahan introspeksi sederhana - kalau semangat ibadah seseorang naik-turun tergantung ada-tidaknya orang lain yang menyaksikan, itu tanda riya sedang bekerja di baliknya.
Obatnya bukan berhenti beramal di depan orang lain sama sekali - itu justru ekstrem yang lain (menghindari amal shalih karena takut riya, disebut sebagian ulama sebagai bentuk lain dari riya itu sendiri, karena tetap mempertimbangkan pandangan manusia dalam keputusan beramal). Obat yang benar adalah terus memperbaiki niat setiap kali menyadari ada kecenderungan riya muncul, memperbanyak amal yang tidak diketahui orang lain, dan menyadari bahwa pujian manusia - sebanyak apa pun - tidak menambah nilai sedikit pun di sisi Allah kalau niatnya sudah bercampur riya.
Penutup
Hadits-hadits di atas menunjukkan riya bukan dosa kecil yang bisa dianggap remeh - ia digolongkan sebagai syirik tersembunyi yang lebih dikhawatirkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam daripada fitnah Dajjal, dan mampu menggugurkan pahala amal-amal paling besar sekalipun. Pembahasan lebih lengkap soal niat sebagai lawan dari riya - kaidah "amal tergantung niatnya" dan penerapannya - ada di Hadits tentang Niat: Syarah Innamal A'malu bin-Niyyat. Untuk pembahasan penyakit hati lain dan cara menjaga kemurnian niat, lihat juga Apa Itu Tazkiyatun Nafs? dan Ikhlas dalam Menuntut Ilmu. Untuk belajar musthalah hadits dan ilmu-ilmu terkait secara berjenjang bersama pengajar bersanad, lihat jalur kelas Musthalah Hadits di Ngaji Sanad.
Catatan & Referensi
HR. Ibnu Majah no. 4204, Kitab Al-Fitan bab 21 ("Riya dan mencari sanjungan" / باب الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ), dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu - teks Arab dan terjemahan dikutip dari data hadits primer Ngaji Sanad sendiri (hadith-api/books/ibnu-majah.json). Penilaian hasan oleh Syaikh Al-Albani. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩HR. Muslim, Kitab Al-Imarah bab "Orang yang berperang demi pamer dan mencari nama, ia berhak mendapat neraka", dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu - nomor urut data sendiri 4923 (setara "Muslim no. 1905" pada penomoran cetakan yang umum dikutip situs lain, pola perbedaan penomoran yang sama seperti dibahas di piece "Hadits tentang Niat"). Kutipan di atas dipangkas pada golongan pertama (mujahid) untuk keringkasan - hadits lengkapnya juga mencakup golongan alim dan dermawan dengan pola kalimat yang sama persis. Lihat teks lengkap di halaman hadits ini.
↩QS. Al-Kahfi: 110 - teks Arab dan terjemahan dicek silang ke quran.com, sumber sekunder berbahasa Indonesia, dan sumber sekunder berbahasa Indonesia, konsisten di ketiganya.
↩Riwayat tiga tanda riya dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, sebagaimana dinukil Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin - teks Arab asli riwayat ini belum diverifikasi langsung terhadap naskah Ihya' 'Ulumuddin dalam penulisan artikel ini, karena itu disajikan sebagai ringkasan makna (bukan kutipan literal berbahasa Arab).
↩