Nau' 68-69 dalam Tadrib ar-Rawi melanjutkan pola yang baru saja dimulai di nau' sebelumnya (Al-Mu'allaq wal-Mu'an'an): As-Suyuthi kembali menggabungkan dua istilah - kali ini Al-Mutawatir dan Al-'Aziz - sebagai satu nau' sekaligus, namun sekali lagi tidak memberi pembahasan baru sama sekali, karena keduanya sudah dituntaskan lebih dulu masing-masing di nau' Al-Masyhur (nau' 30) dan nau' Al-Gharib (nau' 31) kitab ini.
Kenapa As-Suyuthi Merujuk Ulang, Bukan Membahas Baru
Persis seperti pola nau' 66-67 sebelumnya, As-Suyuthi hanya menuliskan satu kalimat singkat untuk nau' ini: Al-Mutawatir dan Al-'Aziz "telah disebutkan sebelumnya di dua nau', Al-Masyhur dan Al-Gharib."1 Ini menegaskan kembali cara kerja beliau menyusun rangkaian tambahan orisinal (nau' 66-93): sejumlah istilah yang lazim disusun terpisah oleh ulama lain - semisal Al-Hakim, yang menempatkan mutawatir sebagai nau' tersendiri di awal pembahasan ilmu haditsnya - ternyata sudah dibahas As-Suyuthi secara tuntas sebagai bagian dari nau' lain yang lebih relevan, sehingga cukup dirujuk ulang tanpa perlu diulang.
Al-Mutawatir: Kembali ke Nau' Al-Masyhur
Sebagaimana sudah dijelaskan di nau' Al-Masyhur, mutawatir adalah hadits yang dinukil oleh sekelompok orang yang mustahil bersepakat berdusta, dari kelompok serupa, mulai dari awal sanad sampai akhir - karena itu wajib diamalkan tanpa perlu meneliti para perawinya satu per satu, berbeda dari hadits ahad. Menurut pendapat yang lebih shahih, tidak disyaratkan jumlah perawi tertentu di setiap generasi, meski ulama berbeda pendapat soal angka minimalnya - ada yang menyebut sepuluh, dua belas, dua puluh, empat puluh, tujuh puluh, bahkan tiga ratus sekian orang.2
As-Suyuthi menegaskan di nau' Al-Masyhur, istilah mutawatir sendiri justru lebih dikenal di kalangan ahli fiqih dan ushul fiqih ketimbang ahli hadits, karena contohnya sangat jarang ditemukan dalam kitab-kitab riwayat. Hadits "man kadzaba 'alayya muta'ammidan..." beliau tegaskan benar-benar mutawatir - Ibn ash-Shalah mencatat diriwayatkan enam puluh dua sahabat, sementara ulama lain menyebut lebih dari seratus orang. Sebaliknya, hadits "innamal-a'malu bin-niyyat" yang sangat masyhur di lisan orang, sebenarnya BUKAN mutawatir, karena hanya punya satu jalur sanad tunggal.3
Al-'Aziz: Kembali ke Nau' Al-Gharib
Sebagaimana sudah dijelaskan di nau' Al-Gharib, 'aziz mengukur seberapa banyak orang meriwayatkan sebuah hadits dari seorang imam hadits tertentu, bukan dari total keseluruhan jalur sanad. Menurut Syaikhul Islam Ibnu Hajar, 'aziz khusus dipakai untuk hadits yang diriwayatkan oleh dua orang dari seorang imam semacam Az-Zuhri - dinamakan 'aziz karena kekuatannya (datang lewat jalur lain yang menguatkan) atau karena kelangkaannya.4
As-Suyuthi mencatat, status gharib, 'aziz, dan masyhur sebuah hadits bisa berbeda tergantung dari titik mana ia dilihat. Al-Hafizh Al-'Ala'i mencontohkan hadits "kami adalah yang terakhir (datang), namun yang terdahulu (pada hari kiamat)" - hadits ini 'aziz dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri (hanya diriwayatkan Hudzaifah bin Al-Yaman dan Abu Hurairah), namun sudah menjadi masyhur di level Abu Hurairah sendiri, karena diriwayatkan tujuh muridnya sekaligus.5
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Memastikan istilah apa yang tepat dipakai untuk menggambarkan sebaran sebuah riwayat - mutawatir, 'aziz, masyhur, atau gharib - membantu penuntut ilmu menilai seberapa kokoh sebuah hadits pada setiap tahap penyebarannya, sejalan dengan kesungguhan menjaga apa yang benar-benar disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (hadits mutawatir, diriwayatkan lebih dari 60 sahabat - lihat pembahasan lengkapnya di nau' Al-Masyhur)6
Nau' 68-69 ini adalah salah satu dari 28 nau' tambahan orisinal As-Suyuthi dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngaji Sanad. Pembahasan lengkap kedua istilah ini ada di Al-Masyhur dan Al-Gharib wal-'Aziz.
Catatan & Referensi
As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 915: "Al-Mutawatir dan Al-'Aziz: telah disebutkan sebelumnya di dua nau', Al-Masyhur dan Al-Gharib."
↩Ibid., hlm. 621, 627.
↩Ibid., hlm. 627.
↩Ibid., hlm. 632.
↩Ibid., hlm. 637.
↩HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah).
↩