Ma'rifatu Awthanir-Ruwah wa Buldanihim: Nisbah Negeri dan Nisbah Wala' Perawi

Nau' 65 dalam Tadrib ar-Rawi membahas ma'rifatu awthanir-ruwah wa buldanihim - mengenal asal negeri dan kota tempat tinggal para perawi hadits. As-Suyuthi menyebutnya termasuk ilmu yang sangat dibutuhkan para huffazh hadits dalam tasharruf (pengelolaan riwayat) dan penyusunan kitab-kitab mereka, karena dengan itu bisa dibedakan antara dua nama yang lafalnya sama persis.1

Kitab Rujukan Utama

As-Suyuthi menyebut salah satu rujukan utama untuk mengetahui asal negeri para perawi adalah Ath-Thabaqat karya Ibnu Sa'd - kitab yang sudah dibahas perannya sebagai sumber data generasi perawi pada nau' sebelumnya soal mawali.2

Dari Nisbah Kabilah ke Nisbah Negeri

As-Suyuthi menjelaskan pergeseran kebiasaan penisbahan di kalangan orang Arab: dahulu mereka dinisbahkan kepada kabilah masing-masing. Setelah Islam datang dan mayoritas mereka mulai menetap di desa-desa dan kota-kota (al-qura), mereka pun mulai dinisbahkan kepada tempat tinggalnya - mengikuti kebiasaan yang sebelumnya lebih lazim di kalangan 'ajam (non-Arab).3

Aturan Nisbah bagi yang Berpindah Negeri

Bagaimana menisbahkan seorang perawi yang berpindah dari satu negeri ke negeri lain dan ingin dinisbahkan kepada keduanya? As-Suyuthi menjelaskan, urutan penyebutan mengikuti urutan waktu tinggalnya - dimulai dari negeri yang pertama ditempati. Contohnya, seorang yang berpindah dari Mesir ke Damaskus disebut "al-Mishri ad-Dimasyqi". As-Suyuthi menilai lebih baik lagi bila disisipkan kata "tsumma" (kemudian) di antara keduanya - "al-Mishri tsummad-Dimasyqi" - agar urutan perpindahannya lebih jelas terlihat, bukan sekadar dua nisbah yang berjajar.4

Adapun perawi yang berasal dari sebuah desa (qaryah) di dalam sebuah kota (baldah), As-Suyuthi menjelaskan ia boleh dinisbahkan ke salah satu dari empat tingkatan sekaligus: ke desanya, ke kotanya, ke wilayahnya (an-nahiyah), atau ke provinsinya (al-iqlim) - keempatnya sah dipakai tergantung tingkat kedetailan yang diinginkan.5

Standar Empat Tahun dari Ibnul Mubarak

Berapa lama seseorang mesti menetap di sebuah negeri sebelum layak dinisbahkan kepadanya? As-Suyuthi menukil kaidah dari 'Abdullah bin Al-Mubarak dan ulama lain: siapa yang menetap di suatu negeri selama empat tahun, ia boleh dinisbahkan kepada negeri tersebut.6

Nisbah Karena Wala' (Perbudakan dan Perwalian)

Selain nisbah geografis, As-Suyuthi juga membahas pola nisbah yang muncul dari hubungan wala' (perwalian akibat pembebasan budak) - seorang perawi bisa dinisbahkan bukan ke negeri asalnya sendiri, melainkan ke kabilah pemilik/pembebas yang menjadi tuannya (mawlahum), sebagai penanda afiliasi, bukan garis keturunan. Beberapa contoh yang beliau sebutkan: Al-Laits bin Sa'd al-Mishri al-Fahmi mawlahum (budak yang dibebaskan kabilah Fahm), 'Abdullah bin Al-Mubarak al-Hanzhali mawlahum, 'Abdullah bin Wahb al-Qurasyi mawlahum, dan 'Abdullah bin Shalih al-Juhani mawlahum.7

As-Suyuthi mencatat, terkadang nisbah wala' ini bahkan berlapis dua - seseorang dinisbahkan kepada kabilah, padahal ia sebenarnya mawla dari mawla kabilah itu. Contohnya Abul Hubab Sa'id bin Yasar al-Hasyimi: ia disebut al-Hasyimi karena ia adalah mawla dari Syaqran, mawla Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam - meski ada pula pendapat lain yang menyebutnya mawla Maimunah Ummul Mu'minin, atau mawla Al-Husain bin 'Ali, yang bila benar berarti kasusnya bukan lagi mawla berlapis dua. Contoh lain: 'Abdullah bin Wahb al-Qurasyi al-Fihri, yang sebenarnya adalah mawla dari Yazid bin Rummanah, mawla dari Yazid bin Unais al-Fihri.8

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Mencatat dengan teliti asal negeri maupun garis wala' seorang perawi bukan sekadar detail biografis - inilah yang memungkinkan ulama membedakan dua rawi bernama sama, menelusuri jalur guru-murid antarwilayah, dan pada akhirnya menjaga keakuratan sanad itu sendiri:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar Ibnu Sirin)9

Nau' 65 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Nau' berikutnya membahas Al-Mu'allaq wal-Mu'an'an.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 912.

  2. Ibid., hlm. 912.

  3. Ibid., hlm. 912.

  4. Ibid., hlm. 912.

  5. Ibid., hlm. 912.

  6. Ibid., hlm. 912.

  7. Ibid., hlm. 912.

  8. Ibid., hlm. 912.

  9. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email