Nau' 66 dalam Tadrib ar-Rawi menandai titik balik penting kitab ini. As-Suyuthi sendiri menegaskan bahwa apa yang beliau bahas sampai nau' 65 adalah warisan Ibn ash-Shalah yang diringkas An-Nawawi - mulai nau' ini dan seterusnya sampai nau' 93, seluruhnya adalah tambahan orisinal yang beliau susun sendiri karena dianggap belum tercakup oleh kedua pendahulunya.1 Uniknya, nau' pembuka rangkaian tambahan ini - Al-Mu'allaq dan Al-Mu'an'an, digabung As-Suyuthi sebagai nau' keenam puluh enam dan keenam puluh tujuh sekaligus - justru TIDAK diberi pembahasan baru sama sekali.
Kenapa As-Suyuthi Tidak Mengulang Pembahasannya
Untuk kedua nau' ini, As-Suyuthi hanya menuliskan satu kalimat singkat: keduanya "telah disebutkan sebelumnya di nau' Al-Mu'dhal" (nau' 11 kitab ini).2 Ini bukan kelalaian, melainkan pola yang berulang di sepanjang rangkaian tambahan As-Suyuthi (nau' 66-93): sejumlah topik yang biasa disusun sebagai nau' tersendiri oleh ulama lain - seperti Al-Hakim - ternyata sudah beliau bahas secara tuntas sebagai furu' (cabang pembahasan) di nau' sebelumnya, sehingga cukup dirujuk ulang tanpa perlu diulang. Pola yang sama berlaku juga untuk nau' 68-69 (Mutawatir dan 'Aziz, sudah dibahas di nau' Masyhur), nau' 70 (Mustafidh), dan beberapa nau' sesudahnya.
Mu'allaq: Sanad yang Awalnya Digugurkan
Hadits mu'allaq adalah sanad yang bagian AWALNYA (dekat dengan penulis kitab) dibuang, satu perawi atau lebih secara berurutan, dengan memakai kalimat yang tegas (shighat al-jazm) - misalnya redaksi "qala fulan" yang sering muncul dalam Shahih Al-Bukhari tanpa menyebutkan sanad lengkap sampai ke Al-Bukhari sendiri. Istilah ini, sebagaimana dijelaskan As-Suyuthi di nau' Al-Mu'dhal, diambil dari makna "menggantung" karena sanadnya terputus dari sumber periwayatannya sendiri, dan hanya dipakai untuk sanad yang gugur di AWAL, bukan di tengah. Ta'liq dengan kalimat tegas dihukumi shahih selama sumbernya (misalnya Al-Bukhari) memang dikenal sebagai penulis yang terpercaya; berbeda dari ta'liq dengan kalimat tidak tegas (seperti "diriwayatkan dari fulan") yang tidak memberi kepastian keshahihan.
Mu'an'an: Periwayatan dengan Lafal "Dari"
Hadits mu'an'an adalah hadits yang diriwayatkan dengan lafal "'an" (dari) - misalnya "fulan, dari fulan" - tanpa kata yang secara eksplisit menunjukkan mendengar langsung seperti sami'tu atau haddatsana. Sebagaimana sudah dijelaskan tuntas di nau' Al-Mu'dhal, pendapat yang shahih dan diamalkan mayoritas ulama hadits, fiqih, dan ushul fiqih menghukuminya bersambung, dengan dua syarat: perawi yang memakai lafal "dari" itu bukan seorang mudallis (nau' 12 kitab ini), dan dimungkinkan secara waktu keduanya pernah bertemu.
Kenapa Ketelitian Ini Tetap Diperlukan
Kejelasan setiap detail cara sebuah sanad disampaikan - sekecil apa pun, termasuk soal bagian mana yang digugurkan dan lafal apa yang dipakai - adalah bagian dari kesungguhan menjaga keakuratan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang disampaikan turun-temurun:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)3
Nau' 66-67 ini adalah pembuka dari 28 nau' tambahan orisinal As-Suyuthi dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Pembahasan lengkap kedua istilah ini ada di Al-Mu'dhal.
Catatan & Referensi
As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 915: "Ini adalah akhir dari apa yang disebutkan penyusun - rahimahullah - dari anwa' ilmu hadits mengikuti Ibn ash-Shalah, dan masih tersisa anwa' lain, berikut ini aku sebutkan."
↩Ibid., hlm. 915: "Al-Mu'allaq dan Al-Mu'an'an: telah disebutkan sebelumnya di nau' Al-Mu'dhal."
↩HR. Bukhari no. 1229 (dari Al-Mughirah bin Syu'bah), juga no. 106 dan Muslim no. 1 dalam Muqaddimah (dari Abu Hurairah).
↩