Nau' 6 dalam Tadrib ar-Rawi membahas hadits marfu' - istilah yang menandai kepada siapa sebuah riwayat disandarkan, terlepas dari bersambung-tidaknya sanad itu sendiri.
Dua Rumusan Definisi
As-Suyuthi merumuskan: hadits marfu' adalah apa yang disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam secara khusus - baik itu ucapan, perbuatan, maupun persetujuan (taqrir) beliau - dan istilah ini secara mutlak tidak berlaku untuk selain beliau, baik sanadnya bersambung maupun terputus. Artinya, status "marfu'" murni soal kepada siapa riwayat itu disandarkan, bukan soal kualitas sanadnya - berbeda dari "musnad" (nau' 4 kitab ini) yang justru soal tersambungnya sanad.
As-Suyuthi juga menukil rumusan kedua dari Al-Khathib: hadits marfu' adalah apa yang dikabarkan oleh seorang sahabat tentang perbuatan atau ucapan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam - rumusan yang secara implisit mengeluarkan hadits mursal (nau' 9 kitab ini, di mana yang mengabarkan adalah tabi'in, bukan sahabat). As-Suyuthi menukil catatan Syaikhul Islam (Ibnu Hajar): tampaknya Al-Khathib tidak benar-benar mensyaratkan hal itu secara ketat, melainkan sekadar menggambarkan kasus yang paling umum terjadi - karena memang kebanyakan riwayat yang disandarkan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memang dikabarkan oleh sahabat. Ia juga mencatat: sebagian ahli hadits memakai istilah "marfu'" sebagai lawan dari "mursal" - misalnya ketika mereka berkata "fulan me-rafa'-kannya" berbanding "fulan me-mursal-kannya" - yang dalam konteks ini "marfu'" dimaksudkan sebagai hadits yang sanadnya bersambung (muttashil).1
Kenapa Pembedaan Ini Penting
Memisahkan dengan jelas antara "kepada siapa sebuah riwayat disandarkan" dan "seberapa kokoh sanadnya" mencegah kekeliruan menilai sebuah riwayat - sebuah hadits marfu' bisa saja tetap dha'if kalau sanadnya terputus, dan sebaliknya. Ketelitian semacam ini sejalan dengan prinsip memastikan kejelasan sebelum menyandarkan sesuatu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ
"Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempati tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari no. 1229, dari Al-Mughirah bin Syu'bah)2
Nau' 6 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Lawan dari marfu' dibahas di Al-Mauquf.
Catatan & Referensi