Riwayatul Abna' 'anil-Aba': Ketika Sanad Keluarga Diuji Seketat Sanad Biasa

Nau' 45 dalam Tadrib ar-Rawi membahas pola periwayatan keluarga yang paling lazim: anak meriwayatkan hadits dari ayahnya sendiri - kebalikan dari nau' 44 sebelumnya. As-Suyuthi menyebut Abu Nashr Al-Wa'ili menulis sebuah kitab khusus tentang nau' ini, dan bagian yang paling penting untuk diperhatikan adalah ketika sang ayah (atau kakek) dalam sanad tidak disebutkan namanya secara eksplisit - hanya disebut "dari ayahnya" saja - sehingga dibutuhkan penelusuran lewat kitab-kitab rijal untuk memastikan siapa sosok yang dimaksud.1

Dua Jenis Riwayat Anak dari Ayah

As-Suyuthi membagi nau' ini menjadi dua jenis. Jenis pertama, riwayat anak "dari ayahnya" saja - pola ini sangat banyak ditemukan dalam kitab-kitab hadits. Jenis kedua, riwayat anak "dari ayahnya, dari kakeknya" - rantai tiga generasi sekaligus dalam satu sanad. Contoh paling terkenal untuk jenis kedua ini adalah 'Amr bin Syu'aib bin 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash, yang meriwayatkan dari ayahnya (Syu'aib), dari kakeknya. Ia memiliki kumpulan riwayat (nuskhah) yang besar, sebagian besar berisi masalah-masalah fiqih yang bagus, dan mayoritas ahli hadits menjadikannya hujjah dengan memahami "kakeknya" yang dimaksud adalah 'Abdullah bin 'Amr - sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam - bukan Muhammad yang berstatus tabi'i.2

Contoh lain jenis kedua ini: Bahz bin Hakim bin Mu'awiyah bin Haidah, yang meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya - memiliki kumpulan riwayat yang baik. Juga Thalhah bin Mushar-rif bin 'Amr bin Ka'b (ada pula yang menyebut Ka'b bin 'Amr).

Rantai Sembilan Generasi: Contoh Terindah dari Nau' Ini

As-Suyuthi menyebut, salah satu contoh paling indah dari nau' ini adalah riwayat Al-Khathib dari 'Abdul Wahhab bin 'Abdul 'Aziz bin Al-Harits bin Asad bin Al-Laits bin Sulaiman bin Al-Aswad bin Sufyan bin Yazid bin Ukainah At-Tamimi. Ia berkata: "Aku mendengar ayahku berkata, aku mendengar ayahku berkata" - diulang sampai sembilan kali berturut-turut, ayah demi ayah - hingga sampai pada: "Aku mendengar 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata:"3

الْحَنَّانُ الَّذِي يُقْبِلُ عَلَى مَنْ أَعْرَضَ عَنْهُ، وَالْمَنَّانُ الَّذِي يَبْدَأُ بِالنَّوَالِ قَبْلَ السُّؤَالِ
"Al-Hannan (Yang Maha Pengasih) adalah Dzat yang berkenan menerima siapa saja yang berpaling dari-Nya, dan Al-Mannan (Yang Maha Pemberi Karunia) adalah Dzat yang memberi sebelum diminta." (atsar 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu)

Rantai sembilan generasi ayah-ke-anak semacam ini menjadi bukti nyata betapa luasnya pola riwayatul abna' 'anil-aba' dipraktikkan dalam sejarah periwayatan hadits - satu keluarga bisa menjaga sebuah riwayat turun-temurun selama beberapa abad.

Perdebatan Keabsahan Sanad 'Amr bin Syu'aib

Meski jenis kedua nau' ini ("dari ayahnya, dari kakeknya") umum dijumpai, rantai 'Amr bin Syu'aib 'an abihi 'an jaddihi ternyata menjadi salah satu sanad yang paling ramai diperdebatkan keabsahannya di kalangan ulama hadits - bukan sekadar diterima begitu saja karena berasal dari satu keluarga.

Argumen yang Menguatkan

Ishaq (bin Rahawaih) menyamakan kedudukan sanad "dari ayahnya, dari kakeknya" ini dengan sanad Ayyub dari Nafi' dari Ibnu 'Umar - salah satu sanad paling terpercaya yang dikenal di kalangan muhaddits. As-Suyuthi menilai, perumpamaan setinggi ini dari seorang imam sekelas Ishaq adalah puncak kemuliaan bagi sanad 'Amr bin Syu'aib. Abu Hatim (Ar-Razi) bahkan menyatakan riwayat 'Amr dari ayahnya dari kakeknya lebih ia sukai dibanding riwayat Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya.4

Al-'Ala'i bahkan menulis sebuah risalah tersendiri khusus membahas keabsahan berhujjah dengan kumpulan riwayat ini serta menjawab kritik-kritik yang dilontarkan terhadapnya. Salah satu argumen yang ia kemukakan untuk menguatkan keabsahannya: Imam Malik sendiri menjadikannya hujjah dalam Al-Muwaththa', dengan meriwayatkan dari 'Abdurrahman bin Harmalah, dari 'Amr bin Syu'aib (dari ayahnya, dari kakeknya), hadits:

الرَّاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَّاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَّلَاثَةُ رَكْبٌ
"Pengendara sendirian adalah setan, dua pengendara adalah dua setan, dan tiga pengendara adalah rombongan (bukan lagi setan)." (HR. Malik dalam Al-Muwaththa', dari jalur 'Amr bin Syu'aib 'an abihi 'an jaddihi)

Argumen yang Melemahkan

Namun sebagian ulama justru meninggalkan riwayat ini sebagai hujjah. Al-Ajurri menukil pendapat ini dari Abu Dawud, dan ini juga merupakan salah satu riwayat dari Ibnu Ma'in. Alasannya: riwayat 'Amr dari ayahnya dari kakeknya berasal dari sebuah kitab (catatan tertulis) dan wijadah (naskah yang ditemukan, bukan didengar langsung) - dari sinilah muncul kelemahannya, karena tashif (kesalahan baca akibat kemiripan bentuk tulisan) bisa masuk ke seorang perawi lewat lembaran-lembaran tertulis. Karena itulah para penyusun kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) menghindarinya.5

Ibnu 'Adi menilai riwayat 'Amr dari ayahnya dari kakeknya sebagai mursal, karena kakeknya - yang dimaksud adalah Muhammad - tidak memiliki status sebagai sahabat Nabi. Sementara Ibnu Hibban berpendapat: jika yang dimaksud "kakeknya" adalah 'Abdullah (bin 'Amr, sang sahabat), maka Syu'aib sendiri tidak pernah bertemu dengannya, sehingga sanad itu menjadi munqathi' (terputus).6

Perdebatan ini menunjukkan bahwa status "kakek" dalam sanad 'Amr bin Syu'aib - apakah merujuk pada 'Abdullah bin 'Amr sang sahabat atau Muhammad sang tabi'i - menjadi kunci penentu apakah sanad ini bersambung, mursal, atau munqathi'. Perbedaan pemahaman satu kata dalam susunan nasab bisa mengubah total status sebuah sanad.

Kenapa Ketelitian Ini Penting

Kasus 'Amr bin Syu'aib membuktikan sebuah prinsip penting: kedekatan hubungan darah dalam sebuah sanad keluarga sama sekali tidak membebaskannya dari pengujian yang seketat sanad-sanad lain. Justru karena statusnya yang khas, para ulama meneliti lebih jauh - siapa sebenarnya yang dimaksud "kakek" itu, apakah ia benar-benar bertemu, dan dari mana sumber riwayatnya berasal - sebelum menyimpulkan keabsahannya:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)7

Nau' 45 ini adalah salah satu dari 88 bab dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Pola sebaliknya, ayah dari anak, dibahas di Riwayatul Aba' 'anil-Abna'.

Catatan & Referensi

  1. As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 729.

  2. Ibid., hlm. 729.

  3. Ibid., hlm. 729.

  4. Ibid., hlm. 732.

  5. Ibid., hlm. 732.

  6. Ibid., hlm. 732.

  7. Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.

Bagikan: Facebook X WhatsApp Email