Nau' 44 dalam Tadrib ar-Rawi membahas riwayatul-aba' 'anil-abna' - kasus-kasus seorang ayah meriwayatkan hadits dari anaknya sendiri. Ini kebalikan dari pola paling lazim dalam periwayatan keluarga (anak meriwayatkan dari ayah), sehingga perlu dicatat dan diketahui secara khusus supaya sebuah sanad tidak disangka keliru atau terbalik hanya karena arah periwayatannya tidak sesuai kelaziman umum. As-Suyuthi menyebut, Al-Khathib Al-Baghdadi bahkan menulis satu kitab tersendiri yang khusus mengumpulkan riwayat-riwayat semacam ini.1
Riwayat Al-'Abbas dari Puteranya, Al-Fadhl
Contoh pertama yang dinukil As-Suyuthi dari kitab Al-Khathib: Al-'Abbas bin 'Abdul Muththalib (paman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam) meriwayatkan dari puteranya sendiri, Al-Fadhl bin 'Abbas, sebuah hadits tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjama' dua shalat di Muzdalifah.2
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَمَعَ بَيْنَ الصَّلَاتَيْنِ بِالْمُزْدَلِفَةِ
"Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjama' (menggabungkan) dua shalat di Muzdalifah." (diriwayatkan Al-'Abbas dari puteranya, Al-Fadhl)3
Riwayat Wa'il bin Dawud dari Puteranya, Bakr
Contoh kedua: Wa'il bin Dawud meriwayatkan dari puteranya sendiri, Bakr bin Wa'il, dari Az-Zuhri, sebuah hadits. As-Suyuthi menjelaskan riwayat ini adalah hadits "akhkhirul-ahmal" (tundakan bebanmu) yang diriwayatkan Az-Zuhri dari Sa'id bin Al-Musayyab dari Abu Hurairah secara marfu' (sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam):4
أَخِّرُوا الْأَحْمَالَ فَإِنَّ الْيَدَ مُعَلَّقَةٌ وَالرِّجْلَ مُوثَقَةٌ
"Tundakanlah beban-beban (kendaraan), karena tangan (unta) tergantung dan kaki (unta) terikat." (HR. Abu Hurairah, dinukil melalui jalur Wa'il bin Dawud dari puteranya, Bakr, dari Az-Zuhri, dari Sa'id bin Al-Musayyab)5
As-Suyuthi juga mencatat, jalur riwayat Wa'il dari Bakr dari Az-Zuhri yang sama ini dipakai oleh penyusun Sunan Arba'ah (Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah) untuk meriwayatkan hadits lain, dari Az-Zuhri, dari Anas bin Malik:6
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْلَمَ عَلَى صَفِيَّةَ بِسَوِيقٍ وَتَمْرٍ
"Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengadakan walimah untuk (pernikahannya dengan) Shafiyyah dengan sawiq (tepung gandum sangrai) dan kurma." (HR. Anas bin Malik, melalui jalur yang sama)7
Kasus Unik: Riwayat Mu'tamir bin Sulaiman yang Berputar Lewat Ayahnya
Contoh ketiga yang dinukil As-Suyuthi paling menarik, karena bukan sekadar ayah meriwayatkan dari anak, tapi sebuah riwayat yang berputar kembali dari anak ke ayah lalu dikutip lagi oleh sang anak sendiri. Mu'tamir bin Sulaiman At-Taimi berkata, ayahnya (Sulaiman bin Tharkhan) berkata kepadanya:8
حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: حَدَّثْتَنِي أَنْتَ عَنِّي عَنْ أَيُّوبَ عَنِ الْحَسَنِ قَالَ: وَيْحَ، كَلِمَةُ رَحْمَةٍ
"Ayahku menceritakan kepadaku (Mu'tamir), ia berkata: 'Engkau (Mu'tamir) yang dahulu menceritakan kepadaku, dariku sendiri, dari Ayyub (As-Sikhtiyani), dari Al-Hasan (Al-Bashri), ia (Al-Hasan) berkata: Waih adalah kalimat kasih sayang.'" (dinukil dari Mu'tamir bin Sulaiman At-Taimi)9
Artinya: Mu'tamir sendiri pernah mendengar riwayat itu dari Ayyub As-Sikhtiyani, lalu ia sampaikan kepada ayahnya sendiri, Sulaiman bin Tharkhan. Belakangan, sang ayah menceritakan kembali riwayat itu kepada Mu'tamir - dengan menyebutkan secara jujur bahwa sumbernya sebenarnya adalah Mu'tamir sendiri. Jadilah riwayat itu "berputar": dari anak, ke ayah, lalu kembali dikutip oleh si anak dari ayahnya. As-Suyuthi menutup pembahasan nau' ini dengan menyebut kasus Mu'tamir sebagai sesuatu yang "tharif" (unik dan menarik) karena ia sekaligus menggabungkan beberapa nau' ilmu hadits lain yang telah beliau jelaskan secara lebih rinci di kitabnya yang lebih besar.10
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Mencermati arah periwayatan dalam sebuah keluarga - siapa sebenarnya mengambil riwayat dari siapa - adalah bagian dari kecermatan menyeluruh dalam menjaga keakuratan sanad, sehingga sebuah rantai periwayatan tidak keliru dinilai terbalik atau cacat hanya karena tidak mengikuti pola umum:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim, atsar Ibnu Sirin)11
Nau' 44 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Pola sebaliknya, anak meriwayatkan dari ayahnya, dibahas di Riwayatul Abna' 'anil-Aba'.
Catatan & Referensi
As-Suyuthi, Tadrib ar-Rawi fi Syarh Taqrib an-Nawawi, tahqiq Abu Qutaybah Nazhar Muhammad al-Faryabi, naskah digital Al-Maktabah Asy-Syamilah, hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Ibid., hlm. 726.
↩Dinukil Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih Muslim.
↩