Nau' 40 dalam Tadrib ar-Rawi membahas ma'rifatut-tabi'in - ilmu mengenal generasi sesudah sahabat. As-Suyuthi menegaskan, nau' ini bersama nau' sebelumnya adalah dua pondasi besar: keduanyalah yang menjadi dasar membedakan sanad yang mursal dari yang bersambung.
Definisi Tabi'in yang Diperdebatkan
As-Suyuthi menukil dua pendapat soal definisi tabi'i: Al-Khathib berpendapat, seorang tabi'i adalah yang benar-benar MENYERTAI (shahiba) seorang sahabat - sekadar bertemu (liqa') saja tidak cukup, berbeda dari hubungan sahabat-Nabi yang cukup dengan sekadar bertemu, karena kedudukan mulia Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri membuat pertemuan dengannya berpengaruh besar. Namun pendapat yang lebih zahir (dan lebih kuat): cukup dengan bertemu seorang sahabat saja, tanpa perlu benar-benar menyertainya dalam waktu lama.1
Lima Belas Tingkatan Tabi'in
As-Suyuthi menukil pembagian Al-Hakim: tabi'in terbagi lima belas tingkatan. Tingkatan pertama: mereka yang sempat berjumpa dengan sepuluh sahabat yang dijamin surga - contohnya Qais bin Abi Hazim dan Ibnul Musayyab. As-Suyuthi mengoreksi kekeliruan yang sering terjadi soal Ibnul Musayyab: ia sebenarnya lahir pada masa kekhilafahan 'Umar dan tidak sempat mendengar dari sebagian besar sepuluh sahabat itu - ada yang bahkan menyebut sama'-nya yang shahih hanya dari Sa'd saja. Adapun Qais, ia benar-benar mendengar dan meriwayatkan dari seluruh sepuluh sahabat itu, tidak ada tabi'in lain yang menyamainya dalam hal ini (meski ada yang menyebut ia tidak sempat mendengar dari 'Abdurrahman bin 'Auf).
Tingkatan sesudahnya: mereka yang lahir semasa hidup Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari kalangan anak-anak sahabat. Di antara tabi'in ada pula kaum mukhadramun (tunggal: mukhadram) - mereka yang sempat mengalami zaman jahiliyah dan zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, masuk Islam, namun tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Imam Muslim menghitung mereka dua puluh orang, meski sebenarnya lebih banyak - di antara yang tidak disebutkannya adalah Abu Muslim Al-Khaulani dan Al-Ahnaf (bin Qais).2
Tujuh Fuqaha Madinah dan Tabi'in Paling Utama
As-Suyuthi menyebut di antara tabi'in senior yang paling terkemuka adalah Al-Fuqaha As-Sab'ah (Tujuh Ahli Fiqih Madinah): Ibnul Musayyab, Al-Qasim bin Muhammad, 'Urwah (bin Az-Zubair), Kharijah bin Zaid, Abu Salamah bin 'Abdurrahman, 'Ubaidillah bin 'Utbah, dan Sulaiman bin Yasar - meski Ibnul Mubarak memasukkan Salim bin 'Abdullah menggantikan Abu Salamah, dan Abuz-Zinad memasukkan Abu Bakr bin 'Abdurrahman menggantikan keduanya.
As-Suyuthi menukil beberapa penilaian Ahmad bin Hanbal soal tabi'in paling utama: "Yang paling utama di antara tabi'in adalah Ibnul Musayyab" - ketika ditanya bagaimana dengan 'Alqamah dan Al-Aswad, ia menjawab, "dia dan keduanya (setara)." Di lain waktu ia berkata, "Aku tidak tahu ada yang setara Abu 'Utsman An-Nahdi dan Qais di antara mereka," dan di lain kesempatan, "yang paling utama di antara mereka: Qais, Abu 'Utsman, 'Alqamah, dan Masruq." As-Suyuthi juga mencatat pandangan berbeda tiap daerah, dinukil Abu 'Abdillah bin Khafif: penduduk Madinah menyebut Ibnul Musayyab paling utama; penduduk Kufah menyebut Uwais (Al-Qarani); penduduk Bashrah menyebut Al-Hasan (Al-Bashri). Ibnu Abi Dawud menyebut dua wanita tabi'iyyat paling utama: Hafshah binti Sirin dan 'Amrah binti 'Abdurrahman, disusul Ummud-Darda'.
As-Suyuthi mengingatkan: sebagian ulama keliru memasukkan satu tingkatan sebagai tabi'in padahal mereka sebenarnya tidak pernah bertemu sahabat sama sekali, dan ada pula tingkatan yang sebenarnya termasuk sahabat sendiri - kekeliruan yang perlu diwaspadai.3
Fakta Menarik: Nama yang Tidak Pernah Dipakai
As-Suyuthi mencatat dua fakta kecil namun menarik: tidak ada seorang pun sahabat - bahkan tabi'in sekalipun - yang bernama 'Abdur-Rahim. Dan tidak ada yang benar-benar bernama Isma'il lewat jalur yang shahih, kecuali satu orang dari Bashrah, yang darinya Abu Bakr bin 'Umarah meriwayatkan hadits: "tidak akan masuk neraka siapa pun yang shalat sebelum matahari terbit dan sebelum terbenam" (dikeluarkan Ibnu Khuzaimah).4
Kenapa Ketelitian Ini Penting
Memetakan dengan tepat siapa yang benar-benar bertemu sahabat dan siapa yang tidak - lengkap dengan tingkatan-tingkatan generasi tabi'in - adalah pondasi mutlak untuk membedakan sanad yang bersambung dari yang mursal, sebuah kemampuan dasar yang wajib dimiliki siapa pun yang ingin memahami keabsahan sebuah riwayat:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ
"Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil (ilmu) agama kalian." (dinukil dalam Muqaddimah Shahih Muslim)5
Nau' 40 ini adalah salah satu dari 93 nau' dalam kitab Tadrib ar-Rawi, kitab rujukan jenjang Lanjut program Ulumul Hadits Berjenjang Ngajisanad. Generasi sebelumnya dibahas di Ma'rifatush-Shahabah.